BOGOR
2012
DAFTAR PUSTAKA
Aripin SNA, Mohammad AJ. 13 April 2008. Landak Raya Diternak secara Komersial. Berita Minggu: 2-3.
Boudet C. 2008. Porc-epic de java, Acanthion de java [terhubung berkala]. http://www.planetmammiferes.org/drupal/node/25?indice=Hystrix+javanica [25 Juli 2012].
Budras KD, Patrick HM, Wolfgang F, Renate R. 2007. Anatomy of the Dog. Ed ke-5. Hanover: Schlutersche Verlagsgesellschaft mbH & Co.
[CITES] Convention on International Trade in Endangered Species. 2008. Annotated CITES appendices and reservations [terhubung berkala]. http://www.cites.org/eng/resources/pub [23 Juli 2012].
Compion S. 2010. Young leopard gets a prickly reception as it tries to eat a porcupine [terhubung berkala]. http://www.dailymail.co.uk/news/article-1248144 [27 Juli 2012].
Davies AS. 1981. Quadrupedal Mechanics: Anatomical Principles of the Muskuloskeletal System. New Zealand: Massey University.
DeBlase AF, Robert EM. 1981. A Manual Mammalogy with Keys to Families of the World. Ed ke-2. Iowa: Wm. C. Brown Company Publishers.
Evans HE, Alexander L. 2010. Guide To The Dissection Of The Dog. Ed ke-7. Missouri: Westline Industrial Drive, Elsevier Inc.
Farida WR, Roni R. 2011. Giving of formulated pellet on javan porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823): effects on feed intake, feed conversion, and digestibility in pre-domestication condition. J Biol Indones 7 (1): 157-170.
Feldhamer GA, Lee D, Stephen V, Joseph M. 1999. Mammalogy: Adaptation, Diversity, and Ecology. Ed ke-1. USA: McGraw-Hill Higher Education. Felicioli A, Antonella G, Luciano S. 1997. The mounting and copulation
behaviour of the crested porcupine Hystrix cristata. Ital. J. Zool, 64: 155-161.
Findlay GH. 1977. Rhythmic pigmentation in porcupine quills. J Mammal Biol 42: 231-239.
Gale. 2004. Old World Porcupines [terhubung berkala]. http://www.novel guide.com/a/discover/grze16/grze1600990.html [23 Juli 2012].
Grzimek B. 1975. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia. Volume ke-2. New York: Van Nostrand Reinhold Company.
Hildebrand M. 1974. Analysis of Vertebrate Structure. Canada: John Wiley and Sons, Inc.
Husein WF. 2012. Anatomi otot daerah bahu dan lengan atas beruk (Macaca nemestrina) [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
[ICVGAN] International Committee on Veterinary Gross Anatomical Nomenclature. 2005. Nomina Anatomica Veterinaria. Ed Ke-5. Hannover: ICVGAN.
Lunde D, Aplin K. 2008. Hystrix javanica. Di dalam: IUCN red list of threatened species [terhubung berkala]. http://www.iucnredlist.org [23 Juli 2012].
Marshal PT, Hughes GM. 1972. The Physiology of Mammals and Other Vertebrates. Great Britain: Cambridge University Press.
McKittrick et al. 2012. The structure, functions, and mechanical properties of keratin. J Mater 64: 449-468.
Michael H, Devra G, Kleiman, Valerius G, Mellisa CM. 2003. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia. Ed ke-2. Michigan: Gale Group.
Myers P. 2012. The animal diversity web [terhubung berkala]. http://animal diversity.org [23 Juli 2012].
Norsuhana AH, Nor SM, Aminah A, Zahari ZZ. 2009. Lakuan maternal landak raya (Hystrix brachyura) di dalam kurungan. Sains Malaysiana 38(4): 595– 600.
Nowak RM. 1999. Walker’s Mammals of The World. Ed ke-6. USA: The Johns Hopkins University Press.
Nurhidayat, Sigit K, Setijanto H, Agungpriyono S, Nisa’ C, Novelina S, Supratikno. 2009. Penuntun Praktikum Miologi Veteriner. Bogor: Bogor: Bagian Anatomi Histologi Embriologi, Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Pasquini C, Tom S, Susan P. 1989. Anatomy of Domestic Animals: Systemic &
Regional. Ed ke-5. Tioga: Sudz Publishing.
Phillips S. 1971. Animal Weapon. London: Grenada Pbl. Ltd.
Roze U. 1989. The North American Porcupine. Washington: Smithsonian Institution Press.
Rudi J van Aarde. 1985. Reproduction in captive female cape porcupines (Hystrix africaeaustralis). J Reprod Fert 75:577-582.
Sastrapradja S, Adisoemarto S, Boedi, Munaf HB, Pranowo. 1982. Berbagai Jenis Mamalia. Bogor: Lembaga Biologi Nasional LIPI.
Sheila. 2011. Klasifikasi duri landak Jawa (Hystrix javanica) berdasarkan morfologi dan pola distribusi [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Sigit K. 2000. Peranan Alat Lokomosi Sebagai Sarana Kelangsungan Hidup Hewan: Suatu Kajian Anatomi Fungsional. Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap Ilmu Anatomi. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Sisson S. 1975. The Anatomy of the Domestic Animals. Ed ke-5. Philadelphia: WB Saunders Company.
Starrett A. 1967. Hystricoid, erethizontoid, cavioid, and, chinchilloid rodents. Di dalam: Anderson S dan Jones JK, Jr, editor. Recent Mammals of the World, A Synopsis of Families. New York: The Ronald Press Company.
Storch G. 1990. Grizimek's Encyclopedia of Mammals. Volume ke-4. New York: McGraw-Hill.
Supratikno. 2002. Anatomi otot daerah panggul dan paha monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Supriatna J. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Vaughn TA, Ryan JM, Czaplewski NJ. 2000. Mammalogy. Ed ke-4. Philadelphia: Saunders College Publishing.
Wardi, Farida WR, Siregar HCH. 2011. Tingkah laku harian landak raya (Hystrix brachyura) pada siang hari di penangkaran. Berk. Penel. Hayati Edisi Khusus 4B: 21-25.
Weers DJ van. 2005. A taxonomic revision of the Pleistocene Hystrix (Hystricidae, Rodentia) from Eurasia with notes on the evolution of the family. Contributions to Zoology 74 (3/4):301-312.
Wibowo AS. 1996. Pemilihan satwa nasional (the national fauna selection). Media Konservasi 5(1): 41-49.
OKI KURNIAWAN NUR CAHYO. Anatomi Otot Daerah Panggul dan Paha Landak Jawa (Hystrix javanica). Dibimbing oleh SUPRATIKNO dan SRIHADI AGUNGPRIYONO.
Indonesia memiliki kekayaan hayati yang sangat beragam, salah satunya adalah landak Jawa (Hystrix javanica). Landak Jawa merupakan salah satu hewan yang berpotensi sebagai satwa harapan karena perdagingannya yang tebal dan durinya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan. Potensi landak Jawa sebagai satwa harapan perlu ditunjang oleh informasi yang menyeluruh, salah satunya adalah aspek anatomi. Anatomi tidak hanya menggambarkan ukuran, bentuk, struktur, serta letak jaringan dan organ, tetapi juga menghubungkannya dengan pola perilaku dan adaptasinya. Pada penelitian ini, aspek fungsional yang berhubungan dengan anatomi landak Jawa difokuskan pada daerah panggul dan paha. Penelitian ini bertujuan mempelajari anatomi otot daerah panggul dan paha landak Jawa yang dibandingkan dengan literatur. Selain itu dilakukan pendugaan fungsi dari otot-otot tersebut serta dipelajari potensi perdagingannya. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat memperkaya data biologi landak Jawa sehingga lebih memahami pola perilaku yang penting dalam upaya konservasi dan budidaya.
Penelitian ini menggunakan dua ekor landak Jawa jantan dewasa yang telah difiksasi menggunakan larutan formalin 10%. Penelitian ini dilakukan dengan memreparir otot-otot daerah panggul dan paha untuk menentukan struktur, ukuran relatif, origo, dan insersio masing-masing otot. Penamaan otot-otot yang ditemukan dilakukan berdasarkan Nomina Anatomica Veterinaria 2005. Otot-otot daerah panggul dan paha landak Jawa yang ditemukan kemudian dibandingkan dengan literatur mengenai otot-otot pada daerah panggul dan paha hewan lain seperti anjing, babi, dan pemamah biak.
Daerah panggul dan paha landak Jawa ditunjang oleh m. cutaneous yang sangat lebar dan tebal dengan arah serabut kaudodorsal. Otot-otot pada daerah panggul dan paha landak Jawa dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu: 1). Kelompok otot gelang panggul meliputi m. psoas minor, m. iliopsoas (m. psoas major dan m. iliacus venter lateral et medial), dan m. quadratus lumborum. 2). Kelompok otot paha lateral meliputi m. tensor fasciae latae, m. gluteus superficialis, m. gluteus medius, m. piriformis, m. biceps femoris, m. abductor cruris caudalis, m. semitendinosus, m. semimembranosus, m. quadriceps femoris (m. vastus lateralis, m. rectus femoris, m. vastus intermedius, dan m. vastus medialis), mm. gemelli, m. obturatorius externus, dan m. obturatorius internus. 3). Kelompok otot paha medial meliputi m. sartorius, m. gracilis, m. pectineus, m. adductor longus, dan m. adductor magnus et brevis.
M. cutaneous merupakan otot yang lebar dan tebal pada landak Jawa. Otot ini memiliki arah serabut kaudodorsal dan berfungsi sebagai tempat menancap dan menarik duri pertahanan ke atas (penegang) ketika terancam.
M. psoas minor merupakan otot yang relatif kecil dengan origo berupa serabut muskularis dan membentuk pita urat yang sempit, panjang, dan kuat pada insersionya. Otot ini berfungsi sebagai fleksor collumna vertebralis ke ventral dan mencuramkan sikap pelvis.
landak otot ini diduga berperan dalam menghempaskan daerah panggul dan ekor untuk menyerang musuh.
Landak Jawa memiliki m. quadratus lumborum yang berbeda dibandingkan pada anjing, babi, dan pemamah biak. Pada landak Jawa otot ini unik karena terbagi menjadi venter medial dan venter lateral yang tidak dimiliki oleh struktur m. quadratus lumborum pada hewan lainnya. Dengan adanya m. quadratus lumborum venter lateral pada landak Jawa diduga otot ini berfungsi memperkuat kerja m. iliopsoas untuk memfleksor collumna vertebralis ke lateral.
M. tensor fasciae latae merupakan otot yang berbentuk segitiga, lebar, dan tebal dengan origo pada tuber coxae dan fascia glutea. Pada bagian kranial otot ini bersatu dengan m. sartorius pars cranialis. Otot ini mempunyai fungsi sebagai fleksor persendian paha dan ekstensor persendian lutut secara maksimal yang diduga berperan pada saat aktivitas menggali tanah dan meninggikan daerah panggul dalam posisi menungging untuk menyerang musuh.
M. gluteus superficialis merupakan otot yang relatif pendek dan tebal serta terletak profundal dari m. tensor fasciae latae. Landak Jawa memiliki m. gluteus superficialis yang terpisah dari otot lainnya sama seperti pada anjing.
M. gluteus medius merupakan otot yang panjang, tebal, dan besar pada landak Jawa. Ukuran yang tebal pada otot ini diduga berkaitan dengan tuntutan gerakan retraksi yang kuat pada saat landak menggali dan mengeluarkan tanah dari lubang penggalian. Pada bagian profundal otot ini untuk sebagian bersatu dengan insersio dari m. gluteus profundus.
M. piriformis berukuran relatif pendek namun agak tebal pada landak Jawa. Otot ini memiliki venter yang membulat dan terletak di kaudal dari m. gluteus medius dengan origo terdapat pada fascia glutea. Pada landak Jawa otot ini diduga berfungsi menunjang fungsi m. gluteus medius.
M. gluteus profundus merupakan otot yang tebal dan terletak paling profundal di antara kelompok otot gluteal. Otot ini untuk sebagian bersatu dengan m. gluteus medius di bagian insersionya dan berfungsi menunjang m. gluteus medius dalam gerakan abduksi kaki belakang.
M. biceps femoris pada landak Jawa berbeda dengan hewan lain terutama pada caput sacrale nya karena memiliki origo yang mencapai daerah sakrum dan ekor (caput sacrale). Origo yang mencapai daerah sakrum dan ekor diduga menunjang gerakan menghempaskan panggul dan ekor untuk menyerang serta menggerakkan ekor secara cepat dan ritmis untuk menghasilkan suara berderik.
M. abductor cruris caudalis memiliki ukuran yang relatif sangat panjang namun sangat tipis pada landak Jawa. Otot ini berfungsi sebagai penunjang yang kurang signifikan bagi fungsi abduksi dari m. biceps femoris.
Origo m. semitendinosus pada landak Jawa terletak berdekatan dengan origo dari m. biceps femoris yaitu pada daerah sakrum dan ekor sehingga diduga berperan menunjang m. biceps femoris dalam pertahanan diri dengan cara menghempaskan panggul dan ekor serta menghasilkan suara berderik. Selain itu otot ini memiliki insersio yang terpisah menuju ke lateral dan medial dari os tibia sehingga diduga dapat meningkatkan daya retraksi dan abduksi kaki belakang ke kaudolateral pada saat menggali tanah dan berjalan.
M. quadriceps femoris merupakan otot yang relatif besar, tebal, dan cembung serta terdiri atas empat otot yaitu m. vastus lateralis, m. rectus femoris, m. vastus intermedius, dan m. vastus medialis. Fungsi otot ini adalah sebagai ekstensor lutut pada saat mencapai posisi menungging untuk menyerang musuh dan posisi bipedal pada saat kopulasi. Posisi bipedal dapat dicapai jika m. quadriceps femoris berkontraksi sinergis dengan kelompok otot-otot gluteal.
M. gemelli pada landak Jawa dipisahkan oleh insersio m. obturatorius internus menjadi m. gemelli superior dan m. gemelli inferior. Otot ini berfungsi untuk memutar kaki belakang ke lateral yang berperan pada saat aktivitas menggali tanah dan menjilati regioinguinal.
M. obturatorius externus memiliki struktur yang mirip dengan pada anjing, babi, dan pemamah biak. Otot ini berfungsi untuk memutar kaki belakang ke lateral sehingga pada landak Jawa diduga menunjang fungsi dari m. gemelli dan m. obturatorius internus pada saat gerakan abduksi kaki belakang.
M. obturatorius internus pada landak Jawa memiliki struktur yang mirip dengan pada anjing karena otot ini keluar dari ruang panggul melalui insicura ischiadica minor untuk mencapai insersionya di fossa trochanterica. Otot ini berfungsi untuk memutar kaki belakang ke lateral dan menunjang gerakan abduksi kaki belakang pada saat menggali tanah dan menjilati regio inguinal.
M. sartorius terbagi menjadi dua otot yaitu m. sartorius pars cranialis dan m. sartorius pars caudalis. Otot ini berfungsi sebagai fleksor persendian paha, ekstensor persendian lutut, dan adduktor kaki belakang.
M. gracilis merupakan otot yang sangat lebar dan menutupi sebagian besar bidang medial paha. Pada landak Jawa otot ini memiliki insersio yang lebih ke distal pada tuberositas tibiae dan crista tibiae sehingga berfungsi sebagai ekstensor persendian paha, fleksor persendian lutut, dan adduktor kaki belakang.
M. pectineus memiliki bentuk segitiga, besar, dan tebal pada landak Jawa. Otot ini berfungsi memperkuat kerja m. adductor dalam mengadduksi kaki belakang. Gerakan adduksi kaki belakang diduga bekerja pada saat menggali dan membuang tanah dari lubang penggalian.
M. adductor terbagi menjadi m. adductor magnus et brevis dan m. adductor longus. Secara keseluruhan otot ini berfungsi sebagai adduktor utama paha dan ekstensor persendian paha. Gerakan ekstensor persendian paha dan adduktor kaki belakang berperan pada saat landak menggali tanah.
Landak Jawa memiliki struktur otot-otot daerah panggul dan paha yang unik karena ditunjang oleh m. cutaneous yang sangat lebar dan membentang hingga ke daerah panggul dan paha, m. quadratus lumborum yang terbagi menjadi dua venter, serta m. biceps femoris dan m. semitendinosus yang berorigo hingga ke daerah sakrum dan ekor. Keunikan struktur otot-otot daerah panggul dan paha pada landak Jawa berkaitan erat dengan adaptasi dan perilakunya pada saat menegakkan duri, menghasilkan suara berderak dari duri ekor, menghempaskan panggul dan ekor untuk menyerang, serta menggali tanah.