• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Konflik Peran Pada Polisi Wanit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gambaran Konflik Peran Pada Polisi Wanit"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN

Pada dasarnya fungsi kepolisian adalah menjaga aturan-aturan yang telah ditetapkan untuk tidak dilanggar oleh warga Negara yang ada di wilayahnya. Untuk dapat melaksanakan fungsi tersebut, dibentuk badan atau lembaga atau organisasi yang disebut kepolisian pada negara tersebut, atau Polri untuk wilayah Indonesia Dalam perkembangan paling akhir bidang kepolisian yang semakin modern dan global, Polri bukan hanya mengurusi keamanan dan ketertiban saja, melainkan banyak tugas berat yang harus ditanggung oleh Polri sebagai organisasi yang mandiri.

Kehadiran lembaga Kepolisian tidak dapat dipisahkan dari supra sistem yang melingkupinya yaitu masyarakat. Dari berbagai publikasi yang membahasa tentang Kepolisian dapat disimpulkan adanya keterkaitan peran Polisi dengan perkembangan masyarakat. Oleh karena itu, beban tugas dan peran Kepolisian senantiasa mengalami perubahan dari masa ke masa (Afriadi, 2010)

Sejak 1 April 1999, Polri resmi menjadi institusi mandiri dengan melepaskan diri dari tubuh TNI. Polri menjelma menjadi satu-satunya institusi yang mandiri, memberikan kesempatan kepada Polri untuk dapat memformat diri menjadi lembaga yang mengemban amanat mahabarat (http://www.pikiranrakyat.com/10/02/08). Hal ini dikuatkan dalam UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Polri, antara lain menetapkan kedudukan Polri sebagai alat negara yang melaksanakan kekuasaan Negara di bidang kepolisan preventif dan represif dalam rangka criminal justice

system, dengan tugas utama pemeliharaan keamanan negeri

(http://www.jelajahsemesta.blogspot.com/10/02/08)

(2)

Keberadaannya sendiri ditengah masyarakat sangatlah urgen dan krusial. Polisi dan masyarakat merupakan suatu simbiosa yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan, karena pola perekrutan polisi murni langsung dari masyarakat. Sehingga begitu eratnya keterkaitan tersebut, sangat banyak masyarakat yang menjadikan polisi sebagai sosok panutan dan idola. Namun di lain pihak, cukup banyak pula masyarakat yang memandang berbeda, dan dari sudut pandang yang berbeda pula terhadap polisi dan institusi kepolisian tersebut (Rahardi (ed.), 2007). Polisi adalah penjaga keamanan, ketertiban dan ketenteraman masyarakat. Bahkan di Indonesia, pada masa Kepolisian belum dilepaskan dan masih merupakan bagian dari Angkatan Bersenjata Indonesia, polisi tidak saja bertugas sebagai penjaga dan pelaksana Kamtibmas, tetapi juga melaksanakan doktrin dan kebijakan yang sudah melekat pada ketiga angkatan lainnya yang bersifat defensif, ofensif dan destruktif.

Satjipto Raharjo (dalam Rahardi, 2007) mengatakan bahwa polisi disamping sebagai pemelihara Kamtibmas juga sebagai aparat penegak hukum dalam proses peradilan pidana. Lebih jauh Raharjo menambahkan bahwasanya polisi adalah aparat penegak hukum jalanan yang langsung berhadapan dengan masyarakat dan penjahat. Polisi kadangkala harus berlumuran dengan darah korban kejahatan, pelaku tindak kejahatan, atau bahkan darah dirinya sendiri. Sudah tidak berbilang jumlah aparat polisi yang bermandi darah dan meregang nyawa, gugur dalam melaksanakan tugasnya, dan ini adalah salah satu resiko yang menjadi konsekuensi profesi yang idealnya adalah sebagai pengayom dan pelindung masyarakat dari segala gangguan dan ancaman yang ada.

Salah satu unsur Polri sebagai organisasi adalah sumber daya manusia, dan bahkan semakin lama unsur ini semakin menjadi unsur yang utama disamping unsur organisasi lainnya seperti material, sarana prasarana, anggaran, dan metoda kerja. Keutamaan sumber daya manusia, yaitu anggota Polri dalam organisasi Polri, menjadi sangat dominan mengingat hakekat tugas kepolisian yang melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat (Kunarto, 1997).

(3)

Indonesia. Hal ini menuntut public domain dari wanita yang semakin meluas, karena peran mereka diluar rumah semakin dibutuhkan.

Saat ini, jumlah wanita yang berambisi untuk mengembangkan karier semakin banyak. Hal ini juga didorong oleh semakin terbukanya kesempatan bagi wanita untuk mengenyam pendidikan yang tinggi dan untuk bekeja di berbagai bidang pekerjaan. Walaupun pada kenyataanya menunjukkan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin besar pula perbedaan kesempatan belajar antara pria dan wanita (Munandar, 2001), tetap saja ini merupakan suatu kemajuan yang berarti bagi kaum wanita. Kemajuan ini menyebabkan jumlah wanita yang berkualitas menjadi semakin meningkat, dan tidak jarang kualitas mereka mampu menyamai bahkan melebihi kualitas pria (Linandar, 2009).

“ya harus, dijaman kayak begini mah kita juga harus punya kerjaan. Karena tuntutan ekonomi, juga karena karna kita mau maju. Jadi istilahnya ada kepengen berdiri dikaki sendiri gitu, enggak selalu nopang sama orang lain. Lagian ide-ide cewek terkadang lebih cemerlang ketimbang ide lakiknya, heheh,..”

(Komunikasi personal, 4 November 2013)

Seiring dengan perkembangan jaman, wanita mulai bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilannya sendiri. Tidak sedikit wanita yang memasuki dunia pekerjaan yang sifatnya non-tradisional bagi wanita. Mereka ikut serta dalam program wirausaha yang membutuhkan keterampilan dan terlibat dalam pekerjaan seperti penambang batu bara, petugas polisi, supir truk, tukang las, tukang kayu, maupun pekerja baja. Di Indonesia, keterlibatan wanita ditunjukkan oleh data Jumlah wanita yang bekerja yang terdaftar pada tahun 2008 di Indonesia mencapai 1.200.241 jiwa (Statistik Indonesia, 2009). Hal ini menunjukka bahwa secara kuantitas, pekerja wanita merupakan faktor tenaga kerja yang sangat potensial. Adanya tuntutan untuk mendukung ekonomi rumah tangga menjadi salah satu alasan bagi wanita untuk bekerja (Anagora, 1998). Data lain memperlihatkan pada tahun 2007 dimana diketahui bahwa jumlah polisi di Indonesia sebanyak 360.381, dengan jumlah polisi wanita sebanyak 11.706 orang atau 3,25% (www.Polri.co.id)

(4)

Pada kenyataannya tidak sedikit wanita yang bekerja hanya pada pekerjaan yang bersifat feminine, tetapi banyak pula yang bekerja pada pekerjaan yang bersifat maskulin, seperti menjadi buruh bangunan, supir bus dan angkutan umum, serta banyak pula yang menjadi polisi atau biasa mayarakat umu menyebut dengan istilah polisi wanita atau Polwan.

Wanita Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi petugas polisi asalkan telah terpilih, lulus pendidikan kepolisian, diangkat dengan surat keputusanPresiden atau Kapolri menjadi anggota Polri dan berdinas aktif dalam penugasan kepolisian (www.Polri.co.id), yang kemudian dikenal dengan sebutan polisi wanita, dan selanjutkan akan disebut polwan. Secara umum, polwan memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama dengan polisi laki-laki seperti yang tercantum dalam UU Kepolisian No. 2 Tahun 2002 pasal 13, yaitu tugas pokok Polri adalah memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; menegakkan hukum; dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Tatanan kehidupan bermasyarakat tidak dapat berjalan normal tanpa keberadaan institusi kepolisian. Polisi merupakan garda terdepan penegakan hukum dalam suatu komunitas masyarakat. Tugas pokok dan fungsi Polri yang begitu erat dengan dunia pemberantasan kejahatan ini membuat seolah-olah polisi masuk menjadi ranah maskulin, profesi yang berat dan erat kaitannya dengan kekerasan dan tindakan penanganan lewat kekerasan. Dengan banyaknya interpretasi, padangan, pendapat serta ide yang mengungkapkan bahwa perempuan lebih lemah daripada laki-laki membuat profesi seolah-olah menutup dirinya dalam meneriman gender lain selain laki-laki (Rizal, 2010).

Fenomena keberadaan Polwan ini sudah sering menjadi wacana dalam berbagai situasi. Meskipun saat ini keberadaan Polwan di Indonesia sudah diakui, namun ternyata masih menghadapi banyak kendala dalam pelaksanaan tugasnya sehubungan dengan kodrat perempuannya yang melekat, apapun posisi dan profesinya. Stigmatisasi perempuan yang halus, lemah lembut dan senantiasa mengedepankan perasaan terkadang dianggap menjadi faktor yang mengurangi profesionalisme perempuan dalam tugas-tugas kepolisian-nya, meskipun dalam situasi lain tidak dapay dinafikan stigma tersebut justru diperlukan (Rizal, 2010).

(5)

tambahan personil. Namun pengumuman itu mengejutkan karena dari 400 taruna baru hanya 47 calon taruni yang lolos.

Kecilnya keterwakilan perempuan dalam sekolah dinas kepolisian tersebut dipicu oleh dua kemungkinan. Pertama, target penerimaan taruni (taruna putri) yang ditetapkan Polri memang hanya 10 persen. Angka 10 persen pun sebenarnya angka afirmasi untuk meningkatkan peran serta perempuan. Kedua, citra profesi polisi ternyata masih melekat dengan maskulinitas. Pekerjaan sebagai polisi dianggap lebih patut dijalankan oleh laki-laki. Mereka dianggap lebih cakap menjalankan tugas pengamanan karena memiliki karakter fisik dan psikis yang kuat. Apalagi karena tugas polisi dikenal dekat dengan bahaya (Surahmat, 2010).

Polwan merupakan bagian kekuatan pelaksanaan tugas dan fungsi Polri sebagai alat penegak hukum, pengayom dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat, membina dan mewujudkan kamtibmas, serta melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, sejatinya kini, peran polisi wanita pada institusi Polri haruslah sudah teroptimalkan dengan pemberian fungsi dan peran yang optimal pula. Semua menjadi harapan semua pihak. Betapa tidak, sampai kini, penghormatan terhadap petugas wanita tampak belum optimal, meski derajat “diskriminasi” tampak mulai berkurang. Sebagai aset yang potensial untuk ditugaskan dalam segala bidang garapan, peran Polwan masihlah dikesampingkan. Peran Polwan masih cenderung minim dan terbatas pada bidang-bidang tertentu. Paling-paling, yang diusungkan ke pundak mereka adalah tugas yang identik dengan dunia kewanitaan, seperti bidang pembinaan masyarakat, pendidikan dan latihan, serta tata usaha atau administrasi. Realitas serupa itulah yang menjadi bukti jika peran Polwan masih sebatas pendukung atau pelengkap petugas pria (Kompas, 2008).

(6)

menjadi garda terdepan bagi pemulihan dan perbaikan citra Polri di masa lalu, yang kurang baik. Bahkan disadari bahwa Polwan kemudian menjadi salah satu kunci bagi perbaikan citra Polri dan Reformasi Polri yang tengah berlangsung. Meski dalam praktik operasionalnya masih perlu ditingkatkan kembali. Tidak hanya sekedar menjadi pelengkap bagi kerja-kerja anggota Polri yang lain, tapi menjadi satu faktor penentu hitam putihnya pencitraan Polri di masa yang akan datang (Meliala, 2010).

Titik krusial bagi Polwan dalam mengawal reformasi Polri dan terus membangun citra positif bagi kinerja Polri ada pada seberapa efektif kinerja Polwan. Artinya perlu juga perluasan kerja dan tanggung jawab yang lebih dari sekedar menjadi terdepan dalam pembangunan citra Polri. Pentingnya perluasan wewenang dan tanggung jawab diberikan Polwan karena harus disadari bahwa Polri tidak lagi sekedar menampilkan satu kinerja profesionalisme, tapi juga performa yang menentramkan. Dan salah satunya terwakili dengan efektifitas kinerja Polwan di lapangan (Polri.co.id).

Peran Polwan dengan jumlahnya yang tidak sebanyak polisi pria, cenderung minim dan terbatas pada bidang-bidang tertentu; dalam tugas kepolisian selalu identik dengan dunia kewanitaan. Seperti halnya bidang pembinaan masyarakat (binmas), pendidikan dan latihan (diklat), tata usaha atau administrasi, lalu lintas urusan dalam dan juga peran bantuan sebagai negosiator saat ada unjuk rasa. Realitas semacam itu membuktikan bila peran Polwan masih sebatas sebagai pendukung atau pelengkap polisi yang pria. Padahal dalam jabaran teori tugas dan fungsi Polwan sebagai bagian integral dari Polri berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Polwan merupakan kekuatan pelaksanaan tugas dan fungsi Polri sebagai alat penegak hukum, pengayom dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat, membina dan mewujudkan kamtibmas, dan melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Issamsudin, 2002).

(7)

dalam memperbaiki citra Polri. Sebagai contoh, diakui atau tidak, tampilnya Polwan di lapangan sedikit banyak mampu meredam cibiran masyarakat terhadap Polri. Kesabaran, ketelatenan, dan ketidakkerasannya (meski bisa tetap bersikap tegas terhadap para pelanggar hukum), setidaknya telah memberi warna tersendiri dalam kehidupan Polri.

Sebut saja dalam suatu kegiatan unjuk rasa mahasiswa yang biasanya diwarnai “benturan” antara pengunjuk rasa dengan petugas keamanan dari Polri. Benturan bisa ditekan pemunculannya atau tidak sampai terjadi ketika para negosiator pihak Polri yang mengandalkan para Polwan, berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik. Demikian pula saat memerankan diri sebagai petugas bimbingan masyarakat melalui tindak penyuluhan. Ada perbedaan feed back audience dalam hal penyuluhnya Polwan dibandingkan polisi pria (Issamsuddin, 2008). Ini tidak lepas dari adanya perbedaan cara penyampaian, juga cap masyarakat terhadap Polri yang cenderung kurang baik dan Polri itu biasanya identik dengan polisi pria.

Dalam keseharian pun, jarang sekali ada oknum Polwan yang nakal terkuak ke permukaan kasusnya. Biasanya yang terkuak adalah ulah oknum polisi pria yang memang mendominasi kecurangan oknum anggota Polri. Di samping tidak banyak oknum Polwan yang nakal, masyarakat pun juga segan manakala harus bertindak curang dengan oknum Polwan. Karena itulah kebijakan untuk memunculkan Polwan dalam hal-hal tertentu untuk berhadap dengan masyarakat, adalah pas dan positif. Apalagi peran Polwan yang simpatik dan menarik telah dimunculkan, setidaknya hal itu mampu melahirkan suatu dorongan dan kesadaran untuk patuh dan taat pada hukum, yang tentunya juga mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Polri guna mewujudkan kamtibmas (Issamsuddin, 2008).

(8)

terhadap gender akan berdaya dan berhasil guna. Khususnya di lingkungan Kepolisian (Ismanuddin, 2008).

Menjadi seorang Polwan bukanlah tanpa masalah, pasalnya, sebagai profesi yang bernaung dibawah institusi Polri, mereka tidak hanya diharapkan berfungsi sebagai “matahari” dalam menegakkan hukum. Terkadang, mereka juga diharapkan menjadi semilir angin, bahkan menjadi gemericik air dalam bertugas. Bahkan, diharapkan mampu menjadi idola masyarakat di mana pun berada, baik di rumah dengan tetangga maupun saat berada di lapangan tugas. Apalagi saat ini polwan mendapat kesempatan yang luas untuk menduduki jabatan strategis, semacam Kapolsek, Kapolres bahkan Kapolda. Tentunya ketika jabatan strategis itu diusungkan ke pundak, semakin beratlah masalah yang kemudian harus dipecahkan. Seiring perjalanan waktu, ternyata ketika bertugas di lapangan, Polwan mendapat tempat di hati masyarakat (setiawan, 2008).

Tugas berat Polwan lainnya adalah, mereka terpaksa dihadapkan kepada dua hal yang sama penting dan beratnya, keberhasilan sebagai polisi dan kesuksesan membina rumah tangga. Pasalnya, kodrat Polwan sebagai seorang wanita adalah menjadi pendorong bagi suami serta ibu bagi anak-anaknya. Semangat untuk berprestasi dan kesuksesan untuk mencapai karier di kepolisian harus pula diikuti keberhasilan dalam membina kehidupan rumah tangga. Sebagai bagian integral Polri, mereka harus tetap mampu meningkatkan profesionalisme (Setiawan, 2008).

Pada polwan yang telah berkeluarga dapat dikatakan ia memiliki peran ganda, dimana selain berkewajiban mengurus rumah tangga, ia juga berperan sebagai anggota kepolisian. Frieze dkk (1972) menyebutkan bahwa wanita dengan peran ganda adalah mereka yang bekerja dan menjalankan perannya sebagai istri, ibu, ibu rumah tangga, dan pekerja.

Seorang Polwan memiliki peran baik didalam pekerjaan maupun didalam keluarganya, dimana tuntutan antara pekerjaan dan keluarga tidak selalu sejalan sehingga dapat menimbulkan konflik peran. Sesuai dengan kodratnya sebagai seorang ibu dan istri, perubahan demografi wanita yang berkarir menimbulkan sebuah konflik peran pada sebagian wanita yang bekerja. Pergeseran kodrat wanita dari seorang ibu rumah tangga dan seorang istri menjadi wanita bekerja menjadikan banyak keluarga dewasa ini mempunya konsep “dual career”.

(9)

yang hingga saat iini tidak bisa dihindari, yaitu tanggung jawab dalam mengatur rumah tangga dan membesarkan anak. Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal dari beban kerja yang berlebihan dan waktu, seperti; pekerjaan yang harus diselesaikan terburu-buru dan deadline. Tuntutan keluarga berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga dan menjaga anak ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi keluarga dan jumlah anggota keluarga yang memiliki ketergantungan terhadap anggota lain (Yang, Chen, Choi & Zou, 2000).

Konflik peran inilah yang mesti diperhatikan sebagai faktor pembentuk terjadi stres di tempat kerja, meskipun ada faktor di luar organisasi, seharusnya organisasi juga memperhatikan hal ini. Karena pengaruh konflik peran terhadap kinerja Polwan dalam organisasi Polri tersebut dan dapat berdampak pada pekerjaan yang dilakukannya. Konflik pekerjaan-keluarga mempunyai pengaruh yang dapat menurunkan kualitas kehidupan rumah tangga dan keluarga serta mengganggu aktifitas pekerjaan (Kinnunen dan Mauno, 2998).

Sebagian besar Polwan terutama yang telah menikah, sering kali terpaksa harus dihadapkan pada dilema atau konflik antara memilih karir sebagai salah satu tujuan hidup atau menjadi ibu rumah tangga yang baik yang selalu siap mengasuh dan melayani kebutuhan suami serta anak-anaknya (Wardhana, 1999). Sedangkan menurut Newman (dalam Wardhana 1999) penyebab konflik peran yang dominan adalah banyak waktu yang digunakan untuk bekerja dan kelelahan fisik serta emosional akibat pekerjaan. Konflik peran ini timbul karena adanya ketidakseimbangan antara pekerjaan dan tanggung jawab terhadap keluarga yang dapat menyebabkan timbulnya masalah (Cascio 1998).

Peran, dengan tuntutannya masing-masing, jika saling bertentangan atau tidak sesuai akan menimbulkan konflik peran (Shaw dan Costanzo, 1985) mendefinisikan konflik peran sebagai hasil dari ketidaksesuaian antara harapan-harapan yang diasosiasikan dengan beberapa posisi yang dimiliki seseorang (konflik antarperan) atau ketika terjadi ketidaksesuaian mengenai harapan yang diasosiasikan dengan satu posisi yang dimiliki oleh seseorang (konflik intraperan).

(10)

menghabiskan waktu di tempat kerja lebih banyak daripada di rumah. Parrewe dan Hichwart (Kinicki, 2008) mengungkapkan bahwa munculnya konflik peran disebabkan adanya benturan antara value similarity dan value congruence. Value similarity diartikan sebagai tingkat kesepakatan diantara anggota keluarga mengenai nilai-nilai yang ada dalam keluarga tersebut, sedangkan value congruence merupakan sejumlah nilai-niai yang disepakati antara karyawan dengan organisasi. Konflik peran tersebut yang akan mempengaruhi tingkat kepuasan hidup individu baik sebagai karyawan maupun sebagai anggota keluarga.

Dilema yang dialami Polwan dalam memprioritaskan tanggung jawabnya dapat mengarah pada konflik peran. Apabila Polwan tersebut memandang konflik peran sebagai suatu hal yang positif atau tantangan yang menyenangkan, maka Polwan tersebut akan beradaptasi dan mengatur waktu dan tenaga sedemikian rupa agar mampu menyelesaikan kedua tuntutan tersebut.

Selain hal tersebut, Polwan masih harus menghadapi tantangan lainnya, perbedaan fisik dan kondisi psikis pada laki-laki dan perempuan adalah kondisi alamiah yang membuat mereka tidak bisa disamakan. Apalagi karena fisik, menurut pemikir feminis Beauvoir dalam The Second Sex, perbedaan fisik tidak semestinya menjadi argumen melakukan dikotomi terhadap perempuan. Polwan di Indonesia lebih mudah dijumpai di kantor daripada di lapangan. Mereka bekerja sebagai staf kantor seolah-olah telah diseting sejak awal. Pos-pos yang mereka tempati juga pos ‘istimewa’, seperti administrasi surat-surat kendaraan, pembuatan SIM, atau uji kesehatan. Dikotomi terhadap peran Polwan juga dapat ditemukan dengan mengamati pejabat teras Polri. Jabatan-jabatan strategis, baik di Mabes maupun Polda, masih didominasi laki-laki. Selama 63 tahun Polri eksis jabatan strategis di lingkungan Polri diwariskan dari laki-laki satu ke laki-laki lain. Dalam catatan, hanya Brigjen (Pol) Rumiyah (kapolda Banten) perempuan yang pernah menjabat sebagai Kapolda (Ismanuddin, 2010).

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melihat mengenai konflik peran pada polisi wanita serta mengetahui faktor yang mempengaruhi konflik peran tersebut.

I.B. Rumusan Masalah

Melalui penjabaran di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran konflik peran ganda polisi wanita

(11)

I.C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untu mendapatkan bagaimana gambaran konflik peran pada anggota polisi wanita serta faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik peran tersebut.

I.D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis dalam memberikan perluasan teori dibidang psikologi yakni mengeni konflik peran pada wanita bekerja, yaitu anggota polisi wanita. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya sumber kepustakaan penelitian di bidang psikologi industri dan organisasi, sehingga hasil penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai bahan penunjang penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasi mengenai resiliensi remaja putri yang menjadi korban eksploitasi seksual komersil kepada peneliti-peneliti selanjutnya yang ingin meneliti mengenai resiliensi remaja putri.

b. Bagi Polri

Penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi Polri sebagai organisasi terutama berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut konflik peran yang dialami oleh anggota polisi wanita sehingga tidak menurunkan performansi kerja mereka.

c. Bagi Polwan

Dapat menjadi masukan dan informasi yang berkaitan konflik peran ganda yang dialami sehingga dapat digunakan sebagai acuan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.

d. Bagi Anggota Keluarga Lainnya

Dapat menjadi masukan bahwa konflik peran berpengaruh terhadap kinerja, sehingga keluarga dapat memberikan dukungan agar tidak menimbulkan stres dalam pekerjaanya.

I.E. Sistematika Penulisan

(12)

BAB I : Pendahuluan

Pendahuluan berisi mengenai latar belakang permasalahan, perumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : Landasan Teori

Landasan teori berisi teori yang digunakan sebagai landasan penelitian.

BAB III : Metodologi Penelitian

Pada bab ini dijelaskan alasan digunakannya pendekatan kualitatif, responden penelitian, teknik pengambilan responden, teknik pengumpulan data, alat bantu pengumpulan data serta prosedur penelitian.

BAB IV : DESKRIPSI DATA DAN ANALISA

Deskripsi data dan analisa berisi pendeskripsian data, dan analisa data yang diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan dan pembahasan data-data penelitian sesuai dengan teori yang relevan.

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan dan saran yang menjelaskan kesimpulan dari penelitian, diskusi mengenai hasil penelitian yang ada serta saram-saran yang dianjurkan

(13)

BAB II

LANDASAN TEORI II.A. POLRI

II.A.1. Pengertian Kepolisian

Kepolisian berasal dari istilah polisi yang beragam penyebutannya di setiap negara. Istilah polisi pertama kali berasal dari Yunani yakni politeia dari tokoh Plato yang berlatar belakang pemikiran bahwa suatu negara yang ideal sekali sesuai dengan citacitanya, suatu negara yang bebas dari pemimpin negara yang rakus dan jahat, tempat keadilan dijunjung tinggi (Azhari, 1995). Kemudian dengan banyaknya negara di wilayah Eropa yang didasarkan pada pemerintahan raja absolut, berkembanglah ide negara polisi (polizeistaat). Negara polisi mengenal dua konsep polisi di dalamnya yakni polisi sebagai penjaga tata tertib dan keamanan, dan polisi sebagai penyelenggara perekonomian atau semua kebutuhan hidup bagi warga negaranya (Azhari, 1995).

Kepolisian di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna sebagai hal yang bertalian dengan polisi. Pengertian polisi itu sendiri adalah badan pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum (menangkap orang melanggar undang-undang dan sebagainya), serta diartikan sebagai anggota badan pemerintah (pegawai negara yang bertugas menjaga keamanan dan sebagainya) (KBBI, 2008). Selanjutnya Momo Kelana (1972)mengatakan bahwa istilah polisi memiliki dua arti. Pertama, polisi dalam arti formal yang mencakup organisasi dan kedudukan suatu instansi kepolisian. Kedua, polisi dalam arti material yang memberikan jawaban-jawaban terhadap persoalan tugas dan wewenang dalam menghadapi gangguan ketertiban dan keamanan berdasarkan peraturanperundang-undangan.

(14)

satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Kepolisian merupakan sebuah organisasi yang berfungsi sebagai penjaga keamanan, ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayom, dan pelayan masyarakat.

II.A.2. Fungsi Kepolisian

Fungsi polisi secara umum adalah untuk menjalankan kontrol social masyarakat yang bersifat preventif dan represif, dalam bahasa Perancis dikenal dengan istilah la police administration. Fungsi preventif yang dilaksanakan dalam rangka memberi perlindungan, pengayoman, pelayanan pada masyarakat dan fungsi represif yaitu sebagai penegak hukum (Rahardjo, 2007)

Selanjutnya fungsi POLRI di dalam Pasal 2 UU Kepolisian adalah salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Kemudian ditegaskan pula dalam Pasal 4 UU Kepolisian bahwa POLRI bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggaranya perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Selain itu, POLRI berdasarkan Pasal 5 ayat (1) UU Kepolisian merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri. Singkatnya, POLRI memiliki dua fungsi yakni fungsi preventif yang dilaksanakan dalam rangka memberi perlindungan, pengayoman, pelayanan pada masyarakat dan fungsi represif yaitu sebagai penegak hukum (Sadjijono, 2008)

(15)

1. Daerah hukum tingkat pusat yang disebut dengan Markas Besar POLRI (Mabes POLRI). Wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Kapolri yang bertanggung jawab kepada Presiden.

2. Daerah hukum tingkat provinsi yang disebut dengan Kepolisian Daerah (POLDA) yang dipimpin oleh seorang Kapolda yang bertanggung jawab kepada Kapolri.

3. Daerah hukum tingkat kabupaten/ kota yang disebut dengan Kepolisian Resort (POLRES) yang dipimpin oleh seorang Kapolres yang bertanggungjawab kepada Kapolda.

4. Daerah hukum tingkat kecamatan yang disebut Kepolisian Sektor (POLSEK) yang dipimpin oleh seorang Kapolsek yang bertanggungjawab kepada Kapolres.

5. Daerah hukum tingkat desa atau kelurahan yang disebut Pos Polisi yang dipimpin oleh seorang Brigadir Polisi atau sesuai kebutuhan menurut situasi dan kondisi daerahnya.

II.A.3. Polisi Wanita

Rintisan pembentukan tenaga polisi wanita timbul setelah dirasa perlu petugas wanita dalam mengangani wanita dan anak-anak. Pendidikan bagi polisi wanita pada awalnya dimulai pada tanggal 1 September 1948 yang kemudian ditetapkan sebagai hari ulang tahun polisi wanita. Seiring dengan berjalannya waktu, tugas polisi wanita terus berkembang sehingga tugas tersebut tidak lagi dapat dipisahkan dengan tugas poliss lainya yaitu sama-sama menjadi aparat Negara yang menjalankan tugas sebagai pelindung, pengayom dan penegak hukum dalam masyarakat.

Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. Kep/09/x/1998 bahwa pembinaan polisi wanita dilaksanakan oleh bagian Polwan yang bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Direktorat Persoel. Pada aspek pembinaan personel yang menggunakan prinsip bahwa setiap polisi wanita memiliki kesempatan yang sama dengan polisi pria baik yang menyangkut kesempatan tugas maupun dalam memenuhi hak serta kewajibannya, namun bagi polisi wanita tetap diperhatikan sifat kodratinya wanita serta dihargai harkat dan martabatnya seperti polisi wanita yang sudah menikah sedapat mungkin ditempatkan sedaerah dengan suaminya. Selain itu polisi wanita mendapatkan tunjangan khusus seperti baju hamil, keperluan kosmetik (diterima dalam bentuk uang), tas juga sepatu.

(16)

Denma, Lemdik dan ada pula penempatan di luar Polri seperti di DPR/MPR, Sekolah Taruna Nusantara, dan PT KAI (www.Polri.co.id).

II.A.4. Tugas dan Fungsi Polwan

Seolah menafikan dan tak mengakui keniscayaan akan keterlibatan perempuan dalam profesi polisi, ternyata perempuan sudah berkiprah dalam dunia kepolisian sebagai polisi wanita di Indonesia selama lebih dari 61 tahun. Meski dalam kenyataannya tugas mereka baru sebatas pada bidang administratif, tetapi keberadaan mereka yang sudah enam dasawarsa tidak bisa dikesampingkan. Sifat khas dari seorang perempuan membuat Polwan dibutuhkan dalam penanganan kasus-kasus tertentu. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), misalnya, korban terbesar adalah perempuan. Untuk menghindari trauma terhadap laki-laki, maka korban KDRT memerlukan pendamping selama pemeriksaan penyidikan. Polwan adalah pilihan tepat guna memperoleh keterangan-keterangan dalam proses penyidikan maupun pemulihan kondisi psikologis korban (Rizal, 2010).

(17)

II.B. KONFLIK PERAN GANDA II.B.1. Pengertian Konflik Peran Ganda

Irwanto (1990) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan konflik adalah beberapa kebutuhan yang muncul secara bersamaan. Setiap manusia memiliki bebrapa kebutuhan yang muncul secara bersamaan, maka konflik dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu konflik atau pertentangan dalam sekelompok orang atau masyarakat. Greenhaus dan Beutell (1985) mendefinisikan konflik peran ganda sebagai suatu bentuk konflik antar peran dimana tekanan-tekanan dari pekerjaan dan keluarga saling tidak cocok satu sama lain. Seseorang akan menghabiskan waktu yang lebih untuk digunakan dalam memenuhi peran yang penting bagi mereka, oleh karena itu mereka bisa kekurangan waktu untuk peran yang lainnya. Hal ini bisa meningkatkan kesempatan seseorang untuk mengalami konflik peran.

Robbin (2001) menyatakan konflik adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk mengimbangi usaha-usaha orang lain dengan cara merintangi yang menyebabkan frustrasi dalam mencapai tujuan atau meningkatkan keinginannya. Konflik juga dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan yang di dalamnya terdapat ketidak cocokan maksud antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, berpacu menuju tujuan dengan cara yang tidak atau kelihataanya kurang sejalan sehingga yang satu berhasil sementara yang lainnya tidak.

Frone, Russell&Cooper (1992) mendefinisikan konflik pekerjaan keluarga sebagai konflik peran yang terjadi pada karyawan, di mana di satu sisi ia harus melakukan pekerjaan di kantor dan di sisi lain harus memperhatikan keluarga secara utuh, sehingga sulit membedakan antara pekerjaan mengganggu keluarga dan keluarga mengganggu pekerjaan. Pekerjaan mengganggu keluarga, artinya sebagian besar waktu dan perhatian dicurahkan untuk melakukan pekerjaan sehingga kurang mempunyai waktu untuk keluarga. Sebaliknya, keluarga mengganggu pekerjaan berarti sebagian besar waktu dan perhatiannya digunakan untuk menyelesaikan urusan keluarga sehingga mengganggu pekerjaan. Konflik pekerjaan-keluarga ini terjadi ketika kehidupan rumah seseorang berbenturan dengan tanggungjawabnya di tempat kerja, seperti masuk kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas harian, atau kerja lembur. Demikian juga tuntutan kehidupan rumah yang menghalangi seseorang untuk meluangkan waktu untuk pekerjaannya atau kegiatan yang berkenaan dengan kariernya.

(18)

perempuan ideal adalah superwoman dan supermom yang sebaiknya memiliki kapasitas yang dapat mengisi bidang domestic dengan sempurna dengan bidang public tanpa cacat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa wanita yang mengalami konflik peran ganda adalah adanya dua peran sekaligus yang harus dijalankan oleh wanita tersebut, yaitu sebagai istri, ibu dan sebagai wanita yang bekerja.

II.B.2. Sumber-Sumber Konflik Peran Ganda

Greenhaus dan Beutell (1985) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami konflik peran ganda akan merasakan ketegangan dalam bekerja. Konflik peran ini bersifat psikologis, gejala yang terlihat pada individu yang mengalami konflik peran ini adalah frustrasi, rasa bersalah, kegelisahan, keletihan. Faktor-faktor penyebab konflik peran ganda, diantaranya:

1) Menghabiskan terlalu banyak waktu untuk pekerjaan.

2) Stres yang diakibatkan salah satu peran dan berdampak pada peran lainnya. 3) Kecemasan dan kelelahan

4) Perilaku yang efektif untuk salah satu peran namun tidak efektif untuk peran lainnya. (Greenhaus dan Beutell, 1985).

Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal dari beban kerja yang berlebihan dan waktu, seperti; pekerjaan yang harus diselesaikan terburu-buru dan deadline. Sedangkan tuntutan keluarga berhubungan dengan waktu yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga dan menjaga anak. Tuntutan keluarga ini ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi keluarga dan jumlah anggota keluarga yang memiliki ketergantungan terhadap anggota lain (Yang,Chen, Choi, & Zou,2000). Faktor pemicu munculnya konflik peran ganda (work-family conflict) dapat bersumber dari domain tempat kerja dan keluarga. Tekanan-tekanan tersebut berhubungan positif dengan konflik pekerjaan-keluarga. Menurut Frone et.al. (1992), tekanan pekerjaan meliputi beban pekerjaan, kurang diberi otonomi dan kerancuan peran. Sedangkan tekanan dari domain keluarga menggambarkan individu yang berperan sebagai orang tua dan pasangan suami isteri (Parasuraman et.al, 1992). Kedua peran tersebut mengarah pada kualitas peran masing-masing yaitu hubungan antara orangtua – anak dan hubungan suami – isteri.

(19)

(1995) konflik peran merupakan perbedaan persepsi terhadap suatu peran yang disebabkan sulitnya untuk mengungkapkan harapan-harapan tertentu tanpa memisahkan harapan yang lain.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan konflik peran ganda (Work-Family Conflict) adalah suatu kondisi di mana terjadi pertentangan pada seorang individu yang diharuskan memilih dua peran atau lebih secara bersamaan.

II.B.3. Dimensi-Dimensi Konflik Peran Ganda

Menurut Greenhause dan Beutell (dalam David, 2003) konflik peran ganda itu bersifat bi-directional dan multidimensi. Bi-directional terdiri dari :

1) Work-family conflict

Konflik yang muncul dikarenakan tanggung jawab pekerjaan yang mengganggu tanggung jawab terhadap keluarga. Netemeyer et el. (dalam Hennessy, 2005) mendeskripsikan work-family conflict sebagai suatu bentuk konflik antar peran dimana secara umum permintaan, waktu dan ketegangan yang diakibatkan oleh pekerjaan mengganggu tanggung jawab terhadap keluarga. Jadi dapat disimpulkan work-family conflict sebagai konflik yang muncul dikarenakan tanggung jawab pekerjaan yang mengganggu tanggung jawab keluarga dimana secara umum permintaan waktu dan ketegangan yang diakibatkan oleh pekerjaan yang mengganggu tanggung jawab keluarga. 2) Family-work conflict

Konflik yang muncul dikarenakan tanggung jawab terhadap keluarga mengganggu tanggung jawab terhadap pekerjaan. Netemeyer et el. (dalam Hennessy, 2005) mendeskripsikan family-work conflict sebagai suatu bentuk konflik antar peran dimana secara umum permintaan, waktu dan ketegangan dalam keluarga mengganggu tanggung jawab pekerjaan. Jadi dapat disimpulkan family-work conflict adalah konflik yang muncul dikarenakan tanggung jawab terhadap keluarga mengganggu tanggung jawab terhadap pekerjaan dimana secara umum permintaan, waktu dan ketegangan dalam keluarga mengganggu tanggung jawab pekerjaan.

(20)

II.B.4.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda

Stoner et al. (1990) menyatakan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi konflik peran ganda, yaitu:

1) Time pressure, semakin banyak waktu yang digunakan untuk bekerja maka semakin sedikit waktu untuk keluarga

2) Family size dan support, semakin banyak anggota keluarga maka semakin banyak konflik, dan semakin banyak dukungan keluarga maka semakin sedikit konflik.

3) Job satisfaction, semakin tinggi kepuasan kerja maka konflik yang dirasakan semakin sedikit.

4) Marital and life satisfaction, ada asumsi bahwa wanita bekerja memiliki konsekuensi yang negatif terhadap pernikahannya.

5) Size of firm, yaitu banyaknya pekerja dalam perusahaan mungkin saja mempengaruhi konflik peran ganda seseorang.

II.C.Konflik Peran Ganda Polisi Wanita

Polisi wanita adalah seseorang yang pekerjaannya memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Profesi sebagai polisi wanita yang termasuk dalam elemen Kepolisian Republik Indonesia atau POLRI bertugas sebagai aparat penegak hukum, pelindung dan pengayom masyarakat. Kemampuan kerja yang baik sebagai pelayan masyarakat, dilandasi oleh kedisiplinan tinggi dan jiwa kejuangan merupakan kebijakan dan keinginan institusi Polri untuk memberikan pelayanan terbaik terhadap seluruh masyarakat. Jadi dengan demikian polisi wanita mempunyai tugas ganda yaitu di satu sisi sebagai polisi dengan segala tugasnya dan di sisi lain sebagai wanita. Sebagai wanita, polisi wanita tetap dituntut melaksanakan konsep peran tradisional mereka yang menurut Ancok (1995) seorang wanita mempunyai tugas harus melayani keperluan suami dan anak-anaknya, mengasuh anak menurut pola yang dibenarkan masyarakat dan mengatur segala urusan rumah demi terselenggaranya tata laksana rumah tangga yann baik.

(21)
(22)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

III.A. METODE PENELITIAN

Dalam melaksanakan suatu studi atau penelitian, para peneliti memakai beberapa pendekatan yang mempermudah proses penelitian dan menghasilkan tujuan yang ingin di capai dari penelitian tersebut. Salah satu pendekatang yang sering digunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan ini umumnya dikenal sebagai pendekatan yang mengukur suatu gejala secara fenomenologis.

Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang sering dipakai dalam bidang studi atau penelitian tentang manusia dan berbagai bentuk tingkah lakunya. Pendekatan ini digunakan karena banyak perilaku manusia yang sulit dikuantifikasikan, apalagi penghayatan terhadap berbagai pengalaman pribadi (Poerwandari, 2007). Menurut Bogdan & Taylor (dalam Poerwandari, 2007). Pendekatan kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dan tidak dinilai benar-salah atau iya-tidak. Penelitian ini lebih mementingkan segi proses daripada hasil.

Penelitian mengenai konflik peran ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Alasan menggunakan pendekatan kualitatif karena pendekatan ini dapat memahami gejala tingkah laku yang nyata dan emosi manusia menurut penghayatan individu, dengan kata lain melalui sudut pandang subjek penelitian. Dengan pendekatan kualitatif, peneliti dapat menggali lebih dalam bagaimana konflik peran yang dialami oleh anggota Polisi wanita yang bertugas di Polresta X. Jenis pendekatan kualitatif yang digunakan adalah kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai konflik peran pada polisi wanita yang bertugas di Polresta X.

III.B. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

(23)

Penelitian ini menggunakan pedoman wawancara yang di buat berdasarkan pada sumber dan factor konflik peran yang ingin di ketahui. Pedoman wawancara tersebut terlebih dahulu telah di standarisari oleh profesional judgment. Kegunaan pedoman wawancara tersebut adalah untuk mengingatkan peneliti mengenai hal-hal yang harus dibahas, sekaligus menjadi daftar pengecek (checklist) apakah sumber serta faktor tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Pada saat proses wawancara juga akan disertai dengan proses observasi terhadap perilaku responden penelitian (Poerwandari, 2007). Tujuan dilakukannya observasi adalah sebagai crosscheck terhadap hal-hal yang diungkapkan oleh subjek penelitian secara verbal.

III.C. RESPONDEN PENELITIAN

III.C.1. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Sesuai dengan tujuan penelitian ini, karakteristik responden penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah wanita yang berprofesi sebagai polisi wanita, dengan karakteristik sebagai berikut :

- Bertugas di Polresta X

- Menduduki posisi strategis di organisasi Polri

- Masa kerja minimal 5 tahun dan sudah menikah serta mempunyai anak III.C.2. JUMLAH RESPONDEN

(24)

Dan dengan jumlah responden tersebut, diharapkan akan dapat memberikan deskripsi tentang konflik peran yang dialami wanita yang berprofesi sebagai polisi wanita.

III.C.3. PROSEDUR PENGAMBILAN RESPONDEN

Prosedur pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah pengambilan sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik snowball-sampling. Dimana peneliti akan meminta rujukan kepada responden sebelumnya mengenai responden kedua yang memiliki karakteristik yang sama dengan responden pertama.

III.C.4. LOKASI PENELITIAN

Lokasi pengambilan data dilakukan di daerah Medan, dengan alasan fenomena yang sedang diteliti berada di daerah tersebut.

III.D. ALAT BANTU PENGUMPULAN DATA

Menurut Poerwandari (2007) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian.Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat Bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua alat bantu, yaitu :

1. Pedoman wawancara

Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian.Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

2. Alat Perekam

Alat perekam berguna sebagai alat bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tanpa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.

3. Lembar Observasi

(25)

III.E. PROSEDUR PENELITIAN III.E.1. TAHAP PERSIAPAN

Pada tahap persiapan penelitian, peneliti menggunakan sejumlah hal yang diperlukan untuk melaksanakan penelitian (Moleong, 2006), sebagai berikut :

- Mengumpulkan data

- Menyusun pedoman wawancara - Persiapan untuk mengumpulkan data

- Membangun rapport dan menyusun jadwal wawancara

III.E.2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap persiapan penelitian dilakukan, peneliti memasuki beberapa tahap pelaksanaan penelitian, antara lain:

- Mengkonfirmasi ulang waktu dan tempat wawancara - Melakukan wawancara berdasarkan pedoman wawancara

- Memindahkan rekaman hasil wawancara ke dalam bentuk transkrip verbatim - Melakukan analisa data

- Menarik kesimpulan, membuat diskusi dan saran

III.E.3. Tahap Pencatatan Data

Untuk memudahkan pencatatan data, peneliti menggunakan alat perekam sebagai alat bantu agar data yang diperoleh dapat lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebelum wawancara dimulai, peneliti meminta izin kepada responden untuk merekam wawancara yang akan dilakukan dengan tape recorder. Dari hasil rekaman ini kemudian akan ditranskripsikan secara verbatim untuk dianalisa. Transkrip adalah salinan hasil wawancara dalam pita suara yang dipindahkan ke dalam bentuk ketikan di atas kertas.

III.F. PROSEDUR ANALISA DATA

Beberapa tahapan dalam menganalisis data kualitatif menurut Poerwandari (2007), yaitu: 1. Koding

(26)

prosedur yang tidak sepenuhnya. Pada akhirnya, penelitilah yang berhak (dan bertanggung jawab) memilih cara koding yang dianggapnya paling efektif bagi data yang diperolehnya (Poerwandari, 2007).

2. Organisasi Data

Highlen dan Finley (dalam Poerwandari, 2007) menyatakan bahwa organisasi data yang sistematis memungkinkan peneliti untuk :

- Memperoleh data yang baik

- Mendokumentasikan analisis yang dilakukan

- Menyimpan data dan analisis yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian

Hal-hal yang penting untuk disimpan dan diorganisasikan adalah data mentah (catatan lapangan dan kaset hasil rekaman), data yang sudah diproses sebagiannya (transkrip wawancara), data yang sudah ditandai/dibubuhi kode-kode khusus dan dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis.

3. Analisis Tematik

Penggunaan analisis tematik memungkinkan peneliti menemukan “pola” yang pihak lain tidak bisa melihatnya secara jelas. Pola atau tema tersebut tampil seolah secara acak dalam tumpukan informasi yang tersedia. Analisis tematik merupakan proses mengkode informasi, yang dapat menghasilkan daftar tema, model tema, atau indikator yang kompleks, kualifikasi yang biasanya terkait dengan tema itu atau hal-hal di antara gabungan dari yang telah disebutkan. Tema tersebut secara minimal dapat mendeskripsikan fenomena dan secara maksimal memungkinkan interpretasi fenomena. Peneliti menggunakan analisis tematik berdasarkan konflik peran yang diutarakan di bab II.

4. Tahapan Interpretasi

(27)

terjadi bila peneliti berpijak lebih jauh dari pemahaman diri responden penelitiannya. Ketiga, konteks interpretasi pemahaman teoritis. Konteks pemahaman teoritis adalah konteks yang paling konseptual. Pada tingkat ketiga ini, kerangka teoritis tertentu digunakan untuk memahami pernyataan-pernyataan yang ada, sehingga dapat mengatasi konteks pemahaman diri responden ataupun penalaran umum. Dalam penelitian ini, tahapan interpretasi menggunakan konteks ketiga yakni interpretasi pemahaman teoritis. Peneliti akan menginterpretasi data-data berdasarkan teori-teori di bab II.

5. Pengujian Terhadap Dugaan

Dugaan adalah kesimpulan sementara. Dalam penelitian kualitatif dugaan muncul setelah data-data wawancara dikumpulkan. Dengan mempelajari data, kita mengembangkan dugaan-dugaan yang juga merupakan kesimpulan-kesimpulan sementara. Dugaan yang dikembangkan tersebut juga harus dipertajam dan diuji ketepatannya dengan mencari data yang memberikan gambaran berbeda dari dugaan yang muncul tersebut. Hal ini berkaitan erat dengan upaya mencari penjelasan yang berbeda-beda mengenai data yang sama.

III.G. KREDIBILITAS PENELITIAN

Kredibilitas merupakan istilah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk menggantikan konsep validitas (Poerwandari, 2007). Deskripsi mendalam yang menjelaskan kemajemukan (kompleksitas) aspek-aspek yang terkait (dalam bahasa kuantitatif: variabel) dan merupakan interaksi berbagai aspek menjadi salah satu ukuran kredibilitas penelitian kualitatif. Menurut Poerwandari (2007), kredibilitas penelitian kualitatif juga terletak pada keberhasilan mencapai maksud mengeksplorasi masalah dan mendeskripsikan setting, proses, kelompok sosial, atau pola interaksi yang kompleks. Adapun upaya peneliti dalam menjaga kredibilitas dan objektifitas penelitian ini, yaitu dengan:

1. Melakukan pemilihan sampel yang sesuai dengan karakteristik penelitian, dalam hal ini adalah wanita yang berprofesi sebagai polisi wanita.

(28)

3. Membuat pedoman wawncara berdasarkan sumber dan faktor resiliensi. Kemudian melakukan standarisasi pedoman wawanncara dengan professional judgement. Pada penelitian ini, professional judgment adalah dosen pembimbing penelitian ini.

4. Menggunakan pertanyaan terbuka dan wawancara mendalam untuk mendapatkan data yang akurat.

5. Selama wawancara, peneliti menanyakan kembali beberapa pertanyaan yang dirasa butuh penjelasan yang lebih dalam lagi pada wawancara berikutnya untuk memastikan keakuratan data responden.

6. Memperpanjang keikutsertaan peneliti dalam pengumpulan data di lapangan. Hal ini memungkinkan peneliti mendapatkan informasi yang lebih banyak tentang responden penelitian.

7. Melibatkan teman sejawat, dosen pembimbing, dan dosen yang ahli dalam bidang kualitatif untuk berdiskusi, memberikan masukan dan kritik mulai awal kegiatan proses penelitian sampai tersusunnya hasil penelitian. Hal ini dilakukan mengingat keterbatasan kemampuan peneliti pada kompleksitas fenomena yang diteliti.

(29)

BAB IV

DESKRIPSI DATA DAN ANALISA

Pada bab ini akan diuraikan hasil analisa wawancara dalam bentuk narasi. Untuk mempermudah pembaca maka data akan dijabarkan, dianalisa, dan diinterpretasi per-responden. Interpretasi akan dijabarkan dengan menggunakan aspek-aspek yang terdapat dalam pedoman wawancara.

Kutipan dalam setiap bagian analisa akan diberikan kode-kode tertentu untuk mempermudah diperolehnya pembahasan yang jelas dan utuh. Contoh kode yang digunakan adalah R.1/W.1/b.88-89/h.2, maksud kode ini adalah kutipan pada responden 1, wawancara 1, baris 88 sampai 89, verbatim halaman 2.

Berikut dilampirkan tempat dan waktu wawancara kedua responden pada penelitian ini : N

(30)

Pengambilan data pertama dilakukan pada tanggal 4 Desember 2012 diruangan kerja responden. Pada saat peneliti memasuki ruangan kerja responden, terlihat ruangan kerja tersebut tertata dengan apik. Terlihat responden sedang duduk dimeja kerjanya dan sedang memeriksa beberapa dokumen yang ada dihadapannya. Responden mempersilakan peneliti duduk di sofa ruang kerjanya yang berwarna coklat manis tersebut sembari berpindah tempat dan duduk disamping peneliti. Pengambilan data kedua yaitu tanggal 11 Desember 2013 tidak jauh berbeda dengan proses pengambilan data pertama. Hanya saja pada saat itu peneliti harus menunggu sebentar disebabkan responden sedang melaksanakan rapat untuk membahas gelar Ops Lilin Toba 2013.

Peran ganda yang dialami responden membuat responden kesulitan membagi waktu antara memenuhi perannya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya serta perannya sebagai salah satu pimpinan dari institusi kepolisian. Tuntutan anak-anak yang selalu meminta responden memenuhi perannya sebagai ibu dan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan responden siap sedia selama 24 jam jika ada sesuatu kondisi urgent yang memintanya untuk turun ke lapangan. Factor-faktor seperti size family, family size, job satisfaction, marital and life satisfaction, size of firm dapat menjadi sumber konflik peran ganda bagi responden.

C. Deskripsi Sumber Konflik Peran Ganda

Ibu rumah tangga yang memiliki pekerjaan diluar rumah tentu akan merasakan yang namanya konflik peran ganda. Antara menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga serta melayani suami dan perannya sebagai karyawan ditempat kerjanya. Tak jarang kedua peran tersebut menjadi sumber konflik bagi wanita yang bekerja dan juga sebagai ibu rumah tangga. Seperti responden dalam penelitian ini, selain menjalankan peran sebagai ibu dan istri dirumahnya, ia juga harus berperan sebagai atasan dikantor tempat dirinya bekerja. Waktu yang tersita karena pekerjaan, stress yang dialami karena kedua peran, ketegangan yang ditimbulkan salah satu peran serta perilaku yang kurang afektif bagi salah satu peran yang dijalani merupakan sumber konflik peran ganda yang terjadi.

1. Menghabiskan Terlalu Banyak Waktu Untuk Pekerjaan

(31)

terlalu memotong jam berkumpulnya bersama keluarga, namun harus tetap dilakukan demi mengemban tugasnya sebagai seorang atasan.

“Kadang suka bingung sama kebijakan pimpinan nih. Sulit ketebaknya. Kadang itu sih yang bikin stress, pas mau sama keluarga tiba-tiba harus ngerjain kerjaan kantor. Padahal diluar jam kerja.”

(W1.R1.041213/b.65-70)

Responden mengatakan jika hal tersebut terjadi, urusan keluarga menjadi terbengkalai, sehingga waktu berkumpul pun menjadi berkurang.

“Apalagi polwan, sudah menikah dan punya anak. Otomatis waktu dengan keluarga itu jadi berkurang kan. Anak terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya.”

(W1.R1.041213/b.74-79)

2. Stres yang Diakibatkan Salah Satu Peran dan Berdampak Pada peran lainnya.

Banyaknya tanggungjawab dikantor yang harus diselesaikan tak urung membuat responden merasa bingung bingung sendiri untuk memilah mana yang perlu diutamakan. Tugasnya sebagai ibu dan istri kadang bertentangan dengan tugasnya sebagai anggota Bhayangkara yang harus siap sedia 24 jam untuk masyarakat.

“Kalau kerjaan menyita waktu, atau kalau harus memenuhi panggilan pimpinan padahal udah malam. Kan kasian anak-anak.”

(W1.R1.041213/b.130-132)

Stress yang dialami responden tentu memiliki efek baik terhadap kinerjanya maupun terhadap keluarganya. Hal tersebut juga diakui oleh responden.

“Ya kadang begitu.. kalau udah stress dikantor sama kerjaan, paling om yang jadi bulan-bulanannya. Kalau stress karena urusan keluarga, anak rewel, anggotalah yang kadang kena atau kerjaan yang tidak beres.”

(W2.R1.111213/b.234-238)

3. Kecemasan dan Kelelahan yang Dialami Karena Salah Satu Peran

Responden mengatakan dirinya punya batas lelah yang kadang ia rasakan saat bekerja sehingga terkadang berdampak buruk terhadap kehidupan keluarganya dan perannya sebagai ibu maupun istri dirumah. Pekerjaan yang nemumpuk dan tantangan serta tanggung jawabnya sebagai pelayan masyarakat membuatnya terkadang menjadi tegang dan kelelahan.

“Terkadang Nda, capek, lelah, tegang. manusiawi lah itu kalau tante mikirnya. Tante juga punya batas capek.”

(W2.R1.111213/b.230-232)

(32)

Responden memiliki tanggungjawab responden yang besar terhadap institusinya serta perannya sebagai pelayan masyarakat, akan tetapi disisi lain dirinya juga harus bertanggungjawab terhadap keluarganya. Tanggungjawabnya sebagai ibu dan istri yang harus mengurusi segala keperluan rumah tangga membuat dirinya harus lihai dalam membagi waktu.

Akan tetapi kadang kala ada situasi yang membuat dirinya harus memilih peran mana yang harus diutamakan, sehingga terkadang ada saja perilakunya yang tidak sesuai dengan tanggungjawabnya sebagai Polisi Wanita ataupun sebagai ibu.

“kadang anak-anak pengen dijemput sama tante kalau pulang sekolah itu, tapi kan tante enggak bisa. Atau kadang ada acara merekanya. Yang lebih sedih itu kalau ada yang sakit. Mau ninggalin enggak tega, mau bolos paling setelah jam apel. Hilang-hilang dari kantor.”

(W1.R1.041213/b.19-24)

D. Deskripsi Dimensi Konflik Peran Ganda 1) Work-family conflict

Peran responden sebagai Polisi wanita dengan semboyan menjadi pelayan masyarakat, mau tidak mau menuntut responden harus siap sedia 24 jam demi masyarakat. Disamping perannya sebagai pelayan masyarakat, responden juga memiliki peran sebagai ibu untuk tiga buah hatinya serta istri bagi suaminya.

Pekerjaan yang bersifat urgent terkadang harus dilalui responden dengan mengorbankan waktu bersama keluarga demi pekerjaannya. Tak jarang responden juga harus menghadapi celotehan anak-anaknya yang meminta dirinya menemani aktifitas mereka namun dirinya juga harus mengutamakan pekerjaanya sebagai pelayan masyarakat, dan hal tersebut membuat responden merasakan stress.

“apalagi kalau udah harus berhadapan dengan pekerjaan yang lumayang berat ya. Terus pimpinan juga skarang ini ketat betul, anak-anak rewel.”

(W1.R1.041213/b.11-14)

(33)

“..Kadang sedih juga, kalau jalan-jalan enggak pernah lengkap. Kadang papanya enggak ada, kadang si kakak karna les, kadang tante yang gak ada. Wah, dilemalah. Kalau bahasanya anak-anak jaman sekarang galau.”

(W1.R1.041213/b.42-46)

Dengan tanggungjawab yang besar terhadap masyarakat, responden terkadang mau tidak mau harus mengorbankan waktunya bersama keluarga demi pekerjaannya. Akan tetapi responden merasa sedikit bingung dengan aturan-aturan yang diterapkan oleh pimpinannya sehingga semakin membuat waktunya bersama keluarga menjadi berkurang. Beberapa kebijakan yang diterapkan pimpinannya saat ini kadang mengharuskan responden melakukan pekerjaan nya diluar jam operasional kantor, dan hal tersebut semakin membuat waktu responden bersama keluarganya berkurang.

“..kadang suka bingung sama kebijakan pimpinan nih. Sulit ketebaknya. Kadang itu sih yang bikin stress, pas mau sama keluarga tiba-tiba harus ngerjain kerjaan kantor. Padahal diluar jam kerja Nda.”

(W1.R1.041213/b.65-70)

Tak jarang tuntutan pekerjaan yang berlebihan serta tuntutan keluarga yang menuntut responden hadir ditengah-tengah mereka membuat responden merasa stress. Alhasil, hal tersebut menimbulkan dampak bagi pekerjaan maupun kehidupan rumahtangga responden. Hal itu membuat responden terkadang menimbulkan perilaku marah-marah ketika dirinya merasa stress. “.. kalau udah stress dikantor sama kerjaan, paling om yang jadi bulan-bulanannya. Kalau stress karena urusan keluarga, anak rewel, anggotalah yang kadang kena atau kerjaan yang tidak beres. Tapi sejauh ini tante mencoba professional Nda.. enggak menutup kemungkinan juga bakal marah-marah..”

(W2.R1.111213/b.234-241)

2. Family-Work Conflict

Sebagai seorang wanita karir, responden tidak melupakan tanggungjawabnya sebagai ibu dan istri. Walaupun dirasa berat harus mengurusi keduanya, namun diakui responden dirinya berusaha menjalani kedua pernnya sebaik mungkin. Akan tetapi ada kalanya responden juga kesulitan membagi waktu antara mengurusi keluarga dan pekerjaannya. Sering kali responden juga mengilang dari kantornya setelah jam apel pagi untuk mengurusi anaknya, dan hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi perannya sebagai ibu.

“..kadang anak-anak pengen dijemput sama tante kalau pulang sekolah itu, tapi kan tante enggak bisa. Atau kadang ada acara merekanya. Yang lebih sedih itu kalau ada yang sakit. Mau ninggalin enggak tega, mau bolos paling setelah jam apel. Hilang-hilang dari kantor.”

(34)

Meskipun keluarganya mendukung responden dalam berkarier, akan tetapi responden masih sering menerima keluhan dari anak-anaknya tentang kesibukan dirinya. Anak-anak responden sering mengeluh karena kesibukan pekerjaan yang dijalani responden. Alhasil, terkadang responden sering menghilang dari jam kantor untuk mengurusi kedua anaknya. Meskipun demikian, anak responden yang tertua suda mengerti tentang tanggungjawab yang diemban oleh ibunya.

“Kalau yang besar udah bisa ngerti mamahnya kerja, adek-adeknya yang 2 lagi suka rewel. Apalagi kalau sakit, kadang om sama tante juga sama-sama sibuk. Akhirnya terpaksa lari-lari dari kantor waktu jam kerja.”

(W1.R1.041213/b.49-53)

Kesibukannya sebagai salah seorang atasan di tempat dirinya bertugas, pastilah menyita waktunya berkumpul bersama keluarga. Belum lagi menurut dirinya terkadang pimpinannya tidak mengerti kondiri anggota Polwan yang sudah menikah. Responden pun merasakan karena kesibukannya bekerja diluar rumah, membuat urusan rumah tangganya seperti mengurus ketiga anaknya menjadi terbengkalai.

“tapi pimpinan juga kan harus paham kondisi anggotanya. Apalagi polwan, sudah menikah dan punya anak. Otomatis waktu dengan keluarga itu jadi berkurang kan. Anak terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya…, belum lagi kalau ada tugas diklat Ndah. Waduh itu paling berat, terkadang sampai seminggu ninggalin anak atau lebih malah.”

(W1.R1.041213/b.73-83)

Responden selalu menyiasati rengekan anaknya dengan membujuk anak-anaknya. Dan selalu membawa anak-anaknya jalan-jalan bersama ketika hari libur, hal tersebut dilakukannya untuk menebus waktunya yang sudah tersita untuk pekerjaannya.

“Ya terpaksa dibujuk-bujuk Ndah. Nanti kalau hari minggu atau hari libur, jalan-jalan. Dibawa kemana mereka mau. HP pun enggak tante aktifkan..”

(W1.R1.041213/b.138-141)

E. Faktor Yang Mempengaruhi Konflik Peran Ganda

(35)

Dalam menjalani perannya sebagai polisi wanita, ibu dan istri, tak dipungkiri dirinya harus legowo jika waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja dari pada bersama keluarganya. Perasaan sedih sering hinggap dihati responden ketika harus lebih mengutamakan pekerjaan daripada keluarganya. Terlebih responden dan suaminya memiliki profesi yang sama, alhasil sang buah hati pun sering dikesampingkan demi pekerjaan.

“Maklum ajalah, masih anak-anak mereka enggak ngerti kalau mamanya harus kerja. Kadang sedih juga, kalau jalan-jalan enggak pernah lengkap. Kadang papanya enggak ada, kadang si kakak karna les, kadang tante yang gak ada. Wah, dilemalah. Kalau bahasanya anak-anak jaman sekarang galau.”

(W1.R1.041213/b.40-46)

Berbagai macam kegiatan dan pekerjaan responden yang harus dikerjakannya sebaik mungkin, agar memberikan hasil yang maksimal dan sesuai dengan semboyan organisasinya, melayani masyarakat. Walaupun harus merelakan waktu bersama keluarganya demi pekerjaanya melayani masyarakat.

“Otomatis waktu dengan keluarga itu jadi berkurang kan. Anak terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya..,belum lagi kalau ada tugas diklat Ndah. Waduh itu palingberat,

terkadang sampai seminggu ninggalin anak atau lebih malah.” (W1.R1.041213/b.76-83)

Banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan serta tuntutan dari atasannya, membuat responden mau tidak mau harus menyelesaikan pekerjaan tersebut terlebih dahulu, meskipun sudah lewat jam operasional kantor. Padahal pekerjaan tersebut dirasanya bisa dikerjakan keesokan hari agar tidak mengganggu waktunya berkumpul dengan keluarganya.

“Sekarang keberatan Ndah, karena sering ada aktifitas diluar jam kerja. Yang padahal bisa dikerjakan besoknya dan tidak mengganggu jam kerja.”

(W1.R1.041213/b.86-89)

2) Family Size and Support

Menjalani peran sebagai seorang istri, ibu dan wanita karir bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika keluarga memberikan dukungan yang minim. Beruntung bagi responden dirinya mendapat dukungan penuh dari sang suami tercintanya. Apalagi, responden dan suaminya berada dalam satu organisasi yang sama. Sehingga suaminya sudah mengetahui tugas, tanggungjawab serta resiko apa saja yang akan dihadapi oleh istri tercintanya.

(36)

(W1.R1.041213/b.26-30)

“Om sudah tau dari dulu tante ini bekerja, bedanya Cuma tugas polwan sekarang tidak seperti polwan yang dulu Nda. Lebih parah tuntutan yang sekarang, walaupun ya enggak semuanya lah.”

(W1.R1.041213/b.34-38)

3) Job Satisfaction

Beban kerja dan yang dirasa berlebihan serta kebijakan pimpinan yang dirasa terkadang tidak sesuai dengan keadaan lapangan, terkadang menimbulkan rasa lelah pada diri responden. Belum lagi pekerjaan yang dirasa responden semakin tidak jelas kemana arahnya.

“Karena reformasi Polri, jadi ya begini ini. Pekerjaan semua harus dikerjakan, tapi tidak jelas sistemnya seperti apa. Banyak juga yang bingung. Harusnya benahi dulu sistemnya. Ini carut marut.”

(W1.R1.041213/b.93-97)

Kebijakan pimpinan yang dirasa responden terkadang tidak sesuai membuat responden menjadi bingung ketika bekerja. Ditambah lagi ada oknum polisi wanita yang dirasanya tidak bekerja dengan maksimal dan hanya menebar pesona ketika bekerja.

“Struktur organisasi jelas banget Ndah. Tapi kerjaan itu yang enggak jelas. Maksud tante, smua itu sudah ada bagian masing-masing, tapi ya begitulah. Mungkin beda pimpinan beda kebijakan juga ya, jadinya rasa gimana”

(W1.R1.041213/b.101-105)

ada polwan yang kerjanya duduk-duduk aja, masih muda, kerja Cuma pamer tampang ya mbok itu yang diberdayakan. Kenapa yang tua-tua begini yang dikasih porsi kerja paling

besar.

(W1.R1.041213/b.107-111)

Sumber daya yang kurang diberdayakan dirasakan responden cukup membuatnya kesulitan ketika bekerja bersama dengan junior-juniornya. Meskipun sudah diberikan pendidikan bagi anggota polisi wanita tersebut, akan tetapi responden masih merasa hal tersebut belumlah cukup.

“Itu diatas kertas ya begitu Ndah. Kenyataannya dilapangan, yang muda muda itu belum bisa bekerja maksimal, kecuali mengeluh. Alhasil pimpinan berang terus yang tua-tua ini yang kena getahnya.”

(W1.R1.041213/b.116-120)

(37)

dirasakannya karena imbas dari kebijakan pimpinan yang kurang tepat tersebut berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangganya.

“Kadang-kadang suka kesal, bukan dengan siapa-siapa. Kadang pimpinan punya kebijakan sendiri mengenai pekerjaan, tapi yang tahu keadaan lapangan itu kan orang-orang yang turun ke lapangan langsung. Pimpinan kadang Cuma ngasih instruksi. Kesalnya disitu sih Nda.”

(W2.R1.111213/b.170-176)

“Pengaruh nda, seperti yang tante bilang tadi. Masalah Pekerjaan itu tadi, pimpinannya kebijakannya gimana lalu keadaan lapangan gimana. Kadang ada kejadian yang tidak bisa menggunakan metode persuasi Ndah.”

(W2.R1.111213/b.179-183)

Bukan hanya kebijakan pimpinan yang dirasanya menimbulkan ketidakpuasan dalam pekerjaan, rekan kerjanya yang tergolong baru juga dirasakan membuatnya sakit kepala saat bekerja. Menurutnya keminiman sumber daya yang berkualitaslah yang membuat responden merasa stress ketika sedang bekerja bersama dengan rekan-rekannya yang tergolong baru menjadi anggota polisi.

“Stress donk Nda, bagaimana kalau anggota itu respectnya enggak ada, lalu baru jadi polisi kemarin pagi sorenya udah petantang-petenteng. Disuruh ngerjain apa-apa enggak jelas.”

(W2.R1.111213/b.291-295)

4) Size of Firm

Banyaknya beban kerja yang emban responden membuat urusang rumah tangganya menjadi terbengkalai. Responden lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengerjakan pekerjaan kantornya daripada mengurusi buah hatinya. Dan hal tersebut membuat responden merasa gundah.

“..masih anak-anak mereka enggak ngerti kalau mamanya harus kerja. Kadang sedih juga, kalau jalan-jalan enggak pernah lengkap. Kadang papanya enggak ada, kadang si kakak karna les, kadang tante yang gak ada. Wah, dilemalah. Kalau bahasanya anak-anak jaman sekarang galau.”

(W1.R1.041213/b.40-46)

Jam kerja yang tidak menentu dan mengharuskan responden sigap untuk berhadapan dengan masyarakat luas membuat urusan rumah tangga dan anak-anaknya menjadi terbengkalai. Ditambah lagi pimpinan yang dirasanya kurang mengerti kondisi dirinya dan teman-temannya yang sudah menikah, menambah bebannya ketika bekerja dan mengurusi keluarganya.

(38)

terbengkalai jadinya. Syukur-syukur ada keluarga yang mau bantu ngurus seperti neneknya atau tantenya..belum lagi kalau ada tugas diklat Ndah. Waduh itu paling berat, terkadang sampai seminggu ninggalin anak atau lebih malah.”

(W1.R1.041213/b.73-83)

F. Analisa

Wanita bekerja menghadapi situasi rumit yang menempatkan posisi mereka diantara kepentingan keluarga dan kebutuhan untuk bekerja. Begitu juga yang dialami responden, yang harus menjalankan tugasnya sebagai anggota polisi wanita dan harus juga menjalani tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Hal tersebut senada dengan yang diutarakan oleh Frone, Russell&Cooper (1992) didefinisikan sebagai konflik peran yang terjadi pada karyawan, di mana di satu sisi ia harus melakukan pekerjaan di kantor dan di sisi lain harus memperhatikan keluarga secara utuh, sehingga sulit membedakan antara pekerjaan mengganggu keluarga dan keluarga mengganggu pekerjaan.

Konflik peran ganda juga memiliki sumber-sumber yang mampu membuat seseorang merasakan stress dan ketegangan ketika menjalani peran ganda mereka (Greenhaus dan Beutell,

1985). Responden pun merasakan hal yang sama, waktu yang dimilikinya lebih banyak dihabiskannya untuk memenuhi perannya sebagai anggota polisi dari pada perannya sebagai seorang ibu dan istri. Selain ini, memiliki dua peran yang harus dijalani secara bersamaan menimbulkan sehingga menimbulkan stress. Stress yang timbul disebabkan tekanan dari satu peran yang berlebihan sehingga menyebab peran yang lain menjadi terbengkalai.

Sumber konflik peran lainnya adalah kecemasan dan kelelahan, beban kerja yang berlebihan ditambah lagi perannya sebagai ibu dan istri yang harus mengurusi keperluan rumah tangga, tak pelak membuat responden merasa kelelahan. Menjalankan dua peran sekaligus bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, disebabkan kedua peran yang dijalaninya tersebut bertentangan satu sama lain. Satu perannya sebagai atasan di institusinya yang mewajibkan dirinya memiliki ketegasan, peran yang satu adalah sebagai ibu dan istri yang membutuhkan kesabaran dan kelemahlembutan.

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu pembahasan mengenai komitmen organisasi, kepuasan kerja, dan faktor ambiguitas peran serta konflik peran merupakan tema yang menarik untuk dilakukan pengkajian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh ambiguitas peran, konflik peran, dan kepatuhan pada kode etik terhadap independensi

dilakukan peneliti dengan mewawancarai 10 karyawan wanita bagian pemeliharaan tanaman untuk beban kerja yang berat merasakan sakit, lelah dan pegal sebesar 70%

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada Pengaruh Job-Relevant Informations, Ketidakjelasan Peran Dan Konflik Peran Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Cabang Bank

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran, dan independensi terhadap kinerja auditor senior yang bekerja di

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh struktur audit, konflik peran, ketidakjelasan peran, dan independensi terhadap kinerja auditor senior yang bekerja di

Berdasarkan uraian diatas, masalah stres kerja yang dialami wanita yang memiliki peran ganda (ibu rumah tangga dan pekerja) merupakan masalah yang perlu mendapat

Secara teori, konflik peran berpengaruh positif terhadap niat karyawan untuk keluar dari perusahaan artinya semakin tinggi konflik peran pada karyawan menunjukkan