• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II FAKTOR PENYEBAB PUTUSNYA PERKAWINAN

G. Faktor Putusnya Perkawinan Karena Perceraian Menurut

Pengertian alasan-alasan hukum perceraian dapat ditelusuri dari pengertian

“alasan” yang merupakan dua kata kuncinya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata “alasan” adalah 1. dasar; hakikat; asas; 2. dasar bukti (keterangan) yang dipakai untuk menguatkan pendapat (sengketa) tuduhan, dan sebagainya; 3. Yang menjadi pendorong (untuk berbuat); 4. Yang membenarkan perlakuan tindak pidana dan menghilangkan kesalahan terdakwa.65

Selanjutnya kata:” hukum” berarti peraturan perundangan yang merupakan sumber hukum formal perceraian, yaitu peraturan tertulis yang memuat norma hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. (vide pasal 1 UU No.12 Tahun 2011) . dengan memperhatikan arti kata “alasan” dan “hukum” sebagaimana yang diuraikan diatas, maka dapat dibangun pengertian “alasan-alasan hukum

64 Mustofa Hasan, Op.Cit., hlm. 193.

65 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.KBBI, Balai Pustaka, Jakarta, 1997, hlm., 23.

perceraian” yaitu alasan atau dasar bukti (keterangan) yang digunakan untuk menguatkan tuduhan dan atau gugatan atau permohonan dalam suatu sengketa atau perkara perceraian yang telah ditetapkan dalam hukum nasional, yaitu perundang-undangan, khususnya UU No.1 Tahun 1974 yang telah dijabarkan dalam PP No, 9 Tahun 1975 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI).66

Namun, tidak mudah untuk menggugat ataupun memohon cerai ke pengadilan. Harus ada alasan-alasan yang cukup menurut hukum, sehingga gugatan cerai bisa dikabulkan pengadilan.

Alasan-alasan tersebut diatur dalam Pasal 39 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yakni sebagai berikut:

Alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar untuk perceraian menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 adalah:

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

2. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;

3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain;

66 Muhammad Syaifudin, Sri Turatmiyah, Analisa Yahanan, Op. Cit., hlm. 23

52

5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau, penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;

6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah-tangga.67

H. Sebab Putusnya Perkawinan Perkawinan dapat putus karena : 1. Kematian;

Putusnya perkawinan karena kematian, tidak diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 atau peraturan peraturan perundang-undangan lain, hanya yang menyangkut harta peninggalan atau harta warisan dari pasangan perkawinan yang meninggal diatur dalam hukum waris.

Kematian akan menimpa setiap insan, termasuk suami dan istri sebagai pasangan yang sedang mengarungi kehidupan rumah tangga. Kematian salah satu pihak mengakibatkan perkawinan menjadi putus atau bubar. Pihak yang hidup terlama, tak lagi terikat tali perwalian. Kematian yang membawa duka, juga menimbulkan akibat hukum terhadap lembaga perkawinan yang ada dalam lingkungan keluarga yang bersangkutan. Meski menimbulkan rasa duka, kematian tak bakal dapat dihindari, juga perkawinan yang ada menjadi bubar. Rentetan akibat kematian salah satu pihak dari suami atau isteri, tentu saja akan menimbulkan konsekuensi panjang, baik dalam bidang harta ataupun kedudukan anak-anak yang masih belum dewasa.

67 Moch Isnaeni, Hukum Perkawinan Indonesia, PT Refika Aditama, Bandung, 2016, hlm. 103.

2. Perceraian;

Perceraian diatur secara mendetail yaitu dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanannya yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975.

Sesuai dengan asas perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, putusnya perkawinan karena perceraian haruslah dilarang, tetapi nyatanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidaklah menerapkan larangan demikian, tetapi dengan mempersukar suatu perceraian yang memutuskan perkawinan. Perkawinan sebagai titik mula pembentukan keluarga yang dipercayai sebagai komponen dasar kehidupan sosial, apabila putus karena cerai, maka dampaknya pasti akan terasa bagi sendi kehidupan masyarakat.

Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menegaskan dalam salah satu frasanya, bahwa cerai hanya dapat dilaksanakan di muka sidang pengadilan, setelah hakim tidak berhasil mendamaikan para pihaknya. Berdasar ketentuan ini jelas tergambar, bahwa sebuah perceraian tidak boleh dilaksanakan secara liar di luar pengawasan negara. Ini wajar mengingat keberadaan perkawinan itu sendiri, negara sejak awal ikut campur dengan intensif sembari menerjunkan petugas pemerintah yang secara khusus ditunjuk untuk menangani prosedur perkawinan tersebut. Mana kala awal berlangsungnya sebuah perkawinan, negara menentukan koridornya sebagai syarat keabsahannya, maka sangat masuk akal apabila sesuatu yang sudah dipertalikan tersebut hendak putus, maka negara berkewajiban pula untuk

54

berperan, yakni lewat koridor peradilan. apabila perkawinan yang sah tersebut hendak diakhiri, maka wajib mengikuti aturan prosedurnya agar sah pula pembubarannya. Pemutusan perkawinan lewat cerai, oleh penguasa tidak baik dibiarkan bergulir liar tanpa kendali, justru sebaliknya pemerintah lewat badan peradilan, akan mengggelar tata caranya yang wajib diikuti. Dalam Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tersebut antara lain dinyatakan bahwa perceraian hanya terjadi dimuka sidang pengadilan. Dalam ketentuan ini hanya menyebut istilah pengadilan, pada hal ada beberapa jenis pengadilan. Untuk memahami pengadilan mana yang berwenang menangani cerai, Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ini harus dikaitkan dengan pasal 63 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, yang intinya menegaskan bahwa yang dimaksud pengadilan dalam undang-undang ini adalah pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam, dan pengadilan Umum bagi umat agama lainnya. Sekali lagi dibuktikan, bahwa unifikasi memang bukan sesuatu yang gampang diwujudkan. Untuk masalah cerai yang harus terjadi dimuka pengadilan, pastinya pengadilan mana, ternyata digantungkan pada agama yang dianut pasangan yang bersangkutan.

Perpindahan agama suami isteri tidak membawa akibat putusnya perkawinan, ini dapat diteliti dari Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur apa saja yang dapat membubarkan suatu perkawinan. Dengan pindah agama, setelah beberapa waktu disusul kehendak untuk cerai, berarti akta perkawinan yang dipegang suami isteri, lalu disodorkan ke pengadilan mana demi melengkapi dokumen cerai yang

diperlukan, memang menjadi rancu. Sesungguhnya dalam ilmu hukum ada sesuatu pedoman yang dapat dipergunakan untuk mengatasi rumitnya permasalahan kewenangan pengadilan mana yang kompeten menganganinya, adalah dengan berpedoman pada dalil, bahwa hukum awal yang mendasari terjadinya perbuatan hukumlah yang tepat untuk dipergunakan, kalau di tengah perjalanan ternyata ada perubahan hukum yang menguasai hubungan hukum yang bersangkutan.

Silang sengketa suami isteri yang hendak diakhiri dengan putusnya perkawinan mereka lewat cerai, pemerintah lewat tangan hakim, wajib mendamaikan kedua belah pihak yang sedang bersitegang. Hal tersebut wajar, sebab dapat saja terjadi pertengkaran suami isteri kalau ditengahi oleh pihak tertentu, dalam hal ini pengadilan, dapat diharap pasangan yang sedang emosional akan mampu berpikir logis kembali dan segera dapat mengurai alasan persengketaan mereka. Model ini juga merupakan upaya pemerintah untuk menegakkan salah satu asas hukum perkawinan, yakni mempersulit cerai. Manfaat lainnya, keluarga yang dibina adalah inti dasar kehidupan kelompok yang dulu sejak awalnya dibangun berdasarkan saling pengertian, sudah selayaknya dipertahankan supaya kekal. Jika ada arah melintang, dicarikan pemecahannya tanpa perlu menghancurkan rumah tangga. Jurus ini dipergunakan oleh hakim sebagai perpanjangan tangan penguasa, agar cerai yang dimohonkan dapat dicegah melalui perdamaian kedua belah pihak.

Menjadi kewajiban setiap hakim yang menerima gugat cerai, untuk selalu berupaya mendamaikan pasangan yang sedang dilanda krisis rumah tangga.

56

Metode ini diwajibkan bagi hakim seperti yang diatur dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Berdasar Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, setelah upaya hakim untuk mendamaikan gagal, perceraian baru diproses apabila ada cukup alasan. Sejalan dengan asas hukum perkawinan yang berusaha mempersulit cerai, maka pemerintah menetapkan beberapa alasan yang dapat dipergunakan untuk menggugat cerai. Adapun alasan-alasan cerai yang dimaksud, dapat ditemukan pada dua tempat, yakni dalam penjelasan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 yang pada dasarnya menetapkan alasan cerai yang sama.

Peristiwa cerai sebagai salah satu penyebab putusnya sebuah perkawinan, merupakan suatu hal yang dianggap urusan internal keluarga, tambahan seluk beluk cerai dengan berbagai penyebabnya, merupakan gejala yang tidak perlu diketahui oleh khalayak umum. Sebagian masyarakat masih kuat beranggapan bahwa cerai adalah aib yang selalu berusaha untuk dihindari. Oleh sebab, itulah, sidang perceraian yang digelar di pengadilan, sifatnya tertutup sebagaimana dinyatakan oleh Pasal 33 Praturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Pada tahap putusan mengenai gugatan cerai, baru dilakukan dalam sidang terbuka. Suatu perceraian dianggap terjadi beserta segala akibatnya, terhitung sejak saat pendaftaranya pada pegawai pencatat. Aturan ini khusus berlaku bagi pasangan yang beragama bukan Islam. Sedangkan bagi mereka yang beragama Islam, suatu perceraian dianggap terjadi berserta segala akibatnya terhitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang sudah

memiliki kekuatan hukum yang tetap. Khusus menyangkut cerai talak, berdasarkan Pasal 18 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, suatu perceraian terjadi sejak saat perceraian itu dinyatakan di depan sidang pengadilan.

Kendati perkawinan sudah putus akibat cerai, tanggung jawab bekas suami dan isteri tetap dibutuhkan untuk anak-anak yang dilahirkan, demi menjaga kelangsungan kesejahteraannya. Demikian juga dengan putusnya perkawinan mengakibatkan anak-anak yang dilahirkan tidak lagi dalam ruang lingkup kekuasaan orang tua, sehingga hakim akan menunjuk salah satu pihak, yaitu bapak atau ibu, menjadi wali. Mendidik dan membesarkan anak merupakan tanggung jawab yang tidak dapat berakhir begitu saja dengan terjadinya perceraian. Kepentingan anak harus tetap diperhatikan demi masa pertumbuhannya agar tidak menjurus pada arah yang salah. Hal ini secara umum diatur dalam Pasal 41 Undnag-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.68

3. Atas keputusan pengadilan

Sesuai uraian putusnya perkawinan karena cerai, campur tangan pengadilan jelas sangat menentukan. Berhubung lembaga cerai ini dipandang sangat penting karena membawa dampak yang tidak kecil, sepatutnya diatur lebih rinci oleh pemerintah. Lalu dalam Pasal 38 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ternyata perkawinan juga dapat putus karena adanya keputusan hakim, pada hal dalam cerai juga begitu, tentu saja peristiwa ini akan memunculkan problema. Sebagai sebuah kebetulan pula,

68 Ibid.., hlm. 100.

58

bahwa uraian putusnya perkawinan karena keputusan pengadilan, secara khusus tidak ada aturan penjabaranya. Dalam peristiwa tentunya keputusan pengadilan yang disebutkan Pasal 38 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan itu beroperasi. Harus diakui memang tidak ada kejelasan, namum ini suatu jalan yang ditempuh oleh pemerintah untuk memberikan kelonggaran pada peristiwa-peristiwa yang dapat saja muncul dibelakang hari sesuai perkembangan zaman. Lewat cara ini pemerintah berusaha untuk tetap mengawal lembaga perkawinan lewat tangan hakim supaya perkawinan tidak putus begitu saja di luar pantauan penguasa.

Salah satu jenis putusnya perkawinan berdasar keputusan pengadilan, antara lain dapat dirujuk sebagaimana peraturan tentang pembatalan perkawinan yang direntang mulai Pasal 22 s/d 28 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Juga dapat dipergunakan sebagai contoh lain tentang putusnya perkawinan berdasar keputusan hakim, yaitu dalam peristiwa diajukannya talik talak di depan pengadilan. Sesuai perkembangan, penyebab putusnya perkawinan berdasar keputusan pengadilan, dapat mengambil bentuk-bentuk baru yang belum ada pada saat ini untuk dirinci secara selektif. Meski demikian, jaring pengaman demi monotoring yang diperlukan oleh pemerintah terhadap lembaga perkawinan, sudah sejak dini dipersiapkan.69

Sesuai pasal 11 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu tunggu. Pengaturan masa tunggu ini dirinci lebih lanjut dalam Pasal 39 PP No. 9 Tahun 1975 sebagai berikut :

69 Ibid., hlm. 115.

a. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu ditetapkan 130 hari sejak kematian suami;

b. Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih datang bulan ditetapkan 3 kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari.

Tenggang waktu tidak datang bulan ditetapkan 90 hari. Tenggang waktu yang ditunggu dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;

c. Apabila perkawinan putus, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

BAB III

KEWAJIBAN PEMBERIAN NAFKAH DARI SUAMI KEPADA ISTRI MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG

PERKAWINAN

A. Kedudukan Hak dan Kewajiban Suami dan Istri Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Dan Kompilasi Hukum Islam

Bersatunya pria dan wanita dalam suatu ikatan perkawinan, mengakibatkan perolehan kedudukan hukum yang istimewa, dimana pihak pria akan menjadi suami sedang wanitanya akan berposisi sebagai istri. Tak pelak, kedudukan hukum pasangan yang bersangkutan, berakibat di pundaknya masing-masing terpikul suatu kewajiban luhur dalam rangka menjaga eksitensinya selaku inti susunan kehidupan masyarakat. Masing-masing suami istri memikul kewajiban, agar rumah tangga yang didirikan tetap kokoh dan tertib, sehingga dapat dijadikan batu pijakan menjaga keseutuhan kehidupan kelompok. Jika demikian halnya, tak urung masing-masing pihak, suami istri mempunyai tanggung jawab sosial secara bersama-sama guna menyumbangkan kehadirannya yang harus bermanfaat. Dari kekokohan dan ketertiban yang maujud dalam setiap rumah tangga pada dasarnya akan menjadi soko guru utama penyangga lahirnya kenyamanan dan keamanan masyarakat. Untuk merealisasikan itu, dalam ruang lingkup rumah tangga sendiri, posisi suami istri sebagai tiang utamanya, haruslah seimbang tanpa ada dominasi dan arogansi dari salah satunya. Ini penting karena bahtera keluarga hanya dapat dipacu dengan tertib mana kala penarikanya yakni suami istri memiliki kedudukan yang setara. Ini wajar mengingat baik suami atau

istri adalah sama-sama umat tanpa ada perbedaan, kecuali dalam hal jenis kelamin saja.

Perbuatan hukum terhadap perkwinan, menimbulkan akibat hukum yang cukup panjang. Akibat hukum dari suatu perkawinan bagi para pelakunya, membuahkan kedudukan hukum baru bagi insan yang bersangkutan. Pihak pria akan mendapatkan kedudukan hukum sebagai suami, sedang wanitanya akan memperoleh kedudukan hukum sebagai istri. Bertolak dari kedudukan hukum tersebut, membawa akibat lahirnya hak dan kewajiban bagi suami istri secara proposional. Tanpa mengurangi hakikat adanya perbedaan kelamin diantara mereka, Pasal 30 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan bahwa suami istri memikul kewajiban yang luhur. Ungkapan ketentuan ini membuktikan bahwa dari sebuah perkawinan yang dilakukan oleh pria dengan wanita, terbentuklah biduk rumah tangga atau keluarga yang diakui sendi dasar susunan sebuah masyarakat.

Kewajiban suami istri yang luhur untuk tegaknya keluarga, membawa akibat bahwa diantara mereka harus ada keseimbangan kedudukan hukumnya, supaya masing-masing suami istri berwenang untuk melakukan perbuatan hukum, baik di dalam ataupun di luar pengadilan. Sesuai harkat dan martabatnya, suami berperan sebagai kepala keluarga, sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga.

Demikian Pasal 31 Undang-Undang No. 1 Tentang Perkawinan menegaskan.

Masa di mana untuk melakukan perbuatan hukum bagi istri wajib meminta bantuan suami, Gelora emansipasi yang dinyalakan oleh kaum wanita, sengaja ditampung di dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perubahan kedudukan hukum istri menjadi seimbang dengan suami

62

malah mampu memacu keutuhan keluarga. Segala permasalahan yang timbul dalam ruang kehidupan keluarga, secara bersama-sama dibicarakan antara suami istri untuk dicarikan solusinya lewat musyawarah.70

Bongkah kewajiban yang terpikul dipundak masing-masing suami istri yang penuh nuansa luhur, harus dipenuhi agar supaya kehidupan yang sejahtera dapat diwujudkan. Salah satu pihak melalaikan kewajiban yang menjadi tanggungannya, situasi kehidupan keluarga pasti akan timpang. Dampak yang ditimbulkan dari hal tersebut akan menyengsarakan anggota rumah tangga, khususnya pertumbuhan anak-anak yang dilahirkan.

Hak suami istri berkedudukan seimbang dalam rumah tangga, demikian juga dalam pergaulan sosial kemasyarakatan.

Sebagai kepala rumah tangga, suami berhak untuk menetapkan tempat tinggal bersama, atau kediaman yang merupakan rumah tinggal bersama dengan anak-anak. Istri menjadi ibu rumah tangga yang tunduk kepada suaminya.

Kewajiban suami istri adalah : 1. Cinta menyintai satu sama lainnya.

2. Hormat menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

3. Setia satu sama lainnya.

4. Saling memberi dan menerima bantuan lahir dan batin satu sama lain.

5. Sebagai suami berkewajiban mencari nafkah bagi anak-anak dan istrinya serta wajib melindungi istri serta memberikan segala keperluan hidup rumah tangga, lahir dan batin, sesuai dengan kemampuannya.

6. Sebagai istri berkewajiban mengatur rumah tangga sebaik-baiknya.71

70 Moch Isnaeni, Op.Cit.., hlm. 90.

71 Martiman Prodjohsmidjojo, Op.Cit.., hlm. 34.

Menurut Pasal 31 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dijelaskan mengenai hak dan kewajiban suami istri adalah sebagai berikut:

1. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat;

2. Masing-masing pihak berhak melakukan perbuatan hukum;

3. Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Menurut Pasal 32 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa:

1. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap;

2. Rumah tempat kediaman yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini ditentukan oleh suami istri bersama.

Menurut Pasal 33 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berbunyi sebagai berikut:

Suami istri wajb saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain.

Menurut Pasal 34 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berbunyi sebagai berikut:

1. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya;

2. Istri wajib mengatur urusan rumah tangga sebaik-baiknya.72

72 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

64

Berdasarkan pasal-pasal yang mengatur tentang hak dan kewajiban suami istri dalam Undang-Undang Perkawinan tersebut, maka hak dan kewajiban tersebut dapat dipisahkan menjadi 2 kelompok, yaitu hak dan kewajiban yang berupa kebendaan dan hak dan kewajiban yang bukan kebendaan.

Menurut Kompilasi Hukum Islam Bab XII Hak dan Kewajiban Suami Istri dibagi menjadi enam bagian, yaitu:

Bagian Kesatu, Umum adalah Pasal 77 yang berisi pasal-pasal yang sama materinya dengan pasal-pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 30-34.

Bagian Kedua, kedudukan suami istri pada Pasal 78 Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkan bahwa:

a. Suami adalah kepala rumah keluarga, dan istri adalah ibu rumah tangga;

b. Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat;

c. Masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

Bagian Ketiga, kewajiban suami pada Pasal 80 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa:

a. Suami adalah pembimbing terhadap istri dan rumah tangganya, akan tetapi mengenai hal-hal urusan rumah tangga yang penting-penting diputuskan oleh suami istri;

b. Suami wajib melindungi dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya;

c. Suami wajib memberi pendidikan agama kepada istrinya dan memberi kesempatan belajar pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa;

d. Sesuai dengan penghasilannya suami berkewajiban atas : a. Nafkah kiswah dan tempat kediaman bagi istri;

b. Biaya rumah tangga, yaitu perawatan dan biaya pengobatan bagi istri dan anak;

c. Biaya pendidikan bagi anak.

(a) Kewajiban suami terhadap istrinya seperti ketentuan pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tahkim sempurna dari istrinya;

(b) Istri dapat membebaskan suaminya dari kewajiban terhadap dirinya sebagaimana tersebut pada ayat (4) huruf a dan b;

(c) Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila istrinya nusyuz.

Bagian Keempat, tempat kediaman pada Pasal 81 Kompilasi Hukum Islam yang menyebutkan bahwa:

a. Suami wajib menyediakan tempat kediaman bagi istri dan anak-anaknnya atau bekas istri yang masih dalam iddah;

b. Tempat kediaman adalah tempat tinggal yang layak untuk istri selama dalam ikatan perkawinan atau dalam iddah atau iddah wafat;

c. Tempat kediaman disediakan untuk melindungi istri dan anak-anaknya dari gangguan pihak lain, sehingga mereka merasa aman dan tenteram.

66

Tempat kediaman juga berfungsi sebagai tempat menyimpan harta kekayaan, sebagai tempat menata dan mengatur alat-alat rumah tangga;

d. Suami wajib melengkapi tempat kediaman sesuai dengan kemampuannya serta disesuaikan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya, baik berupa alat-alat perlengkapan rumah tangga maupun sarana penunjang lainnya.

Bagian Kelima, kewajiban istri, pada Pasal 83 Kompilasi Hukum Islam menyebutkan bahwa:

a. Kewajiban bagi seorang istri adalah berbakti lahir dan batin kepada suami di dalam batas-batas yang dibenarkan oleh hukum Islam;

b. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

b. Istri menyelenggarakan dan mengatur keperluan rumah tangga sehari-hari dengan sebaik-baiknya.

Dokumen terkait