• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap 4. Modal Ekonomi (Economic Capital)

1.2. Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Kredit Kupedes

2 3 4 5 6 7

Okt 2007 Nov 2007 Des 2007

Jasinga Leuw iliang Ciampea Ciomas Cisarua Cibinong Citereup Gunung Putri Jonggol Parung Semplak Bojonggede

Gambar 10. Perkembangan NPL BRI Unit di Supervisi Kantor Cabang Bogor (BRI Unit Ciampea, 2008)

Gambar 10 menunjukkan bahwa BRI Unit Ciampea memiliki NPL yang cukup besar dibandingkan dengan BRI Unit lain yang ada di wilayah Bogor. Hal ini mengindikasikan bahwa BRI Unit Ciampea memiliki tingkat kredit bermasalah yang relatif tinggi. Untuk itu, perlu adanya peningkatan manajemen risiko kredit guna meminimalisir kerugian. Manajemen risiko kredit ini di antaranya meliputi identifikasi risiko kredit, pengukuran risiko kredit, dan pengelolaan risiko kredit yang ada.

1.2. Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Kredit Kupedes

BRI Unit Ciampea dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi tidak terlepas dari keberadaaan risiko kredit. Risiko kredit merupakan risiko yang muncul akibat adanya ketidakpastian dalam pengembalian pinjaman, yakni kemungkinan ketidakmampuan debitur dalam mengembalikan pinjaman secara penuh dan tepat waktu. Secara garis

besar, faktor yang mempengaruhi risiko kredit Kupedes BRI Unit Ciampea terdiri dari faktor internal bank dan faktor eksternal bank.

Faktor Risiko Kredit Faktor Internal Bank Faktor Eksternal Bank Kualitas SDM Kuantitas SDM Kebijakan Bank Debitur Kebijakan Pemerintah Kondisi ekonomi dan politik Karakter Bencana alam Musibah Kegagalan usaha Suku bunga kredit Jangka waktu kredit Laju per-ekonomian

Gambar 11. Faktor yang mempengaruhi risiko kredit BRI Unit Ciampea

Dari faktor di atas, faktor yang paling mempengaruhi risiko kredit berdasarkan pengalaman BRI Unit Ciampea selama ini adalah kualitas SDM, karakter debitur, dan laju perekonomian debitur. Faktor tersebut yang dirasa bank paling mempengaruhi kualitas debitur dalam mengembalikan kredit.

37

1.2.1. Kualitas SDM

Salah satu pengelolaan paling penting dalam dunia perbankan di samping pemasaran bank adalah pengelolaan terhadap SDM. Hal ini karena SDM merupakan tulang punggung dalam menjalankan roda kegiatan operasional suatu bank. Untuk itu penyediaan SDM sebagai motor penggerak operasional bank harus dipersiapkan sebaik mungkin. Risiko kredit yang terkait dengan faktor SDM berkenaan dengan moral hazard dan morale hazard. Moral hazard terjadi bila karyawan dengan sengaja melakukan tindakan demi menguntungkan diri sendiri terutama dalam menjalankan tugasnya sehingga bisa meningkatkan risiko kredit. Morale hazard dapat terjadi karena ligkungan yang menyebabkan karyawan menjadi kurang hati-hati dalam melakukan transaksi kredit dengan debitur.

SDM yang paling mempengaruhi tingkat risiko kredit adalah Mantri atau analis kredit, karena Mantri bertanggungjawab dalam menganalisis calon debitur. Jika Mantri kurang cermat atau keliru dalam menganalisis calon debitur, maka akan mempengarahi kualitas pengembalian kredit oleh debitur kedepannya. Baik tidaknya debitur dalam menbayar angsuran kredit tergantung pada kejelian seorang Mantri dalam menilai karakter dan kelayakan calon debitur dalam menerima kredit. Untuk itu, Mantri dituntut untuk memiliki jiwa investigasi yang kuat berkenaan dengan tugasnya sebagai analis kredit. Selain itu, Mantri juga bertanggungjawab dalam pengawasan dan pembinaan debitur. Kurangnya pengawasan dan pembinaan terhadap debitur dapat menimbulkan kesalahan dalam penggunaan kredit oleh debitur, misalnya kredit yang diajukan oleh debitur adalah kredit untuk modal kerja tetapi dalam realisasinya kredit yang diterimanya digunakan untuk kegiatan konsumtif. Hal ini akan mempengaruhi kualitas debitur dalam mengembalikan kredit karena kredit yang diterimanya menjadi tidak menghasilkan nilai.

Selain Mantri, Kepala Unit juga mempengaruhi tingkat risiko kredit yang terjadi. Kepala Unit juga melakukan pengawasan dan

pembinaan terhadap debitur. Seorang Kepala Unit mempunyai tanggung jawab atas seluruh kegiatan operasional yang dilakukan oleh BRI Unit Ciampea. Selain itu, Kepala Unit memiliki kewenangan untuk menyetujui terealisasinya kedit Kupedes sampai batas 20 juta. Untuk permohonan kredit di atas 20 juta harus diajukan ke Kantor Cabang melalui Kepala Unit. Sehingga dalam memutuskannya, kepala Unit dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam mengambil keputusan.

1.2.2. Karakter Debitur

Karakter adalah sifat atau watak yang berkaitan dengan integritas dari calon debitur. Integritas ini sangat menentukan

willingness to pay atau kemauan membayar kembali debitur atas kredit yang diterimanya. Penilaian terhadap karakter agak sukar, khususnya terhadap calon debitur yang baru dikenal oleh bank. Karakter debitur tidak bisa langsung diketahui hanya dalam satu atau dua kali berinteraksi. Penilaian karakter ini bisa diperoleh dari menganalisis calon debitur langsung ataupun melaui pihak-pihak yang mengenal debitur. Jika analis kredit salah dalam menilai karakter calon debitur maka akan berdampak pada kualitas pengembalian kredit debitur nantinya.

Karakter debitur yang paling dinilai dalam menganalisis kredit adalah tingkat kejujuran dan kekoperatifan debitur. Di BRI Unit Ciampea, tidak sedikit calon debitur yang tidak jujur dengan merekayasa laporan keuangan dan kondisi keuangan usahanya guna mendapatkan kredit yang diajukan. Selain itu, banyak juga debitur yang melanggar perjanjian kredit yang telah disepakati antara debitur dan bank, seperti penggunaan kredit yang menyimpang dari tujuan kreditnya. Ketidakkoperatifan debitur bisa dilihat ketika debitur menghindar dan bersikap tidak ramah ketika ditagih, padahal ketika mereka mengajukan permohonan kredit sikap yang ditunjukkan sangat ramah dan bersahabat.

39

1.2.3. Laju Perekonomian Debitur

Laju perekonomian debitur mencerminkan tingkat ekonomi dan pendapatan debitur. Semakin baik laju perekonomian debitur maka semakin kecil risiko kredit yang dihadapi oleh bank, begitu juga sebaliknya.

Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Tenjolaya yang merupakan ruang lingkup BRI Unit Ciampea terletak di Bogor wilayah barat. Bogor wilayah barat ini memiliki laju perekonomian yang paling rendah dibandingkan dengan wilayah Bogor lainnya. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap PDRB dan pendapatan per kapita yang ditunjukkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi PDRB Kabupaten Bogor per wilayah pembangunan tahun 2002-2005

Wilbang Uraian

Barat Tengah Timur

PDRB 2002 10,43% 48,17% 40,86%

PDRB 2003 10,07% 49,07% 40,86%

PDRB 2004 9,59% 49,18% 41,23%

PDRB 2005 8,77% 49,59% 41,64%

PDRB per

kapita 2005 2,39 juta 7,93 juta 23,61 juta

Sumber: BAPPEDA Bogor, 2008

Tabel 4 mengindikasikan bahwa Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Tenjolaya merupakan daerah yang kurang potensial dilihat dari pembangunan ekonominya. Berarti dapat dikatakan bahwa masyarakat di kecamatan ini memiliki kemampuan yang rendah dalam menghasilkan laba dan pendapatan. Melihat kondisi tersebut, berarti BRI Unit Ciampea menghadapi risiko kredit yang tinggi dalam menyalurkan kreditnya.

Dokumen terkait