• Tidak ada hasil yang ditemukan

ﺪﻫﺎﺸﻳ /yusyāhidu/ dia

TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Faktor Yang Mempengaruhi Kesalahan Insya’

Menurut Fahrurozi (2009:3) BA adalah bahasa yang pola pembentukan katanya sangat beragam dan fleksibel baik melalui cara derivasi ( tashrif isytiqaqiy) maupun dengan cara infleksi ( tashrif I’robi). Melalui 2 cara pembentukan kata ini, BA menjadi sangat kaya dengan kosakata dengan karakter BA yang pembentukan katanya beragam. Dari sinilah mahasiswa banyak mengalami kesalahan, boleh dikatakan pada penelitian awal ditentukan lebih dari 50% mahasiswa mempunyai kesalahan dalam problem tata kalimat;

Problem tata kalimat ( tarakib, qawaid dan I’rob ):

a. I’rob; perubahan bunyi akhir kata, baik berupa harakat ( rafa’, nashab, jar) atau huruf sesuai dengan jabatan kata dalam suatu kalimat.

b. Urutan kata dalam kalimat

c. Keharusan adanya persesuaian ( muthabaqah) antar bagian kata dalam kalimat.

d. Penggunaan pola-pola idiomatik yang rumit.

Problem non kebahasaan yaitu kesalahan yang tidak terkait langsung dengan bahasa yang dipelajari siswa tetapi turut serta bahkan dominan mempengaruhi tingkat kesuksesan dan kegagalan dari pembelajaran bahasa, antara lain :

a. Masalah psikologis, seperti motivasi ( dawafi’i) dan minat ( muylun) b. Perbedaan individu siswa( furuq fardiyah) dalam satu kelas, baik dari

segi kemampuan maupun orientasi belajarnya.

c. Sarana dan prasarana, media, dan sumber belajar BA seperti buku panduan, dan buku lainnya.

d. Kompetensi Pengajar, baik akademik, paedagogik, personal maupun sosial.

e. Metode pembelajaran yang digunakan harus tepat. f. Waktu yang tersedia.

g. Lingkungan berbahasa.

Problem kebahasaan, yang terkait langsung dengan bahasa yang dipelajarinya;

a. Problem bunyi b. Problem kosakata c. Problem tata kalimat

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan sesuatu yang khas, yang hanya dimiliki oleh manusia (Aminuddin,1988 : 28). Menurut Muhbib dalam Muradi (2005: 2) Bahasa Arab adalah produk dan sistem budaya, yang mana bahasa Arab mempunyai dimensi akademik, humanistik, dan pragmatik. Ia tunduk kepada sistem linguistik yang telah menjadi kesepakatan penutur bahasa ini, baik sistem fonologi (aswat), morfologi (sharaf), sintaksis (nahwu), dan semantik (dalalah). Oleh karena itu, studi dan kajian terhadap bahasa Arab sangat menarik baik dari aspek linguistik, maupun kajian terapan seperti psikolinguistik dan sosiolinguistik serta aspek pembelajaran bahasa Arab itu sendiri.

Bahasa yang digunakan pelajar di lembaga pendidikan Islam secara umum, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arab. Sedangkan di Indonesia bahasa Arab merupakan bahasa Asing. Untuk berkomunikasi dalam bahasa Arab tentu saja dibutuhkan kemahiran komunikasi beserta aktivitas-aktivitas latihan yang mendukung dan harus tercipta lingkungan bahasa yang mengarahkan pelajar agar mampu berkomunikasi dalam bahasa Arab ( Hermawan, 2011 : 136 ).

Bahasa menurut Muhammad Al-khuli (1982: 148) adalah sebagai berikut:

ﺔﻋﺎﻤﺟ ﺩﺍﺮﻓﺃ ﻪﻠﻤﻌﺘﺴﻳ ﺔﻴﻁﺎﺒﺘﻋﺍ ﺯﻮﻣﺭ ﻦﻣ ﻥﻮﻜﺘﻳ ﺎﺳﺎﺳﺃ ﻲﺗﻮﺻ ﻡﺎﻈﻧ ﻲﻫ ﺔﻐﻠﻟﺍ

.ﺮﻋﺎﺸﻤﻟﺍﻭ ﺭﺎﻜﻓﻷﺍ ﻝﺩﺎﺒﺘﻟ ﺎﻣ

/al-lugatu hiya niẓāmun ṣautiyyun asāsan yatakawwanu min rumūzin

I’tibāṭiyyatin yasta’miluhu ifrādu jamā’atin mā litabāduli al-ifkāri wa al

-masyā’iri/`Bahasaadalahsistem bunyi yang asas

terdiridarisimbol-simbolbahasadengan sistemmana suka (arbitrer) yang digunakan olehanggota masyarakatuntuk berbagipikiran dan perasaan mereka`.

Menurut Husein (2006: 15)

...ﺎﻫﺮﺻﺎﻨﻋﻭ

/…

wa limā kānat al-kitābatu mahāratun murakkabatun syadīdatu at

-ta’qīdi, taṣubbu fīhā jamī’u mahārāti al-lugati wa ‘anāṣiruhā... / …mengapa

kemampuan menulis (dikatakan) sebagai kemahiran yang sangat kompleks dan sangat sulit, tertumpu padanya semua unsur-unsur bahasa…

Sebagaimana digambarkan dalam gambar berikut:

ﻉﺎﻤﺘﺳﻹﺍ (al-istim

ā’)

(al-

kalām)

) ﺓءﺍﺮﻘﻟﺎﻣﻼﻜﻟﺍ

al-qirāah (

Menurut Rosyidi (2009: 62) ketiga kompetensi tersebut didukung oleh empat kemampuan bahasa, yaitu menyimak (Istima’), berbicara (Kalam), membaca (Qira’ah), dan menulis(Kitabah). Selanjutnya, keempat kemampuan bahasa tersebut akan teraplikasi pada mata kuliah Mengarang (Komposisi) yang memberi ruang pada mahasiswa untuk menuangkan hasil dari belajar menulis, membaca, mendengar, dan berbicara ke dalam sebuah karangan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang mengapresiasi dan mengaplikasikan bahasa Arab.Hal ini terbukti dengan adanya kebijakan Departemen Kemenntrian Agama yang menetapkan pembelajaran Bahasa Arab sebagai mata pelajaran wajib mulai tingkat madrasah ibtidaiyah sampai perguruan tinggi pada semua lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya.Bahkan di berbagai lembaga pendidikan khususnya pondok pesantren mewajibkan para santrinya menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari. Muradi (2015:7).

Ketika mempelajari bahasa Asing, sering kali para peserta didik mengalami kesalahan baik kesalahan itu secara lafaz ( pengucapan ) ataupun penulisan huruf. Secara linguistik lafaz atau ucapan itu berkaitan dengan fonologi dan tulisan berkaitan dengan bidang ilmu sintaksis, morfologi, wacana dan semantik.

Menurut Tarigan, 1988:67 para pakar Linguistik, dan pengajar bahasa sependapat bahwa kesalahan berbahasa itu mengganggu pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Bahkan ada pernyataan ekstrem mengenai kesalahan yang berbunyi “kesalahan berbahasa yang dibuat oleh siswa menandakan pengajaran bahasa tidak berhasil atau gagal”. Oleh karena itu, kesalahan yang sering dibuat oleh siswa harus dikurangi dan kalau dapat dihapuskan sama sekali. Hal ini baru dapat tercapai apabila seluk beluk kesalahan berbahasa itu dikaji secara mendalam. (1988: 67).

Pada Program Studi Sastra Arab Universitas Sumatera Utara, mata kuliah

Insya’(Komposisi) dipelajari pada semester III- VII. Mata kuliah ini sering

dianggap sebagai mata kuliah paling sulit bagi sebagian besar mahasiswa jurusan sastra Arab FIB USU stambuk 2014 yang baru saja memasuki mata kuliah Komposisi I. Hal ini diketahui berdasarkan wawancara awal penulis dengan mahasiswa tersebut.Mereka dituntut untuk mengerahkan semua keterampilan berbahasa Arab ketika akan menyampaikan suatu ide atau gagasannya untuk dituangkan ke dalam tulisan. Dalam hal ini mahasiswa mengalami kesalahan baik dalam menempatkan kata-kata, merangkai kata menjadi kalimat, dan membuat kalimat kedalam paragraph, dan penggunaan tanda baca. Dan ini disebabkan karena; kebanyakan mahasiswa takut akan kesalahan dalam menulis, kurangnya

mufradat( kosakata ) yang dikuasai, belum memahami tata bahasa ( nahwu dan sharaf ) secara baik, dan juga kurangya motivasi untuk belajar dengan

sungguh-sungguh.

Oleh karena itu dibutuhkan pengembangan kemampuan menulis bahasa Arab untuk menunjang penguasaan system pembelajaran bahasa Arab yang baik, yaitu pengetahuan tentang unsur-unsur bahasa Arab; mufradat atau kosa kata, dan tata bahasa ( nahwu dan sharaf ), pola kalimat, serta ungkapan bahasa Arab pada taraf pemilihan kata yang tepat sehingga mereka dapat menyampaikan ide-ide kedalam bahasa Arab dengan baik dan dapat dipahami dengan baik.

Insya’ Mahasiswa Bahasa Arab Tahun Ajaran 2014 FIB USU. Alasan peneliti

memilih mahasiswa tahun ajaran 2014 karena mereka sedang mengikuti mata kuliah Insya’, mereka dapat dikatakan sebagai tahapan pemula karena mereka mengikuti pelajaran ini pada tingkat II dan sebagian mahasiswa berasal dari sekolah umum yang belum pernah belajar bahasa Arab. Dan penelitian ini belum pernah diteliti sebelumnya khususnya oleh mahasiswa FIB Sastra Arab USU. Peneliti menganalisis kesalahan insya’ mahasiswa bahasa Arab pada tes dengan caradeskriptif kualitatif menggunakan teori Analisis Kesalahan Berbahasa. Sementara dalam menghitung nilai kesalahan mengarang Bahasa Arab peneliti menggunakan metode Djiwandono ( 2011).

Dokumen terkait