• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang mempengaruhi dari segi pendukung dan penghambat

B. Pembelajaran Seni Baca Al-Qur‟an pada Masa Pandemi di MDTA

3. Faktor yang mempengaruhi dari segi pendukung dan penghambat

a. Faktor Pendukung

Terdapat beberapa faktor pendukung dalam pelaksanaan pembelajaran Seni Bacaan Al-Qur‟an di masa pandemi. Hal ini seperti yang diutarakan oleh Bapak Don Hardi yang menyatakan:

“Kalau ditanya pendukung ya dilihat dari faktor siswa dan orang tuanya. Setelah di akhir bulan Mei pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an tidak dilakukan dikarenakan kendala pandemi, orang tua siswa banyak yang mendesak untuk diadakan kembali pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an karena keluhan mereka selama di rumah anak-anak mereka tidak bisa mengaji irama dengan alasan tidak diajarkan

23 Feri Novisco, Wali Kelas IV Makkah, wawancara, MDTA Nagari Padang Lua, 12 Juli 2021, jam 17.34 WIB.

gurunya di MDTA. Orang tua siswa menginginkan pembelajaran irama tetap berlanjut meskipun sedang pandemi covid agar bacaan Al-Qur‟an mereka makin lancar walaupun terkendala saat proses belajar-mengajar di kelas

”.

“Kalau untuk pembelajarannya, untuk Seni Irama untuk masa pandemi sekarang Alhamdulillah masih tetap berlanjut. Setelah sebelumnya tidak memasukkan Seni Bacaan Al-Qur‟an dalam pelajaran wajib di MDTA untuk masa ini. Namun setelah adanya koordinasi antar saya dan guru Irama lainnya terkait hal ini kemudian pimpinan tidak jadi menghapusnya dalam pelajaran wajib dan menambahkan jadwalnya. Ini berkat dukungan dari guru-guru keseluruhan yang siswanya mengikuti pembelajaran Irama. Kalau saja dihapus otomatis ikon MDTA Padang Lua yang bagus dalam segi irama siswanya tentu menghilang”.

“Kemudian karena jadwalnya di tambah dan metode rekaman yang saya gunakan juga mudah diakses dan dikirimkan langsung kepada siswa, setelah saya terapkan hal demikian dalam waktu 2 Minggu bacaan siswa seluruhnya bisa dikategorikan fasih mulai dari segi Tajwid dan Iramanya juga. Walaupun ada dari beberapa yang masih belum bisa menerapkannya dengan baik, namun untuk keseluruhan Alhamdulillah sudah bisa dikategorikan lancar”.24

Kemudian ditambahkan oleh Bapak Roni Trianto selaku Kepala MDTA yang menyatakan bahwa :

“Pembelajaran Seni dalam Bacaan Al-Qur‟an di Masa Pandemi Alhamdulillah berjalan lancar, sebab didukung oleh guru-gurunya yang berkompeten dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman. Kemudian adanya dukungan dari orang tua siswa agar tetap melaksanakan pembelajaran irama walaupun sedang dalam masa pandemi meyakinkan kami untuk tetap melaksanakannya. Karena orang tua siswa merasa kalau

24 Don Hardi, Guru Tilawah kelas IV Makkah, wawancara, MDTA Nagari Padang Lua, 10 Juli 2021, jam 17.12 WIB.

tidak ada pelajaran irama di tempat mengaji berarti ikon MDTA Padang Lua yang terkenal dengan siswa-siswinya bagus dalam irama tidak aka nada lagi. Kemudian dengan adanya koordinasi antar guru-guru Irama dengan saya tentang bagaimana baiknya pembelajaran ini menghasilkan upaya-upaya yang bisa diterapkan dengan baik. Untuk kelas IV Makkah Bapak Don Hardi langsung bekerjasama dengan Bapak Feri Novisco beserta orang tua/wali murid dalam mengawasi jalannya pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an ini. Penggunaan rekaman dan mengirimkannya kepada grup kelas sangat dianjurkan mengingat untuk masa sekarang pembelajaran umum saja menjadi terhambat, apalagi pelajaran praktek seperti Seni Irama Bacaan Al-Qur‟an”.25

Dari paparan wawancara tadi dapat disimpulkan bahwasannya dalam pelaksanaan pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an pada masa pandemi terdapat beberapa faktor pendukungnya, diantaranya adanya dukungan dari orang tua wali siswa-siswi kelas IV Makkah dalam pelaksanaan pembelajarannya. Kemudian adanya dukungan penuh dari guru-guru wali kelas terhadap pembelajaran Seni Bacaan Al-Qur‟an dengan menyisihkan waktu pertemuan jam pelajarannya untuk digunakan dalam pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an. Selanjutnya didukung dengan guru-guru yang mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman, dimana didukung oleh strategi dan metode yang diterapkan guru seni baca Al-Qur‟an dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Kemudian adanya kerjasama dari pihak wali kelas IV Makkah beserta guru irama mendukung lancarnya proses pembelajaran

25 Roni Trianto S.HI, Kepala MDTA Nagari Padang Lua, wawancara, MDTA Nagari Padang Lua, 6 Juli 2021, jam 15.23 WIB

seni bacaan Al-Qur‟an di MDTA Nagari Padang Lua, karena irama merupakan ikon dari MDTA Nagari Padang Lua.

b. Faktor Penghambat

Selain faktor pendukung dalam pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an di MDTA Padang Lua masa pandemi, terdapat pula faktor penghambat dalam pelaksanaannya. Dari hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan bersama informan, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam melaksanakan proses pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an di MDTA Nagari Padang Lua di masa pandemi. Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak Don Hardi selaku guru Tilawah kelas IV Makkah yang menyatakan :26

“Hambatan utamanya tentu dari pandemi dan waktu. Dari segi waktu yang relatif singkat. Kalau di tahun sebelumnya waktu pembelajaran berkisar antara 2 sampai 3 jam dalam 1 kali pertemuan, sekarang menjadi 1 jam pembelajaran.

Singkatnya waktu ini otomatis berimbas kepada pemahaman siswa yang belajar irama. Dalam 1 jam dengan sebanyak siswa di kelas hanya sekitaran 10 siswa yang bisa mengulang kembali. Yang selebihnya cuma mendengar, mengulang bersama-sama sesuai metode yang diajar. Jadi secara tidak langsung kita tidak bisa mendapatkan tolak ukur pemahaman dari tiap siswa”.

“Kemudian dalam segi aktifitas pembelajaran tentu terhambat. Praktek bacaannya menjadi tidak maksimal.

Akibatnya bisa kita lihat sendiri di dalam kelas, siswa semuanya asal-asalan dalam melantunkan seni iramanya, tidak sesuai kaidah yang diajarkan. Nadanya yang harusnya

26 Don Hardi, Guru Tilawah kelas IV Makkah, wawancara, MDTA Nagari Padang Lua, 10 Juli 2021, jam 17.16 WIB.

rendah ditinggikan, yang tinggi malah direndahkan, jadi kebanyakan mereka menghasilkan nada-nada sumbang”.

Kemudian Bapak Don hardi juga menjelaskan bahwasannya hambatan lainnya yaitu :27

“Kalau untuk hambatan lain, terkait pemahaman ilmu Tajwid. Siswa kelas IV Makkah ini ada yang mereka paham akan kaidah Tajwid, tapi dalam penerapannya kurang. Contohnya dalam ghunnah. Kalau dalam irama, apabila masuk ke dalam ghunnah musyaddadah, nun dan mim bertasydid didengungkan, otomatis akan ada nada-nada yang dimainkan di sana. Tapi bagi sebagian siwa, disana mereka tidak memperhatikan kaidah tajwidnya, malahan ada yang tidak mendengungkan bacaannya.”

“Selanjutnya kalau untuk dari segi irama, siswa agak susah untuk membedakan mana yang hijaz, mana yang nahawand. Mungkin karena rumus iramanya yang sama, ada dasar, jawab dan jawabul jawabnya. Jadi disana saya latih feeling mereka dulu lewat pendengaran, saya ulang-ulang bacaannya kemudian saya suruh mereka untuk meniru persis sebagaimana yang saya lantunkan dan ajarkan. Cukup memakan waktu juga, tapi kembali lagi masalah awalnya tetap waktu dan pandemi”.

“Masalah lainnya terkait dengan konsentrasi. Konsentrasi anak terganggu akibat masa pandemi ini. Mereka mengikuti pembelajaran tidak serius. Ada yang kerjanya melihat-lihat jam, ada yang mengganggu temannya. Kemudian ada juga orang tua siswa yang menunggu anak-anaknya di luar kelas yang membuat gaduh. Belum 1 jam anak kita belajar tilawah, sudah di buka pintu kelas untuk menanyai jam berapa pulangnya anak. Akibatnya konsentrasi saya terganggu selaku guru yang mengajar di kelas itu”.

“Ada pula orang tua anak ini tidak setuju kalau anak mereka ikut pelajaran tambahan untuk seni bacaan Al-Qur‟an. Mereka beranggapan bahwa 1 jam perminggu sudah cukup untuk melaksanakan belajar seni irama.

27 Don Hardi, Guru Tilawah kelas IV Makkah, wawancara, MDTA Nagari Padang Lua, 10 Juli 2021, jam 17.23 WIB.

Setelah saya tanyakan mengapa demikian, orang tua siswa tersebut mengatakan kalau mereka takut kalau anaknya berlama-lama di luar rumah maka mereka akan ikut terjangkit virus covid-19, karena mereka beranggapan kalau berkerumunan maka akan mudah membawa virus ini pulang kerumahnya. Padahal kan MDTA sudah menerapkan protokoler kesehatan seperti memakai masker, berwudhu dan membasuh tangan dengan sabun sebelum masuk kelas, menjaga jarak juga di kelas. Kelas yang isinya 30 orang bisa saya atur jaraknya antar siswa. Jadi InsyaAllah aman selagi mematuhi protokoler kesehatan.

Selain itu mereka beranggapan kalau belajar irama tidak menjadi faktor penentu kenaikan kelas anak-anaknya di MDTA, oleh sebab itu orang tua mengizinkan anak mereka untuk tidak mengikuti pembelajaran. Akibatnya ada dari beberapa siswa yang tidak mengikuti pembelajaran di kelas dan kelas IV Makkah yang tadinya 30 orang saat belajar Irama hanya hadir sekitar 20 orang”.

“Kemudian ada juga siswa yang tidak masuk kelas dan takut masuk ke MDTA karena mereka melihat langsung ada masyarakat di dekat rumah mereka yang terkena covid.

Hal ini mungkin saja memunculkan stress bagi siswa kita yang menyebabkan mereka merasa was-was dan tidak mau masuk kelas, apalagi di hari untuk belajar Irama”.

Dari paparan hasil wawancara diatas, penulis menyimpulkan bahwasannya dalam proses pembelajaran Seni Bacaan Al-Qur‟an di MDTA Nagari Padang Lua pada masa pandemi terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat proses pembelajaran. Faktor utamanya dari segi pandemi menyebabkan waktu pembelajaran menjadi singkat, pemahaman siswa menjadi terganggu dan aktifitas pembelajarannya tidak maksimal. Dari segi penerapan kaidah hukum tajwid juga menjadi kendala, disebabkan siswa kurang memahami kaidah-kaidah hukum tajwid. Untuk segi Nagham, siswa masih banyak

yang tidak bisa membedakan jenis Nagham yang diajarkan guru, akibatnya terjadi kesalahan dalam pembawaan irama menghasilkan nada-nada sumbang dan tajwid yang tidak pas. Konsentrasi guru dan siswa menjadi terganggu akibat waktu pembelajaran masa ini.

Selanjutnya ada dari orang tua siswa yang tidak mengizinkan anak-anak mereka untuk masuk kelas, begitu pula dengan siswa. Diantara mereka ada yang takut untuk masuk kelas karena alasan takut terjangkit covid-19.

4. Upaya yang dilakukan guru untuk mengatasi faktor penghambat dalam