KEKUATAN KELEMAHAN
5.1. Karakteristik Responden
5.4.1. Faktor Strategi Internal dan Eksternal
pertanian dan tenaga kerja yang tersedia serta kebijakan dari pemerintah tentang harga kakao yang telah ditentukan. Kemudian, cuaca dan kondisi tanah yang mendukung atau sesuai dalam pembudidayaan tanaman kakao. Selanjutnya adanya kerja sama antara petani yang satu dengan yang lainnya dalam hal peningkatan produksi kakao.
Ancaman yang dihadapi petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, tentang peningkatan mutu kakao adalah harga yang tidak menetap dan serangan hama penggangu serta tanaman yang terserang penyakit, kemudian timbulnya persaingan antara petani yang satu dengan yang lain tentang usahatani kakao. Selanjutnya petani kurang mendapat informasi, hal inilah yang memimbulkan perubahan-perubahan pemikiran sebagian petani kakao dan beralih ketanaman lain, faktor ini pula yang menyebabkan semakin berkurangnya petani penghasil kakao karena beralih ketanaman perkebunan yang lebih menguntungkan dari pada tanaman perkebunan seperti kakao saat sekarang seperti halnya tanaman cengkeh yang juga sudah sejak lama dibudidayakan di Kelurahan tersebut.
5.4.1. Faktor Strategi Internal dan Eksternal
Berdasarkan pada hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng tentang strategi peningkatan mutu kakao maka disusunlah faktor-faktor internal (kekuatan dan kelemahan) kedalam formulasi strategi, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 18.
52 Tabel 18. Faktor Strategi Internal
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor Komentar
Kekuatan (Strenght)
1. Adanya motivasi dalam berusahatani kakao 0,15 4 0,60 Inspirasi
2. Pengalaman dalam berusahatani kakao 0,10 2 0,20 Aspek SDM
3. Adanya kelompok tani 0,09 2 0,18 Aspek pemerintah
4. Ketersediaan sarana dan prasarana 0,14 2 0,28 Teknologi SDM
5. Adanya lahan dan ketersediaan bibit unggul 0,10 3 0,30 Aspek SDA
Kelemahan (Weakness)
1. Pendidikan sebagian petani masih rendah 0,03 1 0,03 Diperhatikan
2. Tingkat keterampilan petani masih rendah 0,03 1 0,03 Diperhatikan
3. Tanaman kakao sudah berumur tua 0,13 3 0,39 Tingkatkan
pengolahan 4. Penanganan pasca panen petani kakao kurang
maksimal
0,13 3 0,39 Diperhatikan
5. Petani kakao sulit dalam menetapkan harga 0,10 2 0,20 Kerja sama
dengan pihak lain
Jumlah 1,00 2,60
Sumber : Data Primer yang Telah Diolah, 2014
Pada Tabel 18. menunjukkan bahwa faktor-faktor strategi internal yang memiliki atau menghasilkan skor yang paling tertinggi pada faktor kekuatan adalah adanya motivasi dalam berusahatani kakao yaitu sebesar 0,60 dan skor pada faktor kekuatan yang paling terendah adalah adanya kelompok tani dengan skor faktor kekuatan yaitu sebesar 0,18.
Sedangkan pada faktor kelemahan menunjukkan bahwa skor paling tertinggi adalah tanaman kakao sudah berumur tua dan penanganan pasca panen petani kakao kurang begitu maksimal dengan masing-masing skor faktor kelemahan yaitu sebesar 0,39 dan pada faktor kelemahan yang memiliki skor yang terendah
53 adalah pendidikan sebagian petani masih rendah dan keterampilan petani masih rendah dengan skor pada faktor kelemahan yaitu sebesar 0,03. Total skor matriks strategi internal, kekuatan dan kelemahan yaitu sebesar 2,60.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selanjutnya di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, maka disusunlah faktor eksternal (peluang dan ancaman) kedalam matriks SWOT.
Adapun faktor-faktor strategi eksternal dari hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng tentang peningkatan mutu kakao, dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Faktor Strategi Eksternal
Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor Komentar
Peluang (Opportunies)
1. Pasar lokal maupun luar 0,10 4 0,40 Aspek pemerintah
2. Adanya penyuluh dan tenaga kerja 0,09 2 0,18
Aspek SDM
3. Kebijakan dari pemerintah tentang harga kakao 0,09 2 0,18 Aspek pemerintah
4. Cuaca dan jenis tanah yang mendukung
pembudidayaan tanaman kakao
0,15 4 0,60 Aspek SDA
5. Adanya kerja sama antara petani 0,10 3 0,30 Sosial budaya
Ancaman (Treaths)
1. Harga kakao yang tidak menetap 0,10 2 0,20 Diperhatikan
2. Serangan hama dan penyakit 0,11 3 0,33 Diperhatikan
3. Adanya persaingan antara petani kakao 0,10 3 0,30 Persaingan yang
tinggi 4. Kurangnya informasi dan perubahan pemikiran
sebagian petani
0,05 2 0,10 Kerja sama
dengan pihak lain
5. Semakin berkurangnya petani kakao 0,11 1 0,11 Diperhatikan
Jumlah 1,00 2,70
54 Pada Tabel 19. menunjukkan bahwa faktor strategi eksternal yang memiliki atau menghasilkan skor tertinggi pada faktor peluang adalah cuaca dan jenis tanah yang mendukung dalam pembudidayaan tanaman kakao dengan skor yaitu sebesar 0,60 dan skor yang paling terendah pada faktor peluang adalah adanya penyuluh dan tenaga kerja serta kebijakan dari pemerintah tentang harga kakao dengan skor yaitu sebesar 0,18.
Pada faktor eksternal ancaman, skor yang paling tertinggi adalah serangan hama dan penyakit dengan skor yaitu sebesar 0,33 dan faktor ancaman yang memiliki skor terendah adalah kurangnya informasi dan perubahan pemikiran sebagian petani dengan skor pada faktor ancaman yaitu sebesar 0,10. Total skor matriks strategi eksternal, peluang dan ancaman yaitu sebesar 2,70.
Berdasarkan pada Tabel 18 dan Tabel 19. dalam matriks faktor internal dan eksternal, total skor pembobotan pada faktor internal yaitu sebesar 2,60. Subtotal dari faktor kekuatan yaitu 1,56 dan pada faktor kelemahan yaitu 1,04, artinya Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng mempunyai posisi internal rata-rata, dengan demikian kekuatan yang dimiliki petani kakao dapat mengatasi kelemahan cukup baik dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki. Sedangkan pada matriks eksternal, total skor pembobotan sebesar 2,70. Subtotal dari faktor peluang yaitu sebesar 1,66 dan pada faktor ancaman yaitu 1,04. Berdasarkan nilai skor pembobotan faktor eksternal, berarti di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, cukup baik dalam merespon peluang dan meminimalisasi ancaman yang akan didapatkan petani kakao untuk kedepannya.
55
Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 18 dan Tabel 19. menunjukkan bahwa faktor strategi internal petani kakao yaitu kekuatan (Strength) mempunyai total nilai skor 1,56 dan kelemahan (Weakness) mempunyai total nilai skor 1,04. sedangkan
pada faktor strategi eksternal yaitu menunjukkan bahwa untuk faktor peluang
(Opportunity) dengan nilai skornya 1,66 dan faktor ancaman (threat) 1,04. selanjutnya nilai total skor dari masing-masing faktor dapat dirinci, kekuatan (Strength) 1,56, kelemahan (Weakness) 1,04, peluang (Opportunity) 1,66 dan ancaman (Threat): 1,04. maka diketahui nilai kekuatan (Strength) diatas nilai kelemahan (Weakness) selisih (+) 0,52 dan nilai Peluang (Opportunity) diatas nilai ancaman (Threat) selisih (+) 0,62. Dari hasil identifikasi faktor-faktor tersebut maka dapat digambarkan dalam diagram swot sebagai berikut:
Gambar 4. Diagram Analisis SWOT
Gambar 4. Diagram Analisis SWOT Hasil Pengolaha Data Internal dan Eksternal Peningkatan Mutu Kakao di Kelurahan Gantarangkeke, 2014.
Peluang (1,66) Kekuatan (1,56) Kelemahan (1,04) Ancaman (1,04) II. Strategi Diversifikasi I. Strategi Agresif III. Strategi Turn- around IV. Strategi Defensif 0 0,62 0,52
56 Pada Gambar 4. diagram analisis SWOT, menunjukkan bahwa peningkatan mutu produksi kakao di Kelurahan Gantarangkeke, telah berada pada jalur yang tepat dengan terus melakukan strategi pengembangan (Growth Oriented Strategy) yang dapat meningkatkan pendapatan dari hasil produksi tanaman kakao.
Gambar 4. menunjukkan posisi potensi dalam peningkatan mutu kakao berada pada kuadran I atau strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki untuk pengembangan agribisnis perkebunan unggulan atau disebut dengan strategi agresif.
Strategi agresif yang digunakan berdasarkan faktor kekuatan yang merupakan internal dan faktor peluang yang merupakan faktor eksternal pada potensi wilayah untuk pengembangan agribisnis perkebunan unggulan dengan alternatif strategi: 1). Peningkatan mutu produksi dengan pemamfaatan areal/lahan, penggunaan bibit unggul, pengalaman berusahatani dan peningkatan kebijakan dari pemerintah; 2). Peningkatan keterampilan SDM mengenai pengolahan lahan, pasca panen dan pemasaran hasil komoditi unggulan; 3). Kerja sama dengan pihak lain tentang penanganan hama dan penyakit, peningkatan sarana dan prasaran, dan informasi mengenai harga kakao.
Berdasarakan hasil analisis SWOT petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke yaitu memiliki kekuatan yang dapat dipakai pada strategi tertentu serta memanfaatkan peluang yang tepat serta secara bersamaan meminimalkan atau menghindari kelemahan dan ancaman yang ada. Posisi ini sangat menguntungkan petani kakao dengan memperbaiki kondisi kemampuan sehinggah para petani di Kelurahan tersebut dapat mengendalikan persaingan.
57 5.4.2. Pemilihan Alternatif Stategi
Penentuan alternatif strategi yang sesuai bagi petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke adalah dengan membuat Matriks SWOT. Matriks SWOT dibangun berdasarkan hasil analisis faktor-faktor strategis baik internal maupun eksternal yang terdiri atas faktor kekuatan, kelemahan, peluang, serta ancaman, sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 18. dan Tabel 19.
Matriks swot dapat menggambarkan bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh petani di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng yang dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan internal.
Matriks ini menghasilkan empat alternatif strategi, yaitu strategi S-O, strategi W-O, strategi W-T, dan strategi S-T. Masing-masing strategi ini memiliki karakteristik tersendiri dan dilaksanakan secara bersama-sama serta saling mendukung satu sama lain. Adapun penjelasan mengenai strategi S-O, strategi W-O, strategi W-T, dan strategi S-T, yaitu:
Strategi S-O, Strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan
peluang.
Strategi W-O, Strategi yang menggunakan kekuatan untuk menghindari atau
mengurangi dampak ancaman.
Strategi S-T, Strategi yang bertujuan untuk memperbaiki kelemahan dengan
memanfaatkan peluang.
Strategi W-T, Strategi yang bersifat defensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan dan menghindari ancaman.
58 Berdasarkan analisis faktor strategi internal dan eksternal, maka disusun berbagai alternatif strategi melalui matriks SWOT. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada matriks SWOT berikut ini:
Tabel 20. Matriks SWOT (KKPA)
Faktor Internal
Faktor Eksternal
Kekuatan (S) Kelemahan (W)
1. Adanya motivasi dalam berusahatani
2. Umur dan pengalaman dalam berusahatani kakao 3. Adanya kelompok tani 4. Ketersediaan sarana dan
prasarana
5. Adanya lahan dan bibit unggul
1. Pendidikan sebagian petani masih rendah 2. Tingkat keterampilan
petani masih rendah 3. Tanaman kakao sudah
berumur tua
4. Penanganan pasca panen petani kakao kurang maksimal
5. Petani kakao sulit dalam menetapkan harga
Peluang (O) Strategi (SO) Strategi (WO)
1. Pasar lokal maupun luar 2. Kebijakan dari pemerintah
tentang harga kakao
3. Adanya penyuluh dan tenaga kerja
4. Iklim dan jenis tanah yang mendukung pembudidayaan tanaman kakao
5. Adanya kerja sama antara petani kakao
1. Peningkatan mutu produksi dengan pemanfaatan lahan, penggunaan bibit unggul, pengalaman berusahatani, dan peningkatan kebijakan dari pemerintah (S2, S5, O1, O2)
2. Motivasi yang kuat dan kerja sama antar petani lebih ditingkatkan dari sebelumnya (S1, O5)
1. Peningkatan produktivitas petani (W1, O4, O3, O1) 2. Peningkatan keterampilan
SDM mengenai
pengolahan lahan, pasca panen dan pemasaran hasil (W2, W4, O2, O1)
Ancaman (T) Strategi (ST) Strategi (WT)
1. Harga kakao yang tidak menetap
2. Serangan hama dan penyakit 3. Timbul persaingan antar
petani kakao
4. Kurangnya informasi dan perubahan pemikiran sebagian petani
5. Semakin berkurangnya petani kakao
1. Membuka dan memperkuat jaringan pasar yang baru (S3, S4, T1, T4)
2. Kerja sama dengan pihak lain tentang penanganan hama dan penyakit, peningkatan sarana dan prasarana, dan informasi mengenai harga kakao (S1, T2, T4 )
1. Peningkatan keterampilan produsen terutama dalam hal penentuan harga kakao dan penggunaan teknologi (W2, W5, T1, T4)
2. Pemberdayaan masyarakat dalam upaya menciptakan lapangan kerja yang baru (W1, W2, T3, T5)
59 5.5. Perumusan Strategi dalam Peningkatan Mutu Kakao
Adapun strategi alternatif yang dapat digunakan setelah melihat faktor internal dan eksternal dalam peningkatan mutu kakao maka dirumuskan alternatif strategi antara lain sebagai berikut:
a. Strategi S-O:
1. Peningkatan mutu produksi dengan pemamfaatan areal/lahan, penggunaan bibit unggul, pengalaman berusahatani dan peningkatan kebijakan dari pemerintah.
2. Motivasi yang kuat dan kerja sama antar petani lebih ditingkatkan dari sebelumnya.
b. Strategi W-O:
1. Peningkatan produktivitas petani.
2. Peningkatan keterampilan SDM mengenai pengolahan lahan, pasca panen dan pemasaran hasil komoditi unggulan.
c. Strategi S-T:
1. Membuka dan memperkuat jaringan pasar yang baru.
2. Kerja sama dengan pihak lain tentang penanganan hama dan penyakit, peningkatan sarana dan prasaran, dan informasi mengenai harga kakao. d. Strategi W-T:
1. Peningkatan keterampilan produsen terutama dalam hal penentuan harga kakao dan penggunaan teknologi.
2. Pemberdayaan masyarakat dalam upaya menciptakan lapangan kerja yang baru.
60
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng maka dapat disimpulkan bahwa strategi yang dapat digunakan petani kakao adalah strategi agresif (Growth
Orionted Strategy) karena menunjukkan posisi potensi dalam peningkatan mutu
kakao berada pada kuadran I atau strategi yang dibuat dengan menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan sebuah peluang dengan alternatif strategi yaitu: Peningkatan mutu produksi dengan pemamfaatan areal/lahan, penggunaan bibit unggul, pengalaman berusahatani dan peningkatan kebijakan dari pemerintah; Peningkatan keterampilan SDM mengenai pengolahan lahan, pasca panen dan pemasaran hasil komoditi unggulan; Kerja sama dengan pihak lain tentang penanganan hama dan penyakit, peningkatan sarana dan prasaran, dan informasi mengenai harga kakao.
6.2. Saran
Saran-saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng adalah sebagai berikut:
1. Usahatani kakao di Kelurahan Gantarangkeke layak dan menguntungkan. Oleh karena itu, diharapkan petani di Kelurahan Gantarangkeke terus mengusahakan dan mengupayakan peningkatan produksi dengan lebih memperhatikan teknik-teknik budidaya yang baik.
61 2. Peningkatan produksi sebaiknya disertai perbaikan kualitas/mutu biji kering kakao dengan memperhatikan proses fermentasi dan penjemuran yang baik. Hal yang menentukan tingkat harga di pasar internasional adalah mutu biji kakao. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian-perhatian dari pihak produsen terhadap kualitas biji kakao yang akan diekspor dengan lebih memperhatikan teknik-teknik dari pengolahan kakao itu sendiri.
3. Perlunya mitra usahatani dalam menjual hasil usahatani tanaman kakao, dengan adanya mitra usahatani seperti perusahaan besar dapat menstabilkan harga jual kakao itu sendiri sehingga petani dapat menjual langsung hasil produksi kepada perusahaan besar/pedagang besar.
62
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2003. Usahatani Kakao dan Tingkat Ekonomi Petani. www. Dinsos.pemdadiy.go.id=118&Itemid=46. Diakses 12 Mei 2014. Makassar. Anonim, 2004. Produktivitas dan Share Serta Ekspor Komoditas Utama Perkebunan Indonesia. www.FAO.Com. Diakses 09 Mei 2014. Makassar Anonim, 2009. Lingkungan Internal dan Lingkungan Eksternal.
www.root.wanxp.net. Diakses 13 Mei 2014. Makassar.
Anonim, 2010. Strategi dan Konsep Strategi. www.ehow.com/facts/4794396-healthbenefits.html. Diakses 13 Mei 2014. Makassar.
Askindo, 2007. Asosiasi Kakao Indonesia (Indonesian International Cocoa
Conference), www.suarakarya.com. Diakses 29 Maret 2014.
Makassar.
Augusty, T.F, Sulistia., 2006. Analisis Swot Usaha Tanaman Hias Di Kios Bunga
“Mekarsarie Art” Kota Cirebon. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas
Muhammadiyah Malang, Malang.
Badan Pusat Statistik. 2010. Statistik Ekspor. Badan Pusat Statistik, Jakarta. Baumol, R, Andra, S., 2008. Analisis Strategi Pemasaran Dalam Meningkatkan
Daya Saing Melalui Analisis Swot. Skripsi. Fakultas Ekonomi, Universitas
Sumatra Utara, Medan.
Chandler, Rangkuti, F., 2013. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Cetakan Ketujuh Belas, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Damanik, S., 2007. Strategi Pengembangan Agribisnis Untuk Meningkatkan
Pendapatan Petani, Riau. Puslitbang Perkebunan. www.heropurba.step.
com. Diakses 13 Mei 2014. Makassar.
Dirjenbun., 2010. Kebijakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao dalam
Mendukung Hilirasi dan Peningkatan Pendapatan Petani. Direktorat
Jendral Perkebunan Kementrian Pertanian. Jakarta.
Herman, Damanik, S., 2009. Prospek dan Strategi Pengembangan Kakao
Berkelanjutan di Sumatera Barat. Laporan Hasil Penelitian. Lembaga
Riset Perkebunan Indonesia ( LRPI ). 19 Hlm. Sumatera Barat.
Karmawati, E.D., Damanik, S., 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Puslitbang Perkebunan, Eska Media. 92 hlm. Jakarta
Kautsky, Hasyim, K., 2003. Strategi Pengembangan Tanaman Perkebunan
Kakao. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Malang.
63 Marrus, 2002. Strategi Peningkatan Produksi dan Mutu Hasil Kakao
Melalui Penggunaan Klon Unggul Baru. Prosiding Simposium Kakao.
Yogyakarta.
Mulato, 2002. Teknik Prapengolahan Biji Kakao Segar secara Mekanis untuk
Mempersingkat Waktu Fermentasi dan Menurunkan Kemasaman Biji.
Laporan Penelitian. Pelita Perkebunan, 14(1). Hlm 48-62. Bogor.
Nasution., 2007. Strategi Pengembangan Sistem Agribisnis untuk meningkatkan
Pendapatan Petani. Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri 6 (1).
Hlm 47-59. Surakarta.
Nasaruddin, et al., 2009a. Kakao, Budidaya dan Beberapa Aspek Fisiologinya. Penerbit: Yayasan FOReST Indonesia dan Fakultas Kehutanan Unhas. Makassar.
Nasaruddin, et al., 2009b. Kakao, Budidaya dan Beberapa Aspek Fisiologinya. Penerbit: Yayasan FOReST Indonesia dan Fakultas Kehutanan Unhas. Makassar.
Rangkuti, F., 2013. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, Cetakan Ketujuh Belas, Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Suhendi, 2004. Daya Hasil dan Daya Adaptasi beberapa Klon harapan Kakao
Mulia, Pelita Perkebunan. Jurnal Penelitian Kopi dan Kakao. Megah
Offset, 20(2):54- 65. Jember.
Suwarno, Nasaruddin., 2009. Kakao, Budidaya dan Beberapa Aspek Fisiologinya. Penerbit : Yayasan FOReST Indonesia dan Fakultas Kehutanan Unhas. Makassar.
65
LAMPIRAN 1.
Identitas responden petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng
No Nama Umur (Thn) Jenis Kelamin (L/P) Tingkat Pendidikan Luas Lahan (Ha) Peng. Berusahatani Tang. Keluarga 1 Haspuddin 55 L SMP 1,5 30 3 2 H. Abdullah 62 L SMP 3 40 5 3 Jalaluddin 47 L - 2 30 4 4 Amiruddin 38 L SMP 1 15 4 5 Muh. Amin 63 L SD 3 43 3 6 H. Syamsuddin 44 L SMP 3,5 30 3 7 Tulung 34 L - 2 12 2 8 Maseng 36 L - 3 20 1 9 H. Hakim 64 L SMK 3 41 4 10 Samsul 41 L - 1 20 4 11 Asdar 49 L SD 2 35 3 12 Sabang 46 L SD 1 30 5 13 Jufri 29 L SMP 1 7 2 14 Bora’ 51 L SD 2 35 3 15 Tajuddin 61 L - 2 28 2 16 Saso 37 L SMK 1 23 2 17 H. Alimuddin 59 L SMP 3 40 3 18 Mansyur 38 L - 1 17 2 19 Haeruddin 43 L SMK 1,6 21 3 20 Bakri 53 L - 2 39 3 21 Sumain 60 L - 1 42 4
22 Fatman Usman 37 L SMA 1,5 15 2
23 Mukhtar 43 L SMA 2,5 21 3 24 Syukur 52 L - 2 30 4 25 Rahman 34 L SD 1 14 2 26 Sudirman 37 L SD 1 9 1 27 H. Lahamid 41 L - 2,5 20 3 Total 1254 51,1 707 80 Rata-Rata 46,44 189,26 26,18 29.63
66
LAMPIRAN 2.
Rekapitulasi Hasil Skor Bobot X Rating Faktor-Faktor Internal yang terdapat pada halaman 52.
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Kekuatan (Strenght)
6. Adanya motivasi dalam berusahatani 0,15 4 0,60 7. Umur dan pengalaman dalam berusahatani kakao 0,10 2 0,20
8. Adanya kelompok tani 0,09 2 0,18
9. Ketersediaan sarana dan prasarana 0,14 2 0,28 10. Adanya lahan dan ketersediaan bibit unggul 0,10 3 0,30 Kelemahan (Weakness)
6. Pendidikan sebagian petani masih rendah 0,03 1 0,03 7. Tingkat keterampilan petani masih rendah 0,03 1 0,03 8. Tanaman kakao sudah berumur tua 0,13 3 0,39 9. Penanganan pasca panen petani kakao kurang
maksimal
0,13 3 0,39
10. Petani kakao sulit dalam menetapkan harga 0,10 2 0,20
67
LAMPIRAN 3.
Rekapitulasi Hasil Skor Bobot X Rating Faktor-Faktor Eksternal yang terdapat pada halaman 53.
Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor
Peluang (Opportunies)
6. Pasar lokal maupun luar 0,10 4 0,40
7. Adanya penyuluh dan tenaga kerja 0,09 2 0,18 8. Kebijakan dari pemerintah tentang harga kakao 0,09 2 0,18 9. Cuaca dan jenis tanah yang mendukung
pembudidayaan tanaman kakao
0,15 4 0,60
10. Adanya kerja sama antara petani 0,10 3 0,30 Ancaman (Treaths)
6. Harga kakao yang tidak menetap 0,10 2 0,20
7. Serangan hama dan penyakit 0,11 3 0,33
8. Adanya persaingan antara petani kakao 0,10 3 0,30 9. Kurangnya informasi dan perubahan pemikiran
sebagian petani
0,05 2 0,10
10. Semakin berkurangnya petani kakao 0,11 1 0,11
68
LAMPIRAN 4.
Dokumentasi Hasil Penelitian Strategi Peningkatan Mutu Kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng
69
70
LAMPIRAN 5.
KOESIONER PENELITIAN
STRATEGI PENINGKATAN MUTU KAKAO DI KELURAHAN
GANTARANGKEKE KECAMATANGANTARANGKEKE
KABUPATEN BANTAENG
No. Responden : ... Tgl. Wawancara :...
Nama : ... Umur : ... Jenis Kelamin : ... Pendidikan : ... Luas Lahan : ... Pengalaman Berusahatani : ... Tanggungan Keluarga : ...
1. Bagaimana status kepemilikan Lahan kakao yang Bapak/Ibu usahakan selama ini? Jawab:...
...
2. Apa yang mendorong Bapak/Ibu sehingga tetap membudidayakan tanaman kakao? Jawab:...
...
3. Apa yang menjadi kendala utama Bapak/Ibu setelah panen hasil produksi dari tanaman kakao tersebut? Jawab:...
...
4. Menurut Bapak/Ibu apakah harga yang sudah ditetapkan selama ini sudah sesuai dengan apa yang diharapkan petani? Jawab:...
...
5. Apakah Bapak/Ibu meminjam dana dalam hal peningkatan produksi? Jawab:...
71 6. Apa sajakah yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam
berusahatani kakao? Jawab:... ... ANALISIS SWOT Internal Kekuatan (Strengths) 1. 2. 3. 4. 5. Internal Kelemahan (Weaknesses) 1. 2. 3. 4. 5. External Peluang (Opportunies) 1. 2. 3. 4. 5. External Ancaman (Treaths) 1. 2. 3. 4. 5.
72
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Bantaeng tanggal 01 Desember 1991 dari ayah Asdar dan ibu Bunayya. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
Pendidikan formal yang dilalui penulis adalah SD Negeri 45 Tombolo dan lulus pada tahun 2004, SMP Negeri 2 Tompobulu dan lulus pada Tahun 2007, SMA Negeri 1 Tompobulu dan lulus pada tahun 2010. Pada Tahun 2010, penulis lulus seleksi masuk Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.
Tugas akhir dalam pendidikan tinggi diselesaikan dengan menulis skripsi yang berjudul “Strategi Peningkatan Mutu Kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng”.