• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANDISOL SUKAMANTRI)

FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

DAFTAR PUSTAKA

[Bappenas] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2009. Budidaya Singkong. http://www.smallcrab.com/forex/500-budidaya-singkong. [19 Nov 2009].

[BPPT] Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 2006. Kajian Lengkap Prospek Pemanfaatan Biodiesel dan Bioetanol pada Sektor Transportasi di Indonesia. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta.

Brown S. 1997. Estimating biomass and biomass change of tropical forest: a Primer. (FAO Forestry Paper – 134). FAO, Rome.

Burringh, P. 1983. Introduction to The Study of Soils in Tropical and Subtropical Regions. 2nd Ed. Cent. Agric. Pub. Doc. Waginingen.

FAO. 1983. Reconnaissance Land Resource Surveys. Centre For Soil Research. Bogor. Indonesia.

FAO. 2002. World Summit on Sustainable Development. http/www.fao.org.[di akses 24 mei 2010].

Fortuna IF. 2008. Bioetanol Alternatif Energi untuk Babel. Bangka Pos Cetak: Bangka Belitung.

Kusumastuti CT. 2007. Singkong Sebagai Salah Satu Sumber Bahan Bakar Nabati (BBN) [makalah]. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Lawford, HG and JD Rousseau. 2000. Comparative energetics of glucose and xylose metabolism cassava in Zymonas mobilis. Appl. Biochem. Biotechnol. 84-86: 277-292.

Lidiasari E, Syafutri MI, dan Syaiful F. 2006. Influence of drying temperature difference on physical and chemical qualities of partially fermented cassava flour, Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia, 2006, vol. 8, pp. 141-146.

[PPT] Pusat Penelitian Tanah. 1983. Term of Reference. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Pusat Penelitian Tanah, Bogor.

[Puslitanak] Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2000. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia, skala 1: 1.000.000. Publikasi Puslittanak, Badan Litbang Pertanian.

Soepardi G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor Soepraptohardjo, M. 1958. Klasifikasi Tanah di Indonesia. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor.

Soepraptohardjo. 1961. Jenis-jenis Tanah di Indonesia. Lembaga Penelitian Tanah. Bogor.

Subagyo H, Suharto N, dan Siswanto AB. 2004. Tanah Pertanian di Indonesia. Dalam Pengembangan dan Manajemen Tanah-tanah di Indonesia. 30-61. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Suprapti ML. 2005. Tepung Tapioka: Pembuatan dan Pemanfaatannya. Kanisius: Yogyakarta.

Tejasawarna. 1995. Evisiensi dan Penggunaan pupuk N dan P dengan Budidaya Padi Sawah, Dalam M. Syam, Hermanto, Arif Musaddad dan Sumhard (penyunting). Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Kinerja Penelitian Tanaman pangan (Bulan III). Badan Penelitian dan Pengembangan Pangan.

Yakinudin A. 2010. Bioetanol Singkong Sebagai Sumber Bahan Bakar Terbaharukan dan Solusi untuk Meningkatkan Penghasilan Petani Singkong. IPB:Bogor.

Yogaswara A. 1977. Seri-seri Tanah dari 7 tempat di Jawa Barat. Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Tabel Lampiran 1. Unsur Hara N, P, dan K Tanaman Singkong  Tanah   Bagian  Tanaman  N  (%)  P  (%)  K  (%)  Kadar air  (%)  Latosol  Daun  2.44  0.47  2.07  207.67     Kulit   1.39  0.12  1.42  197.33     Batang   1.39  0.19  1.28  202.33     Umbi   0.46  0.18  0.66  142.50  Regosol  Daun   2.44  0.31  2.72  500.23     Kulit   1.09  0.12  1.72  380.12     Batang   1.39  0.18  2.46  317.02     Umbi   0.37  0.19  1.03  246.33  Andisol  Daun  1.02  0.1  1.24  106.75     Kulit   2.44  0.31  1.6  180.88     Batang   1.39  0.14  1.2  252.40     Umbi   0.29  0.14  0.4  133.10 

Tabel Lampiran 2. Bobot Basah Tanaman Singkong pada Tiga Tanah

Tanah     Tanaman    

   Tingkat  Umbi bersih  Batang  Daun  Kulit  buku tnmn 

Latosol  Alur 1 bwh 1  5.6  2.35  0.7  1.15  369     Alur 1 bwh 2  2.32  2  0.4  0.78  401     alur 2 tgh 1  6.07  1.6  0.3  1.23  472     alur 2 tgh 2  3.45  2.4  0.6  0.85  436     alur 3 atas 1  5.18  1.2  0.3  1.12  350     alur 3 atas 2  2.68  1.1  0.3  0.52  338  regosol  tanaman 1  1.1  1.8  1  0.6  292     tanaman 2  0.45  1.5  1.15  0.4  332     tanaman 3  1  1.6  0.6  0.6  318  andosol  singkong 1  0.64  1.46  0.2  0.2  146     singkong 2  0.39  0.98  0.1  0.13  134     singkong 3  0.28  1.18  0.26  0.08  122     singkong 4  1.34  1.23  0.8  0.13  194     singkong 5  0.23  1.56  0.22  0.57  144     singkong 6  1.1  1.57  0.85  0.23  166 

Tabel Lampiran 3. Pengolahan data

umbi bersih serapan

Lokasi Luas Luas efektif Jarak tanam Jumlah tanaman Produksi/6 pokok Produksi per luasan Produksi/ha KA rata-rata berat kering ton/ha N% P% K% N P K Cikarawang 700 595 0.64 930 25.3 3920.2 65885 143 27113 27.1 0.46 0.18 0.66 124.7 48.8 178.9 sindang barang 300 270 0.25 1080 2.55 459.0 17000 246 4913 4.9 0.37 0.19 1.03 18.2 9.3 50.6 Sukamantri 330 313.5 0.25 1254 3.98 831.8 26533 133 11388 11.4 0.29 0.14 0.4 33.0 15.9 45.6 Batang Cikarawang 700 595 0.64 930 1.78 275.8 4635 202 1535 1.5 1.39 0.19 1.28 21.3 2.9 19.6 sindang barang 300 270 0.25 1080 1.63 293.4 10867 380 2264 2.3 1.39 0.18 2.46 31.5 4.1 55.7 Sukamantri 330 313.5 0.25 1254 1.33 278.0 8867 181 3155 3.2 1.39 0.14 1.2 43.9 4.4 37.9 Daun Cikarawang 700 595 0.64 930 0.43 66.6 1120 208 364 0.4 2.44 0.47 2.07 8.9 1.7 7.5 sindang barang 300 270 0.25 1080 0.92 165.6 6133 500 1022 1.0 2.44 0.31 2.72 24.9 3.2 27.8 Sukamantri 330 313.5 0.25 1254 0.41 85.7 2733 107 1320 1.3 1.02 0.1 1.24 13.5 1.3 16.4 kulit umbi Cikarawang 700 595 0.64 930 0.94 145.7 2448 197 824 0.8 1.39 0.12 1.42 11.5 1.0 11.7 sindang barang 300 270 0.25 1080 0.53 95.4 3533 317 847 0.8 1.09 0.12 1.72 9.2 1.0 14.6 Sukamantri 330 313.5 0.25 1254 0.22 46.0 1467 252 417 0.4 2.44 0.31 1.6 10.2 1.3 6.7 38

SUMMARY

ERVINDY NAFARUDIN. A14070093. Analysis of Cassava (Manihot esculenta) Biomass Production in Three Soils (Latosol Cikarawang, Regosol Sindang Barang, and Andisol Sukamantri. Supervised by SYAIFUL ANWAR

and BUDI NUGROHO.

Cassava is a tropical plant that extensively cultivated at Africa, Asia and South America. In the world, Indonesia is the fourth largest of cassava producer after Nigeria, Brazil, and Thailand. In Indonesia, cassava has long been recognized as carbohydrate source as well as food source. For food diversification, cassava is also widely used for snacks. Cassava is used as raw material for tapioca, syrop, sorbitol, monosodium-glutame, ethanol industries, and othe processed forms. However, those utilization limited only from the cassava tuber.

Overall potential production of cassava, including tuber, tuber skin, stem, and leaves was studied. Field observation and biomass production measurement of cassava at harvest time (was conducted in three cassava cultivations which different in their soils, i.e. Latosol Cikarawang, Regosol Sindang Barang, and Andisol Sukamantri. At the same time, composite soil sampling for soil fertility analysis was conducted. Laboratory analysis of N, P, and K of soil samples and each of biomass part of cassava was conducted. In addition, tuber was analyzed for its carbohydrates, fats, and protein; while stem was analyzed for its holocellulose and lignin.

The results of soil fertility analysis indicated that in general Regosol Sindang Barang has the highest fertility, followed by Andisol Sukamantri and Latosol Cikarawang. The highest overall dry (65ºC) biomass was produced on Latosol Cikarawang 29.8 ton/ha, the highest tuber without skin was produced on Latosol Cikarawang 27.1 ton/ha, the highest trunk and leaves were produced on Andisol Sukamantri 3.2 and 1.3 ton/ha. The highest tuber skin were produced occur in common to Latosol Cikarawang and Regosol Sindang Barang 0.8 ton /ha.

Average carbohydrate, protein, and fat of the tuber without skin produced on the three soils were 74.80%, 2.64%, and 0.42%, respectively. Meanwhile, average holocellulose and lignin of the stem produced on the three soil were 49.22% and 20.73%. Total nutrients uptake by the overall biomass on the three soils were in the range of 83.8-166.4 kg/ha, 17.6-54.4 kg/ha, and 106.5-217.8 kg/ha, respectively for N, P, and K. Both tuber without skin and stem of cassava are potential for the future production of bioethanol. In order to maintain soil productivity, it is suggested that the tuber skin and the leaves should be returned to the soil. If the tuber skin and the leaves both were returned to soil, it is equivalent with 44.2-74.3 kg Urea/ha, 16.6-26.7 kg SP-36/ha, and 38.6-85.1 kg KCl/ha.

RINGKASAN

ERVINDY NAFARUDIN. A14070093. Analisis Produksi Biomassa Tanaman Singkong (Manihot esculenta) pada Tiga Tanah (Latosol Cikarawang, Regosol Sindang Barang, dan Andisol Sukamantri). Dibimbing oleh SYAIFUL ANWAR

dan BUDI NUGROHO.

Singkong (Manihot esculenta) adalah tanaman tropis yang banyak dikembangkan di benua Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Pada tataran dunia, Indonesia merupakan negara produsen singkong terbesar ke empat (9.7%) setelah Nigeria (19%), Brazil (14%), dan Thailand (11%). Singkong sudah lama dikenal sebagai sumber karbohidrat kedua setelah padi di Indonesia, selain sebagai sumber pakan. Melalui diversifikasi pangan, singkong juga banyak dimanfaatkan untuk panganan dan bahan baku industri tapioka, gula sirup, sorbitol, monosodium-glutamat, etanol, maupun bentuk olahan lainnya. Seluruh pemanfaatan singkong tersebut bersumber pada umbinya.

Pada penelitian ini potensi singkong akan dipelajari dengan mendasarkan kepada keseluruhan produksi biomassanya. Pengamatan lapang dan pengukuran produksi dilakukan pada tanaman singkong siap panen, dengan umur panen 9 bulan, pada tiga tanah yaitu, Andisol Sukamantri, Latosol Cikarawang, dan Regosol Sindang Barang. Pada saat bersamaan, dilakukan pengambilan contoh tanah secara komposit untuk analisis kesuburan tanah. Analisis kadar hara N, P, K dilakukan terhadap umbi, batang, daun, dan kulit umbi. Analisis karbohidrat, lemak, dan protein dilakukan pada umbi, serta analisis holoselulosa dan lignin dilakukan terhadap batang.

Secara relatif dari sifat kimia tanah yang ditetapkan, Regosol Sindang Barang paling baik, diikuti oleh Andisol Sukamantri, dan yang terburuk adalah Latosol Cikarawang.Produksi biomassa kering (65ºC) tanaman singkong tertinggi secara keseluruhan dihasilkan pada tanah Latosol Cikarawang 29.8 ton/ha, dan produksi umbi bersih tertinggi terdapat pada tanah Latosol Cikarawang 27.1 ton/ha, produksi biomassa batang dan daun tertinggi terdapat pada tanah Andisol Sukamantri yaitu 3.2 dan 1.3 ton/ha, sedangkan kulit umbi tertinggi terdapat kesamaan untuk Latosol Cikarawang dan Regosol Sindang Barang yaitu 0.8 ton/ha. Kadar senyawa organik umbi rata-rata pada tiga tanah berturut-turut untuk karbohidrat, protein dan lemak adalah 74.80%, 2.64%, dan 0.42%. Selanjutnya kadar holoselulosa dan lignin batang berturut-turut adalah 49.22%, dan 20.73%. Pada masa yang akan datang , holoselulosa batang singkong ini merupakan salah satu potensi untuk pengembangan bioetanol.

Serapan total N, P, dan K untuk seluruh bagian tanaman pada ketiga tanah berturut-turut berkisar 83.8-166.4 kg/ha, 17.6-54.4 kg/ha, dan 106.5-217.8 kg/ha. Apabila diasumsikan Daun dan Kulit umbi tanaman dikembalikan ke tanah, maka kesetaraanya dengan Urea, SP-36, dan KCl untuk ketiga tanah berturut-turut berkisar 44.2 - 74.3 kg/ha, 16.6 - 26.7 kg/ha, dan 38.6 - 85.1 kg/ha.

Dokumen terkait