• Tidak ada hasil yang ditemukan

Proses Pelaksanaan Penelitian

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 136-141)

BAB 5 HASIL PENELITIAN

5.1 Proses Pelaksanaan Penelitian

Proses pelaksanaan penelitian meliputi tahap persiapan dan tahap pelaksanaan penelitian.

5.1.1 Tahap Persiapan

Minggu pertama penelitian digunakan sebagai tahap persiapan. Kegiatan dalam tahap persiapan ini meliputi penyelesaian perijinan penelitian, merekrut dan melatih pengumpul data, seleksi lansia sebagai responden, pengumpulan data dan penetapan sampel penelitian, pelatihan asuhan keperawatan psikososial dan persetujuan responden penelitian.

Persiapan penelitian dimulai dengan mengurus perijinan pada instansi tempat penelitian. Setelah mendapat persetujuan dari pimpinan PSTW Budi Sejahtera, peneliti bersama dengan Kepala Seksi Pelayanan dan tenaga perawat yang ada di panti merencanakan mengenai kegiatan pelatihan untuk asuhan keperawatan psikososial terkait dengan diagnosa keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan dan isolasi sosial.

Kegiatan berikutnya peneliti melakukan rekruitmen dan melatih pengumpul data. Pengumpul data adalah mahasiswa semester VI Diploma III Keperawatan sebanyak 12 orang. Satu hari sebelum pengumpulan data dilakukan peneliti memberikan penjelasan dan pengarahan pada pengumpul data mengenai materi, cara dan prosedur pengumpulan data.

Pada tahap selanjutnya peneliti bersama dengan perawat yang ada di panti melakukan seleksi lansia yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Berdasarkan hasil seleksi ini pada lokasi panti yang ada di Kota Banjarbaru terdapat 56 orang lansia yang memenuhi kriteria penelitian dari 110 lansia, sedangkan pada lokasi panti di Kota Martapura hanya ada 31 lansia saja yang memenuhi kriteria penelitian dari 60 lansia yang tinggal di panti tersebut.

Setelah kegiatan seleksi lansia selesai, maka kegiatan selanjutnya adalah pengumpulan data yang dilaksanakan oleh pengumpul data. Pada tahap awal peneliti mendampingi pengumpul data dalam proses pengumpulan data, selanjutnya pengumpul data melaksanakan kegiatan pengumpulan data secara mandiri.

Setelah pengumpulan data sebanyak 56 orang lansia selesai dilaksanakan, peneliti melakukan penilaian dan rekapitulasi nilai untuk menetapkan lansia yang

mengalami depresi dengan diagnosa keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan dan isolasi sosial.

Hasil penilaian untuk lansia yang ada di panti di Kota Banjarbaru dari 56 orang lansia terdapat 48 lansia (85,7 %) yang mengalami depresi dan memenuhi kriteria sampel penelitian dan 8 orang (14,3 %) yang tidak mengalami depresi (tidak memenuhi kriteria penelitian). Pada akhir penelitian lansia yang menjadi responden penelitian yang tinggal di panti yang ada di kota Banjarbaru hanya 46 lansia, karena 1 orang meninggal dunia dan 1 lansia lagi menolak menjadi responden. Pada panti yang berada di Kota Martapura dari 31 lansia terdapat 29 lansia (93,5 %) yang mengalami depresi dan memenuhi kriteria sampel penelitian, sedangkan 3 lansia (9,7 %) tidak mengalami depresi (tidak memenuhi kriteria penelitian). Berdasarkan jumlah keseluruhan lansia yang mengalami depresi yaitu 75 lansia terdapat 73 lansia (97,3 %) dengan harga diri rendah, 70 lansia (93,3 %) dengan ketidakberdayaan, 74 lansia (98,7 %) dengan keputusasaan dan 58 lansia (77,3 %) dengan isolasi sosial.

Lansia yang memenuhi kriteria penelitian ini ditetapkan sebagai calon responden, kemudian secara simple random sampling ditetapkan sebagai sampel penelitian. Untuk memenuhi jumlah sampel penelitian bagi kelompok kontrol, peneliti mengikutsertakan 8 orang lansia yang ada di panti yang berlokasi di Kota Banjarbaru dan lansia tersebut tinggal berbeda wisma dengan lansia yang menjadi kelompok intervensi dan dari hasil observasi peneliti hanya 1 dari 8 lansia tersebut yang sering bergaul dengan rekannya yang ikut pada kelompok kontrol. Hal ini menjadi salah satu kelemahan/keterbatasan dalam penelitian ini. Data hasil seleksi awal (screening) lansia ini digunakan peneliti sebagai nilai pre test baik untuk kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.

Pada tahap lanjut peneliti melaksanakan pelatihan asuhan keperawatan psikososial tentang diagnosa keperawatan harga diri rendah, ketidakberdayaan, keputusasaan dan isolasi sosial. Pelatihan ini dilaksanakan selama 2 hari untuk kegiatan tutorial dan 1 hari praktik mandiri. Pelatihan ini diikuti oleh 4 orang perawat yang menjadi tenaga kesehatan di panti ini dengan latar belakang pendidikan semua

perawat adalah lulusan Diploma III keperawatan dan memiliki pengalaman kerja sudah lebih dari 1 tahun. Pada akhir penelitian hasil post test masing-masing perawat mencapai nilai lulus yaitu 71. Setelah kegiatan pelatihan ini, diharapkan perawat melaksanakan asuhan keperawatan psikososial pada responden penelitian baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol sesuai dengan diagnosa keperawatan yang ditegakkan.

Kegiatan akhir dalam tahap persiapan penelitian ini adalah penandatanganan surat pernyataan kesediaan menjadi responden (persetujuan informed consent). Sebelum pengisian surat pernyataan tersebut, terlebih dahulu peneliti memberikan penjelasan kepada responden mengenai tujuan, manfaat, prosedur dan proses pelaksanaan serta konsekuensi menjadi responden penelitian. Responden juga diberi kesempatan untuk bertanya apabila belum mengerti mengenai penjelasan yang telah disampaikan oleh peneliti. Setelah memahami penjelasan peneliti, responden diminta untuk menandatangani atau memberikan cap jempol tangan pada lembar persetujuan menjadi responden penelitian.

5.1.2 Tahap Pelaksanaan

Kegiatan penelitian secara keseluruhan dilaksanakan selama empat minggu. Kegiatan Terapi Kelompok Reminiscence untuk setiap kelompok dilakukan sebanyak 5 sesi dengan 9 kali pertemuan. Sesi 1 sampai dengan sesi 4 masing-masing dilakukan sebanyak 2 kali pertemuan, sedangkan sesi 5 dilakukan 1 kali pertemuan.

Pelaksanaan setiap pertemuan dilakukan dengan selang waktu 1 hari. Lama waktu setiap pertemuan rata-rata berlangsung selama 75 menit, sedangkan waktu pertemuan lebih banyak dilakukan mulai jam 10 pagi dan setelah jam 13 siang karena menyesuaikan dengan kegiatan rutin lansia di panti dan pada saat penelitian di panti ini juga sedang ada kegiatan merayakan hari ulang tahun lansia, sehingga ada beberapa hari yang digunakan oleh lansia untuk mengikuti berbagai kegiatan dalam rangkaian perayaan hari ulang tahun tersebut.

Tempat pelaksanaan kegiatan ada 2 tempat yaitu di ruang musholla dan di wisma Teratai. Tempat ini tidak sesuai dengan perencanaan awal penelitian (tidak sesuai dengan modul) dimana sebelumnya pertemuan direncanakan di aula panti. Perubahan tempat kegiatan ini terjadi karena responden menyatakan merasa sulit untuk datang ke tempat tersebut (agak jauh dari tempat tinggal) dan terkadang aula tersebut digunakan untuk pertemuan. Pemilihan tempat musholla dan wisma Teratai dengan pertimbangan kedua tempat cukup nyaman dan tenang serta dapat dengan mudah dicapai oleh responden.

Topik yang didiskusikan untuk pertemuan 1, 3 sampai pertemuan ke 9 telah sesuai dengan modul terapi. Pada pertemuan ke 2 topik diskusi dimodifikasi oleh peneliti yang semula topik diskusi tentang guru yang paling disenangi pada saat duduk dibangku sekolah dasar dimodifikasi menjadi teman yang paling disenangi pada masa anak. Modifikasi topik diskusi ini dilakukan oleh peneliti dengan pertimbangan sebagian besar responden yaitu sebanyak 25 lansia (33,3 %) dengan latar belakang tidak sekolah dan tujuan terapi tetap dapat dicapai. Dengan demikian untuk topik ke dua dari modul ini dapat dimodifikasi sesuai dengan pendidikan lansia.

Selama proses kegiatan Terapi Kelompok Reminiscence berlangsung semua peserta memberikan perhatian dan berpartisipasi secara aktif serta mampu berkomunikasi sesuai dengan topik dalam kegiatan terapi, bahkan ada beberapa lansia yang telah siap menunggu sebelum kegiatan dimulai. Dalam proses kegiatan terapis menemukan ada 1 orang lansia dengan latar belakang pengemis sehingga hampir setiap kali pertemuan sangat sulit memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam kehidupannya. Pada lansia ini terapis selalu mendampingi dan memfasilitasi lansia untuk dapat mencapai tujuan kegiatan terapi. Jumlah responden kelompok intervensi pada awal pelaksanaan Terapi Kelompok

Reminiscence sebanyak 39 orang dan pada pertemuan ke 7, 1 orang responden

meninggal dunia, sehingga responden kelompok intervensi berjumlah 38 orang. Responden kelompok kontrol pada awal kegiatan sebanyak 38 orang tetapi dalam proses kegiatan selanjutnya 1 orang responden mengundurkan diri dengan alasan banyak kegiatan, sehingga responden kelompok kontrol berjumlah 37 orang.

Setelah kegiatan terapi selesai diberikan, kemudian dilakukan post test baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol.

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 136-141)