BAB II LANDASAN TEORI
B. Dukungan Sosial Teman Sebaya
4. Faktor yang Mempengaruhi Perolehan Dukungan Sosial
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perolehan dukungan sosial menurut Sarafino (2011). Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Penerima Dukungan Sosial yang Potensial
Individu yang tidak socialable cenderung tidak suka menerima dukungan sosial, begitu juga dengan individu yang tidak suka menolong orang lain, walau ia mengetahui bahwa ada yang sedang memerlukan bantuan. Ada juga individu yang tidak asertif menyatakan bahwa ia membutuhkan bantuan, merasa independen dan merepotkan orang lain dan juga tidak tahu siapa yang dapat dimintai tolong.
b. Pemberi Dukungan Sosial yang Potensial
Ada individu yang tidak sensitif dengan keadaan orang lain, tidak mempunyai sumber daya yang diperlukan atau berada dibawah tekanan, dalam keadaan tersebut individu tidak bisa mendapatkan dukungan sosial. Namun, perlu diingat bahwa ketersediaan dukungan sosial juga bergantung pada jaringan sosial yang dimiliki oleh individu. Ukuran, komposisi, kedekatan dan frekuensi pertemuan dengan individu dalam jaringan sosial akan mempengaruhi dukungan sosial yang diperoleh.
c. Gender dan Sosiokultural
Gender dan sosiokultural juga turut mempengaruhi dalam menerima dukungan sosial. Berdasarkan penelitian Greenglass & Noguchi (dalam Sarafino, 2011) dikatakan bahwa wanita menerima lebih sedikit dukungan sosial dari pasangannya, dibandingkan dengan lelaki dan lebih mendapatkan dukungan sosial dari temannya (sesama laki-laki). Faktor sosiokultural juga mempengaruhi, dibuktikan dengan penelitian Gottlieb & Green (dalam Sarafino, 2011), yang menyatakan bahwa orang kulit hitam memiliki jaringan sosial yang lebih kecil dibandingkan dengan orang yang berkulit putih dan orang Hispanik. Hispanik cenderung memperoleh dukungan sosial dari keluarga besarnya, sementara orang kulit hitam memperoleh dukungan sosial dari keluarga dan kelompok di gereja dan orang kulit putih memiliki banyak teman dan rekan kerja sebagai sumber dukungan sosialnya.
5. Dampak Dukungan Sosial
Dukungan sosial memiliki dampak positif terhadap motivasi, hal ini dibuktikan dalam penelitian Tezci,dkk (2015) mengenai dukungan sosial dan motivasi. Menurut Tezci,dkk (2015) dukungan sosial memiliki peran yang signifikan terhadap motivasi dan pencapaian akademik individu. Dukungan, apresiasi dan pujian dari keluarga, teman sebaya dapat meningkatkan motivasi dan tingkat pencapaian akademik individu.
Dukungan sosial memiliki dampak baik positif maupun negatif. Dukungan sosial dirasa berdampak positif apabila, dukungan sosial dapat membantu individu untuk mengatasi tekanan baik secara langsung maupun secara tidak langsung Cohen (dalam Sarafino, 2011). Menurunkan tingkat kecemasan individu Sarason, Pierce, Sarason (dalam Sarafino, 2011) dan meningkatkan perasaan diterima (sense of acceptance). Ketika lingkungan di sekitar individu sangat mendukung individu dalam waktu tertentu, maka tingkat kecemasan yang rendah serta rasa keberhargaan diri (self worth) akan menjadi bagian yang stabil dalam kepribadian individu.
Dukungan sosial juga dapat memberikan dampak negatif, ada kondisi tertentu yang membuat individu tidak selalu merasakan dukungan sosial yang diterima adalah dukungan (Dunkel-Schetter & Benne dalam Sarafino, 2011). Hal ini terjadi apabila bantuan yang diberikan tidak sesuai atau diberikan dengan cara yang salah, atau individu merasa tidak membutuhkan bantuan. Terkadang individu juga menganggap menerima bantuan adalah pertanda bahwa individu
dianggap tidak mampu dalam menyelesaikan masalahnya dan akan mengakibatkan penuruan self-esteem Lepore (dalam Sarafino, 2011).
C. Dinamika Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Student Engagement Siswa
Student Engagement diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas secara behavioral, emotional, cognitive untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan siswa (Trowler, 2010). Selain itu, Fredricks et.al 2004 menyebutkan bahwa student engagement berkaitan dengan hasil akademik yang positif, termasuk prestasi dan ketekunan di sekolah. Hal itu akan meningkat dengan dukungan dari guru serta rekan-rekan di kelas, tantangan sebuah tugas, peluang untuk mengambil pilihan, dan struktur yang memadai.
(Skinner et al, 1990) Student engagement merupakan faktor prediktor penting dalam keberhasilan pembelajaran karena memperlihatkan tingkat perhatian, usaha, emosi positif dan komitmen dari seorang siswa dalam proses belajarnya. Kuh et al (2010) yang menyatakan bahwa student engagement sebagai partisipasi aktif di dalam kelas, yang mampu mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai. Student engagement digunakan sebagai prediktor hasil pembelajaran yang baik jika siswa terlibat dalam aktivitas di dalamnya (Krause dan Coates, 2008).
Trowler (2010) yang mengatakan bahwa student engagement terdiri dari tiga dimensi. Dimensi yang pertama ialah behavioral engagement. Siswa menunjukkan behavioral engagement-nya dengan tingkah-laku yang bertujuan untuk melatih atau mengembangkan kemampuannya, baik yang bersifat pemahaman maupun yang bersifat keterampilan. Dimensi yang kedua yaitu
emotional engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan melibatkan emosinya dalam proses belajar. Siswa dengan emotional engagement yang baik akan tertarik secara pribadi menjalani proses belajar, menikmati proses pembelajaran dan memiliki sense of belonging. Dimensi yang terakhir adalah cognitive engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan menggunakan kognitif nya. Siswa dengan cognitive engagement yang baik akan lancar dalam mengerjakan ujian pelajaran yang dihadapinya, mengevaluasi pemahaman melalui nilai yang ia dapat ujian pelajaran, percaya diri untuk menghadapi ujian pelajaran dan akan menikmati tantangan.
Tingkatan-tingkatan dalam student engagement terbentuk karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement diantaranya school level, classroom context, individual needs
Fredericks, Blumenfeld, & Paris (2004), yang dimana setiap faktor memiliki beberapa dimensi. salah satu dimensi yang menjadi faktor yang mempengaruhi student engagementadalah teman sebaya hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Mc Iver Reuman (Brewster & Fager, 2000) yang menyatakan bahwa teman sebaya memiliki posisi penting dikarenakan pada saat usia 12-17 atau biasanya pada siswa SMP dan SMA, tingkat engagement siswa sangat dipengaruhi oleh keberadaan mereka.
Teman sebaya banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan remaja, salah satunya adalah dukungan sosial yang bisa didapatkan dari teman sebaya. Menurut Nurwati (2009) dukungan sosial teman sebaya merupakan suatu
semangat, dan nasehat yang dapat membuat seseorang merasa memiliki kesenangan, ketenangan, atau kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan tingkat usia, tingkat kedewasaan, ciri-ciri, norma, dan kebiasaan. Sesuai yang telah dijelaskan oleh Nurwati hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Ahmed (dalam Soukotta, 2010) menyatakan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap prestasi belajar.
D. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti membuat hipotesa bahwa
terdapat pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student enggamenet siswa SMA Negeri 15 Medan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah salah satu langkah yang penting dalam suatu penelitian ilmiah. Cara atau metode penelitian adalah alat untuk mencapai tujuan dan kualitas penelitian sangat ditentukan oleh cara atau metode yang digunakan.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat korelasional, yang bertujuan untuk melihat pengaruh antara satu variabel dengan variabel lain.
Pembahasan dalam penelitian ini meliputi rancangan penelitian, deskriptif penentuan subjek penelitian, instrument pengumpulan data, uji validitas, uji reliabilitas dan teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis.
A. Identifikasi Variabel
Menurut Azwar (2011) Identifikasi variabel merupakan langkah penetapan variabel-variabel utama dalam penelitian dan penentuan fungsi-fungsinya masing-masing. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yakni variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang diselidiki pengaruhnya, sedangkan variabel terikat (Y) adalah variabel yang muncul sebagai akibat dari variabel bebas.
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini ialah :
Variabel Bebas (Independent variable) : Dukungan Sosial Teman Sebaya Variabel Tergantung (Dependent variable) : Student Engagement
B. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati
digunakan dalam penelitian : 1. Student Engagement
Definisi operasional dari student engagement adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas baik secara perilaku, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar dan mampu mengarahkan pada tujuan yang dicapai. Student engagement diukur menggunakan skala student engagement yang disusun menggunakan 3 dimensi yang dikemukakan oleh Trowler (2010), yakni behavioral engagement, emotional engagement dan cognitive engagement.
Total skor dari ketiga dimensi student engagement menunjukkan tingkat keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas guna meningkatkan prestasi belajar. Hasil pada skala ini menunjukkan bila semakin tinggi perolehan skor maka semakin tinggi tingkat student engagement pada siswa yang berarti semakin terlibat siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas.
Sebaliknya, semakin rendah perolehan skor maka semakin rendah tingkat student engagement pada siswa yang berarti siswa tidak terrlibat dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas.
2. Dukungan Sosial Teman Sebaya
Definisi operasional dari dukungan sosial teman sebaya adalah suatu bentuk bantuan, yaitu emotional support, instrumental support, informational support, companionship support yang diperoleh individu dari teman sebaya yang membuat individu penerima bantuan merasa terbantu, nyaman, diperhatikan dan merasa sebagai bagian dari kelompok sosial. Dalam penelitian ini, dukungan sosial teman sebaya akan diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial
semakin tinggi perolehan skor maka semakin tinggi pula tingkat pengaruh dukungan sosial teman sebaya.
C. Populasi, Sampel, dan Metode Penelitian Sampel 1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007).
Selain itu, populasi juga didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sebagai suatu populasi, kelompok subyek ini harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain (Azwar, 2015). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa/i kelas X dan XI SMA Negeri 15 Medan yang berjumlah 439 orang.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling. Menurut Sugiyono (2007), Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur untuk dijadikan anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Di dalam teknik non probability sampling terdapat jenis accidental sampling. Accidental sampling merupakan pengambilan anggota sampel secara kebetulan, yaitu siapa saja yang secara insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel apabila orang tersebut dirasa sesuai untuk dijadikan
siswa yang ditunjukkan oleh pihak sekolah, yaitu dari kelas 10 dan kelas 11.
3. Jumlah Sampel Penelitian
Mengenai jumlah sampel, tidak ada batasan mengenai berapa jumlah ideal sampel penelitian. Azwar (2012) menyatakan bahwa secara tradisional, statistik menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak. Dalam penelitian ini, jumlah total sampel adalah 150 orang.
D. Alat Ukur Penelitian
Alat ukur merupakan metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian yang mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti (Hadi, 2000). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode skala. Menurut Hadi (2000), skala psikologis merupakan suatu alat ukur dengan menggunakan daftar pernyataan-pernyataan yang telah disiapkan dan disusun sedemikian rupa sehingga responden hanya tinggal memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Pada penelitian ini terdapat 2 skala yang digunakan yakni skala student engagement dan skala dukungan sosial teman sebaya.
1. Skala Student Engagement
Skala Student engagement disusun berdasarkan dimensi yang dikemukakan oleh Trowler (2010) yakni behavioral engagement, emotional engagement dan cognitive engagement. Model skala dibuat berdasarkan model skala Likert. Setiap aitem terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala disajikan dalam bentuk pernyataan yang mendukung (favorable) dan
Bobot penilaian untuk pernyataan favorable yaitu: SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1.
Sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan unfavorable yaitu: SS = 1, S = 2, TS
= 3, STS = 4. Hasil dari skala student engagement dibagi ke dalam 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Kategorisasi berdasarkan norma di tabel 4 berikut (Azwar, 2012) :
Tabel 1. Kategorisasi Norma Nilai Student Engagement
Rentang Nilai Kategorisasi
X ≥ (mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik) Tinggi (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) ≤ X <
(mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik)
Sedang X ≤ (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) Rendah
Tabel 2. Blue Print skala Student Engagement sebelum Uji Coba
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral
2. Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Alat ukur dukungan sosial akan disusun berdasarkan bentuk dukungan sosial yang dikemukakan oleh Sarafino (2011), yaitu dukungan emosional (emotional support), dukungan penghargaan (esteem support), dukungaan instrumental (intrumental support), dukungan informasi (informational support) dan dukungan persahabatan (companionship support). Model skala dibuat berdasarkan model skala Likert. Setiap aitem terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala disajikan dalam bentuk pernyataan yang mendukung
2, STS = 1. Sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan unfavorable yaitu: SS = 1, S = 2, TS = 3, STS = 4. Hasil dari skala student engagement dibagi ke dalam 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Kategorisasi berdasarkan norma di tabel 4 berikut (Azwar, 2012) :
Tabel 3. Kategorisasi Norma Nilai DSTS
Rentang Nilai Kategorisasi
X ≥ (mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik) Tinggi (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) ≤ X <
(mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik)
Sedang X ≤ (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) Rendah
Tabel 4. Blue Print Skala DSTS sebelum Uji Coba
Aspek Indikator Perilaku
Instrumental/
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas Alat Ukur
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya.
Pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang diukur seperti yang dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut (Azwar, 2012).
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity).
diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment.
Validitas isi peneliti peroleh melalui konsultasi dengan dosen pembimbing sehingga aitem-aitem yang telah dibuat memang mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “apakah masing-masing aitem dalam tes layak untuk mengungkap atribut yang diukur sesuai dengan indikator keperilakuannya dan apakah aitem-aitem dalam tes telah mencakup keseluruhan domain isi yang hendak diukur (Azwar, 2012).
2. Reliabilitas Alat Ukur
Realibiltas merupakan penerjemahan dari kata reliability. Suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (Azwar, 2012). Reliabilitas alat ukur dapat dilihat dari koefisien reliabilitas yang merupakan indikator konsistensi aitem-aitem tes dalam menjalankan fungsi ukurnya secara bersama-sama.
Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal dimana estimasi reliabilitas pengukuran dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada satu kelompok subjek (single-trait administration). Dengan menyajikan satu tes hanya satu kali, maka permasalahan yang mungkin timbul pada kedua metode estimasi reliabilitas terdahulu dapat dihindari (Azwar, 2012). Teknik yang digunakan untuk pengukuran reliabilitas alat ukur penelitian ini adalah teknik koefisien Alpha Cronbach. Untuk menguji reliabilitas ini menggunakan bantuan program SPSS.
3. Uji Daya Beda Aitem
Penelitian juga melakukan uji daya beda aitem. Daya beda suatu alat ukur dalam penelitian sangat diperlukan karena dapat diketahui seberapa cermat suatu alat ukur melakukan fungsinya. Daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 18.0 for windows untuk mendapatkan koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala. Komputasi ini menghasilkan koefesien korelasi aitem-total (rix). Kriteria pemilihan adalah menggunakan batasan daya beda aitem rix ≥ 0.30 Aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30 dipakai dalam pengukuran selanjutnya. Sedangkan, aitem yang memiliki rix ≤ 0.30 dinterpretasikan memiliki daya beda aitem rendah dan tidak dipakai untuk pengukuran selanjutnya (Azwar, 2012).
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur
1. Hasil Uji Coba Skala Student Engagement
Uji coba skala student engagement dilakukan kepada 300 siswa SMA Negeri 15 Medan kelas 10 dan kelas 11. Jumlah aitem yang diuji cobakan sebanyak 33 aitem. Setelah melakukan pengolahan sebanyak tiga kali didapat 28 aitem yang memenuhi batasan daya beda aitem ≥ 0.30 dengan reliabilitas (rxx’) 0.894 Sebanyak 5 aitem dinyatakan gugur dan dapat dilihat dalam tabel 5 berikut:
Tabel 5. Blue Print Skala Student Engagement setelah Uji Coba
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral
Tabel 6. Blue Print Penomoran Ulang Skala Student Engagement No Aspek-aspek
Student Engagement
Indikator Perilaku
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral
Total 28
2. Hasil Uji Coba Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Uji coba skala student engagement dilakukan kepada 300 siswa SMA Negeri 15 Medan kelas 10 dan kelas 11. Jumlah aitem yang diuji cobakan sebanyak 28 aitem. Setelah melakukan pengolahan sebanyak dua kali didapat 23 aitem yang memenuhi batasan daya beda aitem ≥ 0.30 dengan reliabilitas (rxx’) 0.918. Sebanyak 5 aitem dinyatakan gugur dan dapat dilihat dalam tabel 6 berikut:
Tabel 7. Blue Print Skala DSTS setelah Uji Coba
Aspek Indikator Perilaku
Memperoleh bantuan
Tabel 8. Blue Print Penomoran Ulang Skala DSTS
Aspek Indikator Perilaku
membuat individu
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap. Ketiga tahap tersebut terdiri dari (1) Tahap persiapan, (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap pengolahan data.
1. Tahap Persiapan Penelitian
Tahap persiapan yang dilakukan oleh peneliti adalah :
Penelitian ini menggunakan dua skala yaitu skala student engagement dan dukungan sosial teman sebaya. Penyusunan skala student engagement dan dukungan sosial teman sebaya dilakukan dengan membuat blue print dan kemudian dioperasionalisasikan dalam bentuk aitem-aitem pernyataan.
b. Mengurus perizinan
Setelah mengumpulkan dan memahami teori, dalam prosesnya peneliti masih memerlukan beberapa data yang dapat diperoleh sekolah. Untuk itu peneliti mengurus perizinan untuk pengambilan data.
c. Uji Coba Alat Ukur
Setelah alat ukur disusun, maka tahap selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan uji coba alat ukur, uji coba akan dilakukan pada waktu yang ditentukan dan diberikan pada 300 orang siswa SMA dikota Medan.
d. Revisi Alat Ukur
Setelah peneliti melakukan uji coba alat ukur, maka peneliti menguji validitas dan reliabilitas skala dengan menggunakan koefisien reliabilitas Alpha dari Cronbach dengan bantuan aplikasi program SPSS. Setelah diketahui aitem-aitem yang memenuhi validitas dan reliabilitasnya, maka kemudian peneliti menyusun aitem-aitem tersebut menjadi alat ukur yang digunakan untuk mengambil data penelitian
2. Tahap Pelaksanakan Penelitian
Setelah alat ukur diujicobakan dan direvisi, maka peneliti melaksanakan uji sebenarnya dengan mengambil data pada siswa SMA NEGERI 15 MEDAN
dengan cara menyebarkan skala student engagement dan dukungan sosial teman sebaya yang telah direvisi kepada responden penelitian.
3. Tahap Pengolahan Data
Setelah diperoleh hasil skor skala dukungan sosial teman sebaya dan student engagement maka dilakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS.
4. Metode Analisis Data
Metode analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan regresi linear sederhana serta pengujian asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji linearitas, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas dimaksudkan untuk menguji apakah data yang dianalisis sudah terdistribusi sesuai dengan prinsip-prinsip distribusi normal agar dapat digeneralisasikan terhadap populasi. Uji normalitas pada penelitian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa data semua variabel yang berupa skor-skor yang diperoleh dari hasil penelitian tersebar sesuai dengan kaidah normal. Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program komputer SPSS. Kolmogorov-Kolmogorov-Smirnov adalah suatu uji yang memperhatikan tingkat kesesuaian antara distribusi serangkaian harga sampel (skor yang diobservasi) dengan suatu distribusi teoritis tertentu.
Kaidah normal yang digunakan adalah jika p ≥ 0,05 maka sebarannya dinyatakan normal dan sebaliknya jika p < 0,05 maka sebarannya dinyatakan tidak normal
Uji linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah garis regresi antara variabel dependen dan variabel independen membentuk garis linear atau tidak.
Apabila tidak memenuhi asumsi linearitas maka analisa regresi tidak dapat dilanjutkan (Sugiyono, 2012). Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 18.0 for Windows.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas adalah uji yang menilai apakah ada ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi linear. Uji ini merupakan salah satu dari uji asumsi klasik yang harus dilakukan pada regresi linear. Apabila asumsi heteroskedastisitas tidak terpenuhi, maka model regresi dinyatakan tidak valid sebagai alat peramalan. Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui adanya penyimpangan dari syarat-syarat asumsi klasik pada regresi linear, di mana dalam model regresi harus dipenuhi syarat tidak adanya heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji Autokorelasi adalah sebuah analisis statistik yang dilakukan untuk mengetahui adakah korelasi variabel yang ada di dalam model prediksi dengan perubahan waktu. Dalam uji autokorelasi, nilai residual (nilai eror) tidak boleh saling berkorelasi.
e. Uji Regresi
Analisa regresi akan dipergunakan dalam penelitian ini, guna menguji hipotesa, yaitu untuk menguji adakah pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa SMA Negeri 15 Medan. Namun, sebelum
satu asumsi yang harus dipenuhi dalam analisa regresi adalah linearitas (Sugiyono,2012). Analisa regresi pada penelitian ini akan dibantu SPSS 18.0 for Window.
Pada bab ini peneliti akan menguraikan mengenai hasil yang diperoleh dari pengambilan data serta pengolahan data yang dilakukan secara statistik. Hasil yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah gambaran umum partisipan, uji asumsi dan uji hipotesis, gambaran Dukungan Sosial Teman Sebaya, Student Engagement, serta pembahasan hasil penelitian.
A. Gambaran Umum Subjek Penelitian
Gambaran umum subjek penelitian diperoleh dari data diri atau identitas subjek yang tercantum di halaman awal skala. Data diri yang dicantumkan terdiri dari inisial, jenis kelamin, dan kelas di SMA Negeri 15 Medan. Subjek penelitian
Gambaran umum subjek penelitian diperoleh dari data diri atau identitas subjek yang tercantum di halaman awal skala. Data diri yang dicantumkan terdiri dari inisial, jenis kelamin, dan kelas di SMA Negeri 15 Medan. Subjek penelitian