5. Terapi Psikososial
5.2. Analisis Univariat
5.2.3. Faktor Tersedianya Napza
Berdasarkan hasil penelitian tentang faktor tersedianya Napza di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatera Utara, didapatkan mayoritas berpengaruh sebanyak 88,2%. Ketersediaan Napza dan kemudahan memperolehnya juga dapat disebut sebagai pemicu seseorang menjadi pecandu, Indonesia sudah menjadi pasar tujuan pasar narkoba Internasional, menyebabkan obat-obatan ini mudah diperoleh. Bahkan beberapa media massa melaporkan bahwa para penjual narkotika menjual daganganya di sekolah-sekolah, termasuk di Sekolah Dasar. Pengalaman feel good mencoba drugs akan semakin memperkuat keinginan untuk memanfaatkan kesempatan dan akhirnya menjadi pecandu. Seseorang dapat menjadi pecandu disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus atau secara bersamaan. Karena ada juga faktor yang muncul secara beruntun akibat dari satu faktor tertentu. (Purba dkk, 2008).
Hasil penelitiaan ini sejalan dengan penelitian (Jenny, 2007) dimana faktor tersedianya Napza diperoleh 71,9% dimana cukup tersedia. (Hawari,1990) dalam penelitiannya menyatakan bahwa banyak tersedianya Napza dan mudah diperoleh baik di pasaran resmi, maupun tidak resmi, secara terang-terangan/diam-diam atau sembunyi-sembunyi menjadi pemicu banyaknya pemakai penyalahgunaan Napza. Indonesia sudah bukan lagi tempat transit seperti awal tahun 80-an, tetapi sudah menjadi tujuan pasar Narkotika Internasional, bahkan menjadi surga bagi pemakai dan bandar Napza. Para penjual Napza berkeliaran dimana-mana, termasuk disekolah, lorong-lorong, gang-gang sempit, warung-warung kecil yang umunya dekat dengan pemukiman masyarakat. (Gunawan,2006).
Hal ini juga dapat dilihat dari item kuesioner dimana, “saya sangat menyukai rasa dan khasiat yang ditimbulkan Napza”. Napza menjadi faktor terjadinya penyalahgunaan Narkoba karena pemakaiaanya menimbulkan efek atau sensasi tertentu sehingga pengguna terdorong untuk mencari dan menikmati sensasi-sensasi baru itu. Hal ini terjadi karena Napza bersifat adiktif, yakni menimbulkan ketagihan dan ketergantungan. Mudahnya mendapatkan Napza merupakan salah satu faktor pemicu yang sangat penting bagi terjadinya tindak penyalahgunaa. Napza dan mendapat Napza tanpa melalui izin dan resep dari dokter merupakan dampak yang besar pula dalam penyalahgunaan Napza. Widjono (1998 dalam Afatin, 2008).
Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang menyalahgunakan Napza di karenakan seseorang mudah mendapatkan Napza hal tersebut merupakan salah satu pemicu seseorang menyalahgunakan Napza, karena pada saat ini Napza dapat di beli di mana-mana, termasuk di toko obat sekali pun tanpa ada izin dokter. Serta khasiat yang ditimbulkan Napza membuat seseorang ingin terus menggunakan Napza. Hal ini terjadi karena Napza bersifat adiktif sehingga menimbulkan ketagihan dan ketergantungan.
5.2.4. Faktor Teman Sebaya.
Hasil yang diperoleh dari penelitian tentang faktor teman sebaya yang mempengaruhi penyalahgunaan Napza bahwa responden mayoritas sangat berpengaruh sebanyak 95,3%. Faktor teman sebaya merupakan alasan pertama mengapa menyalahgunakan Napza, karena teman sebaya kebanyakan pemakai
mulai berkenalan dengan Napza dari kawan-kawanya. Penolakan terhadap tekanan ini dapat mengakibatkan anggota yang menolak dikucilkan atau disepak dari kelompok. Dan menurut Diwanto (2006), mengatakan faktor teman sebaya, adanya satu atau dari beberapa anggota kelompok teman sebaya yang menjadi pengedar Napza, ajakan bujukan atau iming-iming teman sebaya, pelaksanaan dan tekanan teman sebaya, bila tidak ikut melakukan penyalahgunaa Napza dianggap tidak setia kepada kelompok (Ermawati dkk,2009).
Dan hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitiaan Jenny, (2007) 91,3 % bahwa di dalam mekanisme terjadinya ketergantungan Napza teman kelompok sebaya (peer group), mempunyai pengaruh yang sangat besar untuk mendorong/mencetuskan penyalahgunaan Napza pada diri seseorang. Hawari (1990) menyatakan pengaruh teman sebaya ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri. Pengaruh teman sebaya ini hanya pada saat perkenalan pertama dengan Napza, melainkan juga yang menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan Napza, sehingga menyebabkan relaps. Marlatt dan Cordon (1980 dalam Jenny 2007), dalam penelitiannya terhadap para penyalahgunaan atau ketergantungan Napza yang kambuh, menyatakan bahwa mereka kembali kambuh karena ditawarin oleh teman-teman yang masih menggunakan Napza.
Hal ini juga dapat dilihat dari item kuesioner dimana, “saya mendapatkan Napza pertama sekali dari teman saya”. Teman sebaya (peer group), mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau mencetuskan penyalahguna zat pada diri seseorang. Perkenalan pertama dengan Napza, biasanya justru datang dari teman
kelompok, pengaruh teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan Napza, melainkan juga yang menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan Napza. Pada hakikatnya penyalahguna Napza tidak mampu menyesuaika diri dalam menjalin hubungan yang baik dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kebanyakan penyalahguna Napza bergabung dengan kelompok teman sebaya dan turut menyalahgunakan Napza. Pada umumnya pertama sekali penyalahguna Napza menggunakan Napza dari teman kelompoknya biasanya dengan ditawari, dijebak, dibujuk, dan sebagainya, sehingga yang bersangkutan turut menggunakan Napza , dan sukar melepaskan diri dari ikatan teman kelompoknya. Keinginan untuk bersatu dalam subkultur ini
makin kuat, dan Napza adalah salah satu pengikat utamanya. (Brehm dkk, 1990, dalam Afatin, 2008).
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang menyalahgunakan Napza pertama sekali dari teman sebaya. Hal ini dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga seseorang sukar melepaskan diri. Selain itu penyalahgunaa Napza melalui faktor teman sebaya tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan Napza, melainkan juga yang menyebabkan seseorang tetap menggunakan Napza sampai relaps.
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan Penelitiaan yang dilakukan pada November - Desember 2013 di Poliklinik Napza Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatra Utara untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan Napza di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatera Utara dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Faktor Kepribadiaan di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatra Utara di dapatkan pada katagori berpengaruh 76,5%
2. Faktor Lingkungan Di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatra Utara di dapatkan pada katagori tidak berpengaruh 61,2
3. Faktor Tersedianya Napza Di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatra Utara di dapatkan katagori berpengaruh 88,2%
4. Faktor Teman Sebaya Di Poliklinik Napza RSJ Daerah Provinsi Sumatra Utara di dapatkan katagori sangat mempengaruhi sebanyak 95,3%.
6.2. Saran
2.1. Bagi Praktik Keperawatan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang menjadi faktor penyebab penyalahgunaan Napza, sehingga dapat menjadi masukkan dalam bidang keperawatan dan memberikan asuhan keperawatan mulai dari penyuluhan tentang bahaya dan dampak Napza sampai pada pengobatan dan perawatan di rehabilitasi Napza.
2.2. Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini disarankan dapat menjadi tambahan informasi bagi pendidikan keperawatan tentang faktor-faktor penyalahgunaan Napza di Poliklinik Napza RSJ Daerah Perovinsi Sumatera Utara.
2.3. Bagi Penelitian Keperawatan.
Hasil penelitian yang diperoleh dapat menjadi data dasar dan informasi bagi penelitiaan selanjutnya dan penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi peneliti selanjutnya yang berkaitan dengan desain, populasi dan tehnik pengambilan sampel yang berbeda.
Andriyani. (2011). Upaya Pencegahan Tindak Penyalahgunaan Narkoba Dikalangan Mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya. Dibuka pada tanggal 3 Juni 2013 dari www.pdf.com.
Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Kelima). Jakarta : Rineka Cipta.
Bahri, S. (2005). Penyalahgunaan Napza Dapat menghancurkan Generasi Muda. Skripsi USU. Dibuka pada tanggal 3 Juni 2013. http://
repository.usu.ac.id.
Dalami, E., Suliswati., Rochima., Suryati, K. R., Lestari. W. (2009). Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Jiwa. Jakarta : TIM.
Doenges, M. E., Townsend, M. C., Moorhouse, M. F. (2006). Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri (Edisi 3). Jakarta : EGC.
Fortinash, M. & Worret, H. (2003). Psychiatric Nursing Care Plans (Edisi 4). California : Mosby.
Goleman, M.E., Moorhouse, M. F. (2005). Penyebab Dan Kondisi Psikologi Penyalahgunaan Napza. Jakarta : Rinela Cipta.
Gunawan, W (2006). Keren Tanpa Narkoba. Jakarta, PT. Grasindo
Hawari, D. H. (2009). Penyalahgunaan Dan Ketergantungan Naza (Edisi Kedua). Jakarta : FK. UI.
Haryanto. N. (2005) Psikologi Penyalahgunaan Napza Bandung : Cipta Pustaka. Hawari, D. H. (2008). Lima Besar Penyakit Mental Masyarakat. Jakarta : FK UI. Husni. (2012). Faktor – faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan Napza oleh
pasien di instalasi Napza Rumah Sakit Jiwa Prof. DR. HB. SA’ANIN PADANG Tahun 2012. Dibuka tanggal 29 Mei 2013 dari www.pdf.com.
Indiyah, (2005). Faktor- Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza Studi Kasus Pada Narapidana di LP Kelas II/A Wirogunan Yogyakarta. Diambil tanggal 3 Juni 2013 dari www.pdf.com.
Jenny. (2007). Karakteristik Penyalahgunaan Napza di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara. Skripsi FIK USU. Dibuka tanggal 29 Mei 2013 dari http:// repository.usu.ac.id.
Joewana, S. (2005). Gangguan Mental dan Prilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif (Edisi 2). Jakarta : EGC.
Martono, L. H. & Joewana, S. (2008). Menangkal Narkoba dan Kekerasan (Edisi Keempat). Jakarta : Balai Pustaka.
Martono, L. H. & Joewana, S. (2006). Membantu Pemulihan Pecandu Narkoba. Jakarta : Balai Pustaka.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Nursalam, S. (2009). Manajemen Keperawatan; Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional (Edisi 2). Jakarta : Salemba Medika. Nasution , Z. (2004) Menyelamatkan Keluarga Indonesia Dari Narkoba Bandung : Cipta Pustaka Media.
Pantjalina. (2008). Faktor Mempengaruhi Prilaku Pecandu Penyalahgunaan Napza Pada Masa Pemulihan di Rumah Sakit Jiwa Daerah Atma Husada Mahakam Samarinda. Dibuka pada tanggal 4 Juni 2013 dari www.pdf.com.
Purba, J. M., Wahyuni, S. E., Nasution, M. L., Daulay, W. (2008). Asuhan -Keperawatan Pada Klien Dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan : Usu Press.
Rustyawati. (2011). Beberapa Faktor Resiko Yang Berhubungan Dengan Penyalahgunaan Napza Yang Dirawat di Panti Rehabilitasi Semarang. Dibuka pada tanggal 3 Juni 2013 dari www.pdf.com.
Rekam Medik (2012) Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.
Saryono. (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan (Edisi 3). Yogyakarta : Mitra Cendikia.
Siregar, M. (2004). Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkotik Pada Remaja di Panti Sosial Parmadi Putra “Insyaf” Medan. Skripsi FSIP USU. Dibuka pada tanggal 26 Mei 2013. http:// repository.usu.ac.id.
Sumiati., Dinarti., Nurhaeni, H., Aryani, R. (2009). Kesehatan Jiwa Remaja dan Konseling (Cetakan : 1). Jakarta : TIM.
Lampiran 1
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN