NILAI SENSITIVITAS TITIK POTONG INDEKS MASSA
TUBUH SEBAGAI ALAT PREDIKTOR PRAHIPERTENSI
PADA ORANG DEWASA
(≥18 TAHUN)
DI INDONESIA
(Analisis Riskesdas 2013)
SKRIPSI
diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
Oleh :
MOH. HATAN FAHLEDI 1111101000140
PEMINATAN GIZI
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF
HIDAYATULLAH JAKARTA
iv UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT PEMINATAN GIZI
Skripsi, Juni 2016
Moh. Hatan Fahledi, NIM : 1111101000140
Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks Massa Tubuh sebagai Prediktor Prahipertensi pada Orang Dewasa (≥18 Tahun) di Indonesia (Analisis Riskesdas 2013)
(57 halaman, 11 tabel, 5 skema, 3 lampiran)
ABSTRAK
Hipertensi merupakan salah satu penyebab kamatian tertinggi di Indonesia yang kasusnya meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai titik potong IMT sebagai alat prediktor prahipertensi orang dewasa (≥18 tahun) di Indonesia dengan nilai sensitivitas paling optimal berdasarkan data Riskesdas 2013. Adapun sampel yang digunakan adalah sampel Riskesdas 2013 dengan jumlah keseluruhan sampel sebesar 613.505 responden. Selanjutnya, berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh sampel pria sebesar 221.909 responden dan sampel wanita sebesar 216.433 responden.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian cross sectional sebagai penelitian lanjutan Riskesdas 2013 yang menggunakan uji diagnostik untuk mencari nilai titik potong Indeks Massa Tubuh sebagai alat prediktor prahipertensi di Indonesia. Sedangkan analisis data yang digunakan merupakan metode analisis uji diagnostik dengan mengaplikasikan tabel 2x2 untuk menghitung nilai sensitivitas IMT sesuai jenis kelamin. Dalam hal ini, analisis tabel 2x2 dilakukan pada setiap titik potong 22,23,24,25,26 dan 27.
v SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY JAKARTA FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
UNDERGRADUATE PROGRAM IN PUBLIC HEALTH STUDIES SPECIALIZATION IN NUTRITION
Final Year Project, June 2016
Moh. Hatan Fahledi, SID: 1111101000140
Sensitivity of the Body Mass Index (BMI) Cut-Offs as a Predictor of Pre-hypertension in Adults (≥18 yo) in Indonesia (Riskesdas Analysis, 2013)
(57 pages, 11 tables, 5 schemes, 3 apendices)
ABSTRACT
The cases of hypertension which become one of the leading causes of death in Indonesia have increased from year to year. This study aims at determining the Body Mass Index (BMI) cut-offs as a predictor of Pre-hypertension in Adults in Indonesia with the most optimal sensitivity based on Riskesdas (National Basic Health Research) data 2013. Therein, it uses Riskesdas 2013’s samples with a total of 613.505 respondents. Being categorized by an inclusion and exclusion criteria, 221.909 male respondents and 216.433 female respondents are finally collected. Further, this study applies cross sectional research design as an advanced research by Riskesdas 2013 that uses a diagnostic test to identify the BMI cut-off points as a predictor of Pre-hipertension in Indonesia. In addition, it uses diagnostic test for 2x2 (cross-tabulation) table as data analysis to measure sensitivity of the BMI by gender. Here, the 2x2 table analysis is conducted at each cut-off point (22,23,24,25,26 and 27).
As the results, this study shows that the BMI cut-off point with the most optimal sensitivity in men and women is 22. In details, the cut-off point 22 offers 52.7% sensitivity for men which means it can filter 52.7% men respondents with pre-hypertension status. Meanwhile, it results in 61.4% sensitivity for women which indicates its accuracy to screen 61.4% women respondents with pre-hypertension status. Referring to the results of the study, the writer recommends that the Ministry of Health should consider some policy change or making on the best IMB cut-off points as a reference to predict the pre-hypertension status and to prevent the hypertension cases among society.
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Moh. Hatan Fahledi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tempat, Tanggal Lahir : Blitar, 08 Oktober 1993
Alamat : Lingk. Tawangrejo, Kel. Tawangsari RT 02 / RW 10 Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar
No. Telepon : 085707543650
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan
2011-sekarang : Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2008-2011 : MA Ma’arif NU Kota Blitar 2005-2008 : MTs Ma’arif NU Kota Blitar
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks Massa Tubuh sebagai Prediktor Kejadian Prahipertensi pada Orang Dewasa (≥18 tahun) di Indonesia”. Penyusunan skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar sarjana kesehatan masyarakat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Saya menyadari bahwa berbagai hambatan saya temukan pada proses penulisan penelitian ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak, penulisan penelitian ini dapat terselesaikan. Bersama ini saya sampaikan terima kasih sebanyak banyaknya kepada :
1. Dr. Arif Sumantri, SKM, M.Kes, selaku dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Fajar Ariyanti, SKM, M.Kes,Ph.D, selaku ketua program studi Kesehatan Masyarakat.
3. Ir. Febrianti, M.Si, selaku dosen pembimbing pertama yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan arahan, tenaga dan ilmu untuk membimbing saya dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. dr. Yuli Prapanca Satar MARS, selaku dosen pembimbing kedua yang juga telah bersedia memberikan bimbingan dengan tenaga, waktu serta ilmu sehingga mempermudah saya dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini. 5. Orang tua yang selalu memberikan doa, dukungan baik moril maupun materil
kepada saya sehingga penyelesaian penulisan laporan ini terasa menjadi lebih mudah.
6. Kementerian Agama Republik Indonesia yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melanjutkan kuliah dan belajar menempuh studi S1 di FKIK UIN Jakarta melalui Program Beasiswa Santri Berprestasi.
viii 8. Sahabat Gizi 2011 yang selalu memberikan semangat dan dorongan tanpa rasa lelah sehingga proses penulisan penelitian ini menjadi hal yang menyenangkan. 9. Seluruh sahabat seperjuangan Kesehatan Masyarakat 2011 UIN Jakarta yang
memberikan dukungan dengan kebersamaan dan waktu yang menyenangkan sehingga penulisan skripsi ini tidak terlupakan.
ix
DAFTAR ISI
Lembar Pernyataan Persetujuan Pembimbing ... i
Lembar Persetujuan Penguji ... ii
Lembar Pernyataan ... iii
Abstrak ... iv
Abstract ... v
Daftar Riwayat Hidup ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
C. Pertanyaan Penelitian ... 4
D. Tujuan Penelitian ... 5
1. Tujuan Umum ... 5
2. Tujuan Khusus ... 5
E. Manfaat Penelitian ... 5
1. Bagi Peneliti Lain ... 5
2. Bagi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ... 6
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
A. Hipertensi dan Prahipertensi ... 7
1. Pengertian ... 7
2. Klasifikasi Tekanan Darah ... 7
3. Etiologi Hipertensi ... 8
4. Gambaran Klinis Hipertensi ... 9
5. Fisiologi Tekanan Darah ... 9
6. Dampak Hipertensi ... 11
x
1. Hubungan Obesitas dengan Hipertensi ... 12
2. IMT Sebagai Indikator Obesitas ... 13
3. Patofisiologi Hipertensi Terkait Obesitas ... 14
C. Faktor Risiko Lain ... 17
D. Sensitivitas ... 22
1. Sensitivitas ... 24
E. Kerangka Teori ... 24
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 25
A. Kerangka Konsep ... 25
B. Definisi Operasional ... 26
BAB IV METODE PENELITIAN ... 28
A. Desain Penelitian ... 28
B. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 28
C. Populasi dan Sampel ... 29
1. Populasi ... 29
2. Sampel ... 29
D. Metode Pengumpulan Data ... 32
E. Instrumen Pengumpulan Data ... 32
F. Manajemen Pengumpulan Data ... 34
G. Analisis Data ... 38
BAB V HASIL ... 39
A. Gambaran Karakteristik Responden Penelitian ... 39
B. Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT sebagai Prediktor Prahipertensi pada Pria ... 40
C. Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT sebagai Prediktor Prahipertensi pada Wanita ... 42
BAB VI PEMBAHASAN ... 44
A. Keterbatasan Penelitian ... 44
B. Gambaran Karakteristik Responden Penelitian ... 45
xi
pada Wanita ... 48
BAB VII SIMPULAN DAN SARAN ... 52
A. Simpulan ... 52
B. Saran ... 52
DAFTAR PUSTAKA ... 54
Lampiran ... 58
DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Klasifikasi Tekanan Darah ... 8
Tabel 2.2 Kategori Status Gisi berdasarkan IMT ... 14
Tabel 2.3 Tabel Uji Diagnostik dua kali dua ... 23
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 26
Tabel 4.1 Daftar Variabel dan Kuesioner ... 35
Tabel 5.1 Karakteristik Responden ... 39
Tabel 5.2 Status Prahipertensi pada Responden ... 40
Tabel 5.3 Hasil Penghitungan Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT 22-27 sebagai Prediktor Prahipertensi pada Pria ... 40
Tabel 5.4 Tabel Dua Kali Dua Nilai Titik Potong IMT 22 dengan Status Prahipertensi pada Pria ... 41
Tabel 5.5 Hasil Penghitungan Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT 22-27 sebagai Prediktor Prahipertensi pada Wanita ... 42
Tabel 5.6 Tabel Dua Kali Dua Nilai Titik Potong IMT 22 dengan Status Prahipertensi pada Wanita ... 43
DAFTAR SKEMA Skema 2.1 Fisiologi Tekanan Darah ... 10
Skema 2.2 Patofisiologi Hipertensi Terkait Obesitas ... 14
Skema 2.3 Kerangka Teori ... 24
Skema 3.1 Kerangka Konsep ... 25
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan faktor utama penyebab kematian karena stroke
dan merupakan faktor yang memperberat serangan jantung (Potter dan Perry, 2005). Hipertensi adalah gangguan kesehatan tidak bergejala yang ditandai
dengan peningkatan tekanan darah secara persisten (Potter dan Perry, 2005) sehingga hipertensi juga dapat dikatakan sebagai silent killer. Hipertensi juga didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg
serta tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Kemenkes, 2014). Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan kerusakan pada beberapa organ tertentu seperti pada ginjal, jantung dan otak. Hal tersebut dapat terjadi apabila tidak dilakukan deteksi dini
dan pengobatan yang memadai (Kemenkes, 2014).
Menurut WHO (2013), hipertensi menyumbang sekitar 9,4 juta kematian di dunia setiap tahunnya. Sedangkan di Indonesia, hipertensi menjadi
penyebab kematian ketiga setelah stroke dan TB dengan menyumbang 6,8% proporsi kematian (Depkes, 2009). Data Riset Kesehatan Dasar Kementerian
Kesehatan, menunjukkan bahwa bahwa kejadian hipertensi berdasarkan diagnosis atau gejala di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2007 sebesar 7,6% menjadi 9,4% pada tahun 2013 (Kemenkes, 2013). Selain itu pada
2
tenaga kesehatan (Kemenkes, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa masih
banyak kasus hipertensi yang tidak terdeteksi oleh tenaga kesehatan.
Upaya pencegahan penyakit yang lebih lanjut perlu dilakukan sejak dini
dengan modifikasi gaya hidup. Hal ini disebabkan tekanan darah berhubungan dengan faktor risiko yang dapat diubah seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) (Widjaja dkk, 2013). WHO mengemukakan bahwa deteksi dini hipertensi dapat
memberikan manfaat yang signifikan untuk meminimalisir kejadian serangan jantung, stroke dan juga gagal ginjal (WHO, 2013). Selain itu, deteksi dini
hipertensi juga sangat dibutuhkan untuk mencegah bertambahnya pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol di Indonesia (Kemenkes,
2014).
Penelitian Rahajeng dan Tuminah (2009) menjelaskan bahwa setiap faktor risiko hipertensi mempunyai nilai kecenderungan yang bervariasi.
Berdasarkan faktor risiko yang dapat dikontrol, faktor obesitas mempunyai nilai Odd Ratio (OR) tertinggi dengan nilai sebesar 2,8. Hal tersebut menunjukkan
bahwa orang Indonesia dengan obesitas mempunyai risiko kali lebih besar
terkena hipertensi. Penelitian tersebut diperkuat dengan penelitian Pradono (2010) dan Natalia dkk (2015) yang berturut turut menunjukkan bahwa orang
dengan obesitas mempunyai risiko 2 kali lebih besar terkena hipertensi jika dibandingkan dengan orang yang mempunyai nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) normal.
Obesitas merupakan suatu keadaan penumpukan lemak tubuh yang berlebih (Harahap dkk, 2005). Status obesitas dapat diketahui dengan melihat
3
kuadarat tinggi badan (m2) (Harahap dkk, 2005). Penilaian status gizi dengan
menggunakan IMT lebih sering digunakan karena sederhana, praktis, relatif murah serta dapat dilaksanakan pada banyak orang dengan waktu yang relatif
singkat (Supariasa dkk. 2002).
Titik potong nilai IMT yang digunakan di Indonesia adalah nilai titik potong IMT yang merujuk pada ketentuan WHO. Penggolongan status obesitas
yang digunakan adalah berdasarkan pada nilai IMT ≥27 tanpa membedakan jenis kelamin (Kemenkes,2014). Namun, penelitian Harahap dkk (2005)
dengan menganalisis data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 mengungkapkan bahwa pada nilai IMT >23 sudah mempunyai
risiko 2,1 kali terkena hipertensi dibandingkan dengan IMT <23. Risiko tersebut meningkat menjadi 2,4 pada IMT 25. Selain itu, penelitian Triwinarto dkk pada tahun 2012 juga mengungkapkan bahwa titik potong terbaik untuk risiko
hipertensi adalah berkisar 22-23 untuk laki-laki dan 23-24 untuk perempuan. Sehingga perlu untuk dipertimbangkan tentang perubahan titik potong/cut off point IMT sebagai indikator terjadinya hipertensi di Indonesia (Triwinarto dkk,
2012).
IMT mempunyai peran yang sangat berguna dalam upaya deteksi dini
kejadian hipertensi. Berdasarkan beberapa rekomendasi nilai titik potong IMT yang berbeda sebagai pendeteksi kejadian hipertensi di Indonesia, peneliti tertarik untuk mencari nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling
optimal sebagai alat prediktor prahipertensi untuk mengantisipasi kejadian hipertensi pada orang dewasa di Indonesia. Adapun data yang digunakan adalah
4
B. Rumusan Masalah
Kejadian hipertensi di Indonesia berdasarkan diagnosis atau gejala meningkat dari tahun 2007 ke tahun 2013. Hipertensi juga merupakan salah satu
penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Sebagai upaya pencegahan peningkatan angka hipertensi, alat prediktor prahipertensi yang mudah sangat diperlukan oleh masyarakat. Salah satu prediktor yang dapat digunakan adalah
IMT. Namun, titik potong IMT 27 yang digunakan di Indonesia belum ditetapkan berdasarkan populasi orang Indonesia. Beberapa penelitian telah
merekomendasikan nilai titik potong IMT yang lebih rendah sebagai alat deteksi dini kejadian hipertensi yaitu 22, 23 dan 24. Oleh karena itu, peneliti
ingin mengetahui nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling optimal sebagai alat prediktor prahipertensi pada orang dewasa di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013.
C. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian yang diharapkan dapat terjawab dalam penelitian ini
antara lain:
1. Bagaimana gambaran karakteristik responden pada penelitian?
2. Berapa nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling optimal sebagai alat prediktor prahipertensi pada pria usia ≥18 tahun di Indonesia? 3. Berapa nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling optimal
5
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya nilai titik potong IMT sebagai alat prediktor prahipertensi
orang dewasa (≥18 tahun) di Indonesia dengan nilai sensitivitas paling optimal berdasarkan data Riskesdas 2013.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran karakteristik responden pada penelitian. b. Diketahuinya nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling
optimal sebagai alat prediktor prahipetensi pada pria usia ≥18 tahun di Indonesia.
c. Diketahuinya nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling optimal sebagai alat prediktor prahipertensi pada wanita usia ≥18 tahun di Indonesia.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian yang berjudul “Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks
Massa Tubuh sebagai Alat Prediktor Prahipertensi pada Orang Dewasa (≥18 tahun) di Indonesia” ini diharapkan dapat bermanfaat kepada :
1. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti lain terkait obesitas dan prahipertensi terutama dalam menilai
dan mengevaluasi keseuaian titik potong IMT sebagai alat skrining prahipertensi.
6
Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan
pertimbangan kembali terkait penentuan titik potong indeks masa tubuh sebagai indikator obesitas yang berpengaruh terhadap kejadian
hipertensi untuk masyarakat Indonesia.
F. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian yang berjudul “Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks Massa Tubuh sebagai Alat Prediktor Prahipertensi pada Orang Dewasa (≥18 tahun) di Indonesia” akan dilaksanakan pada tahun 2016. Sampel penelitian ini adalah
data Riskesdas 2013 yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain
studi cross sectional. Analisis yang digunakan adalah analisis tabel 2x2 untuk memperoleh nilai titik potong IMT dengan sensitivitas paling optimal sebagai
7 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hipertensi dan Prahipertensi
1. Pengertian
Hipertensi merupakan gangguan kesehatan tidak bergejala yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara persisten/terus menerus
(Potter dan Perry, 2005). Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan konsisten di atas 140/90 mmHg pada dua kali
pengukuran dalam selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat (Kemenkes, 2014). Sedangkan Prahipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah sistolik mencapai 120-139 mmHg atau tekanan darah
diastolik mencapai 80-90 mmHg (JNC VIII, 2015).
Diagnosis hipertensi tidak berdasarkan pada peningkatan tekanan
darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus diukur dalam keadaan duduk dan berbaring (Baradero dkk, 2008). Hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistol yang tinginya tergantung umur. Tekanan darah juga
berfluktuasi dalam batas - batas tertentu tergantung posisi tubuh, umur dan tingkat stress yang dialami (Tambayong, 2000).
2. Klasifikasi Tekanan Darah
Tekanan darah menurut JNC VIII (2015) dapat dibedakan sesuai
8
Tabel 2.1. Klasifikasi Tekanan Darah Orang Dewasa Usia ≥18 Tahun
Kategori Sistolik
(mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prahipertensi 120-139 80-89
Hipertensi stadium 1 140-159 90-99
Hipertensi stadium 2 ≥160 ≥100
Sumber : JNC VIII (2015)
3. Etiologi Hipertensi
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder (Sherwood,
2011).
a. Hipertensi Primer/Hipertensi Esensial
Hipertensi primer merupakan hipertensi yang disebabkan oleh berbagai hal yang tidak diketahui pasti. Hipertensi primer terjadi pada 90% kasus hipertensi yang ada (Sherwood, 2011). Namun diketahui ada
beberapa faktor risiko pada hipertensi ini (Baradero dkk, 2008). b. Hipertensi Sekunder/Hipertensi Non Esensial
Hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh suatu penyakit atau gangguan tertentu (Baradero dkk, 2008). Gangguan atau penyakit utama yang menyebabkan hipertensi sekunder adalah
9
arteri renalis. Sedangkan untuk gangguan sistem endokrin dapat
disebabkan diantaranya oleh penyakit tiroid dan penyakit adrenal (Tedjasukmana, 2012).
4. Gambaran Klinis Hipertensi
Hipertensi tidak mempunyai gejala yang spesifik. Beberapa gejala
seperti nyeri kepala, rasa lelah, dan pusing kadang-kadang dianggap disebabkan oleh hipertensi. namun, gejala nonspesifik tersebut tidak lebih
sering terjadi pada penderita hipertensi daripada orang dengan tekanan darah normal (McPhee dan Ganong, 2010).
5. Fisiologi Tekanan Darah
Tekanan darah merupakan tekanan yang diberikan oleh darah pada
dinding pembuluh darah. Terdapat dua penentu yang mengatur tekanan darah yaitu curah jantung dan resistensi/tahanan perifer (Baradero, 2008). Pengaturan tekanan darah dapat dirumuskan sebagai berikut :
10
Skema 2.1 Fisiologi Tekanan Darah (Sherwood, 2011)
Sebagaimana dapat dilihat pada skema 2.1, tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan resistensi perifer total. Untuk
mempertahankan tekanan darah, curah jantung dan resistensi perifer masing-masing dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Curah jantung merupakan jumlah darah yang dipompa masuk aorta
oleh kedua ventrikel jantung dalam setiap menitnya. Curah jantung bergantung pada kecepatan jantung saat memompa. Kecepatan jantung
sendiri juga bergantung pada aktivitas simpatis dan parasimpatis. Selain itu, curah jantung juga tergantung pada isi sekuncup yang merupakan jumlah darah yang dipompakan dalam sekali denyutan. Isi sekuncup sendiri juga
11
Resistensi perifer total merupakan tahanan aliran darah pada arteri
dan arteriol. Resistensi perifer total bergantung pada jari-jari arteriol serta kekentalan darah. Dalam penentuan resistensi perifer total, jari-jari arteriol
merupakan faktor yang lebih penting. Jari-jari arteriol sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kontrol metabolik lokal yang terjadi pada aktifitas otot rangka serta kontrol vasokonstriktor ekstrisik. Sedangkan
kekentalan darah dipengaruhi oleh jumlah sel darah merah (Sherwood, 2011).
Perubahan pada setiap faktor akan mempengaruhi tekanan darah dan akan mengubah tekanan darah. Apabila terdapat kenaikan dari salah satu
faktor makan tekanan darah akan ikut naik. Tekanan harus cukup tinggi untuk menjamin tekanan yang memadai pada otak dan organ yang lain. Namun, tekanan juga harus tidak terlalu tinggi yang akan menimbulkan
tambahan kerja jantung dan meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah (Sherwood, 2011).
6. Dampak Hipertensi
Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu
lama dapat menyebabkan kerusakan pada beberapa organ tertentu seperti pada ginjal, jantung dan otak. Hal tersebut dapat terjadi apabila tidak dilakukan deteksi dini dan pengobatan yang memadai (Kemenkes, 2014).
Hipertensi dapat menimbulkan stress pada jantung dan pembuluh darah. Hal ini terjadi karena jantung mendapatkan beban kerja yang lebih
12
lebih tinggi. sementara pembuluh darah mungkin rusak akibat tekanan
internal yang tinggi terutama ketika dinding pembuluh darah melemah akibat proses degeneratif aterosklerosis. Sehingga dapat mengakibatkan
kerusakan pada berbagai organ (Sherwood, 2011).
Komplikasi hipertensi bisa meliputi gagal jantung kongestif yang merupakan akibat dari ketidakmampuan jantung untuk memompa darah
melawan tekanan arteri yang terus menerus tinggi, kemudian stroke akibat pecahnya pembuluh darah otak, gagal ginjal karena gangguan pregesif
aliran darah melalui pembuluh darah (Sherwood, 2011). Hal serupa bisa terjadi pada organ lain apabila pembuluh darah pada organ tersebut
mengalami kerusakan.
B. Obesitas Sebagai Faktor Resiko Hipertensi
1. Hubungan Obesitas dengan Hipertensi
Obesitas merupakan faktor risiko kejadian hipertensi primer (Heuther dan Kathryn, 2012). Obesitas adalah suatu keadaan penumpukan
lemak tubuh yang berlebih yang terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang keluar, sehingga berat badan
seseorang melebihi batas normal dan dapat membahayakan kesehatan (Harahap dkk, 2005).
Hipertensi dan obesitas merupakan kelainan yang mempunyai
kaitan erat meskipun mekanisme pasti obesitas yang yang berhubungan dengan hipertensi masih belum jelas (Lilyasari, 2007). Di Indonesia, orang
13
(Rahajeng dan Tuminah, 2009). Hal serupa juga diungkapkan oleh
penelitian Pradono (2010), bahwa responden dengan berat badan berlebih di daerah perkotaan di Indonesia mempunyai peluang 2,3 kali lebih besar
menderita hipertensi dibandingkan responden dengan berat badan normal. Sedangkan penderita obesitas di Kecamatan Sintang, Kalimantan Barat mempunyai risiko hipertensi 2,2 kali lebih besar dibandingkan dengan
mereka yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) normal (Natalia dkk, 2015).
2. Klasifikasi IMT
Indeks Massa Tubuh mempunyai korelasi yang kuat dengan lemak tubuh. Definisi operasional obesitas dan overweight didasarkan atas IMT. IMT merupakan ekuasi antara berat badan (kg) dibagi dengan tinggi badan
kuadrat (m2) (Lilyasari, 2007).
Nilai IMT yang digunakan untuk menilai status gizi seseorang berbeda beda disetiap negara menyesuaikan karakteristik penduduk negara masing
masing. Di Indonesia, titik potong IMT yang digunakan adalah titik potong IMT yang merujuk pada anjuran WHO. Batasan IMT yang digunakan untuk
14
Tabel 2.2 Kategori Status Gizi berdasarkan IMT
Kategori Sistolik (mmHg)
Kurus <18,5
Normal ≥18,5 - <24,9
Berat Badan Lebih ≥25 - <27,0
Obesitas ≥27
Sumber : Kemenkes (2014)
3. Patofisiologi Hipertensi Terkait Obesitas
Obesitas mempunyai hubungan yang erat secara langsung dengan
kejadian hiprtensi. Hubungan tersebut terkait dengan komposisi lemak berlebih serta massa tubuh. Penjelasan hubungan tersebut meliputi :
Skema 2.2 Patofisiologi Hipertensi Terkait Obesitas (Lang, 2009).
a. Adiposit (sel lemak) yang berlebih pada penderita obseitas akan
15
glukosa. Resistensi insulin akan mengakibatkan kompensasi
pankreas yang berlebih sehingga akan mengakibatkan hiperinsulinemia. Kenaikan insulin akan mengakibatkan
peningkatan reabsorbsi Na pada tubulus ginjal yang akan sekaligus meningkatkan reabsorbsi air. Sehingga volume darah meningkat dan akan menaikkan tekanan darah yang secara terus menerus akan
mengakibatkan hipertensi (Lang, 2009).
b. Adiposit pada obesitas juga memproduksi adipokin. Adipokin
sendiri akan menurunkan beberapa hormon seperti leptin, angiotensin serta aldosteron (Lang, 2009).
1. leptin
leptin merupakan sebuah protein yang dikoding oleh gen obesitas. Kadar leptin sendiri mempunyai korelasi dengan
cadangan jaringan lemak tubuh (Lilyasari, 2007). Adanya leptin akan memicu beberapa reaksi termasuk pada keseimbangan energi dan nafsu makan. Leptin secara langsung akan
mempengaruhi tonus dan pertumbuhan pembuluh darah. Selain itu, leptin juga meregulasi aktifitas saraf simpatis yang
berpengaruh pada kontriksi pembuluh darah. Korelasi yang kuat juga terdapat pada konsentrasi plasma leptin dengan aktifasi sistem saraf simpatis ginjal. Sehingga stimulasi simpatis renal
16
2. Angiotensin
Adiposit (sel lemak) yang berlebih pada penderita obesitas akan memproduksi angiotensin, kemudian angiotensin melalui
SRAA (sistem renin-angiotensin aldosteron) akan diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II tersebut mempunyai sifat sebagai Vasokonstriktor yang mana akan menyebabkan
resistensi vaskular perifer. Resistensi vaskuler yag meningkat merupakan salah satu kunci penyebab peningkatan tekanan
darah. Selain itu angiotensin II juga meningkatkan retensi Na+ dan H2O yang akan menyebabkan volume darah meningkat.
Volume darah yang meningkat juga akan menyebabkan tekanan darah yang meningkat (Lilly, 2011).
c. Pada penderita obesitas, sel lemak yang berlebih akan meningkatkan
tekanan mekanik pada ginjal. Tekanan mekanik yang meningkat pada ginjal akan meningkatkan kegiatan reabsorbsi pada tubulus ginjal. Sehingga peningkatan reabsorbsi Na pada ginjal juga
meningkat dan secara jangka waktu tertentu akan meningkatkan tekanan darah (Lang, 2009).
d. Peningkatan massa tubuh berhubungan dengan volume darah (Lilly, 2011). Bertambahnya massa tubuh akan mempengaruhi volume darah sehingga volume darah menigkat. Peningkatan volume darah
17
e. Adiposit (sel lemak) berlebih pada obesitas bersifat profibrinogen
dan juga sebagai plasminogen activator inhibitor (penghambat aktifasi plasma darah). Hal tersebut akan meningkatkan viskositas
(kekentalan darah) yang akan meningkatkan resistensi vaskular perifer. Sehingga akan menyebabkan terjadinya hipertensi (Lilly, 2011).
C. Faktor Risiko Lain
1. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor risiko terjadinya hipertensi
primer (Heuther dan McCance, 2012). Nikotin dan tar yang terkandung dalam rokok mempunyai respon terhadap sekresi hormon vasokontriktor sehingga akan meningkatkan beban kerja jantung (Muttaqin, 2009).
Penelitian di daerah perkotaan di Indonesia menunjukkan bahwa responden yang merokok 20 tahun atau lebih mempunyai presentase yang lebih banyak yang menderita hipertensi dibandingkan responden yang
merokok kurang dari 20 tahun. Selain itu, mereka yang lama merokok 20 tahun atau lebih mempunyai peluang 1,5 kali menderita hipertensi
dibandingkan yang merokok kurang dari 20 tahun (Pradono, 2010).
2. Konsumsi Garam
Konsumsi garam berlebih merupakan faktor risiko terjadinya kejadian hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Konsumsi
18
osmosis, garam menahan air sehingga meningkatkan volume darah dan
berperan dalam kontrol jangka panjang tekanan darah (Sherwood, 2011). Penelitian Sigarlaki (2006) juga mengemukakan bahwa terdapat hubungan
antara faktor makanan terhadap jenis hipertensi. Selain itu, penelitian Sugiarto (2007) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan makan asin akan berisiko terserang hipertensi 3,95 kali lipat dibandingkan
orang yang tidak terbiasa mengokonsumsi makanan asin.
3. Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, tidak ada perbedaan yang signifikan antara tekanan darah pada laki-laki atau perempuan secara klinis. Namun,
pria cenderung memiliki bacaan tekanan darah yang lebih tinggi setelah pubertas. Sedangkan pada wanita cenderung memiliki tekanan darah lebih
tinggi setelah menopause daripada pria pada usia tersebut (Potter dan Perry, 2005).
Prevalensi penderita hipertensi di Indonesia menunjukkan bahwa
prevalensi hipertensi pada wanita lebih tinggi daripada laki-laki pada tahun 2007 maupun 2013 (Kemenkes, 2014). Hal serupa juga diungkapkan oleh
19 4. Umur
Umur merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Prevalensi hipertensi di Indonesia
berdasarkan terdiagnosis tenaga kesehatan dan pengukuran menunjukkan bahwa terjadi peningkatan dengan bertambahnya umur (Kemenkes, 2014). Hal serupa juga diungkapkan oleh penelitian Pradono (2010) yang
menunjukkan presentase responden hipertesi di daerah perkotaan di Indonesia meningkat sejalan dengan meningkatnya kelompok umur
dimana pada responden umur 45 tahun atau lebih, meningkat 2,7 kali dibanding responden dengan umur kurang dari 45 tahun. Selain itu,
mereka yang berumur lebih dari 45 tahun mempunyai peluang mendapatkan hipertensi 2,4 kali dibandingkan dengan kelompok umur kurang dari 45 tahun (Pradono, 2010)
5. Riwayat Keluarga
Riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga merupakan faktor
risiko terjadinya hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Faktor riwayat keluarga tidak dapat dirubah. Jika terdapat satu atau dua orang dari
orangtua atau saudara kandung menderita hipertensi maka peluang seseorang terkena hipertensi semakin besar. Sebesar 25% dari kasus hipertensi esensial dalam keluarga mempunyai dasar genetis (Casey dan
20
hipertensi 4,04 kali dibandingkan dengan orang yang orangtuanya tidak
menderita hipertensi.
6. Ras
Faktor ras merupakan fator risiko hipertensi primer (Heuther dan McCance, 2012). Frekuensi hipertensi pada orang afrika amerika lebih
tinggi daripada orang eropa amerika. Kematian yang dihubungkan dengan hipertensi juga lebih banyak pada orang afrika amerika. Kecenderungan
populasi ini terhadap hipertensi berhubungan dengan hubungan genetik dan lingkungan (Potter dan Perry, 2005).
7. Konsumsi Alkohol Berlebih
Konsumsi alkohol berlebih merupakan faktor risiko hipertensi
primer (Heuther dan McCance, 2012). Mengkonsumsi munuman beralkohol secara berlebihan tiga kali atau lebih dalam sehari merupakan faktor penyebab 7% kasus hipertensi (Casey dan Herbert, 2012). Di daerah
perkotaan di Indonesia hubungan signifikan peminum alkohol dengan hipertensi tidak nampak. Hal tersebut dimungkinkan karena minuman
alkohol masih banyak yang tradisional dan sulit diketahui kadar alkoholnya sehingga catatan dosis yang diminum oleh responden sulit untuk diketahui (Pradono, 2010). Sebaliknya, penelitian lain
21
sistolik/diastolik rata-rata 2,7/1,6 mmHg lebih tinggi dibanding bukan peminum alkohol. Sedangkan peminum berat (≥300 ml/minggu) pada
perempuan meningkatkan tekanan darah 3,9/3,1 mmHg lebih tinggi
dibandingkan dengan bukan peminum (Marmot dkk, 1994 dalam Pradono 2010).
8. Obat - obatan
Salah satu faktor risiko penyebab hipertensi sekunder adalah
konsumsi beberapa obat tertentu seperti obat kontrasepsi oral, kortikosteroid dan antihistamin (Heuther dan McCance, 2012). Penelitian Sugiharto (2007) mennunjukkan bahwa menggunakan pil KB selama 12
tahun berturut-turut berisiko terkena hipertensi sebesar 5,38 kali dibandingkan orang tidak menggunakan pil KB selama 12 tahun
berturut-turut. Hal tersebut diperkuat dengan penelitian Pangaribuan dan Dina (2015) yang mengungkapkan bahwa pada wanita berusia 15-49 tahum di Indonesia yang menggunakan kontrasepsi pil berisiko 1,4 kali mengalami
hipertensi dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan kontrasepsi pil.
9. Intoleransi Glukosa
Intoleransi Glukosa merupakan faktor risiko terjadinya hipertensi
22
darah normal dan merupakan keadaan yang mendahului kejadian diabetes
mellitus.
Telah lama dibuktikan bahwa intoleransi glukosa dan kejadian
hipertensi mempunyai hubungan yang sangat erat. Modan dkk (1984) mengemukakan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan antara intoleransi glukosa dan hipetensi yang mempunyai nilai p (<0.001).
10.Penyakit Ginjal
Penyakit ginjal merupakan faktor risiko penyakit hipertensi sekunder (Heuther dan McCance, 2012). Perubahan struktur dan fungsi
ginjal akan berkolaborasi dan menghasilkan aktivasi sistem simpatis dan sistem renin angiotensin aldosteron sehingga akan menyebabkan terjadinya retensi cairan. Aktivasi sistem simpatis, sistem renin
angiotensin aldosteron, retensi cairan serta peningkatan reabsorbsi natrium akan menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi juga dapat terjadi akibat gagal ginjal yang disebabkan oleh peningkatan reabsorbsi natrium
dan progresifitas hiperfiltrasi (Lilyasari, 2007).
D. Sensitivitas
Sensitivitas adalah kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil positif dan benar sakit (Budiarto dan Dewi,
2003). Sensitivitas merupakan proporsi subyek yang sakit dengan hasil uji diagnostik positif (positif benar) dibanding seluruh subyek yang sakit (positif
23
dilakukan pada sekelompok subjek yang sakit (Sastroasmoro dan Ismael,
2014).
Sensitifitas memperlihatkan kemampuan alat diagnostik untuk
mendeteksi suatu penyakit (Sastroasmoro dan Ismael, 2014). Hal ini berkaitan dengan pernyataan berapa kemampuan suatu alat diagnosis atau suatu pemeriksaan untuk menghasilkan hasil positif. Nilai sensitivitas semakin baik
apabila persentase semakin tinggi.
Adapun langkah untuk menentukan nilai sensitivitas adalah dengan uji
diagnostik tabel dua kali dua menggunakan rumus a : (a + c) (Dahlan, 2009). sebagaimana pada tabel berikut.
Tabel 2.3 Tabel uji diagnostik dua kali dua
Baku Emas Positif Negatif
Indeks Positif a b a + b
Negatif c d c + d
24 E. Kerangka Teori
Skema 2.3 Kerangka Teori
Sumber : Adaptasi Lang (2009); Harahap dkk (2005); Triwinarto (2012) dan Kemenkes (2014)
Kerangka teori pada penelitian ini mengadaptasi teori Lang (2009) yang mengemukakan bahwa terdapat mekanisme patofisiologis hipertensi pada orang
berstatus obesitas. Namun, terdapat beberapa nilai rekomendasi titik potong IMT sebagai alat deteksi dini kejadian hipertensi. Harahap dkk (2005) merekomendasikan titik potong IMT 23. Triwinarto (2012) merekomendasikan
titik potong IMT 22 sampai 23 pada laki-laki dan titik potong 23 sampai 24 untuk perempuan. Sedangkan kemenkes (2014) menggunakan titik potong IMT 27
sebagai batas titik potong IMT status obesitas yang dapat mengganggu kesehatan.
Obesitas Prahipertensi
Titik potong Indeks
25 BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka Konsep
Skema 3.1. Kerangka Konsep
Kerangka teori menggambarkan bahwa obesitas dapat mengakibatkan kejadian hipertensi dan terdapat beberapa rekomendasi nilai
titik potong IMT yang telah direkomendasikan untuk mendeteksi kejadian hipertensi. Penelitian ini menganalisis titik potong IMT 22-27 dengan menilai sensitivitas hasil uji diagnostik berdasarkan tabel 2x2 pada setiap
titik potong apabila digunakan sebagai alat prediktor kejadian prahipertensi berdasarkan jenis kelamin. Adapun beberapa faktor risiko lain terhadap
hipertensi digeneralisir pada penelitian ini. Hal tersebut mengingat tujuan analisis titik potong IMT terhadap status prahipertensi dalam penelitian ini adalah untuk keperluan skrining dasar pada masyarakat umum yang tidak
diketahui faktor risiko lain pada setiap individu.
Prahipertensi Titik potong Indeks Massa
26 A. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur
Cara
1. Prahipertensi Keadaan responden dengan rata-rata hasil 2 kali pengukuran tekanan darah sistolik 120-139 mmHg atau tekanan darah diastolik 80-89 mmHg. Jika terdapat perbedaan ≥10 mmHg antara hasil pengukuran pertama dan kedua, maka dilakukan pengukuran tekanan darah ketiga sehingga status hipertensi ditentukan berdasarkan rata-rata hasil 3 kali darah diastolik 80-90 mmHg)
1. Normal (<120/80 mmHg)
27
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur
Cara
Pengambilan
Data
Hasil Ukur Skala Ukur
Variabel Independen
1. Titik Potong Indeks Massa Tubuh
28
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain penelitian cross sectional sebagai penelitian lanjutan Riskesdas 2013. Penelitian ini merupakan uji diagnostik untuk mencari nilai titik
potong Indeks Massa Tubuh sebagai alat prediktor prahipertensi di Indonesia. Uji diagnostik dilakukan dengan menghitung nilai
sensitivitas IMT sesuai jenis kelamin.
B. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan UIN Syarif Hidayatullah jakarta pada Maret 2016 hingga Mei
29
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah orang dewasa usia ≥18 tahun pada seluruh rumah tangga biasa yang menjadi sampel
penelitian Riskesdas 2013 mewakili 33 propinsi di Indonesia berdasarkan listing sensus penduduk (SP) 2010. adapun jumlah orang dewasa ≥18 tahun dalam penelitian tersebut adalah 665.920
orang.
2. Sampel
Sampel dalam penelitian Riskesdas 2013 untuk estimasi nasional ditentukan dengan dua tahap penarikan sampel yaitu dengan tahap berstrata dan subsampel proporsi dari estimasi
provinsi. Tahapannya sebagai berikut :gk/md
a. Tahap pertama adalah memilih 250 kabupaten/kota secara probability proportional to size with replacement (PPS WR).
Metode ini memanfaatkan informasi jumlah rumah tangga perkabupaten/kota hasil SP2010 sebagai ukuran (size) yang
dijadikan sebagai dasar peluang dalam pemilihan sampel. Dari hasil penarikan sampel, jumlah realisasi sampel yang efektif (effective sample size) sebanyak 177 kabupaten/kota.
30
sampling dari daftar BS yang digunakan dalam MDG’s yaitu sejumlah 1000 BS. Hasil yang didapatkan berdasarkan estimasi
nasional adalah sebanyak 25.000 ruta (1.000 BS) sebagai total sampel rumah tangga minimal. Sampel blok sensus dialokasikan
menurut daerah perkotaan dan perdesaan.
Sedangkan data yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah data individu yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
Adapun kriteria Eksklusi dan insklusi serta Kriteria Inklusi adalah : a. Kriteria Inklusi
1) Responden dengan umur ≥18 tahun 2) Diukur tekanan darahnya
3) Diukur data IMT (tinggi badan dan berat badan)
b. Kriteria Eksklusi 1) Hipertensi
31
Sehingga didapati alur pemilihan sampel dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
Skema 4.1 Alur Pengambilan Sampel
Populasi dengan kriteria
Inklusi usia ≥18 tahun,
diukur tekanan darah,
serta diukur data IMTnya
(613.505)
Sampel pria yang telah
sesuai dengan kriteria
inklusi dan eksklusi
(221.909)
Eksklusi penderita
hipertensi (168.613)
Populasi dengan Eksklusi
penderita hipertensi
(444.892)
Eksklusi wanita hamil
(6550)
Sampel wanita yang
telah sesuai dengan
kriteria inklusi dan
32
Berdasarkan alur pengambilan sampel sebagaimana pada skema 4.1, data sampel akhir yang didapat dalam penelitian ini adalah 221.909 jiwa
sampel pria dan 216.433 sampel wanita.
D. Metode Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data
sekunder hasil Riskesdas tahun 2013 yang telah dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan (BALITBANGKES) RI. Peneliti melakukan observasi kuesioner Riskesdas tahun 2013 terlebih dahulu untuk mengetahui
beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan untuk penelitian terkait data yang dibutuhkan dalam penelitian. Selanjutnya peneliti meminta izin secara resmi kepada Badan Litbang Kesehatan
untuk menggunakan data Riskesdas 2013 sebagai data sekunder yang akan di analisis.
E. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Riskesdas rumah tangga 2013 (RKD13.RT) serta kuesioner
Riskesdas individu 2013 (RKD13.IND). Adapun variabel beserta instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain :
1. Prahipertensi
rata-33
rata hasil pengukuran tekanan darah yang telah dilakukan pada saat Riskesdas berlangsung. Hasil pengukuran tekanan darah diperoleh
dalam kuesioner individu RKD13.IND pada kolom K bagian pengukuran dan pemeriksaan. Untuk mengetahui hasil pengukuran
tekanan darah pertama dapat diperoleh pada kuesioner dengan kode K05a, K05b, K05c. Untuk mengetahui hasil pengukuran tekanan darah kedua dapat diperoleh pada kuesioner dengan kode K06a,
K06b, K06c. Selanjutnya, untuk mengetahui hasil pengkuran tekanan darah ketiga adalah dengan melihat kuesioner dengan kode
K07a, K07b, K07c. Dari semua kuesioner tersebut akan terlihat apakah responden diukur tekanan darah pertama, kedua dan ketiga atau tidak serta akan terlihat berapa nilai hasil ukur tekanan darah
sistolik maupun diastoliknya. 2. Indeks Massa Tubuh
Data variabel ini tidak ada secara langsung di dalam kuesioner riskesdas. Indeks Massa Tubuh diperoleh dari hasil penghitungan berat badan dalam kilogram dibagi dengan hasil
kuadrat tinggi badan dalam centi meter. Data variabel ini dapat diperoleh pada kuesioner individu Riskesdas RKD13.IND pada
34 3. Jenis kelamin
Data jenis kelamin digunakan untuk mengelompokkan titik
potong IMT pada kelompok laki laki dan perempuan. Data jenis kelamin dapat diperoleh pada kuesioner rumah tangga Riskesdas
RKD13.RT bagian IV kolom 4 dengan kode B4K4. Enumerator Riskesdas tahun 2103 menentukan jenis kelamin berdasarkan observasi langsung dan kartu keluarga serta dengan bertanya
langsung kepada responden. 4. Usia
Data usia digunakan untuk memilih responden yang akan di analisis. Data responden yang di analisis adalah kelompok responden dewasa dengan usia ≥18 tahun. Data usia dapat diperoleh
pada hasil kuesioner rumah tangga RKD13.RT bagian IV kolom 7 dengan kode B4K7.
5. Status kehamilan
Data wanita hamil dalam penelitian ini merupakan data yang akan di eksklusi. Data wanita hamil dapat diperoleh dari hasil
kuesinoner RKD13.IND pada kode B4K11 terkait wanita usia subur.
F. Manajemen Pengumpulan Data
35 1. Filter
Pada tahap ini, peneliti melakukan koreksi terhadap
kelengkapan dan kesesuaian data Riskesdas 2013 yang diperoleh dari Balitbangkes sehingga sesuai dengan data yang dibutuhkan
oleh peneliti.
Adapun data yang dibutuhkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Daftar Variabel dan Kuesioner
No. Variabel Kode Kuesioner
1. Prahipertensi K05A-K07C RKD13.IND
2. Indeks Massa
Tubuh
K01A-K02B RKD13.IND
3. Jenis Kelamin B4K4 RKD13.RT
4. Usia B4K7THN RKD13.RT
5. Status Kehamilan B4K11 RKD13.RT
2. Cleaning
Pada tahap Cleaning, peneliti melakukan penyeleksian data
dengan menghilangkan/mengeluarkan data sesuai dengan kriteria data yang diperlukan. Penyeleksian data dilaksanakan dengan menghilangkan missing data yang terdapat pada variabel
36
kedua, pengukuran tinggi badan serta pengukuran berat badan. Selanjutnya, penyeleksian data dilaksanakan dengan seleksi status
hipertensi dan status kehamilan sehingga diperoleh data yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan
peneliti. 3. Recoding Data
Pada Tahap Recoding data ini peneliti melakukan
pengkodean ulang ataupun membuat kode baru terhadap data yang membutuhkan perubahan kategori sesuai kebutuhan analisis.
Adapun pengkodean ulang dilaksanakan pada beberapa variabel sebagai berikut :
a. Status Tekanan darah
Dataset terkait tekanan darah diperoleh berupa data numerik hasil pengukuran tekanan darah baik tekanan darah
sistolik maupun diastolik. Tekanan darah sistolik yang berupa data numerik dikategorikan menjadi tiga kategori yaitu dengan kode (0) yang berarti normal apabila hasil pengukuran <120,
kode (1) yang berarti prahipertensi apabila nilai hasil pengukuran 120-139 dan kode (2) yang berarti hipertensi
37
yang berarti normal apabila hasil pengukuran <80, kode (1) yang berarti prahipertensi apabila nilai hasil pengukuran 80-89
dan kode (2) yang berarti hipertensi apabila nilai hasil pengukuran ≥90.
Selanjutnya, setelah eksklusi kategori hipertensi dari kedua jenis nilai tekanan darah (sistolik dan diastolik), dilakukan pembuatan kode baru dari kedua variabel kategorik
yang telah dibuat dengan membuat variabel kategorik lagi dengan memberi kode (0) yang berarti status prahipertensi
apabila terdapat salah satu tekanan darah adalah prahipertensi dan kode (1) yang berarti normal.
b. Titik Potong Indeks Massa Tubuh
Nilai Indeks Massa Tubuh merupakan variabel dengan jenis data numerik yang merupakan hasil bagi variabel tinggi
badan terhadap kuadrat variabel berat badan yang keduanya juga merupakan data numerik. Selanjutnya variabel IMT di golongkan kembali berdasarkan titik potong yang ingin di
analisis yaitu 22-27. Sehingga didapatkan variabel-variabel baru dengan titik potong 22,23,24,25,26 dan 27. Dengan kode
38
G. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan metode analisis uji diagnostik
dengan menggunakan tabel 2x2. Analisis tabel 2x2 dilakukan pada setiap titik potong yang akan dianalisis yaitu 22,23,24,25,26 dan 27.
Selanjutnya dilakukan perhitungan pada setiap hasil tabel 2x2 untuk mengetahui nilai sensitivitasnya masing-masing. Selanjutnya nilai sensitivitas diinterpretasikan untuk menggambarkan kecocokan titik
39 BAB V
HASIL
A. Gambaran Karakteristik Responden Penelitian
Adapun karakteristik responden dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Tabel 5.1 Karakteristik Responden
Rata-rata
Jenis Kelamin Usia IMT TDS TDD
Pria 39,02 22,06 119,70 76,72
Wanita 38,14 23,00 115,59 76,99
Responden pria dalam penelitian ini mempunyai rata-rata usia 39,02 tahun dengan rata-rata IMT 22,06 kg/m2, rata-rata tekanan darah sistol
119,7 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastol 76,72 mmHg. Sedangkan responden wanita dalam penelitian ini mempunyai rata-rata usia 38,14 tahun dengan rata-rata IMT 23,00 kg/m2, rata-rata tekanan
darah sistol 115,59 mmHg serta rata-rata tekanan darah diastol 76,99 mmHg.
Adapun status prahipertensi pada responden dapat dilihat pada
40
Tabel 5.2 Status Prahipertensi pada Responden
Prahipertensi
Status prahipertensi pada responden pria adalah sebanyak 140.125 atau sebesar 63,1% sedangkan pada responden wanita terdapat 117.735 atau
sebesar 54,4%.
B. Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT Sebagai Prediktor
Prahipertensi pada Pria
Perhitungan nilai sensitivitas titik potong IMT 22-27 kg/m2
berdasarkan analisis tabel dua kali dua sebagai prediktor kejadian prahipertensi pada pria di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.3
Hasil Penghitungan Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT 22-27kg/m2 sebagai Prediktor Prahipertensi pada Pria
Titik potong IMT Sensitivitas
41
Tabel 5.6 menunjukkan bahwa hasil penghitungan nilai
sensitivitas berdasarkan analisis tabel dua kali dua menunjukkan nilai sensitivitas titik potong IMT tertinggi adalah pada nilai titik potong
22 kg/m2 dengan nilai sensitivitas sebesar 52,7%. Sedangkan nilai titik potong yang mempunyai niliai sensitivitas terendah adalah nilai titik potong IMT 29 kg/m2 dengan nilai sensitivitas 9,2%.
Adapun hasil analisis diagnostik tabel dua kali dua pada nilai titik potong IMT 22 kg/m2 adalah sebagai berikut :
Tabel 5.4 Tabel Dua Kali Dua Nilai Titik Potong IMT 22 kg/m2dengan Status Prahipertensi pada Pria
Status Prahipertensi
Positif Negatif
Titik
potong
IMT 22
Positif 73.784 29.025 102.809
Negatif 66.225 52.689 118.914
Total 140.009 81.714 221.723
Nilai sensitivitas : 73.784/140.009 x 100% = 52,7%.
Berdasarkan tabel 5.7, perhitungan nilai sensitivitas titik potong IMT 22 kg/m2 adalah sebesar 52,7%. Nilai tersebut
42
C. Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT Sebagai Prediktor
Prahipertensi pada Wanita
Perhitungan nilai sensitivitas titik potong IMT 22-27 kg/m2
berdasarkan analisis tabel dua kali dua sebagai prediktor kejadian prahipertensi pada wanita di Indonesia berdasarkan data Riskesdas 2013 dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 5.5
Hasil Penghitungan Nilai Sensitivitas Titik Potong IMT 22-27 kg/m2 sebagai Prediktor Prahipertensi pada Wanita
Titik potong IMT Sensitivitas
22 61,4
23 50,9
24 41,1
25 32,2
26 25,0
27 18,8
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa hasil penghitungan nilai
sensitivitas berdasarkan analisis tabel dua kali dua menunjukkan nilai sensitivitas titik potong IMT tertinggi adalah pada nilai titik potong IMT 22 kg/m2 dengan nilai sensitivitas sebesar 61,4%. Sedangkan
nilai titik potong yang mempunyai niliai sensitivitas terendah adalah nilai titik potong IMT 27 kg/m2 dengan nilai sensitivitas 18,8%.
43
Tabel 5.6 Tabel Dua Kali Dua Nilai Titik Potong 22kg/m2
dengan Status Prahipertensi Status Prahipertensi
Positif Negatif
Titik
potong
IMT 22
Positif 72.244 47.581 11.9825
Negatif 45.418 51.044 96.462
Total 117.662 98.625 216.287
Nilai sensitivitas : 72.244/117.662 x 100% = 61,4%.
Berdasarkan tabel 5.4, perhitungan nilai sensitivitas titik potong IMT 22 kg/m2 adalah sebesar 61,4%. Nilai tersebut menunjukkan bahwa nilai titik potong IMT 22 kg/m2 dapat menyaring
44 BAB VI
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yang kemudian mungkin dapat berpengaruh terhadap hasil penelitian.
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan membandingkan hasil hitung nilai sensitivitas dari hasil uji diagnostik
tabel dua kali dua yang hanya dilakukan pada nilai titik potong IMT 22 kg/m2 sampai 27 kg/m2. Nilai titik potong tersebut merupakan rentang
antara rekomendasi titik potong IMT terendah pada penelitian sebelumnya dengan titik potong obesitas yang digunakan di Indonesia.
Hasil dari nilai sensitivitas IMT pada penelitian ini hanya dapat
digunakan untuk mengetahui jumlah responden yang benar-benar menderita prahipertensi, namun tidak dapat menjelaskan jumlah responden yang tidak berstatus prahipertensi dari total responden.
Dengan demikian, perlu dipertimbangkan nilai analisis diagnostik lain seperti nilai spesifisitas, rasio kemungkinan positif dan rasio
45
B. Gambaran Karakteristik Responden Penelitian
Responden dalam penelitian ini merupakan responden penelitian Riskesdas 2013 yang telah disesuaikan dengan kriteria inklusi dan
eksklusi. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan sebelumnya, didapatkan jumlah data responden akhir yang dianalisis yaitu sebanyak 221.909 responden pria dan 216.433 responden wanita.
Namun sebelum melakukan analisis peneliti merasa perlu untuk mengetahui karakteristik data responden. Sehingga dilakukan analisis
univariat terhadap variabel usia, IMT serta tekanan darah responden untuk selanjutnya dibahas sebagai pertimbangan kesesuaian hasil
analisis.
Responden dalam penelitian ini mempunyai rentang usia 18 tahun sampai dengan 125 tahun dengan rata-rata 39,02 tahun pada responden
pria. Sedangkan rentang usia pada responden wanita adalah 18 tahun sampai dengan 110 dengan rata-rata 38,14 tahun. Adapun rata-rata IMT responden pria pada penelitian ini adalah sebesar 22,06 kg/m2
sedangkan rata-rata IMT responden wanita adalah 23,00 kg/m2.
Berdasarkan status tekanan darah, responden dalam penelitian ini
dibedakan atas tekanan darah normal dan tekanan darah prahipertensi. Dari total responden pria, proporsi responden yang berstatus prahipertensi sebesar 63,1%. Sedangkan pada responden wanita
proporsi responden berstatus prahipertensi lebih sedikit, yakni 54,4% responden yang berstatus prahipertensi. Namun dari kedua sampel baik
46
dari 50%. Hal tersebut menunjukkan bahwa lebih dari separuh total
sampel berstatus prahipertensi dan harus waspada untuk mencegah terjadinya hipertensi.
Pada dasarnya hasil analisis karakteristik responden dalam penelitian ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Departement of Community Health Addis Ababa di Etiopia yang
meneliti hubungan antara IMT dengan tekanan darah di tiga negara yang salah satunya ialah Indonesia. Dalam penelitian tersebut diperoleh
rata-rata IMT pria Indonesia merupakan nilai rata-rata-rata-rata tertinggi dibandingkan rata IMT pria di vietnam dan etiopia. Adapun
rata-rata IMT pria Indonesia dalam penelitian tersebut adalah sebesar 21.17. dalam penelitian tersebut juga mengemukakan bahwa prevalensi hipertensi baik pada wanita maupun pria terdapat di negara Indonesia.
C. Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks Massa Tubuh sebagai
Prediktor Prahipertensi pada Pria
Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan nilai titik potong 22 kg/m2 mempunyai nilai sensitivitas paling optimal di antara rentang
nilai titik potong IMT 22 kg/m2 sampai 27 kg/m2 pada pria dewasa di Indonesia. Pada pria dewasa di Indonesia, titik potong IMT 22 kg/m2 mempunyai nilai sensitivitas sebesar 52,7%. Hal ini menunjukkan
bahwa nilai titik potong IMT 22 kg/m2 dapat menyaring pria yang benar-benar berstatus prahipertensi sebanyak 52,7% dari seluruh sampel pria
47
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Triwinarto dkk
(2012) yang mengemukakan bahwa pada titik potong IMT 22-23 kg/m2 merupakan titik potong yang terbaik untuk digunakan sebagai penentu
risiko hipertensi pada pria. Hasil penelitian juga sejalan dengan hasil penelitian Harahap (2004) yang menunjukkan bahwa pada titik potong IMT >23 kg/m2 mempunyai risiko 2,1 kali lebih terkena hipertensi
dibandingkaan dengan mereka yang mempunyai IMT <23 kg/m2. Di sisi lain, hasil penelitian ini berbeda dengan nilai titik potong
yang digunakan di Indonesia. Hingga saat ini, titik potong IMT masih menggunakan titik potong 27 kg/m2 untuk menentukan status obesitas
yang berisiko. Berdasarkan hasil analisis peneliti, hasil hitung nilai sensitivitas pada titik potong IMT 27 kg/m2 pada pria hanya sebesar 9,2% yang berarti bahwa titik potong IMT 27 kg/m2 hanya dapat
menyaring responden pria yang benar-benar berstatus prahipertensi sebanyak 9,2%.
Berdasarkan nilai sensitivitas yang diperoleh, peneliti
berpendapat bahwa titik potong IMT 22 kg/m2 lebih baik dari pada titik potong 27 kg/m2 jika digunakan sebagai prediktor prahipertensi pada
pria, mengingat nilai sensitivitas menunjukkan persentase responden yang benar-benar berstatus prahipertensi dari total responden pria.
Dengan menggunakan titik potong IMT 22 kg/m2, reseponden
yang benar benar berstatus prahipertensi dapat lebih banyak disaring dibandingkan dengan titik potong 27 kg/m2. Dengan kata lain, jika
48
prahipertensi, responden dengan status prahipertensi semu akan lebih
sedikit dibandingkan menggunakan titik potong IMT 27 kg/m2. Sehingga titik potong 22 lebih tepat digunakan sebagai alat prediksi
awal prahipertensi pada pria di Indonesia.
Jika dibandingkan dengan negara lain, secara etnis Indonesia merupakan golongan etnis asia yang notabene mempunyai bentuk
(frame) tubuh yang relatif lebih kecil dibanding dengan etnis eropa ataupun latin. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Bell dkk dari
departemen nutrisi, sekolah kesehatan masyarakat, University of North Carolina yang meneliti tiga etnis yaitu Cina, Filipina dan Amerika
Serikat menunjukkan bahwa pada dasarnya dari ketiga etnis tersebut mempunyai prevalensi hipertensi yang lebih tinggi pada IMT yang lebih tinggi. Akan tetapi terdapat perbedaan pada etnis Cina terkait hubungan
IMT dan hipertensi, pada level IMT kurang dari 25 hubungan antara IMT dan hipertensi lebih kuat pada pria maupun wanita. Sehingga, peneliti berasumsi bahwa pada etnis Asia termasuk Indonesia pada IMT
yang lebih rendah mempunyai hubungan yang lebih kuat terhadap kejadian hipertensi.
Dengan demikian, berdasarkan penelitian ini, peneliti berpendapat jika seseorang pria dewasa ≥ 18 tahun memiliki IMT 22
direkomendasikan untuk melakukan kontrol tekanan darah secara rutin
49
D. Nilai Sensitivitas Titik Potong Indeks Massa Tubuh sebagai
Prediktor Prahipertensi pada Wanita
Hasil analisis pada sampel wanita menunjukkan nilai titik potong
yang tidak berbeda dengan hasil analisis pada pria yaitu menunjukkan titik potong 22 kg/m2 mempunyai nilai sensitivitas paling optimal di antara rentang nilai titik potong IMT 22 kg/m2 sampai 27 kg/m2. Pada
wanita dewasa di Indonesia, titik potong IMT 22 kg/m2 mempunyai nilai sensitivitas sebesar 61,4%. Hal ini menunjukkan bahwa nilai titik
potong IMT 22 kg/m2 dapat menyaring wanita yang benar-benar berstatus prahipertensi sebanyak 61,4% dari seluruh sampel wanita dewasa pada penelitian Riskesdas 2013 di Indonesia.
Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan nilai sensitivitas paling optimal sebagai prediktor prahipertensi terdapat pada titik potong
yang lebih rendah dari penelitian triwinarto dkk (2012). Penelitian Triwinarto dkk (2012) mengungkapkan titik potong terbaik untuk risiko hipertensi pada wanita adalah pada nilai titik potong 23-24 kg/m2.
Namun, tidak begitu menyimpang dengan hasil penelitian Harahap dkk (2005) yang mengungkapkan bahwa pada titik potong IMT >23 kg/m2
mempunyai risiko 2,1 kali lebih terkena hipertensi dibandingkaan dengan mereka yang mempunyai IMT <23 kg/m2.
Hal tersebut mungkin dapat terjadi karena perbedaan tingkat baku
emas tekanan darah yang digunakan, dimana dalam penelitiain ini kategori yang digunakan adalah status prahipertensi yang secara teoritis
50
Di sisi lain, hasil analisis pada sampel wanita juga berbeda jauh
dengan nilai titik potong yang digunakan di Indonesia. Hingga saat ini, titik potong IMT menggunakan titik potong 27 kg/m2 untuk menentukan
status obesitas yang berisiko tanpa membedakan titik potong IMT berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan hasil analisis peneliti, hasil hitung nilai sensitivitas pada titik potong 27 kg/m2 hanya sebesar 18,8%
yang mana hal tersebut berarti bahwa titik potong IMT 27 kg/m2 pada wanita hanya mampu menyaring 18,8% responden dengan status
prahipertensi dari keseluruhan responden wanita.
Tidak berbeda dengan hasil pada responden pria, berdasarkan
nilai sensitivitas yang diperoleh peneliti berpendapat bahwa titik potong IMT 22 kg/m2 lebih baik dari pada titik potong 27 kg/m2 jika digunakan sebagai prediktor prahipertensi pada wanita, mengingat nilai sensitivitas
menunjukkan persentase responden yang benar-benar berstatus prahipertensi dari total responden wanita.
Dengan menggunakan titik potong IMT 22 kg/m2, reseponden
yang benar benar berstatus prahipertensi dapat lebih banyak disaring dibandingkan dengan titik potong 27 kg/m2. Dengan kata lain, jika
menggunakan titik potong IMT 22 kg/m2 sebagai alat prediksi awal prahipertensi pada wanita, responden dengan status prahipertensi semu akan lebih sedikit dibandingkan menggunakan titik potong IMT 27
51
Hasilnya, sama halnya dengan kasus pada pria, peneliti juga
berpendapat bahwa seorang wanita dewasa usia ≥ 18 tahun yang memiliki IMT 22 diharapkan untuk melakukan kontrol tekanan darah
52 BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis yang telah dilaksanakan dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Rata-rata usia responden pria adalah 39,02 tahun dan rata-rata IMT pada responden pria adalah 22,06 kg/m2, sedangkan rata-rata usia
responden wanita adalah 38,14 tahun dan rata-rata IMT pada responden wanita adalah 23,00 kg/m2. Sementara itu, proporsi status prahipertensi pada pria sebesar 63,1% dan proporsi prahipertensi pada
wanita sebesar 54,4%.
2. Nilai titik potong IMT dengan nilai sensitivitas paling optimal sebagai
prediktor prahipertensi pada pria dan wanita usia ≥ 18 tahun di Indonesia adalah pada titik potong 22 kg/m2.
B. Saran
1. Bagi peneliti lain :
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, penelitian yang lebih
53
kemungkinan positif untuk menentukan titik potong paling optimal
sebagai alat prediktor kejadian prahipertensi.
2. Bagi Kementerian Kesehatan :
Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, perlu dipertimbangkan kembali perubahan atau pembuatan kebijakan tentang
titik potong IMT yang berisiko bagi masyarakat agar dapat dijadikan sebagai acuan upaya pencegahan penyakit hipertensi yang mudah bagi