POLIP ENDOMETRIUM
E. Faktor Risiko
Dalam Jeffcoates Principles of Gynecology, ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi terjadinya mioma uteri, yaitu:3,5
1. Umur
Proporsi mioma meningkat pada usia 35-45 tahun.19 Penelitian Chao-Ru Chen (2001) di New York menemukan wanita kulit putih umur 40-44 tahun beresiko 6,3 kali menderita mioma uteri dibandingkan umur < 30 tahun (OR =6,3; 95% CI:3,5-11,6). Sedangkan pada wanita kulit hitam umur 40-44 tahun beresiko 27,5 kali untuk menderita mioma uteri jika dibandingkan umur < 30 tahun (OR=27,5; 95% CI:5,6-83,6).
2. Paritas
Lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang relative infertile, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang menyebabkan infertilitas, atau apakah keadaan ini saling mempengaruhi.Penelitian Okezie di Nigeria terhadap 190 kasus mioma uteri, 128 (67,3%) adalah nullipara. Penelitian yang dilakukan di Nigeria
terhadap wanita dengan usia rata 44,9 tahun, 40,8 % nullipara dan 35% melahirkan 1-2 kali. Demikian juga dengan hasil penelitian Buttrum memperoleh dari 1.698 kasus mioma uteri, 27% diantaranya infertile dan 31% melahirkan 1-2 kali.
3. Faktor Ras dan Genetik
Pada wanita tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri lebih tinggi.Penelitian Baird di Amerika yang dilakukan terhadap wanita kulit hitam dan wanita kulit putih menemukan bahwa wanita kulit hitam beresiko 2,9 kali menderita mioma uteri (OR=2,9; 95%CI:2,5-3,4). Terlepas dari faktor ras, kejadian mioma juga tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma uteri.
F. Diagnosis
Keluhan yang diakibatkan oleh mioma uteri sangat tergantung pada lokasi, arah pertumbuhan, jenis, besar dan jumlah mioma. Hanya dijumpai pada 20 – 50 % saja mioma uteri menimbulkan keluhan, sedangkan sisanya tidak mengeluh apapun. Hipermenoroe, menometroragia adalah merupakan gejala klasik dari gejala mioma uteri. Dari penelitian multisenter yang dilakukan pada 114 pasien ditemukan 44% gejala perdarahan, yang paling sering adalah jenis mioma submukosa, sekitar 65 % wanita dengan mioma mengeluh dismeneroe, nyeri perut bagian bawah, serta nyeri pinggang. Tergantung dari lokasi dan arah pertumbuhan mioma, maka kandung kemih, ureter dan usus dapat terganggu, dimana peneliti melaporkan keluhan disuri ( 14 % ), keluhan obstipasi (13 % ). Mioma uteri sebagai penyebab infertilitas hanya dijumpai pada 2 – 10 % kasus. Infertilitas terjadi sebagai akibat obstruksi mekanis dari tuba fallopi. Abortus spontan dapat terjadi bila mioma menghalangi pembesaran uterus, dimana menyebabkan kontraksi uterus yang abnormal, dan mencegah terlepas atau tertahannya uterus didalam panggul.6
1. Pemeriksaan fisik
Mioma uteri mudah ditemukan melalui pemeriksaan bimanual rutin uterus. Diagnosis mioma uteri menjadi jelas bila dijumpai
gangguan kontur uterus oleh satu atau lebih massa yang licin, tetapi sering sulit untuk memastikan bahwa massa seperti ini adalah bagian dari uterus.
2. Temuan laboratorium
Anemia merupakan akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan eritropoetin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Adanya hubungan antara polisitemia dengan penyakit ginjal diduga akibat penekanan mioma terhadap ureter yang menyebabkan peninggian tekanan balik ureter dan kemudian menginduksi pembentukan eritropoetin ginjal.
3. Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi transabdominal dan transvaginal bermanfaat dalam menetapkan adanya mioma uteri. Ultrasonografi transvaginal terutama bermanfaat pada uterus yng kecil. Uterus atau massa yang paling besar paling baik diobservasi melalui ultrasonografi transabdominal. Mioma uteri secara khas menghasilkan gambaran ultrasonografi yang mendemonstrasikan irregularitas kontur maupun pembesaran uterus. Daftar Referensi
1. Manuaba, I.B.G. Kapita Selecta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB. Jakarta. Penerbit EGC. 2001
2. Wiknjosastro, H., Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 1999.
3. Nishizawa et al., Incidence and Characteristics of uterine leimyomas with FDG uptake. Ann Nucl Med Volume 22, No.9, November 2008, Japan. 4. Selo-Ojeme . The incidence of uterine leiomyoma and other pelvic
ultrasonographic finding in 2.034 conseclutive women in a north London hospital. J Gynecology Obstetric Biologic Reproduction, Volume 28, No.4 May 2008, London.
5. Chen Chao-Ru et al., Risk factors for uterine fibroids among women undergoing tubal sterilization. American journal of epidemiology, Volume 153, No.1. 2001. New York.
6. Baziad A. Pengobatan medikamentosa mioma uteri dengan analog GnRH. Dalam : Endokrinologi ginekologi edisi kedua. Jakarta : Media Aesculapius FKUI, 2003:; 151 - 156
LEIOMIOMA (2)
Oleh: Woris Christoper / I11112056
G. Tatalaksana:
Penatalaksanaan Medis Mioma Uteri meliputi:1 1. Pengobatan Konservatif
Saat ini pemakaian Gonadotropin releasing hormon agonist (GnRHa) memberikan hasil untuk memperbaiki gejala-gejala klinis yang ditimbulkan oleh mioma uteri. Pemberian GnRH agonis bertujuan untuk mengurangi ukuran mioma dengan jalan mengurangi produksi estrogen dari ovarium. Pemberian GnRH agonis selama 16 minggu pada mioma uteri menghasilkan degenerasi hialin di miometrium hingga uterus menjadi lebih kecil, akantetapi setelah pemberian GnRH agonis dihentikan mioma yang lisut akan tumbuh kembali di bawah pengaruh estrogen oleh karena mioma tersebut masih mengandung reseptor estrogen dalam konsentrasi yang tinggi.
2. Pengobatan Operatif
a. Miomektomi. Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan uterus, misalnya mioma submukosum pada mioma geburt dengan cara ekstirpasi lewat vagina.
Miomektomidilaksanakan karena keinginan untuk mempertahankan fungsi reproduksinya, maka kemungkinan akan terjadi kehamilan adalah 30-50%. Perlu disadari 25-35% dari penderita tersebut akan masih memerlukan histerektomi karena mioma uteri dapat timbul kembali.
b. Histerektomi. Histerektomi adalah operasi pengangkatan uterus. Histerektomi dapat dilaksanakan per abdominam atau per vaginam, adanya prolapsus uteri akan mempermudah prosedur pembedahan. Histerektomi total umumnya dilakukan dengan alasan mencegah akan timbulnya karsinoma servisis uteri. Histerektomi supravaginalhanya dilakukan apabila terdapat kesukaran teknis dalam mengangkat uterus keseluruhannya
H. Pencegahan2
1. Pencegahan Primer. Pencegahan primer merupakan awal pencegahan sebelum seseorang menderita mioma. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan pendekatan komunitas yaitu berupa pendidikan kesehatan mengenai mioma uteri, sehingga masyarakat mengetahui tentang gejala-gejala mioma uteri dan diharapkan masyarakat akan segera mencari pengobatan atau konsultasi dengan pihak terkait jika mengalami gejala seperti mioma uteri sehingga upayadeteksi dini dan pengobatan penyakit dapat ditegakkan. Selain itu upaya promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang faktor risiko mioma uteri juga dapat dilakukan, khususnya tentang pemilihan diet/makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah serta mengurangi konsumsi makanan rendah serat (daging).
2. Pencegahan Sekunder. Pencegahan sekunder ditujukan untuk orang yang telah terkena mioma uteri, tindakan ini bertujuan untuk menghindarkan terjadinya komplikasi. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan diagnosa dini dan pengobatan yang tepat.
I. Prognosis
Histerektomi dengan mengangkat seluruh mioma adalah kuratif. Myomectomi yang extensif dan secara significant melibatkan miometrium atau menembus endometrium, maka diharuskan SC (Sectio caesaria) pada persalinan berikutnya. Myoma yang kambuh kembali (rekurens) setelah myomektomi terjadi pada 15-40% pasien dan ⅔ nya memerlukan tindakan lebih lanjut.
J. Klasifikasi2
Mioma uteri dapat terjadi dimana saja di dalam uterus, mioma biasanya dapat tumbuh lebih dari satu (multipel) dan dapat juga tumbuh tunggal. Berdasarkan letaknya mioma uteri diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Mioma Submukosum
Mioma yang berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus. Mioma jenis ini walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myomageburt).
2. Mioma Intramural
Mioma intrmural disebut juga sebagai mioma intrepitelial, biasanya multipel. Tumor jenis ini terdapat didinding uterus di antaraserabut miometrium, dan sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut sebelah bawah.
Lokasi tumor di subserosa korpus uteri,dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Mioma dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intra ligamenter, selain itu mioma ini dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain, misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari uterus sehingga disebut wandering/parasistic fibroid.