• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNHAS TAHUN 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNHAS TAHUN 2020"

Copied!
95
0
0

Teks penuh

(1)Te. Tema Penelitian: Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir, Laut, dan Perikanan Darat Berbasis Ekosistem. LAPORAN AKHIR PENELITIAN DASAR UNHAS TAHUN 2020. KERAGAAN GENETIK MENGGUNAKAN POLIMORFISME mt-DNA DAN DINAMIKA POPULASI IKAN ENDEMIK BUNGO PADA KAWASAN TIGA DANAU TERINTEGRASI (TEMPE-SIDENRENG-LAPOMPAKKA) Tahun ke-1 dari rencana 2 tahun. TIM PENELITI Dr. Ir. Hadiratul Kudsiah, M.P. Dr. Andi Aliah Hidayani, S.Pi., M.Si. Dr. Sri Wahyuni Rahim, S.T., M.Si. Dr. Ir. Suwarni, M.Si. 0006116706 0002058002 0017097503 0017076303. Ketua Anggota Anggota Anggota. FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN 2020. 25.

(2) HALAMAN PENGESAHAN Judul Penelitian. : Keragaan Genetik Menggunakan Polimorfisme mtDNA dan Dinamika Populasi Ikan Endemik pada Kawasan Tiga Danau Terintegrasi (TempeSidenreng-Lapompakka) : Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir, Laut, dan Perikanan Darat Berbasis Ekosistem 1.: 1. Publikasi Jurnal Internasional Beriputasi. 2. 2. Presenter dalam Seminar Nasional. Tema Penelitian Output Penelitian Ketua Peneliti a. Nama Lengkap b. Jenis Kelamin c. NIDN d. Jabatan Fungsional e. Jabatan Struktural f. Fakultas/Jurusan g. Telp/Faks/E-mail Anggota Peneliti 1 a. Nama Lengkap b. NIDN Anggota Peneliti 2 a. Nama Lengkap b. NIDN Anggota Peneliti 3 a. Nama Lengkap b. NIDN. : : : : : : : : : : : : : : : :. Waktu Penelitian. : 2 (dua) tahun. Biaya Disetujui Tahun I. : Rp 70.000.000,- (Tujuh Puluh Juta Rupiah). Dr. Ir. Hadiratul Kudsiah, M.P. Perempuan 0006116706 Asisten Ahli Ilmu Kelautan dan Perikanan/Perikanan 0811443446/[email protected] Dr. Andi Aliah Hidayani, S.Pi., M.Si. 0002058002 Dr. Sri Wahyuni Rahim, S.T., M.Si. 0017097503 Dr. Ir. Suwarni, M.Si 0017076303. Makassar, 7 Nopember 2020 Mengetahui Dekan FIKP Unhas,. Ketua Peneliti,. Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, M.Si NIP 196909011993032003. Dr. Ir. Hadiratul Kudsiah, M.P. NIP 196711062006032001. Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat,. Prof. Dr. Andi Alimuddin, M.Si. NIP 1962081819870021001 ii.

(3) RINGKASAN Tujuan jangka panjang penelitian ini adalah untuk menyelamatkan spesies ikan bungo yang merupakan spesies endemik Danau Tempe, Sidenreng, dan Lapompakka, dan danau lainnya di Sulawesi Selatan dari ancaman kepunahan. Tujuan khusus yang ingin dicapai adalah ditemukannya data keragaman dan jarak genetik serta dinamika populasi ikan bungo di ketiga danau tersebut sebagai satu kesatuan danau yang tidak terpisahkan sebagai sebuah sistem danau, pada musim hujan. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi budidaya dan konservasi ikan bungo pada perairan sistem Danau Tempe (Tempe, Sidenreng, dan Lapompakka) sehingga plasma nutfah endemik Sulawesi Selatan dapat dilestarikan. Hasil analisis DNA menunjukkan bahwa populasi ikan bungo tidak menunjukkan perbedaan yang jauh antar lokasi danau terkecuali ada beberapa sampel yang berbeda dari Danau Tempe. Jarak genetik yang berasal dari Danau Lapompakka dengan Danau Sidenreng memiliki jarak genetic terendah yaitu 0.00398 (mendekati 0), sementara sampel yang memiliki jarak genetik terjauh adalah dari Danau Lapompakka dengan sampel yang berasal dari Danau Tempe yaitu 0,05882. Hasil penelitian dinamika populasi menunjukkan Danau Sidenreng memiliki lebih banyak kelompok umur ikan bungo dibandingkan dengan Danau Tempe dan Danau Lapompakka. Ukuran panjang yang ditemukan di Danau Tempe lebih panjang dibanding yang diperoleh di Danau Sidenreng dan Danau Lapompakka, dan ukuran panjang ikan bungo terkecil ditemukan di Danau Lapompakka. Ikan bungo yang terdapat di Danau Sidenreng dan Danau Lapompakka tergolong pertumbuhan yang cepat karena nilai k lebih besar dari 0,5 sedangkan di Danau Tempe tergolong lambat karena lebih kecil dari 0,5. Laju mortalitas alami ikan bungo lebih banyak terjadi pada ikan bungo yang berumur sekitar 1 dan 2 tahun dan ini dijumpai pada ketiga perairan. Mortalitas yang terjadi pada ketiga lokasi disebabkan kematian alami karena nilai M nya lebih besar dari nilai F. Berdasarkan nilai laju eksploitasi (E), maka laju eksploitasi ikan bungo di peroleh nilai E pada Danau Sidenreng dan Danau Lapompakka dibawah 0,5 ini terindikasi bahwa belum over exploitasi sedangkan di Danau Tempe ditemukan lebih besar dari 0,5 ini mengindikasikan bahwa ikan bungo telah over exploitasi. Keywords: Ikan endemik, danau tempe, danau sidenreng, daua lapompakka, keragaan genetik.. iii.

(4) PRAKATA Danau Tempe adalah salah satu dari tiga danau yang terdapat di bagian tengah wilayah Sulawesi selatan. Dua danau lainnya terletak di sebelah utara Danau Tempe adalah Danau Sidenreng di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dan Danau Lapompakka (Danau Buaya) di Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo. Danau Tempe terpisah dengan Danau Lapompakka dan Danau Sidenreng pada musim kemarau sedangkan di musim hujan ketiga danau menyatu dan membentuk Danau Tempe yang luasnya 35.000 ha. Salah satu ikan yang terdapat di sistem danau tempe adalah Ikan bungo (Glossogobius giuris). Ikan ini bernilai ekonomis tinggi dan telah mengalami penurunan populasi akibat tingginya tingkat eksploitasi dan perubahan kondisi lingkungan. Jika kondisi ini dibiarkan maka keberadaan populasi ikan bungo ini sebagai sebuah plasma nutfah endemik Danau Tempe akan terus terdegradasi dan suatu saat berpotensi akan mengalami kepunahan. Oleh karena itu upaya penyelamatan terhadap spesies ikan ini harus segera dilakukan antara lain melalui dengan menerapkan strategi pengelolaan yang tepat dan bijak terhadap sumberdaya ikan bungo di sistem perairan Danau Tempe dan sekitarnya (Danau Sidenreng dan Danau Lapompakka). Hasil penelitian dapat menjadi data dasar bagi pengelolaan ikan bungo secara terpadu berbasis genetika populasi di kawasan ekosistem Danau Tempe dan sekitarnya. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi upaya pengembangan teknologi budidaya dan konservasi ikan bungo pada perairan sistem Danau Tempe (Tempe, Sidenreng, dan Lapompakka) sehingga plasma nutfah endemik Sulawesi Selatan dapat dilestarikan. Terima kasih kepada pihak LP2M Universitas Hasanuddin atas bantuan dana melalui Program Hibah Penelitian Dasar Unhas tahun 2020. Terima kasih disampaikan pula kepada semua pihak yang turut membantu hingga terlaksananya penelitian ini. Kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat diharapkan. Semoga laporan ini bermanfaat.. Tim Peneliti. 4.

(5) DAFTAR ISI Halaman Pengesahan ............................................................................................................. ii. Ringkasan ............................................................................................................................... iii Prakata..................................................................................................................................... iv. Daftar Isi ................................................................................................................................. vi. Daftar Tabel ........................................................................................................................... vii Daftar Gambar ....................................................................................................................... viii Daftar Lampiran ...................................................................................................................... ix. BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ................................................................................................... 1. 1.2. Urgensi Penelitian .............................................................................................. 2. BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) .......................... 4. 2.2. Perairan Danau Tempe Sulawesi Selatan .......................................................... 5. 2.3. Marka DNA dalam Analisis Keragaman Genetik .............................................. 7. 2.4. Teori Keragaman (Polimorfisme) ...................................................................... 7. 2.5. Amplikasi Fragment mtDNA (Asam Deoksiribo Nukleat Mitokondria) ........... 8. BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT 3.1. Tujuan Penelitian .............................................................................................. 10 3.2. Manfaat Penelitian ............................................................................................ 10 BAB 4. METODE PENELITIAN 4.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ............................................................................. 11 4.2. Tahapan Penelitian ............................................................................................ 12 4.3. Rancangan Penelitian ........................................................................................ 12 BAB 5. HASIL DAN LUARAN PENELITIAN 5.1. Hasil Penelitian ................................................................................................. 16 5.2. Luaran yang Dicapai .......................................................................................... 26 BAB 6. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ............................................................... 27 BAB 7. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan ....................................................................................................... 28 7.2. Saran ................................................................................................................. 28 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 29 LAMPIRAN ........................................................................................................................... 30. 5.

(6) DAFTAR TABEL Nomor. Halaman. 4.1. Tahapan Kegiatan Penelitian ................................................................................ 12. 5.1. Jarak genetic antar populasi ditunjukkan dalam metode jarak pairwise distances ................................................................................................. 19. 5.2. Jumlah haplotipe untuk setiap populasi ikan bungo ............................................. 19. 5.4. Pendugaan parameter pertumbuhan ikan bungo, Glossogobius giuris (Hamilton Buchanan,1822) gabungan (jantan dan betina) di perairan Danau Tempe, Sidenreng dan Lapompakka ......................................................... 24. 5.5. Mortalitas dan laju eksploitasi ikan bungo, Glossogobius giuris (Hamilton Buchanan,1822) gabungan (jantan dan betina) di perairan Danau Tempe, Sidenreng dan Lapompakka ......................................................... 25. 5.6. Rencana target dan luaran capaian ........................................................................ 26. 6.

(7) DAFTAR GAMBAR Nomor. Halaman. 2.1. Peta Geomorfologi Danau Tempe, Danau Sidenreng dan Danau Lapompakka ....................................................................................... 6. 4.1. Lokasi Penelitian dan Pengambilan Sampel ......................................................... 11. 4.2. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) ............................. 13. 5.1. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) Yang tertangkap di Danau Sidenreng .................................................................... 16. 5.2. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) Yang tertangkap di Danau Tempe ......................................................................... 16. 5.3. Ikan bungo (Glossogobius giuris, Hamilton-Buchanan 1822) Yang tertangkap di Danau Lapompakka................................................................ 17. 5.4. Hasil ekstraksi DNA ikan Bungo di tiga danau: Danau Tempe, Danau Sidenreng, dan Danau Lapompakka .......................................................... 17. 5.5. Pohon filogenetik ikan Bungo yang berasal dari Perairan Danau Tempe-Sidenreng-Lapompakka ............................................................................ 18. 5.6. Histogram frekuensi panjang total dan kurva normal ikan bungo Glossogobius giuris) (jantan dan betina) yang tertangkap di perairan Danau Tempe, Sulawesi Selatan ......................................................... 21. 5.7. Histogram frekuensi panjang total dan kurva normal ikan bungo Glossogobius giuris) (jantan dan betina) yang tertangkap di perairan Danau Sidenreng, Sulawesi Selatan ................................................... 21. 5.8. Histogram frekuensi panjang total dan kurva normal ikan bungo Glossogobius giuris) (jantan dan betina) yang tertangkap di perairan Danau Lapompakka, Sulawesi Selatan ............................................... 22. 7.

(8) DAFTAR LAMPIRAN Nomor. Halaman. 1.. Draf artikel internasional ...................................................................................... 31. 2.. Keikutsertaan dalam Seminar Internasional ......................................................... 41. 3.. Keikutsertaan dalam Seminar Nasional ................................................................ 43. 4.. Submitted di Jurnal Terakreditasi Sinta ................................................................ 47. 5.. Dokumentasi Penelitian ........................................................................................ 48. 8.

(9) Kode/Nama Rumpun Ilmu : 241/Bidang Perikanan Bidang Fokus : III/7. LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENDIDIKAN MAGISTER MENUJU DOKTOR UNTUK SARJANA UNGGUL. ANALISA MORFOLOGI DAN KERAGAMAN GENETIK IKAN LETHRINUS DALAM RANGKA KONSERVASI DAN PENGATURAN PEMANFAATANNYA. TIM PENGUSUL: Prof. Andi Iqbal Burhanuddin, M. Fish, Sc. Ph. D (0015126901) Dr. Irmawati, S. Pi, M. Si (0016057001) Muhammad Afrisal S. Kel (L013181015). FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN NOVEMBER 2020. 1.

(10) 2.

(11) Pengisian poin C sampai dengan poin H mengikuti template berikut dan tidak dibatasi jumlah kata atau halaman namun disarankan seringkas mungkin. Dilarang menghapus/memodifikasi template ataupun menghapus penjelasan di setiap poin. C. HASIL PELAKSANAAN PENELITIAN: Tuliskan secara ringkas hasil pelaksanaan penelitian yang telah dicapai sesuai tahun pelaksanaan penelitian. Penyajian dapat berupa data, hasil analisis, dan capaian luaran (wajib dan atau tambahan). Seluruh hasil atau capaian yang dilaporkan harus berkaitan dengan tahapan pelaksanaan penelitian sebagaimana direncanakan pada proposal. Penyajian data dapat berupa gambar, tabel, grafik, dan sejenisnya, serta analisis didukung dengan sumber pustaka primer yang relevan dan terkini.. A. Landmark-based Variasi Morfometrik dan Meristik Ikan Lencam (Lethrinus, Lethrinidae, Pecoidei) Berdasarkan Daerah Destructive Fishing di Perairan Sulawesi, Indonesia 1. Sebaran Karakter Morfometrik Berdasarkan hasil analisis one-way analysis of variance yang selanjutnya diuji lanjut menggunakan uji Tukey and DFA dari total 420 spesimen dari 5 lima spesies genus Lethrinus dari 3 lokasi perairairan Sulawesi, Indonesia. 1.1. L. erythropterus Dari 21 karakter yang diuji pada L. erythropterus sebagian besar memiliki nilai signifikan kecuali pada karakter A3, the posteriormost point of the eye to the origin of the dorsal fin (P > 0.05). Namun, terjadi pengelompokkan yang nyata pada populasi ikan L. erythropterus di setiap stasiun (Table 1). Populasi Manado dan Wakatobi memiliki kemiripan karakter, i.e., A2, A6, B1, B3, B4, C1, C4, sedangkan karakter morfometrik ikan L. erythropterus di Makassar berbeda dengan lokasi lain i.e., A4, A5, B5, B6, C3, C5, C6, D1, D3, D4, D5, D6. Standardized coefficient of canonical variable (root) 1 and 2 diperoleh dari DFA menunjukkan 95.4% dan 41.7% variasi antar populasi yang dianalisis, dengan 20 principal variable for discriminate groups (Table 3). In canonical root 1, the variables with major effects were: A6 (Y=1.304), B1 (Y=0.659), B3 (Y=0.323), B5 (Y=0.674), C3 (Y=0.782), C5 (Y=0.362), C6 (Y=-0.365), D4 (Y=-0.373), (Y=0.713). For root 2, variables with major effects were: A2 (Y=-0.388), A3 (Y=-0.423), A4 (Y=-0.564), A5 (Y=1.328), B5 (Y=-0.347), C3 (0.354), C4 (Y=-0.473), C5 (Y=0.391), D1 (Y=0.504), D3 (Y=0.495), D4 (Y=-538). Predictive classification of individuals for all groups showed an overall value 93.3%. Population of L. erythropterus from the Manado (90%) tercampur 3 individu dengan Wakatobi (100%), dan populasi of L. erythropterus di Makassar tidak ada karakter yang terpisah dengan populasi yang lain (100%). 1.2 L. semicintus Berdasarkan hasil analisis one-way anova menunjukkan bahwa karakter spesies L. semicintus memberikan pengaruh signifikan (p<0,05) terhadap perbedaan populasi. Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa terjadi sebaran yang nyata antar populasi, kecuali pada karakter C1, the origin of the anal fin to the insertion of the anal fin (P > 0.05). Karakter populasi Manado dan Wakatobi terdapat kesamaan pada variabel; A1, A2, A5, B4, B5, C4, C5, C6, D1, D3, D4, D5, D6. Populasi Makassar berbeda nyata dengan populasi lain i.e., A3, A4, A6, B1, B3, B6, dan karakter C3 memiliki kesamaan antara populasi Makassar dan Wakatobi (Table 1). Standardized coefficient of canonical variable (root) 1 and 2 diperoleh dari DFA menunjukkan 96.04% dan 50.41% variasi antar populasi yang dianalisis, 3.

(12) dengan 19 principal variable for discriminate groups (Table 3). Karakter morfometrik yang berpengaruhi pada root 1 adalah: A4 (Y=-0.316), A6 (Y=1.078), B1 (0.744), B5 (0.587). Untuk root 2 variabel yang paling berpengaruh adalah: A2 the posteriormost point of the maxilla to the posteriormost point of the eye (Y=-0.840), A3 (Y=-0.448), A4 (Y=0,541), A6 (Y=0.322), B1 (Y=0.336), B5 (Y=0.683), B6 (Y=-0.895), C1 (Y=0.482), C4 (Y=-0.317), D1 (0.333), D3 (Y=868), D4 (Y=0.542), D5 (-0.531), D6 (-0.565). Predictive classification of individuals for all groups showed an overall value 97.8%. Population of L. semicintus from the Manado (96.7%) shared 1 individual with Wakatobi (100%), dan populasi of L. semicintus dari Makassar tidak ditemukan variable yang terpisah dari populasi yang lain (100%). 1.3 L. obsoletus Berdasarkan analisa statistik dengan menggunakan Anova menunjukkan bahwa adanya pengaruh (p<0,05) dari karakter spesies terhadap populasi yang berbeda. Kemudian dilanjutkan dengan uji Tukey, untuk mengetahui tingkat perbedaan antar populasi (Table 1). Hasil uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai karakter L. obsoletus di berbagai lokasi penelitian (P < 0.05) antara lain A4, A5, A6, B1, B5, C6, D4, D5. Namun, tidak terdapat perbedaan karakter antara populasi Manado dan Wakatobi antara lain; A2, B3, B6, C1, C3, C5, D1, D3, D6, dan populasi Manado dan Makassar memiliki kesamaan pada karakter seperti A1, A3, and C4. Nilai standardized coefficient of canonical variable (root) 1 and 2 pada L. obsoletus diperoleh dari DFA menunjukkan 90.25% dan 49% variasi antar populasi yang dianalisis, dengan 22 principal variable for discriminate groups. A1 (Y=0.587), A3 (Y=0.310), A4 (Y=0.318), A6 (Y=0.520), B1 (Y=0.544), B5 (Y=0.645), C1 (Y=0.621), C4 (Y=-0.449), D1 (Y=0.379), D3 (Y=0.672), D6 (Y=0.347). Sedangkan variable yang paling berpengaruh pada Root 2 adalah: A2 (Y=0.587), A3 (Y=0.516), A4 (Y=0.988), A5 (Y=-1.072), B5 (Y=0.687), C3 (Y=-0.562), C4 (Y=0.625), C5 (Y=-0.509), D4 (Y=0.572), D5 (Y=0.443). Predictive classification of individuals for all groups showed an overall value 94.4%. Population of L. obsoletus from the Manado (93.3%) shared 2 individuals Wakatobi (100%), dan population of L. obsoletus from the Manado (96.7%) terpisah dengan 1 individual di Makassar (100%).. 4.

(13) Table 1. Variasi karakter morfometrik (mean and standard deviation) dari L. erythropterus, L. semicintus, and L. obsoletus di masing-masing lokasi penelitian. L. erythropterus L. semicintus L. obsoletus Code Manado Makassar Wakatobi Manado Makassar Wakatobi Manado Makassar Wakatobi a b c a b a a a A1 46.33 ± 2.69 51.69 ± 2.10 48.30 ± 4.36 47.37 ± 7.60 50.27 ± 1.69 45.89 ± 2.39 47.55 ± 1.45 48.56 ± 2.05 46.24 ± 2.35b A2 57.64 ± 3.47a 64.60 ± 2.74b 58.06 ± 3.04a 49.61 ± 2.75a 55.37 ± 1.21b 49.03 ± 2.19a 50.32 ± 3.49a 52.94 ± 1.50b 49.39 ± 1.44a a a a a b c a a A3 26.17 ± 8.76 28.44 ± 1.98 25.49 ± 1.91 22.49 ± 3.35 25.31 ± 1.44 20.93 ± 1.75 26.78 ± 6.67 25.90 ± 1.53 23.17 ± 1.32b A4 72.72 ± 2.03a 83.75 ± 3.44b 75.40 ± 3.70c 57.96 ± 1.71a 64.07 ± 2.40b 56.55 ± 2.23c 63.92 ± 1.29a 65.59 ± 1.88b 61.93 ± 2.27c A5 69.15 ± 1.93a 77.97 ± 2.30b 71.80 ± 3.64c 56.86 ± 1.85a 62.70 ± 2.11b 55.78 ± 1.68a 61.34 ± 1.44a 62.91 ± 1.33b 60.25 ± 1.85c A6 74.49 ± 4.93a 86.77 ± 2.39b 75.89 ± 3.94a 65.39 ± 2.30a 74.34 ± 1.58b 64.21 ± 1.69c 69.52 ± 2.55a 73.50 ± 2.13b 66.86 ± 1.72c a b a a b c a b B1 53.64 ± 3.45 58.90 ± 4.35 53.84 ± 2.93 48.93 ± 3.51 52.08 ± 2.77 46.92 ± 2.21 50.74 ± 2.21 54.44 ± 2.89 49.13 ± 2.17c B3 58.67 ± 2.37a 65.86 ± 2.35b 59.34 ± 3.21a 52.63 ± 1.93a 58.61 ± 3.63b 49.72 ± 2.66c 54.08 ± 1.41a 56.07 ± 1.23b 53.21 ± 2.25a B4 67.24 ± 1.79a 76.56 ± 2.79b 69.47 ± 5.40a 50.78 ± 1.29a 55.92 ± 1.25b 50.32 ± 1.79a 58.76 ± 1.22a 59.80 ± 1.80ab 56.42 ± 7.37ac B5 88.50 ± 1.92a 101.06 ± 3.13b 90.62 ± 3.51c 73.14 ± 4.68a 81.00 ± 1.50b 72.43 ± 1.68a 80.92 ± 1.63a 83.11 ± 1.41b 79.16 ± 1.91c a b c a b c a b B6 89.76 ± 1.98 101.10 ± 4.07 91.97 ± 3.44 74.08 ± 1.86 80.87 ± 2.40 70.93 ± 2.18 79.77 ± 1.78 82.97 ± 2.13 78.66 ± 3.30a C1 34.80 ± 3.09a 39.05 ± 3.06b 36.23 ± 1.74a 31.41 ± 9.57a 33.38 ± 1.01a 30.15 ± 1.01a 32.64 ± 0.77a 33.85 ± 0.86b 32.35 ± 0.89a C3 31.95 ± 0.96a 36.61 ± 2.46b 34.83 ± 3.25c 29.85 ± 2.38a 32.47 ± 1.49b 32.41 ± 3.27b 31.98 ± 0.85a 33.08 ± 0.79b 32.46 ± 1.31a C4 32.97 ± 1.47a 37.24 ± 1.54b 33.36 ± 1.59a 28.14 ± 4.01a 30.21 ± 3.32b 26.35 ± 0.92a 30.64 ± 0.86a 30.96 ± 1.01a 29.91 ± 1.09b a b c a b a a b C5 57.73 ± 1.63 65.36 ± 2.48 60.48 ± 3.21 48.20 ± 1.01 52.69 ± 1.12 49.16 ± 2.42 54.34 ± 1.02 55.36 ± 1.32 54.10 ± 1.57a C6 58.03 ± 1.29a 65.56 ± 2.56b 61.14 ± 8.25c 47.14 ± 0.90a 52.35 ± 1.38b 46.58 ± 1.41a 52.63 ± 1.14a 54.37 ± 1.72b 51.76 ± 1.18c D1 26.42 ± 2.26a 32.70 ± 2.61b 29.00 ± 1.89c 28.70 ± 1.77a 31.87 ± 1.99b 28.64 ± 2.44a 28.39 ± 1.59a 31.32 ± 1.69b 28.41 ± 1.49a D3 26.36 ± 2.04a 30.04 ± 1.81b 28.75 ± 2.37c 27.07 ± 1.89a 29.31 ± 1.70b 28.10 ± 2.19a 27.30 ± 1.74a 30.48 ± 1.48b 27.99 ± 1.42a a b c a b a a b D4 25.19 ± 1.35 29.03 ± 1.33 26.17 ± 1.21 19.61 ± 0.83 22.69 ± 1.20 19.95 ± 0.99 23.45 ± 0.82 24.61 ± 0.71 22.75 ± 0.77c D5 38.26 ± 1.55a 44.33 ± 1.92b 40.24 ± 2.50c 35.43 ± 1.87a 38.99 ± 1.04b 34.50 ± 1.75a 37.73 ± 1.01a 40.74 ± 1.42b 37.82 ± 1.45c D6 39.91 ± 1.57a 46.57 ± 2.25b 41.73 ± 1.49c 37.15 ± 1.45a 40.64 ± 1.41b 36.54 ± 1.43a 39.11 ± 1.76a 42.12 ± 1.58b 38.28 ± 1.30a Uji statistika mengggunakan one-way analysis of variance (Anova) dengan tingkat kepecayaan (95%) untuk melihat tingkat perbedaan populasi untuk masingmasing spesies. Karakter morfometrik yang berbeda nyata kemudian diuji lanjut menggunakan uji Tukey’ s HSD. Huruf yang berbeda menandakan perbedaan yang signifikan.. 5.

(14) Table 2. Variasi karakter morfometrik (mean and standard deviation) dari L. ornatus and L. harak L. ornatus L. harak Code Manado Makassar Wakatobi Manado Makassar Wakatobi a b a a b A1 41.84 ± 1.46 45.05 ± 2.26 41.55 ± 2.01 44.68 ± 3.57 48.81 ± 2.21 45.89 ± 2.58a A2 50.40 ± 2.80a 56.12 ± 2.17b 49.21 ± 2.11a 47.22 ± 3.86a 53.40 ± 1.76b 49.82 ± 2.20c a b A3 23.41 ± 1.62 25.47 ± 2.12 22.40 ± 2.46a 26.17 ± 4.21a 30.10 ± 1.91b 26.98 ± 2.77a A4 65.96 ± 1.87a 70.60 ± 2.92b 62.89 ± 1.91c 61.36 ± 5.05a 69.88 ± 3.24b 64.69 ± 3.69c A5 63.12 ± 1.73a 67.60 ± 2.16b 60.92 ± 1.83c 59.51 ± 5.32a 67.21 ± 2.47b 62.61 ± 3.33c A6 67.11 ± 1.86a 74.36 ± 2.45b 64.61 ± 1.65c 66.46 ± 5.48a 75.09 ± 2.45b 69.15 ± 3.84c a b B1 46.57 ± 2.57 48.64 ± 3.11 45.57 ± 2.45a 49.49 ± 3.98a 56.63 ± 2.91b 51.38 ± 2.53a B3 52.97 ± 1.65a 55.73 ± 2.00b 50.87 ± 1.76c 52.60 ± 3.73a 57.44 ± 1.73b 53.79 ± 3.44a B4 60.73 ± 1.54a 64.63 ± 2.74b 59.24 ± 2.00c 56.94 ± 4.44a 64.55 ± 1.90b 61.33 ± 3.84c B5 81.07 ± 1.17a 85.34 ± 3.98b 78.94 ± 1.67c 78.38 ± 5.54a 86.84 ± 2.19b 82.22 ± 4.24c a b B6 80.11 ± 3.01 84.33 ± 2.89 76.18 ± 1.69c 77.61 ± 5.98a 88.52 ± 2.80b 81.22 ± 4.54c C1 32.48 ± 1.23a 34.93 ± 1.21b 32.86 ± 5.24a 32.96 ± 2.98a 36.54 ± 1.37b 35.85 ± 2.07b C3 32.99 ± 1.01a 34.58 ± 2.15b 33.08 ± 1.94a 32.58 ± 2.80a 37.01 ± 0.92b 37.45 ± 3.33b C4 29.33 ± 0.91a 30.77 ± 1.20b 28.51 ± 1.04c 29.83 ± 2.86a 32.79 ± 1.97b 31.04 ± 1.95a a b C5 54.92 ± 1.36 57.74 ± 2.30 53.99 ± 2.09a 53.26 ± 4.12a 60.63 ± 1.30b 58.97 ± 3.83b C6 52.46 ± 1.11a 55.70 ± 1.70b 50.72 ± 1.46c 51.60 ± 4.70a 57.90 ± 1.15b 55.17 ± 4.01c D1 26.40 ± 1.59a 28.78 ± 1.74b 25.95 ± 1.16a 29.91 ± 3.28a 33.12 ± 2.28b 30.86 ± 2.36a D3 25.99 ± 2.12a 28.55 ± 2.42b 26.58 ± 1.73a 29.07 ± 2.84a 31.13 ± 2.07b 30.13 ± 2.17ab a ab D4 22.64 ± 5.68 23.38 ± 1.01 21.08 ± 0.87ac 22.46 ± 2.21a 25.51 ± 1.21b 23.27 ± 2.12a D5 35.55 ± 1.67a 38.84 ± 1.45b 35.30 ± 1.83a 37.67 ± 3.49a 42.27 ± 2.01b 39.66 ± 2.83c D6 35.97 ± 2.13a 39.09 ± 1.88b 35.42 ± 1.01a 39.71 ± 3.42a 43.67 ± 2.12b 40.23 1.99a 1.4 L. ornatus Data yang diperoleh dari 21 variable pengamatan yang sudah ditansformasi selanjutnya dianalisis dengan one-way analysis of variance (Anova) menunjukkan perbedaan yang signifikan di berbagai lokasi (P < 0.05) dan dilanjutkan dengan uji lanjut menggunakan Tukey Test yang memperlihatkan variasi morfometrik di populasi Manado dan Wakatobi yang sama pada variabel i.e., A1, A2, A3, B1, C1, C3, C5, D1, D3, D5, D6, karakter D4 memiliki karakter yang berbeda nyata antara Makassar dan Wakatobi. Tetapi, terdapat perbedaan nyata di berbagai lokasi penelitian termasuk: A4, A5, A6, B3, B4, B5, B6, C4, and C6. Standardized coefficient of canonical variable (root) 1 and 2 diperoleh dari DFA menunjukkan 90.25% dan 32.49% variasi antar populasi yang dianalisis, dengan 14 principal variable for discriminate groups. Karakter morfometrik yang berpengaruhi pada root 1 adalah: A6 (Y=0.934), B1 (0.443), B4 (Y=-0.517), B6 (Y=0.353), C4 (Y=-0.370), C6 (Y=0.568), D1 (0.526). Karakter mayoritas mempengaruh nilai Root 2 adalah: A1 (0.342), B1 (0.340), B6 (Y=-0.560), C1 (Y=0.408), C3 (Y=0.332), C6 (-0.370), and D3 (Y=0.409). Predictive classification of individuals for all groups showed an overall value 95.6%. Population of L. ornatus from the Manado (93.3%) shared 2 individuals with Wakatobi (100%), dan populasi of L. ornatus dari Makassar tidak ditemukan variable yang terpisah dari populasi yang lain (100%).. 6.

(15) 1.5 L. harak Hasil uji one-way Anova pada data karakter morfometrik L. harak pada taraf kepercayaan (95%) didapatkan nilai signifikan pada Table. 2 (P > 0,05) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara populasi dan dapat dikatakan bahwa perbedaan populasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap variasi morfometrik L. harak. Untuk memastikan bahwa terjadi melihat perbedaan yang nyata antara populasi maka dianalisis lebih lanjut dengan uji Tukey pada taraf kepercayaan sebesar 95%. Variasi karakter morfometrik memiliki kesamaan antar populasi di Manado dan Wakatobi i.e., A1, A3, B1, B3, C4, D1, and D4, hasil serupa juga ditemukan pada karakter Makassar dan Wakatobi yang memiliki kesamaan karakter i.e., C1, C3, and C5, tetapi karakter D3 berbeda nyata antar Makassar dan Wakatobi. Namun terdapat perbedaan yang nyata di berbagai lokasi penelitian seperti karakter: A2, A4, A5, A6, B4, B5, B6, C6, D5, and D6. Table 3. Eigenvalue, cumulative% of variance, canonical correlation, and standardized coefficients of canonical variables dari karakter morfometrik lima spesies Lethrinus di tiga lokasi penelitian Species. L. erythropterus. L. semicintus. L. obsoletus. L. ornatus. L. harak. Discriminant Variables Eigenvalue Cumulative% of variance Canonical corelation A1 A2 A3 A4 A5. Function. Function. Function. Function. Function. 1 21.127. 2 0.71. 1 24.46. 2 1.02. 1 10.47. 2 0.98. 1 11.20. 2 0.49. 1. 2. 11.2. 0.49. 96.7. 3.3. 96. 4. 91.4. 8.6. 95.8. 4.2. 95.8. 4.2. 0.977. 0.646. 0.98. 0.71. 0.95. 0.70. 0.95. 0.57. 0.95. 0.57. .001 .264 .678 -.183 .199. -.130 -.388 -.423 -.564 1.32. .249 -.241 -.071 -.316 -.251. -.083 -.840 -.448 .541 -.012. .587 .140 .310 .318 -.248. .070 .587 .516 .988 -1.072. .185 .263 .130 -.273 .062. .342 .198 -.272 -.106 .007. .185 .263 .130 -.273 .062. .342 .198 -.272 -.106 .007. 1.304 .659 .323 -.268 .674. -.024 .149 -.280 .092 -.347. 1.078 .744 .128 -.024 .587. .322 .336 -.010 -.085 .683. .520 .544 -.244 -.203 .645. .014 -.053 -.270 -.111 .687. .934 .443 .212 -.517 .004. .006 .340 -.323 .291 .100. .934 .443 .212 -.517 .004. .006 .340 -.323 .291 .100. C1. -.188 .189. .090 .087. .069 .717. -.895 .482. .058 .621. -.294 -.267. .353 -.049. -.560 .408. .353 -.049. -.560 .408. C3 C4 C5 C6 D1 D3 D4 D5. .782 -.227 -.362 -.365 .177 -.216 -.373 .270. .354 -.473 .391 .021 .504 .495 -.538 .078. .165 -.021 -.060 .508 .153 .157 .156 .289. .154 -.317 .254 .206 .333 .868 .542 -.531. .250 -.449 -.453 -.151 .379 .672 -.167 -.002. -.562 .625 -.509 -.094 -.043 -.021 .572 -.443. .002 -.370 -.154 .568 .526 .129 .043 .067. .332 -.041 -.227 -.370 .241 .409 -.259 .197. .002 -.370 -.154 .568 .526 .129 .043 .067. .332 -.041 -.227 -.370 .241 .409 -.259 .197. D6. .713. -.109. -.002. -.565. .347. -.282. -.149. .246. -.149. .246. A6 B1 B3 B4 B5 B6. 7.

(16) Nilai standardized coefficient of canonical variable (root) 1 and 2 diperoleh dari DFA menunjukkan 90.25% dan 32.49% variasi antar populasi yang dianalisis, dengan 14 principal variable for discriminate groups (Table 3). Karakter morfometrik yang berpengaruhi pada root 1 adalah: A6 (0.934), B1 (0.443), B4 (Y=-0.517), B6 (Y=0.353), C4 (Y=-0.370), C6 (Y=0.568), and D1 (Y=0.526). Karakter mayoritas mempengaruh nilai Root 2 adalah: A1 (Y=0.342), B1 (Y=0.340), B3 (Y=-0.323), B6 (Y=-0.560), C1 (Y=0.408), C3 (Y=0.332), C6 (Y=-0.370), and D3 (Y=0.409). Predictive classification of individuals for all groups showed an overall value 95.6%. Population of L. ornatus from the Manado (93.3%) shared 2 individuals with Wakatobi (100%), dan populasi of L. ornatus dari Makassar tidak ditemukan variable yang terpisah dari populasi yang lain (100%).. Gambar 1. Scatterplot dari 21 variabel yang diukur dari limas spesies genus Lethrinus di tiga lokasi perairan Sulawesi, Indonesia. Sebaran karakter morfometrik individu kelima spesies Lethrinus secara umum menunjukkan hubungan kekerabatan antar populasi cukup erat antara satu dengan yang lainnya (Fig. 3). Hal ini ditunjukkan dengan adanya daerah himpitan dari kelima spesies Lethrinus yang diamati. Secara umum spesies L. erythropterus lebih dominan mengumpul pada sebelah kanan atas garis axis Y dan kanan atas garis axis X, L. semicintus lebih dominan mengumpul pada sebelah kiri bawah dan kiri atas garis axis X, L. obsoletus lebih dominan mengumpul pada sebelah kanan bawah dan kiri bawah garis axis Y, L. ornatus lebih dominan mengumpul pada sebelah kiri atas garis axis Y, dan L. harak lebih doniman mengumpul pada sebelah kanan bawah dan kanan atas garis axis Y.. 8.

(17) Gambar 2. Hasil diagram pohon berdasarkan tingkat kemiripan nilai rata-rata variable yang diuji untuk setiap spesies dari tiga populasi. Berdasarkan hasil analisis diagram pohon dari nilai rata-rata variabel yang diuji untuk setiap spesies di berbagai lokasi penelitian, dimana menunjukkan secara spesifik adanya pengelompokkan spesies antar populasi (Fig. 4). Tiga kelompok yang terbentuk dengan tingkat kemiripan (66.67%): (1) L. erythropterus Manado, L. erythropterus Wakatobi, L. harak Makassar, L. ornatus Makassar (2) L. erythropterus Makassar (3) L. semicintus Manado, L. semicintus Wakatobi, (3) L. semicintus Makassar, L.obsoletus Makassar, L. obsoletus Manado, L. obsoletus Wakatobi, L. harak Manado, L. harak Wakatobi, L. ornatus Manado, L. ornatus Wakatobi. Namun, populasi di Manado dan Wakatobi cenderung memiliki kesamaan dibandingkan di perairan Makassar. Hasil serupa juga terlihat dari hasil analisis canonical discriminant function of group centroid yang secara keseluruhan menunjukkan terbentuknya kelompok dari tiga populasi yang diamati, dimana populasi di Manado dan Wakatobi lebih dominan mengumpul pada sebelah kiri atas dan kiri bawah garis axis X. Sedangkan, populasi di Makassar lebih dominan mengumpul pada sebelah kanan atas dan kanan bawah garis axis X (Fig. 5).. 9.

(18) Gambar 3. Sebaran karakter morfometrik ketiga populasi ikan Lethrinus berdasarkan hasil analisis diskriminan (A) L. erythropterus, (B) L. semicintus, (C) L. obsoletus, (D) L. ornatus, (E) L. harak. 3.2 Sebaran Karakter Meristik Berdasarkan hasil perhitungan 8 karakter meristic (Table 4), terdapat 4 karakter yang memiliki kisaran yang sama antara lima spesies Lethrinus di berbagai lokasi penelitian. Karakter tersebut adalah anal fin-rays, pectoral fin-rays, pelvic fin-rays, dan gill-raker number. Karakter dorsal fin-rays pada species L. obsoletus di Wakatobi memiliki kisaran 9-10 dan berbeda dengan species dan lokasi lainnya yang hanya 10. Sedangkan tiga karakter meristic lainnya memiliki kisaran yang berbeda antar spesies di berbagai lokasi penelitian seperti scales above lateral line, scales above lateral line, and scales below lateral line. Jumlah lateral line scales pada L. erythropterus di perairan Makassar lebih bervariasi (42-48), dan terendah di perairan Manado dan Wakatobi (44-47). Sebaliknya, jumlah scales above lateral line justru lebih bervariasi di perairan Manado (4-6), dibandingkan kedua perairan lainnya. Hasil serupa juga terlihat jumlah scales below lateral line lebih bervariasi di Makassar (14-17), sementara populasi di Manado dan Wakatobi memiliki variasi yang sama (14-16). Karakter meristik dengan keragaman paling tinggi di Manado yaitu jumlah lateral line scales dengan kisaran antara 46-50. Sedangkan karakter meristik dengan keragaman paling rendah yaitu di. 10.

(19) Makassar dan Wakatobi dengan kisaran antara 46-49. Jumlah scales above lateral line lebih bervariasi di Wakatobi (5-7) diikuti oleh populasi Manado (5-6) dan populasi Makassar (4-5). Pola keragaman meristik scales below lateral line lebih tinggi di Manado (13-17) diikuti oleh populasi (13-16), dan populasi Makassar (13-14). Table 4. Karakter meristic dari lima spesies Lethrinus di tiga perairan Sulawesi Species. Locality. Anal Lateral Scales Scales Dorsal finPectoral Pelvic Gill-rakers finline above below rays fin-rays fin-rays number rays scales lateral line lateral line. Manado X, 10 L. erythropterus Makassar X, 10 Wakatobi X, 10 Manado X, 10 Makassar L. semicintus X, 10 Wakatobi X, 10 Manado X, 10 Makassar X, 10 L. obsoletus Wakatobi IX, X, 10 Manado X, 10 Makassar X, 10 L. ornatus Wakatobi X, 10 Manado X, 10 Makassar X, 10 L. harak Wakatobi X, 10. III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9 III, 9. 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12. I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5 I, 5. 44-47 42-48 44-47 46-50 46-49 46-49 45-48 46-48 46-48 45-48 45-47 46-48 43-49 43-48 45-48. 4, 6 4, 5 5, 6 5, 6 4, 5 5, 7 5, 7 5 5, 6 5, 6 5 4, 6 5, 6 5, 6 5, 6. 14-16 14-17 14-16 13-17 13-14 13-16 14-16 14-15 14-16 13-15 14-15 13-16 13-16 14-15 14-16. 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4. Hasil perhitungan meristik L. obsoletus memiliki keragaman tertinggi di perairan di Manado dengan jumlah lateral line scales berkisar 45-48, sedangkan kedua perairan lainnya memiliki variasi yang sama (46-48). Scales above lateral line paling tinggi di L. obsoletus (5-7) diikuti Wakatobi (5-6), dan populasi di Makassar (5). Nilai karakter meristik scales below lateral line di perairan Manado dan Wakatobi memiliki kisaran yang sama (14-16), sedangkan perairan Makassar berkisar 14-15. Nilai variasi perhitungan meristik lateral line scales L. ornatus tertinggi di Manado berkisar 4548, diikuti oleh Makassar berkisar 45-47, dan Wakatobi berkisar 46-48. Kisaran scales above lateral line tertinggi ditemukan di perairan Wakatobi bekisar 4-6, sedangkan variasi terendah di perairan Makassar (5). Populasi Wakatobi memiliki kisaran scales below lateral line tertinggi di Wakatobi berkisar 13-16, diikuti oleh Manado berkisar 13-15, dan Makassar berkisar 14-15. Kisaran tertinggi lateral line scales L. harak ditemukan di perairan Manado berkisar 43-49, diikuti oleh Makassar bekisar 43-48, dan di Wakatobi berkisar 45-48. Kisaran yang sama di berbagai lokasi penelitian ditunjukkan pada scales above lateral line berkisar 5-6. Kisaran scales below lateral line tertinggi ditemukan di Manado (13-16) diikuti oleh Wakatobi (14-16), dan Makassar (14-15).. 11.

(20) 3.. Pembahasan Hasil uji statistika menggunakan one-way analysis of variance (Anova) dan dilanjutkan dengan. uji lanjut menggunakan Tukey Test, dan uji DFA. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar tidak ada perbedaan yang signifikan antara perairan di Manado dan Wakatobi (P > 0.05), sedangkan perairan Makassar berbeda nyata dengan kedua perairan lainnya (P < 0.05). Hasil yang sama juga ditunjukkan dari uji PCA dan diagram pohon menunjukkan terjadi pengelompokkan populasi di Manado dan Wakatobi, sedangkan perairan Makassar terpisah dari kedua perairan lainnya. Kesamaan karakter antara perairan Manado dan Wakatobi, dan perbedaan karakter di perairan Makassar dengan kedua perairan lainnya. Hal ini diduga berkaitan dengan tekanan penangkapan yang berbeda-beda disetiap lokasi penelitian. Salah satu daerah yang rawan dengan praktik destructive fishing adalah perairan Sulawesi dengan frekuensi kejadian tertinggi di perairan Makassar, Sulawesi Selatan, diikuti oleh perairan Manado, Sulawesi Utara dengan frekuensi sedang dan perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan frekuensi rendah (Briggs, 2003). Namun, perubahan jumlah karakteristik dorsal fin-rays justru ditemukan di perairan Wakatobi pada spesies L. obsoletus yang dianggap sebagai daerah yang memiliki kegiatan destructive fishing yang rendah. Perbedaan karakter morfometrik dan meristic bisa terjadi antar satu spesies yang hidup pada lokasi yang berbeda (Firawati et al, 2017). Perubahan morfologi pada Lethrinus juga ditemukan dari penelitian Afrisal et al (2018) tentang karakter morfologi pada L. erythropterus di perairan Spermonde, Kota Makassar ditemukan adanya kelainan tulang belakang antar spesies. Secara umum variasi morfometrik juga dipengaruhi oleh variasi genetic (Hebert et al, 2003). Berdasarkan penelitian genetic analysis and parallel genetic structuring in the southwest Indian Ocean menggunakan cytochrome c oxidase subunit I (COI) mtDNA gene dan microsatellite (Healey et al, 2017). Hasil penelitian tersebut ditemukan adanya cryptic species pada genus Lethrinus yang dilakukan di populasi yang berbeda termasuk L. harak, L. mahsena dan L. nebulosus. Spesies L. harak salah satu sampel yang digunakan dalam penelitian ini. Penelitian yang sama tentang genetic analysis reveals harvested L. nebulosus in the Southwest Indian Ocean comprise two cryptic species (Healey et al, 2018). Munculnya cryptic species diduga adanya perbedaan wilayah berdasarkan topografi (Krakau 2008), aktivitas antropogenik dan ketersediaan makanan (Irmawati et al, 2018, in press). Hasil estimasi parameter pertumbuhan spesies Lethrinus di daerah penangkapan yang berbeda diantaranya Iran Selatan (Motlagh et al, 2010), Teluk Aden (Mehanna et al, 2014), Teluk Persia (Raeisi et al, 2011), Laut Merah Mesir (Zaahkouk et al, 2017), Kepulauan Seribu (Indonesia) (Sevtian, 2012), Kepulauan Spermonde (Indonesia) (Budimawan et al, 2002), dan Teluk Luar Kendari (Indonesia) (Nurdiansyah et al, 2017). Dari beberapa parameter populasi yang berbeda, didapatkan sebagian besar memiliki pola pertumbuhan allometric negative, kecuali Laut Merah Mesir, danTeluk Luar Kendari. 12.

(21) yang memiliki pola pertumbuhan isometric. Keterdiaan makanan di alam menjadi factor krusial terhadap pola pertumbuhan ikan yang megarah pada perubahan morfologi ikan (Clabaut et al, 2007).. Evaluasi Morfologi dan Genetik, Lethrinus harak (Forsskål, 1775) di Samudera Pasifik dan Hindia 1. Karakter Morfologi Sebaran karakter morfologi individu ikan L. harak secara umum menunjukkan hubungan kekerabatan pada masing-masing populasi Samudera Pasifik dan Hindia. Informasi morfometrik sangat berguna untuk mengkaji variasi bentuk akibat adanya perbedaan geografis (Baur dan Leuenberger, 2011). Selain itu, informasi morfometrik juga sering digunakan dalam taksonomi dan mendeskripsikan ikan (Barriga-Sosa et al., 2004). Namun dalam ilmu taksonomi data holotype sangat diperlukan sebagai dasar perbandingan dengan specimen yang diamati. Data holotype tersebut juga dapat mengevaluasi adanya perubahan karakter morfometrik suatu specimen. Metode ini juga sebagai syarat utama dalam menentukan spesies baru ikan (Burhanuddin and Iwatsuki, 2013). Specimen sebagai holotype dalam penelitian ini (Bonham, New Ireland, Singapura) lebih dominan mengumpul pada sebelah kanan atas garis axis X (Figure 2). Secara umum populasi Samudera Pasifik yakni di perairan Jepang (Okinawa, Miyazaki, dan Ishigaki), Indonesia (Makassar dan Maluku), Filipina, dan percampuran perairan Australia lebih dominan mengumpul pada sebelah kiri atas dan kanan bawah garis axis X. Kesamaan karakter morfometrik antar populasi dipengaruhi karakteristik lingkungan yang sama. Sebaliknya, jika ikan mengalami tekanan lingkungan maka akan mendorong mereka untuk melakukan adaptasi dengan cara modifikasi fisiologi dan perilaku. Suatu spesies yang mampu beradaptasi secara plasticity akan menghasilkan variasi baik fenotip maupun genotip sebagai respon terhadap kondisi lingkungan tertentu sehingga dapat meningkatkan kemampuan individu untuk tetap bertahan hidup dan berkembang biak (Sultan, 1987; Taylor & Aarsen, 1989). Matthews (1998) adaptasi bentuk tubuh, warna dan sirip pada kondisi lingkungan perairan dimana mahkluk tersebut hidup; dan adaptasi bentuk kepala dalam memproses makanan. Populasi Samudera Hindia yakni South Africa, Mozambique, Saudi Arabia, lebih dominan mengumpul pada sebelah kiri bawah garis axis X. Namun perairan Seychelles dan Australia (paratype) terpisah dan cenderung berkumpul dengan perairan Samudera Pasifik di kanan bawah garis axis X. Tingkat isolasi yang cukup dengan wilayah geografis yang terbatas. 13.

(22) dapat menghasilkan perbedaan karakter morfometrik dan genetic yang nyata antar stok atau populasi yang sama karena tidak ada aliran gen antar populasi tersebut (Turan et al., 2004). Hal ini didukung Healey et al., (2018) berhasil mengidentifikasi cryptic species antara lethrinid meskipun secara karakter morfologis mirip seperti L. nebulosus dan L. mahsena di perairan SWIO. Informasi tersebut menemukan dua clade, dimana perairan Seychelles terpisah dengan populasi lainnya dari SWIO. Munculnya fenomena ini pada kawasan tersebut diduga akibat dari tekanan penangkapan yang tinggi dan degradasi habitat. Menurut Wilson & Clarke (1996), eksploitasi yang semakin meningkat dan tekanan terhadap lingkungan dapat menyebabkan terjadi penurunan kelimpahan stok dan rata-rata ukuran ikan, seleksi genetika yang merugikan terhadap fekunditas yang potensial, mengurangi rata-rata ukuran memijah, mengubah rasio jenis kelamin dan keseimbangan interspesifik serta hilangnya diversitas genetika. Perairan Tanzania dan Madagscar tercampur dengan karakter morfometrik holotype L. harak. Efek genetik dan parameter lingkungan terhadap perbedaan pertumbuhan dan proses perkembangan menghasilkan variasi bentuk tubuh pada ikan (Garrod and Horwood, 1984).. Figure 2. Sebaran karakter morfologi populasi ikan L. harak berdasarkan hasil analisis PCA. 14.

(23) Table 5. Perbandingan ukuran karakter morfologi holotype dan paratype L. harak di Samudera Pasifik dan Hindia In standard length In head length Standard Catalogue Locality length Body Head Pectoral Pelvic Orbit Interorbital Snout Suborbital Upper jaw number (mm) depth length length length length width length width length Holotype MNHN 9087 New Ireland 240 3.0 3.0 3.6 4.1 3.8 3.6 2.0 3.0 2.4 RMNH 5758 Singapore 283 2.9 2.9 3.4 5.4 4.2 4.0 1.9 2.8 2.6 BMNH Bonham 207 2.8 3.1 4.0 3.9 3.6 1.9 2.9 2.7 1873.3.160 Paratype UG 1783 Guam 170 2.9 3.0 3.1 4.4 3.7 3.5 2.0 3.1 2.7 UMUTZ 52628 Ishigaki 225 2.9 3.4 3.4 4.6 4.1 3.4 2.0 3.1 2.6 UMUTZ 52510 Ishigaki 285 2.9 3.1 3.3 4.2 4.2 3.5 1.8 2.7 2.5 MUFS 6136 Philippines 120 2.8 2.9 3.5 4.4 3.4 3.4 2.2 2.9 2.7 MUFS 43290 Okinawa 131 2.6 2.8 3.3 4.7 3.6 3.6 2.0 2.9 2.8 MUFS 4417 Okinawa 143 2.8 3.1 3.6 4.6 3.5 3.8 2.1 3.3 2.7 MUFS 6025 Okinawa 132 2.9 3.1 3.5 4.3 3.5 3.5 2.1 3.0 2.6 MUFS 16284 Miyazaki 189 2.7 3.2 3.3 4.3 3.7 3.1 2.0 2.7 2.7 MUFS 8819 Okinawa 176 2.6 3.1 3.8 4.4 4.4 3.6 1.9 2.9 2.7 MUFS 12632 Okinawa 177 2.9 3.0 3.3 4.4 3.3 3.5 1.9 3.0 2.9 MUFS 2098 Okinawa 247 2.8 2.9 3.0 4.0 3.9 3.4 1.8 2.8 2.5 MUFS 6014 Okinawa 240 2.7 3.0 3.4 4.4 3.3 3.2 1.9 2.9 2.5 MSFUH591 Makassar 217 2.7 3.0 3.5 4.1 3.9 3.4 1.9 2.6 2.8 MSFUH915 Makassar 209 2.8 3.1 3.4 4.6 3.9 3.8 2.0 2.5 2.9 MSFUH917 Makassar 163 2.8 2.9 3.1 4.0 3.5 4.5 2.1 2.6 2.5 KS66045 Seychelles 265 2.8 3.2 3.0 4.0 3.7 1.9 2.3 4.0 HQ561476 Mozambique 185 2.7 3.3 3.4 5.4 3.4 2.3 2.8 2.8 MH331781 Saudi Arabia 200 2.7 3.3 3.2 4.5 3.8 2.0 2.8 3.0 JN311937 Indonesia 170 2.9 3.3 3.2 4.4 3.8 2.0 2.7 2.7 15.

(24) Table 1 (continued) Catalogue number HM423533 FC86965 JQ350086 KF489627. Locality Australia Tanzania Madagascar South Africa. Standard length (mm) 219 200 235 215. Body depth 3.0 2.6 2.8 2.7. In standard length Head Pectoral length length 3.3 3.4 3.8 3.1 3.3 3.3 3.2 3.6. Pelvic length 4.9 4.7 4.2 5.4. Orbit length 3.8 3.2 3.5 3.3. In head length Interorbital Snout Suborbital Upper jaw width length width length 1.9 2.6 2.3 2.1 2.3 2.5 2.0 2.6 2.4 2.4 3.4 3.0. Tabel 2. Hasil analisis antar populasi ikan L. harak berdasarkan metode compute within mean group distance No Number Catalogue Locality 1 2 3 4 5 6 1 HQ561476 Mozambique 2 KF489627 South Africa 0.000 3 JQ350086 Madagascar 0.004 0.004 4 MH331781 Saudi Arabia 0.004 0.004 0.007 5 JF952781 Japan 0.038 0.038 0.042 0.034 6 MSFUH0000591 Makassar 0.038 0.038 0.042 0.034 0 7 JN311937 Indonesia 0.034 0.034 0.038 0.031 0.004 0.004 8 HM423533 Australia 0.038 0.038 0.042 0.036 0.009 0.009. 16. 7. 0.005. 8. -.

(25) 2. Jarak Genetik dan Rekonstruksi Topologi Filogenetik L. harak Berdasarkan hasil analisis jarak genetik menggunakan metode compute within mean group distance secara umum L. harak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat antara Samudera Pasifik dan Hindia (Table 2). Kategori nilai jarak genetik menurut Nei (1972) dikatakan rendah (0.010 – 0.099), sedang (0.1-0.99) dan, tinggi (1.00-2.00). Hasil analisis molekuler menunjukkan jarak genetik antar populasi terdekat yang ditemukan antar populasi di Samudera Hindia yaitu South Africa dan Mozambique sebesar 0.000. Sedangkan jarak genetik terdekat di Samudera Pasifik yaitu antara Jepang dengan Indonesia sebesar 0.004. Jarak genetic yang terdekat antar populasi dikedua Samudera yaitu Saudi Arabia dengan Indonesia sebesar 0.031. Sedangkan perairan Madagascar dengan perairan Jepang, Makassar, dan Australia memiliki jarak genetic terjauh sebesar 0.042 dan masih masuk dalam kategori rendah. Nilai jarak genetik dapat memberikan gambaran mengenai bentuk kekerabatan antar populasi. Koh et al., (1999) menyatakan semakin rendah nilai antar individu, maka hubungan kekerabatannya semakin dekat begitupun sebaliknya. Untuk membuktikan adanya pengelompokan morfologi maupun kedekatan jarak genetic antar Samudera Pasifik dan Hindia, selanjutnya dilakukan rekonstruksi topologi filogenetik. Analisis filogenetik digunakan untuk mengontruksi dengan tepat hubungan antar spesies dan mengestimasi perbedaan yang terdapat dalam anggota famili yang sama dari satu nenek moyang kepada keturunannya (Li et al. 2014). Rekontruksi filogenetik terhadap 2 populasi (Samudera Hindia dan Pasifik) dilakukan dengan menggunakan metode Neighbor Joining (NJ) (Figure 3). Data sekuen outgroup yang digunakan pada penelitian ini adalah spesies yang masuk dalam satu genus Lethrinus dari penambahan sekuen GenBank untuk menguatkan hasil penelitian yang terdapat pada 8 populasi di Samudera Hindia dan Pasifik. Hasil rekontruksi topologi pohon filogenetik dengan metode (NJ) menunjukkan bahwa terdapat dua kelompok populasi (cluster) L. harak. Populasi Mozambique, South Africa, Madagascar, dan Saudi Arabia berada dalam clade yang sama dengan nilai boostrap 100%. Kelompok kedua berasal dari populasi Indonesia, Jepang, Makassar dan Australia dengan nilai boostrap 99%. Pembentukan dua kelompok di Samudera Pasifik dan Hindia mengindikasikan bahwa kedua lokasi memililiki karakteristik genetik yang berbeda. Williams et al. (2002) menyatakan bahwa secara umum terdapat perbedaan genetika antara spesies Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Tetapi rekonstruksi topologi filogenetik perairan Australia tergabung dengan perairan Samudera Hindia. Gordon dan Fine (1996) menyebutkan bahwa sampai saat ini terjadi pertukaran gen antara organisme tropis di Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. 17.

(26) JN311944 L genivittatus Indone EF609388 L miniatus Australia HM902431 L erythropterus Indon MF123939 L variegatus Israel KP194721 L ravus Australia JF952784 L semicinctus Japan JF952781 L harak Japan MSFUH0000591 L harak Makassar JN311937 L harak Indonesia HM423533 L harak Australia HQ561476 L harak Mozambique KF489627 L harak South Africa JQ350086 L harak Madagascar MH331781 L harak Saudi Arabia KM079302 L crocineus India JN311931 Lethrinus ornatus Ind KY371674 L reticulatus China KY676003 L obsoletus Saudi Ara KU499797 L nebulosus Saudi Ara EF609385 L laticaudis Australi KF009603 L atkinsoni Philippin KY675990 L mahsena Saudi Arabi KU499641 L borbonicus Saudia A EU148536 L conchyliatus India KU944046 L rubrioperculatus Ta JN311932 L amboinensis Indones KP194924 L xanthochilus Austra KU317872 L lentjan Saudi Arabi JN311940 L olivaceus Indonesia KM079308 L microdon India KY371671 L haematopterus China KF930046 L erythracanthus Japa. Figure 3. Rekontruksi filogenetik L. harak dari 8 populasi dari Samudera Hindia dan pasifik menggunakan metode Neighbor Joining (NJ) dengan model Kimura 2-parameter replikasi bootstrap 1000 kali.. 18.

(27) Salah satu factor yang mempengaruhi genetic di perairan Samudera Hindia adalah sistem sirkulasi arus yang dinamakan the Pacific low latitude western boundary currents/LLWBCs (Lukas et al., 1996). Terdapat empat jenis pola arus yang ditemukan di samudera pasifik yang berperan dalam penyebaran biota laut meliputi New Guinea Coastal Current (NGCC), Halmahera Eddy (HE), North Ecuator Coastal Current (NECC) dan North Ecuator Current (NEC) (DeBoer et al. 2008). Sumber utama massa air yang menopang sistem sirkulasi arus LLWBCs adalah arus pasifik selatan/South Equatorial Currents (SEC) dan arus pasifik utara/North Equatorial Currents (NEC) (Lukas et al 1996). Arus yang ke utara menjadi arus Kuroshiwo yang bergerak ke perairan Jepang dan yang bergerak ke selatan menjadi arus Mindanao. Sedangkan massa air yang mengalir ke selatan menjadi arus Australia timur /East Australia Currents (EAC). Arus Mindanao yang masuk ke laut Sulawesi sebagian masuk ke selat Makasar dan sebagian dibelokkan ke timur sepanjang pantai utara Sulawesi dan akhirnya masuk ke laut Halmahera (Kashino et al., 1996). Karakteristik pola arus laut di masing-masing samudera dapat mempengaruhi distribusi populasi, perubahan atau perbedaan karakteristik air yang dapat mempengaruhi fisiologi organisme untuk selanjutnya mempengaruhi struktur genetikanya. Namun arus permukaan laut yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran larva-larva ikan (Gaylord dan Gaines, 2000). L. harak merupakan salah satu kelompok ikan hermaprodit protogini, dimana ikan mengalami proses diferensiasi gonad dari fase betina ke jantan (Ebisawa, 2006; Grandcourt, 2002). Species ini memiliki strategi reproduksi dengan pelagic spawner, dan menghasilkan pelagic eggs (Balon, 1981; Thresher, 1984; Leis, 1981). Telur-telur ikan ini mempunyai berat jenis yang sama-sama atau lebih ringan dari berat jenis air laut, sehingga telur tersebut dapat melayang atau mengapung diatas permukaan (Thresher, 1984). Sedangkan larva yang menetas dari jenis telur ini akan hidup secara planktonic selama beberapa jam sampai berbulan-bulan (Lies., 1991).. D. STATUS LUARAN: Tuliskan jenis, identitas dan status ketercapaian setiap luaran wajib dan luaran tambahan (jika ada) yang dijanjikan pada tahun pelaksanaan penelitian. Jenis luaran dapat berupa publikasi, perolehan kekayaan intelektual, hasil pengujian atau luaran lainnya yang telah dijanjikan pada proposal. Uraian status luaran harus didukung dengan bukti kemajuan ketercapaian luaran sesuai dengan luaran yang dijanjikan. Lengkapi isian jenis luaran yang dijanjikan serta mengunggah bukti dokumen ketercapaian luaran wajib dan luaran tambahan melalui Simlitabmas mengikuti format sebagaimana terlihat pada bagian isian luaran. Secara keseluruhan penelitian ini telah dilaksanakan sesuai yang direncanakan dalam proposal penelitian. Namun masih ada satu draft (genetik genus lethrinus di Sulawesi) yang disiapkan untuk disubmit di publikasi yang bereputasi internasional/standar scopus 19.

(28) E. PERAN MITRA: Tuliskan realisasi kerjasama dan kontribusi Mitra baik in-kind maupun in-cash (jika ada). Bukti pendukung realisasi kerjasama dan realisasi kontribusi mitra dilaporkan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Bukti dokumen realisasi kerjasama dengan Mitra diunggah melalui Simlitabmas mengikuti format sebagaimana terlihat pada bagian isian mitra F. KENDALA PELAKSANAAN PENELITIAN: Tuliskan kesulitan atau hambatan yang dihadapi selama melakukan penelitian dan mencapai luaran yang dijanjikan, termasuk penjelasan jika pelaksanaan penelitian dan luaran penelitian tidak sesuai dengan yang direncanakan atau dijanjikan.. Sejauh penelitian dilaksanakan semua kendala-kendala dapat diminimalisir hingga tahap publikasi. Meskipun beberapa draft telah beberapa kali mengalami penolakan tapi itu dapat dimaksimalkan dan disubmit di tempat publikasi lain. G. RENCANA TINDAK LANJUT PENELITIAN: Tuliskan dan uraikan rencana tindaklanjut penelitian selanjutnya dengan melihat hasil penelitian yang telah diperoleh. Jika ada target yang belum diselesaikan pada akhir tahun pelaksanaan penelitian, pada bagian ini dapat dituliskan rencana penyelesaian target yang belum tercapai tersebut.. Secara umum penelitian telah terlaksana, hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan untuk konservasi ikan lencam di Indonesia maupun secara global H. DAFTAR PUSTAKA: Penyusunan Daftar Pustaka berdasarkan sistem nomor sesuai dengan urutan pengutipan. Hanya pustaka yang disitasi pada laporan akhir yang dicantumkan dalam Daftar Pustaka.. Andrés L, Chalde T, Elisio M, and Augusto C. 2013. General and Comparative Endocrinology Effects of global warming on fish reproductive endocrine axis , with special emphasis in pejerrey Odontesthes bonariensis. Gen Comp Endocrinol. 192:45–54. Afrisal M, Isyrini R, and Burhanuddin AI. 2018. Morphologic and radiographic analyses of Lethrinus erythropterus ( Lethrinidae ) from the Spermonde Archipelago, Indonesia. AACL Bioflux 11(6), 1696– 1706. Ballesteros-Córdova CA, Ruiz-Campos G, Findley LT, Grijalva-Chon JM, Gutiérrez-Millán LE, Varela-Romero A. 2016. Morphometric and meristic characterization of the endemic Desert chub Gila eremica (Teleostei: Cyprinidae), and its related congeners in Sonora, Mexico. Rev Mex Biodivers, 87:390–8. Budimawan, Budi S, Kasmawati, Rahmi, Zaky MA, Darmawati. 2013. Struktur populasi ikan katamba, Lethrinus lentjan yang tertangkap di perairan Spermonde Sulawesi Selatan. Prosiding. Semnaskan. UGM. Yogyakarta. Burhanuddin AI, Iwatsuki Y. 2003. Trichiurus nickolensis, a new hairtail from Australia belonging the Trichiurus brevis complex (Perciformes: Trichiuridae). Ichtyol Res, 50: 270-275. Burhanuddin AI. 2014. Ikhtiologi Ikan dan Segala Aspek Kehidupannya. Makassar: Deepublish. Briggs MRP. 2003. Destructive Fishing practices in south Sulawesi island, east Indonesia and the role of aquaculture as a potential alternative livelihood improving coastal through sustainable aquaculture practices. A Report to the Collaborative APEC Grouper Research and Development Network. Brzeski VJ, Doyle RW. 1988. A Morphometric Criterion For Sex Discrimination in Tilapia. In The Second International Symposium on Tilapia in Aquaculture (Pullin RSV, Bhukaswan T, Tonguthai K, Maclean JL, eds). ICLARM Conference Proceedings, Manila, 16-20 Maret 1987. [Philippines].. 20.

(29) Carpenter KE and Allen GR. 1989. FAO Species Catalogue. Vol. 9. Emperor fishes and large-eye breams of the world (family Lethrinidae). An annotated and illustrated catalogue of lethrinid species known to date. FAO Fish. Synop. 125(9):118 p. Rome: FAO. Carpenter KE and Randall JE. 2003. Lethrinus ravus, a new species of emperor fish (Perciformes: Lethrinidae) from the Western Pacific and Eastern Indian Oceans. Zootaxa 240: 1–8. Clabaut C, Bunje PME, Salzburger W, and Meyer. 2007. Geometric morphometric analyses provide evidence for the adaptive character of the Tanganyikan cichlid fish radiation. Evolution. 1: 560-578. Clayton JW. 1981. The stock concept and the uncoupling of organismal and molecular evolution. Can. J. Fish. Aquat. Sci. 38: 1515- 1522. Edinger, Jompa J, Limmon G, Widjatmoko W, and Risk M. 1998. Reef Degradation and Coral Biodiversity in Indonesia: Effects of Land-based Pollution, Destructive Fishing Practices and Changes Over Time. Mar Pollut Bull. 36:617–30. Elliott NG, Haskard K, and Koslow JA. 1995. Morphometric analysis of orange roughy (Hoplostethus atlanticus) off the continental slope of southern Australia. J. Fish Biol, 46:202-220. Firawati I, Murwantoko, and Setyobudi E. 2017. Morphological and Molecular Characterization of Hairtail (Trichiurus spp.) from the Indian Ocean, Southern Coast of East Java, Indonesia. Biodiversitas 18 (1): 190–96. Hubbs CL and Lagler KF. 1958. Fishes of the Great Lakes region. Bull Cranbrook Inst Sci 26:1-213. Healey AJE, McKeown NJ, Taylor AL, Provan J, Sauer W, Gouws G, and Shaw PW. 2018. Cryptic species and parallel genetic structuring in Lethrinid fish: Implications for conservation and management in the southwest Indian Ocean. Ecol Evol. 8:2182–2195. Healey AJE, Gouws G, Fennessy ST, Kuguru B, Sauer WHH, Shaw PW, and McKeown NJ. 2018. Genetic analysis reveals harvested Lethrinus nebulosus in the Southwest Indian Ocean comprise two cryptic species. ICES J Mar Sci. 75:1465–1472. Hebert PDN, Cywinska A, Ball SL, De-Ward J.R. 2003. Biological identification through DNA barcodes. Proc. R. Soc. Lond. B 270: 313-321. Jolicoeur P. 1963. The multivariate generalization of the allometry equation. Biometrics, 19:497-499. Lo Galbo AM, Carpenter KE, Reed DL. 2002. Evolution of trophic types in emperor fishes (Lethrinus, Lethrinidae, Percoidei) based on cytochrome B gene sequence variation. J Mol Evol. 54 (6):754–62. Marriott RJ, Jarvis NDC, Adams DJ, Gallash AE, Norriss J, and Newman SJ. 2010. Maturation and sexual ontogeny in the spangled emperor Lethrinus nebulosus. J Fish Biol.76:1396–1414. Mehanna S, Zaki S, Al-kiuymi F, Al-kharusi L, and Al-bimani S. 2014 Biology and fisheries management of spangled emperor Lethrinus nebulosus from the Arabian Sea Coast of Oman. INOC‐ CNRS, Int Conf Land-Sea Interact Coast Zo. 5:161–171. Meyer A. 1987. Phenotypic plasticity and heterochrony in Cichlasoma managuense (Pisces, cichlidae) and their implication for speciation in cichlid fishes. Evolution, 41: 1357-1369. Motlagh SAT, Seyfabadi J, Vahabnezhad A, Shojaei MG, Hakimelahi M. 2010. Some Reproduction Characteristics and Weight-Length Relationships of the Spangled emperor, Lethrinus nebulous (Lethrinidae) of the South Coastal of Iran (Persian Gulf and Oman Sea). Turkish J Fish Aquat Sci, 227 (10):221–7. Nurdiansyah, Hamid A, Mustafa A. 2017. Aspek reproduksi Ikan Sikuda (Lethrinus ornatus) hasil tangkapan di perairan Teluk Luar Kendari yang didaratkan di Kecamatan Abeli Kota Kendari. J Manaj Sumber Daya Perair, 2(4): 317–325. Nurdin N, Komatsu T, Agus, Akbar AS M, Djalil AR, Amri K. 2015. Multisensor and multitemporal data from Landsat images to detect damage to coral reefs, small islands in the Spermonde archipelago, Indonesia. Ocean Sci J, 50(2): 317–325 21.

(30) Nurdin N, Komatsu T, Rani C, Supriadi, Fakhriyyah S, Agus. 2016. Coral reef destruction of Small island in 44 years and destructive fishing in Spermonde Archipelago, Indonesia. IOP Conf Ser Earth Environ Sci, 47(1): 1-9. Sevtian A. 2012. Distribusi dan aspek pertumbuhan ikan Lencam Lethrinus lentjan di perairan Dangkal Karang Congkak, Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Jakarta. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Raeisi H, Daliri M, Paighambari SY, Shabani MJ, Bibak M and Davoodi R. 2011. Length- weight relationships, condition factors and relative weight of five fish species of Bushehr waters, Northern Persian Gulf. African J Biotechnol, 10 (82): 19181-19186. Stearns S. C., 1983. A natural experiment in life-history evolution: field data on the introduction of mosquitofish (Gambusia affinis) to Hawaii. Evolution 37: 601-617. Wassef EA. 1991. Comparative growth studies on Lethrinus lentjan, Lacépède 1802 and Lethrinus mahsena, Forsskål 1775 (Pisces, Lethrinidae) in the Red Sea. Fish Res, 11(1), 75–92. Zaahkouk SA, Khalaf-Allah HM, Mehanna SF, El-Gammal FI, Makkey AF. 2017. Studies on age, growth, and mortality rates for management of the redspot emperor, Lethrinus lentjan (Lacepède, 1802) in the Egyptian sector of Red Sea Samir. Egypt J Aquat Biol Fish, 21:63–72.. 22.

(31) Bidang Ilmu: Perikanan. USULAN PENELITIAN DASAR. TEMA PERUBAHAN IKLIM. Struktur species dari kista Dinoflagellate dan kelimpahannya di tiga muara Selat Makassar: Mendeteksi dan memetakan spesies alga yang berbahaya. Tim Peneliti : Nita Rukminasari, SPi, MP, Ph.D (Peneliti Utama, NIDN 0029126901) Prof. Dr. Akbar Tahir (Anggota 1, NIDN 0018076101). UNIVERSITAS HASANUDDIN JUNI 2020.

(32) HALAMAN PENGESAHAN Judul. Kode/Nama Rumpun Ilmu Tema Isu Ketua Peneliti a. Nama Lengkap b. NIDN c. NIP d. Jabatan Fungsional e. Program Studi f. Nomor HP/Surel Anggota Peneliti (1) a. Nama Lengkap b. NIDN c. Perguruan Tinggi Institusi Mitra a. Nama Institusi Mitra b. Alamat c. Penanggung Jawab Lama Penelitian Keseluruah Usulan Penelitian Tahun keBiaya Penelitian Keseluruah Biaya Penelitian - Diusulkan ke DRPM - Dana internal PT - Dana institusi lain -. : Struktur species dari kista Dinoflagellate dan kelimpahannya di tiga muara Selat Makassar: Mendeteksi dan memetakan spesies alga yang berbahaya : 113/Biologi (dan Bioteknologi Umum) : Kemaritiman : Nita Rukminasari, SPi, MP, PhD : 0029126901 : 196912291998022001 : Lektor Kepala : Manajemen Sumberdaya Perairan : 082190129189/[email protected] : Prof. Dr. Akbar Tahir, MSc : 0026076803 : Universitas Hasanuddin :::: 3 Tahun : Rp. 99.068.100,: Rp 400.818.100,: Rp. 99.068.100,: Rp 0,: Rp 0/ in kind tuliskan: -. Makassar, 08 Juni 2020 Ketua Tim Peneliti. Nita Rukminasari, SPi, MP, PhD NIP. 196912291998022001. Menyetujui, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNHAS,. Prof. Dr. Andi Alimuddin, M.Si NIP. 196208181987021001.

(33) Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Gedung BPPT II Lantai 19, Jl. MH. Thamrin No. 8 Jakarta Pusat http://simlitabmas.ristekdikti.go.id/ PROTEKSI ISI PROPOSAL Dilarang menyalin, menyimpan, memperbanyak sebagian atau seluruh isi proposal ini dalam bentuk apapun kecuali oleh pengusul dan pengelola administrasi penelitian. PROPOSAL PENELITIAN 2019 ID Proposal: 0faff0ac-69be-4d85-a2f3-5163c9b9e47e Rencana Pelaksanaan Penelitian: tahun 2020 s.d. tahun 2022. 1. JUDUL PENELITIAN Struktur species dari kista Dinoflagellate dan kelimpahannya di tiga muara Selat Makassar: Mendeteksi dan memetakan spesies alga yang berbahaya. Bidang Fokus RIRN / Bidang Unggulan Perguruan Tinggi. Tema. Topik (jika ada). Rumpun Bidang Ilmu. Kemaritiman. Teknologi konservasi lingkungan maritim. Konservasi dan rehabilitasi ekosistem pesisir dan laut. Biologi (dan Bioteknologi Umum). Kategori (Kompetitif Nasional/ Desentralisasi/ Penugasan). Skema Penelitian. Strata (Dasar/ Terapan/ Pengembangan). SBK (Dasar, Terapan, Pengembangan). Target Akhir TKT. Lama Penelitian (Tahun). Penelitian Kompetitif Nasional. Penelitian Dasar. SBK Riset Dasar. SBK Riset Dasar. 3. 3. 2. IDENTITAS PENGUSUL Perguruan Tinggi/ Institusi. Program Studi/ Bagian. Universitas Hasanuddin. Manajemen Sumber Daya Perairan. Nama, Peran. NITA RUKMINASARI Ketua Pengusul Ir AKBAR TAHIR M.Sc., Ph.D Anggota Pengusul 1. Universitas Hasanuddin. Ilmu Kelautan. Bidang Tugas. Bertanggung jawab dalam mendesin metode sampling dan percobaan. ID Sinta. H-Index. 6002480. 2. 5974968. 14. 3. MITRA KERJASAMA PENELITIAN (JIKA ADA) Pelaksanaan penelitian dapat melibatkan mitra kerjasama, yaitu mitra kerjasama dalam melaksanakan penelitian, mitra sebagai calon pengguna hasil penelitian, atau mitra investor Mitra Mitra Pelaksana Penelitian. Nama Mitra Dr. Estelle Masseret.

(34) 4. LUARAN DAN TARGET CAPAIAN Luaran Wajib Tahun Luaran. Status target capaian ( accepted, published, terdaftar atau granted, atau status lainnya). Jenis Luaran. Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya). 1. Artikel pada Conference/Seminar Internasional di Pengindeks Bereputasi. Terbit dalam Prosiding. 1. Artikel pada Conference/Seminar Internasional di Pengindeks Bereputasi. Terbit dalam Prosiding. Algal Conference. 1. Artikel pada Conference/Seminar Internasional di Pengindeks Bereputasi. Terbit dalam Prosiding. Multi-disciplinary Conference. 2. Artikel di Jurnal Internasional Terindeks di Pengindeks Bereputasi. Accepted. Harmful Algal. The Climate Change Conference. 3. Book Chapter. Terbit ber ISBN. Penerbit UGM. 3. Book Chapter. Terbit ber ISBN. Penerbit Deepublish. 3. Book Chapter. Terbit ber ISBN. Penerbit Berlian. Luaran Tambahan Status target capaian (accepted, published, terdaftar atau granted, atau status lainnya). Keterangan (url dan nama jurnal, penerbit, url paten, keterangan sejenis lainnya). 1. Artikel pada Conference/Seminar Internasional di Pengindeks Bereputasi. Terbit dalam Prosiding. The Climate Change Conference. 2. Artikel di Jurnal Internasional Terindeks di Pengindeks Bereputasi. Accepted. Harmful Algal. 3. Book Chapter. Terbit ber ISBN. Penerbit Deepublish. Tahun Luaran. Jenis Luaran. 5. ANGGARAN Rencana anggaran biaya penelitian mengacu pada PMK yang berlaku dengan besaran minimum dan maksimum sebagaimana diatur pada buku Panduan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Edisi 12. Total RAB 3 Tahun Rp. 400,818,000.

(35) Tahun 1 Total Rp. 99.069.100 Jenis Pembelanjaan Bahan Bahan Bahan Bahan Bahan Bahan. Komponen ATK Bahan penelitian Bahan penelitian Bahan penelitian Bahan penelitian Bahan penelitian. Bahan. Bahan penelitian. Bahan. Bahan penelitian. Bahan. Bahan penelitian. Bahan Bahan Bahan Bahan Bahan Pengumpulan data. Bahan penelitian Barang persediaan Barang persediaan Barang persediaan Barang persediaan HR pembantu peneliti. Item Alatu tulis dan kertas Pengawet Lugol Wadah plastik Air laut Sodium Polytungstate (SPT) Petridisc Multi-well tissue culture plate (6 wells) Multi-well tissue culture plate (12 wells) Multi-well tissue culture plate (24 wells) Bahan kimia untuk media culture dinoflagellata Sedimen core sampler Filter ukuran 100 micron Filter ukuran 10 micron Aliquot 1 mL Asisten laboratorium. Pengumpulan data. Transport. Sewa mobil untuk sampling di Gowa. Pengumpulan data. Transport. Pengumpulan data. Transport. Vol 1 2 250 3000 500 3. Biaya Satuan(Rp) 500,000 500,000 5,000 1,000 10,000 500,000. Total (Rp) 500,000 1,000,000 1,250,000 3,000,000 5,000,000 1,500,000. Unit. 10. 50,000. 500,000. Unit. 10. 50,000. 500,000. Unit. 10. 75,000. 750,000. 1 1 1 1 1 280. 7,500,000 1,000,000 750,000 5,000,000 2,500,000 7,500. 7,500,000 1,000,000 750,000 5,000,000 2,500,000 2,100,000. Satuan Paket Liter Unit Liter Gram Box. Paket Unit Meter Meter Unit orang/jam/minggu Trip. 3. 500,000. 1,500,000. Sewa perahu motor untuk sampling di Muara Sungai Jeneberang Sewa mobil untuk sampling di Makassar. Trip. 3. 1,500,000. 4,500,000. Trip. 3. 500,000. 1,500,000. Trip. 3. 1,500,000. 4,500,000. Pengumpulan data. Transport. Pengumpulan data. Transport. Sewa perahu motor untuk sampling di Muara Sungai Tallo Sewa mobil untuk sampling di Pangkep. Trip. 3. 750,000. 2,250,000. Transport. Sewa perahu motor untuk sampling di Muara Sungai Pangkep. Trip. 3. 2,000,000. 6,000,000. Biaya konsumsi. Logistik untuk sampling di Gowa. orang/jam/minggu. 9. 150,000. 1,350,000. orang/jam/minggu. 9. 150,000. 1,350,000. orang/jam/minggu orang/jam/minggu Unit Unit Unit Paket. 9 420 108 108 108 1. 150,000 15,000 50,000 50,000 75,000 5,629,100. 1,350,000 6,300,000 5,400,000 5,400,000 8,100,000 5,629,100. 1. 2,500,000. 2,500,000. 3. 680,000. 2,040,000. 3. 350,000. 1,050,000. 1. 500,000. 500,000. 1. 5,000,000 Total. Pengumpulan data Pengumpulan data Pengumpulan data Pengumpulan data Pengumpulan data Analisis data Analisis data Analisis data Analisis data. Logistik untuk sampling di Biaya konsumsi Makassar Logistik untuk sampling di Biaya konsumsi Pangkep HR pembantu lapangan Asisten lapangan Biaya analisis sampel Analisis sampel dinoflagellata Biaya analisis sampel Analisis sampel sediment Biaya analisis sampel Analisis sampel nutrient Biaya analisis sampel Analisis data. Pelaporan, luaran wajib dan luaran tambahan Biaya seminar nasional Tket Paket Pelaporan, luaran wajib dan luaran tambahan Biaya seminar nasional Akomodasi seminar nasional Hari Pelaporan, luaran wajib dan luaran tambahan Biaya seminar nasional Lumpsum seminar nasional Hari Pelaporan, luaran wajib dan luaran tambahan Biaya seminar nasional Biaya registrasi Paket Pelaporan, luaran wajib dan luaran tambahan Biaya Publikasi Biaya proof reading manuscriptPaket. 5,000,000 99,069,100.

(36) Tahun 2 Total Rp. 151,200,000 Jenis Pembelanjaan. Komponen. Item. Satuan. Vol.. Biaya Satuan. Total. Bahan. ATK. Alat tulis dan keras. Paket. 1. 500,000. 500,000. Bahan. ATK. Biaya perbanyakan laporan. Paket. 1. 500,000. 500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Pengawet sampel dinoflagellata (Lugol). Liter. 2. 500,000. 1,000,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Wadah plastik untuk sampel. Unit. 250. 5,000. 1,250,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Air laut. Liter. 3000. 1,000. 3,000,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Sodium Gram polytungstate. 500. 10,000. 5,000,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Petridisc. Box. 3. 500,000. 1,500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture plate (6 wells). Unit. 10. 50,000. 500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture plate (12 wells). Unit. 10. 50,000. 500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture plate (24 wells). Unit. 10. 75,000. 750,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Bahan dan alat untuk uji racun dinoflagellata. Paket. 1. 20,000,000 20,000,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Bahan kimia untuk media kultur dinoflagellata. Paket. 1. 10,000,000 10,000,000.

(37) Jenis Pembelanjaan. Komponen. Item. Satuan. Vol.. Biaya Satuan. Total. Pengumpulan Data. HR Pembantu Peneliti. Asisten laboratorium. orang/jam/minggu. 420. 15,000. 6,300,000. Pengumpulan Data. HR Pembantu Lapangan. Asisten lapangan. orang/jam/minggu. 280. 7,500. 2,100,000. Analisis Data. HR administrasi Sekretariat/Administrasi peneliti dan Peneliti dokumentasi. 5,500,000. 5,500,000. Analisis Data. Biaya analisis sampel. Analisis sampel kista dinoflagellata. Analisis Data. Biaya analisis sampel. Analisis sampel untuk Paket menentukan tipe racun. 1. Analisis Data. Biaya analisis sampel. Analisis statistik data. Paket. 1. 5,000,000. 5,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Registrasi tuk seminar internasional. Paket. 1. 5,000,000. 5,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Tiket tuk seminar internasional. Paket. 1. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Akomodasi untuk seminar internasional. Hari. 4. 2,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Lumpsum tuk seminar internasional. Hari. 4. 3,500,000 14,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya penyusunan buku termasuk book chapter. Penyusunan buku ajar identifikasi dinoflagellata. Paket. 1. 10,000,000 10,000,000. paket. Unit. 1. 108. 100,000 10,800,000. 25,000,000 25,000,000. 15,000,000 15,000,000. 8,000,000. Tahun 3 Total Rp. 150,550,000 Jenis Pembelanjaan. Komponen. Item. Satuan. Vol.. Biaya Satuan. Total. Bahan. ATK. Alat tulis dankertas. Paket. 1. 500,000. 500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture plate (6 wells). Unit. 10. 50,000. 500,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture Unit plate (12 wells). 10. 50,000. 500,000.

(38) Jenis Pembelanjaan. Komponen. Item. Satuan. Vol.. Biaya Satuan. Total. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Multi-well tissue culture Unit plate (24 wells). 10. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). DNA mini kit. Paket. 2. 15,000,000 30,000,000. Bahan. Bahan Penelitian (Habis Pakai). Bahan kimia untuk media Paket kultur dinoflagellata. 1. 10,000,000 10,000,000. Pengumpulan Data. HR Pembantu Peneliti. Asisten laboratoirum. Pengumpulan Data. Administrasi HR penelitian Sekretariat/Administrasi dan Peneliti dokumentasi. Paket. Sewa Peralatan. Obyek penelitian. Sewa PCR. Analisis Data. Biaya analisis sampel. Analisis Data. orang/jam/minggu. 420. 75,000. 750,000. 15,000. 6,300,000. 1. 5,500,000. 5,500,000. Unit/bln. 6. 750,000. 4,500,000. Analisis sampel DNA. Paket. 1. 25,000,000 25,000,000. Biaya analisis sampel. Analisis data DNA. Paket. 1. 15,000,000 15,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Tiket pesawat tuk seminar internasional. Paket. 1. 15,000,000 15,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Biaya registrasi. Paket. 1. 5,000,000. 5,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Akomodasi. Hari. 4. 2,000,000. 8,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Biaya seminar internasional. Lumpsum. Hari. 4. 3,500,000 14,000,000. Pelaporan, Luaran Wajib, dan Luaran Tambahan. Publikasi artikel di Jurnal Internasional. Publikasi di jurnal internasional. Paket. 1. 10,000,000 10,000,000.

Referensi

Dokumen terkait

Permasalahan perikanan yang menjadi isu utama di PAAP Popareng adalah pertama adanya perubahan ekosistem pesisir akibat proses penangkapan masa lalu yang merusak, sehingga saat

Jurnal Riset Jakarta (JRJ) Volume 13 nomer 1 Tahun 2020, kelima artikelnya membahas tentang lingkungan dan sumber daya laut dan pesisir di wilayah ekoregion laut DKI

Penelitian ini didasarkan atas analisis keragaman genetik tanaman rami secara molekuler dan analisis komposisi kimia serat pada beberapa klon lokal tanaman rami

Pada hasil simulasi variasi perubahan massa beban pendulum dengan panjang lengan 1 meter dan parameter gelombang yang digunakan, didapatkan simpangan bandul yang lebih baik

Frekuensi perhitungan IKU yang terdapat pada sasaran strategis Proporsi kegiatan riset aplikatif dibandingkan total kegiatan riset litbang sumberdaya laut dan pesisir yang

grove Desa Pasar Sebelah menunjukkan kondisi yang masih baik dan belum tercemar sehingga mendukung keberadaan ekosistem mangrove tersebut. Perhitungan terhadap nilai manfaat

Dapat dilihat pada Tabel II.7 bahwa pertumbuhan B.braunii yang paling baik adalah B.braunii alami dengan normal nutrien waktu kultur 7 hari yaitu sebesar

Setidaknya ada dua hal utama yang mendukung untuk membangun salt gradient solar pond di wilayah pesisir Bengkulu, pertama karena Bengkulu beriklim tropis yang memiliki curah matahari