• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

D. Anak Autis

4. Faktor Yang Menyebabkan Anak Autis

Autisme ini dapat terjadi sejak seorang bayi lahir, meskipun tidak sedikit juga anak-anak yang terdeteksi autis saat berusia 18-24 bulan. Artinya ketika lahir, bayi lahir normal, namun pada saat usianya 18-24 bulan, perkembangannya tiba-tiba terhenti karena penyebab tertentu, dan bahkan mengalami kemunduran.

Penyebab autis sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya autisme, yaitu: faktor generik, faktor hormoral, kelainan pranatal, proses kelahiran yang kurang sempurna, serta penyakit tertentu yang diderita sang Ibu ketika mengandung atau melahirkan sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan fungsi otak terganggu.20

19

Agustyawati dan Solicha,Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, h. 240.

20

Di bawah ini beberapa kelainan yang bisa terjadi pada anak autisme:21

a. Kelainan anatomis otak

Kelainan pada bagian-bagian tertentu otak yang meliputi cerebellum (otak kecil), lobus parietalis, dan system limbic ini mencerminkan bentuk-bentuk perilaku berbeda yang muncul pada anak-anak autis. 1. Cerebellum (otak kecil) merupakan bagian otak yang mengatur

kemampuan berbahasa, perhatian, kemampuan berpikir, daya ingat, dan proses sensoris. Kelainan pada bagian ini menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kemampuan di atas. Itu kenapa seringkali juga kita dapati anak autis mengalami kesulitan dalam pemusatan perhatian atau dalam berbahasa.

2. Kelainan pada lobus parietalis ini menyebabkan munculnya perilaku tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.

3. System limbic yang terdiri dari hypocampus dan amygdala adalah bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengaturan emosi.

Munculnya perilaku agresivitas atau emosi yang ‘naik turun’ dan

kesulitan untuk mengendalikannya disebabkan adanya kelainan di bagian ini. Amygdala juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan rasa takut, dan berbagai rangsangan sensoris seperi penciuman, rasa, perabaan dan penglihatan. Sedangkan hypocampus membantu kita dalam proses belajar dan daya ingat dalam menyimpan informasi baru, salah satu ciri yang menandai 21

Christopher Sunu,Panduan Memecahkan Masalah Autisme Unlocking Autisme, (Jogjakarta: Lintang Terbit, 2012), h. 9.

autism antara lain adalah adanya perilaku implusif untuk mengulang-ulang gerakan tertentu, ini juga disebabkan adanya kelainan pada hypocampus.

b. Faktor pemicu tertentu saat kehamilan

Beberapa faktor yang dapat memicu munculnya autism pada masa kehamilan terjadi pada masa kehamilan 0-4 bulan, bisa diakibatkan karena:

1. Polutan logam berat (Pb, Hg, Cd, Al)

2. Infeksi (toksoplasma, rubella, candida, dan sebagainya) 3. Zat aditif (pengawet, pewarna, MSG)

4. Hiperemesis (muntah-muntah berat) 5. Pendarahan berat

6. Alergi berat

c. Zat-zat aditif yang mencemari otak anak

Beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab autism pada anak antara lain seperti:

1. Asupan MSG (Monosodiumglutamat)

2. Protein tepung terigu (gluten), protein susu sapi (kasein) 3. Zat pewarna

4. Bahan pengawet

5. Bahkan beberapa ahli juga berpendapat bahwa jenis imunisasi seperti MRR dan Hepatitis B pada bayi dapat juga menjadi pemicu munculnya autisme

6. Polutan logam berat. Dari hasil tees pada darah dan rambut beberapa anak autis ditemukan kandungan logam berat dan beracun seperti arsenic, antimony, cadmium (Cd), air raksa (Hg), atau timbale (Pb). Diduga kemampuan tubuh anak autis tidak mampu melakukan sekresi terhadap logam berat akibat air raksa (Hg), atau timbale (Pb). Diduga kemampuan tubuh anak autis tidak mampu melakukan sekresi terhadap logam berat akibat masalah yang sifatnya genetis.

d. Kekacauan interpretasi dari sensori yang menyebabkan stimulus dipersepsi secara berlebihan oleh anak sehingga menimbulkan kebingungan juga menjadi salah satu penyebab autism

e. Jamur yang muncul di usus anak akibat pemakaian antibiotic yang berlebihan juga dapat memicu gangguan pada otak, karena jamur ini dapat menyebabkan kebocoran usus dan tidak tercernanya kasein dan gluten dengan baik sehingga protein yang ada tidak terpecah dengan sempurna dan terserap dalam aliran darah ke otak.

E. Sekolah Khusus

1. Pengertian Sekolah Khusus

Pendidikan Khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.22

22

Pemerintah mendefinisikan pendidikan khusus seperti tertuang pada pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, sebagai berikut: “Pendidikan khusus merupakan

pendidikan bagi peserta diidk yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan. Mereka memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak.

Anak autis membutuhkan pelayanan pendidikan khusus agar potensinya dapat berkembang secara optimal.

Barang kali masih sulit untuk membedakan antara pendidikan khusus dengan pendidikan inklusif. Maka penulis akan coba menguraikan perbedaan antara pendidikan khusus dan pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan pada sekolah umum yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus pada sekolah umum dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidikan inklusif adalah sebuah konsep atau pendekatan pendidikan yang berusaha menjangkau semua individu tanpa kecuali. Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental,

intelektual, social, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya.23

Sedangkan pendidikan khusus adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Contoh lembaga yang menyelenggarakan pendidikan khusus adalah Rumah Autis Bekasi dengan program sekolah khususnya.

2. Jenis-Jenis Pendidikan

Pendidikan merupakan upaya manusia untuk mengubah dirinya atau orang lain selama ia hidup. Pendidikan hendaknya lebih dari sekedar masalah akademik atau perolehan pengetahuan, skill dan mata pelajaran konvensional, melainkan harus mencakup berbagai kecakapan yang diperlukan untuk menjadi manusia lebih baik.

Karena itu pendidikan hendaknya meliputi apresiasi terhadap estetika, pembentukan sikap, pembentukan nilai-nilai dan aspirasi dan informasi tentang berbagai hal dalam kehidupan.

Philips H. Coombs mengategorikan metode menjadi tiga, yaitu informal, formal dan nonformal.24

a. Pendidikan Informal

Proses belajar sepanjang hayat yang terjadi pada setiap individu dalam memperoleh nilai-nilai, sikap, keterampilan dan pengetahuan melalui pengalaman sehari-hari atau pengaruh pendidikan dan sumber-sumber lainnya disekitar lingkungannya. Hampir semua bagian prosesnya 23

Dedy Kustawan,Pendidikan Inklusif dan Upaya Implementasinya, h. 8.

24

H.M. Saleh Marzuki,Pendidikan Nonformal Dimensi dalam Keaksaraan Fungsional, Pelatihan, dan Andagogi(Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2010), h. 137.

relatif tidak terorganisasikan dan tidak sistematik. Meskipun demikian, tidak berarti hal ini menjadi tidak penting dalam proses pembentukan kepribadian.

b. Pendidikan Formal

Proses belajar terjadi secara hierarki, tersktruktur, berjenjang, termasuk studi akademik secara umum, beragam program lembaga pendidikan dengan waktu penuh ataufull time,pelatihan teknis dan profesional. c. Pendidikan Nonformal

Proses belajar terjadi secara terorganisasikan di luar sistem persekolahan atau pendidikan formal, baik dilaksanakan terpisah maupun merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih besar yang dimaksudkan untuk melayani sasaran didik tertentu dan belajarnya tertentu pula.

Dokumen terkait