• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

C. Faktor Risiko Lain

e. Adiposit (sel lemak) berlebih pada obesitas bersifat profibrinogen dan juga sebagai plasminogen activator inhibitor (penghambat aktifasi plasma darah). Hal tersebut akan meningkatkan viskositas (kekentalan darah) yang akan meningkatkan resistensi vaskular perifer. Sehingga akan menyebabkan terjadinya hipertensi (Lilly, 2011).

C. Faktor Risiko Lain 1. Merokok

Merokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Nikotin dan tar yang terkandung dalam rokok mempunyai respon terhadap sekresi hormon vasokontriktor sehingga akan meningkatkan beban kerja jantung (Muttaqin, 2009).

Penelitian di daerah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa responden yang merokok 20 tahun atau lebih mempunyai presentase yang lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan responden yang merokok kurang dari 20 tahun. Selain itu, mereka yang lama merokok 20 tahun atau lebih mempunyai peluang 1,5 kali menderita hipertensi dibandingkan yang merokok kurang dari 20 tahun (Pradono, 2010).

2. Konsumsi Garam

Konsumsi garam berlebih merupakan faktor risiko terjadinya kejadian hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Konsumsi garam berlebihan dapat menyebebkan peningkatan tekanan darah. Secara

18

osmosis, garam menahan air sehingga meningkatkan volume darah dan berperan dalam kontrol jangka panjang tekanan darah (Sherwood, 2011). Penelitian Sigarlaki (2006) juga mengemukakan bahwa terdapat hubungan antara faktor makanan terhadap jenis hipertensi. Selain itu, penelitian Sugiarto (2007) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan makan asin akan berisiko terserang hipertensi 3,95 kali lipat dibandingkan orang yang tidak terbiasa mengokonsumsi makanan asin.

3. Jenis Kelamin

Berdasarkan jenis kelamin, tidak ada perbedaan yang signifikan antara tekanan darah pada laki-laki atau perempuan secara klinis. Namun, pria cenderung memiliki bacaan tekanan darah yang lebih tinggi setelah pubertas. Sedangkan pada wanita cenderung memiliki tekanan darah lebih tinggi setelah menopause daripada pria pada usia tersebut (Potter dan Perry, 2005).

Prevalensi penderita hipertensi di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki pada tahun 2007 maupun 2013 (Kemenkes, 2014). Hal serupa juga diungkapkan oleh penelitian Sigarlaki (2006) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap jenis hipertensi.

19 4. Umur

Umur merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan pengukuran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dengan bertambahnya umur (Kemenkes, 2014). Hal serupa juga diungkapkan oleh penelitian Pradono (2010) yang menunjukkan presentase responden hipertesi di daerah perkotaan di Indonesia meningkat sejalan dengan meningkatnya kelompok umur dimana pada responden umur 45 tahun atau lebih, meningkat 2,7 kali dibanding responden dengan umur kurang dari 45 tahun. Selain itu, mereka yang berumur lebih dari 45 tahun mempunyai peluang mendapatkan hipertensi 2,4 kali dibandingkan dengan kelompok umur kurang dari 45 tahun (Pradono, 2010)

5. Riwayat Keluarga

Riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Faktor riwayat keluarga tidak dapat dirubah. Jika terdapat satu atau dua orang dari orangtua atau saudara kandung menderita hipertensi maka peluang seseorang terkena hipertensi semakin besar. Sebesar 25% dari kasus hipertensi esensial dalam keluarga mempunyai dasar genetis (Casey dan Herbert, 2012). Penelitian Sugiharto (2007) mengemukakan bahwa orang yang orangtuanya mempunyai riwayat hipertensi berisiko terkena

20

hipertensi 4,04 kali dibandingkan dengan orang yang orangtuanya tidak menderita hipertensi.

6. Ras

Faktor ras merupakan fator risiko hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Frekuensi hipertensi pada orang afrika amerika lebih tinggi daripada orang eropa amerika. Kematian yang dihubungkan dengan hipertensi juga lebih banyak pada orang afrika amerika. Kecenderungan populasi ini terhadap hipertensi berhubungan dengan hubungan genetik dan lingkungan (Potter dan Perry, 2005).

7. Konsumsi Alkohol Berlebih

Konsumsi alkohol berlebih merupakan faktor risiko hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Mengkonsumsi munuman beralkohol secara berlebihan tiga kali atau lebih dalam sehari merupakan faktor penyebab 7% kasus hipertensi (Casey dan Herbert, 2012). Di daerah perkotaan di Indonesia hubungan signifikan peminum alkohol dengan hipertensi tidak nampak. Hal tersebut dimungkinkan karena minuman alkohol masih banyak yang tradisional dan sulit diketahui kadar alkoholnya sehingga catatan dosis yang diminum oleh responden sulit untuk diketahui (Pradono, 2010). Sebaliknya, penelitian lain mengemukakan bahwa peminum alkohol laki laki dengan dosis 300 sampai 499 ml alkohol/minggu dapat meningkatkan tekanan darah

21

sistolik/diastolik rata-rata 2,7/1,6 mmHg lebih tinggi dibanding bukan peminum alkohol. Sedangkan peminum berat (≥300 ml/minggu) pada perempuan meningkatkan tekanan darah 3,9/3,1 mmHg lebih tinggi dibandingkan dengan bukan peminum (Marmot dkk, 1994 dalam Pradono 2010).

8. Obat - obatan

Salah satu faktor risiko penyebab hipertensi sekunder adalah konsumsi beberapa obat tertentu seperti obat kontrasepsi oral, kortikosteroid dan antihistamin (Heuther dan McCance, 2012). Penelitian Sugiharto (2007) mennunjukkan bahwa menggunakan pil KB selama 12 tahun berturut-turut berisiko terkena hipertensi sebesar 5,38 kali dibandingkan orang tidak menggunakan pil KB selama 12 tahun berturut-turut. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Pangaribuan dan Dina (2015) yang mengungkapkan bahwa pada wanita berusia 15-49 tahum di Indonesia yang menggunakan kontrasepsi pil berisiko 1,4 kali mengalami hipertensi dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi pil.

9. Intoleransi Glukosa

Intoleransi Glukosa merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi (Heuther dan McCance, 2012). Intoleransi glukosa merupakan keadaan yang menghasilkan kadar darah lebih tinggi dibandingkan kadar gula

22

darah normal dan merupakan keadaan yang mendahului kejadian diabetes mellitus.

Telah lama dibuktikan bahwa intoleransi glukosa dan kejadian hipertensi mempunyai hubungan yang sangat erat. Modan dkk (1984) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan antara intoleransi glukosa dan hipetensi yang mempunyai nilai p (<0.001).

10.Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal merupakan faktor risiko penyakit hipertensi sekunder (Heuther dan McCance, 2012). Perubahan struktur dan fungsi ginjal akan berkolaborasi dan menghasilkan aktivasi sistem simpatis dan sistem renin angiotensin aldosteron sehingga akan menyebabkan terjadinya retensi cairan. Aktivasi sistem simpatis, sistem renin angiotensin aldosteron, retensi cairan serta peningkatan reabsorbsi natrium akan menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi juga dapat terjadi akibat gagal ginjal yang disebabkan oleh peningkatan reabsorbsi natrium dan progresifitas hiperfiltrasi (Lilyasari, 2007).

Dokumen terkait