• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda

Dalam dokumen Gambaran Konflik Peran Pada Polisi Wanit (Halaman 34-40)

METODOLOGI PENELITIAN III.A METODE PENELITIAN

DESKRIPSI DATA DAN ANALISA

E. Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda

Wanita yang menjalani peran ganda terkadang harus berhadapan dengan konflik-konflik yang muncul ketika mereka memilih untuk tetap bekerja setelah menikah. Dalam menjalani peran ganda tersebut, wanita terkadang harus berhadapan dengan konflik-konflik antara tanggungjawabnya sebagai seorang pekerja, dan tanggungjawabnya sebagai seorang ibu dan istri. Berikut adalah factor yang mempengaruhi konflik peran ganda yang dialami wanita bekerja.

Dalam menjalani perannya sebagai polisi wanita, ibu dan istri, tak dipungkiri dirinya harus legowo jika waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dari pada bersama keluarganya. Perasaan sedih sering hinggap dihati responden ketika harus lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarganya. Terlebih responden dan suaminya memiliki profesi yang sama, alhasil sang buah hati pun sering dikesampingkan demi pekerjaan.

“Maklum ajalah, masih anak-anak mereka enggak ngerti kalau mamanya harus kerja. Kadang sedih juga, kalau jalan-jalan enggak pernah lengkap. Kadang papanya enggak ada, kadang si kakak karna les, kadang tante yang gak ada. Wah, dilemalah. Kalau bahasanya anak-anak jaman sekarang galau.”

(W1.R1.041213/b.40-46)

Berbagai macam kegiatan dan pekerjaan responden yang harus dikerjakannya sebaik mungkin, agar memberikan hasil yang maksimal dan sesuai dengan semboyan organisasinya, melayani masyarakat. Walaupun harus merelakan waktu bersama keluarganya demi pekerjaanya melayani masyarakat.

“Otomatis waktu dengan keluarga itu jadi berkurang kan. Anak terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya..,belum lagi kalau ada tugas diklat Ndah. Waduh itu palingberat,

terkadang sampai seminggu ninggalin anak atau lebih malah.” (W1.R1.041213/b.76-83)

Banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan serta tuntutan dari atasannya, membuat responden mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan tersebut terlebih dahulu, meskipun sudah lewat jam operasional kantor. Padahal pekerjaan tersebut dirasanya bisa dikerjakan keesokan hari agar tidak mengganggu waktunya berkumpul dengan keluarganya.

“Sekarang keberatan Ndah, karena sering ada aktifitas diluar jam kerja. Yang padahal bisa dikerjakan besoknya dan tidak mengganggu jam kerja.”

(W1.R1.041213/b.86-89) 2) Family Size and Support

Menjalani peran sebagai seorang istri, ibu dan wanita karir bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika keluarga memberikan dukungan yang minim. Beruntung bagi responden dirinya mendapat dukungan penuh dari sang suami tercintanya. Apalagi, responden dan suaminya berada dalam satu organisasi yang sama. Sehingga suaminya sudah mengetahui tugas, tanggungjawab serta resiko apa saja yang akan dihadapi oleh istri tercintanya.

“kalau Om, udah biasa, udah tau tuntutan kerja seperti apa. Mau complain juga susah. Nanti malah jadi berkelahi pula, ha ha ha. Kalau om yang complain tante diam aja. Biarin aja.”

(W1.R1.041213/b.26-30)

“Om sudah tau dari dulu tante ini bekerja, bedanya Cuma tugas polwan sekarang tidak seperti polwan yang dulu Nda. Lebih parah tuntutan yang sekarang, walaupun ya enggak semuanya lah.”

(W1.R1.041213/b.34-38) 3) Job Satisfaction

Beban kerja dan yang dirasa berlebihan serta kebijakan pimpinan yang dirasa terkadang tidak sesuai dengan keadaan lapangan, terkadang menimbulkan rasa lelah pada diri responden. Belum lagi pekerjaan yang dirasa responden semakin tidak jelas kemana arahnya.

“Karena reformasi Polri, jadi ya begini ini. Pekerjaan semua harus dikerjakan, tapi tidak jelas sistemnya seperti apa. Banyak juga yang bingung. Harusnya benahi dulu sistemnya. Ini carut marut.”

(W1.R1.041213/b.93-97)

Kebijakan pimpinan yang dirasa responden terkadang tidak sesuai membuat responden menjadi bingung ketika bekerja. Ditambah lagi ada oknum polisi wanita yang dirasanya tidak bekerja dengan maksimal dan hanya menebar pesona ketika bekerja.

“Struktur organisasi jelas banget Ndah. Tapi kerjaan itu yang enggak jelas. Maksud tante, smua itu sudah ada bagian masing-masing, tapi ya begitulah. Mungkin beda pimpinan beda kebijakan juga ya, jadinya rasa gimana”

(W1.R1.041213/b.101-105)

ada polwan yang kerjanya duduk-duduk aja, masih muda, kerja Cuma pamer tampang ya mbok itu yang diberdayakan. Kenapa yang tua-tua begini yang dikasih porsi kerja paling

besar.

(W1.R1.041213/b.107-111)

Sumber daya yang kurang diberdayakan dirasakan responden cukup membuatnya kesulitan ketika bekerja bersama dengan junior-juniornya. Meskipun sudah diberikan pendidikan bagi anggota polisi wanita tersebut, akan tetapi responden masih merasa hal tersebut belumlah cukup.

“Itu diatas kertas ya begitu Ndah. Kenyataannya dilapangan, yang muda muda itu belum bisa bekerja maksimal, kecuali mengeluh. Alhasil pimpinan berang terus yang tua-tua ini yang kena getahnya.”

(W1.R1.041213/b.116-120)

Rasa ketidakpuasan responden juga diutarakannya berhubungan dengan kebijakan pimpinan yang ia rasakan kurang bisa diterapkan untuk beberapa keadaan lapangan. Dirinya merasakan jika beberapa kebijakan sangat menyulitkan dirinya ketika terjun ke masyarakat serta

dirasakannya karena imbas dari kebijakan pimpinan yang kurang tepat tersebut berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangganya.

“Kadang-kadang suka kesal, bukan dengan siapa-siapa. Kadang pimpinan punya kebijakan sendiri mengenai pekerjaan, tapi yang tahu keadaan lapangan itu kan orang- orang yang turun ke lapangan langsung. Pimpinan kadang Cuma ngasih instruksi. Kesalnya disitu sih Nda.”

(W2.R1.111213/b.170-176)

“Pengaruh nda, seperti yang tante bilang tadi. Masalah Pekerjaan itu tadi, pimpinannya kebijakannya gimana lalu keadaan lapangan gimana. Kadang ada kejadian yang tidak bisa menggunakan metode persuasi Ndah.”

(W2.R1.111213/b.179-183)

Bukan hanya kebijakan pimpinan yang dirasanya menimbulkan ketidakpuasan dalam pekerjaan, rekan kerjanya yang tergolong baru juga dirasakan membuatnya sakit kepala saat bekerja. Menurutnya keminiman sumber daya yang berkualitaslah yang membuat responden merasa stress ketika sedang bekerja bersama dengan rekan-rekannya yang tergolong baru menjadi anggota polisi.

“Stress donk Nda, bagaimana kalau anggota itu respectnya enggak ada, lalu baru jadi polisi kemarin pagi sorenya udah petantang-petenteng. Disuruh ngerjain apa-apa enggak jelas.”

(W2.R1.111213/b.291-295) 4) Size of Firm

Banyaknya beban kerja yang emban responden membuat urusang rumah tangganya menjadi terbengkalai. Responden lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya daripada mengurusi buah hatinya. Dan hal tersebut membuat responden merasa gundah.

“..masih anak-anak mereka enggak ngerti kalau mamanya harus kerja. Kadang sedih juga, kalau jalan-jalan enggak pernah lengkap. Kadang papanya enggak ada, kadang si kakak karna les, kadang tante yang gak ada. Wah, dilemalah. Kalau bahasanya anak- anak jaman sekarang galau.”

(W1.R1.041213/b.40-46)

Jam kerja yang tidak menentu dan mengharuskan responden sigap untuk berhadapan dengan masyarakat luas membuat urusan rumah tangga dan anak-anaknya menjadi terbengkalai. Ditambah lagi pimpinan yang dirasanya kurang mengerti kondisi dirinya dan teman-temannya yang sudah menikah, menambah bebannya ketika bekerja dan mengurusi keluarganya.

“tapi pimpinan juga kan harus paham kondisi anggotanya. Apalagi polwan, sudah menikah dan punya anak. Otomatis waktu dengan keluarga itu jadi berkurang kan. Anak

terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya..belum lagi kalau ada tugas diklat Ndah. Waduh itu paling berat, terkadang sampai seminggu ninggalin anak atau lebih malah.”

(W1.R1.041213/b.73-83) F. Analisa

Wanita bekerja menghadapi situasi rumit yang menempatkan posisi mereka diantara kepentingan keluarga dan kebutuhan untuk bekerja. Begitu juga yang dialami responden, yang harus menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi wanita dan harus juga menjalani tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Hal tersebut senada dengan yang diutarakan oleh Frone, Russell&Cooper (1992) didefinisikan sebagai konflik peran yang terjadi pada karyawan, di mana di satu sisi ia harus melakukan pekerjaan di kantor dan di sisi lain harus memperhatikan keluarga secara utuh, sehingga sulit membedakan antara pekerjaan mengganggu keluarga dan keluarga mengganggu pekerjaan.

Konflik peran ganda juga memiliki sumber-sumber yang mampu membuat seseorang merasakan stress dan ketegangan ketika menjalani peran ganda mereka (Greenhaus dan Beutell, 1985). Responden pun merasakan hal yang sama, waktu yang dimilikinya lebih banyak dihabiskannya untuk memenuhi perannya sebagai anggota polisi dari pada perannya sebagai seorang ibu dan istri. Selain ini, memiliki dua peran yang harus dijalani secara bersamaan menimbulkan sehingga menimbulkan stress. Stress yang timbul disebabkan tekanan dari satu peran yang berlebihan sehingga menyebab peran yang lain menjadi terbengkalai.

Sumber konflik peran lainnya adalah kecemasan dan kelelahan, beban kerja yang berlebihan ditambah lagi perannya sebagai ibu dan istri yang harus mengurusi keperluan rumah tangga, tak pelak membuat responden merasa kelelahan. Menjalankan dua peran sekaligus bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, disebabkan kedua peran yang dijalaninya tersebut bertentangan satu sama lain. Satu perannya sebagai atasan di institusinya yang mewajibkan dirinya memiliki ketegasan, peran yang satu adalah sebagai ibu dan istri yang membutuhkan kesabaran dan kelemahlembutan.

Menurut Greenhause dan Beutell (dalam David, 2003) konflik peran ganda itu bersifat bi-directional dan multidimensi. Bi-directional terdiri dari work-family conflict dan family-work conflict. Dimana responden yang menjalani kedua peran, yaitu sebagai anggota polisi wanita serta sebagai ibu rumah tangga mengalami ketumpang tindihan dalam menjalani peran yang

dengan sebaik mungkin. Akan tetapi tuntutan tugas pekerjaannya yang terlalu berat mengharuskannya menyisihkan salah satu tugasnya, yaitu sebagai ibu rumah tangga.

Adanya factor-faktor yang mempengaruhi konflik peran ganda seseorang menurut Stoner et al. (1990), time pressure, family size and support, job satisfaction, marital and life satisfaction, size of firm. Tingginya beban kerja yang dimiliki responden, membuat waktunya berkurang bersama keluarganya dan lebih banyak menjalankan rutinitas kantornya.

Perannya sebagai ibu sedikit terbengkalai disebabkan tanggungjawabnya yang besar terhadap masyarakat. Meskipun demikian suaminya selalu mendukung responden menjalankan tugasnya dengan baik, meskipun kadang mendapat pertentangan dari buah hatinya. Sebagai seorang yang bekerja bersama kelompok dengan tanggung jawab yang besar terhadap masyarakat, responden sedikit kurang merasa puas apabila ada kebijakan pimpinan yang dirasanya kurang sesuai dengan keadaan yang dihadapi. Ketidakpuasannya juga mencakup rekan kerja yang dirasanya kurang cakap dalam bekerja.

Banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dengan segera oleh responden juga membuat responden mengalami kesulitan ketika juga harus mengurusi keperluan keluarganya. Tanggung jawab yang besar akan tugasnya sebagai polisi wanita membuat responden kadang mengabaikan kebutuhan anak-anaknya akan dirinya .

BAB V

Dalam dokumen Gambaran Konflik Peran Pada Polisi Wanit (Halaman 34-40)

Dokumen terkait