• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Koleksi Tercetak (Buku)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.6. Faktor yang Mempengaruhi Kerusakan Koleksi Tercetak (Buku)

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kerusakan koleksi. Menurut Razak (1996, 9) “bahan pustaka mudah mengalami kerusakan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal”. Sebagian besar bahan pustaka koleksi perpustakaan merupakan bahan tercetak yang umumnya terbuat dari kertas. Bahan dari kertas ini dapat mengalami kerusakan, baik karena faktor eksternal maupun

19

internal. Faktor eksternal yang dapat merusak bahan pustaka antara lain jamur, serangga, binatang pengerat, zat kimia bahkan manusia dan lain-lain. Sedangkan faktor internal yang merusak bahan pustaka adalah zat asam yang terkandung dalam kertas, dengan adanya zat asam ini kertas dapat rusak dari dalam, yaitu akibat sisa- sisa zat kimia pada saat pembuatan kertas.

Ada dua faktor penyebab bahan pustaka mudah mengalami kerusakan menurut Razak (1996, 9) yaitu faktor internal dan faktor eksternal tersebut, sebagai berikut:

2.6.1 Faktor Internal

Kerusakan yang terjadi pada bahan buku sendiri, yakni pada kertas, tinta cetak, perekat, dan pengawet perekat yang tidak baik kualitasnya, dan pada benang penjilidan yang tidak serasi dengan sampul. Kerusakan pada bahan perpustakaan non- buku seperti kaset, disket, piringan hitam, CD ROM, dan pustaka renik juga disebabkan oleh kualitas bahannya yang tidak baik atau tidak cocok. Pemrosesan bahan non-buku yang kurang baik menyebabkan mudah tercemari oleh jasad renik sehingga bahan non-buku mudah rusak.

2.6.2 Faktor Eskternal

Faktor eksternal yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh faktor luar dari buku, dapat dibagi dalam faktor lingkungan, faktor manusia, dan bencana alam.

2.6.2.1Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan koleksi yang disebabkan oleh pengaruh dari lingkungan disekitarnya, antara lain:

1. Kerusakan oleh Cahaya

Cahaya adalah suatu bentuk energi elektromagnetik yang berasal dari radiasi cahaya matahari dan lampu listrik. Cahaya dapat berakibat buruk pada buku jika tidak sesuai dengan standar. Gelombang cahaya mendorong dekomposisi kimiawi bahan-bahan organik, terutama cahaya ultraviolet (UV) dengan gelombang yang lebih tinggi yang bersifat sangat merusak. Dalam ruang baca bahan langka tingkat cahaya yang menyinari bahan pustaka harus rendah tetapi masih tetap nyaman untuk kegiatan membaca.Selain itu cahaya matahari langsung juga harus dihindari.

2. Kerusakan oleh Suhu dan Kelembaban Udara

Sebenarnya kekuatan kertas tidak akan berkurang oleh perubahan suhu yang tidak begitu ekstrim seperti yang terjadi di Indonesia,asalkan kandungan air dalam kertas itu rendah. Suhu udara di Indonesia berkisar antara 20-30 derajat celcius, perbedaan suhu udara antara siang dan malam hari tidak terlalu besar.

Masalahnya timbul karena Indonesia merupakan negara tropis, yang kelembaban udaranya relatif tinggi pada musim hujan. Jika udara lembab, maka kandungan air dalam kertas akan bertambah karena kertas bersifat

21

higroskopis. Perubahan suhu pada saat kertas mengandung banyak air inilah yang menyebabkan struktur kertas menjadi lemah.

Hubungan antara suhu dan kelembaban udara sangat erat sekali, sebab bila suhu udara berubah, maka kelembaban udarapun turut berubah. Jika suhu udara naik, kelembaban udara akan turun, dan air yang ada dalam kertas dilepas, sehingga kertas menjadi kering dan volumenya menyusut. Pada saat inilah terjadi ketegangan karena molekul-molekul selulosa saling tarik- menarik pada proses penyusutan ini.

3. Kerusakan oleh Debu

Menurut Martoatmodjo (1993, 44) Debu merupakan salah satu partikel- partikel kecil yang terdapat dalam udara. Partikel-partikel debu yang ada diudara ini dapat menyebabkan polusi udara dan juga membahayakan kehidupan manusia. Selain dampak tersebut debu juga berdampak negatif terhadap buku. Debu-debu tersebut dapat masuk ke ruang perpustakaan dan museum melalui jendela, pintu, lubang angin ruangan, maupun celah-celah kecil. Apabila debu melekat pada kertas, maka akan terjadi reaksi kimia yang meningkatkan tingkat keasaman pada kertas. Akibatnya kertas menjadi rapuh dan cepat rusak. Disamping itu apabila keadaan ruang museum lembab, debu, yang bercampur dengan air lembab itu akan menimbulkan jamur pada buku dan merupakan makanan bagi serangga-serangga.

4. Kerusakan oleh Serangga dan Binatang Pengerat

Mahkluk hidup seperti mikroorganisme (jamur), insek dan binatang pengerat merupakan musuh utama kertas pada naskah kuno. Mahkluk- mahkluk ini terutama memilih kertas sebagai tempat hidup karena pada kertas tersedia makanan untuk kelangsungan hidup. Berikut adalah beberapa serangga dan binatang pengerat tersebut, antara lain:

a. Jamur ( Fungi ) b. Kecoa

c. Kutu Buku d. Tikus 2.6.2.2Faktor Manusia

Manusia merupakan penyebab kerusakan benda–benda koleksi naskah kuno di museum, baik disengaja maupun tidak. Faktor yang tidak disengaja dalam hal ini, dapat terjadi karena cara pengambilan dan membawa benda koleksi yang salah. Hal ini, disebabkan karena yangbersangkutan kurang mengerti arti dan fungsi benda koleksi. Sehingga dengan perlakuan yang salah, mengakibatkan benda koleksi setelah sampai di tempat tujuan mengalami kerusakan. Misalnya. Benda koleksi retak, tidak utuh, pecah, berjamur, ada yang hilang. Faktor manusia akibat kesengajaan, hal ini dilakukan karena sengaja merusak dan mengambil obyek-obyek museum untuk kepentingan pribadi.

2.6.2.3Faktor Bencana Alam

Bencana alam seperti kebanjiran, gempa bumi, kehujanan, kebakaran,kerusuhan, dan kesalahan dalam penanganan seperti salah meletakkan

23

buku, selama dalam pelaksanaan konservasi dan restorasi merupakan sebab-sebab kerusakan yang sangat merugikan. Kerusakan yang terjadi karena kebanjiran dan kehujanan akan menimbulkan noda oleh pertumbuhan jamur dan kotoran yang terdapat dalam air. Noda yang timbul oleh jamur sangat sukar di hilangkan karena jamur berakar disela-sela kertas. Kebakaran dapat memusnahkan kertas dalam waktu yang sangat singkat, Oleh sebab itu kita harus menjaga agar kebakaran jangan sampai terjadi.

Dokumen terkait