Investasi dalam saham Perseroan melibatkan sejumlah risiko. Calon investor harus mempertimbangkan dengan cermat faktor-faktor risiko berikut ini, serta informasi-informasi lainnya yang terkandung dalam Prospektus ini, sebelum melakukan investasi dalam saham Perseroan. Risiko yang ditetapkan di bawah ini bukanlah merupakan daftar lengkap risiko yang saat ini dihadapi Perseroan atau yang mungkin berkembang di masa depan. Risiko tambahan, baik yang diketahui atau yang tidak diketahui, mungkin di masa depan memiliki pengaruh yang merugikan pada kegiatan usaha Perseroan, kondisi keuangan, dan hasil operasi. Harga pasar saham Perseroan bisa menurun akibat risiko tersebut dan calon investor mungkin kehilangan semua atau sebagian dari investasinya.
Risiko-risiko yang akan diungkapkan dalam uraian berikut merupakan risiko-risiko yang material bagi Perseroan. Berdasarkan pertimbangan Perseroan, risiko-risiko di bawah ini telah disusun berdasarkan bobot risiko terhadap kinerja keuangan Perseroan, dimulai dari risiko utama Perseroan.
A. Risiko utama yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha perseroan Risiko terkait pandemi COVID-19
Indonesia resmi terlibat menjadi negara yang terkena pandemi COVID-19 sejak tanggal 20 Maret 2020.
Keberadaan pandemi mengharuskan Pemerintah memberlakukan berbagai kebijakan dalam upaya mencegahnya penyebaran COVID-19 namun memiliki dampak signifikan kepada berbagai industri khususnya industri jasa makanan dan minuman sebagai salah satunya. Kebijakan Pembatasan Sosial mengharuskan operasionalisasi restoran dihentikan sementara merupakan ancaman terbesar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha Perseroan karena biaya terus berjalan sementara pemasukan terhambat dapat menyebabkan Perseroan menutup outlet secara permanen.
Terjadinya pandemi COVID-19 di Indonesia sejak tahun 2020, telah memberikan dampak negatif terhadap kinerja keuangan dan likuiditas Perseroan secara historis, dimana per 30 Juni 2021 dan 31 Desember 2020, Perseroan mencatatkan masing-masing Rugi Bersih sebesar Rp4.553 juta dan Rp135.766 juta. Selain itu, per 30 Juni 2021, Perseroan juga tidak memenuhi sebagian ketentuan rasio keuangan yang ditentukan pembatasannya oleh kreditur Bank Perseroan, yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk, dimana sehubungan dengan hal tersebut, walaupun saat ini kreditur Bank Perseroan masih dapat menerima kondisi keuangan Perseroan, namun Perseroan tidak dapat menjamin hal ini akan terus dapat diterima oleh Kreditur Bank Perseroan dalam hal kondisi tersebut terjadi secara berkepanjangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk tetap bertahan melanjutkan usahanya meliputi, antara lain, kemampuan Perseroan untuk mempertahankan penjualan secara optimal dalam waktu yang terbatas, kemampuan Perseroan mampu bertindak fleksibel mengikuti tren konsumen, kemampuan Perseroan mematuhi kebijakan Pemerintah dan menerapkan protokol kesehatan agar memperoleh izin melakukan kegiatan operasional.
Pandemi bisa terjadi kapanpun dan tidak dapat dihindari. Walaupun pandemi tergolong sebagai one-time event, keberadaan pandemi mampu mempengaruhi dan mengancam keberlangsungan kegiatan usaha Perseroan. Apabila pandemi COVID-19 menjadi tidak terkendali dan Perseroan tidak mampu untuk bertahan dalam situasi tersebut, akan dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
B. Risiko terkait kegiatan usaha Perseroan 1. Risiko persaingan usaha
Pertumbuhan kelas menengah dan konsumen di Indonesia mendorong pertumbuhan prospek bisnis restoran dan mengundang munculnya pemain-pemain baru. Hal ini memperketat persaingan di bisnis restoran yang sudah terfragmentasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan Perseroan untuk bersaing dengan restoran lainnya meliputi, antara lain, kemampuan Perseroan untuk menyediakan kualitas makanan yang baik dengan harga yang tepat, pengembangan produk/menu baru, iklan dan promosi yang tepat, kualitas pelayanan yang baik, reputasi yang terjaga, lokasi restoran, serta daya tarik restoran yang terpelihara.
Apabila pesaing yang telah ada ataupun pesaing baru berhasil mengembangkan dan memasarkan konsep yang dapat diterima lebih baik oleh pasar dan Perseroan tidak mampu untuk bersaing secara efektif, maka hal tersebut dapat memberikan dampak negatif material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
2. Risiko terhadap kualitas dan kelayakan makanan dan pelayanan
Industri jasa makanan dan minuman sangat mengutamakan kualitas makanan dan pelayanan yang konsisten. Kualitas makanan dan pelayanan Perseroan yang tidak konsisten akan mengakibatkan ketidakpuasan pelanggan dan mengurangi jumlah kunjungan berulang ke outlet Perseroan. Kondisi tersebut dapat saja terjadi antara lain karena tindakan sengaja maupun tidak sengaja oleh pihak ketiga, kontaminasi produk, dan gangguan atau kontaminasi hewan/serangga yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Selain itu, kondisi tersebut juga dapat terjadi akibat turunnya kualitas produk maupun bahan baku pada tahap pembelian bahan baku, proses penyimpanan dan pengangkutan dari gudang pemasok sampai gudang Perseroan, proses produksi bahan setengah jadi di Dapur Utama, dan transportasi ke masing-masing outlet yang tidak memenuhi standar.
Standar pelayanan yang baik termasuk kondisi dan perlengkapan di outlet Perseroan sangat penting agar terjaga dengan baik untuk mendorong kunjungan berulang oleh pelanggan Perseroan.
Perputaran karyawan yang tinggi, kekurangan karyawan atau kurangnya pengawasan yang tepat dapat mempengaruhi kualitas makanan dan pelayanan di outlet Perseroan.
Walaupun Perseroan memiliki prosedur standar operasional yang tinggi untuk menghindari terjadinya risiko-risiko di atas, namun apabila terdapat kegagalan dalam mempertahankan kualitas makanan dan pelayanan yang baik, maka dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
3. Risiko terkait kenaikan upah minimum
Kegiatan usaha Perseroan secara langsung dan tidak langsung bergantung pada pengendalian biaya operasional termasuk upah karyawan. Setiap kenaikan upah minimum, secara langsung dan tidak langsung akan meningkatkan biaya operasional dan menurunkan marjin keuntungan Perseroan.
Tingkat upah minimum di hampir seluruh daerah di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah melarang pengusaha untuk membayar upah di bawah upah minimum yang berlaku yang ditetapkan secara tahunan oleh pemerintah di provinsi, kabupaten atau kota.
Walaupun saat ini telah terdapat ketentuan khusus untuk menentukan kenaikan jumlah upah minimum per wilayah sehingga kenaikan upah minimum dapat diprediksi, namun Perseroan mungkin tidak dapat meningkatkan harga produk makanan atau minuman yang cukup untuk mengatasi kenaikan biaya tenaga kerja tersebut. Apabila hal tersebut terjadi, maka hal tersebut dapat memberikan dampak negatif terhadap kegiatan usaha dan kinerja keuangan Perseroan.
4. Risiko terkait dengan online aggregator
Per 30 Juni 2021, kontribusi penjualan dari take away dan delivery adalah sebesar 14,6%. Perseroan berencana untuk terus mendorong penjualan dari take away dan delivery secara online melalui aplikasi pihak ketiga atau online aggregator yaitu melalui platform online GoFood, Grab Food, Shopee Food, dan lainnya. Selain memiliki layanan pesan antar menggunakan platform online-nya, para online aggregator juga berperan penting dalam memasarkan dan memberikan promo-promo menarik pada pelanggan Perseroan.
Namun demikian, pesatnya pertumbuhan online aggregator ini tentunya selain menciptakan potensi pertumbuhan bagi Perseroan juga meningkatkan persaingan dalam industri makanan dan minuman karena pelanggan kini memiliki pilihan produk makanan yang semakin luas dan memiliki fasilitas pesan-antar. Selain itu, para online aggregator mungkin tidak selamanya akan memberikan promo menarik sehingga dapat memberikan dampak terhadap penjualan Perseroan.
Apabila Perseroan tidak dapat mengelola hal-hal tersebut di atas dengan baik, maka akan dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
5. Risiko terkait logistik dan distribusi
Perseroan melakukan pembelian bahan baku secara terpusat dan seluruh bahan baku mentah yang dipesan oleh tim pembelian akan dikirim ke gudang kecuali untuk beberapa bahan baku yang lebih murah dan mudah dibeli dari pemasok lokal. Perseroan menggunakan fasilitas dry storage dan frozen storage untuk produk-produk berbahan dasar daging. Untuk memastikan kesegaran bahan baku, Perseroan menggunakan kendaraan transportasi yang dilengkapi dengan mesin pendingin untuk memastikan pengiriman yang tepat waktu dari gudang ke Dapur Utama dan dari Dapur Utama ke gudang dan Dapur Penunjang maupun ke setiap outlet.
Ketepatan waktu pengadaan bahan baku mulai dari pemasok sampai ke outlet-outlet Perseroan sangat berperan penting. Keterlambatan pengadaan barang ke outlet-outlet dapat menyebabkan hambatan bagi Perseroan dalam melayani konsumen, yang pada akhirnya akan mengakibatkan turunnya marjin keuntungan Perseroan. Apabila terdapat gangguan dalam proses logistik dan distribusi baik itu dari keamanan dan kualitas fasilitas penyimpanan, sarana, moda transportasi, akses dan infrastruktur, dan lain sebagainya, maka dapat memberikan dampak material yang merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
6. Risiko kelalaian dan kegagalan dalam mendapatkan persetujuan, lisensi, registrasi, dan ijin akan bisnis Perseroan
Perseroan menjalankan bisnis restoran di Indonesia berdasarkan perijinan yang diberikan oleh pemerintah daerah di lokasi dimana Perseroan membuka restoran serta pemerintah pusat. Sesuai dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia, Perseroan diwajibkan untuk memiliki berbagai persetujuan, lisensi dan ijin untuk mengoperasikan bisnis restoran. Ijin yang diperlukan antara lain persetujuan dan/atau perijinan dari Kementerian Pariwisata, Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemerintah Daerah terkait, dan Kementerian Kesehatan. Sebagian besar ijin ini tunduk pada pemeriksaan berkala, kewajiban pelaporan, atau verifikasi oleh pihak yang berwenang dan hanya berlaku untuk jangka waktu tetap dan tunduk pada pembaharuan dan akreditasi.
Perseroan tidak dapat memastikan bahwa persetujuan dan perijinan yang dikeluarkan kepada Perseroan tidak akan dibekukan atau dicabut jika terjadi ketidakpatuhan atau dugaan ketidakpatuhan terhadap persyaratan atau ketentuan apapun, atau menyimpang dari peraturan yang berlaku.
Kelalaian untuk memperbaharui persetujuan atau perijinan yang telah berakhir, atau kegagalan dalam mengajukan dan mendapatkan persetujuan atau perijinan yang diperlukan, atau terjadinya pembekuan atau pencabutan atas setiap persetujuan dan perijinan yang ada atau yang akan dikeluarkan untuk Perseroan, dapat mempengaruhi kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
7. Risiko perubahan daya beli dan preferensi konsumen
Permintaan terhadap produk yang ditawarkan oleh Perseroan dan usaha jasa makanan lain dipengaruhi oleh daya beli, preferensi, dan tren konsumsi atau perubahan selera konsumen, yang dipengaruhi oleh faktor eksternal termasuk kondisi makroekonomi, tingkat pendapatan, dan profil demografis konsumen.
Perubahan preferensi dan selera konsumen terhadap jenis makanan juga dapat mengakibatkan penurunan permintaan produk Perseroan. Preferensi konsumen dapat berubah secara terus-menerus seperti tren pemilihan makanan yang dianggap lebih sehat, seperti mengurangi konsumsi karbohidrat dan deep fried. Jika Perseroan tidak dapat menawarkan produk baru yang menyesuaikan daya beli dan preferensi konsumen pada waktu yang tepat dan biaya yang kompetitif untuk menangkap perubahan tersebut, maka produk Perseroan berisiko untuk menjadi tidak diterima oleh konsumen, sehingga dapat berdampak pada kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
8. Risiko terkait pasokan dan fluktuasi harga bahan baku
Salah satu komponen terbesar dari biaya produksi Perseroan adalah bahan baku makanan yang terdiri dari ayam (bone-in chicken), daging, telur, cabai, nasi, sayuran, dan bumbu-bumbu. Perseroan membeli seluruh bahan baku dari pemasok dalam negeri dengan biaya pembelian dalam mata uang Rupiah. Walaupun demikian, terdapat beberapa bahan baku utama seperti misalnya daging sapi yang menggunakan harga daging internasional sebagai patokan sehingga dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar mata uang asing. Perseroan memiliki departemen khusus untuk melakukan kontrol terhadap pembelian agar Perseroan mendapatkan pasokan yang cukup pada harga yang optimal. Perseroan memiliki lebih dari satu pemasok untuk masing-masing bahan baku untuk menghindari ketidakpastian persediaan.
Walaupun Perseroan tidak memiliki ketergantungan terhadap pemasok tertentu, namun tidak ada jaminan bahwa Perseroan tidak akan kekurangan pasokan atau tidak akan mengalami perubahan harga bahan baku yang terjadi akibat perubahan nilai tukar mata uang asing. Hal tersebut dapat memberikan dampak terhadap kegiatan usaha kualitas produk, volume penjualan, dan kinerja keuangan Perseroan.
9. Risiko terhadap publisitas dan persepsi negatif
Publisitas dan persepsi negatif mengenai kesehatan dan keamanan pangan, baik sengaja maupun tidak, mungkin dapat mempengaruhi preferensi konsumen untuk membeli produk Perseroan. Meskipun publisitas atas kelayakan produk belum tentu benar, publisitas dan persepsi negatif dapat menyebabkan dampak negatif terhadap reputasi dan citra merek Perseroan yang pada akhirnya dapat memberikan dampak negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan.
10. Risiko ketergantungan terhadap Merek Restoran tertentu
Saat ini, Perseroan memiliki 6 (enam) merek restoran berbeda yaitu: Gokana, Raa Cha, Platinum, BMK, Chopstix, and Monsieur Spoon. Meskipun Perseroan memiliki portofolio merek yang berbeda-beda, namun Perseroan memiliki ketergantungan tertentu terhadap merek tertentu terutama Gokana dan Raa Cha yang saat ini berkontribusi sekitar 84% terhadap Penjualan Bersih Perseroan per 30 Juni 2021.
Apabila terdapat hal-hal yang berimplikasi negatif pada dua merek tersebut, termasuk namun tidak terbatas seperti kecelakaan dan berita buruk, maka akan dapat memberikan dampak negatif terhadap kinerja keuangan Perseroan.
11. Risiko atas sewa outlet yang tidak dapat diperpanjang dengan persyaratan komersial yang menguntungkan
Perseroan menyewa hampir seluruh properti dari pihak ketiga dengan jangka waktu sewa umumnya hingga 5 tahun dengan opsi perpanjangan yang bervariasi (2-5 tahun). Dengan demikian, stabilitas usaha Perseroan dan perluasan area yang ada di outlet-outlet Perseroan, terutama di pusat perbelanjaan, bergantung pada kelangsungan perjanjian sewa dengan pihak ketiga tersebut. Area pusat perbelanjaan dengan lalu lintas pejalan kaki yang tinggi di kota-kota utama pada umumnya memiliki harga sewa yang lebih tinggi dibandingkan kota-kota sekunder dan daerah sekitarnya.
Walaupun Perseroan telah dan akan mematuhi persyaratan pada perjanjian sewa, namun tidak ada jaminan bahwa perjanjian sewa outlet Perseroan saat ini tidak akan dihentikan oleh masing-masing pemilik properti ataupun jaminan bahwa Perseroan akan mampu terus memperpanjang atau memperbaharui perjanjian sewa outlet-outletnya dengan persyaratan komersial yang sama atau yang lebih menguntungkan. Jika Perseroan tidak dapat mengelola hal-hal tersebut di atas dengan baik, maka hal tersebut dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
12. Risiko atas kemampuan untuk membuka outlet baru pada lokasi yang strategis
Salah satu cara utama untuk menjalankan strategi pertumbuhan Perseroan adalah melalui pembukaan outlet baru dan mengoperasikan outlet tersebut secara menguntungkan. Pemilihan lokasi outlet merupakan salah satu keputusan penting dalam pengembangan usaha Perseroan. Pada umumnya, outlet-outlet Perseroan terletak di pusat-pusat perbelanjaan yang strategis. Perseroan mungkin tidak dapat membuka outlet baru pada jumlah yang direncanakan. Untuk dapat melakukan ekspansi usaha sesuai target dengan sukses, maka outlet harus dibuka sesuai jadwal dan dioperasikan secara efisien dan baik. Selain itu, jarak antar outlet juga dapat berdampak pada kemampuan bersaing dan pendapatan Perseroan.
Kesuksesan Perseroan dalam membuka outlet baru tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
1. Identifikasi lokasi yang strategis;
2. Ketersediaan dana yang cukup untuk mendukung pembangunan outlet;
3. Kontrak sewa dengan ketentuan yang dapat diterima;
4. Proses konstruksi yang tepat waktu;
5. Ketersediaan sumber daya manusia yang memadai; dan
6. Masalah teknis atau lingkungan yang tidak terduga dari tempat sewa.
Berdasarkan hal-hal di atas, walaupun Perseroan memiliki tim Business Development yang didedikasikan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk setiap outlet Perseroan, namun tidak ada jaminan bahwa Perseroan akan dapat senantiasa mencapai target ekspansi yang telah ditetapkan, membuka outlet baru secara tepat waktu, dan/atau memperoleh keuntungan yang maksimal dari outlet baru tersebut.
Apabila Perseroan tidak dapat mengelola faktor-faktor tersebut secara efektif, maka hal tersebut dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
13. Perselisihan perburuhan atau perubahan undang-undang ketenagakerjaan dapat mengganggu operasi dan mempengaruhi profitabilitas Perseroan
Untuk mendukung kegiatan usahanya dan proses operasinya, Perseroan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah yang banyak, terutama dalam rangka menunjang pertumbuhan pembukaan outlet restoran baru. Berbagai peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan mengatur hubungan Perseroan dengan karyawan Perseroan dan dapat mempengaruhi biaya operasional. Undang-undang ini mencakup persyaratan status ketenagakerjaan, tunjangan kesehatan wajib, kompensasi lembur, dan persyaratan upah dan tunjangan lainnya.
Selain itu, perselisihan perburuhan yang melibatkan sebagian atau seluruh karyawan Perseroan dapat membahayakan reputasi, mengganggu proses produksi dan penjualan yang dapat menyebabkan tidak terpenuhinya target produksi Perseroan dan mengurangi pendapatan Perseroan. Selain itu penyelesaian sengketa dapat meningkatkan biaya Perseroan.
Apabila Perseroan tidak dapat menyelesaikan perselisihan tenaga kerja dengan baik, maka hal tersebut dapat mempengaruhi bisnis, kondisi keuangan, maupun hasil operasi Perseroan secara material.
14. Risiko terkait sertifikasi halal
Perseroan percaya bahwa sebagai penyedia makanan dan minuman di negara dengan mayoritas penduduk muslim, sangat penting untuk memiliki sertifikat halal. Perseroan telah sebelumnya memperoleh dan berkomitmen untuk terus memperbaharui sertifikat halal dari LP-POM MUI sejak pendirian Perseroan di tahun 2010 untuk outlet-outlet merek Gokana, Raa Cha, Platinum dan BMK, dan pada tahun 2019 telah mendaftarkan permohonan untuk outlet-outlet merek Chopstix. Hingga saat ini, Perseroan terus berkomitmen untuk mempertahankan sertifikat halal agar selalu menghasilkan produk yang halal guna memberikan kenyamanan, keamanan, serta kepuasan kepada pelanggan.
Untuk mendapatkan dan mempertahankan sertifikasi tersebut, Perseroan perlu melalui berbagai proses pemeriksaan maupun pengujian dari produk dan bahan bakunya serta membentuk organisasi dan sistem jaminan halal. Pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk dilakukan di lokasi usaha pada saat proses produksi. Apabila terdapat salah satu kegiatan usaha atau produk maupun bahan baku Perseroan yang tidak lolos dari pengujian, maka Perseroan perlu mencari substitusi atas produk maupun bahan baku tersebut yang sesuai dengan persyaratan MUI sebagai lembaga yang berwenang memberikan penetapan kehalalan produk. Dalam pembukaan outlet baru, Perseroan harus mengajukan pendaftaran sertifikat halal untuk outlet baru tersebut.
Sejak tahun 2017, Pemerintah Republik Indonesia mengambil-alih kewenangan MUI terkait penerbitan sertifikat halal. Namun secara efektif, mulai tahun 2019 sertifikasi halal akan dipegang oleh Kementerian Agama, dan proses penerbitan sertifikat halal tak lagi hanya di MUI, tapi setidaknya akan melibatkan tiga pihak yakni, (i) Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal sebagai lembaga yang berwenang menerbitkan sertifikat halal dan berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama, (ii) MUI, dan (iii) Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).
Apabila Perseroan tidak berhasil mempertahankan sertifikat halal di outlet-outlet Perseroan dan mendapatkan sertifikat halal di outlet-outlet yang baru di masa yang akan datang, maka hal tersebut dapat memberikan dampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
15. Risiko tidak berhasilnya program pemasaran
Dalam menjalankan kegiatan usahanya, kegiatan pemasaran menjadi salah satu kunci keberhasilan Perseroan dalam meningkatkan brand awareness, mempertahankan pelanggan yang ada serta menarik pelanggan baru. Perseroan memiliki divisi pemasaran yang bertanggung jawab dalam pengembangan dan keberhasilan strategi pemasaran. Divisi ini melakukan penelitian terhadap pelanggan, kondisi pasar, data pesaing, dan implementasi strategi pemasaran serta menganalisa mengenai perubahan yang diperlukan. Divisi pemasaran juga aktif memasarkan produk-produk Perseroan melalui berbagai media, antara lain media sosial, media cetak, dan juga melalui kegiatan pemasaran lainnya.
Apabila program pemasaran Perseroan tidak berhasil dalam mempertahankan pelanggan yang ada serta menarik pelanggan baru, maka dapat memberikan dampak negatif terhadap pangsa pasar, kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
16. Risiko perkembangan teknologi dan terganggunya sistem teknologi informasi
Sistem teknologi informasi Perseroan memiliki fungsi yang sangat memadai untuk mengeksekusi strategi penjualan Perseroan dan berkemampuan untuk memberikan informasi yang cepat dan akurat.
Perseroan telah menerapkan sistem informasi dan teknologi terkini, yaitu dengan menggunakan sistem Enterprise Resource Planning (“ERP“) dan Point of Sales (“POS“) yang telah terintegrasi dalam infrastruktur teknologi informasi Perseroan. Perseroan selalu mengikuti perkembangan teknologi dan aplikasi yang berhubungan dengan kegiatan usaha Perseroan, menerapkan standar prosedur kerja dan kontrol yang baik terhadap aplikasi yang dipergunakan di Perseroan untuk meningkatkan efisiensi kerja dan juga memberikan informasi/laporan yang transparan dan akurat kepada manajemen.
Kegagalan pada sistem teknologi informasi Perseroan akibat terganggunya jaringan, serangan virus, maupun system breakdown dapat mengganggu kegiatan usaha dan dapat berakibat pada kesalahan transaksi, ketidakefisienan pengelolaan proses back office, persediaan dan proses produksi.
Ketidakmampuan Perseroan dalam mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan mengatasi setiap kerusakan dan gangguan yang terjadi dapat berdampak material dan merugikan terhadap kegiatan usaha, kondisi keuangan, hasil dan prospek usaha Perseroan.
17. Risiko atas kegagalan pemasok untuk mematuhi dan melaksanakan kewajiban kontrak Kegiatan usaha Perseroan sangat bergantung pada pemasok pihak ketiga untuk pengiriman bahan-bahan berkualitas yang memadai dan tepat waktu, termasuk bahan-bahan baku dan produk segar. Seluruh
17. Risiko atas kegagalan pemasok untuk mematuhi dan melaksanakan kewajiban kontrak Kegiatan usaha Perseroan sangat bergantung pada pemasok pihak ketiga untuk pengiriman bahan-bahan berkualitas yang memadai dan tepat waktu, termasuk bahan-bahan baku dan produk segar. Seluruh