• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Timbulnya Praktek Sirkumsisi Perempuan

BAB II PENGERTIAN SIRKUMSISI, SEJARAH SIRKUMSISI DAN

C. Faktor Timbulnya Praktek Sirkumsisi Perempuan

Ada banyak alasan yang ditebar untuk membenarkan praktek sirkusmsisi perempuan.90 Namun, secara sederhana dapat dikategorikan ada 5 faktor yang mempengaruhi praktek sirkumsisi perempuan,91 yaitu;

1. Mitos 2. Mitos Seksual 3. Budaya Sosial 4. Kebersihan 5. Doktrin Agama a. Mitos

Pemotongan organ kelamin perempuan atau sirkumsisi perempuan di Afrika, Timur Tengah, dan termasuk di Indonesia adalah suatu fenomena yang

88

Ibn Katsir, Qisash al-Anbiyâ’, editor Musthafa Abdul Wahîd, (Kairo: Dar Kutub al-Hadis, 1968), 202. Lihat Abdul Wahhâb Al-Najjar,Qisash al-Anbiyâ’, (Kairo: al-Halabi, 1966), 94. Disebutkan bahwa perempuan pertama yang disirkumsisi adalah wanita Mesir, yaitu Siti Hajar, karena budaya ini umum berlaku di bantaran sungai Nîl.

89

A. Suyutî Anshari NST, “Khitan Wanita Sebuah Study Normatif Dari Perspektif Islām,” pada acaraRountable Discussion Female Circumcision di PBNU, 16 april 2003.

90

Haifaa A. Jawad, The Rights of Women in Islam: An Authentic Approach, (London: Macmillan, 1998), 56-57.

91

WHO membedakan faktor pelaksanaan sirkusmsisi menjadi 5 macam, yaitu:

Psikoseksual, Sosiologi, Hygiene/estetik, Mitos, dan Agama. Lihat artikel Depkes, “Kebijakan

Departemen Kesehatan Terhadap Medikalisasi Sunat Perempuan”. Artikel diakses pada 3 Mei 2008 dari http://pusdiknakes.or.id/pdpersi/

dilatarbelakangi pemahaman dari mitos-mitos.92 Salah satu mitos menyebut, perempuan adalah sumber godaan syahwat bagi kaum laki-laki, masyarakat meyakini jika bagian klitoris wanita di sirkumsisi, maka dapat menurunkan kadar libido perempuan.93 Dengan demikian, perempuan tidak lagi memiliki nafsu birahi yang berlebihan untuk menggoda kaum laki-laki, karena, tugas perempuan hanyalah sekedar melayani seksual laki-laki94 tanpa perlu menikmatinya. Sepertinya sudah menjadi kesepakatan dalam masyarakat, bahwa kenikmatan seksual dianggap tabu untuk dirasakan oleh perempuan, karena perempuan masih terus direndahkan dan inferioritas dari laki-laki.95 Mitos yang menjelma jadi kepercayaan tersebut berkembang luas di masyarakat, kemudian mengkultuskan tradisi sirkumsisi perempuan sebagai ritual keniscayaan. Meskipun, tradisi tersebut harus dibayar mahal oleh perempuan karena kehilangan organ kelamin maupun kenikmatan seksualnya, tetapi bagi masyarakat ini merupakan cara yang praktis dan efisien demi menjamin status kefeminiman dan kesuciannya.

b. Faktor Seksual

Mitos-mitos berbau seksual yang dipercaya masyarakat mengamini mitos seksual dimana perempuan tidak berhak menikmati kepuasan seksualnya. Kepuasan seksual perempuan hanyalah sebagai pelengkap kepuasan seksual laki-laki. Dari hal ini, berarti perempuan tidak perlu dirangsang atau bergairah dalam senggama, apalagi menikmati orgasme. Oleh karenanya, praktek sirkumsisi yang memotong organ klitoris yang sejatinya merupakan salah satu penyumbang terbesar syaraf sensorik (saraf perasa) perempuan yang paling sensitif menjadi sebuah pembenaran sosial-budaya bahkan oleh agama. Sekaligus tindakan sirkumsisi berarti memindahkan daeraherogen (rangsangan) dari klitoris kebagian liang vagina saja menjadi sesuatu hal yang pasti. Hal ini dimaksud, agar perempuan mampu lebih lama memberikan kepuasan seksual kepada laki-laki dan

92

Gerda Sengers, Women and Demons: Cult Healing in Islamic Egypt, (Leiden & Boston: Brill, 2003), 229.

93

Haifa A. Jawad, Otentisitas Hak-Hak Perempuan Perspektif Islam dan Kesetaraan

Jender, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), terj, cet. Ke-1, . 186. Lihat Alwi Shihab,Islam

Inklusif,(Bandung, Mizan, 2001), cet-9, .276.

94

A.D. Xehopol,History of The Rumanian people in Trajan Dacia(di Rumania), (Iassiy, 1888), volime. 1, 105.

95

Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University,.. lih. Husein Muhammad,Fiqh Perempuan: Refleksi Kiai Atas Wacana Agama Dan Gender, 39.

semakin memupus hasrat perempuan untuk mendapatkan orgasme.96 Mitos seksual yang mendasari praktek infibulation di daerah Afrika, menunjukkan perempuan sebagai pelayan laki-laki mesti siap berkorban demi suaminya untuk mempertahankan kesuciannya hingga pernikahan. Untuk membuktikan perempuan itu masih suci hingga pernikahan, dilihat ketika jahitannya masih utuh dimalam pertama. Seperti praktek infibulasi di daerah Sudan, jahitan pada vagina perempuan tersebut hanya boleh dibuka oleh suaminya ketika menjelang malam pertama.97

Mitos yang menganggap perempuan pertamakali bersetubuh mesti merasakan perih dan kesakitan, melegitimasi praktek sirkumsisi dengan sampai menjahit labia mayora tersebut (infibulasi). Darah dan jeritan perempuan pada saat kali pertama bersenggama dianggap melambangkan keperkasaan laki-laki yang telah berhasil menembus jahitan/keperawanan perempuan tersebut.

Penjagaan keperawanan sampai menikah kelak,98 sangat bernilai tinggi disemua masyarakat yang mempraktekkannya. Oleh karenanya, menyirkumsisi organ genitalnya untuk mengurangi keagressifan nafsu perempuan menjadi wajib.

Selain itu, dasar pemikiran dibalik praktek sirkumsisi perempuan adalah untuk menyenangkan dan memuaskan suami. Pada kasus infibulasi, diperkirakan dengan mengecilkan lobang vagina, kepuasan seksual laki-laki akan semakin maksimal. Sebab itu, komunitas yang memposisikan wanita pada kelas dua, percaya dan berkepentingan melestarikan budaya infibulasi ini.99

Bahkan, sirkumsisi diyakini membantu memuaskan para laki-laki yang berpoligami secara seksual. walaupun terasa aneh, karena hal yang demikian, merupakan

96

Tim Penyusun Buklet Kesehatan Reproduksi PATH Indonesia, . 29.

97

Nasaruddin Umar,Dilemma Seksual Dalam Agama; Implikasi Tradisi Yahudi Kedalam

Tradisi Islam, dalam Elga Sarapung, Agama Dan Kesehatan Reproduksi, (Jakarta: Putaka Harapan, 1999), cet. Ke-1, 119.

98

Diyakini secara luas, terutama di masyarakat-masyarakat yang mendukung praktek sirkumsisi tersebut, bahwa penghilangan sebagian atau seluruh klitoris, yang merupakan titik pusat rangsangan dan kepuasan seksual perempuan, penting untuk melindungi kesucian pra-nikah. Otto Meinardus,Cristian Egypt,Nasaruddin Umar., 334. Selain itu, praktekinfibulasi bagi komunitas-komunitas yang bersangkutan dimaksudkan untuk meminimalkan tindak permerkosaan wanita.

Salah satu ungkapan orang Sudan “Perempuan Sudan itu seperti sebuah semangka karena tidak

ada jalan masuk kedalamnya” membenarkan adanya keyakinan yang demikian. Lihat Anne

Cloudsley,Women of Omdurman,..117-118.

99

penyimpangan ajaran poligami.100 Sirkumsisi selain diharapkan untuk mengurangi libido berlebihan, juga menjaga kesucian dan kesetiaan pada suaminya kelak.101

b. Faktor Budaya Sosial

Faktor budaya menjadi alasan kuat pelaksanaan praktek sirkumsisi perempuan. Praktek ini diduga telah dimulai sejak 4000 tahun silam, sebelum kemunculan agama yang terorganisasi.102 Diduga, pada abad ke-II SM, sirkumsisi perempuan sudah menjadi ritual dalam proses perkawinan. Pada abad ke-19 di Eropa dan Amerika Serikat ditemukan bukti telah dilakukannya praktek clitoridectomy, sebagai bentuk pengobatan terhadap kebiasaan masturbasi yang dilakukan oleh kaum perempuan.103 Pada jaman Romawi, budak-budak perempuan diwajibkan sirkumsisi untuk meninggikan harga jualnya.104

Menurut ahli Antropologi, sirkumsisi yang dilakukan oleh suatu bangsa merupakan cara untuk membedakan (difference) bangsanya dengan bangsa yang lain. Seperti bangsa Sudan, yang cenderung mentato pipi atau memotong salah satu dari gigi mereka sebagai pembeda dari bangsa lain.

Praktek sirkumsisi menentukan diterima atau tidak seorang perawan secara sosial ditengah masyarakat. Nama baik dan kemampuan perempuan untuk menjaga kesucian hingga perkawinan mesti dijamin dengan sirkumsisi. Seringkali gadis yang tidak disirkumsisi akan terus di pergunjingkan dan diklaim sebagai perempuan yang bertingkah liar, dan pembawa sial. Akibatnya, gosip-gosip dan cibiran ini nantinya berefek pada ketidak-percayaan diri, yang pada akhirnya, mengurangi kesempatannya untuk bergaul secara luas di masyarakat mungkin juga membuang kesempatannya untuk menikah.105 Budaya ini sangat kuat mempengaruhi sosial, sampai-sampai seorang ibu yang berpendidikan dan modern sekalipun akan menyirkumsisi anak gadisnya demi menjamin ketenangan dan jaminan pernikahannya kelak.

100

Haifa A. Jawad,Otentisitas Hak-hak Perempuan,... 186.

101 “Kebijakan Departemen Kesehatan Terhadap Medikalisasi Sunat Perempuan,” artikel

diakses tanggal 3 Mei 2008 dari http://pusdiknakes.or.id/pdpersi/

102

Otto Meinardus,Christian Egypt: Faith and Life, 333.

103

Asriati Jamil,Sunat Perempuan Dalam Islam: Sebuah Analisis Jender, 53.

104

Olatinko Koso-Thomas,The Circumcision of Women: A Strategy for Education, 17.

105

c. Faktor Mitos Kebersihan

Merupakan sebuah rahasia umum di kalangan beberapa komunitas bahwa alat kelamin perempuan bagian luar itu kotor, dan juga dianggap jelek.106 Menurut kepercayaan sebagian masyarakat,107 seperti di Gorontalo, Bugis, Makasar, Sumatera, Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Madura menganggap klitoris itu sesuatu yang kotor, titipan syetan, dan sebagai pusat nafsu seksual perempuan yang tidak terkendali. Oleh karena itu, organ genitalia eksternal/bagian luar perlu dipotong atau dihilangkan untuk mejaga kebersihannya secara fisik atau mistis. Jadi, sirkumsisi dilakukan untuk meningkatkan kebersihan, kesejatian dan bahkan keindahan pada organ kelamin perempuan.

d. Faktor Doktrin Agama

Di negara-negara yang mempraktekkan sirkumsisi perempuan, praktek tersebut dibenarkan dengan dasar-dasar keagamaan. Bahkan dalam kepaercayaan Yahudi terdapat doktrin keagamaan yang mengindikasikan perempuan memiliki nafsu seksual yang agressif. Legitimasi doktrin kutukan tersebut termaktub dalam kitabTalmud, yang berbunyi:"Perempuan masih akan merasakan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi" dan "Perempuan dangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepada suaminya".108 Atas dasar ini, sebagian masyarakat yakin pada dasarnya perempuan itu memiliki nafsu seksual agressif (hyperseksual), makanya harus dikebiri dengan sirkumsisi untuk menstabilkan syahwat perempuan.

Dalam masyarakat Islam hampir semua kelompok percaya bahwa sikumsisi itu ditentukan oleh doktrin agama. Bahkan dibeberapa negara dahulunya

106

Di kalangan beberapa komunitas tertentu yang mempraktekkan FGM atau sirkumsisi, ada sebuah keyakinan budaya yang mendalam bahwa organ kelamin yang tidak disirkumsisi itu jelek dan menjijikkan. Sebab itu, jika bagian alat kelamin tersebut dibiarkan tidak disirkumsisi, maka akan tumbuh semakin besar atau menjuntai, mereka takut menjijikkan bagi laki-laki. Untuk itu, teguran-teguran bersifat mengejek sering dilontarkan jika perempuan tersebut tidak mau disirkumsisi. Efua Dorkenoo, Cutting the rose, 34. lih. Haifa A. Jawad, Otentisitas Hak-hak

perempuan, 199. lihat Ibn Hajar al-Asqolani,Fath al-Barri fî Syarh Sahih al-Bukhari, 531.

107

Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University,...10.

108

Nasaruddin Umar, Dilemma Seksual Dalam Agama; Implikasi Tradisi Yahudi

Kedalam Tradisi Islam, dalam Elga Sarapung, Agama Dan Kesehatan Reproduksi, (Jakarta: Pustaka Harapan, 1999),.

seperti Mesir, Somalia, dan Sudan, praktek ini disahkan sebagai salah satu prinsip Islam yang wajib.109

Masyarakat memaklumi sirkumsisi sebagai ritual untuk menolak sihir, atau bagian dari (order) perintah agama, dimana seseorang dituntut untuk mengorbankan sebagian organ tubuhnya sebagai tebusan ketingkat suci demi untuk mendekatkan diri kepada tuhan-Nya.

Praktek sirkumsisi perempuan di masyarakat Indonesia, sebagian besar dikaitkan dengan doktrindoktrin agamaselain budaya atau tradisi sejak leluhur -yang menyebut praktek tersebut adalah kewajiban.110 Bermula dari doktrin-doktrin generasi terdahulu sampai ke genarasi berikutnya, kemudian dipoles dalam doktrin agama islam dimana salah satu tujuannya dikatakan agar ibadahnya lebih diterima oleh tuhan karena jika belum disirkumsisi berarti masih kotor dan bernajis.

D. Prosedur Sirkumsisi Perempuan menurut Ahli Kesehatan (WHO) Word

Dokumen terkait