• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2011

RINGKASAN

ANGGRIANI PUTRI SOETRISNIATI. Analisis Tataniaga Tebu (Studi Kasus Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur). Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. (Di bawah bimbingan RACHMAT PAMBUDY)

Tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan yang turut berperan dalam pembangunan ekonomi nasional dan memberikan kontribusi yang cukup besar pada subsektor perkebunan. Indonesia mempunyai keunggulan komparatif sebagai produsen gula tebu dilihat dari sisi sumber daya alam dan iklim. Produksi tebu ini ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar akan produk olahan tebu ini.

Salah satu daerah yang menjadi sentra tebu di Kabupaten Jombang adalah Kecamatan Ngoro. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis saluran tataniaga yang ada di Desa Pulorejo, menganalisis fungsi-fungsi tataniaga tebu, struktur pasar, perilaku pasar yang terjadi dan menganalisis saluran mana yang lebih efisien berdasarkan margin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya.

Penelitian dilakukan di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Waktu penelitian dilakukan dari bulan Februari hingga Maret 2011. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive). Pengambilan responden petani dilakukan berdasarkan secara sengaja (purposive) dan lembaga tataniaga dilakukan dengan menggunakan metode snowball sampling. Jumlah petani responden adalah sebesar 20 orang petani.

Terdapat empat saluran tataniaga tebu di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yaitu saluran tataniaga I: petani, Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) dan pabrik gula; saluran II: petani, kelompok tani dan pabrik gula; saluran III: petani, kontraktor tebu dan pabrik gula; saluran IV: petani, pedagang sari tebu dan konsumen.

Fungsi tataniaga yang dilakukan oleh lembaga-lembaga tataniaga dalam tataniaga tebu ini adalah fungsi pertukaran dilakukan oleh lembaga tataniaga dan petani tidak melakukan kegiatan pembelian. Pada saluran I dan II petani melakukan fungsi fisik yaitu pegangkutan. Fungsi fisik penyimpanan dilakukan APTRI dan pedagang sari tebu. Fungsi fasilitas penanggungan risiko, pembiayaan dan informasi pasar dilakukan pada setiap lembaga tataniaga. Fungsi sortasi dilakukan petani dan kontraktor tebu. Fungsi pengolahan dilakukan oleh pedagang sari tebu yang mengolah tebu menjadi minuman sari tebu.

Struktur pasar yang dihadapi petani, kontraktor tebu dan pedagang sari tebu mendekati pasar persaingan karena terdapat banyak penjual, barang yang homogen dan tidak adanya hambatan untuk keluar dan masuk pasar. Pasar oligopoli dihadapi oleh APTRI dan kelompok tani karena sedikitnya penjual, sifat produk homogen dan ada kesulitan untuk keluar masuk pasar.

Perilaku pasar dapat dilihat dari praktek pembelian dan penjualan, sistem penentuan harga dan pembayaran harga dan kerjasama antara lembaga tataniaga.

Praktek pembelian dan penjualan dilakukan secara borongan dan secara langsung. Penentuan harga tebu di tingkat petani adalah melalui tawar menawar antara petani dan lembaga tataniaga. Penentuan harga bagi APTRI dan kontraktor tebu berdasarkan harga lelang gula tertinggi dan ketetapan pemerintah. Pembayaran hasil penjualan dilakukan secara tunai dan nota penjualan. Kerjasama antar lembaga tataniaga dijalankan petani dengan APTRI dalam hal penyediaan kredit bagi petani untuk usahatani tebu.

Saluran tataniaga yang efisien dalam sistem tataniaga tebu di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur adalah saluran tataniaga I. Hal ini dapat dilihat dari nilai margin tataniaga, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya. Namun, slauran tataniaga III yangpaling digemari oleh petani dan memiliki volume penjualan paling besar.

I.PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997 telah menimbulkan berbagai dampak yang serius. Dampak yang timbul akibat krisis ekonomi di Indonesia adalah penurunan secara drastis nilai tukar rupiah terhadap dollar, penyerapan tenaga kerja melambat, inflasi yang tidak terkendali, jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan meningkat drastis, dan kejahatan meningkat. Indonesia mencoba keluar dari krisis yang melanda saat itu dengan berbagai langkah. Langkah keluar didasarkan pada beberapa aspek: kebijakan makro, moneter dan fiskal untuk mengatasi masalah nilai tukar, inflasi dan memburuknya perekonomian, kebijaksanaan restrukturisasi sektor riil dan penanggulangan dampak sosial.

Salah satu subsektor penting yang dapat mengurangi dampak krisis ekonomi yang melanda Indonesia adalah subsektor perkebunan. Subsektor perkebunan memiliki kontribusi penting bagi perekonomian Indonesia. Peran subsektor perkebunan dalam pembangunan nasional akan memecahkan masalah-masalah ekonomi nasional. Selain meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB), subsektor perkebunan akan memperluas kesempatan kerja. Penyerapan tenaga kerja di bidang perkebunan mengalami peningkatan dari tahun 2004 sebesar 18,6 juta tenaga kerja menjadi 19 juta tenaga kerja pada tahun 2005. Peningkatan penyerapan tenaga kerja akan mengurangi jumlah pengangguran dan arus urbanisasi. Subsektor perkebunan juga memberikan kontribusi pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan harga yang berlaku PDB perkebunan terus mengalami peningkatan dari Rp. 49,630.9 miliar pada tahun 2004 menjadi Rp. 81,664 miliar pada tahun 2007. Peningkatan PDB Bruto sekitar 21.5% per tahun. Kontribusi PDB perkebunan terhadap PDB tanpa migas adalah sekitar 2.2% dan 2.0% terhadap total PDB (Direktorat Jendral Perkebunan, 2009).

Peran subsektor perkebunan dalam pembangunan ekonomi nasional diperkuat dengan peningkatan luas areal dan produksi. Data Tabel 1 dapat dilihat pertumbuhan areal perkebunan meningkat 5.3 % per tahun dari total area perkebunan pada tahun 2005-2009. Komoditi yang mengalami pertumbuhan

adalah kelapa sawit, kopi dan tebu. Peningkatan luas areal perkebunan akan berpengaruh kepada penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak pada subsektor perkebunan. Penyerapan tenaga kerja yang baik akan berdampak kepada pengurangan angka pengangguran di Indonesia dan menekan angka urbanisasi karena di pedesaan telah tercipta lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja dengan baik.

Tabel 1. Luas Areal Tanaman Perkebunan di Indonesia (1000 Ha)

Komoditi Tahun Pertumbuhan (%)

per tahun 2005 2009* Karet 512.4 514.0 0.07 Kelapa Sawit 3593.4 4520.6 6.4 Tembakau 4.8 4.5 -1.5 Kopi 52.9 58.3 5.4 Tebu 381.8 443.8 4.1 Teh 81.7 67.1 -4.4 Total 4627.0 5608.3 5.30 *: Angka Sementara

Sumber : BPS Republik Indonesia (2010)

Selain luas areal yang mengalami peningkatan, produksi perkebunan juga mengalami kenaikan sebesar 7.1% per tahun dalam periode empat tahun. Komoditi perkebunan yang mengalami peningkatan paling besar adalah kelapa sawit sebesar 7.4% per tahun dan tembakau yang mengalami penurunan paling besar sebesar 6.8% per tahun.

Tabel 2. Produksi Tanaman Perkebunan di Indonesia (Ribu Ton)

Komoditi Tahun Pertumbuhan (%)

per tahun 2005 2009* Karet 432.2 529.6 5.6 Kelapa Sawit 12258.7 15892.1 7.4 Tembakau 4.0 2.9 -6.8 Kopi 24.8 28.4 3.6 Tebu 2241.7 2849.8 6.7 Teh 128.2 114.9 -2.6 Total 15.090 19.418 7.1 *: Angka Sementara

Sumber : BPS Republik Indonesia (2010)

Tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan yang turut berperan dalam pembangunan ekonomi nasional dan memberikan kontribusi yang cukup besar pada subsektor perkebunan. Indonesia mempunyai keunggulan komparatif sebagai produsen gula tebu dilihat dari sisi sumber daya alam dan iklim. Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan semusim, yang mempunyai sifat tersendiri sebab didalam batangnya terdapat zat gula. Tebu hasil panen dari petani dapat dijual kepada pabrik gula yang akan diolah menjadi gula ataupun kepada tengkulak dan makelar. Produksi tebu ini ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar akan produk olahan tebu ini. Permintaan akan gula sebagai produk olahan tebu ini makin meningkat sedangkan produksi dalam negeri belum dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin besar. Pengembangan perlu dilakukan pada usaha tebu ini agar produksinya semakin meningkat dan dapat memenuhi permintaan pasar dalam negeri. Tebu dapat dikonsumsi dalam bentuk segar, diambil sari tebu kemudian menjadi minuman dan olahan tebu menjadi gula. Pada tabel 1 terlihat bahwa tanaman tebu memiliki pertumbuhan luas areal yang besar sekitar 4.1% sedangkan pertumbuhan produksi tebu mengalami peningkatan sekitar 6.7%.

Indonesia memiliki sentra-sentra produksi tebu yang selama ini menghasilkan tebu untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat akan gula. Salah satu

sentra tebu di Indonesia adalah Provinsi Jawa Timur. Menurut data statistik areal perkebunan yang paling luas adalah Jawa Timur dengan pertumbuhan luas areal sekitar 8.78 % per tahun pada tahun 2005 sebesar 169.338 Ha menjadi 213.944 tahun 2008. Pertumbuhan areal perkebunan tebu di Indonesia sekitar 9.5% per tahun dari total areal perkebunan tebu menurut provinsi di Indonesia (Direktorat Jendral Perkebunan, 2009).

Produksi tebu dapat berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi nasional. Makin banyak tebu yang dihasilkan maka kontribusi subsektor perkebunan terhadap pengembangan ekonomi nasional akan meningkat. Produksi tebu di beberapa provinsi mengalami fluktuasi pada tahun 2006-2009. Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan produksi sebesar 273.618 ton dari tahun 2006-2007 dan mengalami penurunan di tahun 2008 sebesar 38.195 ton. Kemudian mengalami peningkatan kembali di tahun 2009 sebesar 4.385 ton.

Tabel 3. Produksi Tebu Berdasarkan Provinsi di Indonesia (Ton)

Provinsi Tahun 2006 2007 2008 2009* Sumatera Utara 50.620 48.689 40.585 31.008 Sumatera Selatan 58.978 56.318 58.861 79.560 Lampung 693.550 714.641 810.681 934.244 Jawa Barat 113.338 127.470 111.781 124.470 Jawa Tengah 260.796 249.526 266.891 278.874 DI. Yogyakarta 13.423 15.785 15.648 26.756 Jawa Timur 1.067.301 1.340.919 1.302.724 1.307.109 Gorontalo 30.729 51.462 25.736 25.794 Sulawesi Selatan 18.242 19.149 35.521 41.954 Total 2.306.977 2.623.959 2.668.428 2.849.769 *: Angka Sementara

Kabupaten Jombang merupakan salah satu wilayah penghasil tebu di Provinsi Jawa Timur. Luas areal yang ditanami tebu pada tahun 2008 sebesar 13.207 Ha dari 25.060 Ha wilayah perkebunan di Kabupaten Jombang dan produksinya mencapai 74.493 Ton. Tabel 4 akan memperlihatkan data luas areal dan produksi tebu di Provinsi Jawa Timur.

Tabel 4. Data Statistik Tebu Provinsi Jawa Timur Tahun 2008

Kabupaten / Kota Luas Areal (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas

(Kg/Ha) Gresik 2.280 13.412 6.356 Sidoarjo 6.768 35.286 5.794 Mojokerto 11.272 69.119 6.435 Jombang 13.207 74.943 5.878 Bojonegoro 1.304 7.378 6.128 Lamongan 2.655 15.928 7.286 Madiun 6.508 31.628 5.042 Magetan 6.875 41.820 7.689 Ngawi 6.857 39.478 6.857 Ponorogo 2.838 17.900 6.824 Kediri 17.115 120.560 8.471 Nganjuk 4.113 30.793 7.487 Blitar 9.443 58.220 6.651 Tulungagung 5.957 42.434 7.123 Trenggalek 1.065 9.451 8.874 Malang 28.500 172.947 6.505 Pasuruan 5.914 32.416 6.928 Probolinggo 2.730 21.324 8.892 Lumajang 16.949 102.791 6.355 Bondowoso 6.590 35.507 5.852 Jember 8.045 45.811 5.915 Banyuwangi 2.745 14.102 7.521 Kota Kediri 3.496 20.397 6.424

Kecamatan Ngoro merupakan salah satu sentra penghasil tebu di Kabupaten Jombang. Luas areal yang ditanami tebu pada tahun 2007 sebesar 971,070 Ha dari 1278.18 Ha wilayah perkebunan kecamatan Ngoro. Tebu yang dihasilkan di wilayah kecamatan Ngoro pada tahun 2007 sebesar 771.126,69 ton. Hasil tebu dari kecamatan Ngoro akan berkontribusi untuk memenuhi permintaan masyarakat akan gula. Salah satu desa yang berada pada Kecamatan Ngoro sebagai penghasil tebu adalah Desa Pulorejo. Mayoritas penduduknya memiliki lahan yang ditanami tebu dan bekerja sebagai petani tebu.

Semakin besar permintaan masyarakat akan gula maka petani penghasil tebu harus meningkatkan hasil produksinya agar permintaan tersebut terpenuhi. Kecamatan Ngoro sebagai salah satu daerah penghasil tebu akan berusaha mengoptimalkan hasil produksinya agar dapat berkontribusi dalam pemenuhan permintaan gula di Indonesia. Peningkatan hasil produksi yang dilakukan oleh petani juga akan mendapatkan tantangan. Salah satu tantangan yang akan dihadapi oleh petani dalam meningkatkan hasil produksinya adalah mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar yang telah ada. Cara untuk mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar dapat melalui peningkatan kualitas tebu yang dihasilkan oleh petani, peranan lembaga-lembaga dalam tataniaga dan peningkatan produksi yang dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kinerja kerja petani dan cara budidaya yang baik.

Kendala yang terjadi pada petani tebu yaitu semakin banyak petani yang menjual secara bebas tebu miliknya kepada kontraktor tebu. Petani yang menjual tebu ke kontraktor tidak ingin sulit dalam mengurus hasil tebu dan biaya-biaya pemanenan dan pengangkutan dibayarkan oleh kontraktor. Masih banyak juga petani yang menjual tebunya melalui Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia dan biaya-biaya pemanenan di tanggung oleh petani. Petani tidak mengetahui saluran mana yang lebih efisien dalam menjual tebu hasil perkebunannya. Ketidaktahuan petani ini memaksa petani menjual tebunya sesuai kebutuhan petani. Selain mekanisme pemasaran yang belum efisien, teknik budidaya tebu akan menentukan kualitas tebu tersebut. Sebagai contoh, jika petani tidak mengelupas batang yang telah mengering, hal ini akan menghambat tebu untuk mengubah

zat-zat unsur hara menjadi gula. Sehingga tebu yang dihasilkan memiliki rendemen yang rendah.

1.2. Perumusan Masalah

Kualitas tebu yang dihasilkan petani tidak sesuai dengan rencana rendemen pabrik mengindikasikan bahwa budidaya yang dilakukan oleh petani tebu belum sesuai dengan prosedur. Banyaknya saluran yang tercipta pada pemasaran tebu dan ketidaktahuan petani dalam menetukan saluran yang lebih efisein mengindikasikan sistem tataniaga tebu yang ada pada Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang tidak efisien. Selain itu, keuntungan yang diterima petani bila dibandingkan dengan biayayang akan dikeluarkan sangat kecil. Sistem tataniaga tebu yang tidak efisien akan mengakibatkan terciptanya marjin tataniaga yang cukup besar dan adanya kesenjangan harga antar lembaga tataniaga. Posisi tawar petani tebu (bargaining position) sangat rendah karena petani tidak dapat menentukan harga dari tebu yang dihasilkannya dan kurangnya informasi pasar yang tersedia bagi petani sehingga bagian yang diterima oleh petani sedikit.

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana saluran tataniaga tebu yang terbentuk di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang?

2. Bagaimana fungsi, struktur dan perilaku pasar tataniaga tebu di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang?

3. Bagaimana efisiensi tataniaga tebu pada setiap saluran tataniaga di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang dengan pendekatan marjin tataniaga , farmer’s share dan rasio biaya dan keuntungan.

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengidentifikasi saluran tataniaga tebu yang terbentuk di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

2. Mengidentifikasi fungsi, struktur dan perilaku pasar tataniaga tebu di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang.

3. Mengidentifikasi efisiensi tataniaga tebu pada setiap saluran tataniaga di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang dengan pendekatan marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio biaya dan keuntungan.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Bagi petani, sebagai informasi dalam upaya melakukan efisiensi jalur tataniaga tebu sehingga kesejahteraan petani meningkat.

2. Bagi pemerintah, sebagai bahan masukan dalam membuat kebijakan untuk mengefisiensikan tataniaga tebu.

3. Bagi pihak lain, sebagai bahan referensi dalam upaya penyempurnaan masalah penelitian

4. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan baru bagi penulis dan meningkatkan kompetensi dalam menerapkan ilmu yang diperoleh dalam proses perkuliahan agribisnis.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang. Petani yang dijadikan contoh dalam penelitian ini adalah petani yang berada di desa Pulorejo yang melakukan usahatani tebu. Selain itu, lembaga pemasaran yang menjadi responden adalah lembaga yang terlibat langsung dalam proses tataniaga tebu di Desa Pulorejo.

Analisis penelitian ini dibatasi untuk melihat dan mengkaji saluran pemasaran tebu di daerah penelitian. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis marjin tataniaga, farmer’s share dan rasio biaya dan keuntungan untuk melihat tingkat efisiensi tataniaga tebu.

II.TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Botani Tanaman Tebu

Tebu (Saccharum officinarum) telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu oleh bangsa Persia, Cina, India dan kemudian menyusul bangsa Eropa. Penanaman tebu di Indonesia dimulai pada saat sistem Tanam Paksa (Tahun 1870) yang memberikan keuntungan besar untuk kas negara pemerintah kolonial Belanda. Setelah sistem Tanam Paksa dihentikan, usaha perkebunan tebu dilakukan oleh pengusaha-pengusaha swasta perluasan perkebunan tebu tidak pernah melampaui Pulau Jawa karena memang jenis tanaman dan pola pertanian di Pulau Jawa lebih sesuai untuk penanaman tebu.

Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan semusin yang mempunyai sifat tersendiri sebab didalam batangnya terdapat zat gula. Tebu berkembang biak di daerah beriklim udara sedang sampai panas. Berbagai varietas tebu telah diluncurkan oleh Kementrian Pertanian untuk meningkatkan produksi petani. Kualitas bibit tebu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan keberhasilan pengusahaan tanaman tebu. Bibit tebu yang baik adalah bibit yang cukup (5 – 6 bulan), murni (tidak tercampur varietas lain), bebas dari penyakit dan tidak mengalami kerusakan fisik. Pada tabel 5 dapat dilihat beberapa varietas tebu beserta ciri-cirinya.

Tabel 5. Varietas dan Karakteristik Tebu yang terdapat di Indonesia

Varietas Diameter batang Kemasakan Rendemen

PS 851 Sedang Awal – tengah 10,74

PS 862 Besar Awal – tengah 10,87

PS 863 Sedang Awal – tengah 11,75

PS864 Sedang Tengahan - lambat 8,34

PS 865 Sedang Awal – tengah 9,38

PS 881 Sedang Awal 10,22

PS 921 Sedang Tengahan 8,53

PSBM 901 Sedang Awal – tengah 9,93

PSCO 902 Sedang Sangat awal 10,99

PSJT 941 Sedang Tengahan 10,18

Bululawang Sedang - besar Tengah - lambat 7,51

Kentung Sedang Awal – tengah 8,33

Kidang Kencana

Sedang - besar Tengah - lambat 9,51

Sumber : Kementerian Pertanian, 2009

Varietas tebu yang terdapat di Kabupaten Jombang / Kecamatan Ngoro adalah varietas PS 864. Varietas ini dikeluarkan Menteri Pertanian 16 Januari 2004. Varietas ini hasil persilangan PR 1117 Polycross pada tahun 1986. Varietas ini termasuk ke dalam varietas unggul yang dikeluarkan Menteri Pertanian. Perkecambahan varietas ini sangat baik dengan anakan yang serempak, klentekan mudah. Rendemen varietas ini mencapai 8,34 pada lahan sawah dan 9,19 pada lahan tegalan. Varietas ini agak tahan terhadap hama penggerek pucuk dan tahan terhadap penyakit-penyakit pokkahbung, blendok dan mosaik

Tanaman tebu mempunyai batang yang tinggi dan kurus, tidak bercabang dan tumbuh tegak. Tebu yang tumbuh baik batangnya dapat mencapai 3 -5 meter atau lebih. Batang tebu beruas-ruas dengan panjang ruas 10 – 30 cm. Daun berpangkal pada buku batang dengan kedudukan yang berseling.

2.2. Syarat Tumbuh Tebu

Tanaman tebu merupakan salah satu tanaman perkebunan. Hasil dari tanaman tebu ini berupa batang tebu yang terdapat zat gula. Batang tebu ini yang akan digiling sehingga menghasilkan gula. Masa kemasakan tebu adalah gejala bahwa pada akhir dari pertumbuhannya terdapat timbunan sakrosa di dalam batang tebu.

Tebu dapat hidup dengan baik pada ketinggian 5 – 500 meter di atas permukaan laut, daerah beriklim panas dan lembab dengan kelembaban lebih dari

70%, hujan yang merata setelah tanaman berumur 8 bulan dan suhu udara berkisar antara 28 – 340c (Slamet, 2004).

2.2.1. Tanah

Faktor tanah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tebu adalah fisik tanah, drainase, kimia tanah dan jenis tanah.

 Fisik tanah

Struktur tanah yang ideal adalah tanah yang gembur sehingga aerasi udara dan perakaran berkembang sempurna. Tekstur tanah ringan sampaiagak berat dengan berkemampuan menahan air cukup dan porositas 30% merupakan tekstur tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman tebu. Kedalaman tanah untuk pertumbuhan tebu minimal 50 cm dengan tidak ada lapisan kedap air dan permukaan air 40 cm.

 Drainase

Tanaman tebu akan tumbuh baik pada tanah dengan kedalaman yang cukup dengan drainase yang baik dan dalam, lebih kurang satu meter dalamnya. Tanah dengan sistem drainase yang baik dapat menyalurkan pembuangan air selama musim penghujan. Kelebihan air pada daerah perakaran juga dapat dikurangi.

 Kimia tanah

Kimia tanah meliputi kandungan unsur hara, PH tanah dan bahan racun dalam tanah. PH tanah untuk pertumbuhan tanaman tebu yang paling optimal berkisar antara 6,0 – 7,5. Bahan racun dalam tanah utamanya adalah unsur Clor (Cl), Fe dan Al. Kadar Cl 0,06 - ),1 % telah bersifat racun bagi akar tanaman.

 Jenis tanah

Tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah seperti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol. Tanah yang baik untuk ditanami tebu adalah tanah endapan abu kepulan seperti yang terdapat di Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Jombang dan Jember.

2.2.2. Lahan

Tanaman tebu dapat tumbuh baik dipantai sampai dataran tinggi antara 0 –

1400 m diatas permukaan laut, tetapi mulai ketinggian 1200 m diatas permukaan laut pertumbuhan tanaman relatif lambat. Lahan terbaik bagi tanaman tebu dilahan kering/tegalan adalah lahan dengan kemiringan kurang dari 8% sampai 10% dapat juga digunakan untuk areal yang dilokalisir. Syarat lahan tebu adalah berlereng panjang, rata dan melandai sampai 2% apabila tanahnya ringan dan sampai 5% apabila tanahnya lebih berat.

2.2.3. Iklim

Faktor iklim yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman tebu adalah curah hujan, temperatur, sinar matahari, angin dan kelembaban udara.

 Curah hujan

Tanaman tebu memerlukan curah hujan yang berkisar antara 1.000 – 1.300 mm pertahun dengan sekurang-kurangnya tiga bulan kering. Daerah dengan curah hujan tahun terbesar 1500 – 3000 mm diikuti dengan penyebaran sesuai dengan kebutuhan tanaman tebu merupakan daerah yang baik untuk pengembangan tebu. Daerah dengan jumlah curah hujan terbesar 1200 – 1300 mm dengan bulan kering 6-7 bulan masih dapat dikembangkan asalkan kelembaban tanah cukup tinggi dan dapat diusahakan pengairan. Selama periode pemanasan tebu dibutuhkan bulan kering, curah hujan diatas evapotranspirasi mengakibatkan kemasakan tebu terlambat dan kadar gula rendah.

 Temperatur

Suhu udara minimum yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tebu adalah 240 C dan maksimum adalah 340 C sedangkan temperatur optimum adalah 300 C. Pertumbuhan tanaman akan terhenti apabila suhu dibawah 150 C. Pembentukan sukrosa terjadi disiang hari dan berjalan secara optimal pada suhu 300 C. Sukrosa yang terbentuk pada malam hari akan ditimbun/disimpan pada batang dimulai dari ruas yang paling bawah. Penyimpanan sukrosa yang paling efektif dan optimal pada suhu 150 C.

 Sinar matahari

Tanaman tebu merupakan tanaman tropik yang membutuhkan penyinaran 12 – 14 jam setiap harinya. Pada kondisi seperti itu tanaman akan tumbuh baik dan dapat menghasilkan bunga. Cuaca yang berawan pada malam hari menaikkan suhu udara, karena panas yang dilepas oleh bumi tertahan oleh awan. Suhu yang meningkat dimalam hari akan mengakibatkan pernafasan dan menurunkan pennimbunan sukrosa pada batang tebu.

 Angin

Angin berperan untuk kelancaran pertukaran udara didalam kebun tebu, keseimbangan kelembaban udara dan mengatur kadar zat asam arang (CO2) disekitar tajuk untuk proses fotosintesa. Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam disiang hari akan berdampak positif bagi pertumbuhan tebu, angin keras atau angin dengan kecepatan melebihi 10 km/jam disertai hujan lebat akan menggangu perumbuhan tanaman tebu. Tanaman tebu yang tinggi dapat patah dan

Dokumen terkait