• Tidak ada hasil yang ditemukan

D. Deskripsi Hasil Penelitian

2. Faktor terjadinya integrasi sosial antara Masyarakat Cina Benteng

Berdasarkan analisa sebelumnya, terdapat suatu hubungan sosial atau interaksi sosial yang sangat baik antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi sekitar di Kelurahan Sukasari. Selain itu, adanya proses hubungan timbal balik antar kedua masyarakat tersebut, membuat hubungan antar masyarakatnya dapat terintegrasi atau berbaur satu sama lainnya dalam segala aktivitas sosial yang ada. Dalam hal ini, adanya integrasi sosial pada masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi sekitar di Kelurahan Sukasari, tidak terlepas dari faktor-faktor yang menjadi sebab akibat terjadinya suatu integrasi sosial dalam masyarakat tersebut. Adapun

27 Hasil wawancara dengan Mukhsin Halimi pada tanggal 18 Juli 2019.

rata responden menjelaskan bahwa adanya adanya kesatuan antar kedua masyarakat ini terjadi karena adanya proses interaksi sosial yang relatif cukup lama, dan adanya rasa saling menghargai antar masyarakatnya, serta adanya suatu kerukunan dalam keagamaan yang ada. Adapun hal tersebut menjadikan masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi saling terintegrasi dalam sosial kemasyarakatannya.

a. Adanya proses interaksi sosial yang relatif lama

Terjadinya suatu proses interaksi sosial yang relatif lama antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi yang berada di Kelurahan Suksari ini, menjadi salah satu faktor munculnya integrasi sosial. Adapun dalam hal tersebut dapat dipaparkan dalam hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa responden yang ada, baik itu dari masyarakat pribumi maupun masyarakat Cina Benteng. Adapun responden bernama Oey Tjin Eng memaparkan secara singkat awal mula kedatangan warga Tionghoa sebagai berikut :

“Karena yang ngebuka lahan dari peranakan Tionghoa, jadi ngga ada masalah dengan pendatang baru, contoh pada tahun 1513 kan udah ada komunitas Tionghoa di Tangerang, kemudian juga musafir dari Banten ke Cirebon pada ke Tangerang, namanya Tumenggung Pamitwijaya, karena saya juga bicara dengan pak sayroji, tentang siapa aja tokoh yang ada di Masjid Kali Pasir ini, kan kampung kali pasir itu kampung yang bersejarah, banyak tokoh-tokoh islam itu, yang dikubur di kali pasir, gitu.”28

Selain itu, responden bernama Kyat Eng juga memaparkan sebagai berikut : “Ya biasa-biasa aja, jalanin kegiatan sehari-hari aja udah, emang kita udah lama benget disini kalo kita liat sejarahnya juga. Jadi sebenernya udah emang terbiasa disini sama masyarakat asli sekitar, jadi kalo menyesuaikan diri mah udah dari dulunya kayak gitu.”29

Dalam hal ini, Oey Tjin Eng selaku Budayawan menjelaskan bahwa kedatangan orang Tionghoa ke Tangerang sudah sangat lama, pada tahun

28 Hasil wawancara dengan Oey Tjin Eng pada tanggal 16 Juli 2019.

29 Hasil wawancara dengan Kyat Eng pada tanggal 17 Juli 2019.

1513, menempati wilayah dan menjadi komunitas di daerah Benteng.

berdasarkan hal tersebut, adanya proses interaksi sosial yang terjalin antara individu dalam suatu masyarakat yang ada pada era dulu sampai sekarang membuat kedua masyarakat tersebut saling menerima satu sama lain. Selain pada masyarakatnya, adanya kontak antara tokoh agama baik dari kalangan Tionghoa maupun pribumi yang mayoritasnya pemeluknya adalah beragama Islam, sehingga saling toleransi antar penduduknya sampai sekarang ini. Dalam hal ini, berkaitan dengan Integrasi adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan sosial, ras, etnis, agama, bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan norma30. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa terbentuknya integrasi sosial diawali dari suatu proses interaksi sosial dalam kurun waktu tertentu, sehingga menimbulkan suatu sifat keterbukaan antar masyarakat yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Adapun Kyat Eng menjelaskan bahwa masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi sudah saling mengerti dan menghargai satu sama lain, sehingga terbiasa akan suatu perbedaan dari adanya proses interaksi sejak dahulu, dan juga sudah tidak perlu proses adaptasi lagi dengan masyarakat sekitar. Adapun responden bernama Jejen Jaenudin memaparkan sebagai berikut : itu merupakan sejarah dan budaya agama Islam di masyarakat sekitar wilayah Kelurahan Sukasari, gitu.”31

Dalam kutipan di atas, Jejen Jaenudin menjelaskan bahwa adanya toleransi yang telah lama dibangun, yang mana bersumber dari proses

30 Sutrisno dkk, Sosiologi 2, (Jakarta: Grasinso, 2004), h. 68.

31 Hasil wawncara dengan Jejen Jaenudin pada tanggal 17 Juli 2019.

interaksi yang cukup lama, sehingga turun-temurun sudah terbiasa akan suatu perbedaan. Adapun dalam hal tersebut kembali pada sejarah yang telah dijelaskan oleh responden sebelumnya. Adapun responden Kyat Eng memaparkan sebagai berikut :

“Biasa aja, emang kita kan dari dulu kan di Tangerang, jadi emang ngga ada rasa gimana-gimana, emang hubungannya udah biasa. Kalo saya sih kita Cina Benteng itu adalah Cina atau Tinghoa di Tangerang. Kan kalo ada orang bisanya dari balaraja ke tangerang, ya mereka nyebutnya Cina Benteng gitu.”32

Dalam kutipan di atas, Kyat Eng menjelaskan bahwa rasa dalam menyikapi perbedaan masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi memang sudah tidak ada, dalam artian bahwa mereka sudah terbiasa karena adanya proses interaksi antara masyarakatnya yang terjalin dari dulu sampai sekarang ini. Adapun hal tersebut berkaitan bahwa integrasi juga dapat dilihat sebagai suatu proses yang memperkuat hubungan dalam suatu sistem sosial, dan memperkenalkan aktor baru dan kelompok ke dalam sistem dan lembaga-lembaganya. Integrasi pada dasarnya merupakan suatu proses : jika proses ini berhasil, masyarakat dikatakan terintegrasi.33 Dalam hal ini adanya suatau proses interaksi yang sangat baik antara masyarakat sehingga membentuk suatu sistem dan nilai-nilai serta norma yang disepakati antar masyarakat, juga menjadikan mereka saling berinteraksi satu sama lainnya, sebagimana fenomena integrasi yang terjadi antara masyarakat cina benteng dengan masyarakat sekitar atau pribumi yang ada di Kelurahan Sukasari. Selain itu, responden bernama Sandi dari masyarakat pribumi sekitar memaparkan sebagai berikut :

“Emang dari dulu ya, udah nerima soalnya kan antara masyarakat satu dengan yang lainnya juga udah terkait satu sama lain saling menghargai dari sejak zaman dulu tuh waktu Belanda di Benteng ya,

32 Hasil wawancara dengan Kyat Eng pada tanggal 17 Juli 2019.

33 Sutrisno dkk, op. cit, h. 68.

jadi ya emang udah nerima gitu, mereka juga kebuka satu sama lain gitu kan.”34

Adapun kutipan tersebut hampir serupa dengan responden yang bernama Mukhsin Halimi, yang memaparkan sebagai berikut :

“,,,,,,eeh, ya mungkin karena masyarakat Cinanya ada di daerah Benteng ya, Belanda pada waktu itu, jadi emang udah pada kenal dari dulu, sampe muncul kayak sama masyarakat pribumi sini disebutnya masyarakat Cina Benteng, kan dulu Tangerang itu benteng kan ya ada bentengan kan disini nih.”35

Dalam kutipan di atas, Sandi menjelaskan bahwa sejak dahulu pada zaman penjajahan Belanda, masyarakat Tionghoa yang sekarang disebut sebagai Cina Benteng ini, sudah saling menghargai satu sama lainnya dengan masyarakat pribumi, sehingga dalam hal ini, fenomena kehidupan sehari-hari antar masyarakatnya memang sudah saling menerima satu sama lainnya. Adapun Mukhsin Halimi juga menjelaskan bahwa terdapat hubungan baik dari suatu proses interaksi sosial yang ada pada kedua masyarakat tersebut, dari zaman penjajahan Belanda yang mendirikan Bentengan pada era penjajahan sampai sekarang ini. Adapun oleh karena adanya hubungan erat antara masyarakatnya menyebabkan integrasi sosial yang terjalin dengan kuat sampai sekarang ini. Adapun responden yang bernama Putha memaparkan sebagai berikut :

“Oh kalo itu biasa aja, emang orang kita disebut seperti itu udah lama banget kan, jadi ya biasa aja, ngga ada masalah apa-apa gitu.

Kita disini juga ya udah kayak masyarakat Tangerang aja, bahasa mandarin aja kita ngga bisa, ya kayak tadi aja, emang dulunya udah nyampur sejak jaman Belanda tuh ngediriin Benteng.”36

Berdasarkan pemaparan di atas, Putha yang merupakan salahsatu dari warga Cina Benteng menjelaskan bahwa adanya pengaruh dari interaksi yang sudah berjalan sejak lama, bukan hanya dari perkawinan campuran dari orang Tionghoa dengan pribumi saja, akan tetapi juga dari

34 Hasil wawancara dengan Sandi pada tanggal 17 Juli 2019.

35 Hasil wawancara dengan Mukhsin Halimi pada tanggal 18 Juli 2019.

36 Hasil wawancara dengan Putha pada tanggal 18 Juli 2019.

proses interaksi tersebut, sehingga dalam kehidupan sosial masyarakat Cina Benteng sama seperti halnya masyarakat asli sekitar atau pribumi yang ada di Kelurahan Sukasari ini. Selain itu, terkait penyebutan orang-orang pada masyarakat Tionghoa menjadi masyarakat Cina Benteng, mereka (warga Cina Benteng) tidak merasa tersinggung, direndahkan dan sebagainya, karena adanya proses interaksi yang sangat panjang dan mereka juga tidak mempermasalahkan hal tersebut, sehingga tidak dapat memunculkan konflik yang ada dalam kehidupan masyarakat tersebut.

Berdasarkan beberapa pemaparan responden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat proses hubungan sosial yang terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi. Dalam hal tersebut terlihat dari berbagai fenomena kehidupan masyarakat serta dari hasil wawancara responden, yang mana menggambarkan kehidupan masyarakat Cina Benteng yang sudah seperti masyarakat asli sekitar, baik dalam komunikasi maupun dalam kegiatan sosialnya. Adapun hal tersebut merupakan buah dari proses interaksi yang dilakukan antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi di Kelurahan Sukasari ini.

b. Adanya sikap toleransi antar masyarakat

Selain pada proses interaksi akan terbentuknya suatu integrasi sosial pada masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi, adanya sikap toleransi anatara masyarakatnya menjadikannya pula sebab akibat terjadinya integrasi sosial. Adanya rasa saling menghargai antar individu yang memiliki karakteristik berbeda pada kedua masyarakat tersebut, sehingga terbentuknya suatu hubungan yang harmonis dalam ruang lingkup masyarakat di Kelurahan Sukasari. Adapun hal ini berdasarkan hasil pengamatan dan juga informasi dari rata-rata responden terhadap fenomena sosial masyarakat tersebut. Adapun responden yang bernama Jejen Jaenudin sebagai berikut :

“Kalo faktornya sih saya yah, kalo kesitu eeeh,,, yah selama mereka baik dengan warga, terus kita toleransi dengan mereka, saling menghargai, saling menganut kepercayaan masing-masing, selama tidak mengganggu satu sama lain, jadi itu menurut saya yang sampe sekarang membuat masyarakat terintegrasi, bersatu lah gitu ya. Yang penting saya disini sekali lagi, tidak ada istilahnya membeda-bedakan, yang penting kita masing-masing ke tuhannya, atau ke Allah ya kalo kita mah, ya itu makannya saya menjaga bagaimana supaya mereka itu tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, makanya kembali lagi, masyarakat disini saling menghargai dan toleransi, gitu.”37

Berdasarkan kutipan di atas, Jejen Jaenudin menjelaskan bahwa adanya rasa toleransi antar masyarakat Pribumi dengan masyarakat Cina Benteng. Hal tersebut terlihat dari sikap kedua masyarakat yang saling menghormati dan saling menghargai baik dalam aktivitas sosial, budaya, maupun agama. Adapun hal ini berkaitan sebagaimana menurut Adon Nasrullah Jamaludin bahwa :

“Prinsip toleransi beragama diantaranya : Pertama, kebebasan beragama. kebebasan dalam memilih kepercayaan atau agama.

Kedua, penghormatan agama lain. menghormati keberagaman dan perbedaan ajaran-ajaran yang terdapat pada setiap agama dan kepercayaan yang ada. Ketiga, penerimaan. Menekankan bahwa penganut agama mau menerima orang lain seperti apa adanya”.38 Selain itu, tidak adanya rasa membedakan satu sama lainnya, kecuali dalam kepercayaan atau dalam keagamaan yang ada. Adapun responden bernama Kyat Eng memaparkan sebagai berikut : “Ya mereka menghargai lah seperti itu, ya seperti acara tanggal 15 di kelenteng Boen Tek Bio ini, ya mereka nyatanya ngga ada masalah kan gitu, kalo di Peh Cun juga banyak malah yang ikutan seperti yang saya jelasin tadi kan gitu.”39

37 Hasil wawancara dengan Jejen Jaenudin pada tanggal 17 Juli 2019.

38Adon Nasrullah Jamaludin, Agama & konflik Sosial: Studi Kerukunan Umat Beragama, Radikalisme, dan Konflik Antar Umat Beragama, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), h. 109-111.

39 Hasil wawancara dengan Kyat Eng pada tanggal 17 Juli 2019.

Dalam kutipan di atas, Kyat Eng menjelaskan bahwa terlihat jelas adanya rasa toleransi antar masyarakat Cina Benteng maupun pribumi, salahsatu contohnya yaitu ketika mereka (masyarakat Cina Benteng) sedang mengadakan suatu perayaan kebudayaan maupun yang lainnya seperti Peh Cun yang diselenggarakan di Sungai Cisadane, masyarakat asli sekitar Kelurahan Sukasari sangat antusias dalam menyaksikan dan berpartisipasi dalam meramaikan acara tersebut, bahkan masyarakat di Kota Tangerang dari berbagai kelurahan turut menyaksikan perayaan tersebut yang mana dilaksanakan setiap tahunnya. Hal tersebut merupakan bentuk dari adanya toleransi dan saling mendukung satu sama lainnya, kecuali dalam hal agama. Kemudian responden bernama Cheng Wi memaparkan sebegai berikut :

“Ya bagus sih kalo saya sendiri nilainya, soalnya beda mungkin di tempat lain, yang masih agak mandang kurang bagus atau mereka masih fanatis lah kayak gitu. Tapi kalo disini bagus saling toleransinya tinggi, makanya saya bilang jarang sekali ada yg seperti itu gitu. Ya saya juga sempet bingung, kok bisa kayak gini, masyarakatnya deket banget gitu, beda sama yg di tempat lain.”40 Dalam hal ini, Cheng Wi menjelaskan adanya rasa toleransi yang tinggi antara masyarakat asli sekitar dengan masyarakat Cina Benteng di Kelurahan Sukasari ini. Beliau merasakan perbedaan perilaku antara masyarakat yang ada disini dengan masyarakat di tempat lain yang juga bersifat multikultural. Adanya sikap saling tegur sapa, berbaur menjadi satu dalam segala aktrivitas sosial. Selain itu, responden bernama Ahmad Sayroji memaparkan sebagai berikut :

“Untuk bicara masalah proses hubungan sosial, alhamdulillah baik dan saling toleransi, dan untuk proses dari toleransi tersebut, maka yang muncul adalah apakah ada kerja sama kan begitu kan ?, di kita sendiri sebenernya ngga ada kerja sama yang dapat diutarakan secara lisan, gimana ya, jadi memang udah kebentuknya lama gitu, ya intinya proses hubungan sosial berjalan dengan baik dan dijalani

40 Hasil wawancara dengan Cheng Wi pada tanggal 20 Juli 2019.

oleh masing-masing pihak, saling menjaga dan menghargai satu sama lainnya seperti itu kiranya ya.”41

Dalam kutipan diatas, Ahmad Sayroji menjelaskan adanya integrasi sosial yang terjadi disebabkan karena adanya rasa saling menghargai yang ada pada masyarakatnya. Adapun proses hubungan sosial berjalan dengan baik karena tidak adanya rasa diskriminasi ataupun juga sikap saling membeda-bedakan individu maupun kelompok lainnya, sehingga dalam hal ini hubungan sosial atara kedua masyakat tersebut dapat terintegrasi sampai sekarang ini. Adapun responden Cheng Wi kembali memamparkan sebagai berikut :

“Jadi mungkin yang saya tau, orang Cina Benteng disini ya saling menghargai aja gitu sehingga bisa dapat diterima oleh masyarakat Tangerang, khususnya di Kelurahan Sukasari ini. kita juga kalo lagi ada acara di Kelenteng ya, seperti sekarang ini ada dangdutan juga, ya kita tau waktu gitu, biasanya berhenti dulu nih dari jam 11.30 sampai 13.00, karena kita udah tau nih jadwal ibadahnya orang muslim kan ya seperti itu, jadi nanti lanjut lagi setelah lewat wakti sholatnya gitu sih. Untuk menghargai dan mereka juga jadi enak sama kita kan seperti itu.”42

Adapun Cheng Wi menjelaskan sikap toleransi yang dilakukan oleh masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi. Seperti ketika adanya acara di Kelenteng, acara di tanggal tertentu biasanya ada acara hiburan baik gambang kromong, cokek maupun hiburan dangdut ketika penutupan acara, namun mereka tetap menghormati masyarakat pribumi khususnya dalam waktu sholat, mereka (masyarakat Cina Benteng) menghentikan acara tersebut sementara agar tidak mengganggu ibadah masyarakat muslim. Adapun responden bernama Sukmana memaparkan sebagai berikut :

“Selama ini ,,,eeh kita ada toleransi dengan mereka kadang-kadang mereka ikut serta dengan kegiatan-kegiatan kita yang ada, artinya walaupun mereka tidak bertegur langsung, ya bagaimana caranya mereka ikut bergabung bersama kita, terus misalkan ada acara apaupun misalkan disini, orang-orang kita misalkan mereka ada

41 Hasil wawancara dengan Ahmad Sayroji pada tanggal 20 Juli 2019.

42 Hasil wawancara dengan Cheng Wi pada tanggal 20 Juli 2019.

acara Peh Cun atau apapun gitu ya, ya kita pun ikut di dalamnya, karena kita ikut memeriahkan untuk acara itu gitu.”43

Berdasarkan kutipan di atas, Sukmana menjelaskan adanya timbal balik dari sikap toleransi antara masyarakat pribumi dengan masyarakat Cina Benteng, dimana adanya antusias dan bantuan dalam suatu aktivitas sosial masyarakatnya, selain itu juga ketika dalam suatu perayaan yang diselenggarakan masyarakat, seperti halnya perayaan Peh Cun yang sudah dijelaskan sebelumnya dan juga sebaliknya ketika pada hari raya Idul Fitri. Adapun dalam hal ini, beliau juga menjelaskan bahwa apabila kita ingin dihargai maka hargai pula orang lain. Adapun hal tersebut berkaitan sebagaimana paparan mengenai arti agama itu sendiri bahwa :

Berdasarkan sudut pandang kebahasaan Indonesia pada umumnya agama dianggap berasal dari bahasa sansakerta. “Arti agama dalam bahasa sansakerta terdiri dari dua kata, yaitu; a = tidak; dan gama = kacau. Jadi agama dimaksudkan sebagai ajaran yang datang dari Tuhan untuk diamalkan manusia supaya terhindar dari kekacauan.

Ajaran agama memang menjamin jika manusia mengamalkan ajaran Tuhan-nya, mereka akan aman tentram dan sejahtra.”44

Dalam hal ini, pengamalan ajaran agama yang dimiliki antara masyarakat cina benteng dengan pribumi di terapkan dengan baik. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga hubungan sosial antar umat beragama agar menjadi tentram serta tidak saling memusuhi atau terjadi konflik satu sama lainnya. kemudian responden yang bernama Mukhsin Halimi memaparkan sebagai berikut :

“Kalo masyarakat Cina Benteng atau Tionghoa disini, di sosial kemasyarakatan yang saya tau rukun ngga ada bentrokan gitu lah, dan yang saya ketahui, dari segi istilah kemanusiaannya, saling menghormati, beda sama yang di Benteng Makasar, tapi dari perbedaan agama, alhamdulillah tidak ada bentrokan sampe sekarang, seperti itu.”45

43 Hasil wawancara dengan Sukmana pada tanggal 18 Juli 2019.

44 Rusmin Tumanggor, Ilmu Jiwa Agama. (Jakarta: Kencana Prenamedia Grup, 2014), cet.

1, h. 4.

45 Hasil wawancara dengan Mukhsin Halimi pada tanggal 18 Juli 2019.

Dalam hal ini, Mukhsin Halimi mendeskripsikan tentang keadaan atau sikap toleransi yang ada pada masyarakat Cina Benteng terhadap pribumi. Dimana adanya toleransi yang sangat tinggi yang beliau alami selama tinggal di Kelurahan Sukasari ini, sehingga adanya rasa saling toleransi sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh para responden sebelumnya, menciptakan suatu kerukunan antara kedua masyarakat tersebut sampai pada sekarang ini.

Berdasarkan beberapa pemaparan responden di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat sikap saling toleransi antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat Pribumi. Adapun bentuk dari rasa toleransi dapat diimplementasikan dalam aktivitas sosial maupun budaya yang ada pada masyarakat, baik dalam perayaan kebudayaan, maupun aktivitas sosial. Dalam hal ini, adanya sikap toleransi yang tinggi antara kedua masyarakat tersebut, menjadi tali perekat dalam menciptakan kesatuan masyarakat atau integrasi sosial yang ada, serta merupan bentuk pengamalan dari adanya ajaran keagamaan yang mereka yakini akan pentingnya sikap toleransi yang tinggi antara masyarakat yang ada di wilayah Kelurahan Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang Adapun selain deskripsi hasil penelitian di atas, peneliti menganalisis hasil data suatu penelitian yang telah dipaparkan oleh narasumber atau responden terkait tentang rumusan masalah yang diteliti, dimana kemudian dijadikan suatu pembahasan yang mendalam oleh peneliti dari hasil interpretasi data yang telah disajikan sebelumnya. Adapun pembahasan dari hasil suatu penelitian tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut :

1. Interaksi Sosial Masyarakat Cina Benteng dengan Masyarakat Pribumi di Kelurahan Sukasari

Adanya hubungan sosial antar masyarakat yang memiliki keberagaman karakteristik, baik dalam bidang sosial, budaya, maupun agama merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dikaji. Adanya fenomena keberagaman

masyarakat ini merupakan salahsatu wujud dari kebesaran Allah SWT, yang mana mengandung nilai-nilai kehidupan serta mengajarkan bagi diri kita untuk saling mengenal satu sama lainnya. Adapun bentuk realisasi dari fenomena keberagaman tersebut pun tertuju pada masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi yang ada di Kelurahan Sukasari. Dalam hal ini, peneliti membahas mengenai bagaimana ruang lingkup interaksi sosial yang terjadi antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi di Kelurahan Sukasari. Adapun dalam proses interaksi sosal masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi di Kelurahan Sukasari berjalan dengan sangat baik, mereka tidak memandang suatu perbedaan yang ada, bagi mereka semua itu merupakan salahsatu kekayaan akan suatu keragaman yang ada sebagai ciri khas masyarakat multikultural yang ada di Indonesia.

Selain hal tersebut, interaksi sosial yang dilakukan antara masyarakat Cina Benteng dengan pribumi di Kelurahan Sukasari, tidak lain dan tidak bukan yaitu bertujuan untuk menjaga suatu kesatuan hidup bersama antar masyarakatnya, meskipun adanya perbedaan baik dalam hal budaya maupun agama yang mereka miliki. Adanya hubungan timbal balik yang dilakukan antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi di Kelurahan Sukasari, melahirkan rasa saling terbuka dan menghormati antar sesama

Selain hal tersebut, interaksi sosial yang dilakukan antara masyarakat Cina Benteng dengan pribumi di Kelurahan Sukasari, tidak lain dan tidak bukan yaitu bertujuan untuk menjaga suatu kesatuan hidup bersama antar masyarakatnya, meskipun adanya perbedaan baik dalam hal budaya maupun agama yang mereka miliki. Adanya hubungan timbal balik yang dilakukan antara masyarakat Cina Benteng dengan masyarakat pribumi di Kelurahan Sukasari, melahirkan rasa saling terbuka dan menghormati antar sesama

Dokumen terkait