• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1. Konsep Pestisida

2.1.5. Faktor yang Mempengaruhi Keracunan Pestisida

Keracunan terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk kedalam tubuh dalam jumlah tertentu. Ada beberapa faktor pestisida yang dapat mempengaruhi keracunan antara lain :

1. Jenis pestisida

Pestisida yang persisten tinggal lebih lama pada tanaman dibandingkan yang tidak persisten. Pestisida yang sistemik lebih lama tinggal dari pada yang non sistemik .Pestisida yang mudah didegredasi dilingkungan akan kurang menimbulkan residu dibandingkan pestisida yang lebih persisten. Hasil degredasi pestisida bisa saja menjadi bahan kimia yang berbahaya meskipun umumnya tidak.

2. Tehnik aplikasi/penggunaan pestisida

Tehnik aplikasi atau menyemprot pestisida mempengaruhi tingkat keracunan pestisida.

3. Iklim dan cuaca

Suhu udara sangat mempengaruhi residu pestisida. Didaerah beriklim panas degredasi pestisida lebih cepat dibandingkan daerah beriklim sedang. Banyaknya curah hujan juga mempengaruhi residu pestisida pada tanaman.

4. Dosis Pestisida

Dosis pestisida berpengaruh langsung terhadap bahaya keracunan pestisida, karena itu dalam melakukan pencampuran pestisida untuk penyemprotan petani

hendaknya memperhatikan takaran atau dosis yang tertera pada label. Dosis atau takaran yang melebihi aturan akan membahayakan penyemprot itu sendiri. Dosis adalah jumlah pestisida dalam liter atau kilogram yang digunakan untuk mengendalikan hama tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Dosis bahan aktif adalah jumlah bahan aktif pestisida yang dibutuhkan untuk keperluan satuan luas atau satuan volume larutan.

5. Toksisitas senyawa pestisida.

Semua pestisida toksik. Perbedaan toksisitas adalah pada derajat atau tingkat toksisitas. Tingkat bahaya atau toksisitas pestisida ini dinyatakan dengan Letal Dosisi 50 (LD 50 ) atau Letal Consentrasi 50 (LC 50), makin rendah dosis LD 50/LC 50 makin toksis pestisida tersebut. LD 50 merupakan dosis pestisida yang mengakibatkan 50% binatang percobaan mati. Sedangkan LC 50 merupakan konsentrasi pestisida di udara yang menyebabkan 50% binatang percobaan mati. Berdasarkan nilai toksik atau tingkat bahayanya maka pestisida digolongkan dalam beberapa golongan. Menurut WHO dalam Short, 1994 dapat dikelompokkan empat jenis pestisida berdasarkan risiko yang ditimbulkannya seperti pada tabel berikut.

Tabel 2.2. Klasifikasi Pestisida Berdasarkan Daya Racunnya. LD50 untuk tikus (mg/kg)

Oral Dermal

Klasifikasi

Padat Cair Padat Cair

I. a. Sangat berbahaya sekali b. Sangat berbahaya <5 5-50 <20 20-200 <10 10-100 <40 40-400 II. Berbahaya 50-500 200-2000 100-1000 400-4000

III. Cukup berbahaya >500 >2000 >1000 >4000 Short,1994

6. Frekuensi penyemprotan.

Paparan yang berlangsung terus-menerus lebih berbahaya daripada paparan yang terputus-putus pada waktu yang sama. Jadi pemaparan yang telah lewat perlu diperhatikan bila terjadi risiko pemaparan baru. Karena itu penyemprot yang terpapar berulang kali dan berlangsung lama dapat menimbulkan keracunan kronik. Telah dibuktikan bahwa penggunaan pestisida secara berlama – lama untuk pertanian dapat menyebabkan kanker seperti non Hodgkin’s lymphoma (Weisenburger, 1990 )

Pemaparan pestisida pada tubuh manusia dengan frekuensi yang sering dan dengan interval waktu yang pendek menyebabkan residu pestisida dalam tubuh manusia menjadi lebih tinggi . Secara tidak langsung kegiatan petani yang mengurangi frekuensi penyemprot dapat mengurangi terpaparnya petani tersebut oleh pestisida.

Hasil penelitian Praptini, dkk (2002) tentang faktor faktor yang berkaitan dengan kejadian keracunan pestisida pada tenaga kerja teknis pestisida di kota Semarang menyimpulkan bahwa rata rata angka kejadian keracunan pestisida sebesar

69,91 %, sehingga disarankan bagi tenaga kerja melakukan penyemprotan tidak lebih 2 kali seminggu .

7. Jalan masuk pestisida ke dalam tubuh

Pestisida dapat masuk melalui kulit, mulut dan pernafasan. Keracunan pestisida terjadi bila ada bahan pestisida yang mengenai dan/atau masuk ke dalam tubuh d alam jumlah tertentu. Keracunan akut atau kronis akibat kontak dengan pestisida dapat melalui mulut, penyerapan melalui kulit dan melalui saluran pernafasan. Petani pengguna pestisida keracunan yang terjadi lebih banyak terpapar melalui kulit dibandingkan dengan paparan melalui saluran pencernaan dan pernafasan, (Sastroutomo, 1992 ).

8. Waktu penyemprotan

Waktu yang paling baik untuk penyemprotan pestisida adalah pada waktu terjadi aliran udara naik yaitu antara 08.00 – 11.00 WIB atau sore hari pukul 15.00 -18.00 WIB (Rini W,2007).

9. Tempat penyimpanan

Setiap barang yang akan dimasukan dalam gudang pestisida terlebih dahulu melalui pemeriksaan barang agar dapat disimpan secara tepat dan aman. Dilarang menyimpan bahan makanan, tekstil/pakaian dan barang barang lain dalam satu ruangan dengan pestisida. Setiap pestisida tidak boleh diletakkan secara langsung dilantai melainkan harus memakai rak. Cara meletakakn diatas rak harus diatur

sedemikian rupa sehingga memudahkan pemeriksaan dan stok lama selalu dapat dikeluarkan lebih dahulu (Depkes RI,1994).

10. Faktor Lingkungan

Lingkungan berperan dalam mempengaruhi keracunan pestisida. Beberapa faktor lingkungan yang berperan antara lain :

a. Tempratur

Tempratur yang aman dalam menyemprot pestisida pada 24 ° - 30 °C dan waktu penyemprotan pagi hari antara pukul 06.00 - 08.00 dan sore pukul 16.00 – 18.00. Jika suhu lingkungan tinggi akan mempermudah penyerapan pestisida ke dalam tubuh melalui kulit.

b. Arah angin dan kecepatan angin

Arah angin dan kecepatan angin penting diperhatikan pada saat penyemprotan. Apabila penyemprotan dilakukan pada saat kecepatan angin tinggi dan melawan arah angin, justru yang terjadi pestisida akan lebih banyak terpapar saat menyemprot, sehingga pestisida masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan dan kulit.

11. Perilaku Kesehatan

Kebiasaan memakai alat pelindung diri pada waktu bekerja dengan

organophosphat dan carbamat (aplikasi, penyemprotan) dan penangan pestisida akan mempengaruhi tingkat pemaparan. Tingkat pengetahuan , sikap, dan perilaku petani mengenai bahaya pestisida akan mempengaruhi kesediaan petani untuk memakai

Alat Pelindung Diri, serta melakukan penangan serta pengelolaan pestisida dengan baik (Achmadi, 1983)

Masalah kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang pada dasarnya menyangkut dua aspek utama, yaitu fisik, seperti misalnya tersedianya sarana kesehatan dan pengobatan penyakit, dan non-fisik yang menyangkut perilaku kesehatan. Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat.

Perilaku merupakan keadaan dalam diri manusia yang menggerakkannya untuk bertindak, menyertai manusia dengan perasaan-perasaan tertentu dalam menanggapi objek dan terbentuk atas dasar pengalaman-pengalaman. Sikap merupakan tenaga pendorong (motif) dari seseorang untuk timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku. Sikap pada seseorang akan menentukan warna atau corak pada tingkah laku orang orang tersebut. Dengan mengetahui sikap seseorang maka akan dapat diduga respon atau perilaku yang akan diambil oleh seseorang terhadap masalah keadaan yang dihadapkan padanya.

Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan: berfikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan batasan ini, perilaku kesehatan dapat

dirumuskan sebagai segala bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan, dan sikap tentang kesehatan, serta tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

Becker dalam Notoatmodjo (2005) membedakan perilaku kesehatan sebagai berikut:

1) Perilaku sehat (healthy behavior)

Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya, antara lain makan dengan menu seimbang, melakukan kegiatan fisik secara teratur dan cukup, tidak merokok dan meminum minuman keras serta menggunakan narkoba, istirahat yang cukup, mengatasi atau mengendalikan stres dan memelihara gaya hidup positif untuk kesehatan.

2) Perilaku sakit (Illness behavior).

Perilaku sakit adalah bentuk tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang sedang sakit agar memperoleh kesembuhan. Faktor pencetus perilaku sakit adalah faktor persepsi dipengaruhi oleh medis dan sosial budaya, intensitas gejala (menghilang atau terus menetap gejala), motivasi individu untuk mengatasi gejala dan sosial psikologis yang mempengaruhi respon sakit.

3). Perilaku peran orang sakit (the sick role behavior).

Orang sakit yang kondisinya lemah perlu bantuan orang lain, keluarga dan lingkungannya. Jika penyakit itu membutuhkan keterampilan khusus maka bantuan

ini dapat dimintakan dari dokter, perawat, petugas kesehatan lainnya, dukun dan sinse. Untuk mencapai kesembuhan maka harus minum obat sesuai dengan anjuran dokter, periksa laboratorium, diet makanan dan lain-lain. Penyebab kegagalan untuk mencapai kesembuhan adalah karena lupa makan obat, jarak pelayanan kesehatan jauh, sulitnya transportasi, pengetahuan yang rendah, tidak mengindahkan nasehat dokter, ekonomi keluarga yang sulit, sosial budaya masyarakat dan minimnya informasi kesehatan ( Notoatmodjo, 2005).

Notoatmodjo (2005) berpendapat bahwa perilaku manusia itu sangat kompleks dan mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Benyamin Bloom dalam

Notoatmodjo (2005) membagi perilaku itu ke dalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan tujuan pendidikan. Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan, dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, ketiga domain ini diukur dari:

1) Pengetahuan peserta didik terhadap materi pendidikan yang diberikan (knowledge)

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yang sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).

Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Notoatmodjo (2005) mengungkapkan pendapat Rogers bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru) di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni:

a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek).

b. Interest, dimana orang mulai tertarik kepada stimulus.

c. Evaluation, orang sudah mulai menimbang-nimbang terhadap baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya.

d. Trial, dimana subyek telah mulai mencoba perilaku baru.

e. Adoption, dimana subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

2) Sikap atau tanggapan peserta didik terhadap materi yang diberikan

(attitude)

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang, tidak senang, setuju dan tidak setuju, baik dan tidak baik).

Menurut Newcomb dalam Notoatmodjo (2005) sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu, belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan

suatu perilaku. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan antara lain:

a. Menerima (Receiving) diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). Misalnya sikap orang terhadap pestisida dapat dilihat dari kesediaan dan perhatian orang itu terhadap ceramah-ceramah tentang pestisida.

b. Merespon (Responding) diartikan memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

c. Menghargai (Valuing) diartikan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. Misalnya seorang petani yang mengajak petani lain untuk menggunakan alat pelindung diri pada saat kontak dengan pestisida agar terhindar dari paparan pestisida, atau mendiskusikan bagaimana mencari pengobatan keracunan pestisida adalah suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap pencegahan dan pengobatan keracunan pestisida bagi keluarga atau masyarakat sekitarnya. d. Bertanggung jawab (Resposible) diartikan bertanggung jawab atas sesuatu yang

telah dipilihnya dengan segala resiko dan merupakan sikap yang paling tinggi, misalnya seseorang mau menjadi tenaga penyuluh pestisida desa secara sukarela, meskipun mendapat tantangan dari keluarganya.

3) Praktek atau tindakan yang dilakukan oleh peserta didik sehubungan dengan materi pendidikan yang diberikan (practice)

Sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Agar sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor-faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas, dukungan (support) pihak lain dan lain-lain. Praktek atau tindakan mempunyai beberapa tingkatan, yakni:

a. Persepsi (Perception), mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.

b. Respon terpimpin (Guided response), dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat kedua. Misalnya seorang petani dapat menggunakan pestisida dengan benar, mulai dari dosis, cara penggunaan, dan sebagainya.

c. Mekanisme (Mechanism), apabila seseorang telah melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktek tingkat tiga.

d. Adaptasi (Adaptation) adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, dan sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Terbentuknya suatu perilaku baru, terutama pada orang dewasa dimulai pada

domain kognitif, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi atau objek di luarnya sehingga menimbulkan pengetahuan baru pada subjek tersebut. Ini selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap si subjek terhadap objek yang diketahui itu. Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah diketahui dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh

lagi, yaitu berupa tindakan (action) terhadap atau sehubungan dengan stimulus atau objek tadi. Namun demikian, di dalam kenyataan stimulus yang diterima subjek dapat langsung menimbulkan tindakan. Artinya seseorang dapat bertindak atau berperilaku baru tanpa mengetahui terlebih dahulu makna stimulus yang diterimanya. Dengan kata lain tindakan (practice) seseorang tidak harus didasari oleh pengetahuan atau sikap.

b) Teori Lawrence Green.

Menurut model perubahan perilaku dari Lawrence Green dan M. Kreuter (2005), faktor-faktor penentu atau mempengaruhi perubahan perilaku dibagi atas tiga kategori yaitu :

1) Faktor predisposisi (predisposing factors) merupakan faktor yang dapat mempermudah atau mempredisposisi timbulnya perilaku dalam diri seorang individu atau masyarakat. Faktor-faktor yang dimasukkan ke dalam kelompok faktor predisposisi diantaranya adalah pengetahuan individu, sikap, kepercayaan, tradisi, norma sosial.

2) Faktor pendukung (enabling factors) adalah faktor-faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi terjadinya perilaku atau tindakan individu atau masyarakat. Faktor ini meliputi tersedianya sarana pelayanan kesehatan dan kemudahan untuk mencapainya.

3) Faktor penguat (reinforcing factors), faktor-faktor yang memperkuat terjadinya suatu tindakan untuk berperilaku sehat diperlukan perilaku petugas kesehatan

dan dari tokoh masyarakat seperti lurah dan tokoh agama. Selain hal tersebut juga diperlukan perundang-undangan yang memperkuat .

Dari teori L.Green (2005) diketahui bahwa salah satu cara untuk mengubah perilaku adalah dengan melakukan intervensi terhadap faktor predisposisi yaitu mengubah pengetahuan, sikap dan persepsi terhadap masalah kesehatan melalui kegiatan pendidikan kesehatan.

Menurut Notoatmodjo (2003) perubahan perilaku atau seseorang menerima atau mengadopsi perilaku baru dalam kehidupannya melalui 3 tahap yaitu :

1) Pengetahuan

Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru), ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya. Indikator yang digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi :

a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi : penyebab penyakit, gejala atau tanda-tanda penyakit, bagaimana cara pengobatan, kemana mencari pengobatan, bagaimana cara penularan, bagaimana cara pencegahan dan sebagainya.

b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.

2) Sikap

Indikator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesehatan yakni:

a. Sikap terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana penilaian atau pendapat seseorang terhadap gejala atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara pencegahan penyakit dan sebagainya.

b. Sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat yaitu penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara dan cara-cara berperilaku hidup sehat. c. Sikap terhadap kesehatan lingkungan yaitu pendapat atau penilaian seseorang

terhadap lingkungan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. 3) Praktek atau Tindakan (practice)

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan ia akan melaksanakan atau mempraktekkan apa yang diketahui atau disikapi. Inilah yang disebut praktek kesehatan atau perilaku kesehatan.

Indikator praktek kesehatan ini terdiri dari :

a. Tindakan (praktek) sehubungan dengan penyakit yang mencakup:

1. Pencegahan penyakit, misalnya memakai alat pelindung diri pada saat melakukan penyemprotan pestisida

2. Penyembuhan penyakit, misalnya meningkatkan status gizi dan tidak kontak dengan pestisida sesuai dengan waktu yang ditetapkan

b. Tindakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang mencakup antara lain : secara berkala memeriksa kesehatan (pemeriksaan cholinesterase

c. Tindakan (praktek) kesehatan lingkungan, antara lain : tidak membiarkan lingkungan tercemar oleh pestisida dengan cara penggunaan pestisida yang benar dan bijaksana sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan.

Dokumen terkait