PEMANTAUAN DAN TINDAKAN
B. IDENTIFIKASI VARIABEL DAN INTERVENSI
2. Faktor prognostik
a. Rehospitalisasi/rehospitalisasi (rawat inap ulang)
Definisi operasional : Rawat inap kembali yang terjadi pada masa pengamatan dengan indikasi akibat kondisi atau keadaan yang berhubungan dengan sekuel neurologis yaitu kejang, status epileptikus. Cara pengukuran : Menanyakan kepada keluarga pasien, melakukan
pengamatan langsung kejadian rehospitalisasi dan menelusuri berdasarkan rekam medis
Pengukur : Peneliti
Waktu pengukuran : Selama periode pengamatan
Intervensi : Orang tua diedukasi tentang kebersihan badan, termasuk mencuci tangan, untuk mencegah penyakit infeksi. Orang tua juga
diedukasi untuk mengawasi anak terutama saat kejang sehingga terhindar dari trauma.
Target : Tidak terjadi kesakitan, komplikasi dari penyakit dan trauma sehingga tidak memerlukan perawatan kembali di rumah sakit.
Kondisi sebelum pengamatan : Tidak ada rehospitalisasi b. Pertumbuhan
Definisi operasional : Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak) sel-sel dan juga karena bertambah besarnya sel. Perubahan ukuran fisik (anatomis) dan struktural sebagai akibat multiplikasi sel atau pertumbuhan substansi interseluler. Penilaian laju pertumbuhan berdasarkan pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan), hasil pengukuran kemudian diplotkan berdasarkan panduan growth chart WHO 2006.
Cara pengukuran : Indikator pertumbuhan yang dinilai adalah berat badan (dalam kilogram) dan tinggi badan (dalam centimeter). Penimbangan berat badan anak dengan timbangan, satuan pengukuran dalam kilogram. Tinggi badan dengan alat pengukur tinggi badan yang menyatu dengan timbangan berat badan, satuan pengukuran dalam sentimeter. Berat badan menurut umur (BB/U) berdasarkan kurva WHO (2006) dan dinyatakan sebagai normal jika z score >-2 SD, BB kurang (underweight) jika -3 < z score < -2 SD, dan BB sangat kurang (severely underweight) jika z score <-3 SD. Tinggi badan menurut umur (TB/U) berdasarkan kurva WHO (2006) dan dinyatakan sebagai normal jika z score >-2 SD, perawakan pendek (stunted) jika -3 < z score < -2 SD, dan perawakan sangat pendek (severely stunted) jika z score <-3 SD.
Waktu pengukuran : Setiap bulan atau setiap kunjungan Pengukur : Peneliti
Intervensi : Pengukuran BB, TB, dan IMT tiap bulan atau setiap kali kunjungan, asupan nutrisi sesuai RDA, evaluasi diet dan konsultasi dengan
ahli gizi. Rekomendasi pemberian makanan diberikan dalam buku harian anak. Rencana diet pada pasien ini adalah energi 100kcal/kgbb/hari (kcal/hari), protein 1g/kgbb/hari (g/hari), cairan 1000ml/hari).
Target : Pertumbuhan sesuai usia
Kondisi sebelum pengamatan : Pertumbuhan sesuai usia dimana BB/U -0,18 SD (normal weight) dan TB/U -0,84 SD (normal height)l
c. Status gizi
Definisi operasional : Ukuran keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang dikeluarkan dari tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Status gizi merupakan status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien, didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diit.
Cara pengukuran : Indikator status gizi yang dipergunakan untuk anak di bawah umur 5 tahun adalah Berat badan (BB) terhadap tinggi badan (TB) menurut kurva WHO (2006). Status gizi dinyatakan sebagai gizi baik jika z score >-2 SD, gizi kurang jika -3 < z score < -2 SD, dan gizi buruk jika z score <-3 SD. Digunakan juga kurva lingkar lengan atas terhadap umur menurut WHO karena terdapat hidrosefalus pada paasien dengan parameter gizi baik jika z score >-2 SD, gizi kurang jika -3 < z score < -2 SD dan gizi buruk jika z score < -3 SD
Waktu pengukuran : Setiap bulan Pengukur : Peneliti
Intervensi : Diberikan pengetahuan nutrisi seperti panduan untuk pengaturan menu seimbang sesuai dengan Recommended Dietary Allowances (RDA).
Target : Status gizi baik
Kondisi saat sebelum pengamatan : Gizi baik d. Perkembangan
Definisi operasional : Perkembangan adalah proses yang berlangsung sejak konsepsi, lahir dan sesudahnya, dimana badan, otak, kemampuan
dan tingkah laku pada masa usia dini, anak-anak, dan dewasa menjadi lebih kompleks dan berlanjut dengan kematangan sepanjang hidup
Cara pengukuran : Denver II, yang perlu diperhatikan adalah dalam melakukan skrining ini perlu dipastikan usia anak. Pada anak dengan riwayat kelahiran kurang bulan harus dilakukan koreksi umur, sampai anak berusia dua tahun. Setelah ditentukan usianya dibuat/diplot garis usia pada formulir Denver II. Interprestasi pemeriksaan ini yaitu normal bila tidak ada keterlambatan atau paling banyak satu caution; suspek bila didapatkan dua atau lebih caution dan atau 1 atau lebih keterlambatan. Dan tidak dapat diuji bila ada penilaian menolak pada 1 atau lebih uji coba di sebelah kiri garis umur atau menolak pada lebih dari 1 uji coba yang ditembus umur pada daerah 75 – 90 %. Pada hasil suspek atau tidak dapat diuji, uji dapat diulang 1 sampai 2 minggu kemudian. CAT-CLAMS (capute scales) untuk menilai aspek-aspek perkembangan utama terutama bahasa dan visual motor yang keduanya merupakan indikator fungsi kognitif. Interprestasi nilai DQ sebagai berikut:
o Normal: kemampuan bahasa dan visual motornya > 85, dengan demikian nilai full scale (composite) developmental quotient (FSDQ) juga > 85
o Suspek: jika DQ pada satu atau kedua aspek < 85 tetapi > 75 (DQ=75-85). anak-anak ini harus dipantau dengan ketat.
Waktu pengukuran : Setiap 6 bulan Pengukur : Peneliti
Target : Deteksi keterlambatan dini
Intervensi : Rehabilitasi medis sesuai kondisi pasien
Kondisi sebelum pengamatan : Global developmental delay e. Status Imunisasi
Definisi operasional : Pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangsang pembentukan imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh untuk mendukung imunitas tubuh anak.
Cara pengukuran : Anamnesis orangtua, melihat dan memonitor KMS / kartu imunisasi
Waktu pengukuran : Sesuai jadwal imunisasi PPI atau IDAI Pengukur : Peneliti
Target : Vaksinasi selanjutnya lengkap sesuai rekomendasi PPI atau IDAI Intervensi : Edukasi vaksinasi lengkap sesuai rekomendasi PPI atau IDAI Kondisi sebelum pengamatan : Vaksinasi lengkap sesuai PPI
f. Efek samping obat
Definisi operasional : Efek samping obat adalah suatu reaksi yang tidak diharapkan dan berbahaya yang diakibatkan oleh suatu pengobatan. Efek samping topiramate antara lain: kenaikan berat badan, sedasi, dan tremor. Cara pengukuran : Pemeriksaan klinis pasien, pencatatan di buku harian
oleh keluarga dan peneliti. Pengukur : Orangtua dan peneliti.
Waktu pengukuran : Setiap bulan atau setiap kali ada keluhan.
Intervensi : Edukasi orangtua agar segera melaporkan bila ada gejala efek samping obat.
Target : Tidak terjadi efek samping obat.
Kondisi sebelum pengamatan : Tidak terjadi efek samping obat g. Penilaian rumah sehat
Definisi operasional : Penilaian rumah sehat sebagai upaya untuk dapat meningkatkan hidup sehat baik dengan perilaku hidup sehat maupun sanitasi lingkungan tempat tinggal berdasarkan kriteria rumah sehat Depkes 2005.
Cara pengukuran : Penilaian rumah sehat berdasarkan kriteria rumah sehat dari Depkes 2005 dengan menilai kondisi sanitasi lingkungan dengan kriteria rumah sehat dengan melakukan kunjungan rumah secara berkala. Dikategorikan rumah sehat jika nilai totak 1068-1200, sedangkan rumah tidak sehat jika nilai total <1068.
Pengukur : Peneliti.
Intervensi : Edukasi dan konseling perilaku hidup sehat dan sanitasi lingkungan.
Target : Memenuhi kriteria rumah sehat.
Kondisi sebelum pengamatan : Belum memenuhi kriteria rumah sehat h. Kepatuhan minum obat
Definisi operasional : Taat minum obat adalah bila rutin meminum obat sesuai anjuran dokter dan diukur dengan penghitungan sisa masing-masing obat. Dikatakan tidak taat minum obat bila anak tidak mau minum obat pada hari tersebut sampai dengan hari berikutnya sehingga anak tidak minum obat selama 1 hari atau lebih padahal obat tersedia. Efek samping obat adalah suatu reaksi yang tidak diharapkan dan berbahaya yang diakibatkan oleh suatu pengobatan. Efek terapi topiramate untuk mengontrol epilepsi didapatkan dengan pemberian dosis 0,5-3mg per hari. Cara pengukuran : Pemeriksaan klinis pasien, pencatatan di buku harian
oleh keluarga dan peneliti. Pengukur : Orangtua dan peneliti.
Waktu pengukuran : Setiap bulan atau setiap kali ada keluhan.
Intervensi : Edukasi orangtua agar segera melaporkan bila ada gejala efek samping obat.
Target : Patuh minum obat
Kondisi sebelum pengamatan : Compliance pasien cukup baik i. Kepatuhan fisioterapi dan terapi wicara
Definisi operasional : Tingkat ketepatan perilaku mengikuti fisioterapi dan terapi wicara.
Cara pengukuran : Kepatuhan dinilai dengan metode penanggalan. Dilakukan juga pencatatan di buku harian oleh keluarga dan peneliti. Pengukur : Orangtua dan peneliti.
Waktu pengukuran : Penilaian kepatuhan setiap bulan, penilaian pencapaian target evaluasi setiap 4-5 bulan.
Intervensi : Mengingatkan orangtua untuk melakukan fisioterapi dan terapi wicara serta mendampingi saat kontrol evaluasi.
Target : Memperbaiki pergerakan motorik dan keseimbangan dan memperbaiki gangguan bicara
C. PEMANTAUAN
Tabel 5. Lembar Pemantauan dan Intervensi
No Parameter Instrumen Target Intervensi Evaluasi
1. Epilepsi terkontrol Klinis bebas kejang EEG
Tidak ada serangan kejang/epilepsi berulang dengan penurunan dosis bertahap
Minum obat dan kontrol teratur
Tappering-off 6bulan
Klinis bebas kejang setelah tappering off
EEG normal
2. Rehospitalisasi Rawat inap Tidak terjadi kesakitan, komplikasi dari
penyakit dan trauma
Edukasi kebersihan badan, mis mencuci tangan Catch-up imunisasi
Evaluasi dan monitor tanda-tanda infeksi tiap kali kunjungan
3. Pertumbuhan dan status gizi
BB, TB Pertumbuhan optimal,
status gizi baik
Diberikan pengetahuan nutrisi seperti panduan untuk
pengaturan menu seimbang sesuai dengan Recommended Daily Allowances (RDA)
Monitor BB, TB, status gizi tiap bulan.
4. Status Imunisasi Evaluasi jadwal imunisasi
Imunisasi lengkap sesuai program IDAI
Booster DPT, booster Polio, vaksin pneumokokus
Sesuai jadwal imunisasi mengutamakan prioritas dan ekonomi
5. Efek samping obat Evaluasi check list Tidak terjadi efek samping obat
Edukasi orangtua agar segera melaporkan bila ada gejala efek samping obat
Monitor setiap bulan atau setiap kali ada keluhan