• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEKUATAN KELEMAHAN

5.1. Karakteristik Responden

5.1.5. Tanggungan Keluarga

Tanggungan keluarga merupakan yang harus dipenuhi kebutuhannya oleh para kepala rumah tangga petani kakao dan dengan melakukan usahatani seperti halnya usahatani kakao maka para petani memiliki pekerjaaan yang tetap dan dari segi ekonomi petani akan terbantu dari hasil produksi mereka masing-masing. Tanggungan keluarga dari 27 petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke bervariasi, yang paling sedikit yaitu 1 orang dan yang paling banyak yaitu 5 orang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Karakteristi Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga

No Tanggunan Keluarga Jumlah Persentase (%)

1 1 – 2 9 33,33

2 3 – 4 16 59,26

3 > 4 2 7,41

Total 27 100

Sumber : Data Primer yang Telah diolah, 2014

. Pada Tabel 15. menunjukkan bahwa responden petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke memiliki tanggungan 1 sampai dengan 2 orang yaitu sebanyak 9 orang atau sebesar (33,33%). Petani kakao yang memiliki tanggungan 3 sampai dengan 4 orang sebanyak 16 orang atau sebesar (59,26%) sedangkan petani yang memiliki tanggungan keluarga lebih dari 4 orang yaitu sebanyak 2 orang atau sebesar (7,41%).

41 5.2. Faktor Internal yang Berpengaruh

Dalam merumuskan alternatif strategi peningkatan mutu, melalui kajian prospektif dengan memperhatikan efisiensi sumber daya perkebunan kakao itu sendiri. Pendekatan diawali dengan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi peningkatan mutu kakao di Kelurahan Gantarangkeke.

5.2.1. Kekuatan (Strenght)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, faktor kekuatan petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke antara lain sebagai berikut:

Faktor pertama adalah motivasi dalam berusahatani kakao, motivasi merupakan dorongan yang kuat dalam berusaha. Motivasi atau dorongan yang kuat tumbuh dari para petani karena adanya beberapa faktor seperti faktor pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan dari dalam dan luar lingkungan tempat tinggal para petani, adanya tanggungan keluarga, dan adanya keinginan meningkatkan taraf hidup agar lebih baik dari sebelumnya. Hal tersebut didukung dengan benyaknya lahan perkebunan yang telah digunakan oleh para petani. Pada Tabel 5. menunjukkan bahwa, 383,05 Ha/m2 lahan perkebunan yang telah digunakan para petani dengan berbagai macam tanaman perkebunan.

Faktor kedua adalah pengalaman dalam berusahatani kakao, pengalaman merupakan suatu kejadian yang pernah dialamai dan pengalaman memungkinkan manusia memiliki pengetahuan. Umur para petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan dilokasi penelitian, kebanyakan dari para petani kakao di Kelurahan tersebut

42 sudah berumur lebih dari 30 tahun. Pada Tabel 14. menjelaskan bahwa rentan waktu yang dilalui oleh para petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke juga menunjukkan banyaknya pengalaman para petani dalam berusahatani kakao.

Faktor yang ketiga adalah kelompok tani, kelompok tani merupakan sebagai kelas belajar, wahana kerja sama, dan sebagai unit poduksi bagi para petani. Meskipun kelompok tani yang ada di Kelurahan Gantarangkeke tidak berjalan dengan baik seperti yang di harapkan, akan tetapi dengan adanya kelompok tani dapat membantu para petani mendapatkan sebuah informasi mengenai tata cara pengolahan lahan, pemeliharaan yang baik, informasi mengenai harga pupuk, harga kakao, dan sebagainya.

Faktor yang keempat adalah tersedianya sarana dan prasarana. Sarana merupakan yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai suatu tujuan sedangkan prasarana merupakan penunjang utama atas suatu usaha yang dilakukan. Sarana dan prasarana yang digunakan oleh petani di Kelurahan Gantarangkeke baik yang ditemukan secara tradisional maupun bantuan dari pihak pemerintah atau instansi terkait merupakan penunjang utama dalam hal proses peningkatan mutu produksi tanaman kakao mereka.

Faktor kelima adalah lahan dan ketersediaan bibit unggul, lahan sebagai unsur produksi pertanian sedangkan bibit unggul yaitu memiliki sifat tahan terhadap serangan hama, cepat berbuah, dan memiliki hasil produksi yang banyak. Lahan merupakan faktor yang paling utama, tanpa adanya lahan maka kegiatan berusahatani tidak akan terjadi sedangkan bibit merupakan faktor penunjang yang sama pentingnya dengan lahan yang dimiliki. Pada Tabel 4. memberikan

43 keterangan bahwa masyarakat di Kelurahan Gantarangkeke sudah mulai menggunakan lahannya dengan baik dan menempatkannya sesuai dengan fungsinya, penggunaan lahan perkebunan merupakan yang paling dominan dibanding dengan yang lainnya yaitu sebesar 383,05 Ha/m.

5.2.2. Kelemahan (Weakness)

Adapun faktor kelemahan yang mempengaruhi petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke antara lain sebagai berikut:

Faktor pertama adalah pendidikan sebagian petani masih rendah, pendidikan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dari segi berpikir para petani itu sendiri dalam mengelolah hasil usahataninya. Pada Tabel 8. menjelaskan bahwa jumlah penduduk yang berpendidikan rendah lebih banyak dari yang memiliki sebuah pendidikan. Oleh karena itu, walaupun seseorang atau petani memiliki kemampuan fisik yang memadai tetapi tidak ditunjang dengan pengetahuan dan pengalaman, maka usaha yang dikelola tidak akan mengalami sebuah peningkatan dan bahkan mengalamai penurunan baik produksi dan kualitas produksi yang dimiliki oleh para petani.

Faktor kedua adalah tingkat keterampilan petani masih tergolong rendah, keterampilan dalam artian merupakan kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu. Faktor tersebut terkait dengan pengetahuan dan pengalaman petani, kebanyakan petani di Kelurahan Gantarangkeke dalam mengelola hasil produksi kakaonya tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meningkatkan pendapatan dari hasil produksi kakaonya seperti pengeringan dan sebagainya dengan alasan kakao yang diolah dan dengan yang tidak sama sekali, sama harga jualnya setelah panen.

44 Faktor ketiga adalah tanaman kakao sudah berumur tua, umur tanaman kakao yang ada di Kelurahan Gantarangkeke kebanyakan sudah berumur tua dan hanya beberapa orang yang merehabilitasi tanaman kakaonya seperti sambung samping. Salah satu responden di lokasi penelitian memberikan keterangan bahwa tanaman kakao di Kelurahan tersebut sudah berumur tua dan hanya beberapa orang saja yang merehabilitasi tanaman kakaonya. Faktor ini pula yang menyebabkan petani kakao berkurang dan beralih ketanaman perkebunan lain seperti halnya tanaman perkebunan cengkeh.

Faktor keempat adalah penanganan pasca panen yang kurang maksimal, penanganan pasca panen merupakan proses atau cara yang dilakukan agar hasil produksi tanaman perkebunan kakao yang dikelola selama ini dapat menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai atau harga jual yang tinggi. Sebagian petani di Kelurahan Gantarangkeke kurang memperhatikan tata cara tersebut, setelah panen hasil produksi, mereka langsung menjual ke pembeli/kepedagang sehingga banyak kendala bagi para petani kakao seperti produsen sulit dalam menetapkan sebuah harga jual hasil produksi kakao mereka.

Faktor kelima adalah sulitnya petani dalam menetapkan harga, dalam hal penetapan harga, para petani kakao masih merasa kesulitan dikarenakan para pembeli menetapkan harga yang rendah dari hasil produksi para petani. Ada beberapa responden di Kelurahan Gantarangkeke merasa kesulitan dengan harga yang ditentukan oleh pembeli/pedagang karena harga kakao tidak tetap dan cepat mengalami perubahan. Faktor tersebut berhubungan dengan penanganan pasca panen mereka ditambah dengan kurangnya informasi yang dimiliki oleh petani.

45 5.3. Faktor Eksternal yang Berpengaruh

5.3.1. Peluang (Opportunity)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, faktor peluang petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke antara lain sebagai berikut:

Faktor pertama adalah pasar lokal maupun luar, faktor yang mampu mendorong para petani kakao di kelurahan Gantarangkeke sehingga tetap eksis didunia pertanian terutama pertanian kakao karena adanya pasar. Kakao merupakan tanaman perkebunan yang mampu bersaing dipasaran internasional dan merupakan sumber pendapatan. Meskipun memiliki banyak kendala-kendala yang dihadapi, akan tetapi tanaman kakao sangat ideal dibudidayakan dan dipungut hasil panennya serta tidak memerlukan banyak modal untuk alat mesin berat dalam pengolahan. Oleh karena itu, kakao mudah dibudidayakan secara tradisional dengan iklim yang mendukung dan petani terbantu dari segi ekonomi.

Faktor kedua adalah penyuluh dan tenaga kerja, penyuluh merupakan pemberi informasi kepada para petani tentang tata cara bertani yang baik sedangkan tenaga kerja adalah penduduk yang berada dalam usia kerja. Penyuluhan pertanian merupakan suatu upaya agar para petani lebih baik untuk kini dan kedepanya. Hal inilah yang dirasakan oleh para petani di Kelurahan Gantarangkeke, para petani terbantu dari segi pengetahuan mengenai perawatan tanaman kakao dengan adanya peran penyuluh didalamnya.

Faktor ketiga adalah kebijakan dari pemerintah tentang harga kakao, faktor dengan adanya harga dan program dari pemerintah yang memotivasi atau mendorong para petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke untuk tetap melakukan

46 pemeliharaan tanaman kakao mereka masing-masing. Hal serupa pula yang mendorong para petani, pada tahun 2009 lalu program dari pemerintah diluncurkan melalui program Gernas kakao dan dialokasikan di 11 Kabupaten dengan tujuan tanaman kakao lebih baik dari segi hasil produksi dari kualitas.

Faktor keempat adalah cuaca dan kondisi tanah yang mendukung pembudidayaan tanaman kakao, Faktor cuaca dan kondisi tanah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pengelolaan lahan pertanian pada suatu daerah. Para petani di Kelurahan Gantarangkeke mengetahui bahwa tanah yang mereka tempati tergolong cukup subur, terbukti dari banyaknya tanaman yang tumbuh subur, begitu pula dengan tanaman pertanian terutama tanaman coklat/kakao. Oleh karena itu, sebagian besar lahan petani yang dimiliki di Kelurahan tersebut digunakan untuk pembudidayaan tanaman kakao.

Faktor kelima adalah kerja sama antara petani, faktor ini merupakan kategori sosial budaya yang dianut oleh masyarakat. Kerja sama merupakan suatu hal yang dapat membantu keberlangsungan hidup petani dan dengan adanya kerja sama, para petani merasa sangat terbantu dari segi tenaga. Tanaman kakao dalam menggunakan tenaga kerja tidak sama dengan tanaman perkebunan lainnya, tanaman kakao tidak memerlukan tenaga yang banyak dan keterampilan yang khusus karena pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan pada suatu saat boleh dilanjutkan pada waktu yang lain tanpa mengurangi kualitas produksi kakao. Dalam hal penggunaan tenaga kerja para pertani di Kelurahan Gantarangkeke, wanita dan anak-anak bisa mengambil bagian baik pada proses pemeliharaan tanaman kakao maupun pada proses panen produksi kakao itu sendiri.

47 5.3.2. Ancaman (Treaths)

Adapun faktor ancaman petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke antara lain sebagai berikut:

Faktor pertama adalah harga kakao tidak menetap, harga merupakan nilai barang yang ditentukan dengan uang. Salah satu responden memberikan keterangan tentang harga kakao, bahwa harga kakao dari pihak pembeli/pedagang cepat mengalami perubahan, perubahan harga tersebut terjadi karena kualitas biji kakao itu sendiri. Para pembeli membandingkan kualitas produksi petani yang satu dengan yang lainnya, faktor inilah yang menjadi kendala utama setelah panen produksi petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke karena harga yang cepat mengalami perubahan dari pembeli/pedagang dengan alasan kualitas kakao yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan dari pihak pembeli/pedagang.

Faktor kedua adalah serangan hama dan penyakit, hama adalah hewan yang menyerang tanaman sedangkan penyakit adalah adanya gangguan pada tanaman. Hama yang menyerang tanaman kakao di Kelurahan Gantarangkeke seperti penggerek buah kakao (PBK) dan hama tikus sedangkan penyakitnya adalah penyakit busuk buah dan penyakit akar. Faktor hama dan penyakit yang tidak bisa di atasi oleh petani merupakan pemicu berkurangnya petani kakao dan beralih ketanaman lain yang lebih menguntungkan.

Faktor ketiga adalah adanya persaingan antara petani kakao, faktor tersebut berhubungan dengan adanya kerja sama antara petani kakao, selain para petani bekerja sama akan tetapi dilain pihak para petani sebenarnya bersaing dalam hal peningkatan produksi, pemasaran dan sebagainya. Kerja sama memang ada antar

48 petani kakao di Kelurahan tersebut, namun masing-masing dari petani ingin memperbaiki hasil produksi dengan tujuan hasil produksi memiliki harga jual yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Faktor keempat adalah kurangnya informasi mengenai harga dan perubahan pemikiran sebagian petani. Sebagian petani di Kelurahan tersebut tidak begitu mengetahui dengan jelas tentang harga kakao yang sebenarnya dan faktor tersebut pemicu adanya perubahan pemikiran, dalam artian petani kakao ketanaman perkebunan lainnya seperti halnya tanaman cengkeh, kopi atau jagung. Faktor ini pun berhubungan dengan harga yang tidak menetap, serangan hama dan penyakit, penanganan pasca panen belum maksimal serta adanya persaingan-persaingan dari dalam maupun dari luar oleh para petani kakao itu sendiri.

Faktor kelima adalah semakin berkurangnya petani kakao, petani kakao berkurang dikarenakan tidak mendapatkan informasi mengenai pengolahan lahan, penanganan pasca panen, dan harga kakao itu sendiri. Faktor ini juga yang menyebabkan adanya perubahan-perubahan pemikiran yang seharusnya tidak terjadi pada sebagian petani kakao dan lebih memperhatikan tanaman perkebunan lain seperti tanaman cengkeh atau kopi, dan beberapa tanaman lain yang dibudidayakan di Kelurahan tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, peningkatan mutu produksi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain faktor internal dan ekternal, faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan petani kakao dan faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman yang dihadapi oleh para petani.

49 5.4. Analisis Faktor Internal dan Faktor Eksternal

Pada bagian ini dimuat aspek faktor internal peningkatan mutu kakao, hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Faktor Internal yang Berpengaruh

Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness)

1. Adanya motivasi dalam berusahatani kakao

2. Pengalaman dalam berusahatani kakao

3. Adanya kelompok tani

4. Ketersediaan sarana dan prasarana 5. Adanya lahan dan ketersediaan bibit

unggul

1. Pendidikan sebagian petani masih rendah

2. Tingkat keterampilan sebagian petani masih rendah

3. Tanaman kakao sudah berumur tua 4. Penanganan pasca panen petani

kurang maksimal

5. Petani kakao sulit dalam menetapkan harga

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah, 2014

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan yang dimiliki petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, tentang peningkatan mutu kakao adalah adanya motivasi dari petani dalam berusahatani kakao, umur dan pengalaman dalam berusahatani kakao. Kemudian, adanya kelompok tani, adanya sarana dan prasaran yang tersedia serta adanya lahan para petani ditambah dengan ketersediaan bibit unggul dari para petani itu sendiri.

50 Sedangkan kelemahan yang dimiliki oleh petani kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, tentang peningkatan mutu kakao adalah pendidikan sebagian petani masih rendah dan keterampilan sebagian petani juga rendah. Kemudian, tanaman kakao para petani sudah berumur tua, penanganan pasca panen petani kakao kurang begitu maksimal dan hasilnya juga kurang baik dikarenakan para petani itu sendiri. Selanjutnya, petani kakao sulit dalam menetapkan harga hasil produksi kakaonya.

Adapun faktor-faktor eksternal dari peningkatan mutu tanaman kakao di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Faktor Ekternal yang Berpengaruh

Peluang (Opportunity) Ancaman (Treaths)

1. Pasar lokal maupun luar

2. Adanya penyuluh dan tenaga kerja 3. Kebijakan dari pemerintah tentang

harga

4. Cuaca dan kondisi tanah yang mendukung pembudidayaan tanaman kakao

5. Adanya kerja sama antara petani

1. Harga kakao yang tidak menetap 2. Serangan hama dan penyakit 3. Adanya persaingan antara petani

kakao

4. Kurangnya informasi mengenai harga kakao dan perubahan pemikiran sebagian petani

5. Semakin berkurangnya petani kakao

Sumber : Data Primer yang Telah Diolah, 2014

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang yang dimiliki oleh para petani di Kelurahan Gantarangkeke, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng tentang peningkatan mutu kakao, yaitu pasar lokal maupun luar bagi petani kakao dalam memasarkan hasil produksinya. Selain itu, adanya penyuluh

Dokumen terkait