C. Hakikat Masyarakat
4. Masyarakat Cina Benteng
Cina Benteng merupakan suatu komunitas tionghoa yang memiliki keunikan tersendiri. Tidak seperti tionghoa peranakan pada umumnya, etnis cina benteng berkulit gelap dan matanya pun tidak sipit. Nenek moyangnya adalah Cina Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun temurun di kawasan Pasar Lama. Kawasan Pasar Lama atau Jalan Ki Samaun sekarang, adalah pemukiman pertama masyarakat cina benteng. Kawasan ini merupakan cikal bakal Kota Tangerang. Namun saat ini komunitas yang relatif masih asli hanya terdapat di Kampung Sewan.
Sebagian besar masyarakat cina benteng hidup sederhana sebagai petani, peternak, nelayan, bahkan tukang becak. Cina Benteng memang selalu diidentifikasi dengan stereotip orang Tionghoa berkulit gelap, jago
26 Ibid., h. 21-22.
bela diri dan juga hidup sederhana.27 Adapun Keunikan lainnya dari masyarakat cina benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Mereka tidak bisa lagi berbahasa Cina, sehari-hari mereka menggunakan bahasa Sunda dan Betawi. Fenomena cina benteng merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan Cina dengan kebudayaan lokal. Namun demikian masyarakat cina benteng tersebut masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun.28
a. Sejarah awal kedatangan dan penyebutan nama Cina Benteng Mengenai kedatangan orang cina ke Tangerang memang masih belum diketahui secara pasti. Tetapi dalam kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), yang telah diterjemahkan oleh Soedjarwo dari bahasa Sunda kuno ke dalam bahasa Latin, disebutkan tentang kedatangan orang Cina ke daerah Tangerang. Dalam kitab tersebut diceritakan tentang mendaratnya rombongan kapal yang dipimpin oleh Tjen Tjie Lung atau Halung sekitar tahun 1407 di muara Sungai Cisadane yang sekarang diberi nama Teluk Naga, tepatnya di Kampung Melayu. Pada saat itu pusat pemerintahan ada di Tegal Luar (daerah Tanah Tinggi) yang diperintah oleh Sang hyang Anggalarang sebagai wakil dari Sang hyang Banyak Citra dari sebuah kerajaan di wilayah Parahyangan.29
Gelombang kedua kedatangan orang tionghoa di Tangerang diperkirakan tahun 1740. Saat itu terjadi pemberontakan oleh orang tionghoa karena keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkap orang-orang tionghoa yang dicurigai. Pemberontakan masyarakat tionghoa pada tahun 1740 menyebabkan pembantaian
27Wawancara dengan Oey Tjin Eng, dalam Euis Thresnawaty S, Sejarah Sosial-Budaya Masyarakat Cina Benteng di Kota Tangerang, Patanjala, Vol. 7, 2015, h. 50.
28 Ibid.
29 Ibid., h. 53.
sekitar 10.000 orang tionghoa tak berdosa oleh VOC dan pembakaran rumah-rumah mereka. Banyak di antara orang-orang tionghoa pergi menyelamatkan diri ke Tangerang dan sekitarnya. VOC kemudian mengirimkan sisa-sisa orang Tionghoa ke Tangerang untuk bertani.
Belanda mendirikan pemukiman bagi orang tionghoa berupa pondok-pondok yang sampai sekarang masih dikenal dengan nama Pondok Aren, Pondok Cabe dan sebagainya. Di sekitar Tegal Pasir atau Kali Pasir, Belanda mendirikan perkampungan Tionghoa yang dikenal dengan nama Petak Sembilan. Petak Sembilan merupakan salah satu cikal bakal Kota Tangerang, yaitu suatu tempat yang dihuni oleh komunitas Tionghoa. Perkampungan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan dan menjadi bagian dari Kota Tangerang, kawasan Pasar Lama sekarang, sebagai pemukiman pertama bagi komunitas Tionghoa di Tangerang.30
Berdasarkan sejarah yang telah dijelaskan diatas, kampung yang berada di wilayah Kota Tangerang ini, berdasarkan perkembangannya, menjadi pusat perdagangan dan secara resmi menjadi bagian dari wilayah Kota Tangerang. wilayah ini juga dijadikan sebagai wisata oleh pemerintah Kota Tangerang. Adapun tempat ini berada pada sisi timur sungai Cisadane, tepatnya di daerah pasar lama Kota Tangerang.
berbicara mengenai daerah Pasar Lama ini, sulit dipisahkan karena merupakan sejarah masyarakat Cina Benteng pertama kali bermukim atau bertempat tinggal di daerah tersebut.
Adapun terjadinya persaingan ekonomi dan perdagangan di wilayah tersebut, antara pihak Batavia dengan Banten yang memicu adanya konflik persaingan ekonomi dan politik, dengan adanya konflik tersebut maka Banten mendirikan suatu benteng di bagian timur di bagian barat Sungai Cisadane, sedangkan pihak Belanda membangun benteng di sebelah timur sungai Cisadane.
30 Ibid., h. 53-54.
Dalam peristiwa tersebut pihak Belanda tidak mau adanya perebutan kembali Batavia oleh serbuan Banten. Berdasarkan peristiwa sejarah tersebut, daerah pertempuran yang telah terjadi, maka disebut sebagai daerah Benteng. selain itu, masyarakat Cina yang berada di daerah benteng tersebut oleh masyarakat Pribumi disebut sebagai masyarakat Cina Benteng.
b. Sistem Kekerabatan Masyarakat Cina Benteng
Dalam perbedaan karakteristik budaya maupun adat dalam suatu masyarakat, memiliki suatu sistem yang berbeda-beda, salah satunya pada sisitem kekerabatan. Adapun sistem kekerabatan yang ada pada masyarakat cina benteng di Kota Tangerang yaitu sistem patrilinear, sebagaimana dijelaskan sebagai berikut :
Koentjaraningrat menambahkan bahwa, kedudukan perempuan dahulu bagi orang Cina sangat rendah. pada masa waktu kecil, saudara laki-laki mereka memperlakukan mereka dengan sangat baik, tetapi pada waktu meningkat dewasa mereka dipingit dirumah. Setelah menikah, seorang perempuan harus tunduk kepada suaminya. mereka tidak mendapat bagian dalam kehidupan diluar rumah. Keadaan seperti itu sudah lama ditinggalkan. Seorang perempuan dapat mengikuti perkumpulan perkumpulan, sekolah dan dalam kehidupan ekonomi peranan pembantu suaminya dalam perdagangan memegang peranan penting dalam kehidupan mereka. Pada masa sekarang ini, wanita berhak mendapat harta yang sama dengan laki- laki dalam hal warisan. bahkan, kadang mendapat tugas untuk mengurus abu leluhurnya sehingga suami yang harus ikut tinggal dirumah orang tuanya. dengan naiknya kedudukan wanita, tidak ada lagi kecenderungan untuk memiliki anak laki-laki. Dalam sistem kekerabatan, masyarakat Cina Benteng menganut sistem patrilinear. Karena itu hubungan dengan kerabat pihak ayah lebih erat, tetapi perkembangan sekarang menunjukan hubungan antara keluarga pihak ibu sama eratnya dengan pihak ayah.31
Adapun dalam sistem ajaran yang dianut oleh masyarakat Cina Benteng, yaitu salah satunya adalah ajaran konfusius. Hal tersebut
31 Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 2007), h.
364.
menjadi tradisi serta budaya masyarakat cina benteng yang mana mempengaruhi sistem kekerabatan masyarakat cina benteng. Dalam ajaran konfusius, hubungan antara ayah dan anak adalah model dasar dari keluarga dan masyarakat, dan penguasa harus memperlakukan rakyatnya layaknya ayah memperlakukan sang anak. Para putera dari suatu keluarga adalah yang terpenting karena ia akan membawa garis keturunan keluarga mereka. Para putera ini akan merawat orangtua mereka yang telah lanjut usia, dan akan melaksanakan ritual kematian bagi orangtua mereka yang telah wafat dan semua arwah leluhur mereka.32
Adapun kebajikan dari Konfusianisme adalah bakti seorang anak terhadap orangtuanya yang dalam bahasa tionghoa disebut Xiau (Hsiao), yang berarti bakti, yakni penghormatan seorang anak terhadap orangtuanya.33 Dalam hal ini, dilihat dari ajaran agama manapun termasuk agama Islam, mengajarkan untuk selalu berbakti kepada orang tua yang ditrapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan kebudayaan yang dimiliki suatu keluarga tersebut.
Dalam hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa masyarakat cina benteng memiliki sistem kekerabatan yang sangat kuat, terutama hubungan penghormatan anak terhadap orang tuanya. Dalam hal ini, ajaran yang ada dalam kebudayaan sistem kekerabatan cina benteng memiliki kesamaan dengan ajaran agama yang lainnya, salah satunya agama Islam yang merupakan agama mayoritas bangsa Indonesia, yang mana salahsatu ajarannya yaitu menjunjung tinggi suatu rasa penghormatan terhadap orang tua.
32 Sholahuddin Al-Ayubi, Cina Benteng : Pembauran Dalam Masyarakat Majemuk di Banten, KALAM, Volume 10, 2016, h. 338.
33 Ibid.