• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

2021

ABSTRAK (Uraikan abstrak laporan akhir penelitian dan Kata Kunci)

Ringkasan pelaksanaan kegiatan penelitian meliputi : latar belakang, metode, tujuan dan hasil minimal 200 kata dan maksimal 500 kata

Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk menyelamatkan spesies ikan bungo yang merupakan spesies endemik Danau Tempe, Sidenreng, dan Lapompakka, dan danau lainnya di Sulawesi Selatan dari ancaman kepunahan. Target khusus yang ingin dicapai adalah ditemukannya data keragaman dan jarak genetik, biologi populasi, dan pencemaran logam berat pada di perairan Danau Tempe terutama Pb dan Cd. Hasil penelitian menunjukkan hasil morfometrik ikan bungo memiliki karakter khusus untuk masing-masing dari tiga danau terpadu di Sulawesi Selatan, namun beberapa ikan memiliki karakter yang mirip antara satu danau dengan danau lainnya. Perbedaan karakter ini erat kaitannya dengan variasi genetik dan lingkungan, yang menyebabkan adaptasi fungsional pada jantan dan betina serta respon morfologi yang berbeda dari masing-masing goby. Keanekaragaman genetik ikan bungo dari ketiga kawasan danau terpadu tersebut tergolong rendah. Lebih lanjut, ketiga klad genetik ikan bungo menunjukkan potensi adaptif dan spesiasi genetik akibat ekspansi yang terjadi saat populasi menurun dan juga didukung oleh hambatan genetik. Faktor kondisi ikan bungo jantan dan ikan bungo betina tergolong ikan dalam keadaan baik, . Faktor kondisi ikan bungo berdasarkan waktu pengambilan sampel ikan bungo jantan dan betina pada bulan Juni – Juli tergolong ikan tidak pipih atau montok, sedangkan pada bulan Agustus ikan bungo jantan dan betina tergolong ikan pipih atau tidak gemuk. Fekunditas ikan bungo berkisar 32982 – 153611 butir dengan kisaran panjang total tubuh 121 – 360 mm, kisaran bobot tubuh 0,80 – 5,10 g dan kisaran bobot gonad, 0,04 – 0,43g, diameter telur kisaran 0,22 – 6,93µm dan memiliki pola pemijahan parsial (partial spawning) yaitu telur matang dikeluarkan secara bertahap. Tingkat kematangan gonad (TKG) ikan bungo betina dan jantan ditemukan pada tingkat (I-IV), Indeks kematangan gonad (IKG) ikan betina ialah 6,65% dan ikan jantan ialah 2,17%. Ukuran pertama kali matang gonad ikan jantan ialah 220,00 mm dan betina 172,68 mm. Kebiasan makan ikan bungo terdiri atas fitoplankton dan zooplankton sehingga digolongkan ke dalam pemakan plankton. Tidak ada perbedaan jenis makanan berdasarkan waktu pengamatan, jenis kelamin dan kelompok ukuran panjang total ikan adapun makanan utama adalah Bacillariophyceae serta makanan tambahan adalah berasal dari kelas Conjugatophyceae, Bivalvia, Brachiopoda dan Eurotatoria. Berdasarkan nilai panjang relatif usus ikan bungo digolongkan sebagai karnivora pemakan plankton. Ketiga perairan memiliki kandungan logam berat Cd dan Pb masih dibawah ambang batas begitu juga yang ditemukan di dagingnya. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi budidaya dan konservasi ikan bungo pada perairan sistem Danau Tempe (Tempe, Sidenreng, dan Lapompakka) sehingga plasma nutfah endemik Sulawesi Selatan dapat dilestarikan.

Pengisian poin C sampai dengan poin H mengikuti template berikut dan tidak dibatasi jumlah kata atau halaman namun disarankan seringkas mungkin. Dilarang menghapus/memodifikasi template ataupun menghapus penjelasan di setiap poin.

C.1. Pengambilan Sampel Ikan Bungo

Pengambilan sampel ikan bungo segar dilaksanakan pada bulan April – Juli 2021 di tiga danau yaitu Danau Sidenreng (Gambar C.1), Danau Tempe (Gambar C.2), dan Danau Lapompakka (Gambar C.3) pada musim kemarau ketika ketiga perairan danau tersebut terpisah.

Gambar C.1. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) yang tertangkap di Danau Sidenreng

C. HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN : Tuliskan secara ringkas hasil pelaksanaan penelitian yang telah dicapai sesuai tahun pelaksanaan penelitian. Penyajian dapat berupa data, hasil analisis, dan capaian luaran (wajib dan atau tambahan). Seluruh hasil atau capaian yang dilaporkan harus berkaitan dengan tahapan pelaksanaan penelitian sebagaimana direncanakan pada proposal. Penyajian data dapat berupa gambar, tabel, grafik, dan sejenisnya, serta analisis didukung dengan sumber pustaka primer yang relevan dan terkini.

Gambar C.2. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) yang tertangkap di Danau Tempe

Gambar C.3. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) yang tertangkap di Danau Lapompakka

C.2. Keragaan Genetik Ikan Bungo Analisis Morfometrik

Hasil analisis Canonical Discriminant Functions (CDF) (Gambar C.4) menunjukkan adanya pengelompokan yang jelas baik antar ikan jantan maupun ikan betina (Fig. 6) dari ketiga danau. Pola sebaran plot ikan jantan dan betina dari danau Lapompakka dengan grup sentroid yang jelas berbeda menunjukkan memiliki karakter khusus, walaupun ada beberapa betina dari danau Tempe yang memiliki karakter yang sama dengan betina dari danau Lapompakka. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh jantan dan betina dari danau Sidenreng, meskipun ada beberapa jantan dari danau Tempe yang memiliki karakter yang sama dengan jantan dari danau Sidenreng. Secara umum plot ini menunjukkan masing-masing populasi memiliki karakter tersendiri, baik yang berasal dari danau Lapompakka, danau Tempe maupun danau Sidenreng. Hanya beberapa individu baik jantan maupun betina yang berasal dari danau Sidenreng dan danau Lapompakka yang memiliki karakter yang sama dengan ikan yang berasal dari danau Tempe. Hal ini diduga karena adanya pola migrasi dari ikan goby.

Di Sulawesi Selatan, ikan ini asalnya dari Teluk Bone yang melakukan migrasi ke danau Tempe melalui sungai Pallime dan sungai Walanae (32) dan selanjutnya melalukan migrasi dari danau Tempe ke danau Sidenreng dan Danau Lapompakka melalui saluran air yang terbentuk secara alami. Ketiga danau ini terbentuk pada bagian tengah cekungan danau Tempe yang saling terintegrasi, dimana letak ketiga danau ini berada pada 2 kabupaten, yaitu kab. Sidrap (danau Sidenreng) dan kab. Wajo (danau Tempe dan danau Lapompakka). Danau Tempe memiliki cekungan yang terdiri atas dataran banjir dan dataran teras, namun batas kedua area ini tidak jelas. Saat musim hujan ketiga danau tersebut menyatu akibat banjir, namun saat musim kemarau mereka terpisah satu sama lain (33). Hal tersebut didukung oleh hasil analisis Predicted Group Membership (PGM) yang menunjukkan nilai dari kemiripan karakter antara 2 populasi dengan populasi danau Tempe sangat rendah (Table 2). Pola migrasi ini kemungkinan besar terjadi saat musim hujan saja sehingga pola migrasinya tidak tinggi yang menyebabkan adanya kemiripan karakter antara ikan pada populasi danau Sidenreng dengan populasi ikan dari danau Tempe sebesar 14,3%. Hal yang sama juga terjadi pada populasi ikan dari danau Lapompakka yang memiliki kemiripan karakter dengan populasi ikan yang berasal dari danau Tempe dengan nilai 6,7%.

Gambar C.4. Scatter plot CDF populasi ikan goby jantan dan betina dari danau Lapompakka, danau Sidenreng dan danau Tempe. Ket. J : Jantan; B : betina; DT : danau Tempe; DL: danau Lapompakka; DS : danau Sidenreng.

Tabel 2. Hasil analisis PGM populasi ikan goby Glossogbius giuris dan keragaman antar 3 populasi jantan dan 3 populasi betina.

Classification Code Predicted Group Membership

Total J_DT B_DT J_DL B_DL J_DS B_DS

Cross-validated

Count

J_DT 9 7 0 0 0 0 16

B_DT 7 5 0 2 0 0 14

J_DL 0 0 15 0 0 0 15

B_DL 0 0 0 15 0 0 15

J_DS 1 0 0 0 11 3 15

B_DS 0 0 0 0 1 14 15

%

J_DT 56.2 43.8 .0 .0 .0 .0 100.0

B_DT 50.0 35.7 .0 14.3 .0 .0 100.0

J_DL .0 .0 100.0 .0 .0 .0 100.0

B_DL .0 .0 .0 100.0 .0 .0 100.0

J_DS 6.7 .0 .0 .0 73.3 20.0 100.0

B_DS .0 .0 .0 .0 6.7 93.3 100.0

Noted: 85.6% original grouped cases correctly classified; 76.7% of cross-validated grouped cases correctly classified. Validation value ≥50%

was valid.

J : Jantan; B : betina; DT : danau Tempe; DL: danau Lapompakka; DS : danau Sidenreng

Hasil analisis Pairwise Group Comparison (PGC) (Tabel 2) menunjukkan bahwa ketiga populasi ikan goby ini memiliki derajat perbedaan yang besar. Derajat perbedaan terbesar pada ikan jantan maupun betina yaitu antara populasi danau Sidenreng dengan populasi danau Lapompakka sebesar 50,64 dan 51,63 berturut-turut (Table 3) menunjukkan bahwa kedua populasi tersebut memiliki karakter khusus masing-masing. Hal ini berdasarkan tingginya nilai derajat perbedaan yang dihasilkan baik pada ikan jantan maupun pada ikan betina (≥50). Perbedaan karakter ini sangat terkait dengan perbedaan genetic dan atau perbedaan lingkungan (12, 15). Ikan merupakan salah satu hewan yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan cepat beradaptasi dengan mengubah fisiologi dan perilakunya yang akan berpengaruh terhadap karakter morfologi ikan tersebut (10, 15). Menurut Islam et al. (12), variasi lingkungan akuatik akan mengubah

kebiasaan makan dan makanan yang tersedia, model pertumbuhan dan rencana reproduksi suatu spesies. Karakter penciri yang menunjukkan perbedaan tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis Equality of Group Means (EGM) (Table 4).

Tabel 3. Hasil analisis PGC jarak genetik berdasarkan morfometrik spesies Glossogobyus giuris.

Code J_DT B_DT J_DL B_DL J_DS B_DS

Noted: J : Jantan; B : betina; DT : danau Tempe; DL: danau Lapompakka; DS : danau Sidenreng

Hasil analisis Equality of Group Means (EGM) menunjukkan perbedaan antar ketiga populasi. Dari 33 karakter penciri yang diukur, hanya 5 karakter yang tidak signifikan (P>0.05) yaitu jarak antara pangkal sirip punggung belakang dengan pangkal sirip dubur depan (N112); jarak antara pangkal sirip punggung depan dengan pangkal sirip dubur depan (N121); jarak antara pangkal sirip punggung depan dengan pangkal sirip dubur belakang (N132); tinggi mata kiri (N23) dan tinggi mata kanan (N24) (Table 4). Selanjutnya karakter penciri atau pembeda antarpopulasi baik jantan maupun betina dapat dilihat pada Table 5.

Tabel 4. Hasil analisis Test of Equality of Group Means karakter penciri antara 3 populasi ikan goby.

Karakter Penciri Wilks’ Lambda F df1 Sig

N131 .674 8.112 5 .000

Tabel 5. Pembeda karakter penciri atau pembeda antar populasi berdasarkan rata-rata karakter morfometriknya

Karakter

Penciri Deskripsi Rata-rata jarak (Populasi)

J_DT B_DT J_DL B_DL J_DS B_DS

N1 Panjang total 1.298 1.271 1.440 1.108 1.288 1.323

N3 Tinggi Badan 0.470 0.460 0.189 0.134 0.396 0.447

N4 Panjang pangkal sirip dubur 0.164 0.157 0.185 0.144 0.263 0.173

N51 Panjang pangkal sirip punggung pertama 0.124 0.123 0.165 0.129 0.159 0.161 N52 Panjang pangkal sirip punggung kedua 0.189 0.186 0.239 0.160 0.202 0.206

N92 Jarak antara pangkal sirip punggung kedua terdepan dengan ujung mulut

0.609 0.604 0.684 0.625 0.533 0.518

N101 Jarak antara pangkal sirip punggung belakang dengan pangkal sirip dubur belakang

0.296 0.295 0.325 0.269 0.275 0.255

N102 Jarak antara pangkal sirip punggung pertama bagian belakang dengan pangkal sirip dubur belakang

0.118 0.123 0.105 0.095 0.181 0.209

N111 Jarak antara pangkal sirip punggung belakang dengan pangkal sirip dubur depan

N14 Jarak antara ujung mulut dengan operculum kiri 0.328 0.328 0.377 0.283 0.317 0.327 N15 Jarak antara ujung mulut dengan operkulum kanan 0.331 0.331 0.376 0.282 0.317 0.327

N16 Panjang sirip dada kiri 0.228 0.227 0.214 0.184 0.239 0.266

N17 Panjang sirip dada kanan 0.300 0.222 0.215 0.178 0.240 0.244

N18 Panjang sirip perut kiri 0.198 0.191 0.197 0.164 0.153 0.193

N19 Panjang sirip perut kanan 0.198 0.188 0.201 0.161 0.153 0.182

N20 Lebar pangkal sirip ekor 0.102 0.097 0.129 0.086 0.116 0.153

N21 Jarak antara sirip dada kiri dengan sirip perut kiri 0.055 0.054 0.141 0.110 0.114 0.076 N22 Jarak antara sirip dada kanan dengan sirip perut

kanan

0.055 0.052 0.142 0.106 0.110 0.073

N25 Jarak antara lubang di atas mulut 0.074 0.073 0.090 0.066 0.066 0.064 N26 Jarak antara lubang hidung dekat mata 0.046 0.047 0.054 0.045 0.059 0.057

N27 Jarak antara mata 0.033 0.031 0.054 0.052 0.057 0.056

N28 Lebar badan 0.146 0.147 0.191 0.144 0.160 0.215

Berdasarkan tabe 5 menunjukkan 17 karakter penciri jantan dari danau Lapompakka memiliki ukuran terpanjang, namun betina dari danau yang sama menghasilkan 18 karakter dengan ukuran terpendek. Selain itu, data dari tabel 5 juga menunjukkan secara umum ukuran jantan lebih panjang dibandingkan dengan betinanya dari setiap populasi.

Dari 28 karakter penciri populasi jantan dan betina ikan goby menunjukkan 17 karakter terpanjang berasal dari populasi ikan jantan dari danau Lapompakka (warna kuning), sebaliknya ada 18 karakter dengan ukuran yang terkecil berasal dari populasi betina danau Lapompakka (hijau).

Analisis filogenetik

Hasil elektroforesis menunjukkan bahwa gen mt-DNA dari sampel kami adalah 623 bp dengan kualitas baik. Ukuran setelah mengedit hasil sekuensing adalah 598 bp. Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa populasi ikan goby tidak menunjukkan perbedaan yang jauh antarlokasi termasuk dalam clade I (garis berwarna merah) dikombinasikan dengan sekuen ikan goby dari bank gen (Gambar C.5), kecuali 5 sampel yang berasal dari Danau Tempe. Kelima sampel tersebut yaitu H7, H8 dan H10 masuk dalam clade II, sementara H4 dan H5 masuk dalam clade III.

Gambar C.5. Pohon filogenetik ikan Bungo yang berasal dari Danau Tempe-Sidenreng-Lapompakka.

Clade 1 Clade 3

Clade 2

Selanjutnya, sekuensing gen sampel ikan bungo menunjukkan kesamaan dengan Ikan goby yang berasal dari India (nomor aksesi : KX373718.1 dalam persentase blast-n 94,9% dan KT878122 dalam persentase 95.26%). Selain India, sekuen gen sampel ikan bungo dari penelitian ini juga menunjukkan kesamaan dengan sekuen ikan goby yang berasal dari Bangladesh (No. aksesi: MF593303.1) dan Vietnam (No. aksesi: MH699831.1) dengan persentase similaritas sebesar 94.63% dan 94.99% berturut-turut. Hasil ini menunjukkan adanya kombinasi genetic dari ketiga lokasi tersebut. Diduga gabungan genetic ikan goby ini disebabkan oleh waktu pengambilan sampel dilakukan dimusim hujan dan pada saat itu perairan ketiga danau menyatu sehingga populasi ikan bungo diketiga danau diduga ada yang melakukan ruaya untuk mencari makan, kawin, dan menghindari ancaman lingkungan dan predator. Hal ini sesuai dengan penjelasan Abang Omar et al. (9) bahwa saat terjadi banjir besar, air dari ketiga danau tersebut akan menyatu di sekitar wilayah pemukiman penduduk di Kabupaten Sidenreng Rappang, Soppeng, dan Wajo. Ikan-ikan yang berada di ketiga danau tersebut akan bergabung menjadi satu populasi, sehingga komposisi jenis iktiofauna mereka diduga tidak berbeda. Dengan adanya ruaya tersebut maka peluang distribusi dan pencampuran telur dan larva dalam ketiga lokasi cukup besar yang akan mempengaruhi keragaman genetic ikan goby yang ada dalam wilayah tersebut. Juga didukung oleh jarak ketiga danau yang berdekatan berkisar 10-20 km, yaitu antara Danau Tempe dengan Danau Sidenreng sekitar 15,4 km, antara danau Tempe dan danau Lapompakka dapat mencapai 20,5 km pada musim kemarau. Namun, walaupun adanya peluang distribusi ikan antarlokasi, akan tetapi dengan adanya hambatan genetic seperti eksploitasi yang berlebihan dan adanya introduksi spesies dari luar serta hilangnya habitat membatasi aliran gen populasi ikan goby yang mengakibatkan keragaman genetiknya rendah (14).

Hal yang berbeda ditunjukkan oleh sampel yang berasal dari danau Tempe. Walaupun beberapa sampel ada di clade I, tetapi sebagian sampel berada pada clade II dan III yang menandakan variasi genetic ikan goby di danau Tempe lebih tinggi (jumlah haplotipe 6) dibandingkan dengan 2 danau lainnya dengan jumlah haplotipe masing-masing 2 (Tabel 7).

Clade II dan clade III menunjukkan sampel terbatas yang hanya berasal dari Danau Tempe. Hal ini diduga terjadi karena kondisi ekologi danau Tempe sangat luas jika dibandingkan dengan dua danau lainnya. Disamping luas, danau tempe pada bagian bagian tertentu memiliki perairan yang dalam dengan dasar perairan yang bervariasi sehingga kemungkinan ada populasi ikan goby yang tidak pernah beruaya meskipun pada musim hujan atau saat ketika ketiga danau perairannya menyatu. Kejadian yang sama juga diperoleh Ardestani et al. (14) yang menunjukkan adanya lokus yang hanya diperoleh pada 1 populasi namun tidak ditemukan di 2 populasi lainnya karena kondisi ekologinya berbeda walaupun dalam wilayah yang berdekatan. Lebih lanjut Ardestani et al. (14) juga menjelaskan bahwa adanya tekanan seleksi dari factor lingkungan tertentu dan atau pergeseran genetic akan mempengaruhi lokus secara substansial lebih dari yang lain. Adanya ikan goby yang terisolasi di danau Tempe kemungkinan dapat menghasilkan perbedaan fenotip dan genotip yang mencolok diantara populasi ikan dalam satu spesies (15). Ini juga dapat dilihat berdasarkan jarak genetic ikan goby antar 3 populasi (Tabel 6).

Nilai jarak genetic diperoleh dari metode jarak pairwise distance. Sampel yang berasal dari Danau Lapompakka dengan Danau Sidenreng memiliki jarak genetic terendah yaitu 0.00398 (mendekati 0), sementara sampel yang memiliki jarak genetic terjauh adalah dari Danau Lapompakka dengan sampel yang berasal dari Danau Tempe yaitu 0,05882 (Table 6).

Temuan ini menunjukkan bahwa spesies ikan goby (Glossogobyus giuris) dari dua lokasi penelitian ini memiliki variasi genetic yang rendah karena nilainya yang mendekati 0, kecuali sampel yang berasal dari Danau Tempe. Sebaliknya hasil analisis morfometrik menunjukkan populasi ikan di danau Lapompakka memiliki kemiripan karakter dengan populasi ikan di danau Tempe. Hal ini kemungkinan karena adanya potensi adaptif. Menurut Teisera and Huber (34), potensi adaptif adalah kemampuan populasi memberikan respon terhadap perubahan tekanan lingkungan atau terseleksi melalui perubahan fenotip dan atau molekuler. Spesies yang telah berhasil berkoloni pada lingkungan ekstrim dapat mengembangkan perubahan organ yang substansial dan dapat diprediksi. Proses ini biasanya lambat, bertahap, terkait dengan serangkaian perubahan morfologis yang dikenal sebagai troglomorphies (35). Selain itu, isolasi fisik akibat lingkungan yang ekstrim dan tidak adanya operasi restocking mengakibatkan jarak genetic terhambat dan tidak dapat dipulihkan oleh aliran gen berikutnya (36). Hal ini juga dapat terlihat dari sebaran haplotipe pada ketiga danau yang terintegrasi (Fig.8).

Table 6. Jarak genetic antar populasi ditunjukkan dalam metode jarak pairwise distances.

Lokasi Danau Lapompakka Danau Sidenreng Danau Tempe Danau Lapompakka

Danau Sidenreng 0.00398

Danau Tempe 0.05882 0.02857

Keragaman haplotipe yang rendah juga ditunjukkan oleh sampel yang berasal dari Danau Lapompakka dengan Danau Sidenreng yang hanya memiliki jumlah 2 haplotipe, sementara dari Danau Tempe cukup tinggi karena memiliki 6 haplotipe (Gambar C.6). Beberapa haplotipe dengan tipe yang sama ditemukan tersebar di lokasi yang berbeda. Total ada 8 haplotipe yang kami peroleh dari penelitian ini dengan nilai keragaman haplotipe dan nukleotida berkisar antara 0.003-0.05. Table 7 merangkum parameter populasi yang dianalisis dengan menggunakan software DNAsp versi 5.

Gambar C.6. Peta sebaran haplotype ikan Goby (Glossogobyus giuris) dari lokasi penelitian.

Table 7. Parameter populasi Ikan Bungo. Catatan : Jumlah sampel (n), jumlah haplotipe (Nh), jumlah situs polimorfik (Np), keanekaragaman haplotipe (h), dan keanekaragaman nucleotide (π) diantara populasi.

Populasi n Nh Np h π

Danau Lapompakka 10 2 2 0.200 0.0000 Danau Sidenreng 10 2 1 0.356 0.0007

Danau Tempe 10 6 156 0.778 0.1331

Berdasarkan sebaran haplotipe menunjukkan adanya 1 haplotype pada semua danau yang mendukung adanya potensi adaptif pada ketiga danau tersebut. Namun ketujuh haplotipe lainnya hanya terdapat pada 1 lokasi yang menjadi karakter khusus dari danau tersebut menunjukkan rendahnya aliran gen antar 1 lokasi dengan lokasi yang lain akibat dari hambatan genetic tersebut, apalagi ikan ini tidak dapat bermigrasi terlalu jauh (7). Menariknya walaupun jumlah haplotipe dari danau Tempe hanya 5, namun nilai keragaman haplotipe dan nucleotide jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 2 danau lainnya serta memiliki situs polimorfisme 156 (Tabel 7). Selain itu, juga menunjukkan keragaman haplotipe yang tinggi yaitu 0,7 (mendekati 1), namun keragaman nukleotida rendah dengan nilai 0.1 (mendekati 0). Hal ini menunjukkan adanya spesiasi genetic ikan goby didanau Tempe diduga akibat dari ekspansi populasi pada saat ukuran populasi menurun. Perbedaan variable ekologi akan mendorong individu beradaptasi kearah ekologi, fisiologis serta perbedaan perilaku menghasilkan perkawinan assortatif dan akhirnya ke spesiasi (37). Hal ini sesuai dengan pernyataan Mc Millen and Bert (38) bahwa perluasan populasi secara tiba-tiba akan mempengaruhi keragaman genetic suatu spesies khususnya hubungan antar haplotipe, yaitu banyak haplotipe yang muncul saling terkait erat dan beberapa haplotipe lainnya akan mencapai frekuensi tinggi jika populasinya sedikit. Selain itu adanya hambatan genetic yang terjadi baik ketika terjadi pemisahan populasi (musim kemarau) maupun perluasan populasi (musim hujan) yang berulang dari tahun ke tahun, mengakibatkan kematian yang tinggi dan menyebabkan hilangnya beberapa genotipe dan haplotipe (36) lebih cepat daripada heterozigositas karena penurunan ukuran populasi efektif (14). Implikasinya adalah, jika suatu populasi akan hilang, kemungkinan besar informasi genetik yang terkandung dalam populasi tersebut tidak akan ditemukan pada populasi lain (39).

C.3. Biologi Populasi Ikan Bungo

C.3.1. Faktor Kondisi Berdasarkan Jenis Kelamin

Hasil analisis faktor kondisi ikan bungo, berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel C.4.

Tabel C.4. Kisaran nilai faktor kondisi ikan bungo berdasarkan jenis kelamin

Parameter Jenis kelamin

Jantan (n=163) Betina (n= 72)

20 22

Kisaran faktor kondisi 0.0864 - 2.1182 0.2868 - 3.0865

Rerata 1.1188 1.1653

Berdasarkan Tabel di atas, nilai rerata faktor kondisi ikan bungo jantan dan betina lebih dari satu. Hal ini menunjukkan faktor kondisi ikan bungo jantan dan betina tergolog ikan dalam keadaan baik atau ikan yang kurang pipih atau montok. Menurut Effendi (1979) untuk faktor kondisi 1 – 3, menunjukkan ikan tersebut tergolong ikan kurang pipih atau montok.

Faktor kondisi ikan merupakan nilai yang menggambarkan pipih maupun kemontokan berdasarkan data panjang dan bobot ikan yang diperoleh. Berdasarkan nilai faktor kondisi yang diperoleh baik ikan bungo jantan maupun ikan bungo betina menunjukkan nilai faktor kondisi rata-rata 1, hal ini menunjjukkan ikan ini tergolong ikan yang kurang pipih atau montok. Hal ini sesuai dengan pernyataan Effendie (2002), ikan yang memiliki nilai faktor kondisi 1 – 3, menunjukkan ikan yang tergolong kurang pipih atau montok. Sama yang ditemukan oleh Suwarni (1998) (1.01), Erargradini (2014) (1,03) dan Muchlisa (2019) (1.01) di perairan Danau Tempe.

C.3.2. Faktor Kondisi Berdasarkan Waktu Pengambilan Sampel

Hasil analisis faktor kondisi ikan bungo, Glossogobius giuris, berdasarkan waktu pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel C.5.

Tabel C.5. Kisaran nilai faktor kondisi ikan bungo jantan dan betina berdasarkan waktu pengambilan sampel

Berdasarkan Tabel di atas, nilai rerata ikan bungo jantan dan betina pada bulan Mei dan Juli lebih dari satu, hal ini menujukkan nilai faktor kondisi tergolong dalam ikan kurang pipih atau montok. Sedangkan nilai rerata pada bulan Juni kurang dari satu yang berarti nilai faktor kondisi tergolong dalam ikan yang pipih atau tidak gemuk.

Menurut Effendi (1979) untuk faktor kondisi 1 – 3, menunjukkan ikan tersebut tergolong ikan kurang pipih atau montok. Nilai rerata faktor kondisi ikan bungo jantan tertinggi pada bulan Juli dan Mei, terendah pada bulan Juni, sedangkan pada ikan bungo betina nilai rerata faktor kondisi tertinggi pada bulan Juli dan Mei, terendah pada bulan Juni.

Berdasarkan hasil analisis nilai faktor kondisi setiap bulan berbeda. Kisaran faktor kondisi tertinggi ditemukan pada bulan Juli, terendah pada bulan Juni. Hal ini diduga karena perbedaan panjang yang ditemukan pada bulan Juli, kisaran panjang lebih pendek dibanding kisaran panjang pada bulan Juni, selain itu disebabkan oleh faktor makanan, dimana pada bulan Juni terjadi banjir, jadi diduga makanan yang tersedia sedikit sesuai dengan pernyataan Effendie (2002) yang menyatakan bahwa faktor kondisi relatif berfluaktuasi terhadap ukuran tubuh yang bervariasi dan ketersediaan makanan.

C.3.3. Faktor Kondisi Ikan Bungo Berdasarkan Tingkat Kematangan Gonad

Hasil perhitungan faktor kondisi ikan bungo, (Glosogobius giuri), berdasarkan tingkat kematangan gonad (TKG) pada Tabel C.6

Tabel C.6. Kisaran nilai faktor kondisi ikan bungo berdasarkan tingkat kematangan gonad (TKG)

TKG n Jantan N Betina

Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan ikan jantan mempunyai faktor kondisi rata-rata lebih kecil daripada ikan betina pada tiap TKG yang sama. Faktor kondisi menurun seiring dengan meningkatnya kematangan gonad sampai pada TKG III, kemudian faktor kondisi meningkat pada TKG IV dan menurun kembali setelah ikan memijah. Nilai faktor kondisi ikan jantan meningkat seiring dengan meningkatnya TKG. Menurut Langer (1961) bahwa variasi nilai faktor kondisi ini bergantung pada makanan, spesies, umur, jenis kelamin dan tingkat

Berdasarkan Tabel di atas menunjukkan ikan jantan mempunyai faktor kondisi rata-rata lebih kecil daripada ikan betina pada tiap TKG yang sama. Faktor kondisi menurun seiring dengan meningkatnya kematangan gonad sampai pada TKG III, kemudian faktor kondisi meningkat pada TKG IV dan menurun kembali setelah ikan memijah. Nilai faktor kondisi ikan jantan meningkat seiring dengan meningkatnya TKG. Menurut Langer (1961) bahwa variasi nilai faktor kondisi ini bergantung pada makanan, spesies, umur, jenis kelamin dan tingkat