• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragaan Usahatani Sayuran Kentang dan Kubis

DAFTAR LAMPIRAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5.3. Keragaan Usahatani Sayuran Kentang dan Kubis

Kentang dan kubis di daerah penelitian ditanam pada lahan dengan ketinggian > 1000 m dpl. Hamparan lahan mulai 0 persen sampai 80 persen. Pola tanam yang dilakukan bervariasi, namun pada umumnya petani kentang dan kubis menggunakan lahannya secara intensif dua sampai tiga kali dalam setahun. Kepemilikan lahan usahatani bervariasi, mulai dari 0.04 hektar sampai 8 hektar, dengan rata-rata 0.54 hektar untuk kentang dan 0.5 ha untuk kubis. Untuk memperluas lahannya, pada umumnya petani menyewa lahan baik dari penduduk sekitar maupun menyewa pada lahan perkebunan atau lahan kehutanan.

Penggunaan benih di lokasi penelitain berasal dari benih sebelumnya yang mereka beli dari petani lain atau petani melakukan pembenihan sendiri dengan kelas benih yang kurang jelas. Petani juga menggunakan benih bersertifikat yang mereka beli dari penangkar benih. Pada umumnya petani jarang membeli dari toko pertanian, karena sejak impor benih dilarang pemerintah, maka toko sarana produksi tidak menyediakan benih kentang. Di daerah penelitian harga benih bervariasi mulai Rp 10000 /kg sampai Rp 18000/kg. Penggunaan benih per hektar rata-rata sebesar 1 1382 kilogram untuk kentang dan 26 500 pohon per hektar.

115

Varietas yang digunakan petani di daerah penelitian adalah Granola. Varietas ini mempunyai hasil yang tinngi, berumur pendek (90 hari) dan memiliki daya adaptasi yang luas, serta toleran terhadap serangan layu bakteri (Ridwan, 2010). Varietas lainnya yang ditanam petani adalah varietas atlantik. Berdasarkan wawancara dengan petani sampel 90 persen petani menggunakan varietas granola, dan sisanya 10 persen menggunakan varietas atlantik (ditanam oleh petani yang bermitra dengan PT Indofood). Selanjutnya untuk tanaman kubis varietas yang paling banyak ditanam petani adalah greenova dengan penggunaan benih sekitar 26500 pohon bibit per hektar.

Sejak impor benih kentang dari Belanda dan Australia dilarang, petani di Pangalengan, Kertasari, Pasirwangi, dan Cikajang sering mengeluhkan kurangnya ketersediaan benih kentang, terutama benih bersertifikat. Pangalengan sebagai sentra produksi kentang Jawa Barat masih dihadapkan pada kurangnya jumlah penangkar, sehingga benih yang dihasilkan masih belum dapat memenuhi kebutuhan benih kentang yang ada. Disisi lain, benih yang digunakan petani di Kertasari, Pasirwangi, dan Cikajang mengandalkan ketersediaan benih yang berasal dari Pangalengan, karena kurangnya jumlah penangkar di kecamatan tersebut. Hal ini menyebabkan tingginya ongkos yang dikeluarkan petani untuk pembelian benih. Akibat keterbatasan tersebut, akhirnya petani lebih banyak menggunakan benih kentang dari hasil produksi sebelumnya baik dari produksi sendiri, maupun produksi petani lain. Hal ini mengakibatkan kualitas maupun kuantitas kentang yang dihasilkan kurang maksimal.

Berbeda dengan kentang, ketersediaan benih kubis di daerah penelitian tidak mengalami kendala yang berarti. Pada umumnya benih dapat dibeli di kios produksi untuk disemaikan. Namun, petani lebih memilih membeli bibit dari petani lain karena berbagai alasan. Pertama, dengan menanam benih yang sudah menjadi bibit, petani sudah dapat memperkirakan daya tumbuh dari bibit tersebut. Kedua, adanya efisiensi waktu dan tenaga kerja yang digunakan.

Pengolahan tanah bertujuan untuk menyiapkan tempat tumbuh yang baik untuk tanaman, menekan pertumbuhan gulma, dan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biolagi tanah. Kegiatan olah tanah yang dilakukan oleh petani menggunakan sistem cangkul, yaitu sistem olah tanah yang tergantung pada bekas lahan

116

penanaman sebelumnya. Di daerah penelitian petani mengolah lahan dengan cara mencangkulnya dengan kedalaman 30 cm. Kemudian dibuat garitan dengan jarak antar garitan 70-80 cm. Bedengan dibuat dengan panjang 6 - 7 m dan lebar 70 cm. Jarak antar bedengan dibuat seukuran dengan lebar cangkul lebih kurang 25 cm sampai 30 cm. Bedengan dibuat dengan tujuan untuk melindungi kerusakan akar tanaman kentang terhadap genangan air karena akar mudah busuk. Arah bedengan disesuaikan dengan topografi lahan.

Pada lahan yang memiliki topografi datar, arah bedengan dapat ke segala arah diusahakan searah dengan saluran irigasi sedangkan lahan yang bertoporafi lereng, arah bedengan idealnya dibuat searah kontur (memotong lereng). Lereng yang semakin curam akan meningkatkan kecepatan aliran permukaan sehingga kekuatan mengangkut dan erosi akan meningkat pula. Lereng yang semakin panjang akan menyebabkan volume air yang mengalir menjadi meningkat (Dariah, 2005). Hampir 60 persen petani menggunakan teknik penanaman searah lereng. Berdasarkan hasil wawancara petani menerapkan sistem membuat guludan searah lereng karena kalau musim hujan mencegah genangan air, menghindari pembusukan akar tanaman, dan satu alasan lagi adalah sulit dalam pengerjaannya sehingga memerlukan waktu yang lebih lama untuk mengolah lahan.

Pupuk yang digunakan petani di Pangalengan, Kertasari, Pasirwangi, dan Cikajang adalah Urea, ZA, KCl, TSP/SP-36, dan pupuk majemuk NPK. Dalam penelitian ini untuk estimasi fungsi produksi pupuk tidak didefinisikan dalam bentuk agregatnya namun dihitung dalam bentuk unsur hara utama yang dikandungnya yaitu N, P2O5, dan K2O. Kandungan tersebut dapat terlihat dari kemasan yang dibeli petani. Unsur hara N berasal dari pupuk Urea sebanyak 46 persen, dari NPK sebanyak 15 persen dan dari ZA sebanyak 21 persen. Unsur hara P berasal dari pupuk SP 36 sebesar 36 persen dan dari NPK 15 persen. Unsur hara K2O berasal dari NPK 15 dan KCl 60 persen.

Baik pada budidaya kentang maupun kubis, pupuk yang digunakan adalah pupuk anorganik (Urea, ZA, TSP/KCl, NPK serta pupuk organik atau pupuk kandang. Penggunaan pupuk ini sangat bervariasi, pada tanaman kentang, rata- rata penggunaan pupuk Urea + ZA sebesar 580 kg/ha, TSP 461 kg/ha, NPK 710

117

kg/ha, dan KCl 112 kg/ha. Sementara itu penggunaan pupuk pada kubis adalah : Urea + ZA 536.5 kg/ha, TSP 280 kg/ha, NPK 648 kg/ha, dan KCl 261 kg/ha. Petani kentang hampir 84 persen menggunakan pupuk majemuk, selebihnya pupuk tunggal, sedangkan pada petani kubis hanya 78 persen yang menggunakan pupuk majemuk NPK.

Pupuk organik (pupuk kandang) berfungsi untuk mengikat air tanah yang lebih besar sehingga pupuk yang terlarut masih ada. Pupuk kandang dapat meningkatkan agregasi tanah, pori-pori tanah dan air tanah. Semua petani kentang dan kubis menggunakan pupuk kandang dalam usahataninya. Pupuk kandang berasal dari kotoran sapi, domba, atau ayam. Rata-rata penggunaan pupuk kandang adalah 18.9 ton/ha untuk kentang dan 12.7 ton untuk kubis. Para petani di daerah penelitian mendapatkan pupuk kandang pada umumnya dari luar kota, seperti dari Sukabumi dan Tangerang. Yang perlu dicermati adalah kontinuitas ketersediaan pupuk ini sehubungan dengan tingginya penggunaan. Barangkali perlu difikirkan bagaimana supaya ketersediaan ini terus berlanjut.

Berbagai faktor yang mempengaruhi penggunaan pupuk antara lain: petani masih belum memahami kebutuhan pupuk maupun berbagai jenis hara makro (baik hara makro maupun mikro) dan kegunaan masing-masing unsur hara tersebut untuk pertumbuhan tanaman, sehingga pemakaian pupuk ini berlebihan. Faktor kebiasaan juga menjadi penyebab penggunaan pupuk yang berlebihan. Di lain pihak ada petani yang menggunakan pupuk di bawah anjuran, karena keterbatasan modal, petani tidak bisa membeli pupuk karena pupuk relatif mahal. Sehingga tidak mampu membeli pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Pada umumnya petani menggunakan pestisida untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit. Petani kentang dan kubis menggunakan merek pestisida (fungisida padat/cair, herbisida padat/cair dan insektisida pada/cair). Berdasarkan wawancara dengan petani dan pedagang sarana produksi, lebih dari 30 merek pestisida yang beredar di masyarakat. Fungisida adalah zat kimia yang digunakan untuk mengendalikan cendawan. Jenis fungisida yang biasa digunakan para petani yaitu: sistemik misalnya Aminil, Antracol, Acrobat, Revus, dan Thrivicur, serta kontak misalnya Amcozeb. Insektisida adalah zat kimia yang

118

digunakan untuk membunuh serangga pengganggu. Jenis insektisida antara lain: Winder, Ramvage, Alika, dan Prevathon.

Berdasarkan jumlah penggunaan pestisida maka dalam penelitian ini jumlah pestisida yang digunakan disetarakan dengan jumlah merek pestisida yang paling banyak digunakan oleh petani. Untuk tanaman kentang pestisida yang paling banyak adalah Daconil, sehingga penggunaannya disetarakan dengan Daconil (konversi ke fungisida Daconil) untuk kentang, dan setara Demolish untuk kubis (konversi ke fungisida Demolish). Pada umumnya petani menyemprot 2 -3 kali dalam seminggu pada saat musim hujan,dan menyemprot 4- 5 hari sekali pada saat musim kemarau. Secara rata-rata penyemprotan berkisar antara 4 – 20 kali. Namun banyak petani yang menyatakan mereka menyemprot ada atau tidak ada serangan sehingga penggunaan pestisida menjadi berlebihan. Berdasarkan hasil wawancara petani kentang lebih intensif dalam mengendalikan OPT. Hampir 90 persen petani menyatakan bahwa penyemprotan dengan frekuensi tinggi dilakukan untuk antisipasi atau pencegahan sebelum hama nmenyerang sebab kalau sudah terserang sulit dihindari, alasan lainnya adalah menghindari gagal panen.

Hasil wawancara dengan para petani ditemukan bahwa sebagian besar petani menggunakan dosis yang berlebihan dan frekuensi aplikasi yang terlalu sering bahkan sebelum hama/penyakit menyerang. Perilaku ini tentu saja merupakan suatu pemborosan karena bertambahnya biaya selain biaya pestisida juga biaya tenaga kerja untuk menyemprot. Penggunaan pestisida yang berlebihan ini akan menyebabkan residu pestisida.

Sebagian besar petani menyatakan tanaman kentangnya pernah terkena serangan hama penyakit, yang sering menyerang adalah hama ulat grayak, hama kutu daun, dan hama ulat tanah serta hama trip. Penyakit yang sering menyerang tanaman kentang adalah penyakit busuk daun, layu bakteri, dan bercak kering. Hal ini menyebabkan para petani menyemprot tanaman kentangnya ada atau tidak ada serangan. Hal ini pula yang menyebabkan petani jarang menanam kentang searah kontur, karena mereka beranggapan penanaman searah kontur dapat dapat menyebabkan air hujan tertahan sehingga menyebabkan serangan penyakit. Aryad (2000) menyatakan bahwa penanaman searah kontur dapat menghambat

119

aliran permukaan sehingga terjadi penyerapan air dan mencegah terangkutnya tanah.

Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani kentang dan kubis berasal dari tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar keluarga atau tenaga kerja upahan. Biasanya petani lebih banyak menggunakan tenaga kerja luar keluarga pada saat pengolahan lahan dan panen. Banyaknya tenaga kerja upahan ini tergantung pada luas lahan yang dikelola. Pekerjaan seperti mengolah lahan, mengangkut sarana produksi dan hasil produksi, menyemprot, lebih banyak digunakan tenaga kerja pria sedangkan wanita lebih banyak mengerjakan menyiram, memupuk, atau panen. Berbeda dengan tanaman pangan terutama padi, pada tanaman sayuran pengolahan lahan juga banyak dikerjakan kaum wanita. Namun demikian karena kentang dan kubis ditanam pada lahan berlereng, apalagi pada musim kemarau pekerjaan menyiram lebih banyak dilakukan oleh tenaga kerja pria. Secara umum kegiatan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman memerlukan tenaga kerja lebih banyak dibandingkan kegiatan lainnya. Adanya penggunaan tenaga kerja harian untuk jaga malam setelah tanaman berumur kurang lebih 70 hari, sampai 100 hari (sampai panen) terutama untuk tanaman kentang menyebabkan kebutuhan tenaga kerja menjadi lebih banyak.

Berdasarkan hasil wawancara dengan petani sampel, kentang dipanen rata- rata setelah berumur 100 hari, sedangkan kubis dipanen setelah berumur 90 hari. Jumlah produksi kentang di daerah penelitian rata-rata mencapai 18.84 ton. Kentang yang dihasilkan diklasifikasikan pada Grade AL, ABC, DN dan ARS. Pengkelasan dilakukan berdasarkan jumlah umbi per kg atau berat umbi dalam gram. Untuk grade AL jumlah umbi per kg sebanyak 2-5, grade ABC 10-12 per kg, DN 20-30 umbi per kg dan ARES lebih dari 30 umbi per kg. Untuk kubis, panen dilakukan pada umur 90 -120 hari. Berbeda dengan kentang tidak ada pengkelasan dalam kubis dan pda umumnya panen kubis dilakukan secara borongan. Rata-rata produksi kubis di daerah penelitian adalah 23.6 ton per ha

Pemasaran kentang di daerah penelitian dilakukan melalui tiga jalur pemasaran yaitu pasar tradisional, pasar modern, dan industri pengolahan. Namun untuk petani sampel, pemasaran banyak dilakukan ke pasar tradisional, baik pasar lokal maupun pasar induk yang ada di Jakarta, Bandung, Tangerang,

120

dan Bogori. Pasar tradisional yang menjadi tujuan pemasaran adalah Pasar Garut, Pasar Pangalengan, Pasar Caringin Bandung, Pasar Induk Kramat Jati Jakarta dan Pasar Kemang Bogor. Pada saat penelitian harga kentang konsumsi di pasaran berkisar anatar Rp 2500 – Rp 6000 per kilogram. Adapun jalur pemasaran yang dilalui adalah:

Petani Æ pedagang pengumpul Æ pedagang besar Æ pedagang pasar lokal/pasar induk.

Pada saat panen biasanya petani sudah memisahkan ukuran kentang (grading). Bila transaksi penjualan dilakukan di kebun, maka akan terjadi kesepakatan antara penjual dengan pembeli siapa yang akan membiayai biaya sortasi dan grading, namun pada umumnya untuk kentang biaya ini ditanggung oleh petani. Sebaliknya untuk kubis karena kebanyakan penjualan menggunakan sistem tebas maka biaya angkut dan lainnya ditanggung oleh pedagang pengumpul. Jenis kentang yang dipasarkan adalah varietas granola. Harga ditentukan berdasarkan ukuran atau keseragaman dan kondisi kulit serta kebersihan umbi.

Pada saat dilakukan wawancara dengan pedagang pengumpul, biasanya mereka sudah mendapat informasi mengenai harga kentang di pasar induk baik di Bandung, Bogor, Tangerang, maupun Jakarta. Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa sekarang petani pun sudah bisa mendapat informasi mengenai harga kentang di pasaran sejalan dengan berkembangnya teknologi informasi handphone yang sudah sampai ke pelosok perdesaan. Dengan demikian posisi tawar petani meningkat, karena apabila tidak sepakat dengan harga petani dapat menyimpannya beberapa hari sampai harga dianggap bagus. Tidak demikian dengan kubis. Pemasaran kubis umumnya dilakukan secara langsung sesaat setelah panenke pedagang pengumpul karena kubis termasuk tanaman yang mudah busuk.

Berdasarkan hasil wawancara dengan pedagang pengumpul dan pedagang besar, biasanya para pedagang membawa kentang atau kubis ditambah dengan komoditas lainnya seperti wortel, tomat, bawang daun, seledri, sawi putih, dan lainnya. Kendaraan yang digunakan adalah truk dengan kapasitas 7 – 8 ton dan ongkos angkut dari Pangalengan dan Kertasari sebesar Rp 1,2 juta sampai di

121

Pasar Induk Kramat jati atau Tangerang. Pemasaran ke industri pengolahan dilakukan ke PT Indofood terutama oleh petani mitra dengan kualitas yang telah ditentukan, dan varietas yang ditanam adalah Atlantik. Biasanya kemitraan dilakukan melalui Kelompok tani.

5.4. Analisis Biaya, Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Kentang dan