• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.3 Konsep Dasar Diare

2.3.9 Faktor Resiko Diare

a. Umur dan Jenis Kelamin

Diare tersebar pada semua kelompok usia dengan prevalensi tertinggi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16% sedangkan menurut jenis kelamin lelaki dan

37

perempuan evalensi sama yaitu 8,9% pada lelaki dan 9,1% pada perempuan (Riskesdas, 2011).

b. Infeksi saluran cerna

Infeksi saluran pencernaan sangat berpengaruh terhadap penyakit diare. Infeksi saluran pencernaan disebabkan oleh infeksi Escheria Coli pada saluran cerna sehingga menyebabkan diare.

c. Imunodefisiensi

Sekumpulan keadaan yang berlainan dimana imun atau kekebalan tubuh tidak berfungsi secara adekuat sehingga infeksi dapat mudah terjadi. d. Status gizi

Status gizi berpengaruh terhadap diare, pada anak yang kurang gizi karena pemberian makanan yang kurang maka episode diare akut akan lebih berat.

2. Faktor Ekstrinsik a. Lingkungan

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, lingkungan yang tidak sehat karena tercemar kuman diare maka dapat menyebabkan kejadian diare, masalah kesehatan lingkungan antara lain:

1) Sarana air bersih

Masalah kesehatan lingkungan sarana air bersih perlu diperhatikan dengan baik karena menyangkut sumber air minum yang dikonsumsi sehari-hari. Apabila sumber air minum yang di konsumsi keluarga tidak sehat maka seluruh anggota keluarga akan menghadapi masalah kesehatan atau penyakit

38

2) Pembuangan kotoran manusia

Jamban sehat merupakan fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutuskan mata rantai penyakit seperti penyakit diare. Jamban keluarga sehat adalah jamban yang memenuhi syarat seperti tidak mencemari sumber air minum, tidak berbau dan tinja tidak di jamah oleh serangga atau tikus, cukup luas dan landai kearah lubang jongkok sehingga tidak mencemari tanah disekitarnya, mudah dibersihkan dan aman penggunaannya, cukup penerangan, ventilasi cukup, dan tersedia air dan alat bersih.

3) Sampah

Sampah merupakan hasil kegiatan manusia yang sudah tidak digunakan lagi sebagai sisa kegiatan sehari – hari manusia ataupun proses alam yang berbentuk padat. Apabila sampah tidak dikelolah dengan baik, maka akan memberikan pengaruh besar terhadap kesehatan. Pengaruh tersebut dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung disebabkan oleh kontak langsung antara manusia dengan sampah misalnya sampah beracun, sampah karsinogenik, sampah yang korosif terhadap tubuh, dan sampah teratogenik. sedangkan pengaruh tidak langsung disebabkan oleh adanya vector penyebab penyakit yang berkembangbiak di dalam sampah pada manusia, jika sampah ditimbun sembarangan dapat dijadikan sarang oleh lalat, tikus dan nyamuk. Lalat merupakan vektor dari penyakit system pencernaan seperti diare, typhus,dan

cholera.

4) Saluran pembuangan air limbah (SPAL)

Air limbah merupakan sisa air yang dibuang berasal dari buangan sisa rumah tangga, industri maupun tempat umum lainnya. Air limbah mengandung bahan

39

atau zat tertentu yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan mengganggu lingkungan hidup lainnya, jika tidak dikelolah dengan baik akan menyebabkan berbagai macam penyakit.

5) Perumahan

Rumah sehat merupakan tempat tinggal yang memenuhi ketetapan atau ketentuan teknis kesehatan yang wajib dipenuhi dalam rangka melindungi keluarga dari bahaya atau gangguan kesehatan sehingga memungkinkan keluargaa memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Kondisi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai macam penyakit. Adapun fasilitas rumah sehat meliputi penyediaan air bersih, pembuangan tinja, pembuangan air limbah, pembuangan sampah, fasilitas dapur dan ruang berkumpul keluarga.

b. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan cerminan pola hidup atau perilaku keluarga dalam menjaga seluruh anggota keluarganya agar tidak

terserang diare dengan melakukan penimbangan balita secara rutin, makan dengan gizi seimbang, keluarga menggunakan air bersih untuk keperluan sehari – hari, mempunyai jamban yang memenuhi syarat, mengkonsumsi air minum yang sehat, mencuci peralatan masak menggunakan sabun. c. Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah untuk menerima informasi. Dengan pendidikan yang tinggi seseorang akan cenderung untuk medapatkan informasi baik dari orang lain maupun media masa. Diare cenderung lebih tinggi terjadi pada kelompok dengan

40

pendidikan rendah yaitu tidak sekolah (10,4%) dan tidak tamat SD (9,3%) sedangkan untuk kelompok pendidikan tinggi 5,7% (Riskesdas, 2007). d. Pengetahuan

Semakin banyak informasi yang diperoleh maka semakin banyak pula pengetahuan yang didapatkan tentang diare. Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, seseorang dengan pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pengetahuan yang tinggi, namun seseorang dengan pendidikan rendah tidak mutlak berpengetahuan rendah. Pengetahuan ibu akan berpengaruh dalam penanganan diare dirumah, karena bila pengetahuannya baik maka ibu akan mengetahui cara merawat anak sakit diare dirumah, terutama tentang upaya rehidrasi oral dan tentang tanda – tanda untuk segera membawa anak berobat ke pelayanan kesehatan terdekat.

e. Sikap

Sikap berpengaruh terhadap penatalaksanaan diare dirumah, misalnya tindakan ibu dengan penghentian ASI terlalu dini, pemberian susu botol yang kurang bersih akan mengakibatkan diare pada anak. Sikap ibu dalam mengatasi diare pada anak seperti tanda – tanda anak harus segera dibawa ke pelayanan kesehatan, keadaan anak tidak bertambah baik, anak demam, jika anak tidak mau makan atau minum dengan baik, anak buang air besar disertai darah. Sikap ibu yang baik akan mendukung kesembuhan anak yang menderita diare. f. Pekerjaan

Diare cenderung lebih tinggi pada kelompok tidak bekerja (8,7%) dan bekerja sebagai petani/buruh/nelayan (8,7%) sedangkan untuk kelompok dengan pekerjaan sebagai pegawai sebesar 5,6% (Riskesdas, 2007).

41

g. Sosial ekonomi

Penyakit diare sering terjadi pada keluarga dengan status social ekonomi rendah karena kondisi rumah yang kurang baik, tidak mempunyai sarana air bersih, tidak adanya kamar mandi dan jamban sehat, pengolahan makanan yang kurang akan lebih beresiko terhadap pencegahan diare (Ayu putri ariani, 2016).

Dokumen terkait