MAKALAH PATOLOGI ANATOMI KELAINAN KORPUS UTERI
MODUL REPRODUKSI
KELOMPOK DISKUSI 3
1 Ferdiansyah I11108079
2 Dina Fitri Wijayanti I11112007
3 Furqan Rachman I11112010
4 Dodi Novriady I11112014
5 Ivo Afiani I11112017
6 Siska I11112019
7 Adela Brillian I11112020
8 Dwi Lestiana Putri I11112034 9 Woris Christoper I11112056 10 Anatria Amyrra Iqlima I11112078
11 Ridhallah I11112079
12 Reni Marsilia I11112080
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2014 ENDOMETRITIS
Oleh: Dina Fitri Wijayanti / I11112007 A. Definisi
Endometritis adalah infeksi dari endometrium uterus yang dikelompokkan dibawah klasifikasi umum PID (Pelvic Inflammatory Disease), bersama dengan salpingitis, abses tuba-ovariaum dan pelvic peritonitis. Endometritis digunakan untuk menunjukkan infeksi ascending dalam uterus.1
B. Etiologi
Infeksi berkaitan dengan kejadian endometritis post partum maupun endometrium tidak terkait kehamilan. Endometritis post partum merupakan infeksi polimikroba yang biasanya melibatkan dua atau tiga organisme berbeda yang dihasilkan dari naiknya flora normal vagina atau flora normal gastrointestinal dari saluran genitalia bawah ke dalam cavum uteri selama kelahiran.2,3
Terdapat beberapa bakteri yang dapat menyebabkan infeksi yang menghasilkan endometritis (Tabel 1). Pathogen yang berkaitan dengan Bacterial Vaginosis (BV) juga ditemukan menjadi agen penyebab terjadinya endometritis dimana banyak wanita yang mengalami PID juga mengalami BV positif.4,5
C. Manifestasi Klinis
Endometritis memiliki gejala berupa keputihan atau perdarahan vagina abnormal, nyeri pelvis, malaise, episode PID sebelumnya, didahului oleh infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrhoeae, dan ditemukannya bakteri di dalam cavum uteri.6
Selain itu, pada endometritis post partum gejala muncul setelah persalinan, keputihan yang berbau busuk setelah persalinan, dan ditemukan bakteri di cavum uteri. Kemudian juga terdapat jenis endometritis akut dan kronik. Yang membedakannya adalah pada endometritis akut ditemukan neutrofil pada sediaan basah dan demam. Sedangkan pada endometritis kronik ditemukan limfosit pada sediaan basah.7
D. Epidemiologi
Cara persalinan mempengaruhi kemungkinan terjadinya endometritis. Persalinan pervaginam memiliki kemungkinan 1-3%, persalinan cesar terjadwal 5-15%, dan persalinan cesar tidak terjadwal sekitar 15-90%. Hal ini
perlu diperhatikan mengingat jumlah persalinan cesar tiap tahunnya meningkat dan terhitung sekitar 30% dari total kelahiran pada 2008.3,8
E. Patofisiologi
Infeksi endometrium, atau desidua, biasanya diakibatkan oleh infeksi ascendant dari saluran genital bawah. Berdasarkan sudut pandang patologi, endometritis dapat diklasifikasikan menjadi akut dan kronik. Pada endometritis akut, terdapat neutrofil di kelenjar endometrium. Sedangkan pada endometritis kronik terdapat sel plasma dan limfosit pada stroma endometrium.9
Pada wanita yang tidak hamil, PID dan prosedur pemeriksaan ginekologi invasif merupakan precursor endometritis akut. Pada wanita hamil, infeksi post partum merupakan precursor yang umum. 9
Endometritis kronik pada wanita hamil biasanya dihubungkan dengan tertinggalnya produk konsepsi setelah melahirkan atau abortus. Pada wanita tidak hamil, endometritis kronik dikaitkan dengan infeksi (misalnya Chlamydia, tuberculosis, bacterial vaginosis) dan keberadaan alat kontrasepsi dalam rahim. 9
F. Faktor Resiko
Wanita memiliki flora normal yang ada di vagina. Risiko endometritis meningkat ketika terjadi perubahan keseimbangan flora normal tersebut. Biasanya terjadi setelah kejadian berikut ini:
a. Abortus
b. Persalinan yang lama maupun dengan sectio cesaria
c. Prosedur medis yang invasive: histeroskopi, pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim, kuretase.
Usia, suku, kontrasepsi oral, kondom atau hubungan seksual selama menstruasi tidak berhubungan dengan kejadian endometritis.10
G. Diagnosis
Diagnosis endometritis sulit ditegakkan akibat gejala yang membingungkan atau tidak spesifik, mempertimbangkan riwayat kesehatan pasien dan gaya hidup saat ini. Kombinasi pemeriksaan fisik dan metode
pemeriksaan non-infasif digunakan untuk memilah kelainan dengan gejala yang sama.
Pemeriksaan pelvis dapat menunjukkan keputihan dari vagina maupun serviks dan adanya nyeri pada serviks, adneksa serta uterus merupakan hal yang tidak spesifik, untuk itu penting dilakukan pengambilan sediaan basah, kultur darah dan swab vagina untuk mengidentifikasi pathogen yang terkait. Urinalisis dan kultur urin dapat juga dilakukan sebagai diagnosis banding untuk menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi saluran kemih. CDC merekomendasikan biopsy endometrium untuk evaluasi histopatologi dalam penegakkan diagnosis endometritis.1
H. Tatalaksana
Antibiotik oral dan parenteral merupakan bentuk utama penatalaksanaan baik PID maupun endometritis. Akibat infeksi polimikroba, direkomendasikan untuk menggunakan antibitik spectrum luas yang mampu melawan bakteri gram positif dan negative. Penambahan metronidazole juga diharapkan dapat membantu dalam kasus endometritisyang berhubungan dengan BV.1
Respon klinis akibat terapi dan penurunan gejala harus terlihat dalam 72jam pertama setelah dimulainya terapi antibitik. Apabila kondisi tidak membaik, diagnosis harus dikonfirmasi dan pasien mulai diterapi secara parenteral.1
I. Prognosis
Sekitar 90% wanita yang diterapi dengan baik mencapai perbaikan keadaan dalam waktu 48-72 jam. Keterlambatan pemberian terapi antibiotic dapat berakibat pada toksisitas sistemik. Endometritis juga dikaitkan dengan peningkatan kematian ibu akibat syok sepsis. Namun di Amerika, angka kematian cukup jarang karena manajemen pemberian antimikroba yang ketat.11
Daftar Referensi
1. Centers for Disease Control and Prevention. Sexually Transmitted Disease Treatment Guidelines, 2010. MMWR. 2010; 59(RR-12):63-7.
2. Chandran L, Puccio JA. Endometritis. 2008. Dalam: Medical Diagnostic Laboratories. Endometritis. Diakses 2014 Nov. tersedia dari: http://www.mdlab.com/pdf/test_bulletins/endometritis
3. Simmons GT. Endometritis. 2010. Dalam: Medical Diagnostic Laboratories. Endometritis. Diakses 2014 Nov. tersedia dari: http://www.mdlab.com/pdf/test_bulletins/endometritis
4. Ness RB, Hillier SL, Kip KE, et al. Bacterial Vaginosis and Risk Of Pelvic Inflammatory Disease. Obstet Gynecol. 104:1-9.
5. Ness RB, Kip KE, Hillier SE, et al. A Cluster Analysis of Bacterial Vaginosis-Associated Microflora And Pelvic Inflammatory Disease. Am J Epidemiol. 162:585-90.
6. Chen KT. Endometritis Unrelated to Pregnancy. 2011. Dalam: Medical Diagnostic Laboratories. Endometritis. Diakses 2014 Nov. tersedia dari: http://www.mdlab.com/pdf/test_bulletins/endometritis
7. Hagerty CL, Smith M, Bocklage T. Chronic Endometritis Revisited: A Review Of The Pathology And Clinical Findings. 2011. Dalam: Medical Diagnostic Laboratories. Endometritis. Diakses 2014 Nov. tersedia dari: http://www.mdlab.com/pdf/test_bulletins/endometritis
8. Centers for Disease Control and Prevention, Division of Vital Statistics. Births: Final data For 2008. Diakses 2014 Nov. tersedia dari: . http://www.cdc.gov/nchs/data/nvsr/ nvsr59/nvsr59_01.pdf.
9. Rivlin ME. Endometritis [internet]. 2014 [update 2014 Sep; disitasi 2014 Nov]. tersedia dari: http://emedicine.medscape.com/article/254169-overview#a0104
10. Ross JDC. Editorial: What Is Endometritis And Does It Require Treatment?. Sexually Transmitted Infections. 2004; 80(4):252-3. Doi: 10.1136/sti.2004.009548
11. Ness RB, Soper DE, Holley RL, Peipert J, Randall H, Sweet RL, et al. Douching and endometritis: results from the PID evaluation and clinical health (PEACH) study. Sex Transm Dis. Apr 2001;28(4):240-5
ENDOMETRIOSIS
Oleh: Ivo Afiani, Ridhallah / I11112017, I11112079 A. Definisi
Radang yang terkait dengan hormone estradiol atau estrogen berupa pertumbuhan jaringan yang mirip dengan endometrium, di luar cavum uteri:1
a. Sekitar pelvis minor b. Luka dari bekas :
Episiotomy Seksio cesarea Umbilicus Kantong hernia
c. Dalam jaringan otot rahim d. Penyebaran jauh, paru, dan lever. B. Teori kejadian
a. Regurgitasi menurut Sampson
b. Metaplasia geitoblas menurut Meyer de Snoo c. Aliran darah
d. Teori Iatrogenik
C. Insidensi dan Epidemiologi
Endometriosis sering ditemukan pada wanita remaja dan usia reproduksi dari seluruh etnis dan kelompok masyarakat. Walaupun tidak tertutup kemungkinan ditemukannya pada wanita perimenopause, menopause dan pascamenopause.1
Endometriosis diperkirakan terjadi pada 10 – 15 % wanita subur yang berusia 25-44 tahun, 25 – 50% wanita mandul.Insidensi endometriosis di amerika 6-10% dari wanita usi reproduksi. Di Indonesia sendiri, insidensi pasti dari endometriosis belum diketahui.1
D. Klasifikasi
Sistem klasifikasi untuk endometriosis pertama kali dibuat oleh American
Fertility Society (AFS) pada tahun 1979, yang kemudian berubah nama menjadi ASRM pada tahun 1996, klasifikasi ini kemudian direvisi oleh AFS tahun 1985. Revisi ini memungkinakan pandangan tiga dimensi dari endometriosis dan membedakan antara penyakit superfisial dan invasif.Sayangnya, penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kedua klasifikasi ini tidak memberikan informasi prognostik.
Pada tahun 1996, dalam usaha untuk menemukan hubungan lebih lanjut penemuan secara operasi dengan keluaran klinis, ASRM lalu merevisi sistem
klasifikasinya, yang dikenal dengan sistem skoring revised-AFS (r-AFS).
Dalam sistem ini dibagi menjadi empat derajat keparahan, yakni: 1. Stadium I (minimal) : 1-5
2. Stadium II (ringan) : 6-15 3. Stadium III (sedang) : 16-40
4. Stadium IV (berat) : >40
Walaupun tidak ada perubahan staging dari klasifikasi tahun 1985, sistem klasifikasi tahun 1996 memberikan deskripsi morfologi lesi endometriosis, yakni putih, merah, dan hitam. Modifikasi ini didasarkan dari beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa terjadi beberapa aktivitas biokimia di dalam implan dan mungkin prognosis penyakit dapat diprediksi melalui morfologi implan.2
Klasifikasi Endometriosis menurut ASRM, revisi 1996
Menurut ASRM, Endometriosis dapat diklasifikasikan kedalam 4 derajat keparahan tergantung pada lokasi, luas, kedalaman implantasi dari sel endometriosis, adanya perlengketan, dan ukuran dari endometrioma ovarium.3
Klasifikasi Endometriosis menurut ASRM
Klasifikasi Enzian score dapat juga digunakan sebagai instrumen untuk mengklasifikasikan endometriosis dengan infiltrasi dalam, terutama difokuskan pada endometriosis bagian retroperitoneal yang berat. Pada penelitian ini, didapatkan 58 pasien yang menurut Enzian Score diklasifikasikan sebagai endometriosis dengan infiltrasi dalam, namun pada AFS revisi tidak didiagnosis demikian.4
Klasifikasi Endometriosis Enzian Score E. Gejala klinis
Gejala klinis dari endometriosis meliputi dysmenorea, dyspareunia, dyschezia dan atau infertilitas. Menurut penelitian kasus control di Amerika Serikat, gejala seperti nyeri abdomen, dysmenorrhea, menorrhagia, dan dyspareunia mempunyai hubungan dengan endometriosis. Sebanyak 83% wanita dengan endometriosis mengeluhkan salah satu atau lebih gejala tersebut, sedangkan hanya 29% wanita tanpa endometriosis yang mengeluhkan gejala tersebut.3
Gejala klinik pasien endometriosis5
Gejala Persentase
Nyeri pelvik kronik 57
Dispareunia dalam 55
Keluhan intestinal siklik 48
Infertilitas 40
Gejala Umum1
a. Nyeri yang hebat dibagian perut dan sekitar panggul yang terjadi sebelum atau awal dari siklus haid
b. Nyeri sendi kalau ditekan (fbromyalgia) c. Sakit sewaktu melakukan hubungan intim
d. Kasus lain, perdarahan dari anus sewaktu buang air besar e. Gangguan pra-haid dan perdarahan pada rahim
f. Terjadi rasa sakit saat buang air kecil. F. Pembagian Klinik
a. Ringan1
Tersebar multifokus
Tidak dijumpai pada ovarium
Tidak terdapat perlekatan tuba dan ovarium b. Sedang1
Terdapat implantasi pada satu/ dua ovarium Perlekatan minimal periovarial
Implantasi sekitar CD atau dinding depan uterus Tanpa perlekatan pada sigmoid-rektum
c. Berat1
Implantasi pada ovarium dengan 2 cm/ lebih Perlekatan sekitar ovarium
Obstruksi pada tuba CD terdapat perlekatan
Implantasi endometriosis sekitar ligamentum uterosakralis Implantasi pada usus dan trakus urinarius
G. Diagnosis
a. Diagnosis Klinis1 Anamnesis
Keluhan utamanya adalah nyeri.Nyeri pelvic kronis yang disertai infertilitas juga merupakn masalah klinis utama dati endometriosis. Endometrium pada organ tertentu akan menimbulkan efek yang sesuai dengan fungsi organ tersebut, sehingga lokasi penyakit dapat juga diketahui.
Riwayat dalam keluarga sangat penting untuk ditanyakan karena penyakit ini bersifat diwariskan.
Pemeriksaan Fisik Umum
Jarang dilakukan kecuali penderita menunjukkan adanya gejala fokal siklik pada daerah organ non ginekology.Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui penyebab nyeri yang letaknya kurang tegas di dalam. Endometrioma pada parut pembedahan dapat berupa pembengkakan yang nyeri dan lunak fokal dapat menyerupai lesi lain seperti granuloma, abses dan hematom.
Pemeriksaan fisik pada endometriosis dimulai dengan melakukan inspeksi pada vagina menggunakan spekulum, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan bimanual dan palpasi rektovagina.Pemeriksaan bimanual dapat menilai ukuran, posisi dan mobilitas dari uterus.Pemeriksaan rektovagina diperlukan untuk mempalpasi ligamentum sakrouterina dan septum rektovagina untuk mencari ada atau tidaknya nodul endometriosis. Pemeriksaan saat haid dapat meningkatkan peluang mendeteksi nodul endometriosis dan juga menilai nyeri.6
Menurut penelitian histologi pada 98 pasien dengan endometriosis di retro-sigmoid dan retro-serviks, pemeriksaan dalam memiiki sensitivitas 72% dan 68% secara berurutan, spesifitas 54% dan 46%, nilai prediktif positif 63% dan 45%, nilai prediktif negatif 64% dan 69%, dan akurasi 63% dan 55%.7
b. Diagnosis Pencitraan
Pencitraan berguna untuk memeriksa penderita endometriosis terutama bila dijumpai massa pelvis atau adnexa seperti endometrioma. USG-TA, USG-TV atau USG TR, CT Scan dan pencitraan resonansi magnetic telah digunakan secar nir-invasif untuk mengenali implant endomtriosis yag besar dan endomtrioma. Tetapi hal ini tidak dapat menilai luas endometriosis.1
Merupakan baku emas yang harus dilakukan untuk menegakkan diagnoss endometriosis, dnegan pemeriksaan yang visualisasi langsung ke rongga abdomen,yang mana pada banyak kasus sering dijumpai jaringan endometriosis tanpa adanya gejala klinis.1 Penampakan klasisk dapat berupa jelaga biru-hitam dengan keragaman derajat pigmentasi dan fibrosis disekelilingnya. Warna hitam disebabkan timbunan hemosiderin dari serpihan haid yang terperangat, kebanyakan invasi ke peritoneum berupa lesi-lesi atipikal tak berpigmen berwarna merh atau putih.1
Diagnosis endometriosis secara visual pada laparoskopi tidak selalu sesuai dengan pemastian histipatologi meski penderitanya mengalami nyeri pelvic kronik. Endometiosis yang didapay dari laparoskopi sebesar 36%, ternyata secara histopatologi hanya terbukti 18% dari pemeriksaan histopatologi.1
H. Penanggulangan
Penanggulangan endometriosis sebaiknya tidak hanya berpusat pada organ reproduksi dan daerah pelvis, tetapi lebih bersifat menyeluruh.
a. Edukasi
Sudah waktunya pengertian tentang endometriosis dijelaskan pada masyarakat umum sebagaimana yang dilakukan pada keluarga berencana. Keluhan nyeri berhubungan dengan haid yang perlu diperhatikan: sifat nyeri yang terasa tajam, seperti terbakar, disertai kejang perut bagian bawah. Nyeri haid bisa sedemikian hebatnya sehingga memaksa perempuan tersebut tidak masuk sekolah atau tidak bekerja.Perempuan dengan nyeri haid, kemudian menikah dan tidak dikaruniai keturunan dalam waktu yang lama, sebaiknya segera berkonsultasi kepada dokter untuk penanganan selanjutnya. Endometriosis bukan penyakit menular, tidak dapat ditularkan kepada orang lain, tidak pula bisa ditularkan pada saat bersanggama.8
b. Peran serta keluarga, teman dekat dan masyarakat
Setidaknya diperlukan 4 kriteria hubungan penderita endometriosis dengan orang lain:9
Sesama penderita paling tepat untuk saling memberi kekuatan karena mereka dapat saling berbagi pengalaman.Pada negara yang sudah maju dibentuk perkumpulan perempuan penderita endometriosis.
2. Keluarga
Keluarga sangat diperlukan untuk memberi simpati dan empati pada diri perempuan endometriosis diperlukan dukungan dari mereka dalam berjuang melawan keluhan ini.
3. Suami atau pasangannya
Mereka dituntut untuk ikut mengerti tentang penyakit endometriosis agar supaya ikut memahami keluhan yang dideritanya.Perempuan endometriosis ingin agar supaya dirinya tidak dihakimi senantiasa atau dipersalahkan selalu.Pada perempuan endometriosis disertai dyspareunia sangat meminta pengertian dari pihak suami untuk secara berhati-hati pada waktu bersanggama.
4. Pusat pemeliharaan kesehatan
Tempat ini merupakan satu-satunya wadah yang bisa dimanfaatkan oleh perempuan endometriosis untuk mengemukakan berbagai macam permasalahannya.Mereka yang bertugas di dalam wadah ini harus bisa menjadi pendengar yang baik, mempercayai seluruh keluhan dan memberi edukasi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan endometriosis.
c. Medikamentosa
Hormon steroid ovarium (estrogen) menjadi pencetus pertumbuhan endometriosis.Penggunaan semua sediaan obat (khususnya hormonal) untuk endometriosis hanya mempunyai kemampuan menekan dan bukan menyembuhkan penyakit. Hingga kini belum ada cara pengobatan yang mampu menyelesaikan seluruh permasalahan endometriosis dalam bentuk meniadakan secara total penyakit ini. Pengangkatan rahim disertai indung telur (histerektomi dan ooforektomi) yang merupakan senjata pamungkas ternyata tetap tidak akan menyelesaikan permasalahannya. Susukan endometriosis yang berada di luar uterus (ekstrauterin) yang tidak ikut terangkat saat
operasi masih bereaksi dengan estrogen yang dihasilkan oleh adrenal dan oleh jaringan perifer dari androgen yang berasal dari adrenal.10
Pemberian medika mentosa harus berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan macam obat, dosis, lama pemakaian.
1. Obat anti inflamasi non-steroid (non-steroidal anti inflammatory drugs/NSAIDs)
Obat ini sangat efektif untuk mengurangi keluhan nyeri pada endometriosis. Obat ini mempunyai efek sampingan berupa ulkus petikum dan anti ovulasi bila diminum pada pertengahan siklus haid.11
2. Kontrasepsi Oral
Bekerja menekan fungsi indung telur, guna mengurangi keluhan nyeri pada endometriosis dipakai selama 6 bulan. Pengaruh sampingan kontrasepsi oral adalah peningkatan berat badan yang lebih sering dijumpai pada pemakaian malar ketimbang siklik.11
3. Danazol
Danazol lebih jarang dipergunakan karena pengaruh sampingan androgenik, selain itu juga terjadi retensi cairan sehingga penggunaannya harus berhati-hati pada penderita dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung atau gangguan fungsi ginjal. Juga terjadi peningkatan kadar kolesterol dan penurunan HDL. Amenorea yang ditimbulkan menghalangi pelimpahan serpihan endometrium dari rongga rahim ke rongga peritoneum.12
4. Medroksiprogesteron asetat (MPA)
Progestin yang paling umum dipakai untuk pengobatan endometriosis adalah Medroksiprogesteron asetat (MPA).Ada dua jenis diberikan secara oral atau dalam wujud suntikan.Keduanya cukup efektif untuk pengobatan endometriosis. Pemberian obat ini menimbulkan efek samping berupa perdarahan bercak yang akan hilang bila dikombinasi dengan estrogen selama 7 hari. Depresi dapat pula terjadi pada pemakaian obat ini, dapat timbul jerawat, retensi cairan, sakit kepala, kram otot, perubahan lipid (LDH naik, HDL turun). Pemberian minimal selama 6 bulan secara malar akan
menghasilkan anovulasi dan menyebabkan hamil semu pada dosis besar, tujuannnya untuk menghambat haid.12
5. Agonis GnRH
Dewasa ini pemakaian agonis GnRH merupakan pengobatan endometriosis yang paling populer. Pengaruh sampingan terburuk pada pemakaian agonis GnRH adalah osteroporosis karena kekurangan estrogen dan biasanya ditambahkan kembali (add-back) sediaan estrogen-progesteron oral atau bifosfonat untuk mengurangi pengaruh osteoporosis tersebut. Pemberian agonis GnRH jangka panjang secara intranasal atau subkutan pada pengobatan endometriosis dapat menimbulkan keadaan pseudo menopause. Efek samping pemberian agonis GnRH berupa hot flashes, gangguan tidur, vagina kering, nyeri sendi, perdarahan bercak, sakit kepala, suasana hati mudah berubah, keropos tulang, dan perubahan lipid (LDH naik, HDL turun).11,12
6. Penghambat aromatase (aromatase inhibitor)
Jaringan dan kista endometriosis dapat membentuk estrogendengan sendirinya dari androgen adrenal.Dengan demikiansarang-sarang endometriosis memperoleh kemandiriandari estrogen yang beredar. Penghambat aromatase lebihbersifat menyeluruh untuk penanganan endometriosis jikadibandingkan obat-obat yang lain.
7. Operatif
Teknik pembedahan yang dianjurkan adalah dengan teknik laparoskopi dengan membuang susukan endometriosis mengangkat kista dan memulihkan anatomi pelvik yang normal.Pada penderita yang muda ataupun gadis dihindarkan melakukan tindakan operatif. Operasi dapat dilakukan dengan cara operasi konservatif, semi konservatif atau radikal. Sesudah pembedahan konservatif sebaiknya diberikan obatobatan seperti kontrasepsi oral, progestin, danazol, agonis GnRH dan obat-obatan ini diberikan selama 6 bulan.12
Penanganan dismenorea dapat dilakukan dengan jalan operatif, melakukan reseksi ligamentum sakrouterina atau luna (laparoscopic uterosacral nerve ablation).13
8. Pendekatan Alternatif dan Natural
Pendekatan alternatif dan natural dititikberatkan pada aspek kesehatan dari sudut pandang mental, emosi dan spiritual.Pengobatan natural cukup bermanfaat bagi pasien endometriosis karena pasien dipandang sebagai pribadi yang utuh, ketimbang hanya terbatas pada kelainan perut bagian bawah.14 a. Akupuntur
Pengobatan tradisional Cina (Traditional Chinese Medicine/ TCM) yang sudah berusia ribuan tahun, dan sejak 1970 mulai dikembangkan dunia barat.Tujuan akupuntur memberi energi keseluruh tubuh, dan memperbaiki aliran darah, menghilangkan penyumbatan darah dan membersihkan darah.Hasil pengobatan ini terjadi perbaikan keseimbangan sistem di dalam tubuh sehingga keluhan nyeri berkurang sampai menghilang (Pat Haines, 2000). Pengobatan akupuntur pada penderita endometriosis menunjukkan hasil yang berbeda diantara endometriosisringan (97,8%), sedang (83,2%) dan berat (63,6%).15
b. Herbalisme Cina (Chinese Herb)
Pengobatan ini mempergunakan tanaman yang mengandung obat-obatan baik internal maupun eksternal.Tujuan pengobatan ini untuk memulihkan kesehatan penderita. Tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat akan membantu meningkatkan daya penyembuhan dari tubuh sendiri. Pengobatan ini memperbaiki kadar hormon di dalam tubuh dan meningkatkan sistem imunitas tubuh, sehingga dapat menghilangkan penyakit. Untuk meningkatkan keberhasilan akupuntur diberikan bersama dengan herbalisme Cina.16
c. Homeopati
Pengobatan homeopati (Homeophaty) mempergunakan bahan campuran alami (tumbuh-tumbuhan, hewan dan
mineral).Bahan campuran ini memacu daya tahan tubuh untuk melawan penyakit dan menghilangkan gejala.
d. Naturopati
Pengobatan naturopati (Naturophaty) bersifat menyeluruh menyangkut perikehidupan perempuan. Dalam pengobatan ini akan diberikan diet, cara hidup sehat, herbal yang dapat menyeimbangkan hormon terutama hormon yang dapat mengurangi atau meniadakan nyeri, dan membuang segala bentuk racun dari dalam tubuh.
e. Aromaterapi
Pengobatan aroma (Aromatherapy) memanfaatkan aroma alami dari tanaman dengan minyak hasil ekstrak dari benih bunga, kulit kayu, daun-daunan dan bunga.Pada umumnya minyak tersebut dipergunakan untuk memijat tubuh dan mengoles kulit. Bahan utama dari minyak tersebut akan diresobsi dan diedarkan keseluruh tubuh. Hasil dari pengobatan ini meningkatkan sistem imunitas memperbaiki sistem reproduksi dan menyeimbangkan hormon di dalam tubuh, dan pada akhirnya akan menyembuhkan penyakit.
9. Diet dan Nutrisi
Penanganan endometriosis selain obat-obatan juga sebaiknya pola makan diperhatikan karena hal ini sangat membantu kesembuhan penderita.17
a. Makanan untuk keseimbangan hormone
Tanpa estrogen tidak terjadi endometriosis, karena endometriosis sangat tergantung pada estrogen. Makanan yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan sterol alami (natural plant sterols) dapat menolong kesembuhan dengan cara menghambat reseptor estrogen.16
Phytosterois
Buah Prambus dan Arbei Kentang
Apel Adas
Bawang Putih Blum kol
Kubis Wortel
Seledri Bumbu-bumbuan
Beras Merah Kelembak
b. Makanan bermanfaat pada sistem imunitas
Bawang Wortel
Susu masam kental Bawang Putih
Cabe rawit Teh hijau
Nanas Jahe
Murbei Buncis
c. Makanan yang harus dihindari
Gandum : Roti, kue Gula, termasuk madu
Alkhohol Kafein pada teh, kopi,
minuman ringan
Cokelat Keju, Susu
Gorengan Mentega
10. Vitamin dan Mineral
Meskipun makanan mengandung berbagai macam vitamin dan mineral, tetapi tubuh masih membutuhkan tambahan vitamin dan mineral supaya tubuh dapat berfungsi optimal.16
a. Magnesium, mineral ini dapat mengurangi kejang perut saat haid.
b. Zink, meningkatkan sistem imunitas tubuh.
c. Kalsium, kekurangan kalsium menyebabkan kejang pada otot, sakit kepala dan nyeri pelvis.
d. Besi, endometriosis kadang disertai darah haid yangbanyak bila berulang terjadi akan menyebabkan anemiasehingga perlu diberi zat besi supaya sehat.
e. Vitamin B, dapat memperbaiki gejala emosional padapenderita endometriosis.
f. Vitamin C, Vitamin A dan Omega 3, bermanfaat padasistem imunitas tubuh.
g. Vitamin E, meningkatkan oxygen carrying capacities.Bersama Selenium mengurangi inflamasi pada endometriosisdan juga menyokong sistem imunitas tubuh. Daftar Referensi
1. Manuaba I B G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksaan Rutin Obsetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
2. Medicine ASFR. Revised American Society for Reproductive Medicine Classification of Endometriosis. Fertil Steril. 1996;67:817.
3. ESHRE. Management of women with endometriosis. 2013.
4. Haas D, Chvatal R, Habelsberger A, Wurm P, Schimetta W, Oppelt P. Comparison of revised American Fertility Society and ENZIAN staging: a critical evaluation of classifications of endometriosis on the basis of our patient population. Fertil Steril. 2011;95(5):1574.
5. Bellelis P, Dias JA, Jr., Podgaec S, Gonzales M, Baracat EC, Abrao MS. Epidemiological and clinical aspects of pelvic endometriosis-a case series. Revista da Associacao Medica Brasileira (1992). 2010;56(4):467-71. 6. RCOG. The investigation and management of endometriosis. Green-top
Guideline. 2008;24:1-14.
7. Nassif J, Trompoukis P, Barata S, Furtado A, Gabriel B, Wattiez A. Management of deep endometriosis. Reproductive Biomedicine Online. 2011;23:25-33.
8. Endometriosis. Http://www.endo-resolved.com/endometriosis.html, 2007. 9. Whitney M, 2005. The Social Support Experinces of Woman with
Endometriosis. Georgia Reproductive Specialists.
10. Cotroneo MS, 2001. Pharmacologic, but not dietary, genistein supports endometriosis in a rat model. Toxicological Sciences (61):68-75.
11. European Society for Human Reproduction and Embryologist (ESHRE) 2006. Guideline for the diagnosis and treatment of endometriosis,
http://guidelines.endometriosis.org.
12. Speroff L, Fritz MA, 2005. Endometriosis. In Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility. 7th ed. Philadelphia: Lippincott William & Wilkin, pp 1103-1133.
13. Paolo Vercellini MD, 2003. Laparoscopic uterosacral ligament resection for dysmenorrhea associated with endometriosis result of a randomized, controlled trial. Fertility and Sterility, vol (80); 310-319.
14. Http:/www.healthsystem.virginia.edu/uvahealth/adult_women/endme.cfm. 2006
15. Wang H, Hou Q, 2002. Acupunture and moxibustion for treating ectopic endometrium. J Trad Chin Med :22(3):203-204
16. Pat Haines, 2000. Treatment of endometriosis with acupuncture and other complementary therapies. Modern Management of Endometriosis, Taylor and Francis, pp 351-356.
17. Judith Price, RipHH (Hons), 2002. Endometriosis: A NutritionalApproach, Positive Health Publication Ltd.
PERDARAHAN UTERUS DISFUNGSIONAL Oleh: Adela Brillian / I11112020
A. Definisi
Perdarahan abdomen tanpa adanya lesi organik yang nyata di uterus disebut perdarahan uuterus disfungsional (dysfunctional uterine bleeding). Kemungkinan penyebab perdarahan uterus abnormal, disfungsional atau organik (berkaitan dengan lesi yang jelas), sedikit banyak begantung pada usia pasien.1
B. Etiologi
Perdarahan rahim disfungsional yang terjadi selama umur reproduksi dapat diakibatkan oleh berbagai penyebab misalnya:2
1. Gagalnya efek umpan balik positif dari estrogen, pengubahan perifer yang abnormal dari androgen menjadi estrogen, atau cacat endometrium yang dapat berada dalam tingkat reseptor atau dalam sekresi atau pelepasan prostaglandin.
2. Bila tidak ada sekresi progesteron (anovulasi) dan dalam perangsangan yang terus berlanjut, endometrium akan berproliferasi , sehingga mencapai tinggi yang abnormal. Terdapat vaskularitas yang hebat dan pertumbuhan kelenjar yang tanpa dukungan stroma. Endometrium akhirnya tumbuh melebihi perangsangan yang ditimbulkan oleh estrogen dan perdarahan terjadi, dengan peluruhan endometrium secara tidak teratur.
3. Kelainan fungsi poros hipotalamus-hipofise-ovarium. Usia terjadinya:2
Perimenars (usia 8-16 tahun) Masa reproduksi (usia 16-35 tahun) Perimenopouse (usia 45-65 tahun) C. Gejala Klinis
Perdarahan ovulatoar. Perdarahan ini merupakan kurang lebih 10% dari perdarahan disfungsional dengan siklus pendek (polimenorea) atau panjang (oligomenorea). Untuk menegakkan diagnosis perdarahan ovulatoar, perlu dilakukan kerokan pada masa mendekati haid. Jika karena perdarahan yang lama dan tidak teratur siklus haid tidak dikenali lagi, maka kadang-kadang bentuk kurve suhu badan basal dapat menolong. Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologiya:3
1. Korpus luteum persistens; dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan dengan ovarium membesar. Sindrom ini harus dibedakan dari kehamilan ektopik karena riwayat penyakit dan hasil pemeriksaan panggul sering menunjukkan banyak persamaan antara keduanya. Korpus luteum persisten dapat pula menyebabkan pelepasan endometrium tidak teratur (irregular shedding). Diagnosa irregular shedding dibuat dengan kerokan yang tepat pada waktunya, yakni menurut Mc Lennon pada hari ke-4 mulainya perdarahan. Pada waktu ini dijumpai endometrium dalam tipe sekresi disamping tipe nonsekresi.
2. Insufisiensi korpus luteum dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau polimenorea. Dasarnya ialah kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH releasing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.
3. Apopleksia uteri; pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus.
4. Kelainan darah, seperti anemia, purpura trombositopenik dan gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.
Perdarahan anovulatoar. Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang-kadang bersifat siklis, kadang-kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut-pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif. Folikel-folikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel-folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus, dan dari endometrium yang mula-mula proliferatif dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran itu dijumpai pada sediaan yang diperoleh dengan kerokan, dapat diambil kesimpulan bahwa perdarahan bersifat anovulatoar.3
Walaupun perdarahan disfungsional dapat terjadi pada setiap waktu dalam kehidupan menstrual seorang wanita, tapi paling sering pada masa pubertas dan masa premenopause.3
Bila pada masa pubertas kemungkinan keganasan kecil sekali dan ada harapan bahwa lambat laun keadaan menjadi normal dan siklus haid menjadi ovulatoar, pada seorang wanita dewasa terutama dalam masa premenopasue dengan perdarahan tidak teratur mutlak diperlukan kerokan untuk menentukan ada tidaknya tumor ganas. Perdarahan disfungsional dapat dijumpai pada penderita-penderita dengan penyakit metabolik, penyakit endokrin, penyakit darah, penyakit umum yang menahun, tumor-tumor ovarium dan sebagainya.
Disamping itu stress dan pemberian obat penenang juga dapat menyebabkan perdarahan anovulatoar yang bisanya bersifat sementara.3
D. Patofisiologi
1. Kegagalan ovulasi
Siklus anovulatorik sangat sering terjadi di kedua ujung usia subur; pada setiap disfungsi sumbu hipotalamus-hipofisis, adrenal, atau tiroid; pada lesi ovarium fungsional yang menghasilkan esterogen berlebihan; pada sters fisik atau emosi yang berat. Pada banyak kasus, penyebab kegagalan ovulasi tidak diketahui, tetapi apapun sebabnya hal ini menyebabkan kelebihan estrogen relatif terhadap progesteron. Oleh karena itu, endometrium mengalami fase proliferatif yang tidak diikuti oleh fase sekretorik normal. Kelenjar endometrium mungkin mengalami perubahan kistik ringan atau ditempat lain mungkin tampak kacau dengan stroma yang relatif sedikit, yang memerlukan progesteron untuk mempertahankannya. Endometrium yang kurang ditopang ini mengalami kolaps secara parsial, disertai ruptur arteri spiral dan perdarahan.1
2. Fase luteal tidak adekuat
Korpus luteum mungkin gagal mengalami pematangan secara normal atau mengalami tegresi secara prematur sehingga terjadi kekurangan relatif progesteron. Endometrium dibawah kondisi ini mengalami perlambatan terbentuknya fase sekretorik yang diharapkan saat biopsi.1
3. Perdarahan yang dipicu oleh kontrasepsi
Kontrasepsi oral model lama yang mengandung progestin dan esterogen sintetik memicu berbagai respon endometrium, bergantung pada steroid yang digunakan dan dosis. Respon yang lazim adalah kemunculan kelenjar dan stroma yang subur mirip desidua dengan kelenjar inaktif nonsekretorik. Pil KB yang saat ini digunakan telah memperbaiki ekurangan ini.1
4. Gangguan endometrium, termasuk endometritis kronik, polop endometrium, dan leiomioma submukosa.1
Keluhan subyektif: Terjadi perdarahan pervaginam yang tidak normal (lamanya, frekuensi dan jumlah) yang terjadi di dalam maupun di luar siklus haid.2
Pemeriksaan fisik: Tidak ditemukan kehamilan (pembesaran uterus), kelainan organ maupun kelainan hematologi (faktor pembekuan).2
F. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan hamatologi2
b. Pemeriksaan hormon reproduksi :FSH, LH, Prolaktin, E2, dan progesteron, prostaglandin F2. 2
c. Biopsi, dilatasi, kuret bila tidak ada kontraindikasi. 2 d. Pemeriksaan USG. 2
G. Penatalaksanaan pada Perdarahan Rahim Disfungsional
Beberapa pasien mungkin memerlukan terapi penunjang berupa zat besi atau transfusi darah. Pasien dengan pemeriksaan pelvis yang normal dan dengan endometrium proliferatif yang dipastikan dengan biopsi endometrium terbaik diterapi dengan terapi hormonal. Pasien yang tidak memberi respons terhadap terapi hormonal secara cepat atau yang lebih tua daripada 35 tahunharus menjalani kuretase untuk menyingkirkan karsinoma endometrium. Pasien yang gagal memberi respons terhdap terapi hormonal dapat juga mengalami mioma submukosa atau polip endometrium dan dapat membutuhkan histereskopi untuk diagnosis dan terapi.2
Terapi hormonal mencakup progestin saja, kontrasepsi oral, atau terapi progestin-estrogen yang berurutan. Kalau biopsi endometrium awal menunjukkan endometrium yang proliferatif, terapi pilihannya adalah 5 mg medroksiprogesteron asetat tiap hari, baik selam 13 hari yang berurutan yang dimulai pada hari ke 14 dari siklus. Terapi ini akan mengubah endometrium proliferaktif menjadi jenis yang mirip sekretorik dan mencegah berulangnya perdarahan. Terapi progesteron harus dilanjutkan selama diperlukan. Kalau pasien ingin hamil, terapi pilihannya adalah klomifen sitrat. 2
Kalau biopsi endometrium awal memperlihatkan endometrium sekretorik dan perdarahan yang abnormal terus berlanjut atau berulang, cacat patologik di dalam kavitas rahim harus dicurigai dan dilakukan histerosalpingografi atau
histereskopi. Terapi pada peristiwa perdarahan akut dapat dicapai dengan kontrasepsi oral saja atau suatu kombinasiprogestin-estrogen yang berurutan. Kedua metode itu sama-sama efektif dalam menghentikan perdarahan. Kalau kontrasepsi oral saja digunakan, 4 tablet sehari harus diberikan selama 7 hari. Biasanya perdarahan akan berhenti dalam 24 sampai 48 jam. Pasien harus diberitahu bahwa pada akhir terapi ini dapat terjadi perdarahan vagina yang lebih berat daripada biasanya. Pasien harus dilanjutkan dengan dosis harian kontrasepsi oral sebagaimana untuk kontrasepsi dan dipertahankan sekurang-kurangnya selam 6 bulan.2
H. Pengobatan
Setelah menegakkan diagnosa dan setelah menyingkirkan berbagai kemungkinan kelainan organ, teryata tidak ditemukan penyakit lainnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut:2
1. Menghentikan perdarahan.
a. Kuret (curettage). Hanya untuk wanita yang sudah menikah. Tidak bagi gadis
b. Obat (medikamentosa)
i. Golongan estrogen. Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan gangguan pembekuan darah. Jenis lain, misalnya: etinil estradiol, tapi obat ini dapat menimbulkan gangguan fungsi liver. Dosis dan cara pemberian: Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari; Benzoas estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler (melalui bokong); Jika perdarahannya banyak, dianjurkan menginap di RS (opname), dan diberikan Estrogen konyugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus) perlahan-lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam. Tidak boleh lebih 4 kali sehari.
ii. Obat Kombinasi. Obat golongan ini diberikan secara bertahap bila perdarahannya banyak, yakni 4×1 tablet selama 7-10 hari, kemudian dilanjutkan dengan dosis 1×1 tablet selama 3 hingga 6 siklus.
iii. Golongan progesterone. Obat untuk jenis ini, antara lain: Medroksi progesteron asetat (MPA): 10-20 mg per hari, diminum selama 10 hari; Norethisteron: 3×1 tablet, diminum selama 7-10 hari.
2. Mengatur menstruasi agar kembali normal
Setelah perdarahan berhenti, langkah selanjutnya adalah pengobatan untuk mengatur siklus menstruasi, misalnya dengan pemberian: Golongan progesteron: 2×1 tablet diminum selama 10 hari. Minum obat dimulai pada hari ke 14-15 menstruasi.
3. Transfusi jika kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.
Satu kantong darah (250 cc) diperkirakan dapat menaikkan kadar hemoglobin (Hb) 0,75 gr%. Ini berarti, jika kadar Hb ingin dinaikkan menjadi 10 gr% maka kira-kira perlu sekitar 4 kantong darah.
I. Prognosis
Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit. Penegakan diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan angka kesembuhan hingga 90 %. Pada wanita muda, yang sebagian besar terjadi dalam siklus anovulasi, dapat diobati dengan hasil baik, atau sukses.
Daftar Referensi
1. Kumar V, Cotran RS, Robbins SL. Buku ajar patologi .7 nd ed, Vol. 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007 : 772-3.
2. Manuaba, I.B.G. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Kb. Jakarta: EGC; 2001
3. Wiknjosastro, H. Ilmu Kandungan, Edisi 2. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirorahardj; 1999.
HYPERPLASIA ENDOMETRIUM Oleh: Dwi Lestiana Putri / I11112034
A. Definisi
Hiperplasia endometrium merupakan suatu keadaan patologis pada endometrium berupa peningkatan proliferasi kelenjar endometrium yang mengakibatkan adanya perubahan rasio kelenjar dan stroma, bentuk dan ukuran kelenjar, susunan kelenjar bertambah menjadi 2-3 lapis serta mempunyai potensial menjadi suatu bentuk sel yang atipik bila tidak ada suatu keseimbangan inhibitor dan inisiator dari proliferasi sel kelenjar tersebut. Kondisi ini secara klinis biasanya tidak menimbulkan suatu gejala, tetapi gejala umum pada kelainan ini adalah adanya perdarahan per vaginam yang tidak normal berupa perdarahan yang jumlahnya lebih banyak dari normal (lebih dari 80 ml/periode atau ganti pembalut lebih dari 4/hari) atau lebih lama dari normal (lebih dari 7 hari) dan perdarahan diluar fase menstruasi dalam siklus haid. Gejala ini biasanya berupa perdarahan disfungsi pre-menopause dan post-menopause.1
B. Etiologi dan faktor resiko
Hiperplasia endometrium merupakan suatu kelainan yang tergantung pada estrogen (estrogen-dependent disease) dan mempunyai faktor risiko yang sama dengan karsinoma endometrium tipe 1, dimana stimulasi estrogen endogen dan eksogen akan memacu proliferasi endometrium secara berlebihan1. Stimulasi estrogen endogen dapat berupa faktor menstruasi, obesitas, anovulasi, hiperplasia stroma ovarium, dan tumor yang mampu mensekresi estrogen. Faktor menstruasi, seperti halnya menarche dini (<12 tahun), menopause lambat (>52 tahun) dan nuliparitas diperkirakan terjadi peningkatan paparan kumulatif estrogen oleh karena total jumlah siklus menstruasi yang lebih banyak sepanjang hidupnya dan perlu dinilai adanya haid yang teratur berupa siklus haid sebelum adanya perdarahan (minimal 3 siklus terakhir) memiliki interval 21-35 hari dengan lama 2-8 hari dan dapat diperkirakan untuk haid tanggal berikutnya. Kondisi anovulasi atau oligoovulasi yang sering bermanifestasi klinis dengan adanya infertilitas
mengakibatkan penurunan dan tidak adanya efek peranan progesteron pada endometrium. Hal ini menyebabkan endometrium tidak mengalami perubahan pada gambaran histopatologi dan fungsinya menjadi suatu fase sekresi melainkan akan terstimulasi terus oleh efek mitogenik estradiol (E2) yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan dari endometrium. Kondisi anovulasi yang paling umum adalah pada kasus Sindroma Polikistik Ovarium (PCOS). Pada PCOS, 75% terdapat resistensi insulin dan hiperinsulinemia yang diduga akan memacu angiogenesis, ekspresi aromatase dan menghambat apoptosis serta menstimulasi proliferasi sel ovarium dan endometrium, kasus ini sering terjadi pada wanita dengan obesitas (Indeks Massa Tubuh = 30). Pada obesitas, jaringan lemak dan depositnya di perifer merupakan sumber utama aromatase, sehingga pada wanita post-menopause hal ini merupakan sumber estrogen dengan adanya konversi androgen di adrenal dan ovarium.1
Fungsi stroma ovarium pada wanita post-menopause tetap normal, tetapi bila didapatkan penyimpangan seperti hiperplasia stroma, maka menyebabkan sintesis estrogen yang meningkat dan memacu terjadi hiperplasia endometrium sampai menjadi suatu karsinoma endometrium. Tumor ovarium, baik itu primer maupun sekunder, dapat berhubungan dengan peningkatan fungsi ovarium dalam mensintesis estrogen, seperti tumor sel stroma, sel teka dan granulosa. Salah satu review mengemukakan bahwa ada hubungan antara adenokarsinoma endometriod ovarium dengan endometrium,tetapi mekanisme ini sepertinya merupakan karsinogenesis yang spontan dengan adanya kesamaan epitel pada keduanya dibandingkan salah satu tumor menginduksi pada salah satu tumor lainnnya 2.
Beberapa penelitian mengenai faktor endogen seperti obesitas, diabetes melitus, distribusi reseptor estrogen a dan ß begitu pula pemecahan variannya, genetic receptor polymorphism, dan mismatch repair gen pada kasus Hereditary Non-Polyposis Colorectal Cancer (HNPCC) Syndrome mempengaruhi stimulasi estrogen yang persisten. Besarnya risiko untuk terjadinya hiperplasia atipia pada terapi sulih hormon ini 2-10% tetapi hal ini juga tergantung pada dosis harian dan durasi penggunaannya, sehingga
skrining evaluasi terapi dengan ultrasonografi atau biopsi endometrium perlu dilakukan.1,2,3
C. Epidemiologi
Insiden hiperplasia endometrium berhubungan dengan umur: 40-50 tahun (40%), 50-60 tahun (25%) dan <40 tahun (hanya 15%). Waktu yang diperlukan untuk berubah menjadi ganas mungkin 1-2 tahun.4
D. Klasifikasi
Klasifikasi hiperplasia endometrium (WHO) 1994 a. Hiperplasia non atipik :
- simpleks - Kompleks b. Hiperplasia atipik:
- Simpleks - kompleks
Gambaran simpleks dan kompleks dibedakan dari adanya perubahan struktur kompleksitas kelenjar dan banyaknya stroma diantara kelenjar, tanpa melihat adanya suatu sel atipik. Terminologi adenomatosa seharusnya sudah tidak digunakan lagi karena bukan suatu klasifikasi standar. Lesi yang diklasifikasikan sebagai karsinoma in situ sekarang dimasukkan sebagai kategori hiperplasia atipik.5
E. Gambaran histopatologi
Gambaran histopatologi yang dapat dilihat dari hiperplasia endometrium adalah terjadinya peningkatan rasio kelenjar terhadap stroma, tepi kelenjar menjadi tidak teratur dengan ukuran kelenjar yang bervariasi. Aktivitas mitosis kelenjar tampak jelas dengan derajat yang berbeda. Sering tejadi peningkatan vaskularisasi stroma di dalam epitel.
Awalnya tidak ada standar klasifikasi hiperplasia endometrium dan digunakan terminologi seperti hiperplasia adenomatosa, hiperplasia atipia dan karsinoma in situ. Pada tahun 1994, WHO dan International Society of Gynecologic Pathologist membuat satu klasifikasi hiperplasia endometrium berdasarkan ada dan tidaknya gambaran sel atipik dan selanjutnya berdasarkan kompleksitas kelenjarnya yaitu menjadi simpleks dan kompleks. 5,6
a. Gambar hiperplasia non atipik simpleks
b. Gambar hiperplasia non atipik kompleks
F. Patogenesis
Hormon steroid pada wanita mempunyai peranan penting pada regulasi dan differensiasi endometrium. Ketidakseimbangan antara kenaikan estrogen sebagai stimulator proliferasi sel dan adanya defisiensi progesteron yang mendiferensiasikan sel endometrium menyebabkan proses apoptosis terganggu dan memacu proliferasi sel-sel endometrium serta mempengaruhi peranan growth factor untuk memacu aktivitas mitosis. Apabila kemudian terjadi keseimbangan hormon steroid seks, maka aktivitas proliferasi dari endometrium akan menurun dan akan terjadi suatu regresi dari hiperplasia endometrium.
Beberapa penelitian membuktikan bahwa estrogen termasuk proses dan hasil metabolismenya merupakan karsinogen pada jaringan renal, hepar, uterus dan kelenjar mammae. Mekanisme karsinogenesis yang disebabkan estrogen dengan melalui proses metabolisme estrogen menjadi genotoksik, metabolit mutagenik dan stimulasi pertumbuhan jaringan yang menyebabkan proses inisiasi, promosi dan progresi. Ada 2 jalur mekanisme dari karsinogenesis estrogen yaitu jalur pertama melalui peranan metabolisme estradiol (E2) dan yang kedua melalui reseptor estrogen E2.
Pada mekanisme dari metabolisme E2 dengan melalui jalur katekol, dimana prosesnya menggunakan enzim sitokrom P-450 yang mengkatalisis metabolisme oxidatif dari estron (E1) dan E2 menjadi 2-estrogen hidroksilkatekol (sitokrom P-450 1A1, 1A2 dan 3A) atau 4-estrogen hidroksilkatekol (sitokrom P-450 1B1). Estrogen 3,4-quinone dapat membentuk formasi tidak stabil dengan adenin dan guanin pada DNA yang, memacu depurinisasi dan mutasi. Pengurangan estrogen quinone kembali menjadi hidroquinone dan kotekol akan memacu terjadinya suatu siklus redox yang menimbulkan kerusakan oksidatif pada lemak dan DNA
Mekanisme kedua pada reseptor estrogen, dengan melalui beberapa jalur sinyal tranduksi reseptor estrogen. Sejak ditemukannya reseptor estrogen a dan ß yang juga terdapat pada sel endometrium, dikemukakan bahwa mekanisme sinyal pada reseptor estrogen berhubungan dengan mitokondria dan membran plasma, dimana juga terdapat mekanisme aktivasi proses apoptosis pada 2 bagian sel ini.
Terdapat 3 jalur aktivasi pada reseptor estrogen yaitu melalui genomik DNA yang mengkode gen, non-genomik melalui aktivasi second messenger dan sinyal protein kinase, serta aktivasi mitokondria yang memfasilitasi cross-talk antara proses sinyal membran reseptor estrogen dan proses sinyal reseptor insulin-like growth factor 1 (IGF-1) 30. Pada stroma endometrium berhubungan langsung dengan ketergantungan estrogen pada reseptor di stroma yang bertanggung jawab terhadap proliferasi epitel pada kelenjar endometrium 26. Kedua reseptor tersebut berinteraksi agonis dalam memacu aktivasi mitogenik estrogen pada sel endometrium yang memacu hiperplasia dan transformasi sel kanker, dengan melalui aktivasi jalur MAPK (mitogen-activated protein kinase) oleh IGF-1 yang juga akan memacu angiogenesis dengan menginduksi ekspresi VEGF (vascular endothelial growth factor) mRNA dan juga proses aromatisasi dengan menstimulasi ekspresi aromatase
dan aktivitas enzimnya yang akan meningkatkan produksi estradiol dari androgen. Cross-talk antara genomik dan jalur second messenger mempunyai peranan dalam mengatur proliferasi sel dan inhibisi apoptosis dengan mengaktivasi gen anti-apoptosis yaitu Bcl-2 pada mitokondria dan inhibisi gen pro-apotosis Fas-Fas ligand pada sitoplasma dan Bax pada mitokondria.
Metabolit katekol estrogen dapat mempengaruhi pengaturan jalur ekspresi gen, signal atau keduanya melalui reseptor estrogen. Estrogen 4-hidroksikatekol dan 2-4-hidroksikatekol mempunyai afinitas pengikat yang kuat terhadap reseptor estrogen dibanding estradiol sendiri dan mampu memacu estrogen-receptor-dependent gene expression. 4-hidroksikatekol yang memediasi secara bebas ER a dan ß dari efek katekol estrogen akan mampu memacu proliferasi sel dan menghambat apoptosis.
E2 selain untuk meregulasi transkripsi reseptor estrogen, stabilisasi mRNA E2 juga akan menginduksi transkripsi reseptor progesteron A dan B. Kedua reseptor progesteron tersebut mempunyai sifat yang berlawanan, dimana
reseptor progesteron A akan menginaktivasi transkripsi, transdominan menghambat reseptor progesteron B dan menghambat estrogen dalam menginduksi proliferasi sel epitel yang akan memacu protein pro-apoptosis TNF-a dan Bax. Reseptor progesteron B secara selektif mengaktivasi koaktivator transkripsi dan juga melalui mekanisme non-transkripsi dapat memacu pertumbuhan sel dan berinteraksi dengan reseptor estrogen dan menstimulasi estrogen reseptor kinase yang memacu aktivitas mitosis dan peningkatan aktivitas ki67 serta downregulation proses apoptosis. Keseimbangan reseptor progesteron ini yang diatur oleh 331 GA, bila terdapat gangguan disini akan memacu aktivasi dari reseptor progesteron B yang akan meningkatkan aktivitas proliferasi endometrium.
Ketidakseimbangan antara proliferasi dan apoptosis pada endometrium akan menghasilkan suatu gambaran hiperplasia pada endometrium berupa adanya perubahan rasio kelenjar dan stroma tanpa belum adanya suatu gambaran sel atipik. Struktur kompleksitas kelenjar yang ditentukan oleh aktifitas proliferasi sel kelenjar endometrium terdapat kemampuan mitosis yang lebih tinggi dibanding aktifitas apoptosisnya, sehingga dibedakan menjadi simpleks dan kompleks. Apabila terdapat mutasi protein ras, PTEN (phosphatase and tensin homolog) dan ekspansi klonal selama bertahun-tahun mengakibatkan terdapatnya gambaran suatu hiperplasia atipik. PTEN yang merupakan tumor suppresor gene yang menekan mitosis dan memacu apoptosis, kerjanya dipengaruhi oleh adanya perubahan hormon steroid pada endometrium. Terjadinya mutasi dan delesi PTEN disebabkan adanya peningkatan estrogen misalnya pada fase proliferasi, tetapi tidak adanya PTEN juga dipengaruhi oleh adanya kondisi genetik seperti mutasi pada protein ras, terutama pada gen BRAF yang merupakan efektor protein ras pada jalur MAPK yang selanjutnya memacu ekspansi klonal sel endometrium dan menginisasi menjadi suatu bentuk adenokarsinoma.7,8,9
G. Tatalaksana
Terapi hiperplasia endometrium berhubungan langsung dengan derajat hiperplasia, umur pasien dan keinginannya untuk mempertahankan
kemampuan reproduksi. Hiperplasia adenomatosa atipia sedang dan berat pada wanita yang sudah melewati masa subur atau mereka yang tidak lagi menginginkan anak biasanya memerlukan histerektomi. Jika diinginkan tetap mempertahankan uterus dan sudah pernah dilakukan D & C yang cermat atau histeroskopi dengan biopsi langsung, terapi dapat berupa megestrol asetat (40-320 mg/hari) selama beberapa bulan hingga menekan endometrium secara total. Harus diambil sampel endometrium secara menyeluruh dengan interval ≤ 6 bulan untuk memastikan keberhasilan terapi. Dengan mengabaikan beratnya hiperplasia adenomatosa, jika terjadi lagi perdarahan abnormal meskipun sudah mendapat terapi yang tepat, harus cepat diambil sampel endometrium.4
Terapi untuk hiperplasia adenomatosa atipia ringan terdiri atas D % C dan mungkin progestin yang kurang kuat (misalnya medroksi progesteron asetat 10 mg PO setiap hari selama 2 minggu hingga satu bulan). Harus diambil sampel endometrium lagi dalam waktu 6-12 bulan. Untuk hiperplasia adenomatosa atipia yang berlanjut pada wanita yang tidak menginginkan keturunan lagi dianjurkan histerektomi. Untuk hiperplasia adenomatosa tindakan D & C menyeluruh merupakan terapi utama yang mungkin sudah memadai jika kemudian diberikan progestin atau induksi ovulasi. Induksi ovulasi jelas hanya dilakukan untuk pasien-pasien yang ingin mempunyai anak lagi. Pengambilan sampel endometrium harus dilakukan dalam waktu 1 tahun untuk memastikan bahwa hiperplasia adenomatosa sudah mengalami regresi.4
Pada beberapa tahun ini, penggunan ultrasonografi transvaginal untuk menilai kelainan endometrium pada penderita dengan perdarahan pervaginam banyak dilakukan. Cara ini bukan merupakan alat prediksi yang tepat untuk menilai keadaaan patologis endometrium pada pre-menopause dan perimenopause oleh karena umumnya terjadi penebalan endometrium. Tetapi,pada wanita post-menopause dengan ketebalan endometrium lebih dari 4 mm dikatakan sebagai suatu skrining dari hiperplasia endometrium dan karsinoma endometrium10
Pencegahan hiperplasia endometrium memerlukan pengenalan keadaan hiperestrogenik (misalnya sindrom ovarii polokistik, tumor yang menyebabkan feminisasi, pergantian esterogen pasca menopause). Keadaan ini menyebabkan unopposes estrogen, dan pengobatanya termasuk pemberian progestin yang sesuai.4
I. Prognosis
Jika tidak diobati, paling sedikit 50% pasien dengan hiperplasia adenomatosa atipia berkembang menjadi kanker endometrium, sementara hanya 20-25% paseien hiperplasia adenomatosa yang berkembang menjadi kanker.4
Daftar Referensi
1. Hammond R, Johnson J. Endometrial hyperplasia. Curr Obstet Gynecol 2001;11:160-3.
2. Marsden D, Hacker N. The classification, diagnosis and management of endometrial hyperplasia. Rev in Gynecol Prac 2003;3:87-90.
3. Montgemery BE, Daum DS, Dunton CJ. Endometrial hyperplasia a review.Obstetrical and Gynecological Survey 2004;5:368-78.
4. Ralph C.B, Martin L.P. Buku Saku Obstetri dan ginekologi. Jakarta: EGC.2009
5. Iatrakis G, Tsionis C, Adonakis G, Staikidou M, Anthauli-Anagnostopoulo F, Parava M, et al. Polycystic ovarian syndrome, insulin resistance and thickness of the endometrium. Eur J Obstet Gynecol Reprod Biol 2006;20(4):925-33.
6. Mazur MT. Endometrial hyperplasia/adenocarcinoma. A conventional approach.Anal Diag Pathol 2005;9:174-81.
7. Punyadeera C, Verbost P, Groothuis P. Oestrogen and progestin responses in human endometrium. J Steroid Bioch Mol Biol 2003;84:393-410. 8. Liehr JG. Is estradiol a genotoxic mutagenic carcinogen. Endo Rev
2000;21(1):40-54.
9. Yager JD. Endogenous estrogens as carcinogens through metabolic activation. J Natl Cancer Inst Monogr 2000;27:67-73.
10. Rosai J. The female reproductive system. In Rosai and Ackerman’s Surgical Pathology. 9th ed. Philadelphia: Elsevier;2004: p1676-80.
POLIP ENDOMETRIUM
Oleh: Anatria Amyrra Iqlima / I11112078 A. Definisi
Sebuah endometrium polip atau uterus polip merupakan massa di lapisan dalam rahim. [1] Mereka mungkin memiliki basis datar besar (sessile) atau melekat pada rahim oleh pedikel memanjang (bertangkai). [1] [2] Polip bertangkai lebih umum daripada yang sessile. [3] Mereka berbagai ukuran dari beberapa milimeter sampai beberapa sentimeter. [2] Jika bertangkai, mereka dapat menonjol melalui leher rahim ke dalam vagina. [1] [4] Pembuluh darah kecil mungkin hadir, terutama di polip besar. [1]
Endometrial polyp, viewed by sonography.
B. Penyebab dan Gejala Polip Endometrium
Tidak ada penyebab yang pasti dari polip endometrium diketahui, tetapi mereka tampaknya dipengaruhi oleh kadar hormon dan tumbuh dalam menanggapi beredar estrogen. [2]Penyebab lainnya yaitu:
1. Genetik. Ikut berperan dalam pembentukan polip, terdapatnya anomali kromosom 6 dan 12 merubah proses proliferasi endometrial overgrowth
2. Hormonal. Estrogen dan progesteron keduanya berperan dalam pemanjangan endometrial gland, stromal tissues dan spiral arteri yg polipoid growth.
3. Placenta yang tertinggal setelah partus dan abortus.
4. Polip bisa berasal dari adenoma-adenofibrinoma dan juga mioma submukosum yang diakibatkan oleh meningkatnya hormon.[16]
Mereka sering tidak menimbulkan gejala. [3] Di mana mereka terjadi, gejala termasuk perdarahan menstruasi yang tidak teratur, perdarahan antara periode menstruasi, menstruasi berat dengan perdarahanberlebihan (menorrhagia), dan perdarahan vagina setelah menopause. [2] [5] Perdarahan dari pembuluh darah polip memberikan kontribusi untuk peningkatan kehilangan darah selama menstruasi dan "bercak" darah antara periode menstruasi, atau setelah menopause. [6] Jika polip menonjol melalui leher rahim ke vagina, nyeri (dysmenorrhea) dapat terjadi. [4]
C. Diagnosis Polip Endometrium
Diagnosis mudah dibuat dengan histeroskopi dan pengobatannya adalah eksisi. Tindakan ini mudah dilakukan dengan histeroskopi diikuti kurctase tangkai. Sebuah senar kawat atau gunting dapat digunakan untuk memotong dasar polip yang besar. Untuk menyingkirkan kanker endometrium, lebih baik diambil sampel kanalis endoservikalis dengan kuretase ketika mengangkat polip. Selama dilakukan D C, lakukan eksplorasi kavum uteri dengan forceps
polip Overstreet atau yang serupa. Polip cenderung berulang dan histerektomi merupakan terapi definitif tetapi jarang dilakukan untuk polip endometrium jinak.[16]
Polip endometrium dapat dideteksi dengan USG vagina (sonohisteroskopi), histeroskopi dan dilatasi dan kuretase. [2] Deteksi dengan ultrasonografi dapat sulit, terutama ketika ada hiperplasia endometrium (penebalan berlebihan endometrium). [1]Polip yang lebih besar mungkin dapat diatasi oleh kuretase. [7]
D. Gambaran Klinik Untuk Diagnosis Polip Endometrium
Perdarahan diluar silkus yang nonspesifik seringkali menjadi gejala utama dari polip endometrium. Seringkali, polip endometrium ditemukan secara tidak sengaja dari hasil pemeriksaan histeroskopi, ultrasonografi, dan keretase atas dugaan hiperplasia endometrium.
Apabila tangkai polip berukuran cukup panjang sehingga memungkinkan ujung polip mengalami protrusi keluar ostium serviks, maka hal ini dapat memudahkan klinisi untuk menegakkan diagnosis. Polip endometrium mempunyai konsistensi yang lebih kenyal dan berwarna lebih merah daripada polip serviks. Sebagian besar polip mempunyai susunan histologis yang sama dengan endometrium da dasar tangkainya dan tidak menunjukkan perubahan sekretorik.
Kurang dari sepertiga polip memiliki komposisi jaringan yang sama dengan jaringan endometrium penyusun atau endometrium asalnya. Ujung polip yang keluar dari ostium serviks sering mengalami perdarahan, nekrotik, dan peradangan. Sebagian besar gambaran histipatologikdari polip endometrium menunjukkan adanya hiperplasia kistik, hanya sebagian kecil saja yang menunjukkan hiperplasia adenomatosa.[16]
Micrograph of an endometrial polyp. H&E stain. E. Pengobatan
Polip dapat diangkat dengan operasi menggunakan kuretase dengan atau tanpa histeroskopi. [8] Ketika kuretase dilakukan tanpa histeroskopi, polip dapat dihilangkan. Untuk mengurangi risiko ini, rahim bisa menjadi yang pertama dieksplorasi menggunakan menggenggam tang pada awal prosedur kuretase. [6] Histeroskopi melibatkan memvisualisasikan endometrium (lapisan dalam rahim) dan polip dengan kamera dimasukkan melalui leher rahim. Jika polip besar, dapat dipotong menjadi beberapa bagian sebelum setiap bagian akan dihapus. [6] Jika sel-sel kanker ditemukan, histerektomi (operasi pengangkatan rahim) dapat dilakukan. [2] Sebuah histerektomi akan biasanya tidak menjadi dipertimbangkan jika kanker telah dikesampingkan. [6] Apapun metode yang digunakan, polip biasanya diobati di bawah anestesi umum. [7]
Tidak jelas apakah menghapus polip mempengaruhi kesuburan karena belum diteliti. [9]
F. Penanganan Polip Endometrium
1. Pada polip endometrium tidak bertangkai umumnya diangkat dengan cara kuretage.
2. Histeroskopi dengan cara kateterisasi dan bedah laser.
3. Identifikasi histologi dari endometrium yang berdarah membantu dalam pemilihan hormonal yang rasional.
4. Bila ujung polip keluar melalui ostium serviks sehingga mudah untuk dicapai makan pemutusan tangkai polip dapat dilakukan melalui dua cara: dengan menjepit tangkai polip dan kemudian melakukan putaran atau torsi pada tangkai sehingga terputus; dengan menggunakan ikatan laso longgar yang kemudian didorong hingga mencapai dasar tangkai dan kemudian diikatkan hingga tangkai terputus.
Jenis tindakan Operasi yang dipilih 1. Miomektomi
a. Mioma subserosum bertangkai. b. Ingin punya anak lagi.
c. Wanita muda.
d. Dikuret dulu menyingkirkan kemungkinan keganasan. e. Kerugiannya:
i. Melemahkan dinding otot uterus dan dapat menyebabkan ruplura uteri saat kehamilan.
ii. Menyebabkan perlengketan dan residif. iii. Histerektomi Totalis & Supravaginal.
iv. Mioma yang besar dan multiple v. Pertumbuhan mioma yang cepat 2. Histerektomi Totalis sebaiknya jika:
a. Fungsi reproduksi tak diperlukan lagi. b. Pertumbuhan mioma yang cepat.
c. Terdapat perdarahan yang membahayakan. G. Faktor risiko dan Epidemiologi
Polip endometrium biasanya terjadi pada wanita di usia 40 dan 50-an. [2] Faktor risiko termasuk obesitas, tekanan darah tinggi dan riwayat polip serviks. [2] Mengambil tamoxifen atau terapi sulih hormon juga dapat meningkatkan risiko polip rahim. [2 ] [12] Penggunaan sistem intrauterin yang mengandung levonorgestrel pada wanita pengguna Tamoxifen dapat mengurangi kejadian polip. [13] Polip endometrium terjadi pada sampai 10% dari perempuan. [1] Diperkirakan bahwa polip muncul di 25% wanita dengan perdarahan vagina abnormal. [12]
Polip ini juga sering dijumpai tetapi tidak dapat dipastikan jumlah kejadiannya. Usia penderita yang mengalami gangguan ini berkisar antara 12 hingga 81 tahun tetapi angka kejadian tertinggi terjadi di antara usia 30-59 tahun. Polip endometrium ditandai dengan adanya perdarahan abnormal per vaginam, paling umum menometroragia atau perdarahan bercak ringan pasca menopause. Polip tcrjadi dari umur 29-59 tahun dengan kejadian terbanyak setelah umur 50 tahun. Insiden popil tanpa gejala pada wanita pasca menopause kira-kira 10%.[16]
Polip endometrial seringkali berupa penonjolan langsung dari lapisan endometrium atau merupakan tumor bertangkai dengan pembesaran dibagian ujungnya. Polip endometrium merupakan pertumbuhan aktif stroma dan
kelenjar endometrium secara fokal, terutama sekali didaerah fundus atau korpus uteri.\
Hampir sebagian besar penderita tidak megetahui atau menyadari keberadaan polip endometrium karena kelainan ini tidak menimbulkan gejala spesifik.[16]
H. Struktur
Polip endometrium biasanya terjadi pada fundus dan dapat melekat dengan adanya tangkai yang ramping (bertangkai) atau dasar yang lebar (tidak bertangkai). Kadang-kadang polip prolaps melalui scrviks. Secara makroskopis polip endometrium tampak sebagai massa ovoid bcrukuran beberapa mill- meter hingga beberapa sentimeter, licin seperti beludru berwarna merah hingga coklat.Secara histologis, polip endometrium mempunyai inti stroma dengan jaringan pembuluh darah yang jelas sena permukaan mukosa endometrium yang dapat melapisi komponen glanduler. Polip di bagian distal dapat menunjukkan perdarahan stroma, sel-sel radang, ulerasi dan dilatasi pembuluh darah dilatasi. Kadang-kadang terjadi poliposis multipel. Varian lain yang jarang adalah adenomioma bertangkai (dibedakan dengan adanya pita penjalin otot polos).[16]
Polip endometrium dapat soliter atau terjadi dengan orang lain. [14] Mereka bulat atau oval dan mengukur antara beberapa milimeter dan beberapa sentimeter dengan diameter. [6] [14] Mereka biasanya merah / warna coklat sama endometrium sekitarnya meskipun yang besar dapat muncul menjadi gelap merah. [6] Polip terdiri dari padat, jaringan fibrosa (stroma), pembuluh darah dan ruang glandlike dilapisi dengan epitel endometrium. [6] Jika mereka bertangkai, mereka terikat oleh tangkai tipis (pedikel). Jika mereka tetap, mereka terhubung oleh basis datar pada dinding rahim. [14] polip bertangkai lebih umum daripada yang sessile. [3]
I. Patologi (Makroskopik)
Spesimen ini terdiri dari rahim, saluran dan ovarium. Rahim telah dibuka bagian anterior untuk menampilkan tumor polipoid besar yang timbul dari
fundus di sebelah kanan. Polip, yang memiliki tangkai pendek dan inti berserat pusat, menunjukkan beberapa kista kecil di potong permukaan pucat. Histologis ini adalah polip endometrium jinak.
Spesimen ini telah diambil pada laparotomi dari seorang wanita 60 tahun.
Sumber: Monash University Faculty of Medicine - Pathology J. Prognosis dan Komplikasi
Polip endometrium biasanya jinak meskipun beberapa mungkin sel prakanker atau kanker. [2] Tentang 0,5% dari polip endometrium mengandung sel-sel adenokarsinoma. [10] Polip dapat meningkatkan risiko keguguran pada wanita yang menjalani perawatan IVF. [2] Jika polip mengembang dekat tuba falopi, mereka dapat menyebabkan kesulitan untuk menjadi hamil. [2] Meskipun pengobatan seperti histeroskopi biasanya menyembuhkan polip yang bersangkutan, kekambuhan polip endometrium sering terjadi. [6] Diobati, polip kecil mungkin hilang sendiri. [11]
Daftar Referensi
1. Jane A. Bates (1997). Practical Gynaecological Ultrasound. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN1-900151-51-0.
2. "Uterine polyps". MayoClinic.com. 2006-04-27.
3. Sternberg, Stephen S.; Stacey E. Mills; Darryl Carter (2004). Sternberg's Diagnostic Surgical Pathology. Lippincott Williams & Wilkins. p. 2460. ISBN0-7817-4051-7.