BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Aminophylline
2.5.2 Farmakodinamik Aminophylline
Aminophylline merupakan bentuk garam dari teofilin. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahan cAMPdan cGMP masing-masing menjadi 5’-AMP dan 5’-GMP. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos termasuk otot polos bronkus (Katzung, 2014).
Berikut ini akan dipaparkan efek Aminophylline pada berbagai organ:
• Sistem saraf pusat
Aminophylline atau teofilin merupakan sebagai perangsang sistem saraf pusat yang kuat, bila dosis pemberian ditinggikan maka mampu memberikan efek berderbar, gelisah, insomnia, tremor, dan kejang. Tetapi dengan dosis rendah metilxantin seperti Aminophylline dapat merangsang system saraf pusat yang sedang mengalami depresi, misalnya pemberian Aminophylline dosis 2 mg/kgbb dengan cepat akan memulihkan keadaan narkosis pada individu yang mendapat 100 mg
30
morfin Intravena untuk anestesia (Louisa, 2011). Bukti empiris menunjukkan bahwa Aminophylline yang diberikan pada akhir operasi dapat mempersingkat waktu pulih sadar dari anestesi umum dan meningkatkan kualitas pemulihan (Huphfl dkk, 2008).
• Medula Oblongata
Metilxantin seperti Aminophylline dapat merangsang pusat nafas pada medula oblongata dengan meningkatkan kepekaan pusat nafas terhadap perangsangan CO2.
Selain itu juga dapat menimbulkan mual dan muntah karena perangsangan sentral maupun perifer. Muntah dapat terinduksi bila kadar dalam plasma melebihi 15 mcg/ml (Louisa, 2011).
• Sistem Kardiovaskular
Pada jantung Aminophylline atau teofilin dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung. Sedangkan pada pembuluh darah Aminophylline atau teofilin menyebabkan dilatasi pembuluh darah termasuk pembuluh darah koroner dan pulmonal karena efek langsung pada otot pembuluh darah. Pada sirkulasi otak xantin menyebabkan hambatan adenosin yang penting untuk pengaturan sirkulasi otak. Pada sirkulasi koroner golongan xantin menyebabkan vasodilatasi arteri koroner dan bertambahnya aliran darah koroner. Selain itu golongan xantin juga meningkatkan kerja jantung atau kontraksi jantung (Louisa, 2011).
• Otot Polos dan Otot Rangka
Golongan xantin dapat merelaksasi otot polos terutama otot polos bronkus dengan menghambat enzim PDE. Aminophylline juga menyebabkan penurunan motilitas usus untuk sementara waktu. Pada otot rangka golongan xantin dapat memperbaiki kontraktilitas dan mengurangi kelelahan otot diafragma (Katzung, 2014).
Semua golongan xantin meningkatkan produksi urin tetapi efeknya hanya sebentar. Diduga efek ini melalui mekanisme penghambatan reabsorbsi elektrolit di tubulus proksimal tanpa disertai perubahan filtrasi ataupun perubahan aliran darah ke
31
ginjal. Golongan xantin dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas dalam plasma dan dapat meningkatkan metabolisme basal (Louisa, 2011).
2.5.3 Efek Aminophylline
Adenosin adalah neuromodulator sistem saraf pusat. Ada 4 subtipe reseptor adenosin yang berada dalam sistem saraf pusat: A1, A2A, A2B, dan A3. Beberapa bukti menunjukkan bahwa kedua subtipe A1R dan A2AR menstimulasi tidur, meskipun subtipe reseptor adenosin yang bertanggung jawab untuk pengaturan tidur masih diperdebatkan. Efek hipnotis adenosin lebih dulu telah dilakukan pada hewan percobaan dan efek tidur(soporific) dari pemberian adenosin sistemik dan pusat juga telah diteliti pada manusia (Turan dkk, 2010).
Stirt melaporkan pada tahun 1981 bahwa Aminophylline merupakan antagonis dari efek hipnotis diazepam. Mekanismenya pada efek antihipnotik Aminophylline adalah sebagai penekan reseptor adenosin pusat. Beberapa studi klinis dan laporan kasus lainnya menunjukkan bahwa Aminophylline memiliki efek antagonis terhadap barbiturat, morfin, propopol, isofluran dan sejenisnya (Turan dkk, 2010).
Durasi dan kedalaman tidur dimodulasi secara mendalam oleh konsentrasi adenosin yang tinggi. Selain pengaruhnya di basal otak depan, adenosin memberi efek efek tidur (soporifik) pada lateral hipotalamus dengan menghambat neuron hypocretin / orexin.
Peningkatan aktivitas neuronal yang berhubungan pembangkitan kesadaran terkait dengan meningkatnya konsentrasi adenosin ekstraselular. Pemberian adenosin sistemik meningkatkan efek hipnosis yang diinduksi oleh anestesi intravena, Pemberian dari antagonis reseptor adenosin A1 8-siklopentil berupa teofilin/Aminophylline meningkatkan laju pelepasan neuron kolinergik pada otak depan bagian basal dan mengakibatkan kondisi terjaga (Turan dkk, 2010).
Berdasarkan Firestone Institute for Respiratory Health (2015), dijelaskan bahwa Aminophyllline memliki waktu paruh terlama selama 24 jam dan aminophylline dieliminasi dari tubuh dalam waktu 4-5 hari.
32
Pada penelitian sebelumnya oleh (Turan dkk, 2010), menemukan bahwa Aminophylline meningkatkan nilai BIS selama anestesi volatil. Aminophylline juga menurunkan efek anestesi dari propofol yang ditentukan oleh BIS.
2.6 Gambaran EEG terhadap siklus tidur dan Anestesi umum
Siklus tidur berada diantara dua kondisi yaitu tidur REM (rapid-eye-movement) dan tidur non-REM, yang mempunyai gambaran EEG berbeda. Tidur non-REM terdiri dari 3 tahap, dengan tahap ke 3 menunjukkan pola gambaran EEG yang serupa dengan fase 2 anestesi umum (pola gambaran EEG vegetatif, koma) (Brown, 2010). Dengan demikian anestesi dan slow-wave sleep merupakan dua keadaan yang dapat dibandingkan dengan keadaan koma patologis, tetapi metabolit energi tetap dipertahankan pada kadar normal, serta mudah dikembalikan pada kondisi semula (reversibel); keduanya mempuyai efek pada struktur otak yang sama, tetapi mekanismenya belum sepenuhnya dimengerti (Saleh, 2013).
Gambar 2.5. Pola EEG selama Keadaan Terjaga, Anestesi Umum, dan Tidur (Brown, EN., 2010)
33
Baik pada saat tidur maupun dalam pengaruh anestesi, terjadi hambatan jalur asending neuron yang menyusun sistem bangun (arousal). Pada saat tidur neuron GABA-ergik di nukleus praoptik ventrolateral menghambat komponen sistem tersebut melalui reseptor GABA. Diketahui bahwa kebanyakaan obat anestesi bekerja pada reseptor GABA agonis yang menghambat aktivitas sistem arousal dengan mengaktivasi reseptor GABA yang sama yang digunakan pada saat proses tidur. Hasilnya berupa perlambatan dari aktivitas talamokortikal baik pada tidur maupun anestesi (Brown, 2010).
Obat anestesi umum dapat menghasilkan pola gambaran EEG yang jelas, yaitu aktivitas gelombang rendah dan aktivitas gelombang tinggi yang meningkat secara progresif dengan bertambah dalamnya anestesi. Ternyata gambaran EEG tersebut didapatkan juga pada pasien yang dalam keadaan koma, disamping pola aktivitas EEG akibat kerusakan otak yang bergantung pada luas kerusakan tersebut. Dengan demikian fakta tersebut menunjukkan bahwa anestesi umum adalah suatu kondisi reversibel dari koma yang disebabkan oleh obat, meskipun dokter anestesi menyebutnya dengan kondisi tidur (Brown, 2010).
2.7 Waktu Pulih Sadar
Pulih sadar merupakan kembalinya kesadaran dari efek obat anestesi setelah proses pembedahan dilakukan (Barone, 2008). Bangun atau pulih sadar dari anestesi merupakan suatu proses pasif yang bergantung pada (a) jumlah obat yang digunakan; (b) titik tangkap kerja obat tersebut, potensi obat, dan farmakokinetiknya; (c) karakteristik fisiologi pasien;
dan (d) jenis dan lama pembedahan (Saleh, 2013).
Secara umum pada akhir pengelolaan anestesi, pasien diharapkan segera pulih sadar atau bangun, kecuali pada tindakan tertentu atau terjadinya penyulit selama pembedahan yang menyebabkan dokter anestesi harus mempertahankan pasien dalam kondisi tersedasi (Saleh, 2013).
Pulih sadarnya pasien yang mendapat obat anestesi volatil bergantung pada eliminasi obat dari paru dan MACawake (kadar end-tidal yang berkaitan dengan membuka mata dengan
34
perintah verbal). Eliminasi paru ditentukan oleh ventilasi alveolar, koefisien partisi darah - gas, dan dosis (MAC-jam). kecepatan pulih sadar berbanding terbalik dengan kelarutan obat dalam darah, makin rendah daya kelarutannya makin cepat eliminasi dari paru. Bila anestesi berkepanjangan, maka proses pulih sadar juga bergantung pada total ambilan obat anestesi oleh jaringan, yang juga berkaitan dengan daya kelarutan, kadar rata-rata yang digunakan, dan lamanya pasien terpapar (Sinclair, 2006).
2.8 BIS
Indeks Bispectra [BIS] memantau kedalaman anestesi yang memungkinkan dokter untuk mengelola dosis obat minimal yang dibutuhkan untuk mencapai keadaan hipnosis yang adekuat. Ini adalah salah satu dari beberapa teknologi yang digunakan untuk memantau kedalaman anestesi. Menetapkan dosis obat anestesi dengan cara melihat dari nilai BIS selama anestesi umum pada orang dewasa dan anak-anak berusia di atas 1 tahun
memungkinkan dokter anestesi untuk menyesuaikan dosis obat anestesi untuk kebutuhan pasien, sehingga memungkinkan waktu pulih sadar lebih cepat dari efek obat anestesi. Sistem pemantauan Bispectral Index memungkinkan dokter anestesi untuk melihat informasi EEG yang diproses sebagai dasar untuk mengukur pengaruh anestesi tertentu selama pembedahan yang dipantau dengan menggunakan BIS. Indeks BIS adalah parameter EEG yang diproses dengan validitas yang ekstensif dan menunjukkan utilitas klinis. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan gabungan pengukuran dari pemrosesan sinyal EEG, termasuk analisis bispectral, spektral daya analisis, dan analisis domain waktu. Langkah-langkah ini dikombinasikan melalui algoritma untuk mengoptimalkan korelasi antara EEG dan efek klinis anestesi, dan dihitung dengan menggunakan BIS Index (Ekman A, Lindholm ML, 2010).
Pada tahun 1996, Administrasi Makanan dan Obat-obatan A.S menyatakan Indeks BIS sebagai alat bantu dalam memantau efek tertentu pada obat anestesi. Pada tahun 2003, Administrasi Makanan dan Obat-obatan memberikan pernyataan tambahan yang
35
menyatakan: "Penggunaan BIS membantu membimbing pemberian obat anestesi terkait dengan mempercepat waktu pemulihan kesadaran dengan berkurangnya jumlah dosis obat anestesi yang diberikan selama anestesi umum dan sedasi." Pemantauan BIS digunakan untuk membantu pemberian anestesi dan memantau status pasien. Hal ini adalah tanggung jawab masing-masing klinisi dalam pengambilan keputusan terbaik untuk pasien. Saat ini, Indeks BIS merupakan alat yang paling baik dalam menilai kesadaran atau fungsi otak yang digunakan dalam pemantauan konteks klinis anestesi dan perawatan sedasi. Indeks BIS adalah hasil dari dua inovasi tertentu: bispectral analisis dan algoritma BIS (Puri GD, Murthy SS,2003).
Analisis bispectral merupakan metodologi pemrosesan sinyal untuk menilai hubungan antar komponen sinyal dan menangkap sinkronisasi sinyal seperti EEG. Dengan mengukur korelasi antara semua frekuensi di dalam sinyal, analisis bispectral menghasilkan aspek EEG tambahan pada aktifitas otak. Algoritma BIS dikembangkan untuk menggabungkan gambaran EEG (bispectral dan lainnya) yang sangat berkorelasi dengan sedasi / hypnosis. Pada lebih dari 5.000 orang dewasa yang diuji, gambaran EEG dicirikan sebagai perubahan gelombang spektrum yang disebabkan anestesi adalah frekuensi dengan nilai tinggi (14 sampai 30 Hz), jumlah sinkronisasi frekuensi rendah, periodenya hampir tidak tampak dalam EEG, dan kemunculan periode rendah (yaitu, isoelektrik, "flatline") dalam EEG. Algoritma ini memungkinkan kombinasi optimum gambaran EEG untuk menyediakan parameter EEG yang diproses dengan tepat untuk melihat efek anestesi dan sedative dengan Indeks BIS. Gambar 2.6: Algoritma BIS, yang dikembangkan melalui pemodelan statistik, menggabungkan kontribusi masing-masing gambaran EEG sebagai kunci untuk menghasilkan skala Indeks BIS (Khafagy, 2012).
36
Gambar 2.6. Alat Bispectral Index
Gambar 2.7 EEG pada BIS
Sensor non-invasif memiliki perekat seperti pada EEG. Setelah diletakkan pada dahi dan pelipis pasien dengan alkohol dan dilakukan pengeringan kulit untuk memastikan didapatkan sinyal yang berkualitas, sensor diletakkan diatas pelipis kiri atau kanan. Sensor
37
kemudian mengirimkan informasi EEG mentah melalui kabel dan konverter ke mesin BIS.
Data EEG akan diproses sesuai dengan algoritma yang menggabungkan pilihan gambaran EEG untuk menghasilkan indeks BIS. Indeks ini adalah angka Antara 0 dan 100 yang ditampilkan dimonitor dan menggambarkan tingkat sedasi pasien. Nilai BIS antara 40 dan 60 menunjukkan tingkat yang sesuai untuk anestesi umum seperti yang direkomendasikan.
Inti dari BIS adalah mengolah sinyal kompleks (EEG), analisis dan proses hasilnya menjadi satu nomor. (El Yacoubi M, 2008)
Gambar 2.8 Indeks BIS dikelompokkan untuk berkorelasi dengan titik akhir klinis penting selama pemberian obat anestesi.
Gambar 2.9 Korelasi yang signifikan terlihat antara penurunan tingkat metabolisme otak (%
BMR = persen metabolisme glukosa awal seluruh otak yang diukur dari pemindaian PE T) dan peningkatan efek anestesi (yang diukur dengan penurunan nilai BIS).
PET
% BMR 100 64 54 38
BIS 95 66 62 34
38
Pada akhirnya, penting untuk dicatat bahwa nilai BIS memberikan pengukuran status otak yang berasal dari EEG, bukan konsentrasi obat tertentu. Sebagai contoh, nilai BIS menurun selama tidur alami dan juga selama pemberian obat anestesi (Lambert P,2006).
39
2.9 Kerangka Teori
Mempercepat Proses Difusi
Anestesi
Analgetik Sedasi Relaksasi
Sal. Nafas
Aminofilin
Pembuluh DarahMenghambat SSP pembentukan PDE, cAMP
meningkat
Bronkodilatasi otot polos dan saluran nafas.
Agen Inhalasi cepat di ekskresi
Menghambat Adenosisn di GABA
Terhambatnya Neuromodulator (A2A, A1)
Relaksasi otot polos
Vasodilatasi Pembuluh Darah
PULIH SADAR
Gambar 2.10 Kerangka Teori
40
2.10 KERANGKA KONSEP
Gambar 2.11 Kerangka Konsep
NaCl 0,9 % ( Normal Saline)
= Variabel bebas
= Variabel tergantung
41 BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 DESAIN PENELITIAN
Desain penelitian ini menggunakan uji klinis acak terkontrol dan tersamar ganda.
Untuk mengetahui efek pemberian Aminophylline intravena dalam mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran berdasarkan bispectral index di RSUP Haji Adam Malik Medan
3.2 TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
3.2.1 Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik Medan.
3.2.2 Waktu
Penelitian dimulai setelah mendapat ethical clearance dari Komisi Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) dan izin dari RSUP Haji Adam Malik Medan diterbitkan sampai dengan jumlah sampel terpenuhi.
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 Populasi
Populasi penelitian adalah seluruh subjek yang terjadwal secara elektif menjalani laparotomi abdomen dengan teknik anestesi umum dengan inhalasi isofluran di RSUP Haji Adam Malik.
3.3.2 Sampel
Sampel penelitian adalah populasi yang mememenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Sampel ini di bagi menjadi 2 kelompok yaitu:
42
a. Kelompok A menerima Aminophylline intravena 3 mg/KgBB diencerkan dengan aquabidest 20cc diberikan menggunakan syringe pump habis dalam waktu 10 menit.
b. Kelompok B menerima cairan normal saline intravena yang volumenya sama dengan jumlah volume Aminophylline pada kelompok A habis dalam waktu 10 menit.
3.4 KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI 3.4.1 Kriteria Inklusi
1. Usia 19–60 tahun
2. Pasien yang menjalani pembedahan laparatomi 3. Pasien status fisik ASA 1 dan 2
4. Pasien bersedia untuk ikut serta dalam penelitian
3.4.2 Kriteria Eksklusi
1. Pasien dengan riwayat penggunaan Aminophylline dalam jangka waktu 4-5 hari 2. Pasien dengan riwayat aritmia jantung dan kejang.
3.4.3 Kriteria Putus Uji (Drop Out)
1. Terjadi kegawatdaruratan jantung, paru dan otak yang mengancam jiwa setelah pemberian Aminophylline
2. Terjadi reaksi alergi (shock anafilaktik) pasca pemberian Aminophylline
3.5 BESAR SAMPEL
Estimasi besar sampel dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut:
43
Dimana:
= deviat baku alpha. utk = 0,05 maka nilai baku normalnya 1,96
= deviat baku alpha. utk = 0,10 maka nilai baku normalnya 1.282
= Standar deviasi waktu pulih sadar sebesar=4,2 menit(Kepustakaan)
= beda rerata yang bermakna ditetapkan sebesar = 1 menit
Maka sampel minimal untuk masing-masing kelompok sebanyak 19 orang.
Dari perhitungan dengan rumus diatas, maka diperoleh besar sampel: n1 = n2 = 19 orang ditambah 20% bila terjadi putus uji menjadi 23 orang per kelompok. Jadi jumlah keseluruhan sampel dari kedua kelompok adalah 46 orang.
3.6 INFORMED CONSENT
Setelah mendapat persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan FK USU, pasien mendapatkan penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan secara tertulis kesediaannya dalam lembar informed consent.
3.7 ALAT, BAHAN DAN CARA KERJA 3.7.1 Alat dan Bahan
3.7.1.1 Alat
a. Bispectral index monitoring device (IoC-View)
b. Alat monitor non invasif otomatik (tekanan darah, denyut jantung, frekuensi nafas, EKG, saturasi oksigen) (Kontron)
c. Spuit 3 ml, 5 ml, 10 ml dan 20 ml (Terumo)( R) d. Laringoskop set dewasa (macinthos dan miller)
e. Pipa endotrakea 3(6.5, 7, 7.5) ukuran sesuai usia (Aximed)
)
-44
f. Kanul vena 18G, infus set, threeway (Terumo) g. Pencatat waktu (Jam)
h. Alat tulis dan formulir penelitian i. Extention tube (hospitech)
j. Syringe pump (B-Braun)
3.7.1.2 Bahan
a. Obat premedikasi: midazolam 0,05 mg/kg dan fentanil 2mcg/kg.
b. Obat-obatan induksi anestesi umum: propofol 2 mg/kg, rocuronium 1 mg/kg c. Obat pemeliharaan anestesi: isofluran 0,5-1,5 vol% dan O2: Air 50 % : 50 %,
rocuronium 0,1-0,2 mg/kg setiap 20-30 menit, fentanil 0,5-1,0 mcg/kg bila tekanan darah dan laju nadi meningkat >20% dari nilai basal.
d. Cairan: ringer laktat
e. Obat-obatan emergensi: efedrin 5 mg/ml dan sulfas atropin 0,25 mg/ml yang sudah teraplus
f. Obat yang diteliti: Aminophylline (Phapros) g. Cairan kristaloid NaCl 0,9%
3.7.2 Cara Kerja
3.7.2.1 Persiapan Pasien dan Obat
1. Setelah disetujui Komite Etik Penelitian Kesehatan FK USU dan Komite Etik Penelitian Kesehatan RSUP Haji Adam Malik Medan serta mendapat informed consent, seluruh sampel dilakukan pengukuran PBW (Predicted Body Weight), kemudian subjek penelitian dimasukkan ke dalam kriteria inklusi dan eksklusi.
2. Kepada pasien dijelaskan pada saat kunjungan pemeriksaan prabedah tentang rencana tindakan pembiusan anestesi umum dan prosedur penelitian meliputi
45
pemantauan waktu pulih sadar menggunakan bispectral index pasca pembedahan.
3. Sampel secara acak dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok A mendapat Aminophylline intravena 3 mg/KgBB dalam waktu 10 menit. Kelompok B menerima cairan normal saline intravena yang volumenya sama dengan jumlah volume Aminophylline pada kelompok A dalam waktu 10 menit.
4. Randomisasi dilakukan dengan cara blok, masing-masing sekuens terdiri dari 6 subjek, dengan jumlah kemungkinan kombinasi sekuens sebanyak 20.
Kemudian dijatuhkan pena di atas angka random. Angka yang ditunjuk oleh pena tadi merupakan nomor awal untuk menentukan sekuens yang sesuai.
Kemudian dipilih 8 pasangan angka kea rah kanan dari pasangan angka pertama tadi sehingga diperoleh jumlah sekuens yang sesuai dengan besar jumlah sampel. Kemudian sekuens yang diperoleh disusun secara berurutan sesuai dengan nomor amplop.
5. Obat disiapkan oleh relawan yang melakukan randomisasi (peneliti tidak mengetahui komposisi obat yang diberikan).
3.7.2.2 Pelaksanaan Penelitian
1. Setelah pasien tiba diruang tunggu kamar bedah, pasien diperiksa ulang terhadap identitas, diagnosa, rencana tindakan pembiusan, akses infus (pastikan telah terpasang infus dengan abocath 18G, threeway dan aliran infus lancar) dan seluruh sampel dilakukan pengukuran PBW (Predicted Body Weight).
2. Kemudian pasien dibawa kekamar operasi, lalu dipasang alat monitor standar (EKG, tekanan darah, denyut jantung, frekuensi nafas, saturasi oksigen).
3. Kedua kelompok pasien diberikan preloading cairan ringer laktat 10 ml/kgBB
46
4. Kedua kelompok dipersiapkan untuk dilakukan tindakan anestesi umum.
Premedikasi dengan fentanil 2 mcg/kg, midazolam 0,05 mg/kg, ditunggu onset 5 menit.
5. Pasien diinduksi dengan propofol 2 mg/kg, pelumpuh otot rocuronium 1 mg/kg, setelah onset tercapai 1 menit, laringoskopi direk dilakukan dengan laringoskop dan trakea diintubasi dengan pipa endotrakea yang sesuai ukuran.
6. Pembedahan dimulai, pemeliharaan sedasi menggunakan Isofluran 0,5-1,5 vol%, pemeliharaan analgesi dengan fentanil sesuai respon hemodinamik, dan pemeliharaan pelumpuh otot menggunakan rocuronium, selama durante operasi tingkat kedalaman anestesi dipantau menggunakan BIS.
7. Selesai penjahitan kutis matikan agen inhalasi isofluran, setelah pasien bernapas spontan diberikan reversal (Neostigmin 0,02-0,04 mg/kgBB dan SA 0,01-0,02 mg/kgBB) kemudian kelompok A diberikan Aminophylline intravena dengan dosis 3 mg/KgBB diencerken dengan aquabidest 20cc sedangkan kelompok B (kelompok kontrol) diberikan cairan normal saline (NaCl 0,9%) yang volumenya sebanding dengan volume Aminophylline yang diberikan pada kelompok A yaitu 20 cc yang dimasukkan kedalam spuit syringe 20 cc dengan kecepatan 120 cc/jam selama 10 menit dengan menggunakan syringe pump 8. Setelah masing-masing kelompok mendapat intervensi, kemudian diobservasi
dan dicatat berapa lama waktu pulih sadar pasien pada masing-masing individu diantara kedua kelompok. Setelah pemberian aminophyllin sebagai T0, 5 menit (T1), 10 menit (T2), 15 menit (T3), 20 menit (T4), 25 menit (T5), dan 30 menit (T6). Pasien pulih sadar apabila BIS bernilai > 90%. Apabila BIS pasien telah mencapai >90% maka penilaian dihentikan oleh karena pasien dianggap telah sadar
9. Pasien kemudian diobservasi di ruang pemulihan dan dipindahkan keruang rawatan.
47
10. Hasil data pengamatan pada kedua kelompok dibandingkan secara statistik 11. Penelitian dihentikan apabila subjek penelitian menolak untuk berpartisipasi
lebih lanjut, operasi memanjang sehingga dibutuhkan tambahan obat anestesi umum, terjadi reaksi alergi terhadap Aminophylline dan terjadi kegawatdaruratan jalan nafas, jantung, paru, otak yang mengancam jiwa.
3.8 IDENTIFIKASI VARIABEL 3.8.1 Variabel Bebas
a. Aminophylline intravena 3 mg/KgBB dalam waktu 10 menit.
b. Cairan normal saline intravena yang volumenya sama dengan jumlah volume Aminophylline pada kelompok A dalam waktu 10 menit.
3.8.2 Variabel Tergantung a. BIS (Waktu pulih sadar).
3.9 RENCANA MANAJEMEN DAN ANALISIS DATA
a. Setelah seluruh data yang diperlukan telah terkumpul, data tersebut kemudian diperiksa kembali tentang kelengkapannya sebelum ditabulasi dan diolah.
Setelahnya diberikan coding pada data tersebut untuk memudahkan dalam mentabulasi. Data ditabulasi ke dalam master tabel dengan menggunakan software SPSS.
b. Data numerik ditampilkan dalam nilai rata-rata + SD (standard deviasi), sedangkan data kategorik ditampilkan dalam jumlah (persentase).
c. Data demografi: Uji kenormalan data numerik digunakan uji fisher exact test.
d. Hipotesa penelitian diuji dengan menggunakan uji Mann-Whitney test.
e. Interval kepercayaan 95% dengan nilai p<0,05 dianggap bermakna secara signifikan.
48
3.10 DEFINISI OPERASIONAL
a. Waktu pulih sadar adalah bangun dari efek obat anestesi setelah proses pembedahan dilakukan. Dalam penelitian ini pulih sadar bila BIS > 90.
b. General anestesi/anestesi umum adalah suatu keadaan reversibel yang mengubah status fisiologis tubuh, ditandai dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia), hilangnya memori (amnesia) dan relaksasi. Beberapa substansi yang dapat menghasilkan keadaan anestesi umum antara lain bersifat inert (xenon), anorganik (nitride oxide), inhalasi hidrokarbon (Isofluran), dan struktur organik komplek (barbiturat). Dalam penelitian ini general anestesi dilakukan dengan pemberian inhalasi isofluran.
c. Aminophylline merupakan senyawa methylxanthine yang dapat ditemukan pada kopi dan teh, dimana senyawa ini secara parsial dapat melawan efek perubahan perilaku dan hipnosis dari benzodiazepine. Dalam penelitian ini Aminophylline yang diberikan pada pasien (kelompok intervensi) sebanyak 3 mg/KgBB secara intravena.
d. Bispectral Index Score (BIS) adalah parameter elektroencephalogram baru yang secara khusus dikembangkan untuk mengukur efek hipnosis dari anestesi. Peran utama BIS yaitu untuk mengukur kedalaman anestesi dan berguna untuk menyesuaikan dosis obat sedatif. Indeks BIS adalah angka antara 0% dan 100%
diskalakan berkorelasi dengan titik akhir klinis yang penting dan keadaan EEG selama pemberian obat anestesi. Nilai BIS > 90% mewakili keadaan klinis
"pulih sadar”.
e. Laparotomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor dengan cara melakukan penyayatan pada lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan organ dalam abdomen yang mengalami masalah, misalnya kanker, pendarahan,
49
3.11 Alur Penelitian
Gambar 3.11. Alur Penelitian
Nb: Pengenceran dan pemberian obat dilakukan oleh seorang relawan. Peneliti tidak tahu obat apa yang diberikan. BIS digunakan selama durante operasi dan 30 menit post operasi.
Populasi
Inklusi Eksklusi
Randomisasi Kelompok A
Sampel
Kelompok B GA-ETT à Preloading infus RL à Premedikasi à Induksi à Intubasi ETT. Pemeliharaan sedasi menggunakan isoflurane, fentanyl à analgetik, pemeliharaan pelumpuh otot (rocuronium) dan selama durante operasi sampai pasien bangun tingkat kedalaman sedatif dinilai dengan menggunakan BIS
Aminophylline diberikan 20cc dengan alat Syringe Pump,
Aminophylline diberikan 20cc dengan alat Syringe Pump,