• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang berhubungan dengan Harga diri rendah pada Lansia

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 178-183)

BAB 6 PEMBAHASAN

6.7 Faktor yang berhubungan dengan Harga diri rendah pada Lansia

Hasil penelitian menemukan bahwa Terapi Kelompok Reminiscence, jenis kelamin dan pengalaman kerja merupakan faktor yang mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap harga diri rendah pada lansia yang tinggal di PSTW Budi Sejahtera Provinsi Kalimantan Selatan. Peluang Terapi Kelompok

Reminiscence, jenis kelamin dan pengalaman kerja secara bersama-sama untuk

menurunkan harga diri rendah sebesar 58,1 %, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor lain.

Harga diri rendah merupakan salah satu masalah yang dapat ditemui pada lansia. Harga diri rendah pada lansia dapat terjadi karena adanya perubahan biologis, psikologis dan sosial lansia. Perubahan biologis pada lansia dapat menurunkan penilaian yang negatif bagi lansia tentang fisiknya. Penilaian negatif muncul karena secara kognitif lansia belum mampu menemukan hal positif yang masih dimiliki lansia.

Pada kegiatan terapi kelompok reminiscence setiap lansia akan menyampaikan pengalaman positif yang dialaminya baik pada masa anak, remaja maupun dewasa. Pengalaman positif ini sebenarnya dapat menjadi hal yang positif bagi lansia. Lansia dapat menyerap kembali motivasi yang telah dimilikinya pada waktu dulu. Lansia juga dapat mengidentifikasi aspek positif apa saja yang dahulu

pernah ia miliki dan sekarang aspek positif tersebut masih dapat dioptimalkan. Terapis dalam proses kegiatan terapi ini tentunya membantu lansia untuk mengambil makna positif dari kehidupan masa lalunya. Dengan demikian proses terapi kelompok reminiscence sangat membantu lansia untuk menemukan kembali aspek-aspek positif yang masih dimilikinya. Hal ini sangat membantu lansia untuk meningkatkan harga diri lansia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang benar terapi kelompok reminiscence dapat meningkatkan harga diri lansia. Penelitian sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Frisch dan Frisch (2006) bahwa terapi reminiscence bertujuan untuk meningkatkan harga diri.

Masa lansia merupakan masa pensiun, yang memberikan makna bahwa lansia sudah tidak bekerja lagi. Perubahan status dari bekerja menjadi tidak bekerja ini dapat menjadi stressor psikologis pada lansia yang dapat berkembang menjadi konsep diri yang negatif yakni perasaan malu dan tidak berharga. Hal ini selaras dengan pernyataan Lemon, Bengston dan Peterson (1972, dalam Fortinash & Worret, 2004) bahwa memelihara stabilitas sosial adalah sebagai dukungan konsep diri yang positif bagi seseorang.

6.8 Faktor yang berhubungan dengan Ketidakberdayaan pada Lansia

Hasil penelitian menemukan bahwa Terapi Kelompok Reminiscence memiliki hubungan sangat erat terhadap ketidakberdayaan pada lansia, Peluang untuk menurunkan ketidakberdayaan pada lansia dengan pemberian terapi kelompok

reminiscence adalah sebesar 63,8 %, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor

lain.

Faktor terapi kelompok reminiscence dalam penelitian ini merupakan satu-satunya faktor yang berpengaruh terhadap penurunan ketidakberdayaan pada lansia. Faktor ini mempunyai peran yang sangat penting karena dalam proses kegiatan terapi, terapis memfasilitasi lansia untuk mengingat, mengenal dan memahami kemampuan diri lansia masing-masing. Setelah lansia mengenal kemampuan fisik, psikologis, sosial dan spiritual yang masih dimilikinya, terapis mencoba membantu lansia untuk mengoptimalkan kembali fungsi-fungsi tersebut. Terapis juga selalu memberikan penguatan positif (reinforcement positif) atas upaya dan

kemampuan yang telah dilakukan lansia. Proses inilah yang telah mampu memulihkan perasaan ketidakberdayaan yang dialami oleh lansia yang tinggal di panti sosial. Proses ini sesuai dengan pernyataan Fontaine dan Fletcher (2003) bahwa terapi reminiscence mempunyai tujuan untuk membantu individu mencapai kesadaran diri dan memahami diri, sehingga mampu beradaptasi terhadap stress. Stuart (2009) juga menyatakan bahwa reminiscence dapat membantu individu untuk menstimulasi pikirannya tentang dirinya sendiri.

6.9 Faktor yang berhubungan dengan Keputusasaan pada Lansia

Hasil penelitian menemukan bahwa hanya Terapi Kelompok Reminiscence memiliki hubungan yang sangat erat terhadap keputusaasaan pada lansia. Peluang untuk menurunkan keputusasaan pada lansia dengan pemberian terapi kelompok

reminiscence adalah sebesar 57,9 %, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor

lain.

Dalam proses terapi kelompok reminiscence lansia diajak untuk mengingat kembali masa lalunya yang menyenangkan. Proses ini telah memberikan upaya untuk mencegah lansia mengingat hal-hal negatif atau kesedihan yang pernah dialaminya pada masa lalu. Kegiatan terapi yang dilakukan berulang-ulang juga merupakan pembelajaran positif bagi lansia, sehingga hal tersebut akan semakin lebih baik untuk mengatasi perasaan kesedihan yang dialami lansia. Lansia akan termotivasi untuk mengingat kemampuan yang dimilikinya, sehingga perasaan keterbatasan karena usia yang telah lanjut dapat diminimalkan. Lansia juga mulai mengenal kemampuan-kemampuan yang masih dimilikinya baik biologis, psikologis, sosial, spiritual dan kognitif. Dengan demikian terapi reminiscence sangat membantu lansia untuk memahami dirinya sendiri dan mengoptimal keterbatasan yang dimilikinya karena proses menua. Hal ini sesuai dengan tujuan terapi reminiscence yang dikemukakan oleh Bohlmeijer (2003; Haight & Burnside, 1993, dalam Ebersole, et al., 2005) bahwa terapi ini dapat memberikan stimulasi kognitif.

Terapi reminiscence yang dilaksanakan secara berkelompok juga telah menciptakan sistem dukungan (support system) yang baru bagi lansia yang tinggal

di panti sosial. Dukungan tersebut tidak lain adalah berasal dari teman sesama lansia yang ada di dalam kelompok, selain itu lansia juga dapat mengembangkan untuk mendapatkan support system dari lansia lain diluar kegiatan terapi atau bahkan dari social worker. Dukungan dari teman-teman menurut Stuart (2009) merupakan salah satu strategi koping bagi lansia untuk mengatasi keputusasaan. Dengan demikian terapi kelompok reminiscence telah dapat membantu lansia untuk mendapat dukungan sosial dalam mengatasi ketidakberdayaan.

6.10 Faktor yang berhubungan dengan Isolasi sosial pada Lansia

Hasil penelitian menemukan bahwa Terapi Kelompok Reminiscence dan status perkawinan memiliki hubungan yang sangat erat terhadap isolasi sosial pada lansia, dan peluang kedua faktor tersebut secara bersama-sama untuk menurunkan isolasi sosial pada lansia sebesar 58,3 %, sedangkan sisanya ditentukan oleh faktor lain.

Isolasi sosial merupakan salah satu gejala lansia yang mengalami depresi. Isolasi sosial dapat terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk membina hubungan dengan orang lain. Pada lansia yang tinggal di panti sosial, isolasi sosial dapat dialami oleh lansia karena lansia kurang mampu untuk memulai dan mempertahankan komunikasi atau interaksi dengan sesama lansia. Hal ini bisa saja terjadi karena lansia yang tinggal di panti tidak mempunyai hubungan kekerabatan dan tidak pernah saling kenal, sehingga lebih menyengani kesendirian. Hal ini sejalan dengan pernyataan Jung (dalam Stanley, Blair & Beare, 2005) bahwa pada lansia terjadi penurunan tanggung jawab dan tuntutan dari keluarga dan ikatan sosial sehingga lansia akan menjadi lebih introvert. Dalam proses kegiatan terapi kelompok reminiscence lansia yang menjadi anggota kelompok tentunya mempunyai kesempatan yang banyak untuk berinteraksi dengan lansia lain. Proses ini sangat mendukung bagi lansia yang mengalami isolasi sosial untuk meningkatkan kemampuan interaksinya dengan orang lain khususnya sesama lansia dan juga dengan terapis. Lansia akan semakin lebih banyak dan lebih jauh mengenal teman sesama kelompok. Kesempatan ini telah memberikan pembelajaran bagi lansia mengenai manfaat berinteraksi dan

membina hubungan dengan orang lain. Dengan demikian lansia diharapkan mampu membina dan mempertahankan hubungan sosialnya dengan orang lain. Setiap pertemuan dalam kegiatan terapi, semua anggota kelompok diberikan kesempatan untuk berbicara sesuai topik diskusi dan juga memberikan tanggapan terhadap orang lain. Kegiatan ini merupakan latihan bagi lansia untuk berkomunikasi dengan orang lain. Setelah proses kegiatan terapi kelompok

remiscence selesai diharapkan lansia telah mempunyai bekal untuk memulai

membina hubungan dan mempertahankan hubungan sosialnya dengan orang lain. Dengan demikian proses terapi reminiscence yang dilakukan secara berkelompok dapat memperbaiki isolasi sosial pada lansia. Hasil penelitian ini juga sepakat dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Chiang, et al., (2009) bahwa terapi reminiscence dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi lansia.

Responden dalam penelitian ini sebagian besar dengan status perkawinan belum kawin/duda/janda yakni sebesar 94,67 %. Tidak adanya pasangan hidup menurut Blazer (2002, dalam Miller, 2004) dapat mencetuskan terjadinya depresi pada lansia. Segal (2010) juga menyatakan bahwa pada perempuan yang menikah lebih rendah kejadiannya depresi daripada yang tidak menikah atau bercerai. Pasangan hidup merupakan teman intim dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi sumber koping individu. Tidak adanya pasangan hidup (kematian/perceraian) telah membuat lansia kehilangan salah satu orang yang dekat dalam melakukan interaksi dalam kehidupan sehari-hari dan sumber koping dirinya dalam menghadapi berbagai stressor kehidupan. Faktor ini dapat menjadikan lansia menarik diri interaksi sosial.

6.11 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah waktu pelaksanaan terapi sangat terbatas sehingga untuk menyelesaikan seluruh pertemuan yakni sebanyak 9 kali pertemuan untuk masing-masing kelompok sebagian besar dilaksanakan pada siang hari setelah jam 13.00. Waktu ini dirasakan peneliti kurang efektif karena pada jam tersebut sebagian lansia sedang istirahat siang. Keterbatasan waktu pelaksanaan kegiatan terapi ini juga karena bersamaan dengan pelaksanaan hari

ulang tahun lansia sehingga pada pagi hari lansia mengikuti berbagai kegiatan (perlombaan dan kegiatan massal) yang berkaitan dengan hal tersebut.

Jumlah responden pada lokasi panti yang menjadi kelompok kontrol tidak mencukupi jumlah sampel penelitian, sehingga untuk memenuhi jumlah sampel, peneliti juga melibatkan 8 lansia yang tinggal di panti yang diberikan intervensi sebagai anggota responden kelompok kontrol.

Keterbatasan lain dalam penelitian ini adalah tidak adanya supervisi dan validasi dokumentasi pelaksanaan asuhan keperawatan generalis baik pada kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.

Dalam proses pengumpulan data tidak dilakukan uji interriter reliability (persamaan persepsi) antara peneliti dengan pengumpul data yang dapat mempengaruhi hasil pengukuran respons psikososial lansia).

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 178-183)