• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Konsep Pembelajaran pada Masa Pandemi (Covid-19)

2. Pembelajaran Masa Pandemi

Pandemi covid-19 menyebabkan semua aspek terdampak. Mulai dari sektor pemerintahan, peribadahan, pekerjaan, sosial, kebudayaan bahkan pendidikan. Di sektor pendidikan, proses pembelajaran tidak dapat dilangsungkan lagi dengan cara tatap muka. Akibatnya proses pembelajaran di sekolah diliburkan. Hingga keluar maklumat pemerintah mengenai sistem pembelajaran yang dilaksanakan di masa pandemi dengan cara sistem jarak jauh atau online atau lebih dikenal dengan sistem pembelajaran dalam jaringa (daring). Proses pembelajarn semacam ini dilaksanakan di rumah masing-masing baik pendidika maupun peserta didik dengan bantuan internet dan akses aplikasi. Dalam prosesnya pembelajaran ini secara tidak langsung memaksa orang tua siswa untuk menyediakan akses internet bagi anak-anak mereka untuk menjamin

42 Ibid.,hal. 25.

bahwa anak-anak mereka tetap dapat melaksanakan pembelajaran walaupun dari rumah. 43

Sebelum masuk kepada penjelasan terkait pembelajaran pada masa pandemi, alangkah lebih baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa yang dimaksud dengan pembelajaran. Berikut penjelasannya :

a. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran diambil dari bahasa Inggris Learning yang berarti to learn artinya belajar. Menurut Ahmad Susanto mengartikan pembelajaran merupakan paduan dari 2 buah aktivitas yaitu aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar lebih menekankan kepada peserta didik, sedangkan mengajar lebih kepada pendidik. Jadi istilah pembelajaran adalah ringkasan daripada belajar dan mengajar penyederhanaan dari kata belajar dan mengajar, proses dan kegiatan belajar mengajar. 44

Kemudian Suryono dan Harianto mengemukakan pendapat bahwasannya pembelajaran merupakan kegiatan yang identik dengan pengajaran yaitu kegiatan dimana guru memberikan bimbingan beserta pengajaran kepada murid untuk menuju pendewasaan diri mereka.

Maka dari itu sama-sama kita ketahui bahwasannya kegiatan pembelajaran erat kaitannya dengan pengajaran dan tidak dapat

43 Ibid., hal. 25.

44 Setiawan, Belajar dan Pembelajaran (Ponorogo : Uwais Inspirasi Indonesia, 2017) hal.

20.

dipisahkan diantaranya. Dimana ada pengajaran disitu pula terjadi proses pembelajaran.45

Dari pendapat yang dikemukakan ahli tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwasannya pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dengan bantuan guru dalam memperoleh perubahan tingkah lakunya menuju pendewasaan secara menyeluruh sebagai hasil interaksi individu beserta lingkungannya.

b. Perubahan Pada Sitem Pembelajaran di Masa Pandemi

Pada masa pandemi seperti saat ini terjadi perubahan pada segala sektor, termasuk pada sistem pembelajaran. Pada masa normal pendidik biasanya memberikan pembelajaran secara langsung kepada peserta didik. Peserta didik datang ke sekolah mereka untuk melaksanakan proses belajar, guru memberikan materi secara langsung dan terjadi interaksi dalam proses pembelajaran di sekolah. Akan tetapi dimasa pandemi saat ini sistem pembelajarannya berubah. Pendidik menggunakan metode, tempat dan media yang berbeda. Seperti yang sudah dijelaskan di awal bahwasannya pemerintah sudah berupaya untuk tetap melakukan proses pembelajaran yang dilakukan secara jarak jauh atau online atau lebih dikenal juga dengan istilah pembelajaran daring (dalam jaringan).

45 Ibid., hal. 21.

Seperti yang dijelaskan oleh Purwanto bahwasannya pemerintah RI sudah mengeluarkan kebijakan terkait dengan proses belajar daring sebagai sebuah upaya mencegah transmisi penyebaran virus Covid-19 di sekolah, terutama di kelas. Kebijakan ini menyebabkan adanya pembatasan secara sosial dengan mengenyampingkan sistem pembelajaran tatap muka dan digantikan oleh pembelejaran daring secara sementara lewat beberapa platform digital yang digunakan guru dan siswa. Dalam menjalankan kebijakan ini tentunya membawa wajah baru kepada dunia pendidikan Indonesia. Namun hal ini justru memiliki kendala dalam sistem pelaksanaannya karena tidak seluruh sekolah di Indonesia bisa dalam melaksanakan sistem pembelajaran secara daring. 46

Terkait dengan kasus ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan maklumat berupa surat edaran nomor 4 tahun 2020 mengenai Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Pada point ke 2 menjelaskan mengenai proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah dan dilaksanakan dengan ketentuan-ketentuan :47

1) Pembelajaran dari rumah dilangsungkan secara daring/jarak jauh (PJJ), dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar

46 Purwanto., Op Cit hal. 5.

47 Kementrian PPN dan Bapenas., Op Cit hal. 67

bermakna untuk siswa, tanpa dibebani tuntutan dalam menuntaskan seluruh pencapaian kurikulum kenaikan kelas ataupun kelulusan.

2) Belajar dari rumah fokus kepada pendidikan kecakapan hidup yang antara lain mengenai pandemi Covid-19.

3) Tugas dan pembelajaran dari rumah dapat bervariasi antar siswa sesuai minat serta kondisi masing-masing, termasuk dalam mempertimbangkan kesenjangan akses dan fasilitas belajar.

4) Bukti aktivitas pembelajaran dari rumah diberi feedback yang bersifat kualitatif untuk guru tanpa diharuskan memberi nilai kuantitatif.

Menteri Pendidikan mengeluarkan surat edaran tersebut dengan kriteria sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat android dan komputer atau laptop yang terhubung dengan jaringan internet diakses dengan aplikasi penunjang lainnya. Guru dapat melaksanakan pembelajaran di waktu yang sama sekaligus menggunakan aplikasi Whatsapp (WA), Telegram, Instagram, Zoom Cloud, Zenius dan aplikasi lainnya sebagai media penunjang pembelajaran. Dengan bantuan aplikasi tersebut secara langsung guru dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran dan menerima pembelajaran dengan baik.

Bagi siswa yang tidak memiliki perangkat penunjang seperti android, PC dan laptop maka mereka dapat melakukan pembelajaran

bersistem kelompok dengan teman mereka. Pembelajaran dapat berupa videocall bersama guru layaknya proses pembelajaran tatap muka di sekolah.48

48 Rohana, Model Pembelajaran Daring pasca pandemi Covid-19 (At-ta‟dib : Jurnal Ilmiyah Prodi Pendidikan Agama Islam vol 12 no 2 Desember 2020) hal. 196.

c. Metode Pembelajaran di Masa Pandemi

Secara umum untuk sistem pembelajaran di masa pandemi, pemerintah menawarkan 2 sistem pembelajaran yaitu :49

1) Dalam Jaringan (Daring)

Sistem pembelajaran ini merupakan pengganti istilah dari pembelajaran online yang sering digunakan dalam pembelajaran berbasis internet sebagi media.

Ivanova memberikan pendapat bahwasannya pembelajaran dalam jaringa merupakan sistem pembelajaran yang diberlakukan secara online dengan mengakses aplikasi penunjang proses pembelajaran ang tersedia di jaringan internet menggunakan platform yang tersedia. Semua materi, komunikasi, tes/ujian diberikan secara online oleh guru kepada siswa.

Hamid Muhammad menjabat sebagai PLT.Dikdasmen Kemendikbud juga memberikan pendapatnya yaitu pembelajaran yang menggunakan model berbasis internet dan LMS (Learning Manajement System) menggunakan aplikasi penunjang seperti Zoom Cloud dan Google Meet.

2) Luar Jaringan (Luring).

Pembelajaran luar jaringan biasa dikenal dengan istilah belajar offline. Pembelajaran offline artinya sistem pembelajaran dengan

49 Sri Mulyati dkk. Pembelajaran Daring dan Luring di Masa Pandemi (Gagasan Pendidikan Indonesia vol 1 no 2, 2020) hal. 51-52.

tatap muka, sama seperti sistem konvensional sebelum pandemi berlangsung. Akan tetapi terdapat beberapa perubahan tertentu seperti jam pelajarannya dipersingkat dan materi pelajarannya di padatkan.

Sistem pembelajaran luring ini merupakan proses pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa diluar tatap muka. Sistem pembelajaran offline berarti guru memberikan materi berupa tugas kepada siswa dan kemudian melaksanakannya di rumah masing-masing. Untuk setiap 1 sampai 2 kali seminggu siswa diperbolehkan ke sekolah untuk mengantarkan tugasnya kepada guru yang berkaitan.

Dikutip dari sumber lain menjelaskan bahwasannya terdapat beberapa sekolah yang menerapkan kedua sistem pembelajaran tersebut dengan cara memadukannya. Sitem pembelajaran ini dikenal dengan istilah Blended Learning. Dikutip dalam artikel Kemendikbud bahwasannya sistem pembelajran Blended Learning ini merupakan sebuah respond terhadap perkembangan teknologi saat ini karena metode ini mengkombinasikan antara sistem pembelajaran tatap muka dan online serta mengintegrasikan kemajuan inovasi teknologi baik secara online maupun tatap muka.50

50 Heri Dwiyanto, Menyiapkan Pembelajaran dalam memasuki Era New Normal dengan Blended Learning (Lpmp Lampung : Kemendikbud, 2020) hal. 3.

Metode pembelajaran bersistem Blended Learning merupakan metode pembelajaran dengan paduan dari daring dan luring yang dapat meningkatkan efektivitas, akses dan fleksibelitas siswa untuk mengembangkan potensinya. 51

Didalam metode pembelajaran Blended Learning ada beberapa unsur yang diperlukan yaitu tatap muka, belajar mandiri, aplikasi penunjang, kegiatan tutor, kerjasama dan evaluasi pembelajaran. 52 1) Tatap muka

Dalam blended learning tatap muka tetap dilakukan dalam proses pembelajaran. Di sinilah guru menyampaikan materi dasar untuk lebih lanjut dipelajari oleh peserta didik secara mandiri.

Namun di samping pembelajaran tatap muka peserta didik juga melakukan pembelajaran secara daring.

2) Belajar mandiri

Setelah mengikuti tatap muka di kelas, peserta didik memperdalam pemahaman materi dengan melakukan belajar mandiri. Sumber belajar, waktu, dan tempat ditentukan oleh masing-masing siswa. Siswa mencatat hal-hal baru dan permasalahan yang didapatkan untuk ditanyakan kepada guru atau didiskusikan bersama dengan teman-temannya.

3) Menggunakan aplikasi

51 Ibid., hal. 4.

52 Ibid., hal. 7-8.

Dalam belajar mandiri peserta didik menggunakan aplikasi pendukung untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara tidak langsung dengan guru atau peserta didik yang lain. Aplikasi yang biasa digunakan berupa aplikasi sederhana seperti WhatsApp (WA) atau menggunakan platform tertentu yang lebih terpadu seperti Kelas Maya, Google Classroom, Trello dan lain sebagainya.

Dalam mencari berbagai sumber belajar peserta didik dapat melakukannya secara online, baik melalui browser Google maupun melalui aplikasi lain seperti E-library dan E-book. Dalam hal ini diharapkan peserta didik dan pendidik mampu memaksimalkan semua aplikasi yang ada sebagai media dan sumber belajar untuk menunjang proses pembelajaran.

4) Kegiatan tutorial

Kegiatan pembelajaran di dalam blended learning merupakan kegiatan tutorial yang memberi kesempatan yang luas untuk siswa belajar mandiri. Kegiatan tutorial bisa dilakukan dengan tatap muka atau jarak jauh menggunakan aplikasi. Dalam metode blended learning peran pendidik lebih sebagai tutor untuk siswa.

Tutor berperan memberikan bantuan atau bimbingan belajar yang bersifat akademik kepada peserta didik. Tutor juga membantu lancarnya proses pembelajaran mandiri peserta didik baik secara

perorangan maupun kelompok yang berkaitan dengan materi belajar.

5) Kerjasama

Disamping belajar mandiri, blended learning juga merupakan salah satu metode pembelajaran kolaboratif, dimana peserta didik bisa melakukan kerjasama bersama lainnya atau bersama pendidik dalam menyelesaikan suatu permasalahan pembelajaran.

Kerjasama ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dilakukan di kelas, sedangkan tidak langsung melalui platform pembelajaran kolaboratif secara online, seperti Zoom Cloud Meeting.

6) Evaluasi

Sistem evaluasi pembelajaran dengan metode blended learning berbeda apabila dibandingkan dengan evaluasi pada pembelajaran tatap muka yang biasa dilakukan di masa normal. Evaluasi metode pembelajaran blended learning didasarkan pada proses dan hasil yang di dapatkan melalui penilaian kinerja siswa berdasarkan tugas portofolio. Portofolio ini dapat berupa hasil penyelesaian siswa dalam studi kasus, interpretasi bacaan, essay, kuisioner, proyek, kerja kolaboratif maupun praktek.

Penilaian tidak hanya oleh guru saja, akan tetapi perlu ada penilaian diri. Penilaian diri ini dilakukan oleh peserta didik sendiri

maupun siswa yang lain. Hal ini guna melatih peserta didik untuk mandiri, bertanggung jawab, dan bersikap jujur dalam sistem pembelajaran. Meskipun begitu penilaian dengan kuisioner, tugas, maupun yang biasa diterapkan dalam pembelajaran konvensional masih tetap diperlukan, tetapi penilaian tersebut tidak menjadi satu-satunya cara penilaian yang dilakukan oleh pendidik.

Di masa pandemi saat ini banyak cara yang dilakukan oleh pihak sekolah agar proses pembelajaran tetap dapat dilaksanakan walaupun terkendala. Berbagai metode digunakan oleh pihak sekolah mulai dari metode daring, luring hingga blended learning. Hal ini termasuk upaya-upaya yang dilakukan pihak sekolah untuk mencerdaskan peserta didik dan mencapai tujuan yang diinginkan.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian bersifat lapangan (field reasearch) dengan pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian Descriptive. Penelitian kualitatif ialah penelitian yang menekan aspek pemahaman terhadap suatu bentuk permasalahan dengan menggunakan analisis secara mendalam (indeep analysis) yaitu dengan mengkaji permasalahan satu persatu karena metode ini beranggapan bahwa suatu permasalahan akan berbeda dalam segi sifatnya dengan masalah yang lainnya.53

Untuk penelitian deskriptif ialah jenis penelitian yang mencari deskripsi mengenai sesuatu aktivitas, objek, proses dan manusia dari aspek yang akan diteliti.54

Dalam penelitian ini penulis terlibat langsung dalam proses pembuatan dan pencarian datanya dari awal hingga akhir proses penelitian.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini penulis laksanakan di MDTA Nagari Padang Lua, berlokasi di Nagari Padang Lua, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Alasan penulis melaksanakan penelitian di lokasi tersebut karena

53 Siyoto, dkk, Dasar Metodologi Penelitian (Yogyakarta : Media Publishing, 2015) hal.

28.

54 Andi Prastowo, Memahami Metode Penelitian, Suatu Tinjauan Teoritis Praktis (Yogyakarta : Arruz Media, 2011) hal. 202.

penulis menemukan permasalahan yang diperlukan untuk diteliti dan dicari penyelesaian permasalahannya secara ilmiah.

C. Informan Penelitian

Suatu informan dalam sebuah penelitian merupakan orang yang bertindak sebagai subjek yang memahami objek objek penelitian yang dilakukan. Pada suatu penelitian pemilihan informasi dapat diperoleh melalui proses dari wawancara yang dilakukan peneliti. Seorang informan akan memberikan informasi yang dibutuhkan oleh seorang peneliti sehingga semakin banyak data yang diperoleh oleh peneliti.55

Informan dalam penelitian ini dibagi kedalam 2 aspek yaitu : 1. Informan Kunci

Merupakan orang yang paling memahami masalah yang diteliti.

Informan kunci merupakan orang yang akan dijadikan kunci dalam pendataan informasi. Pada penelitian ini yang menjadi informan kunci ialah Guru Tilawatil Qur‟an kelas IV Makkah MDTA Nagari Padang Lua.

2. Informan pendukung

Merupakan orang yang dianggap mengetahui informasi mengenai data yang diteliti setelah informan kunci. Untuk informan pendukung dalam penelitian ini adalah Kepala MDTA beserta Wali kelas IV Makkah MDTA Nagari Padang Lua.

55 Emzir, Metodologi Penelitian dalam Pendidikan (Jakarta : PT. Raja Grafindo, 2012) hal. 138.

D. Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses penelitian tentu seorang peneliti harus mendapatkan data yang tepat serta akurat. Untuk mendapatkannya maka seorang peneliti harus menyiapkan teknik yang tepat dalam melaksanakan penelitian. Maka dari itu penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data dengan cara berikut:

1. Observasi

Observasi merupakan cara mengumpulkan data dengan cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang akan dilakukan. Observasi bertujuan untuk mencatat gejala-gejala yang didapatkan di lapangan guna melengkapi data-data yang diperlukan seorang peneliti sebagai sebuah acuan dalam penelitian.56

Dalam kaitannya dengan penelitian yang penulis laksanakan maka penulis langsung turun ke lapangan dan menjadi partisipan dalam menemukan data yang berkaitan dengan penelitian yaitu pelaksanaan pembelajaran seni bacaan Al-Qur‟an pada masa pandemi di MDTA Nagari Padang Lua.

56 Siyoto, dkk., op cit, hal. 77.

2. Wawancara

Metode wawancara merupakan teknik mengumpulkan data dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi mengenai data-data terkait dari responden yang diajukan pertanyaan.57

Teknik wawancara yang penulis pergunakan pada penelitian ini adalah teknik wawancara terstruktur dimana informasi yang diperoleh sudah dikethui dengan pasti. Dalam melaksanakan wawancara, penulis sudah menyiapkan instrumen dalam penelitian berupa beberapa pertanyaan yang akan diajukan. Melalui wawancara terstruktur yang akan dilakukan ini proses pengumpulan data dapat menggunakan beberapa responden wawancara.58

Pada penelitian ini kegiatan wawancara akan dilaksanakan kepada guru Tilawatul Qur‟an, Kepala Madrasah dan Wali Kelas IV Makkah MDTA Nagari Padang Lua.

3. Dokumentasi

Teknik pengumpulan data melalui dokumentasi dilakukan dengan mencari informasi dan data-data terkait berupa catatan, transkip, surat kabar, buku, notulen rapat, majalah, agenda dan hal lain sebagainya.59

Kegiatan dokumentasi bisa diartikan juga sebagai catatan peristiwa yang sudah belalu baik berupa tulisan, gambar ataupun karya seseorang.

57 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif R&D (Bandung : Alfabeta, 2011) hal. 146.

58 Ibid., hal. 138.

59 Siyoto, dkk., op cit, hal. 78.

Studi dokumentasi merupakan pelengkap dalam proses penelitian kualitatif bersama dengan observasi dan wawancara.60

E. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data, penulis selaku peneliti menggunakan teknik analisis menurut Miles dan Hubermen yang menjelaskan bahwa di dalam menelaah data kualitatif digunakan teknik Reduksi Data, Display Data dan Verifikasi atau Conclusion data. 61

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Suatu langkah dalam menganalisis data dalam penelitian Kualitatif dengan merangkum serta memilih data penting. Dengan dilakukan reduksi data maka akan memberik gambaran yang jelas dan memudahkan peneliti melakukan pengumpulan data lanjutan serta mencarinya bila nanti diperlukan.

2. Penyajian Data (Display Data)

Langkah penyajian data berbentuk uraian singkat, bagan, hubungan antara kategori dan sejenisnya yang dihimpun berdasarkan batasan masalah dalam penelitian. Hasil yang sering digunakan dalam penelitian Kualitatif dalam hasil display ini ditentukan kesimpulan sementara kemudian akan dilakukan verivikasi kepada datanya.

60 Ibid., hal. 78

61 Ibid., hal. 78

3. Verifikasi Data (Conclution Data)

Langkah selanjutnya dengan melaksanakan verifikasi data.

Kesimpulan awal yang bersifat sementara tadi akan berubah sampai nanti ditemukan data terbaru dari bukti yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Akan tetapi apabila peneliti menemukan bukti yang kuat untuk kesimpulannya maka itu merupakan kesimpulan yang kredible. Kesimpulan data Kualitatif diharapkan merupakan kesimpulan dari temuan yang belum pernah ada dapat berupa gambaran objek yang sebelumnya belum jelas menjadi jelas, dan dapat beruba hubungan kausalitas, teori maupun hipotesis.

F. Teknik Keabsahan Data

Untuk melihat keabsahan data, menurut Lexy J. Moelong dalam penelitian Kualitatif dapat dilakukan kegiatan Triangulasi Data. Kegiatan Trianguasi Data adalah suatu teknik dalam memeriksa keabsahan data dengan membandingkan data dengan sumber lain, teori terkait ataupun metode.

Langkah-langkah dalam Triangulasi data adalah :62 1. Membandingkan data Observasi dengan Wawancara.

2. Membandingkan yang dikatakan seseorang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi.

3. Membandingkan yang dikatakan masyarakat tentang situasi penelitian dengan yang dikatakan sepanjang waktu.

62 Lexy J. Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung : Remaja Rosda Karya, 2000) hal. 190.

Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik pembanding antara hasil wawancara dengan observasi yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana Pelaksanaan Pembelajaran Seni Bacaan Al-Qur‟an kelas IV Makkah pada Masa Pandemi di MDTA Nagari Padang Lua.

71 BAB IV

HASIL PENELITIAN A. Monografi MDTA Nagari Padang Lua

1. Profil MDTA Nagari Padang Lua

MDTA Nagari Padang Lua merupakan salah satu MDTA yang berada di Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Bertempat di Nagari Padang Lua, Jorong II yakni berdampingan dengan Masjid Jami‟

Nagari Padang Lua berada di titik tengah Desa. Letaknya yang strategis memungkinkan layanan dan proses pendidikan agama terlaksana dengan baik.1

a. Nama Lengkap MDA : Madrasah Diniyah Awaliyah Nagari Padang Lua

b. NSM : 112130606138

c. Alamat

1) Jorong : Padang Lua

2) Kenagarian : Padang Lua

3) Kecamatan : Banuhampu Kabupaten Agam

4) Hp : 082381926561

d. Waktu belajar : Sore ( Jam : 14.30 s/d 17.30 ) e. Kurikulum Yang Dipakai : Campuran

1 Dokumentasi, Proposal MDA Padang Lua, (Arsip MDA, 2018), 1 Juli 2021.

f. Lembaga Yang Membina : Pengurus MDTA Padang Lua g. Banyak Lokal/Rombel : 14 (Empat Belas) Lokal h. Keadaan Gedung : Permanen

1) Status Gedung : Milik Sendiri 2) Status Tanah : Wakaf 3) Didirikan Tahun : 1988

i. Kegiatan yang Dilakukan : 1) Proses Belajar Mengajar (PBM) 2) Pembinaan Muhadarah

3) Seni Baca Al-Qur‟an 4) Seni Kaligrafi

5) Tahfizul Qur‟an 6) Didikan shubuh

2. Sejarah Berdirinya MDTA Nagari Padang Lua

MDTA Nagari Padang Lua didirikan di Nagari Padang Lua pada tahun 1988. Berdirinya MDTA Nagari Padang Lua ini dilatarbelakangi oleh keinginan masyarakat setempat akan pentingnya pendidikan yang berwawasan islami bagi tumbuh kembang anak kala itu, terutama menyadari betapa pentingnya pembelajaran tata cara membaca Al-Qur‟an yang baik dan benar serta pentingnya ilmu-ilmu agama untuk diajarkan terutama kepada anak-anak dalam tumbuh kembangnya agar memiliki wawasan islam.

Pada awalnya di tahun 1980 sebelum didirikannya MDTA ini, pembelajaran Al-Qur‟an dan Ilmu Agama Islam diajarkan oleh para Ustad, Buya, Khatib, Niniak Mamak dan Bundo Kanduang di tiap-tiap persukuan di Nagari Padang Lua. Pembelajaran ilmu agama ini dilaksanakan di surau-surau yang tersedia di tiap-tiap persukuan di Nagari Padang Lua memakai sistem halaqah. Pembelajaran yang dilakukan di surau-surau Nagari Padang Lua biasa dilaksanakan di hari Jum‟at, Sabtu dan Minggu di waktu setelah Ashar hingga Isya. Materi yang diajarkan biasanya memuat materi dalam pembelajaran Agama Islam dan ilmu umum lainnya seperti Fiqih, Al-Qur‟an, Hadist, Aqidah Akhlak, Budaya Minangkabau, dan ragam Seni Minangkabau. Namun materi pembelajaran tersebut tidak diajarkan sekaligus semuanya, akan tetapi diberi masing-masing waktunya. Untuk setelah Ashar menjelang magrib materi pembelajarannya berupa Ilmu Agama seperti Fiqih dan Aqidah Akhlak beserta Ilmu Budaya Minangkabau dan Seni Minangkabau. Pembelajaran dilakukan di surau dan diikuti oleh anak-anak masyarakat Nagari Padang Lua. Setelah magrib hingga isya ialah pembelajaran Al-Qur‟an bersama Ustad dan Gharin, mulai dari segi tata cara pembacaan Al-Qur‟an, Nagham Al-Qur‟an, Hukum Tajwid, Ahkamul Huruf, Shifatul Huruf, Tartil, Tilawah, dan Tahsin.2

2 Dokumentasi, Selayang Pandang Nagari Padang Lua, (Arsip Nagari, 2000) Padang Lua, 1 Juli 2021.

Kemudian pembelajaran semakin giat dilakukan hingga 5-6 kali seminggu. Setelah lamanya waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran tersebut makin hari makin ramai anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Melihat banyaknya minat dan antusias dari anak-anak Nagari Padang Lua saat itu, maka beberapa masyarakat ada yang bergagasan untuk mendirikan sebuah madrasah yang menyediakan ilmu-ilmu agama bagi anak-anak mereka. Gagasan ini kemudian disambut baik oleh Wali Nagari Padang Lua kala itu, Bapak H. Abdul Munir Jalal (Alm). Setelah

Kemudian pembelajaran semakin giat dilakukan hingga 5-6 kali seminggu. Setelah lamanya waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran tersebut makin hari makin ramai anak-anak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Melihat banyaknya minat dan antusias dari anak-anak Nagari Padang Lua saat itu, maka beberapa masyarakat ada yang bergagasan untuk mendirikan sebuah madrasah yang menyediakan ilmu-ilmu agama bagi anak-anak mereka. Gagasan ini kemudian disambut baik oleh Wali Nagari Padang Lua kala itu, Bapak H. Abdul Munir Jalal (Alm). Setelah