Investasi pada saham mengandung risiko yang perlu diperhatikan oleh calon investor. Sebelum berinvestasi pada saham, calon investor harus memperhatikan bahwa dalam menjalankan kegiatan usahanya, usaha Perseroan dipengaruhi oleh beberapa faktor, setiap pelaku industri tidak terlepas dari risiko, demikian pula kegiatan usaha yang dijalankan oleh Perseroan juga tidak terlepas dari berbagai tantangan dan risiko yang dapat mengakibatkan timbulnya dampak negatif bagi kelangsungan usaha Perseroan.
Risiko-risiko yang diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko-risiko yang material bagi Perseroan serta faktor risiko usaha dan risiko umum disusun berdasarkan bobot dari risiko dengan dampak terbesar terhadap kinerja Perseroan sampai dengan dampak terendah.
A. RISIKO UTAMA YANG MEMPUNYAI PENGARUH SIGNIFIKAN TERHADAP KELANGSUNGAN USAHA PERSEROAN
Risiko Kredit (non performing loan)
Risiko kredit adalah risiko akibat kegagalan debitur dan/atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada Bank. Apabila debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya dalam melakukan pembayaran kembali atas pokok kredit yang diberikan maupun bunganya, dapat menurunkan tingkat kolektibilitas kredit, pendapatan dan permodalan Perseroan. Pemberian kredit dalam jumlah yang cukup signifikan pada sekelompok perusahaan atau industri tertentu dapat meningkatkan potensi risiko kredit bermasalah bagi Perseroan.
Sesuai PSAK No. 55, bank-bank di Indonesia diharuskan untuk menerapkan standar akuntansi baru dimana setiap bank harus menilai apakah bukti-bukti objektif atas penurunan nilai atau “impairment”
terjadi secara individual untuk aset-aset keuangan yang masing-masing bernilai signifikan, dan secara individual atau kolektif untuk aset-aset keuangan yang masing-masing nilainya tidak signifikan. Seperti bank-bank yang lain di Indonesia, Perseroan juga diharuskan untuk menerapkan kriteria penilaian baru untuk kredit-kredit yang dinilai secara kolektif paling lambat 1 Januari 2012. Hal ini mengharuskan Perseroan untuk membuat cadangan berdasarkan kerugian yang diperkirakan untuk keseluruhan kredit-kredit yang dinilai secara kolektif. Sehubungan dengan perubahan tersebut, saat ini Perseroan menerapkan metode penyisihan cadangan kerugian berdasarkan peraturan Bank Indonesia hanya untuk kredit-kredit yang dinilai secara kolektif. Akibat hal di atas dan faktor-faktor lainnya, jumlah kredit bermasalah, cadangan kerugian dan penghapusbukuan yang cukup material dapat menurunkan kinerja Perseroan yang pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kesehatan dan pendapatan Perseroan.
Dalam Penyaluran Kredit, sektor ekonomi terbesar dalam portofolio kredit Perseroan di antaranya adalah Kredit Pemilikan Rumah/Apartemen sebanyak 40,88%, Perdagangan Besar & Eceran sebanyak 14,68%, dan Industri Pengolahan sebanyak 12,92% (per 31 Mei 2021).
B. RISIKO USAHA YANG BERSIFAT MATERIAL BAIK SECARA LANGSUNG MAUPUN TIDAK LANGSUNG YANG DAPAT MEMPENGARUHI HASIL USAHA DAN KONDISI KEUANGAN PERSEROAN
1. Risiko Operasional
Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan/atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, dan/atau adanya kejadian eksternal yang mempengaruhi operasional Perseroan. Sumber risiko operasional dapat disebabkan antara lain oleh sumber daya manusia, proses, sistem, dan kejadian eksternal yang dapat mengganggu Perseroan sehingga mempengaruhi kinerja operasional Perseroan yang dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan nasabah.
Risiko operasional yang melekat dalam kegiatan usaha perbankan lebih ditekankan kepada pelaksanaan transaksi, produk, klien, proses bisnis serta proses manajemen. Faktor penting lainnya dalam kegiatan operasional perbankan adalah sistem informasi teknologi. Sistem informasi teknologi yang tidak mendukung dapat mengganggu kelancaran operasional dan mutu pelayanan kepada nasabah. Dalam era teknologi saat ini, efektivitas operasional Perseroan tergantung dari kemampuan mendapatkan akses yang akurat dan dapat dipercaya serta tepat waktu seperti pengelolaan likuiditas dan optimalisasi layanan serta produk bank lainnya. Ketidakmampuan Perseroan untuk mengerti dan memahami perkembangan teknologi akan menurunkan mutu pelayanan kepada nasabah di samping menciptakan kondisi rawan terhadap kejahatan yang pada akhirnya akan mempengaruhi tingkat kepercayaan nasabah dan dapat berdampak negatif terhadap pendapatan dan kelangsungan usaha Perseroan.
2. Risiko Pasar
Risiko pasar adalah risiko kerugian dari portofolio yang dimiliki oleh Perseroan akibat adanya perubahan kondisi pasar yang tercermin pada pergerakan variabel pasar yang mencakup risiko perubahan tingkat suku bunga dan fluktuasi nilai tukar. Risiko pasar antara lain terdapat pada aktivitas fungsional Perseroan seperti kegiatan treasury dan investasi dalam surat berharga, pasar uang, kegiatan pendanaan, penerbitan surat hutang, serta kegiatan pembiayaan perdagangan (trade finance).
Kondisi rendahnya tingkat bunga acuan saat ini telah menarik nasabah di Indonesia untuk mengajukan pembiayaan kepada bank yang membantu pertumbuhan pembiayaan dan peningkatan keuntungan Perseroan. Tidak terdapat jaminan bahwa kenaikan suku bunga acuan di masa datang tidak akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan pembiayaan, keuntungan, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan. Risiko tingkat bunga acuan adalah risiko kemungkinan turunnya pendapatan margin dan nilai pasar portofolio aktiva akibat perubahan tingkat bunga acuan di pasar uang. Komposisi portofolio termasuk aktiva, kewajiban dan rekening administratif cukup sensitif terhadap perubahan tingkat bunga acuan. Oleh karena aktiva dan kewajiban seperti deposito pada bank lain, investasi dalam surat berharga, pinjaman, deposito berjangka, pinjaman jangka panjang dan kewajiban-kewajiban pasar uang lainnya memiliki berbagai tingkat margin dan jangka waktu, maka perubahan pada tingkat bunga acuan akan mengakibatkan perubahan pada pendapatan margin bersih. Dampak risiko acuan suku bunga terhadap Perseroan, selain berpengaruh terhadap tingkat margin/ujrah/bagi hasil bersih yang dihasilkan karena perubahan tingkat suku bunga acuan di pasar, juga terhadap permodalan Perseroan dimana Perseroan harus menanggung kerugian yang diakibatkan oleh perubahan tingkat suku bunga benchmark karena adanya perubahan pada kebijakan moneter Indonesia yang menimbulkan manajemen harus mengubah kebijakan menetapkan margin bersih secara menguntungkan dengan menimbang faktor pasar.
Berdasarkan data historis, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS dan mata uang lainnya telah mengalami depresiasi dan volatilitas yang cukup signifikan. Depresiasi atau volatilitas Rupiah atau perubahan kebijakan nilai tukar oleh Pemerintah dapat mendorong meningkatnya tingkat suku bunga domestik, likuiditas, kekurangan, kegagalan kredit sovereign, modal atau pengawasan nilai tukar dan bantuan keuangan dari institusi-institusi multilateral. Hal ini dapat menyebabkan melemahnya kegiatan ekonomi, resesi ekonomi, kegalan kredit dan kenaikan harga barang-barang impor yang kemudian dapat berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, kondisi keuangan dan hasil usaha serta kemampuan Perseroan untuk membayar kewajiban yang berdenominasi mata uang asing. Secara umum, Rupiah dapat dikonversi dan ditransfer dengan bebas, kecuali dalam hal bank domestik dilarang mengirimkan Rupiah kepada sejumlah rekening bank (offshore dan onshore) untuk kepentingan non-penduduk yang merupakan perorangan asing, badan hukum asing dan warga negara Indonesia yang memiliki status penduduk permanen di luar Indonesia serta bank-bank Indonesia dan asing yang berdomisili di luar negeri. Walaupun demikian, dari waktu ke waktu, Bank Indonesia melakukan intervensi pasar mata uang asing sebagai kelanjutan dari kebijakan tersebut di atas, baik untuk menjual Rupiah atau menggunakan cadangan dalam
mata uang asing untuk membeli Rupiah. Tidak ada jaminan bahwa kebijakan nillai tukar mata uang oleh Bank Indonesia tidak akan berubah. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa depresiasi Rupiah terhadap mata uang lainnya, termasuk Dolar AS, tidak akan terjadi, atau bahwa Pemerintah akan melakukan tindakan-tindakan untuk menstabilkan, menjaga atau meningkatkan nilai Rupiah atau bahwa jika tindakan-tindakan ini dilakukan, akan berhasil. Komponen penerimaan Perseroan dalam mata uang asing tidak terlalu besar sehingga apresiasi Dolar AS terhadap Rupiah yang terjadi secara signifikan dan terus menerus dapat berdampak negatif terhadap kemampuan Perseroan untuk melakukan pembayaran kewajiban yang berdenominasi dalam mata uang asing.
Perubahan tingkat suku bunga dan fluktuasi nilai tukar yang terjadi secara signifikan akan berdampak pada penurunan nilai portofolio yang dimiliki oleh Perseroan. Adapun apabila hal ini memiliki nilai yang material maka akan dapat berdampak pada kinerja keuangan serta kelangsungan usaha Perseroan.
3. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas adalah risiko akibat ketidakmampuan Perseroan untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas, dan/atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Perseroan. Risiko ini disebut juga risiko likuiditas pendanaan (funding liquidity risk). Risiko likuiditas juga dapat disebabkan oleh ketidakmampuan Perseroan melikuidasi aset tanpa terkena diskon yang material karena tidak adanya pasar aktif atau adanya gangguan pasar (market disruption) yang parah. Risiko ini disebut sebagai risiko likuiditas pasar (market liquidity risk). Secara umum, industri perbankan cukup rentan terhadap isu-isu negatif yang dapat mengakibatkan pengambilan dana masyarakat secara massal dan dalam kurun waktu yang singkat (rush) sehingga mengancam kegiatan operasional Perseroan.
Mayoritas pendanaan Perseroan berasal dari sumber pendanaan jangka pendek dan menengah, terutama dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dan giro. Di sisi lain, sebagian besar kewajiban Perseroan (seperti Obligasi Pemerintah dan kredit yang diberikan), memiliki jangka waktu yang lebih panjang, sehingga menimbulkan potensi ketidakseimbangan pendanaan (funding mismatch). Secara historis, Perseroan berhasil dan mampu untuk mempertahankan sebagian besar simpanan jatuh tempo tersebut, namun tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat terus memelihara likuiditas yang memadai untuk memenuhi penarikan dana nasabah di masa yang akan datang, terutama pada saat krisis ekonomi. Apabila sejumlah besar nasabah tidak memperpanjang dana yang didepositokan pada saat jatuh tempo, atau memutuskan untuk menarik depositonya, maka posisi likuiditas Perseroan dapat terkena dampak negatif.
Secara khusus, Perseroan dapat memperoleh pinjaman dari Bank Indonesia atau sumber pendanaan lain yang memberikan persyaratan kurang menarik, atau tidak tersedia sama sekali.
Setiap kegagalan untuk mendapatkan dana yang cukup atau peningkatan signifikan biaya perolehan likuiditas dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha, prospek usaha, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.
4. Risiko Persaingan
Risiko persaingan adalah risiko yang dihadapi Perseroan seiring dengan pertumbuhan industri bank di Indonesia sehingga menyebabkan industri perbankan semakin kompetitif dengan persaingan yang semakin ketat pada usaha perbankan swasta maupun Pemerintah. Selain persaingan dengan bank lainnya, Bank di Indonesia juga menghadapi persaingan dengan berbagai jenis institusi/
lembaga keuangan lainnya seperti perusahaan pembiayaan (multifinance) dan perusahaan yang bergerak di bidang jasa keuangan berbasis teknologi (fintech). Apabila Perseroan tidak mampu menghadapi kompetisi usaha, maka hal tersebut dapat menghambat pertumbuhan jumlah nasabah Perseroan yang akan berdampak negatif pada kegiatan usaha, prospek usaha, kondisi keuangan dan hasil usaha Perseroan.
5. Risiko Stratejik
Risiko stratejik adalah risiko akibat ketidaktepatan Perseroan dalam mengambil keputusan dan/
atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis. Sumber risiko stratejik antara lain dari kelemahan dalam proses formulasi strategi dan ketidaktepatan dalam perumusan strategi, ketidaktepatan dalam implementasi strategi, dan kegagalan mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis serta perubahan eksternal (perubahan kebijakan moneter dan peraturan pemerintah, perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan politik) risiko stratejik antara lain terkait dengan ketentuan mengenai Rencana Bisnis Bank (RBB). Hal ini dapat berpengaruh negatif pada kinerja Perseroan yang pada akhirnya menurunkan pendapatan Perseroan.
6. Risiko Kepatuhan
Risiko kepatuhan adalah risiko yang timbul akibat Perseroan tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku. Sumber risiko kepatuhan antara lain timbul karena kurangnya pemahaman atau kesadaran hukum terhadap ketentuan maupun standar bisnis yang berlaku umum. Risiko kepatuhan ini melekat pada Perseroan, terkait pada perundang-undangan dan ketentuan lain seperti ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), Kualitas Aktiva Produktif, Giro Wajib Minimum (GWM), Posisi Devisa Netto (PDN) dan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK). Apabila terjadi pelanggaran terhadap salah satu ketentuan di atas maka risiko yang mungkin terjadi adalah pengenaan sanksi yang dapat berupa sanksi finansial berbentuk denda material ataupun sanksi non-finansial seperti teguran tertulis, sanksi ketidaklayakan dan ketidakmampuan Direksi Perseroan ataupun pembekuan kegiatan usaha tertentu. Hal ini dapat berpengaruh negatif pada Perseroan.
7. Risiko Hukum
Risiko hukum adalah risiko yang timbul akibat adanya tuntutan hukum dan/atau kelemahan aspek yuridis lainnya. Selain itu juga dapat ditimbulkan antara lain karena ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendasari atau kelemahan perikatan, seperti tidak dipenuhinya syarat sahnya kontrak atau agunan yang tidak memadai. Adanya tuntutan hukum tersebut dapat berakibat negatif pada kinerja Perseroan.
8. Risiko Reputasi
Risiko reputasi adalah risiko yang disebabkan oleh adanya publikasi negatif terkait dengan kegiatan usaha Perseroan atau persepsi negatif terhadap Perseroan. Perseroan merupakan perusahaan penyedia jasa layanan perbankan kepada para nasabah, sehingga penting bagi Perseroan untuk menjaga citra, penilaian, dan kepercayaan nasabah Perseroan. Salah satu faktor keberhasilan dalam bidang usaha jasa perbankan dilandasi oleh kepercayaan. Kepercayaan merupakan hal yang sangat vital bagi kelangsungan kegiatan operasional. Adanya persepsi negatif terhadap Perseroan dapat mengakibatkan berkurangnya atau hilangnya kepercayaan masyarakat untuk menempatkan dananya dalam Perseroan. Apabila hal tersebut terjadi, dapat berpengaruh negatif pada kinerja Perseroan yang pada akhirnya dapat menurunkan pendapatan Perseroan.
9. Risiko Sistem Informasi Teknologi dan Infrastruktur Jaringan
Risiko sistem intormasi teknologi dan infrastruktur jaringan adalah risiko yang dapat muncul dalam kelangsungan kegiatan operasional Perseroan yang dapat diakibatkan oleh ancaman eksternal berupa pembajakan (hack) maupun faktor dari internal Perseroan yang mungkin lalai melakukan peremajaan dan peningkatan kualitas sistem dan teknologi, serta menjaga perangkat lunak maupun perangkat keras yang berkaitan dengan sistem intormasi teknologi dan infrastruktur jaringan.
Sistem intormasi teknologi dan infrastruktur jaringan kegiatan usaha perbankan merupakan salah satu faktor utama dalam kelangsungan kegiatan operasional Perseroan. Berbagai kegagalan yang mungkin terjadi dalam sistem informasi teknologi dan infrastruktur jaringan dapat mengakibatkan kegagalan Peseroan untuk menjaga keamanan dan kelancaran transaksi.
Meskipun Perseroan telah berusaha menerapkan sistem keamanan, firewall dan enkripsi password yang dirancang untuk meminimalisasi risiko, namun tidak ada jaminan bahwa Perseroan dapat terus mampu untuk mencegah pencurian, pembobolan, kerusakan dan kegagalan atau kelemahan keamanan lainnya.Perseroan senantiasa berusaha untuk melindungi data-data perusahaan, sistem informasi teknologi dan jaringan infrastruktur dari kerusakan fisik dan kelemahan keamanan serta permasalahan lainnya yang disebabkan oleh meningkatnya penggunaan jaringan. Kegagalan dalam sistem kemanan dapat berdampak negatif dan signifikan terhadap kegiatan usaha, prospek usaha, kondisi keuangan, hasil usaha dan reputasi Perseroan.
10. Risiko Penurunan Nilai Agunan
Risiko penurunan nilai agunan adalah risiko yang muncul apabila nilai agunan yang dimiliki Perseroan tercatat lebih tinggi dan tidak mencerminkan secara akurat nilai perolehan bersih yang akan diperoleh dari penjualan agunan tersebut. Penilaian agunan tertentu yang dimiliki Perseroan dapat tidak sesuai dengan keadaannya (out of date) dan tidak mencerminkan secara akurat nilai pasar agunan yang dimiliki. Penilaian agunan berupa persediaan dapat memiliki potensi penurunan di masa yang akan datang. Selain itu, kondisi ekonomi, politik, dan sosial di Indonesia menjadi faktor penting terhadap perubahan nilai agunan aset tetap yang berlokasi di Indonesia. Setiap penurunan nilai agunan kredit, termasuk nilai agunan yang akan diambil alih oleh Perseroan, dapat menyebabkan Perseroan menambah jumlah cadangan kerugian, dimana hal ini dapat berdampak negatif secara material terhadap kegiatan usaha, prospek usaha, kondisi keuangan, hasil usaha serta rasio kecukupan modal, sehingga Perseroan harus mencari tambahan modal.
11. Risiko Investasi atau Aksi Korporasi
Perseroan dalam mengembangkan kegiatan usahanya tidak terlepas dari kegiatan investasi atau aksi korporasi. Beberapa hal dapat mempengaruhi Perseroan untuk dapat melakukan investasi atau aksi korporasi antara lain seperti kondisi ekonomi, kondisi keuangan, kondisi kinerja dan prospek usaha Perseroan. Namun tidak terdapat jaminan bahwa Perseroan berhasil dalam melakukan investasi maupun aksi korporasinya. Apabila investasi atau aksi korporasi yang dilakukan tidak sesuai dengan rencana Perseroan, maka hal tersebut dapat menghambat pengembangan bisnis Perseroan sehingga dapat berdampak material terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek usaha Perseroan.
C. RISIKO UMUM
1. Risiko Pandemi Virus COVID-19
Penyebaran pandemi Virus COVID-19 yang telah berlangsung dari akhir tahun 2019 menjadi tantangan yang besar bagi sebagian besar negara secara global. Untuk mengantisipasi penyebarluasan virus COVID-19, berbagai negara telah mengambil kebijakan lockdown, fiskal dan moneter. Salah satu penetapan kebijakan moneter adalah penurunan suku bunga acuan dari bank sentral suatu negara, hal tersebut berdampak langsung kepada suku bunga acuan di negara yang memiliki hubungan kerjasama dengan negara tersebut. Pada rapat Bank Indonesia di bulan Februari 2021, Bank Indonesia memutuskan untuk menurunkan BI7DRR sebesar 25 bps menjadi 3,50% dan jika dibandingkan dengan akhir tahun 2019 BI7DRR telah turun sebesar 150 bps dari 5,00%.
Jika pandemi tersebut berlangsung dalam jangka waktu lama sehingga terus mempengaruhi kebijakan dan kondisi yang dapat mempengaruhi Perseroan secara langsung, maka hal tersebut dapat memberi dampak negatif pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, kinerja dan prospek usaha Perseroan.
2. Risiko Kondisi Ekonomi Makro
Kegiatan usaha Perseroan di bidang perbankan tidak terlepas dari dampak perubahan kondisi ekonomi makro. Kondisi perekonomian di suatu negara akan memberikan dampak yang langsung terhadap permintaan dan penawaran pada negara tersebut dan secara tidak langsung akan berdampak pada negara yang mempunyai hubungan kerjasama dengan negara tersebut. Dalam hal ini, apabila terjadi perubahan kondisi perekonomian baik di Indonesia maupun negara lainnya yang mempunyai hubungan kerjasama dengan Indonesia, hal tersebut dapat berdampak langsung kepada kinerja usaha Perseroan.
3. Risiko Kepatuhan Terhadap Peraturan Perundangan Yang Berlaku Terkait Bidang Usaha Perseroan
Untuk menjalankan kegiatan usaha perbankan, Perseroan diwajibkan untuk memiliki berbagai macam lisensi, perizinan dan otorisasi lainnya dari regulator yang terkait. Apabila Perseroan tidak dapat memperoleh lisensi, perizinan dan otorisasi ini, atau gagal untuk melakukannya secara tepat waktu, Perseroan dapat tidak diberi izin untuk menjalankan kegiatan usahanya. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif secara material kepada kegiatan usaha dan kondisi keuangan Perseroan.
4. Risiko Kebijakan Pemerintah
Kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah mempengaruhi Perseroan dalam menjalankan kegiatan usahanya. Meskipun Perseroan berkeyakinan bahwa Perseroan telah mematuhi seluruh peraturan yang berlaku, pemenuhan kebijakan-kebijakan yang baru, dapat berdampak material terhadap kegiatan usaha Perseroan. Apabila Perseroan tidak mematuhi kebijakan Pemerintah yang berlaku, maka Perseroan dapat dikenakan sanksi perdata, termasuk denda, hukuman serta sanksi-sanksi pidana lainnya.
MANAJEMEN PERSEROAN MENYATAKAN BAHWA SEMUA RISIKO USAHA DAN RISIKO UMUM YANG DIHADAPI OLEH PERSEROAN DALAM MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA TELAH DIUNGKAPKAN DALAM PROSPEKTUS BERDASARKAN BOBOT RISIKO YANG DIHADAPI PERSEROAN.