• Tidak ada hasil yang ditemukan

BOGOR

2012

Anwar NS. 2001. Manfaat obat tradisional sebagai afrodisiak serta dampak positifnya untuk menjaga stamina. Makalah pada seminar setengah hari “Menguak Manfaat herbal

bagi Vitalitas Seksual”. Jakarta, 13 Oktober 2001. Hlm 8.

[BALITRO] Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. 2011. Laporan Hasil Uji Fitokimia Purwoceng. Bogor.

Barnes S, Kim H. 1998. Soy isoflavone, estrogens and growth factor signaling. The soy connection news letter Vol 6. http://www.soyfoods.com/nutrition/isoflavone.html. [27 Oktober 2004]

Caropeboka AM. 1980. Pengaruh ekstrak akar Pimpinella alpina Koord. terhadap sistem reproduksi tikus [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 73 hlm.

Caropeboka AM, Lubis I. 1975. Pemeriksaan pendahuluan kandungan kimia akar Pimpinella alpina (Purwoceng). Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Obat I. Bogor, 8-9 Desember 1975. Bogor: Bagian Farmakologi-Dept. Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan-IPB. Hlm 153-158.

Cowie AT. 1980. The Mammary Gland and Lactation. London: William Heinemann Medical Book.

Fahey TD. 1998. Anabolic androgenic steroid: mechanism of action and effect on performance. http://www.sportsci.org/encyc. [3 Maret 2011]

Forbes JM. 1992. Effects of estradiol 17p on voluntary food intake in sheep and goats. J. Endocrinol. 52:viii.

Ganong WF. 2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.

Guyton AC. 1994. Fisiologi Kedokteran Bagian III. Edisi ke-7. Jakarta: EGC.

Hapsari S. 2011. Pengaruh pemberian ekstrak etanol purwoceng (Pimpinella alpina) selama1-13 hari kebuntingan terhadap bobot ovarium dan uterus tikus putih (Rattus sp.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian bogor.

Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Bandung: Penerbit ITB.

Harkness JE, Wagner JE. 1989. The Biology and Medicine of Rabbits and Rodents. 3rd Ed. Lea and Febiger. Philadelphia.

Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Cetakan I. Badan Litbang Departemen Kehutanan. Jakarta.

Hurley WL. 2000. Lactation biology ANSCI 308. http//www.classes.acces.uiuc.edu/AnSci308/index.html. [24 April 2011].

Ibrahim M. 2001. Isolasi dan uji aktivitas biologi senyawa steroid dari lintah laut, Discodoris sp. [tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Johnson M, Everitt B. 1984. Essential Reproduction. 2nd Ed. London and Beccles: William Clowes limited.

King MW. 2004. Steroid hormones. http://web.indstate.edu/thcme/mwking. [8 Maret 2011]. Knight W, Peacker M. 1982. Development of The Mammary Gland. J. Reprod. Fert. 65:

521-536.

Kosin AM. 1992. Efek androgenik dan anabolik ekstrak akar Pimpinella alpina Molk. (Purwoceng) terhadap anak ayam jantan [skripsi]. Bogor: Universitas Pakuan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan Biologi.

Kurnia ML. 2011. Efektivitas pemberian ekstrak etanol purwoceng (Pimpinella alpina) selama 13-21 hari kebuntingan terhadap bobot organ reproduksi dan anak tikus Putih (Rattus sp.) [skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Malole MBM, Pramono CS. 1989. Penggunaan Hewan-Hewan Percobaan Laboratorium.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jendral Pendidikan Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Prajoko S. 2010. Purwoceng, the viagra of java.

http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2010/11/20/purwoceng-the-viagra-of- java/. [10 Maret 2011].

Rahardjo M, Wahyuni S, Trisilawati O, Djauhariya E. 2005. Ciri agronomis, mutu dan lingkungan tumbuhan tanaman obat langka purwoceng (Pimpinella pruatjan

MOLK.). Prosiding Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia XXVIII; Bogor, 15-16 September 2005.

Rostiana O et.al. 2003. Eksplorasi potensi purwoceng dan cabe jawa serta perbaikan potensi genetik menunjang industri obat tradisional afrodisiak. Laporan teknis Penelitian Penguasaan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat Tahun 2003/2004. Bogor: Balitro.

Rudiono D. 2005. Pengaruh Hormon Testosteron dan Umur Terhadap Perkembangan Otot pada Kambing Kacang Betina [skripsi]. Lampung: Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian Universitas Lampung,.

Sidik, Sasongko, Kurnia E dan Ursula. 1985. Usaha isolasi turunan kumara dari akar purwoceng (Pimpinella alpina Molk.) asal dataran tinggi Dieng. Prosiding Penelitian Tanaman Obat I. Bogor.

Smith JB, Mangkoewidjojo S. 1987. The Care, Breeding and Management of Experimental Animals for Research in the Tropics International Development Program of Australia Universities and College (IDP). Canberra.

Steel RGD, Torrie JH. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistik. B. Sumantri, penerjemah. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Taufiqqurrachman. 1999. Pengaruh ekstrak Pimpinella alpina Molk. (purwoceng) dan akar Eurycoma longifolia Jack. (pasak bumi) terhadap peningkatan kadar testosterone, LH, dan FSH serta perbedaan peningkatannya pada tikus jantan Sprague dawley [tesis]. Semarang: Pascasarjana Ilmu Biomedik Universitas Diponegoro.

Tjitrosoepomo G. 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan.Yogyakarta: Universitas gajah Mada Press. 447 hlm.

Tocang. 2010. Agen tikus putih. http://tocang.blogspot.com/2010/07/agen-tikus-putih.html. [10 Maret 2011].

Tsourounis C. 2004. Clinical effects of fitoestrogens. Clinical Obstetricts and Gynecology. J. dairy Sci. 44 (4): 836-42

Tucker HA. 1987. Quantitative stimate of mammary growth during various physiological states: A review. J. dairy Sci. 70: 1958-1966.

Tuju EA. 2001. Peningkatan sekresi hormon kebuntingan melalui superovulasi untuk meningkatan efesiensi reproduksi pada tikus putih. Disajikan pada Seminar Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Turner CD, Bagnara JT. 1995. Endokrinologi Umum. Harsojo, penerjemah; Surabaya: Universitas Airlangga. 746 hlm.

Veterinary Library. 1996. The labrotary rat. http://www.animalz.co.nz/library/small pet/rats.html. [9 Februari 2011].

Wilde CJ, Knight CH. 1989. Metabolic adaptions in mammary growth during the declining phase of lactations. J. dairy Sci. 72: 1697-1692.

Lampiran 2 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-1

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 12.55 4.183334 0.365835

Column 2 3 9.53 3.176667 1.462433

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 1.52007 1 1.52007 1.662852 0.266729 7.708647

Within Groups 3.656536 4 0.914134

Total 5.176606 5

Lampiran 3 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-2

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 31.15 10.38333 0.645832

Column 2 3 29.05 9.683333 18.81823

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.735002 1 0.735002 0.075524 0.797068 7.708647

Within Groups 38.92813 4 9.732033

Total 39.66313 5

Lampiran 4 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-3

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 54.56666 18.18889 15.57954

Column 2 3 50.79 16.93 48.6553

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 2.377198 1 2.377198 0.074016 0.799043 7.708647

Within Groups 128.4697 4 32.11742

Lampiran 5 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-1

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 11.31 3.77 0.0327

Column 2 3 10.8 3.6 3.2799

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.04335 1 0.04335 0.026173 0.879322 7.708647

Within Groups 6.6252 4 1.6563

Total 6.66855 5

Lampiran 6 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-2

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 29.25334 9.751112 0.067837

Column 2 3 29.03 9.676667 17.24013

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.008313 1 0.008313 0.000961 0.976759 7.708647

Within Groups 34.61594 4 8.653985

Total 34.62425 5

Lampiran 7 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-3

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 50.84334 16.94778 6.023446

Column 2 3 49.22 16.40667 37.06043

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.439204 1 0.439204 0.020388 0.893362 7.708647

Within Groups 86.16776 4 21.54194

Lampiran 2 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-1

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 12.55 4.183334 0.365835

Column 2 3 9.53 3.176667 1.462433

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 1.52007 1 1.52007 1.662852 0.266729 7.708647

Within Groups 3.656536 4 0.914134

Total 5.176606 5

Lampiran 3 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-2

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 31.15 10.38333 0.645832

Column 2 3 29.05 9.683333 18.81823

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.735002 1 0.735002 0.075524 0.797068 7.708647

Within Groups 38.92813 4 9.732033

Total 39.66313 5

Lampiran 4 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Jantan Minggu ke-3

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 54.56666 18.18889 15.57954

Column 2 3 50.79 16.93 48.6553

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 2.377198 1 2.377198 0.074016 0.799043 7.708647

Within Groups 128.4697 4 32.11742

Lampiran 5 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-1

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 11.31 3.77 0.0327

Column 2 3 10.8 3.6 3.2799

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.04335 1 0.04335 0.026173 0.879322 7.708647

Within Groups 6.6252 4 1.6563

Total 6.66855 5

Lampiran 6 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-2

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 29.25334 9.751112 0.067837

Column 2 3 29.03 9.676667 17.24013

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.008313 1 0.008313 0.000961 0.976759 7.708647

Within Groups 34.61594 4 8.653985

Total 34.62425 5

Lampiran 7 Analisa Data Hasil Penimbangan Bobot Badan Anak Tikus Betina Minggu ke-3

SUMMARY

Groups Count Sum Average Variance

Column 1 3 50.84334 16.94778 6.023446

Column 2 3 49.22 16.40667 37.06043

ANOVA

Source of Variation SS df MS F P-value F crit

Between Groups 0.439204 1 0.439204 0.020388 0.893362 7.708647

Within Groups 86.16776 4 21.54194

MUHAMMAD SOFYAN. Efektivitas Pemberian Ekstrak Etanol Purwoceng (Pimpinella alpina KDS) Selama 21 Hari Laktasi terhadap Bobot Badan Anak Tikus Putih (Rattus norvegicus). Dibimbing oleh HERA MAHESHWARI and PUDJI ACHMADI.

Purwoceng merupakan tanaman obat komersial yang akarnya dilaporkan berkhasiat obat sebagai afrodisiak (meningkatkan gairah seksual dan menimbulkan ereksi), diuretik (melancarkan saluran air seni), dan tonik (mampu meningkatkan stamina tubuh). Tanaman tersebut merupakan tanaman asli Indonesia yang hidup di daerah pegunungan seperti dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, Gunung Pangrango di Jawa Barat, dan areal pegunungan di Jawa Timur. Dewasa ini populasi purwoceng sudah langka karena mengalami penurunan populasi secara besar-besaran, bahkan populasinya di Gunung Pangrango Jawa Barat dan areal pegunungan di Jawa Timur dilaporkan sudah musnah. Tanaman tersebut hanya terdapat di dataran tinggi Dieng, bukan di habitat aslinya melainkan di areal budidaya yang sangat sempit di Desa Sekunang (Rahardjo et al. 2005).

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek pemberian ekstrak etanol purwoceng pada tikus laktasi terhadap peningkatan bobot badan anak yang lahir dari hari pertama sampai hari ke-21 masa laktasi. Pemberian ekstrak etanol purwoceng pada induk laktasi diharapkan dapat menyebabkan sel-sel kelenjar ambing lebih aktif berproliferasi dan berpengaruh terhadap peningkatan bobot badan anak yang lahir sampai dengan lepas sapih. Penelitian berlangsung mulai pada bulan April 2011 sampai dengan Agustus 2011. Enam tikus betina menyusui dibagi menjadi dua kelompok; kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Pencekokkan ekstrak etanol purwoceng pada tikus betina laktasi dilakukan pada hari 1-21 masa laktasi. Penentuan dosis ekstrak purwoceng pada tikus berdasarkan penelitian terdahulu (Taufiqurrachman 1999) yaitu sebesar 25 mg/cc untuk bobot badan tikus sebesar 300 g atau sebesar 83.33 mg/kg BB. Dalam penelitian ini digunakan 0.5 cc untuk 300 g tikus (larutan stok mengandung 50 mg/cc). Masing-masing kelompok ditimbang

diperoleh kemudian dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) (Steel dan Torrie 1989).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok perlakuan tidak berbeda dari bobot badan dari kelompok kontrol dan anak tikus jantan dari kelompok perlakuan memiliki bobot badan yang tidak berbeda dari anak tikus betina dari kelompok perlakuan.

Dokumen terkait