2.6.1.1.Umur
Menurut Siagian (1995), semakin lanjut usia seseorang semakin meningkat pula kedewasaan tehnisnya, demikian pula psikologis serta menunjukkan kematangan jiwa. Usia yang semakin meningkat akan meningkat pula kebijaksanaan kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan, berpikir rasional, mengendalikan emosi, dan bertoleransi terhadap pandangan orang lain, sehingga berpengaruh terhadap peningkatan motivasinya.
2.6.1.2.Pendidikan
Pendidikan adalah proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana ia hidup, proses sosial di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (Ihsan, 1997).
Tingginya angka kesakitan dan kematian karena diare di Indonesia disebabkan oleh faktor kesehatan lingkungan yang belum memadai, keadaan gizi, kependudukan, pendidikan, keadaan sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keadaan penyakit diare (Depkes RI., 1995). Hasil penelitian didapatkan bahwa kelompok ibu dengan tingkat pendidikan SLTP ke atas, mempunyai kemungkinan 1,6 kali lebih baik dalam memberikan cairan
rehidrasi pada balita, bila dibandingkan dengan kelompok ibu yang tingkat pendidikannya SD kebawah. (Erial, 1994). Penelitian Wibowo, dkk (2002) menunjukkan bahwa 23,8% kejadian diare pada anak balita yang ibunya memiliki tingkat pengetahuan tentang diare dengan katagori kurang. Berdasarkan tingkat pendidikan ibu, balita yang memiliki ibu dengan pendidikan rendah (SLTA kebawah) lebih berisiko menderita diare dari pada balita dengan ibu yang berpendidikan tinggi. 2.6.1.3.Pengetahuan
Pengalaman atau pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan faktor yang sangat berperan dalam menginterpretasikan suatu rangsangan yang diperoleh. Pengalaman masa lalu akan menyebabkan terjadinya perbedaan dalam interpretasi (Notoatmodjo, 2005). Sebelum seseorang mengadobsi perilaku baru, harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya (Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkat seperti dalam tabel berikut:
Tabel 2.2. Tingkat Pengetahuan dalam Domain Kognitif
Domain Definisi Tahu Mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
Memahami Kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan secara benar.
Aplikasi Kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil.
Analisis Kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut.
Sintesis Kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Evaluasi Kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
(Notoatmodjo, 2003)
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan sebagai parameter keadaan sosial dapat sangat menentukan kesehatan masyarakat. Masyarakat dapat terhindar dari penyakit asalkan pengetahuan tentang kesehatan dapat ditingkatkan, sehingga perilaku dan keadaan lingkungan sosialnya menjadi sehat (Slamet, 1994).
2.6.1.4.Pekerjaan
Menurut Khomsan (2004), permasalahan penyakit diawali masalah kesehatan berakar dari kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi yang belum membaik. Permasalahan kesehatan dapat dikendalikan apabila angka kemiskinan dikurangi serta perlakuan yang adil pada perempuan bisa menjadi salah satu kunci pemecahan masalah kesehatan. Status sosial perempuan akan meningkat apabila mereka
mempunyai posisi ekonomi yang baik. Hal ini juga disertai dengan mendapatkan pendidikan, kesehatan, dan kesehatan yang lebih baik bagi anak-anaknya.
Pekerjaan ibu dapat dikatagorikan sebagai pegawai negeri dan pegawai swasta memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi bila dibandingkan dengan ibu yang bekerja sebagai buruh atau petani. Kondisi ini mempengaruhi ibu dalam dalam mengasuh anaknya, ibu yang bekerja harus membiarkan anaknya diasuh oleh orang lain, sehingga mempunyai resiko lebih besar untuk terjadi diare (Giyantini, 2000).
2.6.2. Karakteristik Anak 2.6.2.1.Umur
Umur mempengaruhi seseorang untuk menderita suatu penyakit. Ada penyakit yang banyak menyerang kelompok umur anak saja seperti Morbilli, Polio, Pertusis, Diphtherie, Cacar air dan juga diare, hal ini terjadi karena anak belum mempunyai kekebalan terhadapnya (Soemirat, 2005). Faktor umur sangat berpengaruh dalam proses terjadinya suatu penyakit infeksi atau penyakit menular. Menurut Crofton et al. (1992), kekuatan untuk melawan infeksi merupakan pertahanan tubuh untuk mengatasi perkembangan infeksi, tergantung tingkat umur penderita saat terkena infeksi. Pada awal kelahiran pertahanan tubuh sangat lemah dan akan meningkat perlahan-lahan sampai umur 10 tahun. Setelah puberitas, pertahanan tubuh lebih baik dalam mencegah penyebaran infeksi.
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) DepKes RI tahun 2000, bahwa 10% penyebab kematian bayi adalah diare. Data statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia dan dua pertiganya adalah
bayi dengan korban meninggal sekitar 600.000 jiwa (Widjaja, 2002). Angka kesakitan dan kematian pada anak usia 1-4 tahun dikarenakan diare sebagai akibat pengaruh gizi buruk, anak di bawah 1 tahun rata-rata mendapat diare 1 kali dalam setahun, sedangkan usia 1-5 tahun mendapat lebih dari 2 kali setahun terserang diare.
Sebagian besar diare terjadi pada anak di bawah umur usia 2 (dua) tahun. Hasil analisis lanjut SDKI (1995) didapatkan bahwa umur balita 12 sampai dengan 24 bulan mempunyai risiko terjadi diare 2,23 kali dibandingkan anak umur 25 sampai dengan 59 bulan.
2.6.2.2.Jenis kelamin
Insiden berbagai penyakit di antara jenis kelamin kebanyakan berbeda. Perbedaan ini terutama disebabkan karena paparan terhadap agent bagi setiap jenis kelamin berbeda, misalnya anak laki-laki lebih suka aktivitas fisik dari pada anak perempuan, maka penyakit yang diderita akan berbeda akibat perilaku dan fungsi sosial berbeda (Soemirat, 2005). Jenis kelamin adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dan mempunyai perbedaan dalam menentukan status kesehatan (Depkes. RI, 1994).
2.6.2.3.Status gizi
Status gizi merupakan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi. Penentuan status gizi anak atau seseorang didasarkan pada kategori dan indikator yang digunakan. Di bawah ini adalah kategori dan indikator yang digunakan dan batas-batasnya, yang merupakan hasil kesepakatan nasional pakar gizi
di Bogor bulan Januari 2000 dan di Semarang bulan Mei 2000, yang tercantum dalam surat edaran Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat No: KM.02.03.1,4,1298, tanggal 31 Juli 2000 tentang Kartu Menuju Sehat (KMS) Balita, Pemantauan Status Gizi (PSG) dan Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG). Standar antropometri untuk pengukuran status gizi dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3. Baku Antropometri Menurut Standar WHO – NCHS
Indikator Status Gizi Keterangan
Berat badan menurut umur (BB/U) Gizi Lebih Gizi Baik Gizi Kurang Gizi Buruk > 2 SD ≥ -2 SD - 2 SD < 2 SD - ≥ 3 SD < - 3 SD Tinggi badan menurut umur (TB/U) Normal Pendek ≥ 2 SD sampai + 2 SD < - 2 SD
Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) Gemuk Normal Kurus Kurus sekali > 2 SD ≥ -2 Sd sampai+ 2 SD < -2 SD sampai ≥-3 SD < -3 SD
Penilaian status gizi berguna untuk memperoleh gambaran tentang:
Status gizi anak untuk memutuskan apakah anak perlu diberikan intervensi atau tidak. Status gizi masyarakat yang sering digambarkan dengan besaran masalah gizi pada kelompok anak balita. Besaran masalah gizi ini biasanya disajikan dalam nilai Prevalensi Kurang Gizi (Depkes RI, 2000).
2.6.3. Upaya Pengobatan 2.6.3.1.Rumah sakit
Fungsi rumah sakit selain yang diatas juga merupakan pusat pelayanan rujukan medik spesialistik dan sub spesialistik dengan fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan (kuratif) dan Pemulihan (rehabilitasi pasien) (Depkes R.I, 1989).
Rumah sakit merupakan salah satu sistem penyelenggara pelayanan kesehatan. Menurut Wolpen dan Pena (Azwar, 1997), rumah sakit adalah tempat orang sakit mencari dan menerima pelayanan kedokteran serta tindakan, penelitian klinis untuk mahasiswa kedokteran, perawat dan berbagai tenaga profesi kesehatan lainnya diselenggarakan. Dari batasan tersebut di atas, fungsi dan kegiatan rumah sakit saat ini mengalami berbagai perkembangan. Jika dahulu fungsi rumah sakit hanya untuk menyembuhkan orang sakit (nasocomium/hospital), maka pada saat ini telah berkembang menjadi tempat pendidikan.
2.6.3.2.Puskesmas
Depkes RI (1991) mendefinisikan puskesmas sebagai suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.
Salah satu kegiatan pokok puskesmas dalam upaya pencegahan penyakit menular, termasuk diare adalah: mengumpulkan dan menganalisa data tentang
penyakit diare, melaporkan kasus penyakit diare, menyelidiki di lapangan untuk melihat benar atau tidaknya laporan yang masuk untuk menemukan kasus-kasus baru, dan untuk mengetahui sumber-sumber penularan, tindakan sesegera mungkin untuk mencegah perkembangan penyakit secara luas, mengobati penderita sehingga tidak lagi menjadi sumber penularan penyakit, pemberian imunisasi, pemberantasan vektor, serta memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat (Effendy, 1998).
Upaya pengobatan diare yang dilakukan puskesmas yaitu: Melaksanakan diagnosa penyakit diare sedini mungkin meliputi: mengkaji riwayat penyakit, mengadakan pemeriksaan fisik, mengadakan pemeriksaan laboratorium, menegakkan diagnosa diare. Setelah penentuan diagnosa, maka dilakukan tindakan pengobatan segara terhadap penderita diare. Melakukan upaya rujukan bila dianggap perlu (Effendy, 1998).
Penanganan penderita diare dengan dehidrasi ringan atau sedang dilakukan dengan pemberian oralit selama periode 3 (tiga) jam. Ketentuan pemberian oralit berdasarkan usia dan berat badan.
Tabel 2.4. Cara Pemberian Oralita
Usia Barat Badan Jumlah (ml)
0 Sampai 4 bulan < 6 kg 200 – 400
4 sampai 12 bulan 6 s/d 10 kg 400 – 700
12 sampai 24 bulan 10 s/d 12 kg 700 – 900
Kemudian ajarkan kepada ibu cara pemberian oralit yaitu: a. Minum sedikit-sedikit, tetapi sering.
b. Jika anak muntah, tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi pemberian oralit. c. Lanjutkan pemberian ASI selama anak mau (Sudiharto, 2007).
2.6.3.3.Dokter praktek
Dokter praktek umum adalah kontraktor independen, yang memberikan serangkaian pelayanan medik yang menyeluruh selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu kepada pasien pasien praktik mereka dan pasien di luar itu yang mengalami kedaruratan. Dokter umum ini menetapkan target tertentu untuk Imunisasi, sitologi dan screening untuk usia lanjut dan juga menetapkan anggaran praktik.
2.6.3.4.Biaya
Perilaku seorang ibu dalam menangani anak balita yang sakit banyak dipengaruhi oleh sosial diantaranya adalah fasilitas kesehatan yang diperlukan sangat jauh letaknya, para petugas kesehatan tidak simpatik, judes, tidak responsif. Alasan lain adalah takut kepada dokter, takut pergi ke rumah sakit, dan takut akan biaya yang besar. Katagori penggunaan pelayanan kesehatan juga dipengaruhi oleh pendapatan keluarga. Ini berarti bahwa sumber pendapatan keluarga menentukan kesanggupan untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi anggota keluarganya (Notoatmodjo, 2003).
Pendapatan rumah tangga merupakan sumber terbesar bagi pembiayaan atau pembayaran yang dilakukan keluarga kepada penyedia pelayanan kesehatan.
Pembayaran ini adalah setiap pembayaran yang dilakukan konsumen kepada pemberi pelayanan kesehatan seperti pembayaran atas jasa yang dikonsumsi atau harga yang harus dibayar untuk penggunaan barang dan peralatan fasilitas kesehatan pemerintah mungkin saja menarik biaya kepada pengguna atas penggunaan pelayanan tertentu.
Tingkat pengeluaran rumah tangga yang ada saat ini sebagian besar akibat dari pola pelayanan kesehatan yang ada, serta keterbatasan untuk dapat menggunakan pelayanan kesehatan pemerintah yang gratis/murah biayanya. Masyarakat berpendapatan rendah cenderung menunda penggunaan pelayanan kesehatan sampai penyakitnya parah benar, sebagian dengan asumsi bahwa mereka menghindarkan pembayaran yang tidak terjangkau (Tjiptoherijanto, 1994).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sigit diketahui bahwa tidak semua balita dibawa berobat ke pelayanan kesehatan dan tingkat ekonomi berpengaruh dengan pencarian pengobatan, di mana keluarga dengan tingkat ekonomi kurang berpeluang 1,42 kali, keluarga dengan tingkat ekonomi sedang berpeluang 1,65 kali, keluarga dengan tingkat ekonomi cukup berpeluang 1,56 kali dan keluarga dengan tingkat ekonomi tinggi berpeluang 2,09 kali untuk menggunakan pelayanan kesehatan bagi balita (Purwatmoko, 2001).
Faktor yang mempengaruhi pencarian pengobatan pada oleh ibu balita adalah pengaruh orang lain dan kepercayaan pengobatan. Pengaruh variabel orang lain berpeluang mengobati anaknya ke tenaga kesehatan 6,54 kali dibandingkan dengan ibu yang memilih upaya pencarian pengobatan dengan inisiatif sendiri (Hendarawan, 2003).
Sosial ekonomi keluarga mencerminkan singkat kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sosial ekonomi keluarga sama dengan tingkat pendapatan yang diterima keluarga, sosial ekonomi menggambarkan tingkat kesejahteraan anggota keluarga terhadap pemenuhan kebutuhan, begitu juga terhadap pengelolaan jamban keluarga, membutuhkan dana dan kemampuan untuk dapat membuat jamban yang memenuhi syarat sehat (Rahmat, 1994).
2.6.3.5.Cara pemberian obat
Diare yang diinduksi oleh virus dan bakteri biasanya hanya membutuhkan diet cair bersih serta peningkatan asupan cairan. Terapi anti mikroba dapat diindikasikan bila ada darah dalam tinja. Zat-zat anti diare yang menurunkan mobilitas usus dikontra indikasikan pada penyakit infeksi parasit dan beberapa infeksi bakteri, karena menghambat pengeluaran organisme. Diare yang diinduksi oleh obat atau toksin paling baik diterapi dengan menghentikan zat penyebab bila memungkinkan (Olson, 2004).
Ada tiga patokan bagi seorang ibu untuk mengobati sendiri diare yaitu: menambah cairan, makanan bagi si anak terus diberikan, jika tidak membaik maka anak harus segera dibawa ke petugas kesehatan (Andrianto, 1995).
Menurut penelitian LA Maiman, faktor pendapatan dan pendidikan ibu mempengaruhi perlakuan ibu terhadap pemberian obat bagi anaknya. Selain itu persepsi ibu tentang kerentanan anaknya terhadap penyakit tertentu dan status sosial ekonomi juga mempengaruhi pola pemberian obat pada anaknya (Maiman, 2003).
Pemberian obat yang dilakukan oleh keluarga untuk penyembuhan penyakit, cara pemberiannya dilakukan dengan petunjuk tenaga medis dan kebiasaan masyarakat dalam pemberian obat jika yang dimakan obat tradisional, sedangkan pemberian makanan pada anak balita bertujuan untuk mendapatkan zat gizi yang diperlukan tubuh dan digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan dan pengaturan faal tubuh. Di samping itu zat gizi yang berperan dalam memelihara dan memulihkan kesehatan serta untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari.
Pengasuhan merupakan serangkaian kegiatan yang intensif dilakukan oleh orang tua dalam mengarahkan anak untuk memiliki kecakapan hidup. Pengasuh harus memiliki ketrampilan dalam memberikan rangsangan dan respon kepada anak apabila mengalami kesulitan dalam hidupnya. Pengasuh harus merespon rangsangan yang bersumber dari anak baik dalam makanan, kebersihan dan dalam permainan anak (Sunarti, 2004).