• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.4. Faktor yang Mempengaruhi Inefisiensi Teknis

Inefisiensi teknis dalam usahatani dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti perbedaan besarnya usahatani, manajemen, faktor institusi, dan aspek lingkungan. Beberapa variabel yang sering digunakan untuk menganalisis efisiensi teknik antara lain sumberdaya rumah tangga petani yang berupa lahan, tenaga kerja, modal, agregasi dari semua input yang dibeli, dan sekumpulan

0 xi xj Ouput frontier Exp (xiβ +vi), jika vi > 0 Fungsi produksi y = exp (xβ) Ouput frontier Exp (xjβ +vj), jika vj < 0 yj yi y x

29

peubah lingkungan, misalnya jenis tanah dan curah hujan. Gambar 6 memperlihatkan faktor karakteristik manajerial dan struktural yang mempengaruhi efisiensi usahatani. Faktor agen adalah karakteristik manajerial dari usahatani seperti umur, tingkat pendidikan, pengalaman, training, penyuluhan, pelatihan, jender dan lainnya.

Faktor struktural diklasifikasikan ke dalam faktor on farm dan off farm. Contoh on farm adalah ukuran lahan, tipe usahatani (spesialisasi, diversifikasi), tipe organisasi (sewa, bagi hasil, kepemilikan), lokasi, dan faktor struktural lainnya adalah karakteristik lingkungan (seperti kualitas tanah, vegetasi, ketinggian tempat, , iklim, temperatur, kemiringan lahan, dan curah hujan), faktor keuangan, dan teknologi. Intervensi pemerintah adalah salah satu contoh faktor

off farm. Beberapa studi telah dilakukan untuk melihat mengapa kinerja usahatani bervariasi khususnya efisiensi teknik. Efisiensi teknik dipengaruhi oleh luas lahan, tipe organisasi, dan faktor agen. Beberapa studi juga membuat definisi yang berbeda-beda untuk efisiensi teknik (Batesse and Coelli, 1995), Liu and Zhuang (2000), Kalirajan (1990). Selain definisi yang berbeda, pendekatan yang dilakukan juga berbeda.

Sumber: Van Passel, et al., 2006a

Gambar 6. Faktor yang Mempengaruhi Efisiensi

Contohnya: Kebijakan pemerintah EFISIENSI USAHATANI Faktor structural Faktor Agen Faktor On-farm Faktor Off-farm Contohnya: Pendidikan, umur, pengalaman, training,penyuluhan Contohnya: Lokasi, tipe usahatani, luas lahan, kualitas tanah, ketinggian,

30

Thirtle and Holding (2003) menemukan bahwa usahatani dengan lahan luas lebih efisien dibandingkan lahan sempit. Herdt and Mandac (1981) menemukan hubungan yang negatif antara luas lahan dengan efisiensi. Beberapa peneliti menyatakan bahwa hubungan lahan dengan efisiensi tidak berlaku umum karena selain dipengaruhi oleh luas lahan, kualitas dan sistem pengelolaan juga mempengaruhi efisiensi. Struktur dan penguasaan lahan, sewa, bagi hasil, mempunyai bentuk yang berbeda antar usahatani. Thiele and Brodersen (1999) menemukan bahwa status kepemilikan lahan tidak dapat menerangkan perbedaan efisiensi di usahatani Jerman. Namun Reddy (2002) menemukan bahwa petani penyewa kurang efisien dibandingkan dengan petani pemilik.

Perbedaan dalam efisiensi juga dapat diterangkan oleh perbedaan lingkungan seperti iklim, kualitas lahan, vegetasi, ketinggian tempat, dan temperatur (van Passel, 2006). O’Neil et al (2001) menemukan bahwa terdapat perbedaan efisiensi di Irlandia Timur dengan di Irlandia Barat. Selanjutnya Thirtle dan Holding (2003) menyatakan petani pemilik lebih efisien dibandingkan penyewa dan penggarap. Struktur off farm juga mempengaruhi efisiensi. Efisiensi akan meningkat sejalan dengan adopsi teknologi dan akses terhadap kredit. Agen faktor yang mempengaruhi efisiensi antara lain umur, pengalaman, pendidikan, struktur manajemen. Battesse dan Coelli (1995) menguji pengaruh umur tehadap efisiensi, dan menemukan bahwa petani tua lebih tidak efisien dibandingkan petani muda. Parikh et al (1995) juga melaporkan hal yang sama, petani tua kurang respon terhadap adopsi inovasi.

Banyak studi telah mengkaitkan umur petani, pendidikan, akses terhadap penyuluhan, akses terhadap kredit, agro-ekologi, luas lahan, jumlah plot yang dimiliki, jumlah tanggungan keluarga, jender, akses ke pasar, akses pada teknologi pemupukan,kebijakan intervensi pemerintah dengan efisiensi teknik. Variabel tersebut mempunyai pengaruh positif terhadap efisiensi (Amos 2007; Ahmad et al 2002; Kibaara 2005; Tchale 2007; dan Basnayake and Gunaratne 2002). Bravo-Ureta and Pinheiro 91993) menemukan keterkaitan antara efisiensi teknis dengan variabel sosial ekonomi seperti umur, tingkat pendidikan, ukuran lahan, akses terhadap kredit, dan akses terhadap penyuluhan.

31

2.5 Pembangunan Berkelanjutan

Konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan dalam World Conservation Strategy (Strategi Konservasi Dunia) yang diterbitkan oleh United Nations Environment Programme (UNEP), International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), dan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1980.

Konsep pertama Pembangunan Berkelanjutan dirumuskan dalam

Bruntland Report yang merupakan hasil kongres Komisi Dunia Mengenai Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pada tahun 1987

World Comission on Environment and Development (WCED) mempublikasikan formulasi Brundtland dalam “Our Common Future” yang menghubungkan dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Bruntland Report mendefinisikan: “sustainable development as development which meets the needs of current generations without compromising the ability of future generations to meet their own needs “ (WCED, 1987).

Banyak definisi yang telah dikemukakan mengenai pembangunan berkelanjutan. Munasinghe (2004) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan mempunyai tiga tujuan utama, yaitu: tujuan ekonomi (economic objective), tujuan ekologi (ecological objective) dan tujuan sosial (social objective). Tujuan ekonomi terkait dengan masalah efisiensi (efficiency) dan pertumbuhan (growth); tujuan ekologi terkait dengan masalah konservasi sumberdaya alam (natural resources conservation); dan tujuan sosial terkait dengan masalah pengurangan kemiskinan (poverty) dan pemerataan (equity). Dengan demikian, tujuan pembangunan berkelanjutan pada dasarnya terletak pada adanya harmonisasi antara tujuan ekonomi, tujuan ekologi dan tujuan sosial, seperti yang digambarkan dalam Gambar 7.

Gambar 7 memperlihatkan tiga tujuan yang berkaitan, sinergis dan terintegrasi. Dimensi ekonomi berkaitan dengan konsep maksimisasi aliran pendapatan yang dapat diperoleh dengan setidaknya mempertahankan asset produktif yang menjadi basis dalam memperoleh pendapatan tersebut. Indikator utama dimensi ekonomi ini ialah tingkat efisiensi, dan daya saing, besaran dan pertumbuhan nilai tambah (termasuk laba), dan stabilitas ekonomi. Dimensi

32

ekonomi menekankan aspek pemenuhan kebutuhan ekonomi (material) manusia baik untuk generasi sekarang maupun generasi mendatang.

Intra-generationalequity - valuation/internalisation Basic needs/livelihood - insidence of impacts

Intergenerational equity Values/culture

Sumber: Munasinghe, 2004

Gambar 7. Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Dimensi sosial adalah orientasi kerakyatan, berkaitan dengan kebutuhan akan kesejahteraan sosial yang dicerminkan oleh kehidupan sosial yang harmonis (termasuk tercegahnya konflik sosial), preservasi keragaman budaya dan modal sosio-kebudayaan, termasuk perlindungan terhadap suku minoritas. Untuk itu, pengentasan kemiskinan, pemerataan kesempatan berusaha dan pendapatan, partisipasi sosial politik dan stabilitas sosial-budaya merupakan indikator- indikator penting yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan pembangunan.

Dengan demikian pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan melalui keterkaitan yang tepat antara sumberdaya alam, kondisi ekonomi, dan sosial. Nurmalina (2007) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan bukanlah situasi harmoni yang sifatnya statis, namun merupakan suatu proses perubahan yang eksploitasi sumberdaya alamnya, orientasi perkembangan teknologi, dan pengembangan kelembagaan konsisten dengan pemenuhan kebutuhan pada saat ini dan masa depan.

Growth Efficiency Stability ECONOMIC SOCIAL Enpowerment Inclusion/consultation Institution/governance ENVIRONMENTAL Resilience/biodiversity Natural resources pollutionPoverty Equity Sustainability Climate

33

2.5.1. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan atau usahatani berkelanjutan sudah dirangkum sebagai sebuah isu luas yang meliputi peran usahatani dalam masyarakat pedesaan, kebutuhan untuk melindungi dan melestarikan lingkungan, penggunaan lahan pedesaan, ternak, pembangunan pasar pangan lokal, dan kebutuhan pertanian untuk mendorong sektor lainnya misalnya kepariwisataan. Empat pilar diartikan sebagai (1) secara ekonomi fisibel (economically feasible) untuk membentuk sistem produksi jangka panjang, merujuk pada perbaikan produktivitas tanaman dan, (2) penggunaan teknologi yang sepadan (technologically appropriate), (3) secara lingkungan tidak merusak dan berkelanjutan dan merujuk pada pelestarian peningkatan sumberdaya lingkungan, (environmentally sound and sustainable), (4) secara`sosial dan budaya dapat diterima dan merujuk pada keadilan, dan peningkatan kualitas hidup ( socially and culturally acceptable) (Munasinghe, 2004; Zhen, 2003).

Suryana (2005) menyatakan bahwa konsep keberlanjutan mengandung pengertian pengembangan produksi pertanian harus tetap memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Untuk menjaga pertanian berkelanjutan dalam jangka panjang lintas generasi antara lain mengembangkan sistem usahatani konservasi, pengendalian hama terpadu dan AMDAL. Pertanian berkelanjutan dapat merespon perubahan pasar, inovasi teknologi terus menerus, teknologi ramah lingkungan, dan pelestarian sumberdaya alam. Salah satu strategi adalah penggunaan LEISA.

2.5.2. Pengukuran Indikator Pertanian Keberlanjutan

Untuk menilai keberlanjutan diperlukan beberapa indikator, namun indikator keberlanjutan yang terdiri atas banyak aspek masih beragam. Beberapa indikator yang telah dikenal dikemukakan oleh Smith dan McDonald (1998), Ceyhan (2010) dan lainnya. Secara umum, indikator dijabarkan dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan yaitu dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan, sebagai aspek multidimensi dari keberlanjutan. Beberapa analisis indikator yang telah digunakan antara lain RISE ( Response-Inducing Sustainability Evaluation), AMOEBA serta analisis multi-dimensi. Kesulitan menilai keberlanjutan menggunakan pendekatan multidimensi adalah unit yang diukur dan skala yang

34

sesuai untuk pengukuran yang berbeda antar dimensi keberlanjutan (Rigby, 2001). Beberapa kerangka kerja indikator yang digunakan dalam pertanian dapat ditemukan dalam Smith dan McDonald (1998), Meul et al, (2009), Zhen & Routray (2003) dan Ceyhan (2010).

Beberapa peneliti membuat komponen atau indikator pertanian berkelanjutan yang berbeda. Rao dan Rogers (2006), menyatakan bahwa pertanian berkelanjutan menyangkut faktor agronomi, ekologi, ekonomi, sosial, dan etika. Pada dasarnya peneliti menyatakan bahwa sistem usahatani berkelanjutan harus berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan dan harus terintegrasi secara menyeluruh(Zhen & Routray, 2003; Ceyhan,2010).

Dalam Assessing the Sustainability of Agriculture at the Planning Stage, Smith dan Mc Donald (1998) mengusulkan beberapa indikator penting untuk menilai keberlanjutan usahatani di Australia. Mereka berargumentasi bahwa dari sisi ekonomi, keuntungan seperti produksi total dan pendapatan bersih usahatani merupakan indikator penting dari pertanian berkelanjutan. Dari sisi lingkungan, difokuskan pada kecenderungan penggunaan lahan dan air karena pengaruhnya pada produksi jangka panjang. Peningkatan efisiensi penggunaan air, perbaikan hara, perbaikan biodiversitas, pengurangan kehilangan tanah dipandang sebagai indikator keberlanjutan yang potensial.

2.6. Konsep Pendekatan Nilai Keberlanjutan (Sustainable Value Added)