• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

RAHMAH FAUZIAH

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2013

19

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Simpulan yang didapat dari penelitian ini ialah berdasarkan dari gejala klinis, lesio patologi anatomi, lesio histopatologi, serta bentuk dan sifat pewarnaan agen yang terdapat pada jaringan, sampel ikan didiagnosis mengalami infeksi Mycobacterium sp. Infeksi Mycobacterium sp. pada sampel ini bersifat sistemik yang transmisi awalnya dapat melalui ingesti, insang, dan kulit.

Saran

Perlu dilakukan isolasi dan identifikasi dari spesies Mycobacterium sp. yang sering menyerang ikan hias air tawar, studi potensi zoonosis, serta studi mengenai transmisi penyakit melalui insang, kulit, dan ingesti pada kasus mikobakteriosis.

DAFTAR PUSTAKA

Abowei JFN, Briyai OF. 2011. A review of some bacteria disease in Africa culture fisheries. Asian Journal of Medical Sciences 3(5): 206-207.

Anonim. 2012. Anatomi eksternal ikan teleost. [terhubung berkala]. www3. telus. net. [14 Februari 2012].

Aquatic Community. 2004. Paradise fish - Macropodus opercularis. [terhubung berkala]. http://www. aquaticcommunity. com/fish/paradisefish. php. [25 Februari 2012].

Austin B, Austin D. 2007. Bacterial Fish Pathogens. UK: Praxis Publishing Ltd. Hlm: 63-64.

Bancroft J, Stevens A. 1990. Theory and Practice of Histological Technique. New York: Churchill livingstone. Hlm: 97-100.

Burgess P. 2011. Dedicated to fancy guppy breeding in the UK. [terhubung berkala]. http://www.fancyguppies.co.uk/page42.htm. [27 November 2012]. Cameron JR, Skofronick JG, Grant RM. 2006. Fisika Tubuh Manusia. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm: 47-49.

Cardenas A, Arroyo V. 2003. Mechanisms of water and sodium retention in cirrhosis and the pathogenesis of ascites. Best Practice and Research Clinical Endocrinology and Metabolism17 (14): 607-622.

Center for Food Security and Public Health. 2006. Mycobacteriosis in fish. Transmissible Disease Fact Sheet No. 90: 1-3.

Crookham J, Dapson R. 1991. Hazardous chemicals in the histopathology. Anatechnology: 1-3.

Davis JM. Ramakrishnan L. 2008. The very pulse of the machine: the tuberculous granuloma in motion. Immunity 28: 146-148.

Descostere A, Hermans K, Haesebrouck F. 2003. Piscine mycobacteriosis: a literature review coveing the agent and the disease it causes in fish and humans. Veterinary Microbiology99: 159-166.

20

Floyd RF. Yanong R. 2002. Mycobacterium in fish. Florida Cooperation Extension Service 96: 1-4.

Gauthier DT, Rhodes WR. 2008. Mycobacteriosis in fishes: a review. The Veterinary Journal 180: 33-47.

Hammerschlag N. 1999. Marine and Freshwater Behaviour and Physiology. Canada: Institut of Miami. Hlm: 1-7.

Hawke J, Crowder C, Soto E. 2011. Bacterial ganulomatous disease in fish. Baton Rouge: Louisiana State University: 10-22.

Irianto A. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hlm: 156-158.

Isselbacher KJ, Braunwald E, Martin JB, Fauci AS, Kasper DL. 1999. Harrison Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hlm: 217.

Juarez JLS, Ganguli S, Kirschner D. 2004. Identifying control mechanisms of granuloma formation during M. tuberculosis infection using an agent-based model. Journal of Thereotical Biology 231: 359-360.

Maryland Departement of Health and Mental Hygiene. 2002. Mycobacterium marinum fact sheet. Epidemiology and Disease Control Program.

Meyer SM. 2011. Cause of dropsy symptoms. [terhubung berkala]. www.fishchannel.com. [25 November 2012].

Noga EJ. 2011. Fish Disease : Diagnosis and Treatment Second Edition. Iowa: Wiley-Blackwell. Hal: 107-267.

Panek FM, Bobo T. 2006. Zoonotic fish disease and adaptive fishery management: considerations for striped bass (Morone saxatilis) from the chesapeake bay. Fish and Wild Agencies60: 140-144.

Purwaningsih U, Taukhid. 2010. Diagnosa penyakit mikobakteriosis, Mycobacterium fortuitum pada ikan gurame (Osphronemus gouramy) dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur: 969-970.

Rao S. 2010. Gram’s staining. [terhubung berkala]. www.microrao.com. [30 Mei 2012].

Reimschuessel R. 1993. Postmortem Examination. Di dalam: Stoskopf MK, editor. 1993 Fish Medicine. Philadelphia: W B Saunders Company. Hal: 161.

Rosen Lab. 2005. Masson Trichrome staining. [terhubung berkala]. http://www.bcm.edu/rosenlab. [1 November 2012].

Scanga CA, Flynn JL. 2010. Mycobacterial infections and the inflammatory seesaw. Cell Host and Microbe7: 177-178.

Sobel ME. 2006. Pathology a Career in Medicine. Bethesda: Intersociety Council for Pathology Information (ICPI). Hlm: 1.

Somsiri T, Puttinaowarat A, Soontornwit S, Lacharoje S. 2005. Contamination of Micobacterium spp. in live feeds. Disease in Asian Aquaculture V: 231-235. Stoskopf MK. 1993. Fish Medicine. Philadelphia: W B Saunders Company.

Hal: 2-47. Supriyadi HA, Hardjamulia. 1986. Current of programs for health certification and quarantine in Indonesia. Di dalam: Arthur J. R. 1986. Fish Quarantine and Fish Disease in South and Southeast Asia. 1986. Ottawa Kanada: IDRC. Hlm: 27-29.

21 Tappin AR. 2011. A Fishkeeper’s Guide to Mycobacteriosis. London: Art

Publications. Hal: 4-7.

Wijaya T. 2011. Prospek dan peluang ikan hias Indonesia. [terhubung berkala]. http://nirwanaaquarium.blogspot.com/2011/03/prospek-peluang-ikan-hias- indonesia.html. [29 Oktober 2012].

22

LAMPIRAN

Lampiran 1

Pembuatan Sediaan Histopatologi

Pembuatan sediaan histopatologi berdasarkan Bacha dan Bacha (2000) pada organ ikan dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

1. Grossing

Sediaan organ ikan yang sudah direndam dalam larutan Neutral Buffer Formalin (NBF) 10%, kemudian dipotong dengan ketebalan + 3 mm dan potongannya dimasukkan ke dalam kaset jaringan.

2. Dehidrasi

Organ yang ada dalam kaset jaringan dimasukkan ke dalam gelas-gelas mesin autotechnicon untuk dilakukan dehidrasi. Dehidrasi ini dilakukan bertahap dengan menggunakan alkohol yang konsentrasinya bertingkat, dimulai dari konsentrasi 70%, 80%, 90%, 95%, alkohol absolut 1, alkohol absolut 2. Setelah itu dilakukan proses penjernihan (clearing) dengan memasukkan sediaan ke dalam xylol, dua kali ulangan.

3. Infiltrasi Parafin

Jaringan diinfiltrasi dalam parafin dengan merendamnya dalam parafin cair sebanyak tiga kali ulangan.

4. Penanaman (embedding) dan pencetakan (blok)

Sediaan yang telah diinfiltrasi parafin ditanam dalam cetakan yang telah berisi parafin cair setengah dari dinding cetakan, kemudian setelah mulai membeku ditambahkan lagi dengan parafin cair sampai penuh. Proses ini dilakukan di mesin tissue embedding console (Sakura®). Sediaan tersebut diatur letaknya kemudian diberi label lalu dibekukan dalam lemari es untuk memudahkan pemotongan.

5. Pemotongan

Jaringan dipotong 3-5 µm dengan mikrotom (Spencer®). Hasil potongan diletakkan di atas air hangat untuk mencegah terjadinya lipatan saat dibentangkan. Sediaan dilekatkan di atas gelas objek kemudian dikeringkan dalam hot plate.

Pewarnaan Hematoksilin Eosin (HE)

Pewarnaan HE termasuk dalam jenis pewarnaan ganda (double staining) karena menggunakan 2 jenis zat warna. Pada pewarnaan ganda, umumnya pewarnaan yang digunakan satu bersifat asam dan yang lain bersifat basa. Paduan sifat tersebut menyebabkan bagian-bagian yang bersifat asidofilik dan basofilik dapat ditonjolkan. Penggunaan pewarna ganda bertujuan agar terjadi kekontrasan antara bagian yang bersifat asidofilik dan basofilik, sehingga pengenalan bagian tertentu dapat lebih cepat dan jelas terlihat.

Pewarnaan HE diawali dengan proses deparafinasi dengan menggunakan xylol dua kali ulangan masing-masing selama 2-3 menit. Kemudian dilanjutkan dengan proses rehidrasi dengan menggunakan alkohol absolut, 95%, dan 70% secara berurutan masing-masing selama 2-3 menit. Sediaan kemudian dicuci dengan air mengalir. Selanjutnya sediaan dimasukkan ke dalam 5% sodium

23 tiosulfat 2-3 menit. Sediaan dicuci kembali dalam air mengalir selama 3-5 menit. Sediaan diwarnai dengan pewarna hematoksilin Mayer selama 8 menit, kemudian dicuci dengan air mengalir, direndam dalam Lithium Carbonat selama 15-30 detik, kemudian dicuci kembali dalam air mengalir. Sediaan diwarnai dengan pewarna eosin selama 2-3 menit, setelah itu sediaan dicuci dalam air mengalir untuk membersihkan warna eosin yang berlebihan. Selanjutnya sediaan didehidrasi dengan memasukkannya ke dalam alkohol 70%, alkohol 95%, alkohol absolut dua kali ulangan masing-masing selama 2-3 menit, xylol dua kali ulangan masing- masing selama 2 menit. Setelah semuanya selesai, sediaan dikeringkan kemudian ditetesi dengan mounting solution dan ditutup dengan gelas penutup dan siap untuk diperiksa di bawah mikroskop (Bancroft dan Stevens 1990).

Pewarnaan Gram pada Jaringan

Sediaan yang siap diwarnai diletakkan pada rak, kemudian diteteskan pewarna kristal violet selama 1 menit. Sediaan jaringan kemudian dibilas pada air mengalir. Sediaan jaringan dibersihkan menggunakan tetesan aseton sampai tidak ada warna yang mengalir dari tetesan tersebut. Sediaan jaringan kemudian direndam dalam air mengalir dan diletakkan kembali pada rak, lalu diteteskan pewarna Basic fuchsin selama 3 menit. Kemudian sediaan jaringan kembali dibersihkan dengan menggunakan rendaman aseton secara cepat sebanyak 2 kali rendaman, kemudian direndam pada campuran aseton dan asam pikrat sampai terbentuk warna salmon, lalu direndam lagi ke dalam aseton yang baru. Pewarnaan Gram selesai dilakukan, setelah itu preparat dikeringkan lalu direndam dalam xylene dan ditutup dengan cover glass.

Pewarnaan Gram berguna untuk melihat sifat Gram dari bakteri dengan warna latar belakang kuning dan nukleus merah. Apabila bakteri terwarnai biru, maka bakteri tersebut termasuk ke dalam Gram positif. Apabila bakteri tersebut terwarnai merah, maka memiliki sifat Gram negatif (Rao 2010).

Pewarnaan Ziehl Niehlsen (ZN) pada Jaringan

Pewarnaan ZN pada jaringan digunakan untuk mewarnai preparat histopatologi yang telah dideparafinisasi dan hidrasi sampai tahap perendaman pada aquades. Preparat yang siap diwarnai diletakkan pada rak, kemudian diteteskan pewarna Carbol Fuchsin selama 30 menit. Setelah itu, preparat dicuci dengan cara diteteskan dengan asam alkohol 3%sampai tidak ada lagi warna yang mengalir dari tetesan tersebut. Preparat kemudian diwarnai kembali dengan Methylene Blue selama 15 menit, kemudian dicuci pada air mengalir. Setelah itu preparat kembali didehidrasi dan ditutup degan cover glass.

Pewarnaan ZN berguna untuk melihat ketahanan bakteri terhadap asam, dengan warna latar belakang biru. Apabila hasil pewarnaan menunjukkan warna bakteri yang merah, maka bakteri tersebut merupakan bakteri yang tahan asam (Crookham dan Dapson 1991).

Pewarnaan Masson Trichrome(MT) pada Jaringan

Pewarnaan MT dilakukan untuk melihat pola infiltrasi jaringan ikat pada sediaan histopatologi. Jaringan ikat yang terbentuk dari kolagen akan terwarnai dengan warna hijau biru, nukleus terwarnai biru tua, otot dan elastin merah, fibrin dan kalsium ungu, serta hyalin menjadi biru muda.

24

Proses pewarnaan MT diawali dengan deparafinisasi. Kemudian dicelup di dalam larutan Mordant selama 30-40 menit. Pencelupan dilanjutkan ke dalam Carazzi’s Hematoksilin selama 40 menit. Kemudiaan sediaan dimasukkan ke dalam orange G 0,75% selama 1-2 menit. Setelah itu, dicelupkan ke dalam asam asetat 1% sebanyak dua kali. Lalu, sediaan dimasukkan ke dalam larutan Ponceau Xylidine Fuchsin selama 15 menit. Selanjutnya larutan kembali dicelup dalam asam asetat 1% selama dua kali. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam asam fosfotungstik 2,5% selama 10 menit. Sediaan kembali dibilas ke dalam asam asetat 1% sebanyak dua kali. Selanjutnya sediaan diwarnai dalam pewarna anilin blue selama 15 menit. Sediaan kembali dibilas dengan asam asetat 1% sebanyak dua kali dan dicelup dalam alkohol 95% selama 3 menit. Setelah sediaan telah terwarnai, sediaan kemudian didehidrasi dan ditutup dengan cover glass (Rosen Lab 2005).

Pemeriksaan Histopatologi

Preparat yang telah dibuat kemudian diamati di bawah mikroskop cahaya untuk melihat perubahan pada sel ataupun organ. Lesi yang ditemukan dianalisa secara deskriptif dan disusun untuk membentuk patogenesa.

25

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada 14 Agustus 1991. Penulis merupakan putri ke empat dari empat bersaudara dari pasangan Ahmad Labib dan Mukminatus Sholihah. Penulis mengenyam pendidikan formal di SD Pemuda Bangsa Depok (2002), SMP Negeri 4 Depok (2005), dan SMA Negeri 3 Depok (2008).

Tahun 2008 penulis berkesempatan melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui jalur SPMB. Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di Himpunan Minat dan Profesi (HIMPRO) Hewan Kesayangan dan Satwa Akuatik Eksotik (HKSA), menjadi asisten praktikum pada mata kuliah Patologi Sistemik pada tahun 2012, serta menjadi panitia pada beberapa kegiatan di lingkungan kampus.

Dokumen terkait