• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus Di Rumah Autis Bekasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus Di Rumah Autis Bekasi"

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi

Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh: FACHRY ARFAN NIM. 109054100023

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar S1 di Universitas Islam Negeri

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam

Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika dikemudian hari saya terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya

atau merupakan hasil jiplakan dari karya olang lain, maka saya bersedia

menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2013

(5)

i Rumah Autis Bekasi

Pendidikan merupakan salah satu hak asasi yang dimiliki oleh seseorang, tidak terkecuali bagi anak autis. Selama ini, pendidikan bagi anak autis diselenggarakan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sementara itu biaya operasional di SLB jauh lebih mahal dibandingkan sekolah reguler, bahkan bagi kalangan yang berada sekalipun. Akibatnya sebagian anak autis terpaksa tidak disekolahkan oleh orangtuanya karena faktor ekonomi. Sedikitnya lembaga sosial yang didirikan dengan tujuan untuk menjembatani kebutuhan akan sekolah bagi penyandang autis menyebabkan banyak orang tua anak autis bingung, pendidikan atau materi apa yang harus diajarkan kepada anaknya. Rumah Autis Bekasi merupakan salah satu lembaga sosial yang dibangun untuk melaksanakan program pendidikan bagi penyandang autis yang berasal dari kaum dhuafa. Berdasarkan hal tersebut penulis sangat tertarik mengadakan penelitian mengenai implementasi program pelayanan bagi anak autis melalui sekolah khusus di Rumah Autis Bekasi.

Penelitian ini merumuskan beberapa masalah yaitu “Bagaimana implementasi program pelayanan bagi anak autis melalui sekolah khusus di Rumah Autis Bekasi?” Dan “Bagaimana hasil yang dicapai dari implementasi program pelayanan bagi anak autis melalui sekolah khusus di Rumah Autis Bekasi?”.

Untuk menjawab perumusan masalah tersebut peneliti menggunakan Teori Tahapan Pelayanan Kesejahteraan Sosial yang dikemukakan oleh Departemen Sosial dan Teori Indikator Evaluasi Hasil yang dikemukakan oleh Terry Mizrahi dan Larry E. Davis

Metodologi penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang kemudian dituangkan dalam metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam mengenai kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Rumah Autis Bekasi. Informan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang, terdiri dari 1 orang ketua Rumah Autis Bekasi, 2 orang pengajar kelas dan 2 orang dari orang tua siswa Rumah Autis Bekasi.

(6)

ii

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa atas cinta dan kasih-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita yakni Rosululloh SAW, para keluarga, para sahabatnya serta para umatnya yang Insya Allah hingga kini terus mencintainya.

Penulis menyadari bahwa penulisan skirpsi ini masih jauh dari sempurna, hal tersebut disebabkan oleh keterbatasan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan skripsi ini.

Dalam penulisan skripsi ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan laporan ini, khususnya kepada :

1. Bapak Dr. Arief Subhan, MA selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bapak Suparto, MA, M.Ed selaku Wadek I, Bapak Drs. Jumroni, MA selaku Wadek II, Bapak Drs. Wahidin Saputra, MA selaku Wadek III Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Ibu Siti Napsiyah, MSW selaku Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Ahmad Zaky, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Ibu Wati Nilamsari, M.Si selaku Dosen pembimbing skripsi yang telah berkenan dan bersabar membimbing penulis selama ini.

5. Bapak/Ibu Dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya kepada Bapak/Ibu Dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah memberikan sumbangan wawasan keilmuan dan membimbing penulis selama melaksanakan perkuliahan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

(7)

iii

8. Kakak Saya tercinta Fachrur dan Fachmy terima kasih atas supportnya selama ini. Semoga apa yang kalian harapkan dapat tercapai.

9. Ni’matul Farida, yang selalu setia dan sabar mendampingi diamanapun dan kapanpun baik senang maupun susah. Terima kasih atas semangat dan motivasinya.

10. Kawan-kawan tercinta Kessos angkatan 2009 Dadan, Panji, Aldy, Heru, Maygie, Bimo, Doni, Ugie, dan semua yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Bangga telah mengenal kalian.

11. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan bantuan dalam penyelesaiian penulisan skripsi ini.

Akhirnya penulis berharap semoga karya ini mampu memberikan manfaat, baik bagi penulis, mahasiswa Kesejahteraan Sosial juga pembaca lainnya. Ridha dan keikhlasan dari para Dosen selalu penulis harapkan, semoga ilmu yang diberikan kepada kami dapat bermanfaat untuk pengabdian masyarakat.

Ciputat, Januari 2014

(8)

iv

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah...5s C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Metodologi Penelitian ... 7

F. Tinjauan Pustaka ... 16

G. Sistematika ... 18

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Implementasi Program ... 20

B. Pelayanan Sosial... 21

1. Pengertian Pelayanan Sosial ... 21

2. Jenis-Jenis Pelayanan Sosial ... 22

3. Tahapan Pelayanan Sosial... 24

C. Evaluasi Program ... 26

1. Pengertian Evaluasi Program ... 26

2. Jenis-jenis Evaluasi ... 27

D. Anak Autis ... 29

1. Pengertian Anak Autis ... 29

2. Karakteristik Anak Autis... 32

3. Jenis Anak Autis ... 36

(9)

v

3. Fungsi Sekolah Khusus ... 43

4. Tujuan Sekolah Khusus ... 44

5. Penyelenggaraan Pendidikan Khusus ... 44

6. Sasaran Pendidikan Khusus ... 45

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA A. Sejarah Singkat Rumah Autis ... 49

B. Visi dan Misi ... 50

C. Program Kerja (Bidang yang ditangani) ... 51

D. Staf dan Struktur Lembaga... 57

E. Penerima Manfaat Layanan Lembaga (Klien/ Beneficieries) ... 59

BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA LAPANGAN A. Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus Di Rumah Autis Bekasi... 60

B. Hasil Yang Dicapai Dari Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus Di Rumah Autis Bekasi ... 79

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 84

B. Saran... 85

(10)

1

A. Latar Belakang Masalah

Fenomena anak autis dan Anak Berkebutuhan Khsusus (ABK) bukanlah

sesuatu hal yang baru, dan ada di sekeliling kita. Anak autis termasuk anak

yang mengalami hambatan dalam perkembangan perilakunya. Perilaku

anak-anak ini, antara lain terdiri dari wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti

pada anak yang normal.1 Padahal kedua jenis perilaku ini penting untuk

komunikasi dan sosialisasi. Sehingga apabila hambatan ini tidak diatasi

dengan cepat dan tepat, maka proses belajar anak-anak tersebut juga akan

terhambat.

Di era globalisasi sekarang ini, ketika komunikasi antar manusia di

seluruh belahan bumi sudah demikian mudahnya, masih ada saja sekelompok

manusia yang tersisih. Tersisih karena mereka tidak mampu mengadakan

komunikasi dengan orang yang paling dekat sekalipun. Mereka sulit

mengekspresikan perasaan dan keinginan.

Data UNESCO pada 2011 mencatat, sekitar 35 juta orang penyandang

autisme di dunia. Ini berarti rata-rata 6 dari 1000 orang di dunia mengidap

autisme. Meski belum ada angka pasti berapa sebenarnya jumlah anak autisme

di Indonesia, namun pemerintah merilis data jumlah anak penyandang autisme

bisa berada di kisaran 112 ribu jiwa. Angka tersebut diasumsikan dengan

prevalensi autisme pada anak yang ada di Hongkong, yaitu 1,68 per 1000

1

(11)

untuk anak di bawah 15 tahun. Jumlah anak penyandang autis di Indonesia

meningkat hingga lima kali lipat tiap tahunnya.

Jumlah kasus autisme mengalami peningkatan yang signifikan. Jika

tahun 2008 rasio anak autis 1 dari 100 anak, maka di 2012 terjadi peningkatan

yang cukup memprihatinkan dengan jumlah rasio 1 dari 88 orang anak saat ini

mengalami autisme. Di Indonesia, pada 2010, jumlah penderita autisme

diperkirakan mencapai 2,4 juta orang. Hal itu berdasarkan data yang

dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik. Pada tahun tersebut jumlah penduduk

Indonesia mencapai 237,5 juta orang dengan laju pertumbuhan 1,14 persen.

Jumlah penderita autisme di Indonesia diperkirakan mengalami penambahan

sekitar 500 orang setiap tahun.2

Tentu saja ini sangat meresahkan. Penyandang autisme yang tidak

tertangani dengan tepat, kemungkinan sembuhnya akan semakin jauh dan

dikhawatirkan akan menjadi generasi yang hilang. Akan tetapi, banyak orang

tua anak autis bingung, pendidikan atau materi apa yang harus diajarkan

kepada anaknya karena masih sedikitnya lembaga sosial atau sekolah yang

didirikan dengan tujuan untuk menjembatani kebutuhan akan sekolah bagi

penyandang autis.

Pendidikan adalah hak semua warga negara sehingga semua warga

negara harus mendapat kesempatan untuk memperoleh pendidikan tanpa

kecuali. Anak autis juga memiliki hak dan derajat yang sama dengan anak

lainnya, mereka juga mempunyai potensi dan bakat. Potensi tersebut masih

2

Cicah Sarianingsih, “Laju Perkembangan Penderita Autisme di Indonesia Terus Meningkat”

(12)

terpendam dan menunggu untuk dikeluarkan secara optimal sehingga mereka

dapat melakukan kewajibannya terhadap masyarakat dan terhadap dirinya

sendiri.

Pendidikan merupakan salah satu hak asasi yang dimiliki oleh seseorang,

tidak terkecuali bagi anak autis. Sebagai sebuah hak yang hakiki, pengaturan

mengenai hak atas pendidikan diatur dalam Alinea Keempat Pembukaan

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Dalam Pembukaan Alinea Keempat

UUD 1945 ditegaskan bahwa tujuan negara Indonesia adalah:

“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara

Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial…”

Berdasarkan hal tersebut, ditegaskan bahwa salah satu tujuan dari

pembentukkan negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan

bangsa. Kecerdasan kehidupan berbangsa dan bernegara baru akan tercapai

melalui pemberian suatu pendidikan yang terintegrasi dan disesuaikan dengan

kebutuhan setiap warga negara.

Hak atas pendidikan juga diatur dalam pasal 31 UUD 1945. Dalam ayat

(1) berbunyi Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan3.

Pasal ini bermakna bahwa negara berkewajiban memenuhi hak atas

pendidikan bagi setiap warga negaranya tanpa terkecuali tanpa membedakan

suku, ras, agama, atau bahkan keadaan sosial dan ekonominya. Dengan

demikian berarti anak-anak yang dengan berkebutuhan khusus seperti

3

Wikisource, “Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945/Perubahan IV,”

(13)

tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras dan anak-anak berkesulitan belajar

juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan.

Hal inilah yang menjadi dasar bahwa anak autis juga memiliki hak yang

sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan berhak untuk

mengembangkan diri sebebas-bebasnya.

Hak akan pendidikan berkebutuhan khusus juga tertuang dalam

Deklarasi Salamanca di Spanyol pada tanggal 10 Juni 1994 tentang prinsip,

kebijakan dan praktek dalam pendidikan kebutuhan khusus. Dalam deklarasi

ini diyakini setiap anak mempunyai hak mendasar untuk memperoleh

pendidikan, dan harus diberi kesempatan untuk mencapai serta

mempertahankan tingkat pengetahuan yang wajar.

Oleh karena itu pemerintah dan masyarakat dalam rangka memenuhi

hak-hak anak autis harus senantiasa meningkatkan dan memajukan

program-program pendidikan yang layak bagi anak autis. Hal ini mengingat anak

sebagai aset dan generasi penerus bangsa.

Selama ini, pendidikan bagi anak autis diselenggarakan di Sekolah Luar

Biasa (SLB), sementara itu biaya operasional di SLB jauh lebih mahal

dibandingkan sekolah reguler, bahkan bagi kalangan yang berada sekalipun.

Akibatnya sebagian anak autis terpaksa tidak disekolahkan oleh orangtuanya

karena faktor ekonomi.

Telah banyak upaya yang ditempuh oleh masyarakat guna memenuhi

hak-hak warga negara akan suatu pendidikan khususnya anak autis yaitu

(14)

kebutuhan akan sekolah khusus bagi penyandang autis dari keluarga tidak

mampu dengan biaya yang terjangkau bahkan gratis.

Rumah Autis Bekasi merupakan sebuah lembaga sosial yang dibangun

untuk melaksanakan program pendidikan atau sekolah khusus bagi

penyandang autis dari keluarga tidak mampu dengan biaya yang terjangkau

bahkan gratis. Maka dengan adanya Rumah Autis Bekasi diharapkan

pendidikan terhadap anak autis dapat ditangani dengan tepat dan benar

sehingga anak autis mampu hidup dan berbaur secara normal dalam

masyarakat luas.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk

melakukan penelitian dan pembahasan dengan judul “Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus di Rumah

Autis Bekasi”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Dalam kegiatan penelitian ini terbatas pada masalah bagaimana Rumah

Autis Bekasi mengimplementasikan program sekolah khusus bagi anak autis.

Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana implementasi program pelayanan bagi anak autis melalui

sekolah khusus di Rumah Autis Bekasi?

2. Bagaimana evaluasi hasil yang dicapai dari implementasi program

(15)

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana implementasi program pelayanan sekolah

khusus di Rumah Autis Bekasi

b. Untuk mengetahui hasil yang dicapai dalam implementasi program

pelayanan bagi anak autis melalui sekolah khusus di Rumah Autis Bekasi

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Akademis

Manfaat akademis yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah:

a. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan rekomendasi pekerja sosial dan

lembaga sosial yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak

autis dalam melaksanakan program sekolah khusus agar lebih efektif

dan aspiratif.

b. Memberikan gambaran tentang proses pelayanan sosial yang diberikan

oleh Rumah Autis Bekasi terhadap anak penderita autis.

c. Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberikan kontribusi bagi

pengembangan ilmu kesejahteraan sosial dan sekaligus menjadi bahan

untuk penelitian lanjutan tentang masalah yang terkait.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca dan juga

sebagai bahan kajian bagi para peminat studi kesejahteraan sosial,

(16)

E. Metodelogi Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah metode

penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian

yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti

pada kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen)

dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data

dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat

induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna

dari pada generalisasi.4Pendekatan kualitatif dapat digunakan bila masalah

penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin masih gelap.5

Melalui penelitian kualitatif, peneliti akan langsung masuk ke obyek,

melakukan penjelajahan dengan grant tour question, sehingga masalah

akan dapat ditemukan dengan jelas. Melalui penelitian model ini, peneliti

akan melakukan eksplorasi terhadap suatu obyek.

Penelitian kualitatif berupaya menggambarkan dan menganalisis

pelaksanaan sekolah khusus yang dilakukan oleh Rumah Autis Bekasi.

Dalam penelitian ini, penulis akan menggambarkan secara komprehensif

melalui pengumpulan data dengan melakukan observasi dan wawancara

tentang pelaksaan program sekolah khusus.

4

Prof. Dr. Sugiyono,Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D( Bandung: Alfabeta, 2009), h. 9.

5

(17)

2. Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif.

Tipe penelitian ini didasarkan pada pertanyaan dasar yaitu bagaimana.6

Kita tidak puas bila hanya mengetahui apa masalahnya secara eksploratif,

tetapi ingin mengetahui juga bagaimana peristiwa tersebut terjadi.

Temuan-temuan dari penelitian deskriptif akan lebih luas dan lebih

teperinci karena kita meneliti tidak hanya masalahnya sendiri, tetapi juga

variabel-variabel yang berhubungan dengan masalah itu.

Pada jenis penelitian deskriptif, data yang dikumpulkan berupa

kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Dengan demikian, laporan

penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran

penyajian laporan tersebut. Data tersebut berasal dari naskah wawancara

secara lapangan, catatan atau memo dan dokumentasi lainnya.7

Sesuai dengan jenis penelitian yang digunakan, maka dalam

penelitian ini digambarkan tentang bagaimana implementasi pelayanan

program sekolah khusus yang dilakukan oleh Rumah Autis Bekasi bagi

anak autis.

6

W. Gulo,Metodologi Kualitatif( Jakarta: Grafindo, 2000), h.19.

7

(18)

3. Waktu Dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di lokasi Rumah Autis Bekasi yang

beralamat di Jalan Al Husna No 39 RT 02/01, Jati Kramat, Jati Asih, Kota

Bekasi 17421. Penelitian ini berlangsung pada bulan Juli 2013 sampai

dengan bulan Desember 2013.

4. Teknik Pengumupulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan

interview(wawancara), observasi (pengamatan), dan dokumentasi.

a. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri

yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu

wawancara dan kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu

berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada

orang, tetapi juga obyek-obyek alam yang lain.

Sutrisno Hadi mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu

proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai proses

biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah

proses-proses pengamatan dan ingatan.8

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi

dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta)

dannon participant observation.

8

(19)

Observasi berperan serta yaitu peneliti terlibat langsung dengan

kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan

sebagai sumber data penelitian. Namun dalam observasi nonpartisipan,

peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.

Dalam observasi ini, yang penulis lakukan adalah observasi

berperan serta atau terlibat langsung. Penulis terjun langsung ke

lapangan dengan mendatangi Rumah Autis Bekasi guna memperoleh

data dan informasi yang konkret mengenai hal-hal yang menjadi objek

penelitian. Selanjutnya data tersebut penulis tuangkan dalam penulisan

ini dan penulis juga melakukan pengamatan tentang kegiatan program

sekolah khusus yang dilakukan oleh Rumah Autis Bekasi dan diikuti

oleh anak-anak autis. Sambil melakukan pengamatan, penulis juga ikut

melakukan kegiatan-kegiatan sekolah khusus yang dilakukan oleh

Rumah Autis Bekasi.

b. Wawancara

Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar

informasi dan ide melalui Tanya jawab, sehingga dapat

dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu9. Menurut Dr. Lexy

J. Moleong, M.A. dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif,

wawancara adalah percakapan dengan maksud tententu.10 Percakapan

itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang

mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang

memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

9

Prof. Dr. Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif, h. 231.

10

(20)

Penelitian ini menggunakan wawancara langsung dengan

narasumber Ketua Rumah Autis Bekasi serta Pengajar Rumah Autis

Bekasi. Peneliti mengadakan Tanya jawab yang berkenaan dengan

peran dan pelaksanaan program sekolah khusus dengan pihak-pihak

yang mengetahui dan mengusai tentang pendidikan anak autis.

c. Dokumentasi

Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode

observasi dan wawancara. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar,

atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang

berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, biografi,

peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk karya misalnya foto,

gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya

misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan

lain-lain.11

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang telah

didokumentasikan oleh Rumah Autis Bekasi. Seperti rancangan

program (jangka panjang dan jangka pendek) Rumah Autis Bekasi,

foto, dan lain-lain.

5. Teknik Pemilihan Subyek Penelitian

Teknik yang digunakan oleh penulis untuk pemilihan informan

dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling(bertujuan) dimana

subyek penelitian dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu dan dianggap

11

[image:20.595.99.515.182.618.2]
(21)

sebagai orang-orang yang tepat dalam memberikan informasi yang sesuai

dengan kebutuhan penelitian.12 Jadi penulis memilih orang tertentu yang

dipertimbangkan akan memberikan data yang diperlukan; selanjutnya

berdasarkan data atau informasi yang diperoleh dari sampel sebelumnya

itu, penulis dapat menetapkan sampel lainnya yang dipertimbangkan akan

memberikan data lebih lengkap.

Konsep sampel dalam penelitian kualitatif berkaitan erat dengan

bagaimana memilih informan misalnya orang tersebut dianggap paling

tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa

sehingga akan mempermudah peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial

yang diteliti.13

Dalam penelitian ini penulis menggali data seluas-luasnya dari

berbagai pihak yang terlibat dalam program sekolah khusus di Rumah

Autis Bekasi, pihak-pihak tersebut diantaranya: ketua Rumah Autis

Bekasi, pengajar program sekolah khusus, dan orang tua dari anak-anak

autis yang mengikuti program sekolah khusus.

12

Soeharto Irawan,Metode Penelitian Sosial, Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya,(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 63.

13

(22)
[image:22.595.103.518.90.617.2]

Tabel 1

Rancangan Subyek Penelitian

No Subyek Penelitian Informasi Yang Dicari Jumlah

Metode Pengumpulan

Data

1 Ketua Rumah Autis Bekasi

Gambaran umum Rumah

Autis Bekasi, latar

belakang sejarah

berdirinya, implementasi

pelayanan program sekolah

khusus, alur pelayanan

Rumah Autis Bekasi, hasil

pelayanan

1 Wawancara

bebas

terstruktur

2 Pengajar Rumah Autis Bekasi

Metode pengajaran yang

diterapkan oleh pengajar

di dalam program

sekolah khusus

2

Wawancara

bebas

terstruktur

3 Orang Tua Anak Autis

Pelaksanaan sekolah

khusus dan hasil yang

dicapai 2

Wawancara

bebas

terstruktur,

(23)

6. Sumber Data

Bila dilihat dari sumbernya, teknik pengumpulan data terbagi dua

bagian, yaitu

a. Sumber Primer

Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan

data kepada pengumpul data.14 Data primer ini diperoleh melalui

pengamatan dan wawancara. Informan dalam data primer ini adalah

Kepala serta Pengajar Rumah Autis Bekasi.

b. Sumber Sekunder

Sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung

memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain

atau dokumen.15 Catatan dan dokumen tersebut berupa internet tentang

pendidikan anak autis serta dokumen Rumah Autis Bekasi berupa buku

panduan.

7. Analisa Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis

data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan

bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat

diinformasikan kepada orang lain.16

Aktivitas analisis data yang penulis lakukan yaitu reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.

14

Prof. Dr. Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif, h. 225.

15

Prof. Dr. Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif, h. 225.

16

(24)

Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok,

memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dalam

hal ini penulis memilih data yang relevan dengan peran Rumah Autis

Bekasi dalam pelaksanaan program sekolah khusus terhadap anak autis.

Setelah dilakukan reduksi data mengenai peran Rumah Autis Bekasi

dalam pelaksanaan program sekolah khusus terhadap anak autis disusun

dan disajikan dalam bentuk narasi, gambar, tabel, dan sebagainya.

Terakhir, penarikan kesimpulan dan verifikasi dilakukan berdasarkan

rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal.

8. Keabsahan Data

Untuk memeriksa keabsahan data, penulis menggunakan teknik

triangulasi. Triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang

bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan

sumber data yang telah ada.17 Teknik triangulasi digunakan untuk

mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan

berbagai sumber data lainnya.

Dalam hal ini penulis menggunakan orang tua klien sebagai

pengecekan keabsahan data yang penulis peroleh dari pengurus Rumah

Autis Bekasi.

17

(25)

9. Teknik Penulisan

Untuk penulisan dan penyusunan skripsi ini, penulis mengacu pada

buku Pedoman Penulisan Karya Imiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang

diterbitkan oleh CeQDA (Center for Quality Development and Assurance)

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Cetakan II tahun 2007

F. Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini, penelitian melakukan tinjauan pustaka terhadap

beberapa skripsi terdahulu yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

Ada sebuah hasil penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang akan

penulis jadikan bahan perbandingan, yaitu:

1. Judul : Sikap Orang Tua Dalam Menghadapi Anak

Penyandang Autisma Studi Kasus Orang Tua Siswa

Di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 02 Jakarta

Nama : Winda Wulansari

Perguruan Tinggi : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Program Studi : Kesejahteraan Sosial

2. Judul : Pembelajaran Matematika Pada Anak Autis di SD

Purba Adhika Lebak Bulus Jakarta Selatan

Nama :Lu’lu Nailunnajah

Perguruan Tinggi : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(26)

Sedangkan judul skripsi penulis adalah Implementasi Program Pelayanan

Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus di Rumah Autis Bekasi. Adapun

[image:26.595.100.530.201.624.2]

perbedaan antara tinjauan pustaka dan skripsi penulis yakni:

Tabel 2.

Perbedaan Penelitian Tinjauan Pustaka dan Penelitian Penulis

Judul Skripsi Penulis Pembahasan

Sikap Orang Tua Dalam

Menghadapi Anak Penyandang Autisma Studi Kasus Orang Tua Siswa Di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 02 Jakarta

Winda Wulansari

- Skripsi ini membahas mengenai bagaimana sikap orang tua setelah mengetahui anaknya didiagnosa autis. Apakah orang tua menerima keadaan anak dan selanjutya melakukan tindakan apa saja untuk kemandirian anaknya, atau apakah orang tua menolak keadaan anaknya dan bersikap seperti tidak

menghiraukan anaknya.

- Menurut penulis kekurangan pada skripsi ini adalah skripsi ini hanya fokus terhadap sikap orang tua dalam menghadapi anak autis tidak menjelaskan program pendidikan bagi anak autis.

Pembelajaran Matematika Pada Anak Autis di SD Purba Adhika Lebak Bulus Jakarta Selatan

Lu’lu

Nailunnajah

- Skripsi ini membahas mengenai bagaimana proses pembelajaran matematika dan permasalahan-permasalahan yang timbul ketika anak autis di Sekolah Dasar Purba Adhika belajar matematika. - Menurut penulis kekurangan pada

skripsi ini adalah tidak membahas secara mendalam mengenai

(27)

Judul Skripsi Penulis Pembahasan

Implementasi Program Pelayanan Bagi Anak Autis Melalui Sekolah Khusus di Rumah Autis Bekasi

Fachry Arfan

- Skripsi ini menjelaskan tentang bagaimana implementasi program pelayanan sekolah khusus yang dilakukan Rumah Autis Bekasi dan Bagaimana hasil yang dicapai dari implementasi program pelayanan sekolah khusus tersebut.

- Implementasi program pelayanan yang dilakukan oleh Rumah Autis Bekasi menempuh tahap-tahap kegiatan. Dimulai dari tahap persipan, tahap pengkajian, tahap rencana intervensi, tahap

implementasi program, tahap evaluasi, dan terakhir tahap terminasi

- Untuk melihat keberhasilan program, skripsi ini menggunakan tiga indikator evaluasi hasil yaitu integritas program, dampak program, dan kepuasan.

G. Sistematika

BAB I Pendahuluan. Meliputi Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi

Penelitian yang digunakan, Tinjauan Pustaka, dan Sistematika

Penulisan.

BAB II Tinjauan Teoritis. Dalam bab ini akan membahas landasan teoritis yang digunakan adalah teori-teori yang berkaitan dengan

implementasi program, pelayanan sosial, anak autis dan pendidikan

(28)

BAB III Gambaran Umum Rumah Autis Bekasi. Dalam bab ini menggambarkan tentang profil, sejarah, visi dan misi, struktur

organisasi, program dan pelayanan dan penerima manfaat layanan

lembaga.

BAB 1V Hasil Penelitian dan Analisa. Merupakan hasil dari pengumpulan data mengenai konsep pelaksanaan program sekolah khusus

Rumah Autis Bekasi, perananan Rumah Autis Bekasi dalam

penanganan anak autis, faktor penghambat dan pendukung

pelaksanaan program sekolah khusus, dan segala hal yang terkait

atau berhubungan dengan penelitian yang tengah dilakukan.

[image:28.595.100.506.229.608.2]
(29)

20 A. Pengertian Implementasi Program

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kata implementasi

adalah pelaksanaan atau terapan. Sedangkan definisi kata program adalah

rancangan mengenai asas serta usaha (dalam ketatanegaraan, perekonomian,

dan sebagainya) yang akan dijalankan.1

Program adalah sederetan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh

seseorang atau kelompok organisasi, lembaga, bahkan negara. Suharismi

Arikunto mengungkapkan bahwa program adalah sederetan rencana kegiatan

yang akan dilaksanakan untuk mencapai kegiatan tertentu.2

Berdasarkan definisi di atas, maka implementasi program adalah

pelaksanaan atau penerapan dari rancangan mengenai asas serta usaha yang

telah dibuat sebelumnya. Atau dengan kata lain implementasi pogram adalah

pelaksanaan atau perencanaan dari rancangan atau program yang telah disusun

dan disepakati bersama.

Maka implementasi program dalam penelitian ini adalah kita dapat

melihat bentuk kongkret atau usaha nyata yang dilakukan lembaga terkait

dalam mewujudkan tujuannya terhadap hasil rancangan atau program yang

telah dibuat sebelumnya.

1

Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga,

(Jakarta: Balai Pustaka, 2007), Cet. Ke-4, h. 427.

2

(30)

B. Pelayanan Sosial

1. Pengertian Pelayanan Sosial

Brenda Dubois dan Karl Krogsrud Miley menyebut pelayanan sosial

sebagai suatu dukungan untuk meningkatkan keberfungsian social atau

untuk memenuhi kebutuhan individu, antar individu maupun lembaga.

Siporin menyebutkan bahwa pada dasarnya pelayanan sosial

dilakukan untuk merefleksikan kebutuhan-kebutuhan dalam kehidupan

masyarakat. Friedlander menggabungkan pelayanan sosial dan lembaga

sosial. Menurutnya: “kesejahteraan sosial adalah sistem yang terorganisasi

dari pelayanan-pelayanan lembaga sosial untuk membantu perorangan,

kelompok untuk mencapai standar kehidupan yang memuaskan”.3

Spicker, seorang penulis Inggris menyatakan bahwa pelayanan

sosial meliputi jaminan sosial, perumahan, kesehatan, pekerjaan sosial,

dan pendidikan. Hal ini hampir sama dengan apa yang dikemukakan oleh

Kahn dan Kamerman yang menyatakan bahwa lima pelayanan sosial dasar

adalah pendidikan, transfer penghasilan (yang sering disebut sebagai

jaminan sosial), kesehatan, perumahan dan pelatihan kerja.

Sainbury, professor dalam Social Administration di Inggris

menyatakan bahwa dalam arti yang sangat luas, pelayanan-pelayanan

sosial adalah pelayanan yang digunakan untuk semua (communal services)

yang berkepentingan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial dan

mengurangi jenis-jenis masalah sosial tertentu khususnya,

kebutuhan-kebutuhan dan masalah-masalah yang memerlukan penerimaan publik

3

(31)

secara umum atas tanggung jawab sosial dan yang tergantung pada

pengorganisasian hubungan-hubungan sosial untuk pemecahannya.

Pelayanan-pelayanan sosial secara luas ini, menurut Sainsbury, meliputi

kesehatan, pendidikan, pemeliharaan penghasilan, perumahan dan

pelayanan sosial personal.

Romanyshyn memberikan arti pelayanan sosial sebagai usaha-usaha

untuk mengembalikan, mempertahankan, dan meningkatkan keberfungsian

sosial individu-individu dan keluarga-keluarga melalui (1) sumber-sumber

sosial pendukung dan (2) proses-proses yang meningkatkan kemampuan

individu-individu dan keluarga-keluarga untuk mengatasi stress dan

tuntutan-tuntutan kehidupan sosial yang normal.4

2. Jenis-Jenis Pelayanan Sosial

Secara empiris lembaga pelayanan sosial sebagai salah satu wujud

organisasi pelayanan manusia (human service organization), mempunyai

berbagai jenis pelayanan sosial yang diberikan kepada kliennya.

Jenis-jenis pelayanan tersebut antara lain adalah:

a. Pelayanan Pengasramaan

Yaitu pelayanan pemberian tempat tinggal sementara kepada klien.

Dengan pelayanan ini klien dapat menginap, tidur dan menyimpan

miliknya.

b. Pelayanan permakanan

Yaitu pelayanan pemberian makan dan minum berdasarkan menu yang

telah ditetapkan agar tingkat gizi klien terjamin kualitasnya.

4

(32)

c. Pelayanan Konsultasi

Yaitu pelayanan bimbingan untuk meningkatkan kemauan dan

kemampuan berinteraksi dengan orang lain, menjalankan peranan

sosial, memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah.

d. Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan

Yaitu pelayanan pengontrolan dan pengecekan kesehatan klien oleh

tenaga medis, agar diketahui tingkat kesehatan klien.

e. Pelayanan Pendidikan

Yaitu pelayanan pemberian kesempatan kepada klien untuk mengikuti

pendidikan formal.

f. Pelayanan Keterampilan

Yaitu pelayanan bimbingan keterampilan kerja, seperti: pertukangan,

perbengkelan, perkebunan, salon, menjahit, kerajinan tangan,

perbaikan jam tv, komputer dan sebagainya.

g. Pelayanan Keagamaan

Yaitu pelayanan bimbingan mental-spiritual dengan menjalankan

aktifitas agama masing-masing klien dan mengikuti ceramah-ceramah

keagamaan.

h. Pelayanan Hiburan Dan Rekreasi

Yaitu pelayanan yang ditujukan untuk memberikan rasa gembira dan

senang melalui permainan, musik, mediaentertainmentdan kunjungan

(33)

i. Pelayanan Transportasi

Yaitu pelayanan untuk mempercepat daya jangkau klien, baik ke

keluarga, pusat-pusat pelayanan atau lokasi rekreasi.5

3. Tahapan Pelayanan Sosial

Pelayanan sosial memilik beberapa tahapan, diantaranya:6

a. Tahapan Pendekatan Awal

Yaitu suatu proses penjajagan awal, konsultasi dengan pihak-pihak

terkait, sosialisasi program pelayanan, identifikasi calon penerima

pelayanan, pemberian motivasi, seleksi, perumusan kesepakatan,

penempatan calon penerima layanan, serta identifikasi sarana dan

prasarana pelayanan.

b. Pengungkapan dan Pemahaman Masalah (assessment)

Adalah suatu proses kegiatan dan pengumpulan dan analisis data untuk

mengungkapkan dan memahami masalah, kebutuhan dan sistem

sumber penerima klien.

c. Perencanaan Pemecahan Masalah (planning)

Adalah suatu proses perumusan tujuan dan kegiatan pemecahan

masalah, serta penetapan berbagai sumber daya yang dibutuhkan untuk

mencapai tujuan tersebut.

d. Pelaksanaan Pemecahan Masalah (intervention)

Yaitu suatu proses penerapan rencana pemecahan masalah yang telah

dirumuskan. Kegiatan pelaksanaan pemecahan masalah yang

5

Dwi Heru Sukoco,Kemitraan dalam Pelayanan(Jakarta: Badan Pelatihan dan Pengembangan Sosial, 1997, h. 106-107.

6

(34)

dilaksanakan adalah melakukan pemeliharaan, pemberian motivasi,

dan pendampingan kepada penerima pelayanan dalam bimbingan fisik,

bimbingan keterampilan, bimbingan psikososial, bimbingan sosial,

pengembangan masyarakat, resosialisasi dan advokasi.

e. Tahapan Bimbingan

Yaitu pelayanan yang diberikan kepada klien untuk memenuhi

kebutuhan mental, jiwa dan raga klien. Bimbingan ini terdiri dari fisik,

ketrampilan, psikososial, sosial, resosialisasi, dan advokasi.

f. Tahapan Bimbingan Dan Pembinaan Lanjutan

Adalah suatu proses pemberdayaan dan pengembangan agar penerima

pelayanan dapat melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan lingkungan

sosialnya.

g. Tahapan Evaluasi

Yaitu proses kegiatan untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi

pencapaian tujuan pemecahan masalah atau indikator-indikator

keberhasilan pemecahan masalah.

h. Tahapan Terminasi

Adalah suatu proses kegiatan pemutusan hubungan pelayanan atau

bantuan atau pertolongan antar lembaga dan penerima pelayanan

(klien).

i. Tahapan Rujukan

Yaitu kegiatan merancang, melaksanakan, mensupervisi,

mengevaluasi, dan menyusun laporan kegiatan rujukan penerimaan

(35)

C. Evaluasi Program

1. Pengertian Evaluasi Program

Evaluasi program adalah alat penting bagi pekerja sosial.

Mempelajari teknik dan keterampilan evaluasi program dapat membantu

dalam menentukan apakah ada kebutuhan akan program (studi asesmen

kebutuhan), bagaimana proses dan prosedur program dilaksanakan

(pemantauan program), dan apakah tujuan program tercapai (evaluasi

program berorientasi sasaran).7

Evaluasi program adalah kumpulan sistematis informasi tentang

kegiatan, karakteristik, dan hasil program untuk membuat keputusan

tentang program, meningkatkan efektivitas program, dan/atau

menginformasikan keputusan tentang pemrograman masa depan.

(Program evaluation is the systematic collection of information

about the activities, characteristics, and outcomes of programs to

make judgement about the program, improve program effectiveness,

and/or inform decisions about future programming).8

Peneliti menyimpulkan bahwa evaluasi program adalah kegiatan

yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian tujuan program yang telah

dilaksanakan. Selanjutnya, hasil evaluasi program digunakan sebagai dasar

untuk melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan

pengambilan keputusan berikutnya. Pada penelitian kali ini, peneliti akan

memfokuskan penelitian pada hasil yang dicapai dari implementasi

7

Albert R. Robert dan Gilbert J. Greene, Buku Pintar Pekerja Sosial Jilid 2(Jakarta: Gunung Mulia, 2009), h.472.

8

(36)

program pelayanan bagi anak autis melalui sekolah khusus di Rumah

Autis Bekasi.

2. Jenis-jenis Evaluasi

Dalam teori evaluasi program, dikenal beberapa jenis evaluasi

program yang dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu:

a. Evaluasi konteks

Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur program baik mengenai

rasional tujuan latar belakang program, maupun kebutuhan-kebutuhan

yang muncul dalam perencanaan.

b. Evaluasi input

Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumberdaya

maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.

c. Evaluasi proses

Evaluasi yang ditujukan untuk melihat proses pelaksanaan baik

mengenai kelancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor

pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses

pelaksanaan dan sejenisnya.

d. Evaluasi hasil atau produk

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai

sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki, di

modifikasi, ditingkatkan, atau dihentikan.

Dari ke empat jenis evaluasi tersebut peneliti memilih evaluasi hasil

(37)

Pertanyaan yang dapat dijawab dengan evaluasi hasil dapat

diklasifikasikan dalam tiga kategori:

(The question that can be answered by outcome evaluations can be

classified under three general categories):9

a. Integritas Program(Program integrity)

Apakah program mencapai perubahan yang diinginkan klien? Sampai pada

tingkat apa pelaksanaan program mencapai tujuan programnya? Apakah

program mencapai standar minimum pencapaian yang telah ditetapkan (tolak

ukur)?

(Is the program achieving the desired client change? To what degree is the

program accomplishing its program objectives? Is the program achieving

predetermined minimum standards of achievement (benchmarks)?)

b. Dampak Program(Program effect)

Apakah orang-orang yang telah mengikuti program ini mereka menjadi

lebih baik? Apakah mereka lebih baik dibandingkan yang lain yang

mengikuti program serupa? berapa lama peningkatan klien

berlangsung?

(Are people who have been through the program better for it ? are they

better off than others who went through similar program ? how long

do client improvements last?)

c. Kepuasan (Satisfaction)

Apakah stakeholder puas dengan layanan program?

(Are stakeholders satisfied with program services?)

9

(38)

Evaluasi hasil dalam penelitian ini difokuskan pada hasil yang terjadi

selama siswa mengikuti program pelayanan sekolah khusus di Rumah

Autis Bekasi diantaranya adalah peningkatan hasil belajar, peningkatan

komunikasi, dan peningkatan keterampilan (skills).

D. Anak Autis

1. Pengertian Anak Autis

Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang ditandai

dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif,

bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.10

Untuk memudahkan pemahaman tentang anak autis berikut ini akan

dijelaskan beberapa pendapat yang mendeskripsikan tentang pengertian

anak autis sebagai berikut:11

Leo Kanner menyatakan autism berasal dari kata auto yang berarti

sendiri, penyandang autis seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri.

Berdasarkan pendapat Kanner ini banyak guru dan orang tua menganggap

anak yang tidak dapat melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar

diidentikan sebagai anak autis, padahal tidak sedikit anak tidak dapat

berinteraksi dengan lingkungan disebabkan oleh masalah-masalah yang

bersifat psikologis.

10

Dedy Kustawan,Pendidikan Inklusif dan Upaya Implementasinya(Jakarta: PT LUXIMA METRO MEDIA, 2012), h. 29.

11

(39)

Bonny Danuatmaja menjelaskan bahwa autis merupakan suatu

kumpulan sindrom (gejala-gejala) akibat kerusakan syaraf dan menggangu

perkembangan anak.

Mif Baihaqi dan Sugiarmin menjelaskan autis merupakan suatu

gangguan yang kompleks dan berbeda-beda dari ringan sampai berat dan

mengalami tiga bidang kesulitan, yaitu komunikasi, imajinasi, sosialisasi.

Sumarna mendeskripsikan pengertian autis sebagai berikut, autis

merupakan bagian dari anak berkelainan dan mempunyai tingkah laku

yang khas, memiliki peran yang terganggu dan terpusat pada diri sendiri

serta hubungan yang miskin terhadap realitas eksternal.

Melly Budiman menjelaskan autis adalah gangguan perkembangan

pada anak, oleh karena itu diagnosis ditegakkan dari gejala-gejala yang

Nampak dan menunjukkan adanya penyimpangan dari perkembangan

yang normal sesuai umurnya.

Rudi Sutadi menyatakan autis adalah gangguan perkembangan berat

yang antara lain mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi dan

bereaksi (berhubungan) dengan orang lain, karena penyandang autis tidak

mampu berkomunikasi verbal maupun non verbal.

Autis adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun

saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan

sosial atau komunikasi yang normal, anak tersebut terisolasi dari manusia

lain dan masuk dalam dunia repetitif, aktivitas dan minat yang obsesif.

Pada umumnya anak autis mengacuhkan suara, penglihatan ataupun

(40)

sesuai dengan situasi atau bahkan tidak ada reaksi sama sekali. Mereka

menghindari atau tidak merespon terhadap kontak sosial (pandangan mata,

sentuhan kasih sayang, bermain dengan anak lain dan sebagainya).

Anak autis memiliki hambatan dalam interaksi sosial komunikasi,

pola bermain, gangguan sensoris, perkembangan lambat atau tidak normal,

penampakan gejalan, perilaku, dan emosi.

Autisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu autos yang berarti

“self”.12 Istilah ini digunakan pertama kali pada tahun 1906 oleh psikiater swiss Uegen Bleuler, untuk merujuk pada gaya berpikir yang aneh pada

penderita skizofrenia. Cara berpikir autistik adalah kencenderungan untuk

memandang diri sendiri sebagai pusat dari dunia, percaya bahwa

kejadian-kejadian eksternal mengacu kepada diri sendiri.

Autisme (autism), atau gangguan autistic adalah salah satu gangguan

terparah di masa kanak-kanak. Autisme bersifat kronis dan berlangsung

sepanjang hidup. Anak-anak yang menderita autisme, tampak benar-benar

sendiri di dunia, terlepas dari upaya orang tua untuk menjembatani muara

yang memisahkan mereka.

Autisme adalah gangguan perkembangan berat yang meliputi

berbagai aspek yang mempengaruhi cara seseorang untuk berkomunikasi

dengan berelasi (berhubungan) dengan orang lain secara berarti serta

kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain terganggu

karena ketidakmampuannya berkomunikasi dan untuk mengerti perasaan

orang lain.

12

(41)

Menurut Kamus Lengkap Psikologi J.P Chaplin, ada tiga pengertian

autisme:13

1. Cara berpikir yang dikendalikan oleh kebutuhan personal atau diri

sendiri

2. Menanggapi dunia berdasarkan penglihatan dan harapan sendiri dan

menolak realitas

3. Keasyikan ekstrim dengan berpikir dan fantasi sendiri

Dari semua pengertian autis di atas, dapat disimpulkan bahwa

pengertian autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan

mencakup komunikasi dari yang ringan sampai yang berat, dan seperti

hidup dalam dunianya sendiri, ditandai dengan ketidakmapuan

berkomunikasi secara verbal dan non verbal dengan lingkungan luarnya.

2. Karakteristik Anak Autis

Autisme dikategorikan dalam gangguan perkembangan pervasive

yaitu kelainan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik

(reciprocal) dan dalam pola komunikasi serta minat dan aktivitas yang

terbatas stereopik dan berulang.

Penyandang autisma mempunyai karakteristik antara lain:14

1. Selektif berlebihan terhadap rangsang

2. Kurangnya motivasi untuk menjelajahi lingkungan baru

3. Responstimulasi diri sehingga menggangu integrasi sosial

4. Respon unik terhadap imbalan (reinforcement)

13

Agustyawati dan Solicha,Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, h. 236.

14

(42)

Secara umum anak autistik mengalami kelainan dalam berbicara, di

samping mengalami gangguan pada kemampuan intelektual serta fungsi

saraf. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya keganjilan perilaku dan

ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sekitarnya.

Rincian tentang kelainan anak autistik sebagai berikut:

1. Kelainan berbicara

Keterlambatan serta penyimpangan dalam berbicara

menyebabkan anak autistik sukar berkomunikasi serta tidak mampu

memahami percakapan orang lain. Walaupun pengucapan kata cukup

baik, namun banyak mempunyai hambatan saat mengungkapkan

perasaan diri melalui bahasa lisan. Dengan demikian sepertinya anak

autistik mengalami afasia (aphasia), kehilangan kemampuan untuk

memahami kata-kata disebabkan adanya kelainan pada saraf otak.

2. Kelainan fungsi saraf dan intelektual

Umumnya anak autistik mengalami keterbelakangan mental,

kira-kira 60% anak autis mempunyai skor IQ 50, sedangkan sebanyak

20% anak antara 50-70% dan hanya 20% anak yang mempunyai IQ

lebih dari 70.15 Mereka tergolong tidak mempunyai kecakapan untuk

memahami benda-benda abstrak atau simbolik. Namun di sisi lain

mereka mampu memecahkan teka-teki yang rumit dan mampu

mengalikan suatu bilangan.

15

(43)

3. Perilaku yang ganjil

Anak autistik akan mudah sekali marah bila ada perubahan yang

dilakukan pada situasi atau lingkungan tempat ia berada sekecil

apapun. Mereka sangat tergantung pada sesuatu yang khas bagi

dirinya.

Seringkali anak autistik juga menunjukan sikap yang

berulang-ulang seperti mengelilingi benda tertentu, berjalan, menjentikkan jari,

resistensi terhadap perubahan hal rutin, sensitivitas tinggi terhadap

rangsangan sensorik seperti sentuhan, suara, rasa, atau cahaya.

Menghindari kontak mata dan seringkali memberikan respon

yang tidak tepat, baik dengan kata-kata atau pun suara. Terkadang

anak mengalami kesulitan tidur dan mengendalikan emosi serta

mengarah pada perilaku agresif terhadap diri sendiri maupun orang

lain.

4. Interaksi Sosial

Anak autistik kurang suka bergaul dan sangat terisolasi dan

lingkungan hidupnya terlihat kurang ceria, tidak pernah menaruh

perhatian atau keinginan untuk menghargai perasaan orang lain, dan

suka menghindar dengan orang-orang sekitarnya sekalipun itu

saudaranya sendiri.

Ciri utama dari autisme adalah gerakan stereotipe berulang yang

tidak memiliki tujuan seperti berulang-ulang memutar benda,

(44)

kaki. Sebagian anak autistik menyakiti diri sendiri, bahkan saat mereka

berteriak kesakitan. Mereka mungkin membenturkan kepala, menampar

wajah, menggit tangan dan pundak, atau menjambak rambut mereka.

Bila mereka berada satu ruangan dengan orang lain, maka penderita

autisme akan cenderung menyibukkan diri dengan aktivitas yang

melibatkan diri mereka sendiri, yang umumnya dengan benda-benda mati.

Ketika dipaksa untuk bergabung dengan yang lainnya, mereka akan

kesulitan untuk melakukan tatap mata atau berkomunikasi secara langsung

dengan orang lain.16 Di samping itu, jika mereka sedang bermain dengan

mainan mereka, maka perilaku mereka cenderung agresif atau

menggerak-gerakkan badannya. Dan mereka condong untuk memainkan permainan

yang dapat dilakukan seorang diri. Mereka juga tidak sanggup

menghentikan permainannya bila diminta oleh orang lain.

Dalam kemampuan komunikasi dan bahasa, anak autis memiliki

karakteristik sebagai berikut:17

a. Ekspresi wajah yang datar pada beberapa anak seringkali guru dan

orang tua sangat sulit membedakan apakah anak sedang merasa

senang, sedih ataupun marah.

b. Tidak menggunakan bahasa atau isyarat tubuh.

c. Jarang sekali memulai komunikasi

d. Tidak meniru aksi atau suara

e. Bicara sedikit atau tidak ada

16

Mirza Maulana,Anak Autis Mendidik Anak Autis dan Gangguan Mental Lain Menuju Anak Cerdas dan Sehat(Jogjakarta: KATAHATI, 2008), h. 12.

17

(45)

f. Membeo kata-kata kalimat atau nyanyian

g. Intonasi ritme vocal yang aneh

h. Tampak tidak mengerti arti kata

i. Mengerti dan menggunakan kata secara terbatas

j. Pemahaman bahasa kurang

k. Tidak melakukan kontak mata saat bicara

3. Jenis Anak Autis

Berdasarkan waktu munculnya gangguan, autisme dapat dibedakan

menjadi dua yaitu autisme sejak bayi dan autisme regresif.18

Pada autisme yang terjadi sejak bayi, anak sudah menunjukan

perbedaan-perbedaan dibandingkan dengan anak non-autistik sejak ia bayi.

Autisme regresif ditandai dengan regresi (kemunduran kembali)

perkembangan. Kemampuan yang sudah diperoleh jadi hilang, yang

awalnya sudah sempat menunjukkan perkembangan normal sampai sekitar

usia 1,5 sampai 2 tahun, tiba-tiba perkembangan ini berhenti. Kontak mata

yang tadinya sudah bagus, lenyap. Awalnya sudah mulai bisa

mengucapkan beberapa patah kata, hilang kemampuan bicaranya.

Kasus gangguan autisme yang sejak bayi bisa terdeteksi sekitar usia

6 bulan, sedangkan untuk kasus autisme regresif, orang tau biasanya mulai

menyadari ketika anak berusia 1,5 sampai 2 tahun.

Dilihat dari jenis perilaku, anak autisme dapat digolongkan dalam 2

jenis, yaitu perilaku yang excessive (berlebihan) dan perilaku yang deficit

(berkurangan).19

18

(46)

Yang termasuk perilaku excessive adalah hiperaktif, dan tantrum

(mengamuk) berupa menjerit, menyepak, menggit, mencakar, memukul

dan terjadi anak menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilaku deficit

ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai (naik

kepangkuan Ibu bukan untuk kasih sayang tapi untuk meraih kue), deficit

sensoris sehingga dikira tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak

tepat, misalnya tertawa tanpa sebab dan melamun.

4. Faktor Yang Menyebabkan Anak Autis

Autisme ini dapat terjadi sejak seorang bayi lahir, meskipun tidak

sedikit juga anak-anak yang terdeteksi autis saat berusia 18-24 bulan.

Artinya ketika lahir, bayi lahir normal, namun pada saat usianya 18-24

bulan, perkembangannya tiba-tiba terhenti karena penyebab tertentu, dan

bahkan mengalami kemunduran.

Penyebab autis sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti,

namun ada beberapa faktor predisposisi yang memungkinkan terjadinya

autisme, yaitu: faktor generik, faktor hormoral, kelainan pranatal, proses

kelahiran yang kurang sempurna, serta penyakit tertentu yang diderita sang

Ibu ketika mengandung atau melahirkan sehingga menimbulkan gangguan

pada perkembangan susunan saraf pusat yang mengakibatkan fungsi otak

terganggu.20

19

Agustyawati dan Solicha,Psikologi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, h. 240.

20

(47)

Di bawah ini beberapa kelainan yang bisa terjadi pada anak

autisme:21

a. Kelainan anatomis otak

Kelainan pada bagian-bagian tertentu otak yang meliputi cerebellum

(otak kecil), lobus parietalis, dan system limbic ini mencerminkan

bentuk-bentuk perilaku berbeda yang muncul pada anak-anak autis.

1. Cerebellum (otak kecil) merupakan bagian otak yang mengatur

kemampuan berbahasa, perhatian, kemampuan berpikir, daya ingat,

dan proses sensoris. Kelainan pada bagian ini menyebabkan

terganggunya fungsi-fungsi yang berkaitan dengan kemampuan di

atas. Itu kenapa seringkali juga kita dapati anak autis mengalami

kesulitan dalam pemusatan perhatian atau dalam berbahasa.

2. Kelainan pada lobus parietalis ini menyebabkan munculnya

perilaku tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.

3. System limbic yang terdiri dari hypocampus dan amygdala adalah

bagian otak yang bertanggung jawab terhadap pengaturan emosi.

Munculnya perilaku agresivitas atau emosi yang ‘naik turun’ dan

kesulitan untuk mengendalikannya disebabkan adanya kelainan di

bagian ini. Amygdala juga bertanggung jawab terhadap

pengelolaan rasa takut, dan berbagai rangsangan sensoris seperi

penciuman, rasa, perabaan dan penglihatan. Sedangkan

hypocampus membantu kita dalam proses belajar dan daya ingat

dalam menyimpan informasi baru, salah satu ciri yang menandai

21

(48)

autism antara lain adalah adanya perilaku implusif untuk

mengulang-ulang gerakan tertentu, ini juga disebabkan adanya

kelainan pada hypocampus.

b. Faktor pemicu tertentu saat kehamilan

Beberapa faktor yang dapat memicu munculnya autism pada

masa kehamilan terjadi pada masa kehamilan 0-4 bulan, bisa

diakibatkan karena:

1. Polutan logam berat (Pb, Hg, Cd, Al)

2. Infeksi (toksoplasma, rubella, candida, dan sebagainya)

3. Zat aditif (pengawet, pewarna, MSG)

4. Hiperemesis (muntah-muntah berat)

5. Pendarahan berat

6. Alergi berat

c. Zat-zat aditif yang mencemari otak anak

Beberapa faktor yang berpotensi menjadi penyebab autism pada

anak antara lain seperti:

1. Asupan MSG (Monosodiumglutamat)

2. Protein tepung terigu (gluten), protein susu sapi (kasein)

3. Zat pewarna

4. Bahan pengawet

5. Bahkan beberapa ahli juga berpendapat bahwa jenis imunisasi

seperti MRR dan Hepatitis B pada bayi dapat juga menjadi pemicu

(49)

6. Polutan logam berat. Dari hasil tees pada darah dan rambut

beberapa anak autis ditemukan kandungan logam berat dan

beracun seperti arsenic, antimony, cadmium (Cd), air raksa (Hg),

atau timbale (Pb). Diduga kemampuan tubuh anak autis tidak

mampu melakukan sekresi terhadap logam berat akibat air raksa

(Hg), atau timbale (Pb). Diduga kemampuan tubuh anak autis tidak

mampu melakukan sekresi terhadap logam berat akibat masalah

yang sifatnya genetis.

d. Kekacauan interpretasi dari sensori yang menyebabkan stimulus

dipersepsi secara berlebihan oleh anak sehingga menimbulkan

kebingungan juga menjadi salah satu penyebab autism

e. Jamur yang muncul di usus anak akibat pemakaian antibiotic yang

berlebihan juga dapat memicu gangguan pada otak, karena jamur ini

dapat menyebabkan kebocoran usus dan tidak tercernanya kasein dan

gluten dengan baik sehingga protein yang ada tidak terpecah dengan

sempurna dan terserap dalam aliran darah ke otak.

E. Sekolah Khusus

1. Pengertian Sekolah Khusus

Pendidikan Khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang

memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena

kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi

kecerdasan dan bakat istimewa.22

22

(50)

Pemerintah mendefinisikan pendidikan khusus seperti tertuang pada

pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem

Pendidikan Nasional, sebagai berikut: “Pendidikan khusus merupakan

pendidikan bagi peserta diidk yang memiliki tingkat kesulitan dalam

mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental,

sosial, dan atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.

Anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan yang

spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak

berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan

belajar dan hambatan perkembangan. Mereka memerlukan layanan

pendidikan yang sesuai dengan hambatan belajar dan hambatan

perkembangan yang dialami oleh masing-masing anak.

Anak autis membutuhkan pelayanan pendidikan khusus agar

potensinya dapat berkembang secara optimal.

Barang kali masih sulit untuk membedakan antara pendidikan khusus

dengan pendidikan inklusif. Maka penulis akan coba menguraikan

perbedaan antara pendidikan khusus dan pendidikan inklusif.

Pendidikan inklusif adalah pendidikan pada sekolah umum yang

disesuaikan dengan kebutuhan siswa yang memerlukan pendidikan khusus

pada sekolah umum dalam satu kesatuan yang sistemik. Pendidikan

inklusif adalah sebuah konsep atau pendekatan pendidikan yang berusaha

menjangkau semua individu tanpa kecuali. Pendidikan inklusif adalah

pendidikan yang tidak diskriminatif. Pendidikan yang memberikan

(51)

intelektual, social, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat

tinggal, bahasa dan sebagainya.23

Sedangkan pendidikan khusus adalah lembaga pendidikan yang

menyelenggarakan program pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Contoh lembaga yang menyelenggarakan pendidikan khusus adalah

Rumah Autis Bekasi dengan program sekolah khususnya.

2. Jenis-Jenis Pendidikan

Pendidikan merupakan upaya manusia untuk mengubah dirinya atau

orang lain selama ia hidup. Pendidikan hendaknya lebih dari sekedar

masalah akademik atau perolehan pengetahuan, skill dan mata pelajaran

konvensional, melainkan harus mencakup berbagai kecakapan yang

diperlukan untuk menjadi manusia lebih baik.

Karena itu pendidikan hendaknya meliputi apresiasi terhadap

estetika, pembentukan sikap, pembentukan nilai-nilai dan aspirasi dan

informasi tentang berbagai hal dalam kehidupan.

Philips H. Coombs mengategorikan metode menjadi tiga, yaitu

informal, formal dan nonformal.24

a. Pendidikan Informal

Proses belajar sepanjang hayat yang terjadi pada setiap individu dalam

memperoleh nilai-nilai, sikap, keterampilan dan pengetahuan melalui

pengalaman sehari-hari atau pengaruh pendidikan dan sumber-sumber

lainnya disekitar lingkungannya. Hampir semua bagian prosesnya

23

Dedy Kustawan,Pendidikan Inklusif dan Upaya Implementasinya, h. 8.

24

(52)

relatif tidak terorganisasikan dan tidak sistematik. Meskipun demikian,

tidak berarti hal ini menjadi tidak penting dalam proses pembentukan

kepribadian.

b. Pendidikan Formal

Proses belajar terjadi secara hierarki, tersktruktur, berjenjang, termasuk

studi akademik secara umum, beragam program lembaga pendidikan

dengan waktu penuh ataufull time,pelatihan teknis dan profesional.

c. Pendidikan Nonformal

Proses belajar terjadi secara terorganisasikan di luar sistem

persekolahan atau pendidikan formal, baik dilaksanakan terpisah

maupun merupakan bagian penting dari suatu kegiatan yang lebih

besar yang dimaksudkan untuk melayani sasaran didik tertentu dan

belajarnya tertentu pula.

3. Fungsi Sekolah Khusus

Fungsi pendidikan khusus dilihat dari jenis kebutuhan peserta didik,

yaitu fungsi pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dan fungsi

pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan

dan atau bakat istimewa seperti diuraikan pada PP Nomor 17 Tahun 2010,

sebagai berikut:

a. Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan berfungsi

memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki

kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,

(53)

b. Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi

kecerdasan dan/atau bakat istimewa berfungsi mengembangkan

potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai dengan

karakteristik keistimewaannya.

4. Tujuan Sekolah Khusus

Tujuan pendidikan khusus terbagi dua kategori tujuan, yaitu tujuan

pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dan tujuan khusus bagi

peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa

seperti dipaparkan di bawah ini:25

a. Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan bertujuan untuk

mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sesuai

kemampuannya.

b. Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi

kecerdasan dan/atau bakat istimewa bertujuan mengaktualisasikan

seluruh potensi keistimewaannya tanpa mengabaikan keseimbangan

perkembangan kecerdasann spiritual, intelektual, emosional, sosial,

estetik, kinestetik dan kecerdasan lain.

5. Penyelenggaraan Pendidikan Khusus

a. Pendidikan khusus bagi peserta didik berkelainan dapat

diselenggarakan pada semua jalur dan jenis pendidikan pada jenjang

pendidikan dasar dan menengah. Penyelenggaraan pendidikan khusus

dapat dilakukan melalui satuan pendidikan khusus, satuan pendidikan

25

(54)

umum, satuan pendidikan kejuruan, dan/atau satuan pendidikan

keagamaan.

Rumah Autis Bekasi merupakan satuan pendidikan khusus yang

memiliki program khusus bagi peserta didik yang memiliki kelainan

yaitu anak autis dengan memberikan layanan sekolah khusus bagi

mereka.

b. Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi

kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat diselenggarakan pada satuan

pendidikan formal TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA,

SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat.

c. Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi

kecerdasan dan/atau bakat istimewa dapat berupa:

1) Program percepatan; dan/atau

2) Program pengayaan

6. Sasaran Pendidikan Khusus

Dalam usahanya untuk menangani masalah-masalah yang ada,

sasaran pendidikan khusus hampir mencakup semua Anak Berkebutuhan

Khusus permanen yang memerlukan Pendidikan Khusus.

Anak berkebutuhan khusus terdiri dari anak berkebutuhan khusus

permanen yang memerlukan Pendidikan Khusus (PK) dan anak

berkebutuhan khusus temporer yang memerlukan Layanan Pendidikan

Khusus (PLK). Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen yaitu

mereka yang memperoleh hambatan belajar dan hambatan p

Gambar

gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya
Tabel 1Rancangan Subyek Penelitian
Tabel 2.
Gambaran Umum Rumah Autis Bekasi. Dalam bab ini
+7

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi Metode Applied Behavior Analysis (Lovaas) Pada Anak Autis Di Sentra Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Cahaya Nurani Jember; Mahdiah Imadul Ummah; 090210201034; 2013;

Jelas bahwa nilai koefisien arah regresi (b) bertanda positif yaitu 0,791; ini mempunyai pengertian atau makna bahwa variabel implementasi program pelayanan KB

Abstrak: Pengembangan Kapasitas Sekolah Luar Biasa untuk Meningkatkan Pelayanan Pendidikan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus di SDLBN Kedungkandang

Latar belakang pendidikan HSR yang berasal dari luar pendidikan khusus dan belum pernah menerima pelatihan mengenai pembelajaran untuk ana autis serta pengalaman

Berdasarkan studi observasi, wawancara dan dokumentasi dengan kepala sekolah (MC), Koordinator inklusi (ADM), ketua inklusi (GR) dan Guru pedidik khusus kelas 7 (PPT),

Jelas bahwa nilai koefisien arah regresi (b) bertanda positif yaitu 0,791; ini mempunyai pengertian atau makna bahwa variabel implementasi program pelayanan KB

Permasalahan penelitian tentang implementasi kebijakan pelayanan pendidkan khusus pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas bagi peserta didik berkelainan fisik di Sekolah Luar Biasa Negeri

Dari hasil wawancara yang dilakukan, standar operasional prosedur implementasi program kartu identitas anak dalam pelayanan administrasi kependudukan di Kelurahan Kalijudan mengacu