BAB II KAJIAN TEORI
KEGIATAN EKSTRAKURIKULER MADRASAH AL- IHSAN
G. Deskripsi dan Analisis Data Penelitian
3. Faktor yang Mempengaruhi Penentuan Kompensasi
Menurut Kepala Madrasah Aliyah faktor yang mempengaruhi penentuan kompensasi, yaitu "Dalam memberikan kompensasi pasti akan melibatkan dana yang besar untuk dianggarkan. Selain itu, pihak Madrasah memberikan gaji kepada tenaga pendidik dan karyawan itu menggunakan
5
55
dana milik Madrasah dan juga ditambah dengan dana BOS yang diterima oleh Madrasah". 6
Faktor intern dapat mempengaruhi organisasi/lembaga pendidikan untuk memberikan kompensasi adalah dana yang dimiliki organisasi/ lembaga pendidikan tersebut. Dimana organisasi/lembaga pendidikan tersebut memiliki kemampuan untuk membayar tenaga pendidik atau karyawan, dengan kompensasi yang sesuai dengan sistem yang berlaku di organisasi/ lembaga pendidikan tersebut.
Dengan faktor tersebut, maka jelas bahwa adanya pengaruh terhadap penentuan kompensasi yang akan diterima oleh tenaga pendidik/karyawan. Sehingga di antara faktor yang mempengaruhi upah dan kebijakan kompensasi tersebut, faktor intern akan menjadi pertimbangan dalam memutuskan besaran kompensasi yang akan diberikan oleh organisasi/lembaga pendidikan kepada tenaga pendidik/karyawanya.
Karena dengan faktor tersebut akan memberikan dampak terhadap kinerja para pendidik. Selain itu, cara untuk mempertahankan sumber daya manusia yang ada juga disebabkan oleh faktor tersebut, karenanya dalam memberikan kompensasi yang adil dan layak harus dipertimbangkan dengan baik dan matang. Meskipun dengan dana yang dimiliki oleh Madrasah tidak besar, namun Madrasah mendapatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sebesar 20% untuk memberikan gaji kepada tenaga pendidik. Akan tetapi dengan dana dari Madrasah dan dana BOS juga tidak dapat memberikan kompensasi yang cukup tinggi untuk diberikan kepada guru. Hal ini dikarenakan dana yang dimiliki oleh madrasah tidak banyak dari hasil pembayaran SPP peserta didik tidak terlalu besar. Selain itu, manajemen keuangan yang dikelola tidak sesuai dengan standar perencanaan keuangan yang baik, sehingga dana yang akan di alokasikan kepada kebutuhan yang lain tidak terencana dengan baik.
6
Wawancara dengan Kepala Madrasah Aliyah bapak H. Dodi Ahmadi, Lc pada hari rabu tanggal 13 November 2013 pukul 09.00 WIB.
56
4. Tujuan Kompensasi
Secara umum tujuan kompensasi adalah untuk membantu lembaga organisasi/lembaga pendidikan mencapai tujuan keberhasilan organisasi/lembaga pendidikan tersebut dan menjamin terciptanya keadilan internal dan eksternal. Ada pun tujuan lain dari kompensasi menurut Sedarmayanti adalah "menghargai kinerja, menjamin keadilan, mempertahankan karyawan, memperoleh karyawan bermutu, mengendalikan biaya dan memenuhi peraturan".7
Dengan sistem kompensasi yang sudah diterapkan di Madrasah AL-Ihsan, maka tujuan yang sudah dicapai menurut bendahara madrasah ibu Hj. Hayati Nufus yaitu dapat "Memberikan motivasi kepada guru dan memberikan penghargaan kepada guru".8 Meskipun belum dapat dikatakan adil dan layak pihak Madrasah akan berupaya memberikan kompensasi yang lebih layak dan adil untuk periode yang akan datang demi kesejahteraan tenaga pendidik.
Selain itu, tujuan dalam memberikan kompensasi yang adil dan layak juga akan memberikan pelayanan jasa yang semakin baik yang diberikan oleh tenaga pendidik kepada Madrasah, sehingga memberikan kepuasan kepada dua belah pihak. Dengan begitu, Madrasah akan memiliki lebih banyak lagi tenaga pendidik yang bermutu dan profesional, dengan demikian hal tersebut akan memperbaiki kualitas tenaga pendidik yang sudah ada di Madrasah AL-Ihsan menjadi bertambah.
Pencapaian tujuan kompensasi juga terbukti bahwa madrasah memiliki guru/karyawan yang profesioanl, seperti yang dikatakan oleh bendahara bahwa "Meskipun gaji yang kami berikan tidak besar, akan tetapi kami memiliki guru/karyawan yang cukup profesional".9
7
Sedarmayanti, Manajemen Sumber Daya Manusia, Reformasi Birokrasi dan Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011) cet. 5
8
Hasil wawancara dengan bendahara madrasah ibu Hj. Hayati Nufus pada hari Rabu tanggal 13 November 2013 pukul 13.00 WIB
9
Hasil wawancara dengan bendahara madrasah ibu Hj. Hayati Nufus pada hari Rabu tanggal 13 November 2013 pukul 13.00 WIB
57
Menurut data yang didapatkan dari hasil observasi, mengumpulkan dokumentasi madrasah dan hasil wawancara dengan pihak madrasah, bendahara dan guru. Maka diperoleh hasil yang bisa dikatakan belum mencapai sistem kompensasi yang efektif. Karena sistem yang diterapkan masih menggunakan sistem yang kurang adil. Terbukti dengan hasil wawancara dan dokumentasi, bahwa pemberian kompensasi tidak didasarkan atas latar belakang pendidikan, dimana beberapa tenaga pendidik memiliki pendidikan yang tinggi yaitu lulusan S1 dan S2 diberikan gaji yang sama dengan lulusan SMA/MA.
Sistem tersebut dipengaruhi oleh faktor pemasukan dana yang dimiliki Madrasah setiap bulanya, sehingga tidak cukup untuk memberikan gaji yang tinggi kepada para tenaga pendidik. Salah satu faktor juga yang mempengaruhi yaitu peserta didik yang ada di Madrasah AL-Ihsan tidak sekedar hanya bersekolah formal saja, akan tetapi siswa juga tinggal dalam asrama yang disediakan di Madrasah tersebut, sehingga membutuhkan tempat tinggal dan makan untuk tiap harinya. Dengan bayaran yang bisa dikatakan tidak terlalu besar yaitu dengan kisaran harga Rp 350.000,-/bulan yang harus dibayar oleh siswa/santri Madrasah AL-Ihsan.
Dana tersebut tidak seutuhnya diterima oleh pihak Madrasah dengan sekian banyak peserta didik, karena banyak peserta didik yang membayar iuran/spp perbulannya secara menunggak/tidak bayar pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini menyebabkan pihak Madrasah kesulitan untuk mengatur keuangan yang ada. Dalam mengatur keuangan, Madrasah menganggarkan dana yang ada kepada kebutuhan siswa/santri itu sendiri seperti dana untuk konsumsi dalam sehari 3 kali makan untuk peserta didik dan para ustadz dan ustadzah. Selain itu, Madrasah juga mengganggarkan kepada kebutuhan lainnya yang ada di Madrasah tersebut, sehingga dana yang dianggarkan untuk menggaji tenaga pendidik tidak dapat diberikan dengan harga yang tinggi. Oleh karenanya pihak Madrasah memberikan dana yang terbilang kecil untuk menggaji tenaga pendidik dan tidak menggolongkan latar belakang pendidikan mereka, karena membutuhkan dana yang lebih.
58
Dengan dana yang diterima oleh para pendidik tersebut, tidak menyurutkan mereka untuk berhenti dan mencari Madrasah/sekolah lain untuk mengajar. Akan tetapi mereka tetap bertahan di Madrasah AL-Ihsan meskipun gaji yang mereka terima tidak dapat memenuhi semua kebutuhan ekonomi, ini disebabkan oleh guru yang ada di madrasah tersebut mayoritas alumni dari madrasah itu sendiri, seingga tingkat loyalitasnya masih tinggi.
Selain itu, ada beberapa tenaga pendidik yang mengajar selain di Madrasah AL-Ihsan, ini menyebabkan ketidakdisiplinanya dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar. Sehingga ini menimbulkan produktivitas kerja guru yang tidak optimal, karenanya kelas yang mereka ajar sering tidak ada kegiatan belajar mengajar. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, pihak Madrasah tidak membatasi para guru untuk tidak mengajar ditempat lain, karena faktor ekonomi yang mempengaruhi kinerja guru tersebut. Akan tetapi pihak madrasah juga memberikan evaluasi kepada guru untuk bisa melakukan pekerjaanya secara profesional dengan membagi waktunya dengan mengajar di sekolah/madrasah lain.
Sekolah/Madrasah swasta secara umum dalam pemberian kompensasinya masih sangat jauh dari harapan, karena pemberian kompensasi yang rendah dan belum memenuhi standar yang ditetapkan pemerintah untuk seorang guru/tenaga pendidik. Walaupun demikian, masih banyak guru/tenaga pendidik yang masih bertahan untuk tetap mengajar di Madrasah tersebut karena faktor ekonomi dan faktor dari Madrasah itu sendiri yang membutuhkan banyak tenaga pendidik. Meskipun ada beberapa lembaga pendidikan yang bisa memberikan kompensasi yang jauh lebih baik dan layak, yaitu sekolah/madrasah yang menarik SPP yang cukup tinggi, sehingga dana untuk dialokasikan kepada gaji tenaga pendidik bisa lebih tinggi. Namun hal tersebut sangat berbeda dengan madrasah/sekolah swasta, dimana sekolah/madrasah swasta tidak menerapkan biaya SPP yang cukup tinggi,
59
karena untuk meringankan peserta didik yang kurang mampu untuk membayar pendidikan mereka.
Dengan demikian, kesejahteraan guru di sekolah/madrasah swasta kurang memadai, sehingga guru yang sudah mengajar bertahun-tahun juga tidak/belum memiliki kesejahteraan yang lebih dari pada cukup. Seperti guru yang ada di Madrasah AL-Ihsan, masih banyak guru yang kesejahteraanya kurang.
Berdasarkan realita di atas, maka sesungguhnya ini merupakan hal yang tidak asing dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia. Karena sebagian besar lembaga pendidikan, khususnya pesantren selalu mengalami permasalahan yang sama dalam pemberian kompensasi dan salah satunya adalah keuangan. Meskipun demikian, hal ini dapat ditanggulangi dengan menerapkan sistem manajemen sekolah atau madrasah yang baik. misalnya dengan membuat aturan dan SOP (standar operasional prosedur) yang baku di setiap lini dan aspek yang ada di sekolah. ketidakadilan pemberian kompensasi seperti yang disebutkan di atas adalah akibat dari pengaturan manajemen yang kurang tertata.
Apabila keadaan manajemen sudah diatur secara baku, dan juga memiliki SOP yang jelas, maka masalah keuangan dan sistem kompensasi pun akan mudah diatur dan dilaksanakan. Karena dengan jumlah siswa di pondok pesantren yang berjumlah lebih dari lima ratus (baik madrasah aliyah maupun tsanawiyah) sudah dapat memberikan surplus bagi pemasukan keuangan pesantren, atau dalam istilah ekonomi disebut dengan break-even point. Secara logika, pesantren seharusnya sudah mampu untuk menerapkan kompensasi secara konsisten kepada tenaga pendidik, meskipun terdapat beberapa biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lembaga pesantren untuk kebutuhan primer lainnya, seperti perbaikan sarana dan prasarana. Tetapi kompensasi juga merupakan hal yang tidak kalah penting, karena berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar, dan terlebih adalah kualitas output dari proses tersebut.
60
Di samping itu, manajemen kepegawaian dan sumber daya manusia sangat penting bagi lembaga pendidikan dalam mengelola, mengatur dan memanfaatkan karyawan dan tenaga pendidik sehingga dapat berfungsi secara produktif untuk tercapainya tujuan lembaga pendidikan. Sumber daya manusia di lembaga pendidikan perlu dikelola secara profesional agar terwujud keseimbangan antara kebutuhan guru dan karyawan dengan tuntutan dan kemampuan lembaga pendidikan. Keseimbangan tersebut merupakan kunci utama dari lembaga pendidikan agar dapat berkembang secara produktif dan wajar. Perkembangan lembaga pendidikan sangatlah tergantung pada kemampuan dan produktvitas tenaga pendidik yang berada di lembaga pendidikan. Dengan pengaturan manajemen sumber daya manusia yang profesional, maka diharapkan karyawan dan tenaga pendidik dapat bekerja dengan baik, yang pada akhirnya dapat berprestasi dengan baik pula.
Berdasarkan teori yang sudah dibahas di kajian teori, sistem kompensasi yang ideal adalah sistem kompensasi yang menghargai seseorang berdasarkan usaha dan jerih payah yang telah dikeluarkannya, bukan berdasarkan golongan, pangkat dan senioritas. Organisasi dituntut untuk memberikan balas jasa secara adil agar setiap orang merasa betah karena diperlakukan secara wajar. "Guna mewujudkan prinsip keadilan dalam memberikan reward pada pegawai, organisasi dapat menerapkan sistem kompensasi berbasis kinerja (pay for performance). Sistem kompensasi berbasis kinerja dibangun atas monitoring perilaku atau kontrol output dengan tujuan mendorong setiap tenaga pendidik/pegawai untuk memaksimalkan kinerja atau kemampuan mereka". 10
Sistem kompensasi berbasis kinerja otomatis menggunakan kinerja sebagai patokannya sehingga perlu disusun jabatan tugas (job description) yang jelas dan terukur bagi setiap individu, sub unit, unit dalam organisasi dan job description organisasi secara keseluruhan. Berkaitan dengan guru, seorang kepala sekolah dapat menggunakan acuan program jangka pendek yang telah dirumuskan bersama dalam penentuan indikator tersebut. Sebagai
10
http://educationesia.blogspot.com/2012/10/implikasi-sistem-kompensasi-berbasis.html#ixzz2mbiyyNtj
61
contoh dalam program jangka pendek sekolah terdapat point yang segera dilaksanakan berkaitan dengan penggunaan bahasa inggris dalam penyampaian materi. Dari sinilah sistem kompensasi dapat diterapkan dimana seorang guru yang telah menggunakan bahasa inggris dalam seluruh kegiatan belajarnya berhak mendapatkan nilai kompensasi tersebut secara lebih. Dengan begini seorang guru yang memiliki kreativitas dan berkinerja tinggi merasa diperlakukan adil karena reward yang mereka terima tidak sama dengan mereka yang berkinerja kurang dan mereka yang tidak bekerja.
Melihat fenomena yang cukup banyak di hadapi oleh beberapa madrasah/sekolah swasta mengenai kompensasi, dapat disimpulkan bahwa kompensasi yang diterima oleh tenaga pendidik itu terbilang rendah dan tidak efektif, sehingga tenaga pendidik disudutkan pada persoalan yang dilematis/ membingungkan. Karena satu sisi tenaga pendidik bertanggung jawab untuk mengajar dan meningkatkan pembelajaran di madrasah, akan tetapi tenaga pendidik juga harus bisa mengatur keuangannya untuk bisa memenuhi kebutuhanya dengan hasil gaji yang diterima selama satu bulan mengajar/bekerja di madrasah AL-Ihsan. Meskipun kompensasi yang diterima tidak sesuai dengan standar yang berlaku.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi dengan mrujuk kepada rumusan masalah, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
Pelaksanaan sistem kompensasi yang ada pada Madrasah AL-Ihsan belum efektif, karena dalam menentukan kompensasi madrasah hanya memberikan berdasarkan waktu.. Untuk memberikan kompensasi tersebut, guru hanya diberikan gaji berdasarkan waktu mengajar dalam satu hari seperti guru aliyah yang diberikan sebesar Rp 50.000,-/hari dan guru stanawiyah sebesar Rp 45.000,-/hari, gaji tersebut akan diberikan pada tanggal yang sudah ditetapkan oleh madrasah.
Kompensasi di madrasah tersebut tidak ditentukan berdasarkan latarbelakang pendidikan dan pengalaman dalam mengajar, akan tetapi kompensasi diberikan secara merata, baik guru yang lulusan SMA/MA dengan guru yang lulusan SI dan S2. Pemberian kompensasi yang berbeda hanya ditentukan oleh jabatan, seperti Kepala Madrasah dan wakil, kepala bagian tata usaha dan administrasi. Dengan demikian kompensasi yang diberikan belum layak dan tidak adil, karena dalam menentukan kompensasi tidak mempertimbangkan latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar di Madrasah tersebut.
Selain itu, kompensasi tersebut juga tidak memberikan dampak yang berarti kepada produktifitas kerja guru. Karena gaji yang diberikan kecil, maka banyak guru yang memilih untuk mengajar juga di madrasah lain, sehingga ini mempengaruhi terhadap kinerja guru di madrasah AL-Ihsan yang tidak optimal. Oleh karena itu, dengan gaji yang kecil tersebut tidak memberikan kesejahteraan yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para pendidik dengan hanya mengandalkan pekerjaannya di Madrasah AL-Ihsan.
63
B. Saran
Berdasarakan hasil penelitian dan temuan masalah yang dihadapi oleh Madrasah AL-Ihsan, maka penulis memberikan saran kepada pihak yayasan dan pihak madrasah diharapkan agar manajemen keuangan yang sudah ada diperbaiki dengan merujuk kepada standar pengelolaan keuangan yang baik, sehingga akan mempengaruhi juga kepada penentuan kompensasi yang akan diberikan kepada sumber daya manusia yang dimiliki Madrasah tersebut.
Dalam memberikan kompensasi juga dapat mempertimbangkan latarbelakang pendidikan dan pengalaman tenaga pendidik. Sehingga kompensasi tersebut dapat dirasakan layak dan adil untuk membayar atas kinerja guru di madrasah. Dengan demikian akan mempengaruhi kepada produktivitas kerja guru yang selama ini belum opimal dan memberikan kesejahteraan yang cukup untuk tenaga kependidikan yang ada di madrasah.
Selain itu, pihak yayasan dan kepala madrasah juga dapat bersikap tegas untuk mendisiplinkan para pendidik, agar dapat bekerja dengan baik dan mempertanggungjwabkan pekerjaannya sebagai guru di madrasah AL-Ihsan. Sehingga pekerjaan yang dilakukannya diluar madrasah AL-Ihsan tidak dipengaruhi oleh pekerjaannya madrasah lain.