• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Sifat dan Ciri Umum Tanah Latosol, Regosol, dan Andisol

Produktivitas tanaman singkong sangat dipengaruhi oleh tempat tumbuhnya, karena untuk pertumbuhan optimum singkong memerlukan berbagai unsur hara yang tersedia di dalam tanah. Berikut adalah sifat dan ciri umum dari ketiga tanah tesebut.

2.6.1. Latosol

Latosol adalah tanah yang penyebarannya luas di Indonesia. Tanah ini diantaranya dijumpai di daerah Darmaga Kabupaten Bogor. Latosol coklat kemerahan Darmaga Bogor termasuk ke dalam order Inceptisols menurut sistem klasifikasi USDA dan terletak pada zona fisiografi Bogor bagian Barat, dengan bahan induk vulkanik kuarter berasal dari Gunung Salak (Yogaswara, 1977). Soepardi (1983) menyebutkan bahwa Latosol terbentuk di bawah kondisi iklim dengan curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropik dan semi tropik, gaya-gaya hancuran bekerja lebih cepat dan berpengaruh lebih ekstrem dari pada di daerah sedang. Di banyak tempat di daerah tropik, musim basah dan kering yang silih berganti sangat mengintensifkan kegiatan kimia, terutama dari bahan organik. Proses yang berperan dalam pembentukan tanah demikian disebut latosolisasi.

Latosol banyak dimanfaatkan untuk perladangan berpindah, pertanian lahan kering, tegalan dan kebun campuran serta tanaman perkebunan seperti karet, kelapa sawit bahkan bila iklim memungkinkan dapat dipergunakan untuk perkebunan tebu. Apabila kandungan kerikil tidak terlalu banyak, tanah ini mudah untuk ditanami. Latosol relatif stabil dan tahan terhadap erosi karena dominasi liat aktivitas rendah (low activity clay) dan bersifat mudah melewatkan air. Latosol pada umumnya mempunyai potensi kesuburan tergolong sangat rendah sampai rendah, dimana kandungan bahan organik lapisan atas sebagian rendah dan sebagian lagi sedang sampai tinggi dan berangsur menurun menjadi sangat rendah sampai rendah dengan kedalaman. Rasio C/N tergolong rendah (6-10). Kandungan P dan K di lapisan atas dan bawah hampir semuanya rendah. Rata-rata kandungan K2O pada bagian pedon lebih besar dari pada P2O5. Jumlah basa-basa dapat ditukar dan KTK termasuk rendah demikian juga KB-nya tergolong sangat rendah (Subagyo et al., 2004). Beberapa

latosol bereaksi sedang bahkan hingga sangat masam. Tanah-tanah itu biasanya memberikan respon baik terhadap pemupukan dan pengapuran. (Soepardi, 1983).

2.6.2. Regosol

Buringh (1983) mendefinisikan Regosol sebagai tanah yang sangat muda, hampir tanpa perkembangan tanah. Soepraptohardjo (1961) menyatakan bahwa, Regosol mempunyai solum tipis-tebal tanpa horizon.

Menurut PPT (1983), Regosol adalah tanah lain yang bertekstur kasar dari bahan albik, tidak mempunyai horizon diagnostik, atau horizon apapun (kecuali jika tertimbun oleh 50 cm atau lebih bahan baru) selain horizon A okrik, horizon histik atau sulfuric serta berkadar fraksi pasir 60% atau lebih pada kedalaman antara 25-100 cm dari permukaan tanah mineral.

Soepraptohardjo (1961) mengemukakan bahwa Regosol mempunyai porositas sedang sampai terlalu baik, bertekstur pasir kasar sampai lempung, konsistensi lepas sampai gembur, pH antara 6 sampai 7, serta kandungan P dan K cukup sedangkan N kurang. Buringh (1983) menambahkan Regosol mempunyai kapasitas menahan air yang rendah dan secara keseluruhan faktor penghambat pertumbuhan tanaman yang paling besar pada Regosol adalah kekurangan air. Sifat-sifat kimia Regosol dicirikan oleh kandungan bahan organik rendah, KB bervariasi, daya jerap rendah dan permeabilitas tinggi.

2.6.3. Andisol

Kata Andisol berasal dari kata ando, yang berarti tanah hitam. Tanah ini adalah tanah-tanah yang gembur, ringan dan porous, tanah bagian atasnya berwarna gelap atau hitam, bertekstur sedang, terasa licin seperti semir apabila dipirit, dan secara khusus terbentuk dari bahan piroklastik yang kaya gelas volkan, baik yang masih lepas dan belum terangkut seperti abu volkan dan tephra, maupun yang sudah mengalami transportasi seperti endapan lahar dan alluvium volkanik (Subagyo et al., 2004). Sesuai dengan sifat-sifat tanah yang berkembang dari bahan piroklastik hasil kegiatan volkanisme, penyebaran Andisol umumnya terbatas pada wilayah sekitar

atau dekat dengan daerah volkan (gunung api). Selain secara dominan menyebar di dataran tinggi, sebagian Andisol dapat juga terbentuk di dataran dan perbukitan volkan. Luas seluruhnya diperkirakan 5.39 juta ha, atau sekitar 2.9% wilayah dataran Indonesia. Berdasarkan urutan luasannya, penyebaran Andisol yang cukup luas terdapat berturut-turut di Sumatera Utara 1.06 juta ha, Jawa Timur 0.73 juta ha, Jawa Barat 0.50 juta ha, Jawa Tengah 0.45 juta ha, dan Maluku 0.32 juta ha (Puslittanak, 2000).

Dari tujuh subordo dalam kelompok Andisol, yang termasuk tanah-tanah pertanian utama adalah Udands yaitu Andisols berdrainase baik di wilayah beriklim humit, dengan rejim kelembaban tanah udik; Aquands : Andisols basah, dengan air tanah berada pada atau dekat permukaan tanah; Ustands ; Andisols yang berada di wilayah agak kering sampai kering, dengan rejim kelembaban tanah ustik; dan Vitrands yaitu Andisol yang bertekstur agak kasar, dengan kandungan gelas volkan yang tunggi. Oleh karena umumnya menempati wilayah dataran tinggi sekitar 700 mdpl, atau lebih tinggi, maka penggunaan utama baik udands, ustands, maupun vitrands umumnya untuk pertanian pangan lahan kering, hortikultura, serta tanaman perkebunan. Aquands secara khusus dimanfaatkan untuk persawahan, dan tanaman sayuran. Areal Andisols yang tidak di usahakan untuk pertanian umumnya ditutupi hutan sekunder, pinus dan semak belukar.

Subagyo et al. (2004) melaporkan data analisis tanah Andisol dari berbagai wilayah, menunjukan bahwa Andisol memiliki tekstur yang bervariasi dari berliat (30-60% liat), sampai berlempung kasar (10-20%), namun sebagian besar tergolong berlempung halus sampai berlempung kasar. Reaksi tanah umumnya agak masam (5.6-6.5). Kandungan bahan organik lapisan atas sedang sampai tinggi, dan lapisan bawahnya umumnya rendah; dengan rasio C/N tergolong rendah (6-10). Kandungan P dan K-potensial bervariasi sebagian sedang sampai tinggi, dan sebagian lagi rendah sampai sedang. Jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong sedang sampai tinggi, dan didominasi oleh ion Ca dan Mg, sebagian juga K. Kapasitas tukar kation tanah, sebagian besar sedang sampai tinggi, dengan kejenuhan basa umumnya sedang.

Potensi kesuburan alami Andisol, dengan demikian dinilai termasuk sedang sampai tinggi.

Andisol memiliki sifat andik yaitu memiliki kandungan C-organik <25%, dan kandungan bahan amorf dalam bentuk alofan, imogolit, ferrihidrit, atau senyawa kompleks humus alumunium dalam jumlah yang cukup signifikan (bobot isi 0.90 g/cm2 atau kurang), retensi fosfat 85% atau lebih dan jumlah persentase Al dan ½ Fe (ekstraksi NH4 –oksalat) 2.0 atau lebih (Subagyo et al: 2004).

BAB III

BAHAN DAN METODE

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi pertanaman singkong yang diteliti terletak di Desa Cikarawang, Sindang Barang, dan Sukamantri Kabupaten Bogor. Analisis tanah dan tanaman dilakukan di Laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor (IPB). Analisis karbohidrat, protein, lemak, holoselulosa dan lignin dilakukan di Laboratorium Pengujian Hasil Hutan, Pusat Litbang Hasil Hutan Bogor. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei sampai Oktober 2011.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah singkong (Manihot esculenta) dan tanah yang diambil dari tiga lokasi tersebut di atas. Bahan dan alat yang digunakan untuk analisis dalam penelitian ini adalah beberapa alat lapang, seperti timbangan, plastik, pisau dan alat-alat laboratorium seperti gelas piala, gelas ukur, erlenmeyer, shaker, botol kimia, kertas label, sentrifuse, labu takar, dan lain-lain.

3.3. Metode Pengambilan Sampel Analisis Tanah dan Tanaman

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pengamatan lapang dan analisis laboratorium. Proses pengamatan lapang dilakukan pada pertanaman singkong milik petani yang siap panen dengan umur panen sekitar 9 bulan. Dalam pengamatan ini diamati ciri morfologi tanaman dan mengukur produksi biomassa singkong. Pengelolaan pertanaman yang diamati dilakukan tanpa proses pemupukan atau perlakuan sehingga, penelitian dilakukan hanya dengan mendata berat masing-masing komponen tanaman seperti: umbi bersih, batang, daun, dan kulit umbi. Pada saat pengambilan contoh tanah dan tanaman, dilakukan pengamatan pengelolaan pertanaman secara langsung dan wawancara dengan petani.

3.3.1 Pengambilan Sampel Tanah dan Tanaman

Pengambilan sampel tanah komposit dan tanaman dilakukan dalam 3 ulangan pada setiap lokasi pertanaman singkong. Produksi biomassa tanaman (umbi bersih, batang, daun dan kulit umbi) ditimbang di lapang, kemudian contoh masing masing bagian tanaman dan sampel tanah dibawa ke laboratorium untuk dianalisis serapan N, P dan K dan kandungan karbohidrat, protein, lemak, holoselulosa dan lignin

.

3.3.2 Analisis Tanah, Tanaman dan Pengolahan Data

Umbi, batang, daun, dan kulit yang dianalisis di laboratorium terlebih dahulu dihaluskan dengan cara digiling terkecuali umbinya yang ditepungkan. Langkah yang dilakukan dalam pembuatan tepung adalah dengan pengirisan secara tipis untuk umbi singkong, dan dicacah kecil-kecil untuk batang, daun, dan kulit. Kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 65ºC, dan kemudian digiling. Umbi yang telah berbentuk tepung kemudian dianalisis N, P, K, protein, karbohidrat dan lemak; Batang dilakukan analisis N, P, K, lignin dan holoselulosa, sedangkan daun dan kulit hanya N, P dan K saja. Metode analisis disajikan pada Tabel 5. Data lapang dan laboratorium diolah dengan menggunakan Microsoft Excel.

Tabel 5. Metode Analisis untuk Tanah dan Tanaman

No Jenis Analisis Metode

A Tanah

1. Kemasaman tanah (pH H2O 1 : 2.5) pH meter

2. C-organik Walkley and Black

3. N-total Kjeldahl

4. P tersedia Bray I

5. KTK dan Basa-basa (K, Na, Ca, Mg) NH4OAc, pencucian B Tanaman 1. Holoselulosa SNI No 01-1303-1989 2. Lignin SNI N0 0492-2008 3. Karbohidrat Iodometri, 4. Protein Kjeldhal 5. Lemak Soxhlet 6 N Kjeldahl 7 P Pengabuan kering 550°C 8 K Pengabuan kering 550°C

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Lahan Pertanaman Singkong di Lokasi Penelitian

Pemilihan lokasi contoh pertanaman dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan jenis tanah yang ditanami singkong yaitu di daerah Cikarawang Darmaga (Latosol), Sindang Barang (Regosol), dan Sukamantri (Andisol). Tanah dari ketiga daerah pertanaman, ditanami singkong secara monokultur tanpa adanya pemupukan. Namun dikarenakan lahan untuk pertanaman singkong tersebut pada waktu-waktu sebelumnya secara bergilir atau tumpang sari ditanami juga dengan tanaman lain seperti: jagung, ubi jalar, atau tanaman hortikultura, maka dimungkinkan adanya residu pupuk anorganik dan pupuk kandang. Keterangan tersebut diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani.

Penggunaan lahan mayoritas di Cikarawang Darmaga, adalah kebun campuran. Komoditas yang sering diusahakan antara lain singkong, jagung, pepaya, dan ubi jalar yang ditanam secara bergilir maupun tumpang sari. Lahan lokasi pengamatan memiliki luas 700 m2 dengan topografi lahan memiliki kemiringan lereng landai yaitu sekitar 0 - 2%. Jarak tanam singkong yang diterapkan adalah 80 × 80 cm dengan produktivitas berkisar 2 ton umbi kotor/700 m2. Lokasi ini mempunyai ketinggian 240 mdpl

Penggunaan lahan mayoritas ditemukan di Sindang Barang, adalah pemukiman dan sebagian kecil kebun. Komoditas yang sering diusahakan antara lain singkong dan pisang. Lokasi yang dijadikan contoh merupakan kebun singkong dengan luas 300 m2. Topografi tempat tergolong landai dengan lereng yaitu sekitar 2 - 8%. Jarak tanam singkong yang diterapkan adalah 50 × 50 cm dengan produktivitas sesuai informasi petani sekitar 3-5 kwintal umbi kotor/300 m2. Lokasi ini mempunyai ketinggian 300 mdpl.

Penggunaan lahan yang umum di daerah Sukamantri, adalah kebun campuran dan komoditi yang sering ditanami adalah hortikultura dan sebagian kecil ditanami

singkong dan jagung. Lahan tersebut memiliki luasan 330 m2. Topografi tempat pengambilan sampel di tanah tersebut adalah bergelombang yaitu sekitar 15 - 25% . Jarak tanam yang diterapkan adalah 50 × 50 cm dengan produktivitas sesuai informasi petani sekitar 5 kwintal umbi kotor/330 m2. Lokasi ini mempunyai ketinggian 540 dpl.

4.2. Sifat Kimia Tanah Latosol, Regosol, dan Andisol

Data sifat kimia tanah dan harkatnya berdasarkan PPT (1983) disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Sifat Kimia Tanah (Latosol Cikarawang, Regosol Sindang Barang, Andisol Sukamantri)

Sifat Kimia Latosol Cikarawang Regosol Sindang Barang Andisol Sukamantri

Nilai Harkat Nilai Harkat Nilai Harkat

pH H2O (1:2.5) 5.53 Masam 6.23 agak masam 5.47 Masam

C-organik (%) 1.71 rendah 1.60 rendah 2.55 Sedang

KTK (me/100 g) 18.99 Sedang 25.63 Tinggi 14.87 Rendah

N-total (%) 0.19 Rendah 0.16 Rendah 0.23 Sedang

P-tersedia (ppm P) 11.16 Rendah 9.45 sangat rendah 4.36 sangat rendah

K-dd (me/100 g) 0.28 Rendah 0.89 Tinggi 0.31 Sedang

Ca-dd (me/100 g) 8.02 Sedang 16.34 Tinggi 7.96 Sedang

Mg-dd (me/100 g) 2.53 Tinggi 1.88 Sedang 1.38 Sedang

Na-dd (me/100 g) 0.40 Sedang 0.73 Sedang 0.34 Rendah

Al-dd (me/100 g) Tr tr tr

H-dd (me/100 g) 0.04 0.04 0.04

Keterangan tr : Tidak terukur; keterangan Harkat adalah kategori kriteria PPT (1983)

Berdasarkan data dari Tabel 6 terlihat bahwa pH H2O pada Latosol Cikarawang sebesar 5.53, tergolong tanah masam. Kandungan C-organik sebesar 1.71% dan tergolong rendah. Kapasitas tukar kation (KTK) sebesar 18.99 me/100g, tergolong sedang, sedangkan untuk N-total sebesar 0.19% dan tergolong rendah. P-tersedia untuk Latosol Cikarawang termasuk rendah yaitu sebesar 11.16 ppm P. Kandungan K juga termasuk rendah, yaitu sebesar 0.28 me/100g. Kandungan

basa-basa pada Latosol Cikarawang seperti Ca, Mg, dan Na memiliki nilai yang bervariasi. Ca sebesar 8.02 me/100g yang tergolong sedang, Mg sebesar 2.53 me/100g yang tergolong tinggi, dan Na tergolong sedang yaitu sebesar 0.40 me/100g.

Regosol Sindang Barang termasuk agak masam memiliki pH 6.23. Kandungan C-organik sebesar 1.60% dan tergolong rendah. Kapasitas tukar kation untuk Regosol Sindang Barang sebesar 25.63 me/100g tergolong tinggi. N-total sebesar 0.16% dan tergolong kriteria rendah. P tersedia termasuk kriteria sangat rendah yaitu sebesar 9.45 ppm P. Kandungan K pada Regosol Sindang Barang adalah 0.89 me/100g yang tergolong tinggi. Kandungan basa-basa lain pada Regosol Sindang Barang memiliki nilai yang bervariasi sama seperti pada tanah Latosol Cikarawang. Nilai Ca Regosol Sindang Barang sebesar 16.34 me/100g yang tergolong tinggi, Mg sebesar 1.88 me/100g tergolong sedang, dan Na tergolong sedang yaitu 0.73 me/100g.

Andisol Sukamantri memiliki pH 5.47 tergolong masam. Kandungan C-organik tergolong rendah yaitu sebesar 2.55%. Kapasitas tukar kation (KTK) Andisol Sukamantri bernilai 14.87 me/100g tergolong rendah. N-total sebesar 0.23% yang tergolong sedang. P tersedia memiliki kandungan 4.36 ppm P termasuk sangat rendah, sedangkan kandungan K 0.31 me/100g yang tergolong sedang. Kandungan basa-basa pada Regosol Sindang Barang sama seperti dua tanah lainnya yang memiliki nilai bervariasi. Nilai Ca Andisol Sukamantri sebesar 7.96 me/100g yang tergolong sedang, Mg sebesar 1.38 me/100g tergolong sedang, kemudian Na tergolong rendah dengan nilai 0.34 me/100g.

Latosol Cikarawang dan Andisol Sukamantri termasuk tanah yang tergolong masam, sedangkan Regosol Sindang Barang tergolong agak masam. Kandungan C-organik total tanah Andisol Sukamantri lebih tinggi dibandingkan Latosol Cikarawang dan Regosol Sindang Barang. Kapasitas Tukar Kation terendah sampai yang tertinggi dimiliki Andisol Sukamantri, kemudian Latosol Cikarawang, dan Regosol Sindang Barang.

N-total tanah Andisol Sukamantri lebih tinggi dibandingkan dengan Latosol Cikarawang dan Regosol Sindang Barang dimana keduanya tergolong rendah.

P-tersedia dalam tanah Andisol Sukamantri dan Regosol Sindang Barang sangat rendah, sedangkan P-tersedia Latosol Cikarawang lebih tinggi namun juga masih tergolong rendah. Kadar K-dd dari yang terendah sampai tertinggi berturut-turut dimiliki oleh tanah Latosol Cikarawang, Andisol Sukamantri, dan Regosol Sindang Barang.

Kandungan basa-basa yang dapat ditukar pada ketiga tanah tergolong dalam kisaran rendah sampai tinggi, nilai lebih tinggi terdapat pada tanah Regosol Sindang Barang, diikuti oleh Latosol Cikarawang, dan Andisol Sukamantri. Kandungan Ca-dd dan Mg-dd pada Andisol Sukamantri dan Latosol Cikarawang tergolong sedang, sementara pada Regosol Sindang Barang keduanya tergolong tinggi. Ketiga tanah memiliki kandungan basa-basa dapat ditukar secara relatif dalam urutan Ca > Mg > K ≈ Na. Kriteria tersebut menggambarkan tanah-tanah pertanian yang baik tanpa memiliki masalah terkait dengan pengaruh negatif dari natrium.

Berdasarkan KTK, C-organik, N-total, P-tersedia, K-dd, Ca-dd dan Mg-dd, maka Regosol Sindang Barang relatif paling subur, diikuti oleh Andisol Sukamantri. Sementara Latosol Cikarawang relatif paling tidak subur. Hal ini disebabkan oleh kandungan unsur makro utama seperti N, P, dan K pada Latosol Cikarawang relatif rendah, sedangkan Regosol Sindang Barang relatif rendah dalam kandungan N dan P, sementara Andisol Sukamantri relatif rendah dalam kandungan P.

Toksisitas ketiga tanah ditinjau dari kandungan Al-dd dan H-dd relatif tidak terlihat. Hal ini ditunjukkan oleh kadar Al-dd pada ketiga tanah yang tidak terukur, sedangkan kandungan H-dd pada ketiga tanah relatif sangat rendah yaitu hanya sebesar 0.04 me/100g.

Berdasarkan peninjauan dari hasil tabel sifat kimia dari ketiga tanah tersebut, tanah yang cocok untuk budidaya tanaman singkong dalam produksi biomassa dari yang terbaik yaitu tanah Latosol Cikarawang, kemudian Andisol Sukamantri, dan Regosol Sindang Barang.

4.3. Produksi Biomassa Singkong

Produksi biomassa singkong ditetapkan secara keseluruhan, kemudian dipisahkan berdasarkan empat bagian organ tanaman, yaitu : umbi bersih, batang, daun, dan kulit. Data produksi biomassa singkong pada ketiga tanah disajikan pada Gambar1.

Gambar 1. Produksi biomassa singkong pada tiga tanah.

Berdasarkan Gambar 1, secara keseluruhan dapat dilihat bahwa produksi biomassa singkong (berat kering 65ºC), pada tiga tanah berbeda dimana produksi tertinggi ditemukan pada Latosol Cikarawang yaitu sebesar 29.8 ton/ha, diikuti oleh Andisol Sukamantri dan Regosol Sindang Barang yaitu sebesar 16.3 ton/ha dan 9.0 ton/ha. Pemisahan produksi biomassa menjadi umbi bersih, batang, daun dan kulit umbi, menunjukkan pola yang berbeda dengan produksi keseluruhan. Sebagaimana disajikan pada Gambar 1, terlihat bahwa produksi umbi bersih singkong tertinggi terdapat pada Latosol Cikarawang yaitu 27.1 ton/ha dibandingkan dengan Andisol Sukamantri dan Regosol Sindang Barang yang mempunyai produksi umbi bersih 11.4 ton/ha dan 4.9 ton/ha. Produksi Singkong tertinggi pada Latosol Cikarawang diduga berkaitan dengan kadar P tersedia yang terkandung di dalam tanah tersebut,

27.1 1.5 0.4 0.8 29.8 4.9 2.3 1.0 0.8 9.0 11.4 3.2 1.3 0.4 16.3 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0

Umbi bersih Batang Daun Kulit total

Pr oduk si   to n   /ha

karena unsur P mempunyai fungsi untuk mempercepat pematangan pada umbi (Suprapti, 2005). Rendahnya umbi singkong pada Andisol Sukamantri dibandingkan dengan tanah Latosol Cikarawang disebabkan karena pada Andisol Sukamantri memiliki ketinggian tempat (altitut) yang lebih tinggi dan kondisi iklim yang berbeda dari pada Latosol Cikarawang yang membuat proses pembesaran umbi menjadi terhambat serta rendahnya P tersedia pada tanah tersebut sehingga pembesaran umbi tidak optimum seperti pada Latosol Cikarawang, sedangkan rendahnya produksi umbi pada Regosol Sindang Barang dibandingkan kedua tanah lainnya disebabkan karena faktor struktur yang dominan berpasir sehingga penyerapan hara pada akar umbi tidak optimum selain itu faktor kesesuaian tanaman singkong yang tidak optimum pada tanah yang dominan berpasir.

Biomassa batang singkong tertinggi pada tanah Andisol Sukamantri mencapai 3.2 ton/ha diikuti oleh tanah Regosol Sindang Barang dengan biomassa 2.3 ton/ha dan terendah pada Tanah Latosol Cikarawang dengan biomassa hanya 1.5 ton/ha. Batang singkong tersebut dikarenakan, mengandung holoselulosa yang tinggi dapat digunakan untuk produksi alkohol. Produksi biomassa daun tertinggi terdapat pada Andisol Sukamantri sebesar 1.3 ton/ha diikuti dengan Regosol Sindang Barang dan Latosol Cikarawang yang produksi biomassa daunnya 1.0 ton/ha dan 0.4 ton/ha. Produksi kulit tertinggi terdapat kesamaan pada Latosol Cikarawang dan Regosol Sindang Barang yaitu 0.8 (ton/ha) dan Andisol Sukamantri yang memiliki produksi kulit 0.4 (ton/ha). Hasil produksi biomassa daun dan kulit tersebut akan didata untuk mengetahui berapa biomassa yang dikembalikan ke dalam tanah.

Berdasarkan hasil biomassa di atas dapat disimpulkan Latosol Cikarawang memiliki biomassa total yang jauh lebih tinggi dari dua tanah lainnya. Tingginya produksi biomassa pada Latosol Cikarawang terkonsentrasi pada umbi singkongnya yaitu sekitar 91%, sementara pada Andisol Sukamantri hanya 70% dan pada Regosol Sindang Barang 54% dari produksi total.

4.4. Kandungan Senyawa Organik Umbi dan Batang Singkong

Singkong memiliki beberapa kandungan senyawa organik dalam setiap bagian tubuh tanaman seperti umbi dan batang yang terdiri: karbohidrat, protein, lemak untuk umbi dan holoselulosa, lignin untuk potensi batang yang masing-masing mempunyai fungsi berbeda-beda. Pada Tabel 7, dapat dilihat kadar beberapa senyawa organik pada umbi yang meliputi: karbohidrat, protein, dan lemak sedangkan pada Tabel 8, dapat dilihat beberapa kandungan senyawa organik pada batang yaitu: holoselulosa dan lignin.

Tabel 7. Kandungan Karbohidrat, Protein, dan Lemak pada Umbi.

Tanah   Karbohidrat (%)  Protein (%)  Lemak (%) 

Latosol 74.22 3.31 0.27 

Regosol  72.55  2.30  0.50 

Andisol  77.64  2.32  0.50 

Karbohidrat merupakan unsur penting dalam kehidupan sehari-hari sebagai penghasil tenaga atau energi. Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa kadar karbohidrat umbi singkong tertinggi terdapat pada Andisol Sukamantri yaitu 77.64% yang diikuti dengan Latosol Cikarawang dengan nilai 74.22%, dan Regosol Sindang Barang sebesar 72.55%. Umbi singkong dengan kadar karbohidrat yang tinggi sangat cocok sebagai bahan panganan.

Nilai kadar protein untuk umbi singkong tertinggi terdapat pada Latosol Cikarawang sebesar 3.31% disusul Andisol Sukamantri 2.32%, dan terendah Regosol Sindang Barang sebesar 2.30%.

Nilai kadar Lemak umbi singkong yang tertinggi terdapat pada Andisol Sukamantri dan Regosol Sindang Barang dengan nilai kandungan 0.50%, sedangkan kadar Lemak terendah terdapat pada Latosol Cikarawang sebesar 0.27%.

Tabel 8. Kandungan Holoselulosa dan Lignin pada Batang.

Tanah  Holoselulosa (%)  Lignin (%) 

Latosol  50.94  23.54 

Regosol  52.49  19.96 

Berdasarkan Tabel 8, dapat dilihat batang singkong mempunyai senyawa organik holoselulosa dan lignin, yang diproduksi pada tiga tanah berbeda mempunyai kadar yang bervariasi. Kadar Holoselulosa tertinggi terdapat pada Regosol Sindang Barang sebesar 52.49%, sedikit lebih tinggi dibandingkan pada Latosol Cikarawang yang memiliki kadar sebesar 50.94%. Terendah pada tanah Andisol Sukamantri yang memiliki kadar Holoselulosa sebesar 44.23%. Batang Singkong selain mempunyai Holoselulosa Singkong juga memiliki kandungan Lignin, (Lawford dan Rousseau, 2000). Lignin, berfungsi untuk mempertebal jaringan serat kayu tanaman yang membuat batang menjadi agak keras pada suatu tanaman.

Berdasarkan Tabel 8, kadar Lignin tertinggi terdapat pada Latosol Cikarawang dengan nilai 23.54% dibandingkan dengan 2 tanah lainnya yaitu Regosol Sindang Barang dan Andisol Sukamantri yang masing-masing sebesar 19.96% dan 18.70%..

4.5. Serapan N, P dan K

Serapan hara singkong pada ketiga tanah menunjukan bahwa masing-masing tanah memiliki serapan yang berbeda-beda. Berikut disampaikan data serapan N, P dan K dari beberapa bagian tanaman.

Dokumen terkait