ANALISA LINGKUNGAN RANTAI PASOKAN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penentuan Alternatif Strategi dengan QSPM Tujuan:
Untuk menunjukan kemenarikan relatif dan alternatif-alternatif yang dihasilkan dari matriks SWOT, guna menetapkan strategi mana yang paling tepat untuk dihasilkan terlebih dahulu oleh rantai pasokan.
Alternatif Strategi yang dihasilkan dari Analisis SWOT a. Strategi 1 : Meningkatkan produksi Serta mutu produk.
b. Strategi 2 : Melakukan kerjasama dan kemitraan dengan stakeholder dan petani lain.
c. Strategi 3 : Melakukan keterbukaan informasi antar pelaku rantai.
d. Strategi 4 : Meningkatkan mutu Pelayanan dan menjaga hubungan baik antar pelaku rantai pasokan.
e. Strategi 5 : Meningkatkan kerjasama di antara anggota rantai pasokan dengan menerapkan konsep manajemen rantai pasokan.
Petunjuk Pengisian:
Mengajukan pertanyaan, apakah faktor sukses kritis berpengaruh pada alternatif strategi yang ada. Jika jawabannya “tidak” maka kolom AS tidak perlu diisi, jika jawabannya “ya” maka kolom AS diisi dengan:
4 = jika alternatif strategi sangat menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif lain.
3 = jika alternatif strategi cukup menarik dibandingkan relatif terhadap alternatif lain.
2 = jika alternatif strategi agak menarik dibandingkan dengan relatif terhadap alternatif lain.
1 = jika alternatif strategi tidak menarik dibandingkan dengan relatif terhadap alternatif lain.
Matriks QSP
Faktor Kunci Bob
ot
Strategi 1 Startegi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5 Strategi 6
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS
Internal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Total Prioritas Strategi Matriks QSP
Faktor Kunci Bob
ot
Strategi 1 Startegi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5 Strategi 6
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS
Eksternal 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Total Prioritas Strategi
Lampiran 8. Matriks SWOT rantai pasokan udang vaname
Kekuatan (Strengths)
1. Lokasi yang dekat dengan pasar
2. Komitmen dan kepercayaan antar pelaku rantai pasokan yang tinggi.
3. Tersedianya banyak lahan untuk budidaya/produksi 4. Hubungan bisnis yang
terjalin baik antar pelaku rantai.
Kelemahan (Weaknesses) 1. Belum adanya
keterbukaan Informasi antar pelaku rantai. 2. Alat-alat yang
digunakan masih tradisional
3. Terbatasnya modal 4. Manajaemen usaha
yang masih kurang baik
Peluang (Opportunities)
1. Kebijakan dan program
pemerintah yang
mendukung proses usaha
2. Perubahan dan pola gaya hidup masyarakat.
3. Harga udang vaname yang tinggi dan stabil.
4. Kondisi agroklimat yang mendukung kegiatan usaha
5. Hambatan masuk industri yang tinggi
Strategi S-O
1. Meningkatkan produksi Serta mutu produk (S1,S2,S3,S4,O1,O2,O3,O4, O5)
Strategi W-O
1. melakukan kerjasama dan kemitraan dengan
stakeholder dan petani
lain.
(W1,W3,W4,O1,O3,O 4)
2. Melakukan keterbukaan informasi antar pelaku rantai. (W1,W4,O1)
Ancaman (Threats)
1. Tingkat inflasi yang terjadi
2. Teknologi yang digunakan masih sederhana.
3. Tingkat persaingan dalam usaha perikanan yang tinggi
4. Banyaknya produk substitusi
Strategi S-T
1. Meningkatkan mutu Pelayanan dan menjaga hubungan baik antar pelaku rantai pasokan. (S1,S2,S4,T1,T3,T4)
Strategi W-T 1. Meningkatkan kerjasama
di antara anggota rantai
pasokan dengan
menerapkan konsep manajemen rantai pasokan . (W4,T3)
Lampiran 9. Tabulasi Jawaban Responden Untuk Prioritas Strategis
Faktor Strategis Strategi 1
Rata-rata Strategi 2 Rata-rata Strategi 3 Rata-rata Strategi 4 Rata-rata Strategi 5 Rata-rata
Responden Responden Responden Responden Responden
Faktor Internal 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Kekuatan
1. Pengalaman dalam usaha udang vaname yang baik
4 3 3 2 3 2 2 3 4 2.75 2 2 1 2 1.75 3 2 3 2 2.5 2 2 3 4 2.75
2. Etos kerja yang tinggi 2 3 4 2 2.75 4 3 4 3 3.5 2 3 2 3 2.5 1 2 2 1 1.5 3 3 2 2 2.5 3. Tersedianyan banyak
lahan untuk budidaya/produksi
3 4 1 1 2.25 3 3 2 2 2.5 4 4 1 2 2.75 3 2 1 2 2.25 3 3 2 2 2.5
4. Komunikasi yang terjalin baik antar pelaku rantai 3 2 3 3 2.75 3 3 3 3 3 4 4 2 2 3 4 3 2 2 2.75 3 2 4 2 2.75 Kelemahan 1. Pendidikan formal yang rendah 2 1 4 1 2 1 2 3 4 2.5 1 2 3 3 2.25 3 3 3 3 3 2 1 4 4 2.75 2. Alat-alat yang digunakan masih tradisional 4 2 3 3 3 4 4 4 4 4 2 3 2 4 2,75 2 3 4 3 3 2 2 3 3 2.5 3. Terbatasnya modal 3 3 4 2 3 2 4 4 2 3 3 3 2 4 3 4 3 2 2 2.75 3 3 3 3 3
4. Manajemen usaha yang
Lanjutan lampiran 9
Faktor Strategis Strategi 1
Rata-rata Strategi 2 Rata-rata Strategi 3 Rata-rata Strategi 4 Rata-rata Strategi 5 Rata-rata
Responden Responden Responden Responden Responden
Faktor Eksternal 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 Peluang 1. Kebijakan dan program pemerintah yang mendukung proses usaha 3 4 2 2 2.75 3 3 2 1 2.5 4 3 1 2 2.5 3 4 2 2 2.75 4 4 2 3 3.25
2. Harga udang vaname yang tinggi dan stabil
3 3 3 4 3.25 2 2 4 3 2.75 2 3 3 4 3 4 3 1 2 2.5 3 4 2 3 2.75
3. Perubahan pola dan gaya hidup masyarakat
2 2 3 4 2.75 1 1 2 2 1.5 3 2 2 3 2.5 3 3 4 2 3 2 1 3 3 2.25 4. Kondisi dan agroklimat yang mendukung kegiatan usaha 3 4 2 2 2.75 3 3 1 1 2 3 4 2 2 2.75 3 3 2 2 2 4 4 2 1 2.75 5. Hambatan masuk industri yang tinggi
2 3 1 3 2.25 2 4 1 2 2.25 3 2 1 4 2.5 3 2 2 4 2.75 3 3 4 2 3
Ancaman
1. Tingkat inflasi yang terjadi 2 1 3 4 2.5 2 2 3 3 2.5 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 1 1 4 2 2 2. Teknologi yang digunakan masih sederhana 3 2 3 4 3 4 4 3 1 3 2 3 4 2 2.75 3 3 2 2 2.5 2 2 3 3 2.5 3. Tingkat persaingan dalam usaha perikanan yang tinggi
3 3 2 1 2.5 3 4 2 2 2.75 3 3 1 2 2.25 2 1 3 3 2.25 3 2 1 4 2.5
4. Banyaknya produk subtitusi
Lampiran 10. Hasil Matriks QSPM
Faktor Strategis Bobot Strategi 1 Strategi 2 Strategi 3 Strategi 4 Strategi 5
AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS AS TAS
Kekuatan
1. Pengalaman dalam usaha udang vaname yang baik 0.126 3 0.378 2.75 0.3465 1.75 0.2205 2.5 0.315 2.75 0.3465
2. Etos kerja yang tinggi 0.124 2.75 0.341 3.5 0.434 2.5 0.31 1.5 0.186 2.5 0.31
3. Tersedianyan banyak lahan untuk budidaya/produksi 0.123 2.25 0.27675 2.5 0.3075 2.75 0.33825 2.25 0.27675 2.5 0.3075
4. Komunikasi yang terjalin baik antar pelaku rantai 0.124 2.75 0.341 3 0.372 3 0.372 2.75 0.341 2.75 0.341
Kelemahan
1. Pendidikan formal yang rendah 0.120 2 0.24 2.5 0.3 2.25 0.27 3 0.36 2.75 0.33
2. Alat-alat yang digunakan masih tradisional 0.123 3 0.369 4 0.492 2.75 0.33825 3 0.369 2.5 0.3075
3. Terbatasnya modal 0.137 3 0.411 3 0.411 3 0.411 2.75 0.37675 3 0.411
4. Manajemen usaha yang masih kurang baik 0.123 2.25 0.27675 2.5 0.3075 2.25 0.27675 2.5 0.3075 2.75 0.33825
Peluang
1. Kebijakan dan program pemerintah yang mendukung proses
usaha 0.100 2.75 0.275 2.5 0.25 2.5 0.25 2.75 0.275 3.25 0.325
2. Harga udang vaname yang tinggi dan stabil 0.095 3.25 0.30875 2.75 0.26125 3 0.285 2.5 0.2375 2.75 0.26125
3. Perubahan pola dan gaya hidup masyarakat 0.125 2.75 0.34375 1.5 0.1875 2.5 0.3125 3 0.375 2.25 0.28125
4. Kondisi dan agroklimat yang mendukung kegiatan usaha 0.122 2.75 0.3355 2 0.244 2.75 0.3355 2 0.244 2.75 0.3355
5. Hambatan masuk industri yang tinggi 0.117 2.25 0.26325 2.25 0.26325 2.5 0.2925 2.75 0.32175 3 0.351
Ancaman
1. Tingkat inflasi yang terjadi 0.112 2.5 0.28 2.5 0.28 3 0.336 2 0.224 2 0.224
2. Teknologi yang digunakan masih sederhana 0.112 3 0.336 3 0.336 2.75 0.308 2.5 0.28 2.5 0.28
3. Tingkat persaingan dalam usaha perikanan yang tinggi 0.106 2.5 0.265 2.75 0.2915 2.25 0.2385 2.25 0.2385 2.5 0.265
MAKALAH SEMINAR
Judul : Supply Chain Manajemen (SCM) Udang Vaname Pada Tambak Padu Karawang, Kabupaten Karawang
Nama/NRP : Dwita Adi Wicaksono / H34076055 Dosen Pembimbing : Dr.Ir. Harianto, MS
Dosen Evaluator :
Hari/Tanggal : Selasa / 23 Juni 2009 Waktu / Tempat : 16.00 – 17.00
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perikanan adalah salah satu sub sektor agribisnis yang memiliki nilai strategis yang tinggi. Sektor perikanan memiliki peranan yang sangat besar dalam perekonomian nasional. Nilai strategis perikanan ini dapat dilihat dari beberapa indikator, yaitu sumbangan terhadap eksport, pendapatan nasional ,penyediaan lapangan pekerjaan, ketahanan pangan, serta penyediaan bahan pangan bergizi untuk dikonsumsi masyarakat1.
Salah satu komoditas agribisnis perikanan di Indonesia yang ada saat ini dan sangat menguntungkan adalah komoditas udang. Perkembangan konsumsi udang di tingkat internasional dan tingkat nasional dianggap oleh sebagian petani dan nelayan potensi pasar. Hal ini yang kemudian dijadikan alasan untuk mendorong peningkatan dan perkembangan usaha pada komoditas udang. Hal ini dapat dapat di lihat pada produksi dan nilai produksi perikanan budidaya pada Tabel 1.
Tabel 1. Produksi dan Nilai Produksi Perikanan Budidaya Nasional Berdasarkan Komoditas, 2005-2007
Jenis Komoditi
Produksi (Ton) Nilai Produksi (ribu rupiah)
2005 2006 2007 2005 2006 2007 udang 280629 327610 360096 10671583842 13399095952 1330276142 kerapu 6493 4021 8035 116891489 183010245 730945260 nila 151363 179934 206904 1136830887 1556481650 1760500574 ikan mas 216924 247633 264349 1866164336 2191152005 2772507977 bandeng 254067 212883 263139 2094760473 1756853818 2089624312 kakap 2935 2182 4418 31649457 35729320 63269436 patin 32575 31489 36755 252523203 205952300 371619172 lele 69386 77332 91735 486166245 582655153 770396821 gurame 25442 28711 35708 420405792 441370270 599688443 kepiting 4379 5525 6631 83730050 81877913 116554984 kekerangan 16348 18896 15623 1861691930 42009599 8970522 rumput laut 866383 1374463 1728475 1151509567 1679687566 3607749414 lainnya 236754 171917 171696 1277626881 1620208751 1733698883 Jumlah 2163678 2682596 3193565 21451534152 23776084542 2792828725
Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan, 2008
Dari data diatas dapat di lihat bahwa komoditas udang menjadi salah satu komoditas yang berpotensi sangat besar di indonesia. Peranan dan kontribusi sektor perikanan khususnya pada komoditas udang meberikan pemasukan devisa yang besar bagi Indonesia. Pada Januari ekspor kelompok ikan dan udang hanya 134,8 juta dollar AS. Februari 2006 ekspornya turun 12,8 juta dollar AS, tetapi pada Maret melonjak menjadi 94,4 juta dollar AS2.
Hadie, 1986 dalam aidi 2006 menyatakan Udang vaname adalah salah satu komoditas agribisnis perikanan udang yang ada di Indonesia. Pengembangan budi daya udang vaname di Indonesia meliputi lahan tambak (air payau). Prospek pengembangan budi daya udang vaname diperkirakan dapat berprospek baik seperti ikan konsumsi dan jenis udang lainnya. Prediksi tersebut dilandasi oleh semakin tingginya tingkat konsumsi ikan (termasuk udang) per kapita per tahun penduduk dunia3. Menurut FAO, sampai tahun 2010, pasar dunia masih kekurangan pasokan ikan (termasuk udang) sebesar 15 - 20 juta ton/tahun.
Kabupaten Karawang mempunyai potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang cukup besar. Penduduk di Kabupaten Karawang pada tahun 2007 berjumlah 2.009.647 jiwa
1
http://www.dkp.go.id/content.php?c=1436 2 www.kompas.co.id/komoditas agribisnis
dengan laju pertumbuhan penduduk 1,94 %. Salah satu bidang usaha perikanan di Kabupaten Karawang adalah bidang perikanan tangkap, dan perikanan budidaya. Pada tahun 2007, jumlah nelayan di kabupaten Karawang adalah sebesar 2.639 RTP. Untuk bidang perikanan tangkap, kabupaten Karawang memiliki potensi ikan yang beraneka ragam serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Keadaan ini didukung oleh panjang pantai yang dimiliki yang terbentang di bagian utara sepanjang 84,23 km, serta hutan mangrove seluas 8.736 ha. Untuk bidang perikanan budidaya,
Beberapa nelayan, petani budidaya, dan perusahaan saat ini melakukan kegiatan produksi dan operasinya hanya sampai pada tahap pembuatan produk saja. Padahal seharusnya para nelayan, petani budidaya dan perusahaan tersebut dapat melakukan kegiatan yang mencakup rangkaian proses yang terintegrasi dari hulu sampai dengan hilir melalui aspek keterkaitan. Hal tersebut dapat dimulai dari perencanaan produk, peramalan kebutuhan, pengadaan bahan baku, produksi, pengendalian persediaan, penyimpanan, distribusi/transportasi kepusat distributor, gudang, pedagang kecil, retailer, pelayanan pada pelanggan proses pembayaran, dan tentunya pada konsumen tingkat akhir. Pada saat ini, konsumen menuntut penyediaan produk secara tepat waktu dan mampu memenuhi kebutuhannya, para konsumen tersebut juga menginginkan produk dengan harga yang murah, ketersediaannya terjamin dan kualitas yang baik4. Hal ini mendorong perusahaan untuk dapat lebih antisipatif terhadap kebutuhan konsumen dengan berusaha agar menghasilkan suatu produk atau jasa dengan kualitas barang atau produknya yang baik dan harga yang relatif murah, dengan demikian kepuasan konsumen akan meningkat dan perusahaan mempunyai keunggulan kompetitif apabila perusahaan mampu untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan konsumen. Tentunya dengan hal tersebut akan dapat meningkatan laba perusahaan juga.
Keunggulan kompetitif dalam usaha dapat dicapai apabila rantai kegiatan dari mulai penyediaan bahan baku hingga produk sampai ke tangan konsumen akhir terkelola dengan baik, pengelolaan rantai pasokan ini dikenal dengan istilah Manajemen rantai pasokan (MRP). Konsep MRP menekankan lebih pada bagaimana perusahaan memenuhi permintaan konsumen tidak hanya sekedar menyediakan barang. Manajemen rantai pasokan merupakan proses penciptaan nilai tambah barang dan jasa yang berfokus pada efisiensi dan efektivitas dari persediaan, aliran kas dan aliran informasi. Aliran informasi merupakan aliran terpenting dalam pengelolaan rantai pasokan, karena dengan adanya aliran informasi maka pihak pemasok dapat menjamin tersedianya material lebih tepat waktu, memenuhi permintaan konsumen lebih cepat dengan kuantitas yang tepat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan secara keseluruhan (Anatan & Ellitan, 2008).
1.2 Perumusan Masalah
Dalam pemenuhan kebutuhan konsumen yang semakin meningkat, anggota rantai pasokan udang vaname dituntut untuk memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi sehingga dapat memberikan produk yang berkualitas dan pelayanan yang memuaskan kepada konsumen. Sebagai suatu aktifitas bisnis yang bergerak dalam bidang agribisnis, rantai pasokan udang vaname memiliki beberapa permasalahan dalam kegiatannya sehingga berdampak terhadap kemampuan dalam menghasilkan laba. Diantara permasalahan yang ada yaitu belum tertata dengan baik antar mata rantai pasokan maupun fungsi di anggota rantai pasokan, mulai dari produsen benih sampai ke konsumen akhir yang menyebabkan ketidakefesienan dalam kegiatan dan hasil produksi sehingga berimplikasi pada peningkatan biaya. Untuk itu diperlukan penataan rantai pasokan yang memandang keseluruhan kegiatan baik dari pemerolehan bahan baku, proses pengirimannya sampai ke pelanggan maupun proses pengembalian produk (return), sehingga dengan demikian para aonggota rantai pasokan dapat bertahan dan meningkatkan produktivitasnya di tengah pasar yang kompetitif yaitu dengan manajeman rantai pasokan (supply chain management).Kinerja dari proses pengelolaan rantai pasokan udang vaname tentunya juga harus terus dievaluasi agar rantai pasokan tersebut dapat terus berkembang menyesuaikan juga dengan perubahan lingkungan bisnisnya. Evaluasi dari penerapan MRP tersebut dapat dijadikan landasan bagi perumusan strategi pengembangan rantai pasokan udang vaname pada masa yang akan datang.
Berdasarkan penjelasan dan fakta tersebut, muncul suatu rumusan permasalahan yang menarik untuk dikaji yaitu :
1. Bagaimana model rantai pasokan udang vaname yang terjadi di Tambak Padu Karawang ?
2. Merumuskan beberapa alternatif strategi dalam peningkatan kinerja rantai pasokan udang vaname jangka panjang.
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini antara lain :
1. Mengidentifikasi rantai pasokan udang vaname di Tambak Padu Karawang.
2. Merumuskan alternatif strategi dalam peningkatan kinerja rantai pasokan udang vaname jangka panjang.
3. Merumuskan alternatif strategi terbaik berdasarkan strategi terpilih bagi rantai pasokan udang vaname.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi berbagai pihak yang berkepentingan, antara lain :
1. Bagi anggota rantai pasokan, hasil analisis ini dapat digunakan sebagai masukan dan pertimbangan dalam menjalankan operasional kegiatan usaha dan dalam membuat rencana kerja selanjutnya.
2. Bagi penulis, sebagai sarana untuk peningkatan kompetensi diri dalam hal menganalisis potensi dan permasalahan riil dalam sektor agribisnis secara sistematis, serta sebagai syarat kelulusan sarjana dan untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama kuliah.
3. Bagi Mahasiswa, dapat menambah pengetahuan tentang rantai pasokan udang vaname dan sebagai bahan referensi atau sumber informasi.
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Manajemen Rantai Pasokan
Manajemen rantai pasokna (MRP) atau dalam bahasa lainnya lebih dikenal sebagai
Supply Chain Management (SCM) adalah pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan
pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir serta pengiriman ke pelanggan. Aktivitas itu mencakup pembelian, outsourcing, dan hubungan antara pemasok dengan distributor. Dalam menentukan: transportasi ke vendor, pemindahan uang secara kredit dan tunai, para pemasok, bank dan distributor, utang dan piutang usaha, pergudangan dan tingkat persediaan, pemenuhan pesanan dan berbagi informasi pelanggan,prediksi dan produksi5.
2.2 Matriks IFE dan Matriks EFE
Matriks IFE dan EFE terdiri dari kolom bobot, rating, dan total nilai yang merupakan hasil kali dari bobot dan rating. Untuk kolom bobot dan rating diisi sesuai dengan nilainya yang merupakan hasil dari pengelompokan faktor-faktor internal dan eksternal berdasarkan tingkat kepentingannya. Menurut Umar (2001), menyatakan bahwa matriks IFE digunakan untuk mengetahui faktor-faktor internal yang berkaitan dengan kekuatan dan kelemahan yang dihadapi terdiri dari aspek sumberdaya manusia, pemasaran, produksi dan operasi, keuangan dan akuntasi dan sistem informasi.
2.3 Matrik IE
Matriks IE menggambarkan posisi rantai pasokan sehingga alternatif strategi yang diusulkan sesuai dengan kondisi rantai pasokan. Matriks IE merupakan gabungan matriks IFE dan EFE yang meringkas hasil evaluasi faktor eksternal dan internal dan menempatkan rantai pasokan pada salah satu kondisi di dalam sembilan sel, dimana setiap sel merupakan langkah yang harus ditempuh rantai pasokan.
2.4 Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor kekuatan dan kelemahan internal denga peluang dan ancaman ekternal secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan (David, 2000). Matriks SWOT merupakan matching tool yang penting untuk membantu mengembangkan empat tipe strategi.
2.5 Matriks QSPM
QSPM (Quantitative Strategic Planning Matriks) adalah alat yang direkomendasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif, berdasarkan key success faktor internal dan eksternal yang telah diidentifikasi sebelumnya (Umar, 2001). Tujuan QSPM adalah untuk menentukan alternatif strategi pemasaran yang paling baik atau
yang menjadi prioritas untuk dijalankan perusahaan. Seperti alat analisis lainnya, QSPM juga membutuhkan intuitif judgment yang baik.
2.6 Udang Vaname
Sistematika Udang Putih (Litopenaeusvannamei) Secara internasional, udang putih dalam dunia perdagangan dikenal sebagai White leg shrimp atau Western white shrimp atau Pacific white leg shrimp. Di Indonesia dikenal sebagai udang Vaname atau Vannamei atau udang putih. Secara alamiah, udang putih menyandang nama ilmiah Litopenaeus vannamei. Udang ini termasuk golongan cructaceae (udang-udangan) dan dikelompokkan sebagai udang laut atau udang penaeid bersama dengan jenis udang lainnya, seperti udang windu (Penaeusmonodon), udangjrebung (Penaeus merguensis), udang jari (Penaeus indicus), dan udang kembang (Penaeus semisulcatus).
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang telah dilakukan berkaitan dengan manajemen rantai pasokan adalah sebagai berikut :
Penelitian pertama yang dibahas adalah Penelitian yang dilakukan oleh Risyana (2008) dan Usman (2007). Penelitian Risyana berjudul Kinerja Supply Chain Management (SCM) komoditi Ayam Nenek (Grandparent Stock) di PT. Galur Prima Cobbindo Sukabumi. Penelitian kedua berjudul Analisis Kinerja Supply Chain Management Susu Cair Ultra High Temparature Full
Cream (Studi Kasus di PT. Ultra Jaya Milk Industry and Trading, Kabupaten Bandung), penelitian
ini diteliti oleh Usman (2007). Penelitian ke tiga berasal dari Penelitian dari Susyana (2005) berjudul Analisis Rantai Persediaan (Supply Chain) komoditas Jeruk Medan (Studi Kasus di Pasar Induk Kramat Jati dan Carrefour Cempaka Mas, Jakarta).
Dari ketiga penelitian telah diakukan sebelumnya, terdapat kesamaan yaitu seluruhnya membahas tentang Supply Chain Management atau Manajemen Rantai Pasokan. Tetapi topik dan alat analisis yang dibahas tiap penelitian berbeda-beda. Penelitian kali ini mengangkat topik penerapan SCM Udang Vaname di Tambak Padu Karawang, tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi dan memodelkan rantai pasokan Udang Vaname di Tambak Padu Karawang, serta mengkaji penerapan manajemen rantai pasokan Udang Vaname yang efektif dan efisien di Tambak Padu Karawang. Perbedaan dengan penelitian sebelumnya terdapat pada komoditas dan alat analisis yang digunakan. Model rantai pasokan Udang Vaname dibahas secara deskriptif menggunakan metode pengembangan rantai pasokan yang dicanangkan oleh Asian Productivity
Organization (APO) dan dimodifikasi oleh Van der Vorst, 2005.
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Konseptual
Perkembangan konsumsi komoditas perikanan khususnya udang di tingkat internasional dan tingkat nasional dianggap oleh sebagian petani dan nelayan sebagai potensi pasar. Hal ini yang kemudian dijadikan alasan untuk mendorong peningkatan dan perkembangan usaha pada komoditas udang. Namun di sisi lain, permasalahan yang terjadi belakangan ini, yaitu ketidakpaduan pada aktivitas perdagangan usaha, kerjasama yang belum terintegrasi dengan baik diantara pelaku usaha, rantai pasokan yang tidak efisien sehingga menyebabkan harga produk yang tinggi, kualitas dan kontinuitas ketersediaan produk yang beredar menjadi tidak stabil. Permasalahan tersebut membuat konsumen semakin selektif dalam memilih produk yang akan di konsumsi. Dari sisi permintaan produk yang dihasilkan oleh industri perikanan ke depan, harus disadari bahwa permintaan konsumen semakin kompleks yang menuntut berbagai atribut atau produk yang dipersepsikan bernilai tinggi oleh konsumen (consumer’s value perception). Kalau di masa lalu, konsumen hanya mengevaluasi produk berdasarkan atribut utama yaitu jenis dan harga, maka sekarang ini dan di masa yang akan datang, konsumen sudah menuntut atribut yang lebih rinci lagi seperti atribut keamanan produk (safety attributes), atribut nutrisi (nutritional attributes), atribut nilai (value attributes), atribut pengepakan (package attributes), atribut lingkungan (ecolabel attributes) dan atribut kemanusiaan (humanistic attributes).
Pembahasan mengenai model rantai pasokan udang vaname pada penelitian ini akan menggunakan suatu kerangka kerja (framework) analisis rantai pasokan yang dikembangkan oleh Lambert dan Cooper (2000) yang kemudian dimodifikasi oleh Vorst (2005). Model rantai pasokan udang vaname dibahas dengan menggunakan kerangka pengembangan rantai pasokan yang terdiri dari aspek tujuan rantai, manajemen rantai, struktur jaringan, proses bisnis, sumberdaya, dan performa rantai. Pembahasan tersebut akan membahas aliran komoditas udang vaname dari
kekuatan dan kelemahan internal dengan peluang dan ancaman ekternal secara sistematis untuk merumuskan strategi pada rantai pasokan udang vaname dengan mengunakan analisis SWOT.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Potensi pengembangan budidaya perikanan komoditas udang khususnya udang vaname saat ini bisa dikatakan sedang berkembang. Anggota rantai pasokan udang vaname yang terdiri dari produsen benih, Petani Tambak Padu Karawang sebagai salah satu produsen udang vaname, distributor, dan supermarket Makro berupaya untuk dapat memanfaatkan potensi tersebut dengan memproduksi, mendistribusikan, dan menjual udang vaname sebagai salah satu kegiatan bisnisnya. Namun di dalam kegiatan usahanya, rantai pasokan udang vaname memiliki permasalahan-permasalahan yang mengurangi nilai keunggulan kompetitifnya. Salah satu permasalahan adalah dalam kegiatan pengelolaan rantai pasokan yang belum terorganisir dengan baik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, upaya yang diusulkan untuk dilakukan adalah melalui pendekatan manajemen rantai pasokan Dengan melakukan pengelolaan rantai pasokan yang baik, maka diharapkan para anggota rantai pasokan dari hulu hingga hilir mempunyai keunggulan kompetitif atas pesaing-pesaingnnya.
Dalam mengkaji rantai pasokan yang terjadi, diperlukan suatu metode analisis pengembangan yang mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang ada serta dapat memberikan usulan yang berguna untuk mengembangkan rantai pasokan menjadi lebih baik. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah metode yang mengacu pada kerangka pengembangan Asian Productivity Organization (APO) yang dimodifikasi oleh Vorst (2005). Secara operasional penelitian ini mengkaji dari dua sudut pandang yaitu internal dan eksternal. Kajian eksternal dan internal secara umum dilakukan melalui analisa rantai pasokan berdasarkan pengkajian dari rantai pasokan udang vaname. Peneliti mengkaji lebih khusus sisi internal dan eksternal rantai pasokan yang terkait dengan penerapan konsep Manajemen rantai pasokan. Selanjutnya hasil akhir dari pengkajian rantai pasokan udang vaname dilakukan perumusan alternatif strategi melalui analisis SWOT. Kerangka pemikiran operasional ini selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1.
Penerapan Manajemen Rantai Pasokan
Analisis Pengelolaan Rantai Pasokan Udang Vaname Secara Komprehensif dengan Metode FSCN
Analisis Lingkungan Perusahaan
Faktor Eksternal Peluang dan ancaman Faktor Internal Kekuatan
dan Kelemahan
Analisis SWOT
Alternatif Strategi Kondisi, Permasalahan dan Potensi Pengembangan Rantai Pasokan Udang Vaname Pelaku rantai pasokan Udang Vaname masih
melakukan keputusan bisnis secara individual
Tuntutan konsumen terhadap produk pangan yang berkualitas dan berkembangnya perspektif supply chain
traceability
Rekomendasi Alternatif Strategi MRP Udang Vaname Matrik QSPM
IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini merupakan studi kasus suatu rantai pasokan udang vaname. Penelitian ini dilaksanakan di berbagai tempat, yaitu pada produsen benih di daerah Cimalaya, petani plasma Tambak Pandu Karawang, pedagang pengumpul bapak Calim (distributor), dan Supermarket makro. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa para anggota rantai pasokan udang vaname merupakan salah satu produsen, distributor dan penjual komoditas perikanan khususnya udang yang telah lama ada dan sedang berkembang, Pengumpulan data dilaksanakan bulan juli hingga agustus 2009.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer, berupa informasi tentang anggota rantai pasokan yang diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuisioner kepada pelaku rantai pasokan maupun hasil pengamatan langsung dilapangan. Kuisioner ini juga diberikan kepada pihak-pihak yang terkait dengan pelaku rantai