• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH DAN INTEPRETASI DATA

4.2 Profil Informan

4.3.3 Faktor Yang Mempengaruhi Solidaritas

Dalam setiap kehidupan bersama, solidaritas sosial diantara orang-orang yang hidup bersama itu sangat dibutuhkan. Adanya solidaritas sosial diantara anggota kelompok akan melahirkan kesadaran kolektif diantara mereka. Solidaritas sosial sendiri sebagaimana dikemukakan oleh Paul Jonhson (1986:181) diartikan sebagai satu keadaan hubungan antar individu dan/atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Dalam perspektif sosiologi, keakraban hubungan antara kelompok masyarakat itu tidak hanya merupakan alat dalam rangka usaha mencapai atau untuk mewujudkan cita-citanya, akan tetapi justru keakraban hubungan sosial tersebut sekaligus merupakan salah satu tujuan utama dari kehidupan kelompok masyarakat. Keadaan kelompok yang semakin kokoh selanjutnya akan menimbulkan sense of belongingness diantara anggotanya.

Berdasarkan hasil wawancara mendalam Informan yang juga sebagai anak tentara mengatakan intensitas kebersamaan menjadi faktor timbulnya solidaritas. Hal ini terungkap dari Informan yang diwawancarai :

”...kalau sehari-harinya kami main-main disini-sini aja bang. Kami setiap sore ya main-main sama bang, nanti kami kumpul dilapangan naik sepeda, main bola, berolahraga, volly jugak, kadang main Halang Rintang semua kami lakukan sama-sama... ....namanya diasrama bang, kalau bukan sesama kami siapa lagi?paling pun kalau enggak sama pas sekolah atau udah malam, karna kami udah dari kecil berkawan bang jadi udah dekat satu sama yang lain. ” (Hasil wawancara G.T pada 20 September 2016)

Kesimpulannya faktor intensitas kebersamaan yang rutin menyebabkan terjadinya penyadaran pola pikir akan pentingnya menjalin pertemanan dikarenakan kondisi lingkungan di asrama yang orang lain tidak bebas masuk kedalamnya sehingga anak-anak harus saling mengisi satu sama lain.

Hal ini juga ditambahkan oleh salah satu informan sekaligus teman G.T yang juga mengemukakan kebersamaan anak asrama tidak hanya berada didalam asrama saja tetapi juga diluar asrama. Hal ini terungkap dari Informan:

”...kami kalau main-main tiap sore bang, main-mainya itu dilapangan. Kalau sore dilapangan itu rame bang apalagi kalau pas ada kegiatan ibuk-ibuk olah raga rame kali lah bang karna orang itu juga bawak anaknya yang masih kecil-kecil. ...kami kalau main-main disini aja bang, paling kalau pas hari minggu atau hari libur kami mau jalan-jalan naik sepeda kalau enggak ke Galang ke Pakam. ...kalau anak-anak luar mana berani main-main kesini bang, paling kami yang main keluar itupun jarang seringan kalau keluar itu kami jalan-jalan naik sepeda

nyarik jalan-jalan tikus ke kota ” (Hasil wawancara F.G pada 20 September 2016)

Solidaritas sosial menekankan pada keadaan hubungan antar individu dan kelompok dan mendasari keterikatan bersama dalam kehidupan dengan didukung nilai-nilai moral dan kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Wujud nyata dalam kehidupan bersama akan melahirkan pengalaman emosional, sehingga memperkuat hubungan antar mereka. Seperti hasil wawancara kepada salah satu informan ini:

“…ya taulah kau hidup di asrama ini dek, banyak aturannya kayak mau keluar masuk aja kalau orang luar bilang agak ribet karna harus pake helm lah, lapor dulu lah kalau kami sih udah biasa, terus kalau mau keluar untuk jumpa sama keluarga harus ada izin dulu, kalau enggak diizinkan ya gak boleh. Hidup di asrama itu ada senangnya ada sedihnya. Senangnya kalau kita ada apa-apa disini banyak tetangga yang mau bantu terus sama ibuk-ibuknya pun kompak-kompak karna sama-sama di Persit itu, kalau sedihnya pas ditinggal suami berangkat operasi militer kan was-was entah terjadi apa-apa, anak masih kecil, tapi biasanya kalau orang itu berangkat operasi kami ibuk-ibuk jadi sering ngumpul untuk saling menguatkan karna merasa senasib sepenanggungan, hitung-hitung menghibur diri lah biar jangan terasa sepi kali dan enggak begitu kepikiran yang enggak-enggak tentang suami. Pas ngumpul anak kami bawak juga kan gak mungkin ditinggal dirumah mamaknya pigi bertandang.” (Ibu A.M. Hasil wawancara 21 September 2016)

4.3.3.2 Faktor nilai kekeluargaan sebagai sesama anak TNI

Berbicara mengenai faktor-faktor yang mendasari solidaritas sosial suatu kelompok tidak terlepas dari faktor-faktor yang mendasari manusia untuk bersatu atau berkelompok. Misalnya faktor pertalian keluarga atau berasal dari nenek moyang yang sama, berasal dari daerah yang sama, mempunyai minat dan kepentingan yang sama, keterikatan bersama pada satu institusi tertentu, dan lain sebagainya.

Asrama militer adalah sebuah lingkungan yang merupakan salah satu bagian dari institusi Yonif 121/Macan Kumbang. Mereka yang tergabung sebagai warga asrama berasal dari latar belakang yang sangat beragam. Misalnya dari segi asal daerah, suku, jenis kelamin, agama, pangkat, dan sebagainya. Asrama militer secara administratif merupakan sebuah pemukiman dibawah organisasi formal yang mempunyai peraturan yang tegas yang sengaja dibuat oleh Yonif 121/Macan Kumbang untuk mengatur hubungan antar sesamanya. Akan tetapi, disisi lain asrama militer diarahkan pada kelompok sosial yang bersifat paguyuban (gemeinschaft). Ini ditunjukkan dengan adanya nilai-nilai kekeluargaan yang sangat di junjung tinggi di Asrama militer. Nilai-nilai kekeluargaan inilah yang dianggap dapat menjadi pemersatu diantara warga arsrama militer. Ibu S, warga asrama yang penulis wawancarai mengatakan bahwa

“kekeluargaan di asrama ini sangatlah kental, itu dibuktikan dari saling tolong menolong dan saling bekerjasama yang selalu diterapkan dimana saja, dimulai dari kegiatan ibu-ibu Persit yang merupakan wadah pengembangan kualitas sosial, pendidikan, dan ekonomi para ibu seperti rekreasi bersama dengan anak, sebagai tempat curhat, dan saling mengingatkan kalau ada yang salah. …Pernah kejadian pas saya sedang di Pakam untuk menyelesaikan urusan, ibu salah satu anak menelepon dan mengatakan anaknya sakit di sekolah, jadi saya sebagai satu komplek asrama terdorong untuk melihat dan membawa anak itu pulang”. (wawancara 23 September 2016)

Adapun nilai kekeluargaan telah dibuktikan pada saat melakukan pertolongan pada saat terjadinya musibah seperti ketika mendapat informasi anak asrama yang bersekolah di Pakam sedang sakit dari ibunya dan meminta tolong pada Ibu S yang kebetulan beliau sedang berada di Pakam untuk menjemput, maka beliau menjemput anak tersebut dan membawanya pulang ke asrama.

Kata “keluarga” yang menjadi ciri dari masyarakat asrama sesungguhnya mempunyai makna yang dalam. Dalam literatur sosiologi disebutkan bahwa keluarga merupakan lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di masyarakat manapun di dunia, keluarga merupakan

kebutuhan manusia yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam kehidupan individu.

Dari penuturan Ibu S tersebut, tersirat bahwa kekeluargaan sebagai nilai yang disakralkan di asrama militer yang keseharian selalu diaplikasikan dalam menjalin hubungan sosial sesama warga asrama hal ini tidak terlepas dari interaksi anak-anak di asrama dimana mereka menginternalisasikan nilai kekeluargaan tersebut dalam berinteraksi dengan temannya .

Masyarakat asrama seyogyanya akan menjadi akrab antar satu dengan yang lain tanpa ada sekat-sekat jika nilai-nilai kekeluargaan ini betul-betul terinternalisasi dalam diri mereka. Kemudian Ibu H.U yang merupakan salah satu ibu dari anak tentara ini juga menegaskan bahwa

”Rasa kekeluargaan itu mestinya dibangun untuk menciptakan kekompakan sebagai sesama warga asrama dan juga solidaritas itu tidak bisa terbangun tanpa adanya kerjasama” (wawancara 23 September 2013)

Dari penuturan Ibu H.U diatas tercermin bahwa kekeluargaan memang semestinya menjadi perekat bagi mereka yang tergabung dalam suatu kelompok sosial yang mengklaim dirinya sebagai keluarga karena dalam sebuah keluarga terdapat keintiman hubungan dari para anggotanya. Faktor penyatu diantara mereka yang dominan adalah sebagai satu anggota kelompok atau sebagai sesama keluarga dan bukan yang lain. Nilai kekeluargaan yang dianut bersama ini kemudian akan melahirkan kesadaran kolektif sebagai anggota masyarakat di asrama Yonif 121/Macan Kumbang.

Menurut informasi yang penulis peroleh dari salah satu anak tentara yang menjadi informan dalam penelitian ini menyebutkan bahwa pada umumnya anak diasrama menjadikan profesi orangtua (tentara) sebagai kesamaan anak asrama sebagai penyatu diantara mereka. Berikut penuturan F.H mengatakan bahwa:

“…Hubungan anak yang terjalin di asrama Yonif 121/Macan Kumbang sangat baik, itu disebabkan karena aturaan di asrama membuat kita menjadi lebih

disiplin dan teratur, rasa sama-sama sebagai anak tentara juga membuat kita jadi solid seperti jiwa korsa prajuritlah”.(wawancara 22 februari 2013)

Dari penuturan Ibu S, Ibu H.U dan F.H diatas jelas menggambarkan dasar solidaritas di kalangan masyarakat asrama lebih terindentifikasi mengarah ke solidaritas mekanik yang lebih menekankan kerjasama, pembagian tugas yang baik, saling menghargai antar sesama.

4.3.3.3 Faktor Nilai Asrama Yonif 121/Macan Kumbang

Berbicara tentang asrama tentunya tidak terlepas dari nilai-nilai dan kebiasaan yang berlaku. Yonif 121/Macan Kumbang selaku institusi yang menaungi asrama militer disamping menegakkan aturan pada personel juga menanamkan nilai terhadap warganya termasuk juga kepada anak-anak. Seperti hasil wawancara kepada informan yang mengatakan

“…peraturan diasrama itu baik, karena dapat menanamkan nilai disiplin dan membuat anak menjadi tertib, ..kalau anak tentara di asrama apabila umurnya udah mencukupi untuk sekolah PAUD atau TK itu wajib disekolahkan disini, trus kita di TK ini juga ngajarkan nilai kebersamaan dan kedisiplinan sama mereka, seperti gak boleh bawa uang kalau sekolah, yang boleh bekal supaya pas istirahat dimakan sama-sama.” (Hasil wawancara Ibu S.S pada 24 September 2016)

Selain nilai kebersamaan dan kekeluargaan, penanaman nilai-nilai tentara juga diajarkan kepada anak sejak dini, hal ini diharapakan menjadi modal dasar dalam pertumbuhan anak. Seperti ditambahkan Bapak P yang berkata

“…disekolah TK itu juga ada peraturan kalau hari kami situ anak-anak sekolah pake baju loreng khas tentara tujuannya supaya dilambangkan sebagai symbol dari batalyon ini sendiri. (wawancara pada 23 september 2016)

Disamping penanaman nilai anak juga diajarkan dalam kegiatan fisik, rekreasi, dan pengenalan terhadap lingkungan Batalyon 121/Macan Kumbang. Hal ini dilakukan sembari memperkenalkan juga untuk pengembangan mental anak. Seperti yang dikutip dari informan

“kegiatannya di TK itu ada bermacam-macam kunjungan ke instansi-instansi seperti Kantor Pos dan Damkar, rekreasi keluar asrama itu orang tua gak boleh ikut dibus yang sama didalam satu bus itu cuma guru dan muridnya. Terus ada out bound, itu mereka bermain di Halang Rintang tempat tentara biasa latihan yang bertujuan sebagai pengenalan kegiatan orang tua, trus kalau tiap hari sabtu itu mereka ada kegiatan rekreasi pengenalan lingkungan dimana mereka diperkenalkan dengan lingkungan di batalyon dengan menggunakan mobil perang “Anoa”. (hasil wawancara Ibu S.S pada 24 september 2016)

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara mendalam yang penulis lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa penanaman nilai-nilai dan aturan sebagaimana anggota militer sudah diterapkan pada anak diusia dini, tidak saja penanaman nilai yang diberikan kepada anak tetapi juga implementasi langsung nilai-nilai dan aturan tersebut. Dengan hal ini diharapkan anak dapat menginternalisasi nilai dan aturan yang diajarkan untuk pengenalan terhadap identitas dirinya. 4.3.3.4 Faktor Jabatan Orang Tua di Asrama

Dari hasil observasi dan wawancara yang penulis lakukan, dikalangan anak-anak tentara Yonif 121/Macan Kumbang ada ditemukan individu-individu yang orientasinya berbeda antara satu dengan yang lain. Dari enam anak yang terpilih menjai informan dan mempunyai status berdasarkan tingkat pendidikan yang berbeda objek penelitian yaitu anak yang berpendidikan SD,SMP, dan SMA, penulis menemukan bahwa pada dasarnya hubungan sesama anak berjalan dengan baik karena kekerabatan dan kekeluargaan yang mendasari semuanya sehingga bisa berjalan dengan harmonis namun ada pula yang saling berkonflik satu dengan yang lain tapi itu tidak berkepanjangan karena langsung di selesaikan secara kekeluargaan.

Seperti keterangan yang diberikan K.S mengenai faktor penghambat yang menjadi kendala anak di asrama Yonif 121/Macan Kumbang dalam mewujudkan solidaritas sosial yaitu bahwa

“…dalam bergaul dengan teman-teman, sering juga terjadi selisih paham sampek terkadang pangkat orang tua dibawa-bawa apalagi kalau pangkat orang tua

enggak naik-naik anak bisa jadi malu karna mau diejek sama kawan-kawan…” (Wawancara 24 September 2016)

Melalui temuan data yang peneliti dapat dari informan bahwa disimpulkan didalam pergaulan sesama anak di lingkungan asrama Yonif 121/Macan Kumbang yang kental dengan jiwa solidaritasnya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pola pola interaksi dan solidaritas anak seperti saling ejek terhadap sesama anak.

BAB V PENUTUP

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

Interaksi dan solidaritas sosial anak tentara di Asrama Yonif 121/Macan Kumbang tidak terlepas dari peran para ibu yang termasuk didalam anggota organisasi yang ada di asrama yaitu Persit Chandra Kiranna yang mengakomodasi anak untuk terjun ke masyarakat asrama melalui bentuk ajakan terhadap anak pada saat kegiatan Persit Chandra Kiranna. Anggota Persit juga mempererat hubungan sosial anak melalui pengawasan dan pembinaan sekolah Pendidikan Usia Dini Kepompong dan Taman Kanak-Kanak Kartika 1-41.

Solidaritas sosial antar anak Asrama Yonif 121/Macan Kumbang tumbuh melalui bentuk penanaman nilai militer yang diterapkan oleh orang tua dan pihak Batalyon 121/Macan Kumbang, seperti penanaman nilai disiplin, tanggung jawab, dan jiwa korsa. Solidaritas sosial mampu memberikan makna tersendiri di kalangan anak di asrama Yonif 121/Macan Kumbang seperti mampu menjaga dan menjalin hubungan timbal balik antar anggotanya dalam setiap aktifitas sehari-hari di asrama.

Bentuk solidaritas sosial yang terjadi antara anak asrama Yonif 121/Macan Kumbang yaitu dlihat dari dasar solidaritas masyarakat asrama terindentifikasi sebagai solidaritas mekanik yang lebih menekankan kerjasama, pembagian tugas yang baik, saling menghargai antar sesama.

Terdapat dua bentuk interaksi yang terdapat pada anak di asrama Yonif 121/Macan Kumbang yaitu interaksi yang berbentuk kerjasama dan perselisihan. Hal ini dapat disimpulkan dari adanya kerjasama dalam aktifitas-aktifitas yang dilaksanakan di asrama Yonif 121/Macan Kumbang, seperti saling berbagi

makanan, dan mengerjakan PR, solidaritas sosial juga terjadi ketika membantu teman yang sedang mengalami musibah seperti membantu temannya yang sedang berkelahi, sementara bentuk perselisihan yang terjadi adalah rasa iri,

Hubungan sesama anak berjalan dengan baik karena kekerabatan dan kekeluargaan sehingga bisa berjalan dengan harmonis namun ada pula yang saling berkonflik satu dengan yang lain tapi itu tidak berkepanjangan karena langsung di selesaikan secara kekeluargaan.

Bahwa penanaman nilai-nilai dan aturan sebagaimana anggota militer sudah diterapkan pada anak diusia dini, tidak saja penanaman nilai-nilai yang diberikan kepada anak tetapi juga implementasi langsung nilai-nilai dan aturan tersebut. Dengan hal ini anak menginternalisasi nilai dan aturan yang diajarkan untuk pengenalan terhadap identitas dirinya.

SARAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya serta telah disimpulkan maka mendapatkan beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dan perlu ditingkatkan dalam kaitannya dengan interaksi sosial anak tentara di Asrama Militer Yonif 121/Macan Kumbang, antara lain adalah: Diharapkan kepada orang tua agar dapat menerapkan cara atau gaya yang baik dalam membina, mendidik, membimbing, mengarahkan, dan menuntun serta mengajarkan kepada anak-anak bukan dengan cara atau gaya ala militer.

Disarankan juga agar orangtua dan Asrama militer dapat berpartisipasi dalam membangun komunikasi yang intens antar sesama anak tentara dengan anak di luar asrama.

Disarankan agar pemerintah juga ikut berpartisipasi dalam upaya pemberian nilai sosial budaya pada anak tentara diasrama sebagai nilai tambahan terhadap nilai yang mereka terima dari asrama militer.

Diharapkan kepada semua elemen masyarakat di dalam asrama supaya menggunakan bentuk interaksi yang baik terhadap anak sehigga anak merepresentasi nilai yang baik apabila berinteraksi dengan teman diluar asrama. Disarankan pihak Batalyon Infanteri 121/Macan Kumbang dengan melibatkan lingkungan sekitar asrama untuk membuat kegiatan edukatif atau olahraga sebagai wadah penyaluran minat dan bakat anak.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Interaksi Sosial

Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, menyangkut hubungan antara individu, antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok (Soekanto, 2006 : 62). Interaksi sosial tidak terlepas dari lingkungan dan kebudayaan, pengaruh lingkungan turut serta memberi dampak terhadap bentuk interaksi.

Lingkungan merupakan tempat dimana berkumpulnya individu-individu yang membentuk suatu masyarakat dalam satu lokasi tertentu. Dalam masyarakat, masing-masing individu membawa karakter bawaan dari dirinya sendiri dan mengalami percampuran nilai dan norma dengan individu lain didalam lingkungan tersebut. Proses percampuran nilai dan norma akan membentuk suatu karakter baru pada masyarakat dilingkungan tersebut dan melahirkan norma-norma baru yang disepakati bersama.

Melalui norma yang disepakati, masyarakat didalam suatu lingkungan wajib mematuhi norma-norma yang dibuat. Berbeda dengan lingkungan warga pada umumnya, asrama militer merupakan suatu lingkungan yang memiliki aturan-aturan militer yang tegas dan juga disiplin yang tinggi. Didalam prosesnya, warga asrama akan mengalami proses internalisasi dan melalui norma tersebut akan membentuk kesamaan ide atau karakter tegas dan disiplin ala militer.

Di dalam interaksi sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi tersebut, yaitu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya interaksi tersebut. Adapun yang mendorong terjadinya interaksi sosial menurut Gerungan (1988 : 58) berdasarkan pada empat faktor yaitu sebagai berikut :

Dalam interaksi sosial, gejala imitasimemiliki peranan penting didalam proses sosial. Hal ini tampak jelas pada kebudayaan, asrama militer dan sebagainya. Dalam kamus istilah sosiologi di katakan bahwa imitasi adalah suatu usaha atau hasil usaha dari manusia untuk tampil atau berperilaku seperti pihak lain yang berinteraksi dengan diri (Hasjir, 2003 : 30).Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud dengan imitasi adalah tindakan seorang anak untuk meniru orang lain, baik dalam sikap maupun perilaku.

2. Faktor Sugesti

Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat di rumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara pengelihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu (Gerungan, 1988 : 61). Sugesti merupakan tindakan seseorang untuk memberi pandangan atau sikap yang kemudian diterima oleh pihak lain, sugesti mungkin terjadi jika orang yang memberi pandangan adalah orang yang berwibawa atau bersifat otoriter, atau orang tersebut merupakan bagian dari kelompok yang bersangkutan. Contoh di sekolah seorang guru memiliki kuasa untuk menanamkan nilai kebersamaan kepada muridnya.

3. Faktor Identifikasi

Identifikasi merupakan suatu dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain (Walgito, 2000 :72). Menurut kamus istilah sosiologi identifikasi adalah suatu proses atau hasil proses penempatan diri individu pada kedudukan serta peranan orang lain dan mengikuti pengalaman-pengalamannya (Hasjir, 2003 : 29).Dalam hal ini orang yang melakukan identifikasi mengenal betul orang lain yang menjadi idolanya. Sikap, perilaku, cara hidup orang yang menjadi idola nya dan sangat ia sukai sehingga dia ingin menjadi orang yang seperti itu. Tujuan dari proses identifikasi adalah individu yang bersangkutan ingin mempelajari tingkah laku maupun perilaku individu lain meskipun tanpa disadari sebelumnya dan baru disadari apabila proses ini telah membawa hasil. Imitasi merupakan tindakan seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain, contohnya, seorang anak yang bercita-cita ingin menjadi seperti idolanya.

4. Faktor simpati,

Simpati adalah perasaan yang terdapat dalam diri seseorang individu yang tertarik dengan individu yang lain. Prosesnya berdasarkan perasaan semata-mata tidak melalui penilaian yang berdasarkan resiko, dengan kata lain simpati adalah suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain (Soekanto, 2001 : 70). Faktor-faktor inilah yang mendorong dalam proses interaksi sosial yang terjadi pada anak di asrama Yonif 121/Macan Kumbang.

2.1.1 Pola Interaksi Sosial

Pola interaksi adalah bentuk dasar cara komunikasi individu dengan individu atau individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok dengan memberikan timbal balik antara pihak satu dengan yang lain dengan maksud atau hal-hal tertentu guna mencapai tujuan.Menurut Soekanto (2006:55) pola interaksi sosial merupakan gambaran hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang-perorangan dengan kelompok manusia.

Dengan demikian, didalam penelitian ini bentuk jalinan interaksi yang terjadi antara anak-anak tentara di asrama bersifat dinamis dan memiliki pola tertentu.Apabila interaksi sosial tersebut diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, akan terwujud hubungan sosial yang relatif mapan.Pola interaksi sangat kompleks, interaksi atau proses sosial (hubungan sosial yang dinamis) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Pola interaksi Asosiatif a) Kerja Sama (Cooperation)

Merupakan suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu atau beberapa tujuan bersama.Fungsi kerjasama digambarkan oleh Charles H.Cooley (Soekanto 2006:66) ”Kerjasama timbul

apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan

Dokumen terkait