BAB IV IMPLEMENTASI PROGRAM
A. FALSAFAH PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA DI SEKOLAH
a. Peserta mampu memahami dan beragumentasi mengenai konsep filsafat b. Peserta mampu menerapkan pemikiran dalam teori filsafat dalam mengkaji
permasalahan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
c. Peserta dapat melakukan analisis dan sintesis isu-isu kekinian dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga di Indonesia
2. Materi
Berdasarkan fakta sejarah, olahraga merupakan entitas tertua dalam rentang hidup manusia. Sekian banyak ahli setuju bahwa konsep Homo Ludens yakni kebermainan manusia seperti apa yang dikatakan Johan Huizinga adalah merupakan cikal bakal olahraga. Dari berbagai bukti sejarah peradaban manusia menunjukkan bahwa kebermainan manusia tersebut hadir bersamaan dengan kehadiran manusia. Untuk itu Huizinga menyatakan bahwa entitas bermain itu lebih tua dari kebudayaan.
Begitu banyak orang membicarakan mengenai budaya dan pendidikan sampai terkadang sulit untuk difahami apa sebenarnya makna dari budaya itu sendiri. Ungkapan yang paling sering didengar adalah bahwa budaya adalah semua bentuk hasil dari budi dan daya manusia. Namun apakah sesederhana itu pengertian dari budaya? Tentu saja tidak—saat ini suatu hasil karya bisa diakui sebagai sebuah budaya tatkala memenuhi suatu prasyarat yang tidak bisa dibilang sederhana. Misalkan saja seperti apa yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat, bahwasanya suatu budaya bisa diurai dalam tujuh unsur, yaitu:
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
23
sistem religi, sistem mata pencaharian, sistem tata pemerintahan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi, bahasa, serta seni.
Pendidikan, demikian akrab dilafazkan sebagi sebuah bentuk hakiki dalam pencerahan logika dalam upaya membentuk manusia seutuhnya. Lebih lanjut, pendidikan kerab disandingkan dengan sekolah. Sekolah merupakan basis penting dalam perkembangan dan pertumbungan peserta didik. Dalam hal ini, sinergi antara guru dengan anak didik akan berimplikasi terhadap aspek humanis peserta didik. Humanisme ini sangat layak dan urgent untuk selalu ada dalam berbagai tataran pendidikan. Agar tercipta sebuah tatanan manusia yang beradap diperlukan adanya pemikiran. Pemikiran ini menyiapkan, menata, dan menghebatkan sumber daya yang ada di diri manusia. Dalam konsep filsafat Platon diistilahkan dengan Arete, yang bermakna optimalnya daya terbaik manusia. Optimalnya daya terbaik manusia tentu membutuhkan ruang yang dinamis, dan Pendidikan Jasmani dan olahraga adalah jawabannya. Mengutip apa yang telah dikatakan oleh Socrates “aku tahu bahwa aku tidak tahu” memberikan sinyal bahwa dia haus akan pengetahuan yang meninggikan dirinya dalam berpikir dan bertindak sehingga jiwa menjadi autokineton atau gerak yang menggerakkan dirinya sendiri.
Filsafat yang hingga kini menjadi hal yang kurang populis dalam Pendidikan Jasmani dan olahraga, kajian yang diasumsikan sebagai suatu hal yang berat, tidak berguna dan hanya menghabiskan waktu. Hipotesa tersebut ada benarnya karena wilayah ini jarang disentuh sebagai pondasi pemikiran, melatarbelakangi aspek rasional manusia. Louis O. Katsoff memaparkan bahwa filsafat tidak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mencapai taraf hidup yang lebih tinggi, melukiskan teknik-teknik baru dalam membuat bom atom. Sebenarnya jika dalam bingkai filsafat anda mencari jawaban yang disepakati oleh semua filsuf sebagai hal yang benar, maka anda akan kecewa dan bersedih hati. Dari paparan yang telah disampaikan nampak jelas bahwa dalam berfilsafat manusia dalam hal ini para guru Pendidikan Jasmani dan olahraga yang memiliki dwi fungsi sebagai pendidik dalam konteks intrakurikuler dan perannya sebagai pelatih pada lingkup ekstrakurikuler. Multiperan yang melekat pada guru Pendidikan Jasmani dan olahraga haruslah dilandasi dengan kemampuan berlogika yang mumpuni. Proses berpikir akan melahirkan sebuah tindakan yang dapat diasumsikan mempunyai peran lebih dalam optimalisasi daya terbaik manusia. Pemikiran-pemikiran yang
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
24
telah ada dan berkembang oleh para filusuf dari berbagai latarbelakang keilmuan. Keanekaragaman pemikiran ini penting sebagai rujukan dalam berpikir. Gagasan dan definisi yang begitu kaya tesebut hendaknya tidak menggelisahkan, melainkan sebaliknya justru menampakkan betapa luas ranah filsafat, sehingga ia bisa bergerak dengan luwes dan leluasa.
Materi filsafat dalam kajian ini diharapkan para guru Pendidikan Jasmani dan olahraga yang berperan sebagai pelatih cabang olahraga di ekstrakurikuler sekolah dasar mampu menjelaskan mengenai konsep filsafat, terlebih menerapkan teori filsafat dalam mengkaji permasalahan Pendidikan Jasmani dan olahraga, sehingga pada akhirnya mampu melakukan analisis dan sintesis mengenai isu-isu kekinian Pendidikan Jasmani dan olahraga.
Pertanyaan filsafati hampir tidak mungkin untuk dihindari dalam kehidupan manusai, terlebih dalam setting sekolah. Untuk dapat menemukan jawaban dari pertanyaan filsafati yang menyeruak, hal yang perlu diingat adalah jawaban atas pertanyaan tersebut bersifat logis, spekulatif, dan deskriptif dengan merunut pada tiga langkah pemecahan masalah yakni membuat tesis, menjelaskan masalah, dan mencari argumen. Rene Descartes dalam perkataannya “aku berpikir maka aku ada” menggambarkan urgensi proses berpikir dalam konstelasi keberadaan manusia dan dengan begitu para guru dan pelatih akan menghargai pendapat dan pemikiran orang lain yang pada muaranya menguatkan eksistensi wacana berpikir yang bersifat dialektik, sensitif dan responsif terhadap gejala yang ada di lapangan sehingga mampu bijak dalam mencapai kebermaknaan hidup.
a. Definisi Filsafat
Mendefinisikan filsafat merupakan kegiatan yang sulit. Hal itu dikarenakan masing-masing orang menggunakan pengetahuan dan sudut pandang yang berbeda-beda, dan filsafat sendiri merupakan pengetahuan atau ilmu yang bersifat subyektif, sehingga tingkat relatifitasnya sangat tinggi. Disamping itu, filsafat merupakan bidang ilmu atau sesuatu yang abstrak dan rumit. Abstrak berarti sulit menunjukkan wujudnya, artinya filsafat bukan ilmu konkrit yang dapat dengan mudah untuk diindera, sedangkan rumit diartikan sebagai kompleksitas pelaku filsafat dalam “bekerja” (berfilsafat), karena mencakup bidang yang sangat luas dan dengan beragam pendapat, sudut pandang dan latar belakang pelaku yang berbeda. Terdapat tiga sudut pandang yang
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
25
digunakan dalam mengkaji filsafat, pertama filsafat dipandang dari etimologinya, kedua dari arti praktis dan ketiga dari segi terminologi. Dari segi etimologi, filsafat dikaji dari asal katanya; dari segi praktis, filsafat dikaji dari aspek tindakan nyata apa yang dilakukan sesorang yang sedang berfilsafat, sedang dari segi terminologi, pengertian filsafat dihubungkan dengan berbagai konteks (situasi/keadaan) tertentu yang terjadi pada manusia.
Jabaran mengenai konsep filsafat berimplikasi pada penerapan filsafat dalam Pendidikan Jasmani dan olahraga yang dapat dipaparkan sebagai berikut. 1) Dengan filsafat, makna hakiki Pendidikan Jasmani dan olahraga dapat
terjelaskan. Hal itu memudahkan pelaku Pendidikan Jasmani dan olahraga dalam merumuskan arti, fungsi, dan tujuan dari Pendidikan Jasmani dan olahraga, sehingga dapat dieliminir tindakan-tindakan yang menyimpang dari makna hakiki tersebut.
2) Dengan filsafat, bidang kajian Pendidikan Jasmani dan olahraga dapat terjelaskan. Hal itu membantu guru dalam menyusun serangkaian materi dan kegiatan pembelajaran/pelatihan yang relevan, dan menghindari adanya tumpang tindih cakupan dengan bidang ilmu lain.
3) Dengan filsafat, pelaku Pendidikan Jasmani dan olahraga memiliki daya pikir, sikap, dan tindak yang tepat/benar dalam menghadapi suatu persoalan.Melalui pembelajaran filsafat maka seseorang akan mampu pandangan hidup sebagai pedoman hidup. Filsafat sebagai pedoman hidup memberikan semacam panduan jalan yang harus dilalui oleh seseorang sehingga ia dapat melihat hidup itu menjadi bermakna.
4) Dengan berpikir secara filsafati maka pelaku Pendidikan Jasmani dan olahraga dapat memecahkan persoalan-persoalan hidup yang dihadapi. Filsafat sebagai pandangan hidup dapat digunakan oleh guru/pelatih untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang ada di sekitar dirinya.
5) Dengan berpikir secara filsafati, guru/pelatih dengan bantuan logika tidak mudah untuk tertipu dengan pernyataan-pernyataan retoris yang bersifat menyesatkan.
6) Dengan berpikir secara filsafati maka guru/pelatih mampu menghargai pendapat dan pemikiran orang lain, baik yang memiliki persamaan maupun perbedaan dengan dirinya. Berpikir filsafat berarti berpikir demokratis. Ini berarti bahwa dalam berpikir filsafat, orang dilatih untuk menghargai pendapat atau pemikiran orang yang berbeda dari dirinya. Orang yang memiliki
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
26
kemampuan berfilsafat yang tinggi akan menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh orang lain seperti juga ia menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh dirinya. Dalam hal ini perbedaan pendapat dan perbedaan pemikiran dianggap sebagai suatu eksistensi wacana berpikir yang bersifat dialektika sebagai upaya manusia sebagai makhluk berpikir untuk mencari kebenaran.
Memang bukan berapa banyak tokoh beserta pemikiran yang telah kita kuasai, melainkan bagaimana pemikiran para tokoh tersebut mampu mewarnai dalam mendukung kinerja sebagai seorang guru sekaligus pelatih olahraga pada level ekstrakurikuler di sekolah dasar. Sederhananya, ketika kita berada pada sebuah jamuan pesta makan, janganlah berbicara mengenai tatacara makan kepada semua orang, melainkan perlihatkanlah bahwa cara anda makan sesuai tatanan dan elegan.
b. Penerapan Filsafat dalam Mengkaji Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Dua tema besar dalam relevansinya dengan kajian filsafat Pendidikan Jasmani dan olahraga mengarah pada konsep pendidikan dan Pendidikan Jasmani. Konsep ini menginspirasi aplikasi kata pendidikan dengan Pendidikan Jasmani secara silih berganti. Kemudian, kajian ini diteruskan oleh tema besar yang kedua yakni perkembangan orientasi nilai Pendidikan Jasmani dan olahraga.
Pendidikan Jasmani merupakan terjemahan dari physical education. Penafsiran dan implementasi Pendidikan Jasmani di sekolah seringkali terjadi perbedaan. Tafsiran pertama, sering disebut sebagai pandangan tradisional, menganggap bahwa Pendidikan Jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Menurut pandangan ini, pelaksanaan Pendidikan Jasmani cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan; memperhebat keterampilan fisik, atau kemampuan jasmaniahnya saja. Bahkan lebih dari itu, pelaksanaan Pendidikan Jasmani ini justru sering kali mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, seperti penggunaan obat-obat terlarang untuk meraih performa yang lebih baik. Namun, berdasarkan sudut pandang pendidikan, pandangan ini tidak mendapat pengakuan. Analisis kritis dan pertimbangan logis ternyata kurang mendukung terhadap pandangan
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
27
dikhotomi tersebut. Fakta dan temuan lapangan cenderung memperkuat pandangan yang bersifat holistik.
Pendidikan Jasmani adalah pendidikan melalui dan tentang aktivitas fisik atau dalam bahasa aslinya adalah Physical education is education of and through movement. Terdapat tiga kata kunci dalam definisi tersebut, yaitu 1) pendidikan (education), yang direfleksikan dengan kompetensi yang ingin diraih siswa 2) melalui dan tentang (through and of), sebagai kata sambung yang menggambarkan keeratan hubungan yang dinyatakan dengan berhubungan langsung dan tidak langsung dan 3) gerak (movement), merupakan bahan kajian (aktivitas permainan, aquatik, rithmik, uji diri, dsb) sebagaimana tertera dalam kurikulum Pendidikan Jasmani. Konsep konkret Pendidikan Jasmani yang melingkupi program dan proses belajar mengajar tertuang pada ilustrasi di bawah ini.
Ilustrasi Keterkaitan Konsep, Program, dan PBM Penjas
Berdasarkan definisi tersebut cukup jelas bahwa posisi movement atau dalam kurikulum disebut bahan kajian yang terdiri dari tujuh bahan kajian (aktivitas permainan dan olahraga, aktivitas pengembangan, aktivitas uji diri/senam, aktivitas ritmik, aktivitas air/aquatik, aktivitas luar kelas, dan kesehatan), dapat ditempatkan sebagai alat atau tujuan. Bahan kajian ditempatkan sebagai alat manakala tujuan yang ingin diraih berupa kompetensi personal dan sosial, sedangkan bahan kajian sebagai tujuan manakala tujuan yang ingin diraih berupa kompetensi akademis dan vokasional.
Physical Education
is
Education through and of Movement
akt perm dan OR akt pengembangan, akt uji diri,
akt ritmik, akt air,
akt luar sek/alam bebas pend kesehatan
Tujuan Pendidikan Nasional (life skills) GBPP SILABUS/RPP KOMPETENSI Personal Social Akademis Vocational Through and of TEACHING LEARNING PROCESS
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
28
Pendidikan Jasmani dan olahraga memiliki dua keuntungan utama yaitu keuntungan fisik dan edukasi (Bailey, 2009). Keuntungan fisik meliputi: kebugaran, keterampilan gerak, dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik (gaya hidup aktif). Sedangkan keuntungan edukasi meliputi: sosial, afektif, dan kognitif. Pengalaman belajar Pendidikan Jasmani yang diperoleh siswa di sekolah pada dasarnya merupakan proses penanaman nilai-nilai edukasi melalui aktivitas fisik dan olahraga yang disediakan oleh gurunya, yang pada gilirannya kebiasaan baik tersebut dapat dipraktekkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari siswa di masyarakat sepanjang hidupnya. Sebaliknya praktek salah yang terjadi pada aktivitas fisik dan olahraga di masyarakat hendaknya merupakan feedback bagi pengembangan pembelajaran Pendidikan Jasmani di sekolah. Dengan demikian Pendidikan Jasmani selalu berinteraksi secara positif, reflektif, dan berkelanjutan mendidik satu generasi ke generasi berikutnya menuju kehidupan yang lebih baik.
Aktivitas fisik dalam Pendidikan Jasmani berfungsi sebagai media pendidikan yang memberikan beragam manfaat diantaranya.
1) Orientasi nilai fisikal dalam Pendidikan Jasmani 2) Orientasi nilai sosial dari Pendidikan Jasmani 3) Orientasi afektif dari Pendidikan Jasmani 4) Orientasi nilai kognitif dari Pendidikan Jasmani
Utilitas Pendidikan Jasmani berdampak luas pada semua ranah yang ingin dituju. Orientasi fisikal, sosial, afektif dan kognitif adalah kerangka komprehensif menuju optimumnya daya-daya terbaik yang ada pada peserta didik dan guru berkewajiban untuk mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi.
Mencermati isu-isu kekinian yang berkembang dalam Pendidikan Jasmani dan olahraga telah mengarah pada hampir semua aspek kajian Pendidikan Jasmani dan olahraga. Pertanyaan mendasar yang kemudian muncul adalah mampukah kita membayangkan dimasa mendatang Pendidikan Jasmani tidak lagi mewujud?. Beragam spekulasi tentang eksistensi Pendidikan Jasmani tengah berkembang. Pendidikan Jasmani telah bergerak menuju dekontektualisasi dan dekonstruksi materi beserta aplikasinya. Sementara itu guru Pendidikan Jasmani kurang dipersiapkan secara akademis sehingga di lingkup sekolah, Pendidikan
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
29
Jasmani berada pada posisi yang mengkhawatirkan dan bergerak pada kepunahan. Paulo Freire, seorang ahli critical pedagogy dalam bukunya Pedagogy of Hope mengkritisi kondisi pendidikan seperti ini sebagai penjajahan dan penindasan yang harus dirubah menjadi pemberdayaan dan pembebasan. Freire mengungkapkan bahwa proses pembelajaran nampak seperti sebuah kegiatan menabung, peserta didik sebagai ”celengan” dan guru sebagai ”penabung”.
Kontras dengan hal di atas, konstruksi sosial yang ada di masyarakat sangat beragam dan imbasnya mengarah kepada budaya belajar dan gerak. Budaya belajar dan gerak tengah mengalami krisis yang tentu tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Dibutuhkan kerja keras dan usaha dari keluarga, masyarakat dan sekolah dalam proses habituasinya. Sembiosa antar ketiganya akan mampu menumbuhkembangkan kembali budaya gerak yang telah mulai terkikis. Ada beberapa isu faktual diantaranya: 1) policy, power and politics in PE; 2) physical activity, physical fitness health & young people; 3) teacher, teaching and pedagogy in PE; 4) gender and PE; 5) social class, young people, sport & PE; 6) inclusion, special education needs, disability & PE. Revitalisasi dan bahkan revolusi Pendidikan Jasmani harus dimulai dalam tatanan terkecil masyarakat yang bermanifestasi dalam sebuah kelas yang meliputi lingkup pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Pendidikan Jasmani yang diajarkan di sekolah sudah saatnya kembali kepada bentuk dasar dari tujuan anak mengikutinya yakni bergerak. Untuk mencapainya diperlukan pemikiran yang tajam dan kritis. Guru sebagai pelatih menggunakan beragam pendekatan yang memungkinkan semua ranah berkembang sebagaimana mestinya.
3. Penutup
Filsafat bukan merupakan bidang kajian yang memunculkan mistisisme, melainkan menawarkan jalan untuk mencerahkan dalam hubungannya dengan pencarian kemapanan berpikir dan bertindak. Pengetahuan yang ada memberikan pondasi kuat untuk beralih dari cara berpikir konvensional menjadi kritis. Michael Foucault mengadirkan sesuatu yang menarik dalam hipotesis Power of Knowledge dimana pengetahuan ada kuasa. Dengan berpengetahuan kita mampu untuk berkuasa, memberikan ruang memanifestasikan kekuasan dalam suatu institusi dan penegasan kuasa yang dijalankan dalam kuasa yang positif, produktif dan tidak menindas. Implikasi dalam Pendidikan Jasmani dan
PANDUAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN EKSTRKURIKULER OLAHRAGA (Melalui Klub Olahraga di Sekolah Dasar)
30
olahraga secara kritis, radikal dan bijak menghasilkan kebenaran dan kebijaksanaan. Terlebih, terminologi Pendidikan Jasmani dalam terminologi holistik cenderung banyak dianut oleh para pakar Pendidikan Jasmani dewasa ini. Penekanan utama pada definisi ulang dan penelaahan kembali konsep play, game, dan sport. Perubahan-perubahan orientasi Pendidikan Jasmani dan olahraga memiliki keuntungan fisik dan kebermanfaatan edukatif. Akhirnya dualisme substansi, dualisme nilai, dan dualisme tindakan secara arif mampu ditelaah dan disikapi.
B. PENDIDIKAN KARAKTER DALAM OLAHRAGA