SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Skripsi Psikologi Pendidikan
Oleh
EKA CATUR AKBAR PUTRA 141301013
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
Abstrak
Student engagement diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran secara perilaku, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar siswa (Trowler, 2010). Teman sebaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran. Teman sebaya memberikan dukungan sosial dalam beberapa bentuk yang diperoleh individu dari orang lain atau dari kelompok sosial yang dimiliki individu (Sarafino, 2011).
Subjek dalam penelitian ini sebanyak 150 siswa yang diambil dengan metode accidental sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala dukungan sosial teman sebaya dengan nilai reliabilitas (rxx = 0.918) dan student engagement dengan nilai reliabilitas (rxy=0.894). Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional. Metode analisa data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana Hasil dari analisis data penelitian ini menunjukkan nilai p(0.000) < 0.05 hal ini menunjukkan bahwa penelitian ini menerima Ha dan menolak Ho. Sehingga penelitian ini menemukan adanya pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement pada siswa SMA Negeri 15 Medan. Adapun besar dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement yaitu sebesar 32,9%.
Kata Kunci: Dukungan sosial teman Sebaya, Student engagement, SMA Negeri 15 Medan
Abstract
Student engagement is the involvement of students in learning activities in a behavioral, emotional and cognitive manner to improve student learning outcomes (Trowler, 2010). Peers become one of the factors that influence student involvement in learning activities. Peers social support in several forms obtained by individuals from other people or from social groups owned by individuals (Sarafino, 2011). Subjects in this study were 150 students who were taken by accidental sampling method. The measuring instrument used in this study is the scale of peer social support with reliability values (rxx = 0.918) and student engagement with reliability values (rxy = 0.894). This research method is a correlational quantitative method. The data analysis method used is a simple regression analysis. The results of the data analysis of this study show that the p value (0.000) <0.05 indicates that this study accepts Ha and rejects Ho. So that this study found the influence of peer social support on student engagement in students of SMA Negeri 15 Medan. The large peer social support for student engagement is 32.9%.
Keywords: Peer social support, Student engagement, SMA Negeri 15 Medan
judul “Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Student Engagement Siswa SMA Negeri 15 Medan”. yang dibuat guna memenuhi syarat
kelulusan mata kuliah skripsi di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, peneliti mendapat banyak bantuan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua dan keluarga besar saya. Dimana selalu menyayangi dan mencintai saya, senantiasa menjadi motivasi bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Kemudian saya mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Zulkarnain Amien, Ph.D, Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Dian Ulfasari M.Si, psikolog selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing proposal seminar saya atas bimbingan, motivasi, saran yang ibu berikan kepada saya.
3. Ibu Fasti Rola, M.Psi, selaku dosen penguji II yang telah ikhlas membantu dan membimbing saya dalam menyelesaikan laporan skripsi saya.
4. Ibu Filia Dina Anggaraeni, M.Pd, selaku dosen penguji III yang telah ikhlas membantu dan membimbing saya dalam menyelesaikan laporan skripsi saya.
Mada, Erysa Adelia, Putri Aulia Khairunisa, Adinda Ulfa, dan Nita Afriani yang telah dengan senang hati membantu, dan mendukung saya. Tanpa kalian perkuliahan ini akan menjadi monoton. Kemudian yang terkhusus untuk teman posesif saya Pinta yang sudah sabar menghadapi saya kapanpun itu.
7. Teman-teman seperjuangan 2014 yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.
8. Seluruh civitas akademik Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara
Saya menyadari skripsi ini tidak luput dari berbagai kekurangan. Saya mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan dan perbaikannya sehingga akhirnya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi bidang psikologi pendidikan dan penerapan dilapangan serta bisa dikembangkan lagi lebih lanjut.
Medan, 12 September 2018
Eka Catur Akbar Putra 141301013
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR TABEL...vii
DAFTAR LAMPIRAN ...viii
BAB I PENDAHULUAN ...1
A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Rumusan Masalah ...10
C. Tujuan Penelitian ...10
D. Manfaat Penelitian...10
E. Sistematika Penulisan ...11
BAB II LANDASAN TEORI ...13
A. Student Engagement ...13
1. Definisi Student Engagement ...13
2. Dimensi-Dimensi Student Engagement ...14
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi...15
4. Kategori pada Student Engagement ...19
B. Dukungan Sosial Teman Sebaya ...20
1. Definisi Dukungan Sosial Teman Sebaya ...20
2. Bentuk Dukungan Sosial ...21
3. Sumber Dukungan Sosial ...22
4. Faktor yang Mempengaruhi Perolehan Dukungan Sosial ...23
BAB III METODE PENELITIAN ...28
A. Identifikasi Variabel ...28
B. Definisi Operasional ...28
C. Populasi, Sampel, dan Metode Penelitian Sampel ...30
D. Alat Ukur Penelitian ...31
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ...35
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur ...37
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ...40
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMABAHASAN ...44
A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ...44
B. Uji Asumsi Penelitian ...45
C. Hasil Uji Hipotesis Penelitian ...47
D. Hasil Tambahan Penelitian ...49
E. Pembahasan ...54
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...59
A. Kesimpulan ...59
B. Saran ...60
DAFTAR PUSTAKA ...62 LAMPIRAN
Tabel 3. Kategorisasi Norma Nilai DSTS ... 34
Tabel 4. Blue Print Skala DSTS sebelum Uji Coba ... 34
Tabel 5. Blue Print Skala Stundent Engagement setelah Uji Coba ... 38
Tabel 6. Blue Print Penomoran Ulang Skala Student Engagement ... 38
Tabel 7. Blue Print Skala DSTS setelah Uji Coba ... 39
Tabel 8. Blue Print Penomoran Ulang Skala DSTS ... 39
Tabel 9. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin ... 44
Tabel 10. Gambaran Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Kelas ... 44
Tabel 11. Hasil Uji Normalitas ... 46
Tabel 12. Hasil Uji Linearitas ... 47
Tabel 13. Hasil Uji Asumsi Heteroskedastisitas... 48
Tabel 14.Hasil Uji Autokorelasi dengan Runs Test ... 48
Tabel 15.Hasil Uji Determinasi R ... 49
Tabel 16. Uji T ... 49
Tabel 17. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik DSTS... 51
Tabel 18. Kategorisasi DSTS ... 51
Tabel 19. Nilai Empirik dan Nilai Hipotetik Student Engagement ... 52
Tabel 20. Kategorisasi Skor Student Engagement ... 53
Tabel 21. DSTS Berdasarkan Jenis Kelamin... 53
Tabel 22. Student Engagement Berdasarkan Jenis Kelamin ... 53
Lampiran B. Data Mentah Subjek Penelitian ... 73 Lampiran C. Hasil Penelitian ... 84 Lampiran D. Alat Ukur Penelitian ... 86
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan kunci utama tercapainya tujuan pembangunan bangsa di segala bidang. Oleh karena itu masalah pendidikan harus mendapat perhatian utama oleh semua kalangan. Dalam hal ini yang paling berperan menentukan kebijakan pendidikan adalah pemerintah. Semakin baik sistem pendidikan di suatu negara maka semakin baik pula kualitas pendidikan di negara tersebut. Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pasal 1 ayat (1): Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Undang-Undang No 20 Tahun 2003).
Tercapainya tujuan pendidikan nasional dapat ditunjukkan dengan prestasi belajar peserta didik. Prestasi belajar tersebut pada umumnya dikaitkan dengan tinggi rendahnya nilai yang diperoleh siswa. Menurut Sukmadinata (2003), prestasi belajar adalah realisasi dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Secara umum prestasi belajar seseorang tergantung pada usaha yang telah dilakukannya, semakin baik usaha untuk belajar maka hasil yang
rendahnya prestasi belajar, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh Slameto (2010) ada dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal terdiri dari faktor keluarga dan sekolah, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Kemudian faktor internal terdiri dari jasmani, psikologis, misalnya kesehatan, kondisi tubuh, intelligence quotient (IQ) minat, perhatian, bakat, dan kematangan.
Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar, faktor internal menjadi faktor penting dalam hal ini, yang dimana faktor internal ini muncul dari dalam diri seseorang salah satunya adalah minat dalam belajar. Hal ini menjadi penting dikarenakan prestasi belajar akan dapat dihasilkan kalau individu itu sendiri merasakan adanya ketertarikan yang ditimbulkan dari minat terhadap suatu pelajaran. Hal ini sesuai dengan yang di jelaskan oleh Slameto (2010) bahwa minat adalah rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada paksaan orang lain. Minat seseorang terhadap sesuatu akan ditunjukkan melalui kegiatan atau aktivitas yang berkaitan dengan minatnya. Siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan melakukan aktivitas yang mereka senangi dan akan ikut terlibat dalam proses pembelajaran serta memperhatikan yang guru berikan. Rasa senang dan ikut terlibat dalam proses pembelajaran merupakan hasil dari minat yang mereka miliki, dimana keterlibatan ini disebut dengan student engagement.
Student engagement diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas secara behavioral, emotional dan cognitive untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan siswa (Trowler, 2010). Student engagement di dalam kegiatan belajar penting dimiliki oleh seorang siswa. Ada
empat hal yang membuat student engagement penting dimiliki siswa, yaitu student engagement sebagai syarat untuk kegiatan belajar yang produktif, student engagement dapat memprediksi fungsi sekolah, student engagement pada siswa dapat dikendalikan dan dibentuk, student engagement juga dapat menjadi feedback bagi guru (Reeve, 2005).
Kuh (dalam Trowler, 2010) mengatakan bahwa student engagement mampu mengarahkan siswa pada tujuan yang ingin dicapai. Menurut Lester (2013) juga mengatakan bahwa student engagement merupakan cara yang dapat meningkatkan pembelajaran dan meningkatkan hasil yang lebih baik dari lembaga pendidikan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa student engagement merupakan salah satu faktor yang dapat membantu sekolah untuk mewujudkan visi yang ada.
Student engagement menjadi salah satu konsep untuk memperbaiki tingkat prestasi akademik yang rendah, tingkat kebosanan siswa yang tinggi, ketidakpuasan, dan tingginya angka putus sekolah di daerah perkotaan (National Research Council & Institute of Medicine, 2004). Dimensi student engagement dapat dilihat dalam definisi yang dikemukakan oleh Trowler (2010) yang mengatakan bahwa student engagement terdiri dari tiga dimensi yaitu behavioral engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement.
Dimensi yang pertama ialah behavioral engagement. Siswa menunjukkan behavioral engagement-nya dengan tingkah-laku yang bertujuan untuk melatih atau mengembangkan kemampuannya, baik yang bersifat pemahaman maupun yang bersifat keterampilan. Seorang siswa dengan behavioral engagement yang baik, akan mematuhi norma, hadir tepat waktu, tidak pernah absen dari kelas dan
tidak mengganggu proses pembelajaran. Selain itu, dimensi kedua dari student engagement yaitu emotional engagement. Siswa yang melibatkan emosinya dalam proses belajar akan tertarik secara pribadi menjalani proses belajar, menikmati proses pembelajaran dan memiliki sense of belonging. Siswa dengan emotional engagement yang baik akan menunjukkan student engagement-nya dengan menggunakan kognitif yang mereka miliki. Siswa dengan cognitive engagement yang baik akan lancar dalam mengerjakan ujian pelajaran yang dihadapinya, mengevaluasi pemahaman melalui nilai yang ia dapat ujian pelajaran, percaya diri untuk menghadapi ujian pelajaran dan akan menikmati tantangan. Ketika siswa memiliki tiga dimensi student engagement maka akan mencapai tingkatan keterlibatan dalam student engagement.
Terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi student engagement menurut Fredericks, Blumenfeld, & Paris (2004) yaitu school-level, classroom context, individual needs. Classroom context menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi student engagament, yang didalamnya terdapat teman sebaya, Dalyono (2009) menjelaskan bahwa teman sebaya juga memberikan pengaruh belajar pada siswa. Teman yang pintar dan rajin belajar, akan membuat siswa untuk mengikuti temannya untuk belajar, begitupun sebaliknya. Apabila teman sebayanya malas, lambat laun siswa tersebut juga akan mengikuti kebiasaan malas belajar dari temannya tersebut. Kemudian penerimaan teman sebaya dikaitkan dengan kepuasan siswa di sekolah, yang merupakan aspek dari keterlibatan emosional. Anak-anak yang ditolak selama disekolah memiliki resiko yang lebih
besar untuk perilaku yang buruk dalam berpartisipasi di kelas (Berndt & Keefe, 1996).
Dukungan sosial teman sebaya merupakan suatu bentuk pemberian bantuan, perhatian, penghargaan, pertolongan, dorongan, semangat, dan nasihat yang dapat membuat seseorang merasa memiliki kesenangan, ketenangan, atau kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan tingkat usia, tingkat kedewasaan, ciri-ciri, norma, dan kebiasaan (Nurwati, 2009). Hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Ahmed (dalam Soukotta, 2010) menyatakan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap prestasi belajar. Sebab saat seseorang merasa mendapat kenyamanan dan dukungan secara psikis dan sosial akan membuat semangat dan kepercayaan diri seseorang dalam belajar ataupun dalam mengerjakan tugas meningkat sehingga berpengaruh juga terhadap prestasi belajarnya.
Dukungan sosial teman sebaya yang dimaksud adalah dukungan sosial seperti diungkapkan oleh Gottlieb (1983) yang menyatakan dukungan sosial terdiri dari informasi atau nasihat verbal maupun non verbal yang berupa bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh adanya keakraban atau adanya kehadiran seseorang dan bermanfaat serta mempengaruhi perilaku emosi dari pengaruh negatif serta tekanan hidup.
Terdapat empat bentuk dari dukungan sosial yang dapat diberikan menurut Sarafino (2011). Yang pertama dukungan emosional dimana dukungan yang diberikan oleh teman sebaya dalam bentuk ekspresi perhatian (caring and concern) dan dorongan (encouragement) kepada individu. Individu yang
menerima dukungan ini akan merasakan nyaman, diperhatikan, penghargaan, belongingness dan merasa bahwa dirinya dicintai. Kemudian yang kedua adalah dukungan instrumen yang dimana dukungan ini diberikan dalam bentuk instrumen atau materi. Misalnya individu yang sedang kekurangan uang diberikan pinjaman uang, dengan menerima dukungan jenis ini akan membantu individu dalam waktu tersebut dan juga akan merasa terbantu secara materi. Kemudian ketiga dukungan informasional dukungan sosial yang dapat diberikan adalah dukungan berupa nasehat, arahan, petunjuk atau feedback terhadap sesuatu yang dilakukan oleh individu. Lalu yang terakhir adalah dukungan persahabatan dukungan ini berupa ketersediaan orang lain untuk berbagi waktu dengan individu. Dukungan sosial ini membuat individu dapat berbagi perasaan, informasi dan ketertarikannya.
Penelitian yang dilakukan Laimeheriwa (2017) yang melihat hubungan relasi guru siswa dan dukungan sosial teman sebaya dengan keterlibatan belajar siswa di sekolah yang dilakukan di Surabaya didapatkan hasil bahwa dengan adanya dukungan sosial teman sebaya, siswa akan merasakan dirinya berharga dan siswa merasa memiliki teman yang memberikan perhatian dan dukungan kepadanya yang berdampak positif pada keterlibatan siswa yang secara aktif terlibat dalam proses belajar di kelas maupun kegiatan yang diadakan oleh sekolah. Penelitian lainnya oleh Ginty & Boland (2016) menemukan bahwa siswa perlu dimotivasi untuk belajar dan terlibat dalam pembelajaran. Faktor yang mempengaruhi siswa tersebut adalah teman sebaya, lingkungan belajar, teknik pembelajaran.
Di kota Medan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang operasionalnya ditanggung oleh pemerintah berjumlah 21 SMA Negeri, salah satu SMA Negeri dikota Medan dalah SMA Negeri 15 (Kemdikbud, 2018). SMA Negeri 15 Medan merupakan sekolah yang memiliki akreditasi A dengan nilai akreditasi 88,26.
Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut dikarenakan SMA Negeri 15 Medan memiliki perbedaan dengan sekolah yang lain dimana sekolah ini sering mengikuti dan memenangkan ajang perlombaan penelitian siswa tingkat kota dan nasional dibandingkan SMA yang lain. Semua prestasi yang didapatkan oleh sekolah sesuai dengan terwujudnya visi sekolah yaitu berprestasi, disiplin, kompetitif yang dilandasi iman, taqwa dan berwawasan lingkungan. Visi ini diwujudkan juga oleh siswa dengan prestasi tingkat kota dan nasional yaitu mendapatkan peringkat I Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) bidang IPS kota Medan tahun 2016, peringkat III Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) bidang IPS kota Medan tahun 2016, peringkat Harapan III Film Dokumenter Sejarah Direktorat Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2016, peringkat I, II dan III Olimpiade Geografi Unimed tahun 2016, selain prestasi siswa masih terdapat masalah-masalah yang dihadapi sekolah yang biasanya bersumber dari siswa yaitu bolos sekolah, tidak mengikuti kegiatan belajar di kelas, bermain gadget ketika proses belajar mengajar berlangsung informasi ini didapatkan melalui hasil wawancara kepada siswa SMA Negeri 15 Medan.
Prestasi yang sudah didapatkan akan lebih baik jika masalah yang terjadi disekolah berkurang, dengan adanya student engagement yang tinggi akan
memperbaiki tingkat prestasi akademik yang rendah, tingkat kebosanan siswa yang tinggi, ketidakpuasan, dan tingginya angka putus sekolah di daerah perkotaan (National Research Council & Institute of Medicine, 2004).
Berdasarkan hasil preliminary research dengan survey yang sudah dilakukan terhadap siswa SMA Negeri 15 Medan yang dimana dari 71 siswa-siswinya menjawab orang tua yang membuat siswa ikut terlibat dalam proses belajar mengajar sebanyak 11 (15,9%) dan yang menjawab guru sebanyak 23 (33,3%) kemudian yang menjawab teman sebaya sebanyak 35 (50,7%). Terlihat bahwa teman sebaya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini juga didukung dengan jawaban siswa yang dimana mengobrol dengan teman sebaya saat proses belajar mengajar berlangsung sebanyak 43 (69,3) siswa. Berdasarkan preliminary research yang dilakukan peneliti juga melakukan dengan metode wawancara dan observasi bahwa student engagament siswa di SMA Negeri 15 Medan lebih dipengaruhi oleh dukungan sosial teman sebaya. Hal ini bisa dilihat dari wawancara peneliti kepada siswa.
“Aku bang dikelas itu kalok diajak kawan ku duduk dikantin mau aja aku bang, aku jugak ngerasa gak jelas trus gak ngerti aku mau belajar apa bang”
(Komunikasi Personal, 2017)
“Aku sama kawan ku bang kalok udah bosan belajar buat rencana kami bang, purak-purak kami sakit perut trus ke kamar mandi la kami permisi.
Padahal kami bukan ke kamar mandi tapi kami ke UKS tidur-tiduran aja”
(Komunikasi Personal, 2017)
“Kawan ku sering bang pas aku lagi belajar di chatnya aku bang, diajaknya aku main Mobile Legend sama dia. Yaudahla terakhirnya gak ku dengarkan apa kata guru ku didepan itu”
(Komunikasi Personal, 2017)
Berdasarkan pemaparan di atas terlihat bahwa teman sebaya merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi student engagament siswa. Hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti juga menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya mempengaruhi student engagament siswa saat dikelas. Hal ini terlihat dari hasil observasi yang peneliti lakukan saat siswa sedang mengikuti proses belajar mengajar di kelas, peneliti melihat dari balik jendela bahwa terdapat siswa yang mengajak temannya untuk mengobrol dan menggunakan gadget. Sehingga peneliti tertarik untuk melihat seberapa besar pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa SMA Negeri 15 Medan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah diungkapkan sebelumnya maka permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut Apakah ada pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa SMA Negeri 15 Medan? Selain itu, Berapa besar pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa SMA Negeri 15 Medan?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan ada atau tidak ada pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement. Selain itu
juga bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa SMA Negeri 15 Medan.
D. Manfaat Penelitian
Penulisan penelitan mengenai pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement SMA Negeri 15 Medan. Hal-hal tersebut antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan literatur dan pemikiran untuk mengembangkan ilmu Psikologi Pendidikan berkaitan dengan dukungan sosial teman sebaya terhadap student engagement siswa.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi sekolah, agar menjadi bahan perhatian bagi guru pengajar agar senantiasa memperhatikan siswa dalam lingkungan sosial siswa untuk suatu kepentingan tertentu dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan disekolah yaitu student engagement siswa.
b) Bagi siswa, agar siswa lebih mengetahui bahwa dukungan sosial teman sebaya dapat mempengaruhi pembelajaran siswa, dengan begini kegiatan pembelajaran di kelas akan semakin aktif dan lebih baik.
E. Sistematika Penulisan Bab I. Pendahuluan
Pada bab ini akan dijelaskan secara singkat mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, serta sistematika penulisan.
Bab II. Tinjauan Pustaka
Bab ini akan menyajikan tinjauan literatur terkait pembahasan teori tentang student engagement dan dukungan sosial teman sebaya sebagai referensi untuk penelitian ini.
Bab III. Metodelogi Penelitian
Bab ini akan membahas mengenai definisi operasional variabel, penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, serta metode analisis data.
Bab IV :Analisa Dan Pembahasan Data
Bab ini menguraikan gambaran umum subjek penelitian, hasil uji asumsi, hasil penelitian, hasil analisa tambahan, dan pembahasan hasil penelitian.
Bab V :Kesimpulan Dan Saran
Bab ini menguraikan kesimpulan dan saran dari penelitian yang telah dilakukan.
A. Student Engagement
1. Definisi Student Engagement
Student Engagement diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas secara perilaku, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan siswa (Trowler, 2010). Selain itu, Fredricks et.al (2004) menyebutkan bahwa student engagement berkaitan dengan hasil akademik yang positif, termasuk prestasi dan ketekunan di sekolah. Hal itu akan meningkat dengan dukungan dari guru serta rekan-rekan di kelas, tantangan sebuah tugas, peluang untuk mengambil pilihan, dan struktur yang memadai.
(Skinner et al, 1990) Student engagement merupakan faktor prediktor penting dalam keberhasilan pembelajaran karena memperlihatkan tingkat perhatian, usaha, emosi positif dan komitmen dari seorang siswa dalam proses belajarnya. Siswa cenderung lebih sukses dalam proses pembelajaran jika ia memiliki keterlibatan secara aktif di dalam proses pembelajaran.
Kuh et al (2010) yang menyatakan bahwa student engagement sebagai partisipasi aktif di dalam kelas, yang mampu mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai, kemudian student engagement digunakan sebagai prediktor hasil pembelajaran yang baik jika siswa terlibat dalam aktivitas di dalamnya. Kuh dan Hu (2010) mendefinisikan hal yang sama yaitu student engagement adalah kualitas usaha siswa untuk tekun terhadap aktivitas yang bertujuan untuk
mencapai hasil yang diinginkan. Berdasarkan definisi yang dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan bahwa student engagement adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas baik secara perilaku, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar dan mampu mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai.
2. Dimensi-Dimensi Student Engagement
Dimensi student engagement dapat dilihat dalam definisi yang dikemukakan oleh Trowler (2010) yang mengatakan bahwa student engagement terdiri dari tiga dimensi.
a. Behavioral Engagement
Dimensi yang pertama ialah behavioral engagement. Siswa menunjukkan behavioral engagement-nya dengan tingkah laku yang bertujuan untuk melatih atau mengembangkan kemampuannya, baik yang bersifat pemahaman maupun yang bersifat keterampilan. Seorang siswa dengan behavioral engagement yang baik, akan mematuhi norma, hadir tepat waktu, tidak pernah absen dari kelas dan tidak menganggu proses pembelajaran. Contoh tingkah laku dari behavioral engagement adalah siswa hadir tepat waktu dan memiliki absen tidak lebih dari 3 kali dalam satu semester.
b. Emotional Engagement
Dimensi yang kedua yaitu emotional engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan melibatkan emosinya dalam proses belajar. Siswa dengan emotional engagement yang baik akan tertarik secara pribadi menjalani proses belajar, menikmati proses pembelajaran dan memiliki sense of belonging.
Contoh tingkah laku yang mencerminkan emotional engagement adalah siswa bersemangat dalam proses belajar mengajar.
c. Cognitive Engagement
Dimensi yang terakhir adalah cognitive engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan menggunakan kognitifnya. Siswa dengan cognitive engagement yang baik akan lancar dalam mengerjakan ujian pelajaran yang dihadapinya, mengevaluasi pemahaman melalui nilai yang ia dapat ujian pelajaran, percaya diri untuk menghadapi ujian pelajaran dan akan menikmati tantangan. Contoh tingkah laku yang mencerminkan cognitive engagement adalah ketika ujian, siswa belajar sampai larut malam untuk mendapatkan nilai yang diinginkan.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Student Engagement
Menurut Fredericks, Blumenfeld, & Paris (2004) terdapat tiga faktor yang dapat mempengaruhi student engagement, yaitu:
a. School-Level
Karakteristik dari sekolah dapat menurunkan keterasingan siswa dan meningkatkan involvement, engagement dan integration siswa di sekolah. Hal ini meliputi tujuan yang jelas dan konsisten, ukuran sekolah yang kecil, kebijakan dan manajemen sekolah mengenai partisipasi siswa, staff dan siswa yang mungkin untuk terlibat bekerjasama dan proses akademik yang memperbolehkan siswa untuk berkembang. Sebagai contoh, ukuran sekolah akan mempengaruhi behavioral dan emotional engagement. Kemungkinan siswa untuk berpartisipasi dan mengembangkan hubungan sosial akan lebih baik pada sekolah yang kecil
daripada yang besar. Siswa di sekolah yang kecil lebih ikut berpartisipasi pada ekstrakurikuler dan kegiatan sosial. Kemudian siswa yang merasa peraturan di sekolahnya kurang adil dalam mengimplementasikannya akan lebih sering tidak terlibat secara perilaku.
b. Classroom Context,
1) Dukungan Guru, dukungan guru dapat berupa akademik maupun interpersonal. Kualitas hubungan guru dengan murid pada tahun awal sekolah telah diasosiasikan dengan behavioral engagement seperti tingkat partisipasi dan self-directedness. Guru lebih suka dengan murid yang secara akademis kompeten, bertanggung jawab, dan dapat menyesuaikan dengan peraturan sekolah daripada mereka yang mengganggu dan agresif.
Kemudian keterlibatan guru secara positif diasosiasikan dengan keterlibatan siswa, sebaliknya keterlibatan siswa yang tinggi akan memunculkan kerlibatan guru yang besar.
2) Teman Sebaya, teman sebaya juga berpengaruh pada keterlibatan siswa.
Penerimaan teman sebaya pada anak-anak maupun remaja berhubungan dengan tingkat kepuasan di sekolah (yang mana hal ini adalah aspek dari emotional engagement), dan perilaku yang tidak tepat secara sosial dan upaya dalam akademis (yang mana hal ini adalah aspek dari behavioral engagement). Kemudian anak-anak yang ditolak ketika SD memiliki partisipasi kelas yang rendah, yang mana hal ini termasuk kedalam aspek behavioral engagement, dan rendahnya ketertarikan di sekolah (yang mana hal ini termasuk kedalam aspek dari emotional engagement).
3) Struktur Kelas, mengacu pada kejelasan dari harapan guru untuk perilaku akademik dan sosial dan konsekuensi apabila mereka gagal memenuhi harapannya tersebut. Guru yang memiliki harapan yang jelas dan memberikan respon yang konsisten akan memiliki siswa yang secara perilaku akan lebih terlibat. Siswa yang yang mempersepsikan norma- norma tersebut secara positif akan berhubungan dengan behavioral, emotional, dan cognitive engagement.
4) Dukungan Otonomi, kelas yang memiliki dukungan otonomi dikarakteristikkan dengan pilihan, berbagi keputusan, dan tidak adanya pengendalian eksternal seperti nilai atau hadian dan hukuman sebagai alasan untuk mengerjakan tugas sekolah atau berperilaku baik. Karena dengan mengendalikan lingkungan akan mengurangi ketertarikan, tantangan dan ketekunan.
5) Karakteristik Tugas, instruksi yang otentik dan dukungan sosial pada keterlibatan di sekolah dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi menunjukkan bahwa persepsi siswa SD, SMP dan SMA terhadap instruksi tersebut menjadi prediktor yang kuat dalam keterlibatan siswa. Kemudian persepsi terhadap tugas yang menantang diasosiasikan dengan setiap behavioral, emotional dan cognitive engagement.
c. Individual Needs
1) Need for relatedness, siswa akan lebih terlibat ketika konteks kelas dikaitkan dengan need for relatedness, hal ini sering terjadi di ruang kelas dimana guru dan teman sebaya membuat lingkungan yang peduli dan
mendukung. Siswa yang mempersepsikan relatedness tinggi, yang diukur dengan kualitas emosional mereka dalam menjalin hubungan, akan lebih terilbat dibandingkan dengan yang rendah. Kemudian persepsi relatedness siswa dengan guru, orang tua dan teman sebaya juga memiliki kontribusi pada emotional engagement siswa.
2) Need for autonomy, individu mempunyai kebutuhan untuk otonomi atau keinginan melakukan sesuatu karena alasan personal, daripada melakukan sesuatu tetapi tindakan mereka dikendalikan oleh orang lain. Beberapa penelitian telah menguji hubungan antara keterlibatan dan kebutuhan untuk otonomi. Siswa yang terlibat dengan alasan otonomi (internal), seperti melakukan kegiatan yang diluar ketertarikannya atau hanya untuk kesenangan saja, memiliki hubungan yang positif dengan behavioral engagement (seperti tingkat partisipasi dan keterlibatan dalam bekerja) dan emotional engagement (seperti ketertarikan dan kesenangan).
3) Need for Competence, kompetensi melibatkan kontrol, strategi dan kapasitas. Ketika seseorang butuh untuk berkompetensi, mereka percaya akan dapat menentukan kesuksesan mereka, dapat mengerti apa yang harus dilakukan dan percaya untuk mencapai sukses. Beberapa penelitian telah menguji hubungan antara persepsi terhadap kompetensi dengan keterlibatan. Persepsi terhadap kompetensi dan keyakinan untuk mengendalikan diri diasosiasikan dengan behavioral dan emotional engagement.
4. Kategori pada Student Engagement
Trowler (2010) menjelaskan bahwa ada student engagement dikategorikan ke dalam 3 tingkatan yakni :
a. Positive Engagement
Kategori positive engagement adalah kategori yang paling tinggi. Pada kategori ini, siswa terlibat secara aktif. Artinya, siswa tertarik terhadap pelajaran, menghadiri jadwal kelas dan mendapatkan hasil yang diinginkan.
b. Non Engagement
Kategori non engagement merupakan kategori yang lebih rendah dari positive engagement. pada kategori ini siswa tidak terlibat dalam kegiatan sekolah dan tidak juga bolos kelas. Artinya, siswa hanya duduk diam di dalam kelas, mengalami kebosanan dan mengumpulkan tugas secara terlambat.
c. Negative Engagement
Kategori yang terakhir adalah negative engagement. Pada kategori ini siswa sama sekali tidak perduli dengan kegiatan sekolah yang sedang dijalani.
Siswa tidak datang di setiap jadwal kelas dan mengulang mata pelajaran.
B. Dukungan Sosial Teman Sebaya
3. Definisi Dukungan Sosial Teman Sebaya
Dukungan sosial merupakan bantuan, penghargaan, perhatian dan kenyaman yang diperoleh individu dari orang lain atau dari kelompok sosial yang dimiliki individu (Sarafino, 2011). Individu yang mendapatkan dukungan akan merasa bahwa ia dicintai, berharga dan merasa menjadi bagian dari sebuah jaringan sosial. Dukungan sosial memiliki efek kausal dalam proses psikologis.
Bahkan hebatnya dukungan sosial dapat digunakan untuk membantu orang yang sedang mengalami stress (Davidson,Neale & Kring, 2002).
Menurut Cohen (2004) dukungan sosial mengacu pada sumber daya materi, informasi dan psikologis yang berasal dari jaringan sosial individu, dimana individu dapat memperoleh bantuan. Hogg & Vaughan (2011) menjelaskan bahwa dukungan sosial sangat diperlukan oleh individu. Untuk itu individu perlu memiliki jaringan dukungan sosial, yaitu orang-orang yang tahu dan peduli mengenai kita dan mereka yang siap untuk membantu pada saat mengalami kita sedang mengalami tekanan.
Dukungan sosial dapat berasal dari berbagai sumber. Orang-orang terdekat seperti orang tua, teman, sahabat dan saudara bisa menjadi sumber dukungan sosial. Dukungan sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dukungan sosial yang bersumber dari teman sebaya. Menurut Santrock (2009) teman sebaya adalah individu yang memiliki kesamaan usia atau tingkat kematangan.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2018) teman atau disebut juga dengan kawan, sahabat atau orang yang sama-sama berbuat/bekerja dan sebaya diartikan sebagai sama atau sejajar, misalnya usia, kemampuan atau pendidikannya. Dari pengertian tersebut bisa dikatakan bahwa teman sebaya merupakan kawan yang sama atau sejajar dengan kita, baik usia, status maupun tingkatan pendidikannya. Teman sebaya yang dimaksudkan dalam pelitian ini adalah teman yang memiliki kesamaan daerah, jurusan dan tempat tinggal.
Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan bahwa dukungan sosial teman sebaya adalah suatu bantuan, perhatian, penghargaan dan kenyamanan yang
diperoleh individu dari teman sebaya yang membuat individu penerima bantuan merasa terbantu, nyaman, diperhatikan dan merasa sebagai bagian dari kelompok sosial.
4. Bentuk Dukungan Sosial
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa individu perlu untuk mendapatkan dukungan sosial, namun yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dapat diberikan oleh dukungan sosial kepada individu. Untuk itu, berikut akan dijelaskan bentuk-bentuk dukungan sosial dan bentuk dukungan yang diberikan (Sarafino, 2011).
a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional adalah dukungan yang diberikan oleh teman sebaya dalam bentuk ekspresi perhatian (caring and concern) dan dorongan (encouragement) kepada individu. Individu yang menerima dukungan ini akan merasakan nyaman, diperhatikan, penghargaan, belongingness dan merasa bahwa dirinya dicintai
b. Dukungan Instrumen
Dukungan ini diberikan dalam bentuk instrumen atau materi. Misalnya individu yang sedang kekurangan uang diberikan pinjaman uang. Dengan menerima dukungan jenis ini akan membantu individu dalam waktu tersebut dan juga akan merasa terbantu secara materi.
c. Dukungan Informasional
Dukungan sosial yang dapat diberikan adalah dukungan berupa nasehat, arahan, petunjuk atau feedback terhadap sesuatu yang dilakukan oleh individu.
d. Dukungan Persahabatan
Dukungan ini berupa ketersediaan orang lain untuk berbagi waktu dengan individu. Dukungan sosial ini membuat individu merasa sebagai anggota dalam suatu kelompok, ia bisa berbagi perasaan, informasi dan ketertarikannya.
5. Sumber Dukungan Sosial
Dukungan sosial bisa berasal dari berbagai sumber, misalnya seperti keluarga, teman sebaya, rekan kerja, dokter, psikolog atau kelompok dukungan (Sarafino, 2011). Akan tetapi, ketersediaan dukungan sosial ini berbeda-beda tergantung pada gender, hubungan antara pemberi dan penerima dukungan sosial, konteks sosiokultural dan karakteristik kepribadian pemberi dukungan sosial (Cohen, 2004). Orang yang mendapatkan dukungan sosial yakin bahwa mereka dicintai dan beharga dan bagian dari jaringan sosial seperti keluarga atau kelompok dukungan dapat membantnya saat sedang membutuhkan pertolongan atau saat sedang dalam bahaya (Sarafino, 2011).
4. Faktor yang Mempengaruhi Perolehan Dukungan Sosial
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perolehan dukungan sosial menurut Sarafino (2011). Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Penerima Dukungan Sosial yang Potensial
Individu yang tidak socialable cenderung tidak suka menerima dukungan sosial, begitu juga dengan individu yang tidak suka menolong orang lain, walau ia mengetahui bahwa ada yang sedang memerlukan bantuan. Ada juga individu yang tidak asertif menyatakan bahwa ia membutuhkan bantuan, merasa independen dan merepotkan orang lain dan juga tidak tahu siapa yang dapat dimintai tolong.
b. Pemberi Dukungan Sosial yang Potensial
Ada individu yang tidak sensitif dengan keadaan orang lain, tidak mempunyai sumber daya yang diperlukan atau berada dibawah tekanan, dalam keadaan tersebut individu tidak bisa mendapatkan dukungan sosial. Namun, perlu diingat bahwa ketersediaan dukungan sosial juga bergantung pada jaringan sosial yang dimiliki oleh individu. Ukuran, komposisi, kedekatan dan frekuensi pertemuan dengan individu dalam jaringan sosial akan mempengaruhi dukungan sosial yang diperoleh.
c. Gender dan Sosiokultural
Gender dan sosiokultural juga turut mempengaruhi dalam menerima dukungan sosial. Berdasarkan penelitian Greenglass & Noguchi (dalam Sarafino, 2011) dikatakan bahwa wanita menerima lebih sedikit dukungan sosial dari pasangannya, dibandingkan dengan lelaki dan lebih mendapatkan dukungan sosial dari temannya (sesama laki-laki). Faktor sosiokultural juga mempengaruhi, dibuktikan dengan penelitian Gottlieb & Green (dalam Sarafino, 2011), yang menyatakan bahwa orang kulit hitam memiliki jaringan sosial yang lebih kecil dibandingkan dengan orang yang berkulit putih dan orang Hispanik. Hispanik cenderung memperoleh dukungan sosial dari keluarga besarnya, sementara orang kulit hitam memperoleh dukungan sosial dari keluarga dan kelompok di gereja dan orang kulit putih memiliki banyak teman dan rekan kerja sebagai sumber dukungan sosialnya.
5. Dampak Dukungan Sosial
Dukungan sosial memiliki dampak positif terhadap motivasi, hal ini dibuktikan dalam penelitian Tezci,dkk (2015) mengenai dukungan sosial dan motivasi. Menurut Tezci,dkk (2015) dukungan sosial memiliki peran yang signifikan terhadap motivasi dan pencapaian akademik individu. Dukungan, apresiasi dan pujian dari keluarga, teman sebaya dapat meningkatkan motivasi dan tingkat pencapaian akademik individu.
Dukungan sosial memiliki dampak baik positif maupun negatif. Dukungan sosial dirasa berdampak positif apabila, dukungan sosial dapat membantu individu untuk mengatasi tekanan baik secara langsung maupun secara tidak langsung Cohen (dalam Sarafino, 2011). Menurunkan tingkat kecemasan individu Sarason, Pierce, Sarason (dalam Sarafino, 2011) dan meningkatkan perasaan diterima (sense of acceptance). Ketika lingkungan di sekitar individu sangat mendukung individu dalam waktu tertentu, maka tingkat kecemasan yang rendah serta rasa keberhargaan diri (self worth) akan menjadi bagian yang stabil dalam kepribadian individu.
Dukungan sosial juga dapat memberikan dampak negatif, ada kondisi tertentu yang membuat individu tidak selalu merasakan dukungan sosial yang diterima adalah dukungan (Dunkel-Schetter & Benne dalam Sarafino, 2011). Hal ini terjadi apabila bantuan yang diberikan tidak sesuai atau diberikan dengan cara yang salah, atau individu merasa tidak membutuhkan bantuan. Terkadang individu juga menganggap menerima bantuan adalah pertanda bahwa individu
dianggap tidak mampu dalam menyelesaikan masalahnya dan akan mengakibatkan penuruan self-esteem Lepore (dalam Sarafino, 2011).
C. Dinamika Pengaruh Dukungan Sosial Teman Sebaya Terhadap Student Engagement Siswa
Student Engagement diartikan sebagai keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas secara behavioral, emotional, cognitive untuk meningkatkan hasil belajar dan perkembangan siswa (Trowler, 2010). Selain itu, Fredricks et.al 2004 menyebutkan bahwa student engagement berkaitan dengan hasil akademik yang positif, termasuk prestasi dan ketekunan di sekolah. Hal itu akan meningkat dengan dukungan dari guru serta rekan-rekan di kelas, tantangan sebuah tugas, peluang untuk mengambil pilihan, dan struktur yang memadai.
(Skinner et al, 1990) Student engagement merupakan faktor prediktor penting dalam keberhasilan pembelajaran karena memperlihatkan tingkat perhatian, usaha, emosi positif dan komitmen dari seorang siswa dalam proses belajarnya. Kuh et al (2010) yang menyatakan bahwa student engagement sebagai partisipasi aktif di dalam kelas, yang mampu mengarahkan pada tujuan yang ingin dicapai. Student engagement digunakan sebagai prediktor hasil pembelajaran yang baik jika siswa terlibat dalam aktivitas di dalamnya (Krause dan Coates, 2008).
Trowler (2010) yang mengatakan bahwa student engagement terdiri dari tiga dimensi. Dimensi yang pertama ialah behavioral engagement. Siswa menunjukkan behavioral engagement-nya dengan tingkah-laku yang bertujuan untuk melatih atau mengembangkan kemampuannya, baik yang bersifat pemahaman maupun yang bersifat keterampilan. Dimensi yang kedua yaitu
emotional engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan melibatkan emosinya dalam proses belajar. Siswa dengan emotional engagement yang baik akan tertarik secara pribadi menjalani proses belajar, menikmati proses pembelajaran dan memiliki sense of belonging. Dimensi yang terakhir adalah cognitive engagement. Siswa menunjukkan student engagement-nya dengan menggunakan kognitif nya. Siswa dengan cognitive engagement yang baik akan lancar dalam mengerjakan ujian pelajaran yang dihadapinya, mengevaluasi pemahaman melalui nilai yang ia dapat ujian pelajaran, percaya diri untuk menghadapi ujian pelajaran dan akan menikmati tantangan.
Tingkatan-tingkatan dalam student engagement terbentuk karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement diantaranya school level, classroom context, individual needs
Fredericks, Blumenfeld, & Paris (2004), yang dimana setiap faktor memiliki beberapa dimensi. salah satu dimensi yang menjadi faktor yang mempengaruhi student engagementadalah teman sebaya hal ini sesuai dengan yang dijelaskan oleh Mc Iver Reuman (Brewster & Fager, 2000) yang menyatakan bahwa teman sebaya memiliki posisi penting dikarenakan pada saat usia 12-17 atau biasanya pada siswa SMP dan SMA, tingkat engagement siswa sangat dipengaruhi oleh keberadaan mereka.
Teman sebaya banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan remaja, salah satunya adalah dukungan sosial yang bisa didapatkan dari teman sebaya. Menurut Nurwati (2009) dukungan sosial teman sebaya merupakan suatu
semangat, dan nasehat yang dapat membuat seseorang merasa memiliki kesenangan, ketenangan, atau kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan tingkat usia, tingkat kedewasaan, ciri-ciri, norma, dan kebiasaan. Sesuai yang telah dijelaskan oleh Nurwati hal ini sejalan dengan yang dijelaskan oleh Ahmed (dalam Soukotta, 2010) menyatakan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap prestasi belajar.
D. Hipotesa Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti membuat hipotesa bahwa
terdapat pengaruh dukungan sosial teman sebaya terhadap student enggamenet siswa SMA Negeri 15 Medan.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian adalah salah satu langkah yang penting dalam suatu penelitian ilmiah. Cara atau metode penelitian adalah alat untuk mencapai tujuan dan kualitas penelitian sangat ditentukan oleh cara atau metode yang digunakan.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang bersifat korelasional, yang bertujuan untuk melihat pengaruh antara satu variabel dengan variabel lain.
Pembahasan dalam penelitian ini meliputi rancangan penelitian, deskriptif penentuan subjek penelitian, instrument pengumpulan data, uji validitas, uji reliabilitas dan teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis.
A. Identifikasi Variabel
Menurut Azwar (2011) Identifikasi variabel merupakan langkah penetapan variabel-variabel utama dalam penelitian dan penentuan fungsi-fungsinya masing- masing. Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam, yakni variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y). Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang diselidiki pengaruhnya, sedangkan variabel terikat (Y) adalah variabel yang muncul sebagai akibat dari variabel bebas.
Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini ialah :
Variabel Bebas (Independent variable) : Dukungan Sosial Teman Sebaya Variabel Tergantung (Dependent variable) : Student Engagement
B. Definisi Operasional
Definisi operasional merupakan suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan karakteristik-karakteristik variabel tersebut yang dapat diamati
digunakan dalam penelitian : 1. Student Engagement
Definisi operasional dari student engagement adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas baik secara perilaku, emosi dan kognisi untuk meningkatkan hasil belajar dan mampu mengarahkan pada tujuan yang dicapai. Student engagement diukur menggunakan skala student engagement yang disusun menggunakan 3 dimensi yang dikemukakan oleh Trowler (2010), yakni behavioral engagement, emotional engagement dan cognitive engagement.
Total skor dari ketiga dimensi student engagement menunjukkan tingkat keterlibatan siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas guna meningkatkan prestasi belajar. Hasil pada skala ini menunjukkan bila semakin tinggi perolehan skor maka semakin tinggi tingkat student engagement pada siswa yang berarti semakin terlibat siswa dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas.
Sebaliknya, semakin rendah perolehan skor maka semakin rendah tingkat student engagement pada siswa yang berarti siswa tidak terrlibat dalam aktivitas pembelajaran di dalam kelas.
2. Dukungan Sosial Teman Sebaya
Definisi operasional dari dukungan sosial teman sebaya adalah suatu bentuk bantuan, yaitu emotional support, instrumental support, informational support, companionship support yang diperoleh individu dari teman sebaya yang membuat individu penerima bantuan merasa terbantu, nyaman, diperhatikan dan merasa sebagai bagian dari kelompok sosial. Dalam penelitian ini, dukungan sosial teman sebaya akan diungkap dengan menggunakan skala dukungan sosial
semakin tinggi perolehan skor maka semakin tinggi pula tingkat pengaruh dukungan sosial teman sebaya.
C. Populasi, Sampel, dan Metode Penelitian Sampel 1. Populasi dan Sampel
Populasi merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007).
Selain itu, populasi juga didefinisikan sebagai kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Sebagai suatu populasi, kelompok subyek ini harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subyek yang lain (Azwar, 2015). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa/i kelas X dan XI SMA Negeri 15 Medan yang berjumlah 439 orang.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling. Menurut Sugiyono (2007), Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur untuk dijadikan anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Di dalam teknik non probability sampling terdapat jenis accidental sampling. Accidental sampling merupakan pengambilan anggota sampel secara kebetulan, yaitu siapa saja yang secara insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel apabila orang tersebut dirasa sesuai untuk dijadikan
siswa yang ditunjukkan oleh pihak sekolah, yaitu dari kelas 10 dan kelas 11.
3. Jumlah Sampel Penelitian
Mengenai jumlah sampel, tidak ada batasan mengenai berapa jumlah ideal sampel penelitian. Azwar (2012) menyatakan bahwa secara tradisional, statistik menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 orang sudah cukup banyak. Dalam penelitian ini, jumlah total sampel adalah 150 orang.
D. Alat Ukur Penelitian
Alat ukur merupakan metode pengumpulan data dalam kegiatan penelitian yang mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai variabel yang diteliti (Hadi, 2000). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode skala. Menurut Hadi (2000), skala psikologis merupakan suatu alat ukur dengan menggunakan daftar pernyataan-pernyataan yang telah disiapkan dan disusun sedemikian rupa sehingga responden hanya tinggal memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Pada penelitian ini terdapat 2 skala yang digunakan yakni skala student engagement dan skala dukungan sosial teman sebaya.
1. Skala Student Engagement
Skala Student engagement disusun berdasarkan dimensi yang dikemukakan oleh Trowler (2010) yakni behavioral engagement, emotional engagement dan cognitive engagement. Model skala dibuat berdasarkan model skala Likert. Setiap aitem terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala disajikan dalam bentuk pernyataan yang mendukung (favorable) dan
Bobot penilaian untuk pernyataan favorable yaitu: SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1.
Sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan unfavorable yaitu: SS = 1, S = 2, TS
= 3, STS = 4. Hasil dari skala student engagement dibagi ke dalam 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Kategorisasi berdasarkan norma di tabel 4 berikut (Azwar, 2012) :
Tabel 1. Kategorisasi Norma Nilai Student Engagement
Rentang Nilai Kategorisasi
X ≥ (mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik) Tinggi (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) ≤ X <
(mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik)
Sedang X ≤ (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) Rendah
Tabel 2. Blue Print skala Student Engagement sebelum Uji Coba No Aspek-aspek
Student Engagement
Indikator Perilaku
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral engagement
- Kehadiran - Mematuhi Norma - Mengerjakan tugas
yang diberikan - Memberikan
pendapat ketika berdiskusi
21, 17, 13, 4, 19, 30, 5, 16
11, 9, 15, 26, 23, 22
14
2. Emotional Engagement
- Ketertarikan - Enjoyment
31, 10, 22, 6, 18, 14
24, 2, 28, 3, 33
11 3. Cognitive
Engagement
- Mengingat - Memahami
8, 32, 20, 27
25, 12, 29, 1 8
Total 33
2. Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Alat ukur dukungan sosial akan disusun berdasarkan bentuk dukungan sosial yang dikemukakan oleh Sarafino (2011), yaitu dukungan emosional (emotional support), dukungan penghargaan (esteem support), dukungaan instrumental (intrumental support), dukungan informasi (informational support) dan dukungan persahabatan (companionship support). Model skala dibuat berdasarkan model skala Likert. Setiap aitem terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), Sangat Tidak Sesuai (STS). Skala disajikan dalam bentuk pernyataan yang mendukung
2, STS = 1. Sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan unfavorable yaitu: SS = 1, S = 2, TS = 3, STS = 4. Hasil dari skala student engagement dibagi ke dalam 3 kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Kategorisasi berdasarkan norma di tabel 4 berikut (Azwar, 2012) :
Tabel 3. Kategorisasi Norma Nilai DSTS
Rentang Nilai Kategorisasi
X ≥ (mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik) Tinggi (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) ≤ X <
(mean hipotetik + 1.0 SD hipotetik)
Sedang X ≤ (mean hipotetik - 1.0 SD hipotetik) Rendah
Tabel 4. Blue Print Skala DSTS sebelum Uji Coba
Aspek Indikator Perilaku
Nomor Aitem
Jumlah Favour-
Able
Unfavour- able
Emotional Support
Atau Esteem support
Memperoleh empati (empathy) dan perhatian (caring and
concern) yang membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
6,11 10,22
8 Memperoleh
pandangan positif (positive regard) dan
dorongan (encouragement) dari
teman sebaya yang membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
9,25 16,15
Instrumental/
Tangible Support
teman sebaya apabila diperlukan
27,1 4,3
8 Memperoleh bantuan
(tenaga) dari teman sebaya saat memerlukannya
2 17,26,20
Informational Support
Memperoleh nasihat atau arahan serta feedback dari teman
sebaya
12 7,13,23 4
Companionship Support
Teman sebaya available saat dibutuhkan
28,19
5,8
Ada feel of 8 membership (merasa
sebagai bagian dari suatu kelompok) dengan teman sebaya
21,24 18,14
Jumlah 28
E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur 1. Validitas Alat Ukur
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana akurasi suatu tes atau skala dalam menjalankan fungsi pengukurannya.
Pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai variabel yang diukur seperti yang dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut (Azwar, 2012).
Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity).
diestimasi lewat pengujian terhadap kelayakan atau relevansi isi tes melalui analisis rasional oleh panel yang berkompeten atau melalui expert judgment.
Validitas isi peneliti peroleh melalui konsultasi dengan dosen pembimbing sehingga aitem-aitem yang telah dibuat memang mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah “apakah masing-masing aitem dalam tes layak untuk mengungkap atribut yang diukur sesuai dengan indikator keperilakuannya dan apakah aitem-aitem dalam tes telah mencakup keseluruhan domain isi yang hendak diukur (Azwar, 2012).
2. Reliabilitas Alat Ukur
Realibiltas merupakan penerjemahan dari kata reliability. Suatu pengukuran yang mampu menghasilkan data yang memiliki tingkat reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (Azwar, 2012). Reliabilitas alat ukur dapat dilihat dari koefisien reliabilitas yang merupakan indikator konsistensi aitem-aitem tes dalam menjalankan fungsi ukurnya secara bersama-sama.
Uji reliabilitas alat ukur ini menggunakan pendekatan konsistensi internal dimana estimasi reliabilitas pengukuran dilakukan dengan menggunakan satu bentuk tes yang dikenakan hanya sekali saja pada satu kelompok subjek (single- trait administration). Dengan menyajikan satu tes hanya satu kali, maka permasalahan yang mungkin timbul pada kedua metode estimasi reliabilitas terdahulu dapat dihindari (Azwar, 2012). Teknik yang digunakan untuk pengukuran reliabilitas alat ukur penelitian ini adalah teknik koefisien Alpha Cronbach. Untuk menguji reliabilitas ini menggunakan bantuan program SPSS.
3. Uji Daya Beda Aitem
Penelitian juga melakukan uji daya beda aitem. Daya beda suatu alat ukur dalam penelitian sangat diperlukan karena dapat diketahui seberapa cermat suatu alat ukur melakukan fungsinya. Daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan individu yang memiliki dan yang tidak memiliki atribut yang diukur. Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS 18.0 for windows untuk mendapatkan koefisien korelasi antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala. Komputasi ini menghasilkan koefesien korelasi aitem-total (rix). Kriteria pemilihan adalah menggunakan batasan daya beda aitem rix ≥ 0.30 Aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.30 dipakai dalam pengukuran selanjutnya. Sedangkan, aitem yang memiliki rix ≤ 0.30 dinterpretasikan memiliki daya beda aitem rendah dan tidak dipakai untuk pengukuran selanjutnya (Azwar, 2012).
F. Hasil Uji Coba Alat Ukur
1. Hasil Uji Coba Skala Student Engagement
Uji coba skala student engagement dilakukan kepada 300 siswa SMA Negeri 15 Medan kelas 10 dan kelas 11. Jumlah aitem yang diuji cobakan sebanyak 33 aitem. Setelah melakukan pengolahan sebanyak tiga kali didapat 28 aitem yang memenuhi batasan daya beda aitem ≥ 0.30 dengan reliabilitas (rxx’) 0.894 Sebanyak 5 aitem dinyatakan gugur dan dapat dilihat dalam tabel 5 berikut:
Tabel 5. Blue Print Skala Student Engagement setelah Uji Coba No Aspek-aspek
Student Engagement
Indikator Perilaku
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral engagement
- Kehadiran - Mematuhi Norma - Mengerjakan tugas
yang diberikan - Memberikan
pendapat ketika berdiskusi
21, 17, 13, 4, 19, 30, 5, 16
11, 9, 15, 26, 23, 22
14
2. Emotional Engagement
- Ketertarikan - Enjoyment
31, 10, 22, 6, 18, 14
24, 2, 28, 3, 33
11 3. Cognitive
Engagement
- Mengingat - Memahami
8, 32, 20, 27
25, 12, 29, 1 8
Total 33
Tabel 6. Blue Print Penomoran Ulang Skala Student Engagement No Aspek-aspek
Student Engagement
Indikator Perilaku
Favourable Unfavourable Total
1. Behavioral engagement
- Kehadiran - Mematuhi Norma - Mengerjakan tugas
yang diberikan - Memberikan
pendapat ketika berdiskusi
17, 14, 11, 3, 15, 25, 4, 13
8, 21, 18, 11
2. Emotional Engagement
- Ketertarikan - Enjoyment
6, 23, 20, 27, 26
24, 12, 28, 1, 22
10
Total 28
2. Hasil Uji Coba Skala Dukungan Sosial Teman Sebaya
Uji coba skala student engagement dilakukan kepada 300 siswa SMA Negeri 15 Medan kelas 10 dan kelas 11. Jumlah aitem yang diuji cobakan sebanyak 28 aitem. Setelah melakukan pengolahan sebanyak dua kali didapat 23 aitem yang memenuhi batasan daya beda aitem ≥ 0.30 dengan reliabilitas (rxx’) 0.918. Sebanyak 5 aitem dinyatakan gugur dan dapat dilihat dalam tabel 6 berikut:
Tabel 7. Blue Print Skala DSTS setelah Uji Coba
Aspek Indikator Perilaku
Nomor Aitem
Jumlah Favour-
Able
Unfavour- able
Emotional Support
Atau Esteem support
Memperoleh empati (empathy) dan perhatian (caring and
concern) yang membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
6, 11 10, 22
8 Memperoleh
pandangan positif (positive regard) dan
dorongan (encouragement) dari
teman sebaya yang membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
9, 25 16, 15
Instrumental/ Memperoleh pinjaman 27, 1 4, 3 8
Memperoleh bantuan (tenaga) dari teman
sebaya saat memerlukannya
2 17, 26, 20
Informational Support
Memperoleh nasihat atau arahan serta feedback dari teman
sebaya
12 7, 13, 23 4
Companionship Support
Teman sebaya available
saat dibutuhkan 28, 19 5, 8
Ada feel of 8 membership (merasa
sebagai bagian dari suatu kelompok) dengan teman sebaya
21, 24 18, 14
Jumlah 28
Tabel 8. Blue Print Penomoran Ulang Skala DSTS
Aspek Indikator Perilaku
Nomor Aitem
Jumlah Favour-
Able
Unfavour- able
Emotional Support
Atau Esteem support
Memperoleh empati (empathy) dan perhatian (caring and
concern) yang membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
1, 20 6, 15
7
Memperoleh pandangan positif (positive regard) dan
11 8, 22
membuat individu merasa nyaman dengan
teman sebaya
Instrumental/
Tangible Support
Memperoleh pinjaman uang atau barang dari teman sebaya apabila
diperlukan
23 5, 2
5 Memperoleh bantuan
(tenaga) dari teman sebaya saat memerlukannya
12, 14
Informational Support
Memperoleh nasihat atau arahan serta feedback dari teman
sebaya
3 16, 18, 7 4
Companionship Support
Teman sebaya available
saat dibutuhkan 19 21, 10
7 Ada feel of
membership (merasa sebagai bagian dari
suatu kelompok) dengan teman sebaya
17, 9 13, 4
Jumlah 23
G. Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian dilaksanakan dalam tiga tahap. Ketiga tahap tersebut terdiri dari (1) Tahap persiapan, (2) Tahap pelaksanaan, dan (3) Tahap pengolahan data.
1. Tahap Persiapan Penelitian
Tahap persiapan yang dilakukan oleh peneliti adalah :