• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Risiko Baby B lues Syndrome a. Umur

Dalam dokumen Refrat Baby Blues (Halaman 21-37)

Umur itu sendiri bukan faktor utama yang menentukan apakah wanita lebih rentan atau kurang rentan terhadap depresi pasaca melahirkan (baby blues). Namun, ada gunanya bila kita mengetahui berbagai tekanan yang dialami para wanita baik usia muda maupun tua karena hal ini

 berperan dalam terjadinya depresi. Dewasa ini, lebih banyak wanita melahirkan di usia cukup matang (rata-rata 28 tahun walaupun beberapa wanita menunda kehamilan beberapa tahun lebih lama), dengan kematangan dan toleransi yang lebih besar dan gaya hidup yang lebih mapan, wanita yang lebih tua juga lebih terbiasa memegang kendali, lebih mampu mengatur hidupnya, suatu sikap yang membuat depresi lebih muda terjadi bila hal itu berkaitan dengan perwatan bayi. Wanita berkarir tinggi yang baru melahirkan bayi dan dapat kembali bekerja dalam waktu sepuluh hari adalah mitos yang mencengkam imajinasi masyarakat kita dan meskipun ini cocok untuk beberapa individu, tidaklah realistis untuk sebagian besar wanita. Bagamainapun juga, wanita kariri yang sudah matang khususnya, sangat sulit melepaskan sikapnya yang teratur sewaktu merawat bayi. Mereka pikir mereka dapat menangani, tetapi sewaktu bayi membuatnya kerepotan dengan tangisannya yang terus menerus, rasa laparnya yang tidak teratur, jadwal yang tidak jelas dan membuatnya kurang tidur, mereka umumnya lebih rentan terhadap depresi. Sedangkan ibu yang usianya lebih muda, meskipun lebih muda menyesuaikan diri, tidak terlalu kaku dalam bertindak dan mempunyai energi fisik lebih besar, mereka tidak mempunyai kesabaran atau kematangan seperti yang dimiliki wanita lebih matang, yang telah menunggu lama untuk mendapatkan keturunan. Mereka lebih muda kehilangan rasa mudanya , atau bahwa mereka harus kehilangan karir yang sedang dibangunnya atau kadang baru

dimulai. Kedua perasaan ini dapat menimbulkan kesdihan yang ikut  berperan dalam terjadinya depresi (Marshall, 2004).

Ibu yang berusia 40 tahun ke atas mengalami risiko yang tinggi untuk mengandung. Biasanya bayi yang dilahirkan mengalami Sindrom Down. Tekanan darah tinggi, diabetes, kardiovaskular yang dialami oleh ibu yang juga berisiko pada janin yang dikandungnya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Syahrir S (2008) menyatakan bahwa umur merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues,  besar risiko penderita baby blues pada umur <20 tahun atau >35 tahun 3,5 kali lebih besar dibanding  penderita yang berumur 20-35 tahun (Syahrir S, 2008).

b. Paritas

Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah dialami oleh ibu baik lahir hidup maupun lahir mati dengan umur kehamilan 28 minggu. Ibu dengan paritas tinggi menggambarkan tingkat kehamilan yag banyak dan cenderung mengalami komplikasi kehamilan. Hal ini disebabkan karena secara fisik jumlah paritas yang tinggi mengurangi kemampuan uterus sebagai media pertumbuhan janin. Kerusakan pembuluh darah dinding uterus akan memengaruhi sirkulasi nutrisi maupun oksigen ke janin (Wiknojosastro, 2007).

Salah satu penelitian menunjukkan bahwa depresi ditemukan pada kehamilan pertama. Mereka yang pernah mengalami baby blues (depresi  pasca persalinan) dianggap sangat rentan untuk mengalaminya kembali (Marshall, 2004). Demikian juga pada penelitian Syahmawati yang

menyatakan bahwa paritas merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues, besar risiko penderita baby blues yang primipara 3,6 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang multipara. (Syahrir S, 2008).

c. Depresi

Wanita dengan riwayat depresi postpartum mempunyai risiko yang  bermakna dengan angka kekambuhan postpartum setinggi 50% dibandingkan dengan wanita yang hanya mengalami episode diluar masa nifas, wanita dengan riwayat depresi postpartum jelas mempunyai risiko yang lebih besar. Untuk semua wanita (dengan atau tanpa riwayat depresi  berat), munculnya gejala depresi selama kehamilan meningkatkan risiko

baby blues (depresi postpartum) (Elvira S, 2006).

Terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat depresi atau gangguan emosional yang pernah diderita atau gangguan emosional pasca  persalinan (Safiuddin, 2001). Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menjelaskan bahwa riwayat depresi dan gangguan emosi merupakan perkiraan paling kuat akan munculnya depresi setelah melahirkan (Marshall, 2004). Pada penelitian yang dilakukan oleh Syahrir S (2008) menyatakan bahwa riwayat depresi merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues,  besar risiko terhadap kejadian baby blues yang memiliki riwayat depresi 22 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang tidak mempunyai riwayat depresi (Syahrir S, 2008).

Komplikasi kehamilan adalah kegawat daruratan obstetrik yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayi (Obstetri Fisiologi. 2003). Adapun Jenis Komplikasi Kehamilan yaitu:

1. Perdarahan

Perdarahan yang berhubungan dengan persalinan dibedakan dalam dua kelompok utama yaitu perdarahan antepartum dan  perdarahan postpartum. Perdarahan antepartum adalah perdarahan  pervaginam yang terjadi sebelum bayi lahir. Perdarahan yang terjadi sebelum kehamilan 28 minggu seringkali berhubungan dengan aborsi atau kelainan. Perdarahan kehamilan setelah 28 minggu dapat disebabkan karena terlepasnya plasenta secara prematur, trauma, atau  penyakit saluran kelamin bagian bawah (Obstetri Fisiologi. 2003).

2. Pre-Eklamsia

Per-eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria yang timbul karena kehamilan yang dapat menyebabkan kematian pada ibu dan janinnya. Penyakit ini pada umumnya terjadi dalam triwulan ke-3 kehamilan dan dapat terjadi  pada waktu antepartum, intrapartum, dan pascapersalinan (Obstetri

Fisiologi. 2003).

Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda-tanda yang lain. Untuk menegakkan diagnosis pre-eklamsi, kenaikan tekanan sistolik harus 30 mm Hg atau lebih di atas tekanan yang biasanya ditemukan, atau mencapai 140 mm Hg atau lebih dan tekanan diastolik

naik dengan 15 mmHg atau lebih atau menjadi 90 mm Hg maka diagnosis hipertensi dapat ditegakkan (Obstetri Fisiologi. 2003).

Edema ialah penimbunan cairan secara umum yang berlebihan dalam jaringan tubuh, dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat  badan serta pembengkakan kaki, jari tangan, dan muka. Kenaikan berat  badan ½ kg setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal tetapi bila kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali, hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan (Obstetri Fisiologi. 2003).

Proteinuria merupakan komplikasi lanjutan dari hipertensi dalam kehamilan, dengan kerusakan ginjal sehingga beberapa bentuk  protein lolos dalam urine. Normal terdapat sejumlah protein dalam

urine, tetapi tidak melebihi 0,3 gr dalam 24 jam. Proteinuria menunjukkan komplikasi hipertensi dalam kehamilan lanjut sehingga memerlukan perhatian dan penanganan segera (Obstetri Fisiologi. 2003).

Penyebab pre-eklamsi sampai sekarang belum diketahui dengan pasti. Telah terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab penyakit ini, akan tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban yang memuaskan. Diduga penyebab hipertensi dalam kehamilan secara  patologi terjadi karena akibat implantasi sehingga timbul iskemia  plasenta yang diikuti sindroma inflamasi dan risiko meningkat pada hamil kembar, penyakit trombolas, diabetes mellitus, faktor herediter dan masalah vaskuler (Saifuddin, 2000).

3. Infeksi

Infeksi pasca persalinan ialah meningkatnya suhu tubuh > 38ºC dan demam berturut-turut selama dua hari sesudah persalinan dan yang disertai keluarnya cairan yang berbau dari liang rahim. Infeksi jalan lahir dapat terjadi pada ibu bersalin yang pertolongan persalinannya tidak bersih atau pada wanita yang menggugurkan kandungan dengan cara berbahaya. Tanda-tandanya adalah panas tinggi lebih dari dua hari setelah melahirkan atau setelah keguguran. Keadaan ini berbahaya dan ibu perlu mendapatkan perawatan intensif. Infeksi ini dapat dicegah dengan pertolongan persalinan yang bersih dan aman (Obstetri Fisiologi. 2003).

Berdasarkan hasil penelitian Syahrir S (2008) di Rumah Sakit Bersalin Pertiwi menyatakan bahwa komplikasi kehamilan merupakan faktor risiko terhadap kejaidan baby blues, besar risiko penderita baby blues yang memiliki komplikasi kehamilan 5,9 kali lebih besar dibanding penderita baby blues yang tidak mempunyai komplikasi kehamilan (Syahrir S, 2008).

e. Komplikasi Persalinan

Komplikasi pasca persalinan yang biasa terjadi adalah keadaan yang membahayakan janin seperti berkurangnya aliran oksigen, plasenta yang tidak berfungsi dengan baik atau terpisah dari rahim, tekanan atatu kekusutan pada tali pusar, aktivitas rahim yang panjang dan berlebihan

atau infeksi janin, cacat, perdarahan, serta penyakit pada ibu (anemia, hipertensi, penyakit jantung, tekanan darah rendah yang tidak wajar), distosia bahu, rahim robek, inverse rahim, luka goresan pada vagina dan leher rahim, perdarahan pasca kelahiran, serta infeksi pasca kelahiran (Marshall, 2000).

Hampir 20% pada wanita hamil takut terhadap suatu persalinan sedangkan tingkatan nyeri persalinan sampai bentuk yang paling berat dirasakan sebagai hal yang tidak menyenangkan secara psikis dan ini tidak dapat diterima oleh sekita 30% wanita (Mathai M, 2000). Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna, yaitu bahwa baby blues lebih banyak dialami oleh wanita dengan riwayat komplikasi obstetric yang kurang baik. Selain itu, dari hasil penelitian Syahrir S (2008) di Rumah Sakit Bersalin Pertiwi menyatakan bahwa komplikasi persalinan merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues,  besar risiko  penderita baby blues yang memiliki komplikasi persalinan 5,9 kali lebih  besar dibanding penderita baby blues yang tidak mempunyai komplikasi  persalinan (Syahrir S, 2008).

f. Dukungan Suami

Interaksi pasien dengan lingkungannya merupakan faktor  pendukung terjadinya proses kelahiran normal. Suami adalah orang terdekat yang menyebabkan proses kehamilan namun kehadiran suami dalam persalinan masih janggal. Beberapa tempat pelayanan persalinan

 belum memperbolehkan kehadiran suami dalam persalinan istrinya,  padahal beberapa peneltian di berbagai Negara telah membuktikan bahwa wanita yang melahirkan yang didampingi selama persalinan baik oleh suami, kerababt wanita maupun tenaga khusus yang dilatih untuk itu menunjukkkan manfaat yang sangat banyak (Kusmiyanti dkk, 2004).

Presentase dukungan suami dengan kejadian  Postpartum Blues  pada ibu primipara yaitu responden yang menyatakan dukungan dari suami kurang 4 orang sebanyak (16%), dukungan suami yang dikategorikan sedang mempunyai frekuensi 15 orang sebanyak (60%) dan dukungan suami yang dikategorikan tinggi 6 orang sebanyak (24%). Dukungan sosial (suami) merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang di dalamnya terdapat hubungan yang saling memberi dan menerima  bantuan yang bersifat nyata, bantuan tersebut akan menempatkan individu-individu yang terlibat dalam sistem sosial yang pada akhirnya akan dapat memberikan cinta, perhatian maupun  sense of attachment  baik pada keluarga sosial maupun pasangan (Fatimah S, 2009).

Dukungan suami terhadap istrinya bisa di lakukan dengan membantu istri dalam perawatan bayi misalnya ketika ibu menyusui  bayinya, sang ayah tidak hanya tidur sepanjang malam. Ayah bisa menemani ibu dan bayi, mengangkat bayi dari tempat tidurnya, mengganti  popok bayi bila perlu, memberikan bayi pada ibu saat jam menyusui, dan mengembalikan bayi ke tempat tidurnya ketika bayi telah tertidur kembali. Dukungan suami sangat penting dan tidak bisa diremehkan dan yang tak

kalah penting membangun suasana positif, dimana istri merasakan hari-hari pertama yang melelahkan. Oleh sebab itu dukungan atau sikap positif dari pasangan dan keluarga akan memberi kekuatan tersendiri bagi ibu (Fatimah S, 2009).

Peranan suami selama kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian baby blues. Maka upaya untuk meningkatkan dukungan suami selama proses tersebut diperkirakan apat menurunkan kejadian baby blues ( Alfiben, 2000). Dalam  penelitian yang dilakukan oleh Syamawati bahwa tidak adanya dukungan suami merupakan faktor risiko terhadap kejadian baby blues, besar risiko  penderita baby blues tanpa dukungan dari suami 24 kali lebih besar

dibanding penderita baby blues yang mendapatkan dukungan dari suami (Syahrir S, 2008). Maka dari itu perlu adanya peningkatan peranan suami sebagai pendamping dalam proses persalinan secara kontinyu guna menurunkan angka kejadian baby blues.

g. Tinjauan Umum Tentang Validasi

E dinburgh Postnatal Depression

 Scale

 (EPDS)

Riset yang dilakukan di Universitas Edinburgh telah menghasilkan kuesioner khusus untuk membantu tenaga kesehatan menilai apakah seorang wanita menderita depresi pasca melahirkan (Syahrir, 2008). Di luar negeri skrining untuk mendeteksi gangguan mood/ depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk

skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner dengan sebagai alat  bantu.  Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intenstas  perubahan perasaan depresi selama 7 hari pasca persalinan. Pertanyaan- pertanyaannya berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan,  perasaan bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada baby

blues (Iskandar, 2007)

Kuesioner ini terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan, di mana setiap  pertanyaan memilki 4 (empat) pilihan jawaban yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca persalinan saat itu (Mayu, 2004). Nilai skoring yang dianggap  positif (Cut Of Point) depresi pasca persalinan para peneliti memberikan nilai bervariasi 9 sampai 13. Nilai skor ≥13 pada skala ini, dianggap  pasien memilki kecenderungan untuk mengalami depress. EPDS telah

diakui dapat mendetksi depresi pasca persalinan pada sampel yang diambil dari masyarakat. Dengan menggunakan nilai ambang 12/13, skala tersebut memilki sensitivitas 68% sampai 86% spesifitas sebesar 78% sampai 96%. Skala ini terbukti memilki sensitivitas dan spesifitas baik untuk membantu penilaian diagnosis psikiatri yang diakui dan diterapkan  pemakaiannya di Inggris dan Australia (Alfiben, 2000). Dalam melengkapi kuesioner tersebut sebaiknya ibu tidak ditemani oleh anggota keluarga yang lain, hal ini dilakukan untuk memberikan hasil yang lebih  baik. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat

diselesaikan dalam waktu 5 menit (Rianta, 2004). EPDS juga telah teruji validitasnya di beberapa Negara seperti Belanda, swedia, Australia, italia, dan Indonesia. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca  persalinan dan ila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2

(dua) minggu kemudian (Iskandar, 2007).

Studi Caldwell dan Antonucci menemukan pada sampel 48 ibu-ibu remaja bahwa usia, dukungan status sosial ekonomi keluarga, secara signifikan berhubungan dengan simtom-simtom depresi pasca persalinan. Birkeland dan kawan-kawan meneliti depresi pasca persalinan dengan menggunakan Edinburg Postnatal Depression Scale (EPDS) yang merupakan self report untuk mengukur simtom depresi mendapatkan skor EPDS 0,83 (Reid V dkk, 2007).

Patricia Hannah dan kawan-kawan meneliti 217 pasien depresi  pasca persalinan dengan menggunakan EPDS pada hari ketiga dan minggu keenam pasca persalinan, mendapatkan adanya korelasi  positif yang signifikan dari kedua skor tersebut, bersama-sama dengan  profil gejala yang sama. Dari 25 wanita menderita depresi pasca  persalinan (skor EPDS minggu keenam adalah 13), 17 memiliki gejala-gejala yang sama pada minggu pertama pasca persalinan (skor EPDS hari ketiga adalah 10) (Sari LS, 2009).

Studi Cox dan kawan-kawan mendapatkan bahwa usia rata-rata depresi pasca persalinan adalah 26 tahun, 75% menjalani kelahiran normal, 15% menjalani secsio sesarea dan 10% menjalani kelahiran

forcep. Sebagian besar sudah menikah (81%), sedangkan 13% memiliki mitra permanen. Hanya 6% yang merupakan orangtua tunggal. Prevalensi seumur hidup untuk depresi berat pada populasi umum adalah sekitar 10%, pada wanita sekitar 25%. Paling sedikit 10% dari wanita menderita gangguan mood yang berhubungan dengan periode postpartum. Sedangkan angka prevalensi depresi pasca persalinan bervariasi antara 1  permil sampai 15% dari angka ibu melahirkan tergantung berat ringannya gangguan mental yang menjadi objek penelitian. Penelitian lainnya mendapatkan prevalensi depresi pasca persalinan yang lebih tinggi, yaitu 23,3% - 36,7%. Depresi pasca persalinan terjadi pada sekitar 1 dari 10 wanita hamil dan biasanya tidak terdiagnosa (Sari LS, 2009).

8. Diagnosis Banding

Baby B lues Syndrome

a. Depresi Post Partum

b. Psikosis Post partum 9. Penatalaksanaan

 Baby blues syndrome  biasanya ringan dalam keparahan dan akan selesai secara spontan. Tidak ada pengobatan khusus diperlukan, selain dukungan dan  jaminan. Evaluasi lebih lanjut diperlukan jika gejala berlangsung lebih dari 2

minggu. (Gill, 2007). 10. Pencegahan

Terdapat beberapa cara dalam mencegah terjadinya baby blues syndrome yaitu : 1. Mintalah bantuan kepada orang lain (kerabat ataupun anggota keluarga

2. Perbanyak melakukan istirahat pasca melahirkan, terutama di minggu-minggu dan bulan pertama pasca melahirkan untuk mencegah terjadinya depresi dan memulihkan tenaga yang habis.

3. Hindari makanan dan minuman yang mengandung kafein karena makanan ini akan berpotensi memperburuk depresi.

4. Konsumsi makanan yang bernutrisi agar kondisi tubuh cepat pulih, sehat dan bugar.

5. Berbagi rasa dengan suami atau orang terdekat lainnya, karena dukungan dari keluarga akan membantu mengurangi depresi.

Agar baby blues syndrome dapat diminimalisir maka yang pertama harus dipersiapkan oleh sebuah keluarga yang akan menginginkan seorang anak adalah kehamilan yang terencana yang didukung oleh kesiapan mental, financial, dan sosial dari ayah dan ibu. Persiapkan pula pengetahuan dasar calon ayah dan calon ibu tentang kehamilan, proses melahirkan, sampai dengan cara merawat anak. (Joy, 2016).

BAB III PENUTUP

Ringkasan Baby blues syndrome atau sering disebut juga dengan istilah maternity blues atau post partum blues adalah gangguan emosi ringan yang  biasanya terjadi dalam kurun waktu 2 minggu atau 14 hari setelah ibu melahirkan. Banyak faktor yang bisa menyebabkan baby blue syndrome, yaitu : dari ibu, bayi yang di lahirkan dan lingkungan sekitar. Ketidakseimbangan hormonal, hormon thyroid, perubahan gaya hidup juga dilaporkan sebagai faktor yang menyebabkan  baby blue syndrome. Baby blues ditandai perasaan sedih, seperti menangis,  perasaan kesepian atu menolak bayi, cemas, bingung, lelah, merasa gagal dan

tidak bisa tidur. Baby blues relatif ringan dan biasanya berlangsung 2 minggu. Perbedaan dengan syndrome of postpartum distress adalah pada frekuensi, intensitas dan lamanya durasi gejala. Dalam postpartum depression, gejala yang lebih sering, lebih intens dan lebih lama. Seseorang terdiagnosis Baby Blues Syndrome apabila terlihat secara psikologis kejiwaannya seperti di bawah ini.

Perasaan cemas, khawatir ataupun was was yang berlebihan, sedih, murung, dan sering menangis tanpa ada sebab (tidak jelas penyebabnya). Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala dalam beberapa kasus sering migrain. Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus anak. Adanya  perasaan putus asa

Jika pasien mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi pasien mengalami Post partum Depression. Apabila gejala diatas tidak disadari dan lama kelamaan tekanan atau stres yang dirasakan semakin kuat atau semakin besar maka  penderita akan mengalami depresi pasca melahirkan yang berat.Meskipun

gejalanya cukup ringan bila dibandingkan dengan postpartum depression, bukan  berarti sindrom ini bisa di abaikan begitu saja. Penanganan yang bisa dilakukan

antara lain : istirahat yang cukup, berolahraga teratur, mengkonsumsi makanan yang bergizi, dan yang paling penting adalah melakukan relaksasi agar emosi tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA

Alfiben, 2000.  Efektifitas Peningkatan Dukungan Suami Dalam Menurunkan Terjadinya Depresi Postpartum: (Tesis) Program Pendidikan Dokter Spesialis I Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; Jakarta.

Elvira S. 2006. Depresi Pasca Persalinan. Balai Penerbit FKUI; Jakarta.

Fatimah, Sitti. 2009.  Hubungan Dukungan Suami dengan Kejadian Postpartum  Blues pada Ibu Primipara di Ruang Bugenvile RSUD Tugurejo Semarang: (Artikel Riset Keperawatan) Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas di Ponegoro; Semarang Gill, D. Hughes’ outline of Modern Psychiatry 5th ed. John Wiley and Sons, Ltd.

England. 2007. p. 222 –  5

Iskandar, Suhandi, Sugi, 2007.  Post Partum Blues. http://www.mitrakeluarga.net/kemayoran/kesehatan005.html (tanggal akses 4 Desember 2011)

Jofesson A dkk. 2002. Obstetric, Somatic, and Demographic Risk Factors for  Postpartum Depressive Symptoms; in the American College of

Obstetricians and Gynecologists.

Joy, S. Postpartum Depression. . http://www.eMedicine.com diakses pada bulan Mei 26 2016.

Kusmiyanti Margaretha dkk. 2004. Pengaruh Pendampingan Keluarga Selama  Proses Persalinan Terhadap Keberhasilan Persalinan di Pelayanan  Kesehatan X Tahun 2004. Pascasarjana Kekhususan Kesehatan

Reproduksi; FKM UI.

Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia, 2008. Vol.22. Nomor 2. Hlm 49-57; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo.

Marshall, Fiona. 2004. Depresi Pasca Melahirkan . Arcan; Jakarta. Marshall, Connie. 2000. Awal Menjadi Seorang Ibu. Arcan; Jakarta.

Mathai M, Sanghvi H, Guidotti RJ. 2000.  Normal Labour and Childbirth. In :  Manging Complication In pregnancy and Childbirth : A Guide For

Midwivwes and Doctor. World Health Organization.

Mayla, Freyja, 2007.  Baby Blues Syndrome.

 National Mental Health Association, 2003. Recognizing Postpartum Depression. http://www.nmha.org. (Diakses pada tanggal 17 Desember 2011)

 Norhana SW, 2005. Pendekatan Psychiatry Liaison pada Depresi Pasca Partus. Indonesian Psychiatric Quarterly ; XXVIII ;4:91-8.

Obstetri Fisiologi. 2003. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Badung.

Papayungan D, 2005. Pendekatan Consultation-Liaison Psychiatry  pada Penatalaksanaan Depresi Pasca Bersalin Indonesian Psychiatric

Quarterly ; 4 : 79-92.

Rianta, Trika. 2004.  Efektifitas Pendampingan Suami Pada Kala II Persalinan dan Kejadian Depresi Pasca Persalinan. (Skripsi) Program Pendidikan Dokter Spesialis I (PPDS I) Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar.

Reid V, Oliver MM, 2007.  Postpartum Depression in Adolescent Mot hers : An Integrative Review of the Literature. Journal of Pediatric Health Care ; 21 : 289-98.

Saifuddin AB, Adriaans G, Wiknojosastro GH, Waspodo D. 2000.  Persalinan  Normal. Dalam : Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal., Cetakan ke-2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta.

Sari LS, 2009. Sindroma Depresi Pasca Persalinan Di Rumah Sakit Umum Pusat  Haji Adam Malik Medan. (Tesis) Bidang Ilmu Kedokteran Jiwa pada

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Medan.

Syahrir S, 2008.  Faktor Risiko Baby Blues di Rumah sakit Bersalin Pertiwi  Propinsi Sulwasesi Selatan Tahun 2007.(Skripsi) Program Studi Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Makassar.

Wisner KL, Parry BL, Piontek CM. 2002. Postpartum Deoression.  N Engl J Med ; 347 : 194 -99.

Wicaksono, Aries. 2007. Cara Mengatasi Baby Blues Syndrome.

http://www.liputan6.com/kesehatan/denpasar (tanggal akses, 16 Desember 2011) Wiknojosastro H, 1996. Fisiologi dan Meaknisme Persalinan Normal. Dalam :

Ilmu Kebidanan. Cetakan Ke-4. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; Jakarta.

Dalam dokumen Refrat Baby Blues (Halaman 21-37)

Dokumen terkait