EFEK AMINOPHYLLINE INTRAVENA UNTUK MEMPERCEPAT WAKTU PULIH SADAR PASCA GENERAL ANESTESI PADA
PASIEN PEMBEDAHAN LAPARATOMI DENGAN MENGGUNAKAN BISPECTRAL INDEX DI RSUP
HAJI ADAM MALIK MEDAN
TESIS
Oleh:
dr. Awang Supriady NIM : 137041061
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK/SPESIALIS DEPARTEMEN/SMF ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN
2018
EFEK AMINOPHYLLINE INTRAVENA UNTUK MEMPERCEPAT WAKTU PULIH SADAR PASCA GENERAL ANESTESI PADA
PASIEN PEMBEDAHAN LAPARATOMI DENGAN MENGGUNAKAN BISPECTRAL INDEX DI RSUP
HAJI ADAM MALIK MEDAN
TESIS
Oleh:
dr. Awang Supriady NIM : 137041061
Pembimbing I:
dr. Akhyar Hamonangan Nasution, Sp.An, KAKV Pembimbing II:
dr. Muhammad Ihsan, Sp.An, KMN
PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK/SPESIALIS DEPARTEMEN/SMF ANESTESIOLOGI DAN TERAPI INTENSIF FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN
2018
i
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, saya memanjatkan puji syukur serta doa saya sampaikan kehadirat ALLAH SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya telah memberikan kepada saya akal budi, hikmat dan pemikiran sehingga saya dapat menyelesaikan tesis/ penelitian sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan Spesialis dalam bidang Ilmu Anestesiologi danTerapi Intensif di Fakultas kedokteran Universitas Sumatera Utara yang saya cintai dan banggakan.
Saya sangat menyadari bahwa dalam penulisan tesis / hasil penelitian ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun penyampaian bahasanya.
Meskipun demikian, saya berharap dan besar keinginan saya agar kiranya tulisan ini dapat memberi manfaat dan menambah khasanah serta perbendaharaan dalam penelitian di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP H. Adam Malik Medan, khususnya tentang“EFEK AMINOPHYLLINE INTRAVENA UNTUK MEMPERCEPAT WAKTU PULIH SADAR PASCA GENERAL ANESTESI PADA PASIEN
PEMBEDAHAN LAPARATOMI DENGAN MENGGUNAKAN
BISPECTRAL INDEX DI RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN“.
Dengan penulisan tesis/ hasil penelitian ini, maka pada kesempatan ini pula dengan diiringi rasa tulus dan ikhlas, ijinkan saya mengucapan terimakasih dan penghargaan kepada yang terhormat: dr. Akhyar Hamonangan Nasution, Sp. An.
KAKV dan dr. M. Ihsan, Sp. An, KMN atas kesediaannya sebagai pembimbing penelitian saya ini, yang walaupun di tengah kesibukannya masih dapat meluangkan waktu dan dengan penuh perhatian serta kesabaran, memberikan bimbingan, saran dan pengarahan yang sangat bermanfaat kepada saya dalam menyelesaikan tulisan ini. Tidak lupa ucapan terimakasih saya berikan kepada Bapak Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M. Kes sebagai pembimbing statistik yang juga telah banyak meluangkan waktu dan kesibukannya untuk berdiskusi menganai statistik penelitian ini. Berikutnya saya juga mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya (Alm.) H. Azhar Yusuf dan Hj.
Sakty Saleh yang tidak bosan – bosan medoakan dan mendukung saya sejak kecil hingga sekarang.
ii
Dan dengan berakhirnya pula masa pendidikan saya di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, maka pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankanlah saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesar – besarnya kepada :
Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr.
Runtung Sitepu, SH., M.hum, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya untuk mengikuti program pendidikan dokter spesialis (PPDS) I di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Kepala Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan, dr. Akhyar H. Nasution, SpAn, KAKV dan Prof. dr.Achsanuddin Hanafie, SpAn. KIC. KAO sebagai Ketua Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, dr. Tasrif Hamdi, M.Ked (An), SpAn sebagai Plt.
Sekretaris Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, dan dr. Cut Meliza Zainumi, M.Ked (An), SpAn sebagai Plt. Sekretaris Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, terimakasih karena telah memberikan izin, kesempatan, ilmu dan pengajarannya kepada saya dalam mengikuti pendidikan spesialisasi di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif hingga selesai.
Yang terhormat guru – guru saya di jajaran Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-USU / RSUP H. Adam Malik Medan : dr. A. Sani P. Nasution, SpAn. KIC; (Alm.) dr. Chairul M. Mursin, SpAn, KAO; Prof. dr. Achsanuddin Hanafie, SpAn. KIC. KAO; dr. Akhyar H. Nasution, SpAn. KAKV; dr. Asmin Lubis, DAF, SpAn. KAP.KMN; dr. Qadri F. Tanjung, SpAn. KAKV; dr. Hasanul Arifin SpAn. KAP. KIC; Dr. dr. Nazaruddin Umar, SpAn. KNA; dr. Ade Veronica HY, SpAn. KIC; dr. Yutu Solihat, SpAn. KAKV; dr. Soejat Harto, SpAn. KAP; dr.
Syamsul Bahri Siregar, SpAn; dr Tumbur, SpAn; dr. Walman Sitohang, SpAn;
LetKol (CKM) dr. Nugroho Kunto Subagio, SpAn; Kol. (CKM) Purn. dr. Tjahaya, SpAn; Dr. dr. Dadik W. Wijaya, SpAn; dr. M. Ihsan, SpAn. KMN; dr. Guido M.
Solihin, SpAn. KAKV; dr. Andriamuri P. Lubis, M. Ked (An), Sp. An; dr. Ade Winata, Sp. An, KIC; dr. Rommy F Nadeak, SpAn; dr. Rr. Shinta Irina, SpAn; dr.
Fadli Armi Lubis, M. Ked (An), Sp. An; dr. Raka Jati P. M. Ked (An) Sp. An; dr.
Bastian Lubis M.Ked(An) Sp.An; dr. Wulan Fadine M. Ked(An) Sp.An; dr. A.
Yafiz Hasbi M.Ked (An) Sp.An; dr. M. Arshad, M. Ked (An) Sp.An, dr. Luwih
iii
Bisono, Sp. An, KAR; saya ucapkan terima kasih atas segala ilmu, keterampilan dan bimbingannya selama ini dalam bidang ilmu pengetahuan di bidang Anestesiologi dan Terapi Intensif sehingga semakin menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab saya terhadap pasien serta pengajaran dalam bidang keahlian maupun pengetahuan umum lainnya yang kiranya sangat bermanfaat bagi saya di kemudian hari.
Yang terhormat Direktur Utama RSUP H. Adam Malik Medan, Direktur RSUD dr. Pirngadi Medan, Karumkit TK II Putri Hijau Medan,Direktur RS Haji Medan yang telah mengizinkan dan memberikan bimbingan serta kesempatan kepada saya untuk belajar menambah ketrampilan dan dapat menjalani masa pendidikan di rumah sakit yang beliau pimpin, tak lupa saya haturkan terimakasih.
Terima kasih juga saya ucapkan kepada Istri tercinta dr. Indah Sukmawardhani dan juga anak – anak tersayang M. Nafis Adria Awang dan Nadine Almira Awang yang telah bersedia meluangkan waktu, perasaan dan tenaga untuk mendukung dan mendoakan saya di selama masa pendidikan saya dimulai hingg saat ini.
Yang tercinta teman – teman sejawat peserta pendidikan keahlian Anestesiologi dan Terapi Intensif dr. Virat Kumar, dr. Franz Joseph Tarigan, dr. M.
Rizky Alfian, dr, Dewi Yuliana Fithri, dr. Cwanestasia Z.G.S, dr. Doni Herianto, dr. Jhonsen Indrawan dan dr. Galdy Wafie yang telah bersama-sama baik duka maupun suka, saling membantu sehingga terjalin rasa persaudaraan yang erat dengan harapan teman – teman lebih giat lagi sehingga dapat menyelesaikan studi ini.
Kepada seluruh teman – teman, rekan – rekan dan kerabat, handaitaulan, keluarga besar, pasien – pasien yang tidak dapat saya sebutkan namanya satu persatu yang senantiasa memberikan peran serta, dukungan moril dan materil kepada saya selama menjalani pendidikan, dari lubuk hati saya yang terdalam saya ucapkan terimakasih.
Kepada paramedic dan karyawan Departemen/SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif FK USU/ RSUP H. Adam Malik Medan, RS Haji Medan, RSUP Pirngadi Medan dan Rumkit Tk II Putri Hijau Medan yang telah banyak membantu dan bekerjasama selama saya menjalani pendidikan dan penelitian ini saya juga ucapkan terima kasih.
iv
Dan akhirnya perkenankanlah saya dalam kesempatan yang tertulis ini memohon maaf atas segala kekurangan saya selama mengikuti masa pendidikan di Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang saya cintai.
Semoga segala bimbingan, bantuan, dorongan, petunjuk, arahan dan kerjasama yang diberikan kepada saya selama mengikuti pendidikan, kiranya mendapat berkah serta balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Medan, Oktober 2018 Penulis
(dr. Awang Supriady)
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
ABSTRAK ... x
ABSTRACT ... xi
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 LATAR BELAKANG ... 1
1.2 RUMUSAN MASALAH ... 6
1.3 HIPOTESIS ... 7
1.4 TUJUAN PENELITIAN ... 7
1.4.1 Tujuan Umum ... 7
1.4.2 Tujuan Khusus ... 7
1.5 MANFAAT PENELITIAN ... 7
1.5.1 Manfaat Akademis ... 7
1.5.2 Manfaat Pelayanan Masyarakat……….. 8
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Konsep General Anestesi ... 9
2.2 Penggunaan Obat Sedatif ……….. 15
2.3 Anestesi Inhalasi ………. 16
2.4 Isofluran ... 19
2.4.1 Indikasi dan Kontra Indikasi .……….. 20
2.4.2 Efek Samping Penggunaan Isofluran ……….………. 21
2.5 Aminophylline ... 27
2.5.1 Farmakokinetik ………..………. 27
2.5.2 Farmakodinamik Aminophylline ……….……….……….…. 28
2.5.3 Efek Sedatif Aminophylline ………….…….……….………. 30 2.6 Fisiologi Tidur dan Pengaruh Anestesi Umum Terhadap
vi
Terhadap Gambaran EEG ……… 31
2.7 Waktu Pulih Sadar ... 33
2.8 BIS ... 34
2.9 Kerangka Teori ... 38
2.10 Kerangka Konsep ... 39
BAB 3 METODE PENELITIAN ... 40
3.1 Desain Penelitian ... 40
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ... 40
3.2.1 Tempat ... 40
3.2.2 Waktu ... 40
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 40
3.3.1 Populasi ... 40
3.3.2 Sampel ... 40
3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ... 41
3.4.1 Kriteria Inklusi ... 41
3.4.2 Kriteria Eksklusi ... 41
3.4.3 Kriteria Putus Uji (Drop Out) ... 41
3.5 Besar Sampel ... 41
3.6 Informed Consent ... 42
3.7 Alat, Bahan, dan Cara Kerja ... 42
3.7.1 Alat dan Bahan ... 42
3.7.1.1 Alat ... 42
3.7.1.2 Bahan ... 43
3.7.2 Cara Kerja ... 43
3.7.2.1 Persiapan Pasien dan Obat ... 43
3.7.2.2 Pelaksanaan Penelitian ... 44
3.8 Identifikasi Variabel ... 46
3.8.1 Variabel Bebas ... 46
3.8.2 Variabel Tergantung ... 46
vii
3.9 Rencana Manajemen dan Analisis Data ... 46
3.10 Definisi Operasional ... …. 47
3.11 Alur Penelitian ... 48
BAB 4 HASIL PENELITIAN ... 49
4.1 Karakteristik Demografi Responden Penelitian ... 49
4.2 Efek Obat Perlakuan Terhadap Waktu Pulih Sampel ... 52
BAB 5 PEMBAHASAN ... 54
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 58
6.1 Kesimpulan ... 58
6.2 Saran ... 58
DAFTAR PUSTAKA ... 59
LAMPIRAN ... 64
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Efek Anestesi Inhalasi Pada Berbagai Organ ... 11
Tabel 2.2. Perbedaan Tidur dan Sedasi ... 12
Tabel 2.3 Skor Sedasi Ramsay... ... 14
Tabel 2.4 Protokol pemberian sedasi ... 25
Tabel 4.1 Karakteristik sampel berdasarkan usia, jenis kelamin, PS ASA ... 49
Tabel 4.2 Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin ... 50
Tabel 4.3 Karakteristik sampel berdasarkan ASA ... 51
Tabel 4.4 Nilai rerata BIS pada setiap waktu pemeriksaan ... 52
Tabel 4.5 Perbandingan nilai rata-rata antara aminophilin dengan NaCl 0.9% terhadap waktu pulih sadar ... 52
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Skema tingkat kesadaran ... 11
Gambar 2.2 Perjalanan gas obat anestesi inhalasi ... 17
Gambar 2.3 Rumus bangun isoflurane ... 19
Gambar 2.4. Struktur kimia aminofilin ... 28
Gambar 2.5 Pola EEG selama Keadaan Terjaga, Anestesi Umum,dan Tidur 32 Gambar 2.6 Pola EEG pada BIS………... ... 36
Gambar 2.7 Indeks BIS dikelompokkan untuk berkorelasi dengan titik akhir klinis penting selama pemberian agen anestesi ... 37
Gambar 2.8 Korelasi yang signifikan terlihat antara penurunan tingkat metabolisme otak ... 37
Gambar 2.9 Kerangka Teori ... 38
Gambar 2.10 Kerangka Konsep ... 39
Gambar 3.11 Alur Penelitian ... 48
Gambar 4.1 Karakteristik sampel berdasarkan usia, jenis kelamin, PS ASA 49 Gambar 4.2 Karakteristik sampel berdasarkan jenis kelamin ... 50
Gambar 4.3 Karakteristik sampel berdasarkan ASA ... 51
Gambar 4.4 Gafik perbedaan rata-rata nilai bispectral index ... 53
x
ABSTRAK
Pendahuluan : Pembedahan adalah perawatan medis invasive yang digunakan untuk mendiagnosis atau mengobati penyakit,cedera atau kelainan bentuk tubuh.
Tujuan penelitian : Untuk mengetahui pengaruh aminofilin intravena untuk mempercepat waktu pemulihan setelah anestesi umum pasca operasi pada pasien operasi laparatomi dengan menggunakan indeks bispectral di Rumah Sakit Haji Adam Malik, Medan.
Metode : Uji coba terkontrol secara acak dan double-blind. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan dari bulan Juni sampai September 2018. Populasi penelitian adalah semua subjek yang dijadwalkan secara elektrik untuk menjalani laparotomi perut dengan teknik anestesi umum dengan inhalasi isoflurane di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik. Total sampel yang didapat adalah 46 pasien. Uji normal data numerik digunakan dengan uji fisher exact.
Hipotesis penelitian diuji menggunakan uji Mann-Whitney. Dalam penelitian yang dilakukan pada 46 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, ditemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok dalam nilai waktu pemulihan sadar pada pasien dengan anestesi umum.
Hasil : Berdasarkan penelitian ini, pasien pulih secara sadar dengan aminofilin rata- rata 10,48 menit dihitung mulai dari T0 (ketika pemberian aminofilin) dan dengan NaCl 0,9%, waktu rata-rata 15,48 menit dihitung dari T0 (ketika pemberian aminofilin), yang dari dua obat yang diberikan aminofilin dapat mempercepat waktu pemulihan sadar pada pasien dengan anestesi umum. Dalam hasil penelitian ini ditemukan bahwa penggunaan aminofilin memberikan waktu pemulihan lebih cepat dibandingkan dengan NaCl 0,9% (p <0,05) dengan memperpendek waktu menjadi hampir setengah, dibandingkan dengan waktu pemulihan rata-rata.
Kesimpulan : Administrasi NaCl 0,9% pada pasien dengan anestesi umum tidak mempengaruhi waktu pemulihan setelah anestesi umum dinilai menggunakan indeks bispektral. Pemberian aminofilin pada pasien dengan anestesi umum dapat mempercepat waktu pemulihan setelah anestesi umum dinilai menggunakan indeks bispektral. Pemberian aminofilin pada pasien dengan anestesi umum dapat mempercepat waktu pemulihan setelah anestesi umum dibandingkan dengan NaCl 0,9% yang dinilai menggunakan indeks bispektral.
Kata Kunci : aminofilin intravena, bispectral index
xi
ABSTRACT
Background : Surgery is an invasive medical treatment performed to diagnose or treat a disease, injury, or deformity of the body.
Objective : To determine the effect of intravenous aminophylline to speed up recovery time after postoperative general anesthesia in laparatomy surgery patients by using bispectral index at Haji Adam Malik Hospital, Medan.
Methods : The research method used was a randomized and double-blind randomized controlled trial. This research was carried out at Haji Adam Malik General Hospital Medan from June to September 2018. The study population was all subjects who were electively scheduled to undergo abdominal laparotomy with general anesthesia technique with isoflurane inhalation at Haji Adam Malik General Hospital. The total sample obtained was 46 patients. The normal test of numerical data was used by fisher exact test. The research hypothesis was tested using the Mann-Whitney test. In the study conducted on 46 samples which were divided into 2 groups, it was found that there were significant differences between the two groups in the value of conscious recovery time in patients with general anesthesia.
Results : Based on this study, the results is patients recovered consciously with aminophylline average 10.48 minutes were calculated starting from T0 (when administering aminophylline) and with NaCl 0.9%, the average time of 15.48 minutes was calculated from T0 (when administering aminophylline), which of the two drugs that are given aminophylline can accelerate conscious recovery time in patients with general anesthesia. In the results of this study it was found that the use of aminophylline gave a faster recovery time compared to 0.9% NaCl (p <0.05) by shortening the time to almost half, compared to the average recovery time.
Administration of 0.9% NaCl in patients with general anesthesia did not affect recovery time after general anesthesia was assessed using the bispectral index.
Conclusion : Administration of aminophylline in patients with general anesthesia can speed up recovery time after general anesthesia is assessed using the bispectral index. Administration of aminophylline in patients with general anesthesia can accelerate recovery time after general anesthesia compared with 0.9% NaCl which was assessed using the bispectral index.
Keywords: intravenous aminophylline, bispectral index.
1 BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Operasi atau pembedahan adalah suatu penanganan medis secara invasif yang dilakukan untuk mendiagnosa atau mengobati penyakit, cedera, atau kelainan deformitas tubuh (Nainggolan, 2013). Kiik (2013) menyatakan bahwa tindakan pembedahan akan mencederai jaringan yang dapat menimbulkan perubahan fisiologis tubuh dan mempengaruhi organ tubuh lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) dari Sartika (2013), jumlah pasien dengan tindakan operasi mencapai angka peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat di tahun 2011 terdapat 140 juta pasien di seluruh rumah sakit di dunia yang menjalani pembedahan, sedangkan pada tahun 2012 data mengalami peningkatan sebesar 148 juta jiwa.
Laparatomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan-lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan bagian organ dalam abdomen yang mengalami masalah (hemoragik, perforasi, kanker, dan obstruksi) (Sjamsuhidajat & Jong, 2005; 2 http://medicastore.m, 2012). Laparatomi juga dilakukan pada kasus-kasus digestif dan kandungan seperti apendisitis, perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker colon, kanker rektum, obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolesistitis dan peritonitis (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).
Pada pembedahan laparoskopi ataupun laparotomi umumnya jenis anestesi yang digunakan adalah jenis anestesi umum. Anestesi umum adalah suatu keadaan reversibel yang mengubah status fisiologis tubuh, ditandai dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia), hilangnya memori (amnesia) dan relaksasi. Beberapa substansi yang dapat menghasilkan keadaan anestesi umum antara lain bersifat inert (xenon), anorganik (nitrous oxide), inhalasi hidrokarbon (halothan), dan struktur organik komplek (barbiturat) (Morgan, 2013).
2
Anestesi umum dapat dilakukan melalui obat-obatan yang diberikan secara intravena dan inhalasi. Obat-obatan intravena antara lain golongan barbiturat (pentotal), ketamin, propofol, dan etomidat. Sedangkan obat inhalasi digunakan untuk maintenance anestesi umum antara lain ether (sekarang sudah tidak digunakan), metoksifluran, halotan, enfluran, desfluran, sevofluran dan isofluran (Stoelting, 2006).
Obat inhalasi diketahui mempunyai banyak efek samping, antara lain gangguan pada hepar, gangguan pada ginjal, sistem saraf pusat, bahkan gangguan otot jantung.
Sevofluran dan isoflurane dinilai sebagai obat inhalasi yang mempunyai efek samping yang lebih rendah disamping desfluran (Morgan, 2013), tetapi desfluran masih jarang digunakan di Indonesia karena pemakaiannya yang boros dan mahal.
Isofluran adalah obat inhalasi yang sering digunakan di kamar operasi. Pertama kali disintesis oleh Ross Terell pada tahun 1965, dan digunakan di klinik tahun 1971 oleh Dobkin dan Stevens. Koefisien partisi gas/darah isofluran adalah 1,4. Ini lebih kecil dibanding obat inhalasi lainnya, kecuali desfluran 0,42 dan sevofluran 0,6–0,7, memungkinkan peningkatan konsentrasi isofluran di alveolar terjadi lebih cepat. Penelitian oleh Frink dkk, pasien yang dianestesi dengan isofluran kurang dari 1 jam, dapat membuka mata dengan perintah kira – kira selama 7 menit setelah anestesi dihentikan. Pemberian yang lebih lama, yaitu selama 5 – 6 jam, munculnya respon dengan perintah relatif cepat, kira – kira 11 menit setelah isofluran dihentikan (Morgan, 2013).
Pulih sadar pasien yang mendapat obat anestesi volatil bergantung pada eliminasi obat dari paru dan MACawake (kadar end-tidal yang berkaitan dengan membuka mata dengan perintah verbal). Eliminasi paru ditentukan oleh ventilasi alveolar, koefisien partisi darah - gas, dan dosis (MAC-jam). Kecepatan pulih sadar berbanding terbalik dengan kelarutan obat dalam darah, semakin rendah daya kelarutannya maka semakin cepat eliminasinya dari paru. Bila anestesi berkepanjangan, maka proses pulih sadar juga bergantung pada total ambilan obat anestesi oleh jaringan, yang juga berkaitan dengan daya kelarutan, kadar rata-rata yang digunakan, dan lamanya pasien terpapar (Sinclair, 2006).
3
Berbagai cara dilakukan untuk mempercepat waktu pulih sadar pada pasien baik secara non-farmakologis maupun dengan intervensi farmakologis. Salah satu intervensi farmakologis yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian Aminophylline. Beberapa penelitian klinis telah menunjukkan bahwa Aminophylline dapat mempercepat durasi pulih sadar pasien setelah pemberian total intravena anestesi dengan propofol dan remifentanil, sevofluran, dan desfluran (Turan dkk, 2010).
Aminophylline sering digunakan dalam praktik anestesi untuk mengatasi bronkospasme pada neonatus premature. Aminophylline memiliki efek mengurangi kejadian apnea pasca operasi (Huphfl dkk, 2008). Selain dibidang anestesi, pemberian Aminophylline khususnya secara intravena dapat digunakan untuk mengatasi eksaserbasi asma pada anak-anak yang tidak respon terhadap terapi inhalasi/nebulisasi lini pertama (Lewis dkk, 2016).
Aminophylline merupakan senyawa methylxanthine yang dapat ditemukan pada kopi dan teh, dimana senyawa ini secara parsial dapat melawan efek perubahan perilaku dan hipnosis dari benzodiazepin (Farsad dkk, 2017). Penelitian menunjukkan bahwa Aminophylline yang diberikan pada akhir operasi mempersingkat waktu pulih sadar dari anestesi umum dan meningkatkan kualitas pemulihan. Lebih dari itu Aminophylline memiliki efek menurunkan kedalaman serta durasi sedasi yang dihasilkan oleh barbiturat, diazepam, midazolam dan propofol (Huphfl dkk, 2008).
Telah dilaporkan bahwa Aminophylline mempersingkat efek sedasi beberapa obat anestesi dan analgesik. Laporan kasus disini menunjukkan bahwa Aminophylline intravena efektif mempercepat efek obat sedasi / obat propofol yang berlangsung lama pada saat pasca operasi. Tidak ada efek samping secara langsung setelah sedasi pada pemberian Aminophylline. Studi ini menunjukkan bahwa Aminophylline bisa bermanfaat secara klinis sebagai antagonis propofol (M. Hupl, dkk, 2008).
Pasien yang diteliti ada dua kelompok dimana usia, berat badan, status ASA dan durasi operasinya hampir sama. Nilai ETCO2, SpO2 dan EKG serupa pada kedua
4
kelompok dan sebanding nilainya sebelum injeksi. Tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik dalam skor BIS antara dua kelompok sebelum injeksi obat uji (p> 0,05).
Setelah pemberian injeksi obat uji Aminophylline 4 mg/kg, skor BIS ditemukan secara signifikan lebih tinggi (p <0,001) pada Kelompok A didapat 1- 25 menit. Tingkat denyut jantung dan tekanan darah ditemukan lebih tinggi secara signifikan setelah injeksi Aminophylline dibandingkan dengan kelompok plasebo (p <0,001. Waktu pemulihan pada semua variabel terukur (waktu untuk pembukaan mata, ekstubasi, pegangan tangan dan waktu bangun) secara signifikan lebih pendek pada Kelompok A (Aminophylline) (p
<0,001). Semua pasien memiliki nilai Aldrete 9 di unit perawatan pasca operasi kurang dari satu jam setelah penghentian operasi (Ghaffaripour S,2014).
Aminophylline biasanya digunakan selama anestesi untuk mengatasi bronkospasme namun temuan terbaru menunjukkan bahwa hal itu juga dapat digunakan untuk mempersingkat waktu pemulihan setelah anestesi umum. Namun, tidak jelas apakah Aminophylline menunjukkan sifat yang serupa selama operasi fase anestesi dalam keadaan stabil. Penelitian ini dilakukan untuk menguji hipotesis bahwa pemberian Aminophylline mengarah pada peningkatan nilai bispectral index sebagai parameter pengganti yang menunjukkan bidang anestesi yang lebih ringan. Penelitian ini dirancang sebagai percobaan double-blind, acak, terkontrol dengan dua kelompok utama (Aminophylline dan plasebo) dan dua subkelompok (sevofluran dan propofol). Kami mempelajari 60 pasien yang diberikan injeksi obat Aminophylline 3 mg/kgBB dikaitkan dengan peningkatan bispektral index yang signifikan hingga 10 menit setelah injeksi, sementara denyut jantung dan tekanan darah tidak berubah. Diduga Aminophylline memiliki kemampuan untuk mengurangi sebagian efek obat sedasi dari tindakan anestesi umum (Hupfl M, et all,2008).
Mekanisme kerja dari Aminophylline yang dapat mempersingkat waktu pulih sadar pasien berhubungan dengan sifatnya yang kontraindikasi dengan adenosin. Adenosin terdapat di semua sel dan reseptornya tersebar di semua sel otak. Pemberian infus adenosin dalam dosis rendah memiliki efek hipnotik dari anestesi. Sebaliknya, pemberian
5
Aminophylline menghasilkan efek yang berlawanan terhadap obat anestesi seperti benzodiazepin, barbiturat dan anestesi volatil lainnya (Ghaffaripour, 2014).
Bispectral Index Score (BIS) adalah parameter elektroencephalogram baru yang secara khusus dikembangkan untuk mengukur efek sedasi dan hipnotik yang dihasilkan oleh obat-obat anestesi. Peran utama BIS adalah mengukur kedalaman anestesi dan berguna untuk menyesuaikan dosis obat sedatif. Indeks BIS adalah angka antara 0 dan 100 dalam skala yang berkorelasi antara hasil akhir klinis yang baik dan keadaan EEG selama pemberian obat anestesi. Nilai BIS mendekati 100% mewakili keadaan klinis "terjaga/sadar penuh" dan saat nilai BIS 0% memiliki arti tidak menunjukkan aktivitas EEG (Kelley, 2012).
Untuk mengukur efek Aminophylline pada anestesi umum, kami menggunakan pemantauan bispectral index (BIS) sebagai parameter pengganti karena Aminophylline memiliki index terapi yang sangat sempit (Ghaffaripour, 2014).
Sistem pemantauan bispectral index memungkinkan ahli anestesi untuk mengakses informasi EEG yang dihasilkan untuk mengukur pengaruh anestesi tertentu selama perawatan pasien yang mereka pilih untuk dipantau. Dampak klinis pemantauan bispectral index telah ditunjukkan dalam berbagai percobaan randomize terkontrol yang mengungkapkan potensi pemantauan BIS untuk memfasilitasi perbaikan, dalam hal ini termasuk keselamatan pasien. (Scoot DC,2010)
Penelitian yang dilakukan oleh Sina, dkk. Menunjukan bahwa skor BIS ditemukan secara signifikan lebih tinggi (p <0,001) pada kelompok yang diberi Aminophylline dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan normal saline. Detak jantung dan tekanan darah ditemukan lebih tinggi secara signifikan setelah injeksi Aminophylline dibandingkan dengan kelompok kontrol (p <0,001). Selain itu waktu pemulihan di semua variabel terukur (waktu untuk membuka mata, ekstubasi, pegangan tangan dan waktu terjaga) secara signifikan lebih pendek pada kelompok yang menerima Aminophylline bila dibandingan dengan kelompok kontrol (p <0,001) (Ghaffaripour, 2014).
6
Hasil penelitian lain yang dilakukan Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Tehran, menunjukan bahwa waktu untuk melakukan ekstubasi pasca operasi secara signifikan lebih singkat pada kelompok yang mendapat Aminophylline 5 mg/KgBB (10,4 ± 4,78 menit), kemudian disusul kelompok Aminophylline 1 mg/KgBB (11,15 ± 8,2 menit) dan paling lama pada kelompok yang mendapat normal saline yaitu kelompok kontrol (12,26 ± 7,33 menit) dengan p-value = 0,001. Selain itu jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai skor BIS ≥ 90% secara signifikan juga lebih singkat pada kelompok yang mendapat Aminophylline 5 mg/KgBB (10,6 ± 3,7 menit) kemudian disusul kelompok Aminophylline 1 mg/KgBB (11,5 ± 5,6 menit) dan paling lama pada kelompok yang mendapat normal saline yaitu kelompok kontrol (14,4 ± 4,2 menit) dengan p-value = 0,001. (Farsad, 2017).
Oleh karena itu berdasarkan latar belakang dan referensi penelitian diatas, peneliti berkeinginan untuk meneliti efek Aminophylline 3 mg/kgBB intravena untuk mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran pada pasien pembedahan laparatomi dengan menggunakan bispectral index di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu: ”Apakah pemberian Aminophylline 3 mg/kgBB intravena dapat mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran pada pembedahan laparatomi dengan menggunakan bispectral index di RSUP Haji Adam Malik Medan?”
7
1.3 Hipotesis
Didapatkan efek pemberian Aminophylline intravena dalam mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran pada pembedahan laparatomi dengan menggunakan bispectral index di RSUP Haji Adam Malik Medan.
1.4 TUJUAN PENELITIAN 1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui efek pemberian Aminophylline intravena dalam mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran pada pembedahan laparatomi dengan menggunakan bispectral index di RSUP Haji Adam Malik Medan.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui rata-rata waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran dengan menggunakan bispectral index di RSUP Haji Adam Malik Medan setelah pemberian Aminophylline 3 mg/kgBB.
2. Untuk mengetahui perbandingan waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran dengan pemberian Aminophylline 3mg/kgBB dan pemberian normal salinee (NaCl 0,9%) intravena pada pembedahan laparatomi dengan menggunakan bispectral index.
1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sumber rujukan tambahan dalam penelitian lanjutan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi pada pasien pembedahan laparatomi.
8
1.5.2 Manfaat Pelayanan Masyarakat
Sebagai bahan masukan khususnya bagi praktisi medis tentang efek pemberian Aminophylline intravena dalam mempercepat waktu pulih sadar pasca general anestesi dengan inhalasi isofluran dengan menggunakan bispectral index, sehingga praktisi medis khususnya dokter anestesi dapat meningkatkan standar pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan pasien-pasien yang menjalani pembiusan dengan general anestesi menjadi lebih baik.
9 BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep General Anestesi Pengertian General Anestesi
Anestesi umum adalah suatu keadaan reversibel yang mengubah status fisiologis tubuh, ditandai dengan hilangnya kesadaran (sedasi), hilangnya persepsi nyeri (analgesia), hilangnya memori (amnesia) dan relaksasi. Beberapa senyawa yang dapat menghasilkan keadaan anestesi umum antara lain bersifat inert (xenon), anorganik (nitrous oxide), inhalasi hidrokarbon (halothan), dan struktur organik komplek (barbiturat) (Morgan, 2013).
Terdapat beberapa daerah mikroskopik sebagai tempat bekerjanya substansi anestesi umum. Pada otak diketahui anestesi umum mempengaruhi beberapa tempat, seperti sistem retikular, kortek serebri, nukleus kuneatus, kortek olfaktori, dan hipokampus (Firman, 2009).
Melalui mekanisme kerjanya, anestesi umum mengakibatkan terjadinya perubahan- perubahan pada sistem seluler, seperti perubahan pada ligand gate ion channel, fungsi second messenger, atau reseptor neurotransmitter. Sebagai contoh terjadi peningkatan inhibisi pada γ-Aminobutyric Acid (GABA) pada sistem saraf pusat. Seperti diketahui reseptor agonis GABA akan memperdalam anestesi, sedangkan antagonis GABA akan menghilangkan aksi anestesi (Morgan, 2013).
Semua zat obat anestesi umum menghambat susunan saraf pusat secara bertahap, dimulai dari fungsi yang kompleks dan yang paling akhir adalah medula oblongata yang bekerja sebagai pusat vasomotor dan pusat pernapasan.
Guedel (1920) membagi anestesia umum dengan menggunakan eter dalam empat (4) stadium dimana stadium III dibagi lagi dalam empat tingkat (Sadikin, 2011).
Stadium I (analgesia). Stadium analgesta dimulai dari saat pemberian zat obat anestesi sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini penderita masih dapat mengikuti
10
perintah, dan rasa sakit hilang (analgesia). Pada stadium ini dapat dilakukan tindakan pembedahan ringan seperti mencabut gigi, biopsi kelenjar dan sebagainya (Sadikin, 2011).
Stadium II (delirium/eksitasi). Stadium ini dimulai dari hilangnya kesadaran sampai permulaan stadium pembedahan. Pada stadium ini terlihat jelas adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menuruti kehendak, penderita tertawa, berteriak, menangis, menyanyi, pernapasan tidak teratur, kadang-kadang apnea dan hiperpnea, tonus otot rangka meningkat, inkontinesia urin dan alvi, muntah, midriasis, hipertensi, takikardi; hal ini terutama terjadi karena adanya hambatan pada susunan saraf pusat (Sadikin, 2011).
Stadium III (pembedahan). Stadium ini dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai hilangnya pernapasan spontan. Tanda yang harus dikenal ialah: (1) pernapasan yang tidak teratur pada stadium II menghilang; pernapasan menjadi spontan dan teratur oleh karena tidak adanya pengaruh psikis, sedangkan pengontrolan kehendak hilang; (2) refleks kelopak mata dan konjungtiva hilang, bila kelopak mata atas diangkat dengan perlahan dan dilepaskan tidak akan menutup lagi, kelopak mata tidak berkedip bila bulu mata disentuh; (3) kepala dapat digerakkan ke kanan dan ke kiri dengan bebas. Bila lengan diangkat lalu dilepaskan akan jatuh bebas tanpa tahanan; dan (4) gerakan bola mata yang tidak menuruti kehendak merupakan tanda spesifik untuk permulaan stadium III (Sadikin, 2011).
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan pernapasan perut yang lebih lemah dibandingkan stadium III tingkat 4, tekanan darah tidak dapat diukur karena kolaps pembuluh darah, berhentinya denyut jantung dan dapat disusul kematian. Pada stadium ini kelumpuhan pernapasan tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan (Sadikin, 2011).
Berbagai macam cara pemberian anestesi yaitu secara parenteral, perektal, inhalasi ataupun secara intravena. Salah satu bentuk anestesi umum yang sering digunakan adalah anestesi secara inhalasi (gas dan cairan yang mudah menguap). Anestesi inhalasi ini memiliki keunggulan yaitu potensi dan konsentrasinya yang dapat dikendalikan melalui mesin, dengan titrasi dosis untuk menghasilkan respon yang diinginkan. Obat anestesi inhalasi yang terpenting di antaranya adalah N2O, halotan, enfluran, metoksifluran, dan isofluran
11
sedangkan obat anestesi umum yang digunakan secara intravena, yaitu tiobarbiturat, narkotik-analgesik, senyawa alkaloid lain dan molekul sejenis lainnya, dan beberapa obat khusus seperti ketamin (Stoelting dan Hillier, 2007).
Dasar dari terjadinya stadium anestesia adalah adanya perbedaan kepekaan berbagai bagian sistem saraf pusat terhadap obat anestesi. Sel-sel subtansia gelatinosa di kornu dorsalis medula spinalis sangat peka terhadap obat anestesi. Penurunan aktivitas neuron di daerah ini menghambat trasmisi sensorik dari rangsang neoseptik, hal ini yang menyebabkan terjadinya tahap analgesia. Stadium II terjadi akibat aktivitas neuron yang kompleks pada kadar obat anestesi yang lebih tinggi di otak. Aktivitas ini antara lain berupa penghambatan berbagai neuron inhibisi bersamaan dengan dipermudahnya pelepasan neurotransmitter eksitasi.
Selanjutnya, depresi hebat pada jalur naik di sistem aktivasi retikular dan penekanan aktivitas refleks spinal menyebabkan pasien masuk ke stadium III. Neuron di pusat napas dan pusat vasomotor relatif tidak peka terhadap obat anestesi kecuali pada kadar yang sangat tinggi.
Apa yang menyebabkan perbedaan kepekaan berbagai bagian sistem saraf pusat ini masih perlu diteliti (Sadikin, 2011).
Gambar 2.1 Skema Tingkat Kesadaran
12
Tabel 2.1 Perbedaan Tidur dan Sedasi
Tidur Sedasi
Ditimbulkan secara endogen Diinduksi oleh obat/obat anesthesia Ada kontrol homeostatik dan
sirkadian
Tidak ada kontrol homeostatik dan sirkadian
Onset dan durasi bergantung pada stress, obat-obatan, lingkungan, nyeri, dan patologi
Onset dan durasi bergantung pada dosis dan durasi obat anestesia yang diberikan.
Batas kedalaman tidur bervariasi (NREM vs. REM)
Batas kesadaran ditentukan
Berperan dalam proses belajar dan konsolidasi memori
Amnesia dan penurunan kognitif.
Tidak ada efek samping PONV cukup sering ditemukan Metabolic rate menurun selama
tidur NREM dan meningkat selama tidur REM
Metabolic rate menurun
Pemberian sedasi sering dilakukan untuk memberikan kenyamanan kepada pasien sekaligus membantu kelancaran prosedur yang dilakukan, terutama pada pasien bayi, anak- anak yang kurang kooperatif, atau dengan retardasi mental. Jenis sedasi yang diberikan dapat berupa sedasi ringan sampai yang dalam.
The American Society of Anesthesiologists menggunakan definisi berikut untuk sedasi (Porkka-Heiskanen T, 2009).
Sedasi minimal adalah suatu keadaan dimana selama terinduksi obat, pasien berespon normal terhadap perintah verbal. Walaupun fungsi kognitif dan koordinasi terganggu, tetapi fungsi kardiovaskuler dan ventilasi tidak dipengaruhi.
13
Sedasi sedang adalah suatu keadaan depresi kesadaran setelah terinduksi obat di mana pasien dapat berespon terhadap perintah verbal secara spontan atau setelah diikuti oleh rangsangan taktil dan reflek cahaya. Tidak diperlukan intervensi untuk menjaga jalan napas dan ventilasi spontan yang masih adekuat. Fungsi kardiovaskuler biasanya perlu dimonitoring.
Sedasi dalam adalah suatu keadaan di mana selama terjadi penurunan kesadaran setelah terinduksi obat, pasien sulit dibangunkan tapi akan berespon terhadap rangsangan berulang atau rangsangan nyeri. Kemampuan untuk mempertahankan fungsi ventilasi dapat terganggu dan pasien akan memerlukan bantuan untuk menjaga jalan napas. Fungsi kardiovaskuler perlu dimonitoring. Adenosine yang bekerja melalui reseptor A1adenosine mengaktifkan jalur transduksi sinyal yang menghasilkan peningkatan kalsium intraseluler yang mengarah pada aktivasi faktor transkripsi NF-kB dan kemungkinan transkripsi gen yang berperan untuk menyebabkan efek tidur jangka panjang. (Basheer R, Strecker RE, 2010)
Dapat terjadi progresi dari sedasi minimal menjadi sedasi dalam di mana kontak verbal dan refleks protektif hilang. Sedasi dalam dapat meningkat hingga sulit dibedakan dengan anestesia umum, dimana pasien tidak dapat dibangunkan, dan diperlukan tingkat keahlian yang lebih tinggi dalam penanganan pasien. Kemampuan pasien untuk menjaga patensi jalan napas merupakan salah satu karakteristik sedasi sedang, tetapi pada tingkat sedasi ini tidak dapat dipastikan bahwa refleks protektif masih baik. Beberapa obat anestesia dapat digunakan dalam dosis kecil untuk menghasilkan efek sedasi. Obat-obat sedatif dapat menghasilkan efek anestesi jika diberikan dalam dosis yang besar (Bronco A, 2010).
Pemberian sedasi dapat dilakukan secara intramuskular, intravena, intratekal, maupun dengan inhalasi, baik sebagai obat tunggal maupun kombinasi. Jenis obat yang sering digunakan adalah golongan benzodiazepine dan opioid. Midazolam lebih disukai dibandingkan dengan diazepam karena obat ini larut dalam air, tidak menimbulkan rasa nyeri pada saat pemberian, waktu paruhnya lebih singkat, dan menghasilkan metabolit yang kurang aktif dibandingkan dengan diazepam. Midazolam jarang mendepresi sistem pernafasan, namun dapat menimbulkan efek agitasi pada beberapa individu. Pemberian opioid dengan
14
dosis tertentu dapat mendepresi sistem pernafasan karena tempat kerjanya berada di reseptor µ medulla oblongata yang dapat menghambat respon terhadap peningkatan CO2. Obat jenis lain seperti ketamin dan propofol juga menjadi pilihan obat yang sering digunakan. Propofol umumnya hanya dipakai untuk pasien anak dengan usia di atas 3 tahun (Mahajan VA,Ni Chonghaile M, 2007).
Untuk pasien-pasien yang telah direncanakan sebelumnya untuk mendapat sedasi selama prosedur berlangsung, sebaiknya dipuasakan terlebih dahulu (Morgan, 2013)
Tabel 2.2 Skor Sedasi Ramsay
Kriteria Skor
Pasien cemas dan gelisah atau tidak tenang, atau keduanya Pasien kooperatif, berorientasi, dan tenang
Pasien merespon saat diperintah
Pasien menunjukkan respon cepat untuk sentuhan ringan di glabellar atau stimulus pendengaran keras
Pasien menunjukkan respon yang lambat untuk sentuhan ringan di glabellar atau stimulus pendengaran keras Pasien menunjukkan tidak ada respon
1 2 3 4
5
6
15
Tabel 2.3 Protokol pemberian sedasi (Morgan, 2013)
2.2. Penggunaan obat sedatif
Obat-obat sedatif-hipnotik dan anti anxietas banyak digunakan di dunia. Diperkirakan 10- 15% masyarakat yang mengalami insomnia menggunakan pengobatan farmakologi untuk menormalkan tidur. Insomnia sendiri diartikan sebagai keadaan susahnya memulai tidur, tidak bisa tidur atau durasi tidur yang tidak adekuat. Beberapa obat yang digunakan untuk mengatasi insomnia merupakan agonis GABA dan mempunyai efek sedasi langsung, yang
16
terdiri dari relaksasi otot, melemahnya ingatan, ataxia dan hilangnya keterampilan kerja, seperti mengemudi. Durasi kerja obat untuk insomnia yang panjang, dapat menyebabkan gangguan psikomotor, konsentrasi dan ingatan (Dan M, 2015).
2.3 Anestesi Inhalasi
Nitrous oxide, kloroform, dan eter adalah anestesi umum pertama yang secara universal diterima. Metoksifluran dan enfluran, adalah dua obat inhalasi yang ampuh yang digunakan selama bertahun-tahun dalam praktek anestesi di Amerika Utara. Methoxyflurane adalah obat inhalasi yang paling ampuh dan memiliki kelarutan tinggi dan tekanan uap yang rendah sehingga menghasilkan induksi yang lebih lama. Lima obat inhalasi yang masih digunakan dalam anestesiologi klinis: nitrous oxide, halotan, isofluran, desfluran, dan sevofluran (Morgan, 2013).
Jalannya anestesi umum dapat dibagi menjadi tiga tahap: (1) induksi, (2) maintenance, dan (3) emergence. Anestesi inhalasi, seperti halotan dan sevofluran, bermanfaat dalam proses induksi pada pasien anak yang mungkin sulit dilakukan dengan jalur intravena. Meskipun orang dewasa biasanya diinduksi dengan obat intravena, nonpungency dan onset cepat sevofluran membuat induksi inhalasi praktis bagi pasien dewasa. Terlepas dari usia pasien, anestesi sering dipertahankan dengan teknik inhalasi.
Karena rute administrasinya yang unik, anestesi inhalasi memiliki sifat farmakologi yang berguna yang tidak dimiliki oleh obat anestesi lainnya. Misalnya, pemberian melalui sirkulasi paru memungkinkan efek obat yang lebih cepat dalam darah arteri dari pada pemberian intravena (Morgan, 2013).
17
Gambar 2.2. Perjalanan Gas Obat anestesi Inhalasi dari Mesin Anestesia ke Otak Sumber: Morgan, 2013
Faktor-faktor yang menentukan kecepatan transfer obat anestesi di jaringan otak ditentukan oleh:
• Kelarutan zat obat anestesi dalam darah
Kelarutan ini dinyatakan sebagai blood : gas partition coefficlent (λ), yaitu perbandingan konsentrasi obat anestesi gas dalam darah dengan konsentrasinya dalam gas yang diinspirasi setelah dicapai keseimbangan. Zat yang sangat mudah larut misalnya dietileter dan metoksilluran, mempunyai nilai (λ) 12,1 ; sedangkan etilen yang sukar larut mempunyai nilai (λ), 0,14. Nilai (λ) siklopropan adalah 0,42 ; N2O 0,47 dan kloroform 9,4. Lamanya dicapai keseimbangan antara tekanan parsial di alveoli dan darah tergantung dari kelarutan dalam darah ini, bila kelarutannya tinggi, atau zat obat anestesi mudah larut dalam darah maka dibutuhkan waktu lebih
18
lama, sebab untuk obat ini darah merupakan reservoar; dengan demikian induksi berjalan lebih lambat. Pada penggunaan eter, tekanan parsial dalam darah hanya 5%
dari tekanan parsial pada keseimbangan dengan sekali isap, sedangkan halotan 25%, siklopropan atau N2O 65% dan etilen 85% (Sadikin, 2011).
• Kadar obat anestesi dalam udara inspirasi
Kadar obat anestesi dalam campuran gas yang dihirup menentukan tekanan maksimum yang dicapai di alveoli maupun kecepatan naiknya tekanan parsial arteri.
Kadar obat anestesi yang tinggi akan mempercepat transfer obat anestesi ke darah, sehingga akan meningkatkan kecepatan induksi anestesi (Sadikin, 2011).
• Ventilasi paru.
Hiperventilasi mempercepat masuknya obat anestesi gas ke sirkulasi dan jaringan, tetapi hal ini hanya nyata pada obat anestesi yang larut dalam darah seperti halotan. Untuk obat anestesi yang sukar larut dalam darah misalnya siklopropan, N2O, pengaruh ventilasi ini tidak begitu nyata karena kadar darah arteri cepat mendekati kadar alveoli (Sadikin, 2011).
• Aliran darah paru.
Bertambah cepat aliran darah paru, bertambah cepat pula pemindahan obat anestesi dari udara inspirasi ke darah. Namun hal itu akan memperlambat peningkatan tekanan darah arteri sehingga induksi anestesia akan lebih lambat khususnya oleh obat anestesi dengan tingkat kelarutan sedang dan tinggi, misalnya halotan dan isofluran (Sadikin, 2011).
• Perbedaan antara tekanan parsial obat anestesi di darah arteri dan vena.
Kecepatan difusi ke darah berbanding langsung dengan perbedaan tekanan parsial obat anestesi gas di alveoli dan di dalam darah. Karena tekanan parsial obat anestesi gas dalam aliran darah paru bertambah dengan ventilasi yang berulang kali ke paru, maka pemindahan obat anestesi gas berlangsung lambat sampai tercapainya keseimbangan (Sadikin, 2011).
19
2.4 Isofluran
Isofluran adalah obat anestesi volatil tidak mudah terbakar dengan bau yang tidak terlalu menyengat. Walaupun isofluran merupakan isomer kimia dengan berat molekul yang sama dengan enfluran, tetapi keduanya memiliki sifat fisikokimia yang berbeda (Morgan, 2013).
Koefisien partisi gas/darah isofluran adalah 1,4. Ini lebih kecil dibanding obat inhalasi lainnya, kecuali desfluran 0,42 dan sevofluran 0,6–0,7, memungkinkan peningkatan konsentrasi isofluran di alveolar terjadi lebih cepat. Penelitian oleh Frink dkk, pasien yang di anestesi dengan isofluran kurang dari 1 jam, dapat membuka mata dengan perintah kira – kira 7 menit setelah anestesi dihentikan. Pada pemberian yang lebih lama, yaitu selama 5 – 6 jam, munculnya respon dengan perintah relatif cepat, kira – kira 11 menit setelah isofluran dihentikan. MAC isofluran berkisar 1,2. Induksi dengan isofluran relatif cepat tetapi isofluran dapat mengiritasi jalan nafas bila digunakan pada awal induksi dengan masker pada konsentrasi tinggi. Induksi lambat direkomendasikan untuk mengurangi efek iritatif saluran nafas dan untuk menghindari tahan nafas dan batuk. Dalam praktek barbiturat kerja pendek biasanya diberikan untuk memfasilitasi proses tersebut (Morgan, 2013), (Stoelting dan Hillier, 2007).
Gambar 2.3. Rumus Bangun Isofluran Sumber: Morgan, 2013
Tekanan darah turun dengan cepat dengan makin dalamnya anestesi tetapi berbeda dengan efek enfluran, curah jantung dipertahankan oleh isofluran. Hipotensi lebih disebabkan oleh vasodilatasi di otot jantung. Pembuluh koroner juga berdilatasi dan aliran koroner dipertahankan walaupun konsumsi O2 berkurang. Dengan demikian isofluran
20
dianggap lebih aman untuk pasien dengan penyakit jantung dibandingkan dengan halotan atau enfluran. Namun pada kenyataannya, isofluran dapat menyebabkan iskemia miokardium melalui fenomena coronary steal, yaitu pengalihan aliran darah dari daerah yang perfusinya buruk ke perfusi yang lebih baik. Kecenderungan timbulnya aritmia sangat kecil, sebab isofluran tidak menyebabkan sensitisasi jantung terhadap katekolamin.(Bronco A, Ingelmo PM, 2010)
Pada anestesi yang dalam dengan isofluran tidak terjadi perangsangan sistem saraf pusat seperti pada pemberian enfluran. Isofluran meningkatkan aliran darah otak sementara metabolisme otak hanya menurun sedikit. Sirkulasi otak tetap responsif terhadap CO2 maka hiperventilasi bisa menurunkan aliran darah, metabolisme otak dan tekanan intrakranial.
Keamanan isofluran pada wanita hamil, atau waktu partus, belum terbukti. Isofluran dapat merelaksasikan otot uterus sehingga tidak dianjurkan untuk analgesik pada saat persalinan.
Penurunan kewaspadaan mental terjadi 2-3 jam sesudah anestesi tetapi tidak terjadi mual muntah atau eksitasi sesudah operasi. Isofluran mengalami biotransformasi jauh lebih sedikit.
Asam trifluoroasetat dan ion fluor yang terbentuk jauh di bawah batas yang merusak sel.
Belum pernah dilaporkan gangguan fungsi ginjal dan hati sesudah penggunaan isoflurane.(Puri GD, 2003) (Ashraf A,2005)
2.4.1 Indikasi dan Kontra Indikasi
Inhalasi anestesi baik digunakan sebagai induksi maupun pemeliharaan anestesi. Anestesi inhalasi dapat digunakan pada pasien dari berbagai usia.(Morgan, 2013)
Kontra Indikasi
• Sangat sensitif terhadap obat anestesi inhalasi.
• Diketahui atau dicurigai mudah mengalami demam tinggi (malignant hyperthermia).
21
• Pasien yang pernah mendapat anestesi isoflurane atau obat inhalasi lainnya dapat terjadi ikterus atau gangguan fungsi hepar atau eosinophilia pada masa pasca anestesi.
• Nonselective MAO Inhibitor.
• Tekanan intrakranial tinggi
• Hipovolemia
• Hipotensi
2.4.2 Efek samping penggunaan Isofluran
Vaporiser khusus untuk isoflurane dikalibrasi sehingga konsentrasi anestesi dapat dikontrol secara akurat. Hipotensi dan peningkatan kejadian depresi pernafasan sebagai anestesi dapat diperdalam. Laporan dari QT memanjang, terkait dengan torsade de pointes (dalam kasus luar biasa, yang fatal) telah ditemukan.( Turan A, 2010)
Dalam mengelola anestesi umum, termasuk isoflurane, untuk pasien dengan gangguan mitokondria harus mendapat perhatian lebih. Isoflurane, seperti obat inhalasi lainnya, memiliki efek relaksasi pada uterus dengan potensi risiko perdarahan uterus.
Penilaian klinis harus diamati ketika menggunakan isoflurane selama anestesi obstetri. Harus dipertimbangkan untuk menggunakan konsentrasi terendah dari isoflurane dalam operasi kandungan (Sakurai S, 2008).
Kasus meningkatnya carboxyhaemoglobin telah dilaporkan dengan penggunaan obat inhalasi fluorinated (yaitu, desflurane, enfluran dan isofluran). Isoflurane telah dilaporkan dapat berinteraksi dengan absorben karbon dioksida dalam membentuk karbon monoksida.
Untuk meminimalkan risiko pembentukan karbon monoksida dalam proses pernapasan dan kemungkinan terbentuknya tingkat carboxyhaemoglobin tinggi, penyerapan karbon dioksida sebaiknya minimal. Kasus yang jarang terjadi dari panas yang ekstrim, asap dan atau kebakaran spontan dalam mesin anestesi telah dilaporkan selama anestesi umum dengan obat dalam kelas ini bila digunakan bersama dengan absorben CO2, khususnya yang mengandung
22
kalium hidroksida (misalnya Baralyme). Ketika seorang dokter mencurigai bahwa penyerapan CO2 meningkat, harus dikoreksi terlebih dahulu sebelum pemberian isoflurane (El Tahan MR, 2011).
Pemberian isoflurane harus dikerjakan oleh klinisi yang sudah memahami farmakologi obat dan sudah melalui pelatihan dan pengalaman dalam mengelola pasien.
Karena tingkat anestesi dapat diubah dengan cepat dan mudah, isoflurane hanya digunakan jika terdapat vaporizer yang memberikan prediksi output yang akurat atau keadaan di mana inspirasi dan ekspirasi dapat dipantau. Tingkat hipotensi dan depresi pernafasan dapat menjadi pertimbangan dalam anestesi (Hung ZL,2005) (Wu CC,2006).
Laporan menunjukkan bahwa isoflurane dapat menghasilkan kerusakan hati mulai dari kenaikan sementara enzim hati hingga nekrosis hati yang fatal dalam beberapa kasus yang sangat jarang terjadi. Telah dilaporkan bahwa paparan sebelumnya dengan anestesi hidrokarbon terinhalasiasi, terutama jika interval kurang dari 3 bulan, dapat meningkatkan potensi kerusakan hati. Sirosis, hepatitis virus atau penyakit hati lainnya bisa menjadi alasan untuk memilih obat bius selain anestesi inhalasi. Terlepas dari anestesi yang digunakan, maintenance hemodinamik yang normal penting untuk menghindari iskemia miokard pada pasien dengan penyakit arteri koroner. Isoflurane secara nyata meningkatkan aliran darah otak pada tingkat anestesi yang lebih dalam. kemungkinan ada kenaikan sementara tekanan cairan serebrospinal yang sepenuhnya reversibel dengan hiperventilasi. Isoflurane harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial, pada kasus seperti ini hiperventilasi mungkin diperlukan. Penggunaan isoflurane pada pasien hipovolemik dan hipotensi belum pernah diteliti. Sebuah konsentrasi yang lebih rendah dari isoflurane direkomendasikan untuk digunakan pada pasien ini (Khafagy,2012).
Isoflurane memiliki potensi yang nyata sebagai pelumpuh otot, namun tidak sedalam obat-obatan non-depolarisasi. Isoflurane dapat menyebabkan sedikit penurunan fungsi intelektual selama 2-4 hari setelah anestesi. Kelelahan neuromuskular dapat dilihat pada
23
pasien dengan penyakit neuromuskuler, seperti myasthenia gravis. Isoflurane harus digunakan dengan hati-hati pada pasien ini (El Yacoubi M, 2003).
Isoflurane dapat menyebabkan depresi pernafasan yang diperberat dengan premedikasi narkotika atau obat lain yang dapat menyebabkan depresi pernafasan. Respirasi harus diawasi dan jika perlu, dibantu selama induksi anestesi, air liur mengalir dan sekresi trakeobronkial dapat menjadi penyebab laryngospasm, terutama pada anak-anak Perhatian khusus harus dilakukan ketika isoflurane digunakan pada anak-anak kecil karena keterbatasan penggunaan pada kelompok usia ini (Mahajan VA,2007).
Pada individu yang rentan, anestesi isoflurane dapat memicu otot rangka menjadi hipermetabolik dan menyebabkan kebutuhan oksigen yang tinggi dan sindrom klinis yang dikenal sebagai hipertermia maligna. Sindrom ini mencakup gejala spesifik seperti kekakuan otot, takikardia, takipnea, sianosis, aritmia, dan tekanan darah tidak stabil. (Hal ini juga harus dicatat bahwa banyak dari tanda-tanda spesifik mungkin muncul dengan anestesi ringan, hipoksia akut, dll). PaO2 dan pH dapat menurun, hiperkalemia dan defisit basa mungkin muncul. Tatalaksana termasuk penghentian obat (misalnya isoflurane), intravena dantrolene natrium, dan penerapan terapi suportif. Terapi tersebut mencakup upaya untuk mengembalikan suhu tubuh normal, pernapasan dan peredaran darah, dan pengelolaan gangguan elektrolit-cairan asam-basa. (Konsultasikan pemberian dantrolene natrium intravena untuk informasi tambahan mengenai manajemen pasien.) Gagal ginjal mungkin muncul kemudian (Myles PS, Leslie K, 2010).
Penggunaan obat anestesi inhalasi dikaitkan dengan peningkatan kalium serum yang telah mengakibatkan aritmia jantung dan kematian pada pasien anak selama periode pasca- operasi. Pasien yang lemah serta penyakit neuromuskuler yang jelas, terutama distrofi otot, adalah yang paling rentan. Penggunaan secara serentak dari suksinilkolin telah dikaitkan dengan sebagian besar, tapi tidak semua pada kasus ini. Pasien-pasien ini juga mengalami peningkatan tingkat creatinekinase serum yang signifikan dalam dalam beberapa kasus, perubahan konsistensi urin dengan mioglobinuria. Meskipun ada kemiripan dengan
24
malignant hipertermia, tidak ada pasien yang menunjukkan tanda-tanda atau gejala kekakuan otot atau gangguan hipermetabolik. Intervensi awal yang agresif untuk mengobati hiperkalemia dan aritmia dianjurkan, seperti evaluasi berkelanjutan untuk penyakit neuromuskuler (Basher R, 2010).
Efek inhalasi isofluran pada sistem organ dan farmakologi isofluran dalam praktik klinis:
• Kardiovaskular
Efek depresi isofluran pada otot jantung dan pembuluh darah lebih ringan dibanding dengan obat anesetesi volatil yang lain. Pada penelitian in vivo isofluran menyebabkan depresi minimal ventrikel kiri. Curah jantung dipengaruhi oleh kenaikan detak jantung melalui baroreflexes karotis. Stimulasi ringan β-adrenergik meningkatkan aliran darah otot rangka, mengurangi resistensi pembuluh darah sistemik dan menurunkan tekanan darah arteri. Peningkatan konsentrasi isoflurane mengakibatkan peningkatan sementara denyut jantung, tekanan darah arteri, dan kadar plasma norepinefrin. Isofluran melebarkan arteri koroner, tetapi efeknya tidak sama dengan nitrogliserin atau adenosin. Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil pada penggunaan isofluran selama anestesi. Dengan demikian isofluran merupakan obat pilihan untuk obat anestesi pasien yang menderita kelainan kardiovaskuler (Morgan, 2013).
• Pernapasan
Seperti halnya obat anestesi inhalasi yang lain, isofluran juga menimbulkan depresi pernafasan yang derajatnya sebanding dengan dosis yang diberikan. Depresi pernapasan selama anestesi isofluran menyerupai anestesi lainnya, kecuali takipnea yang kurang jelas. Rendahnya tingkat isofluran (0,1 MAC) menumpulkan respon ventilasi normal terhadap hipoksia dan hiperkapnia. Meskipun isofluran memiliki kecenderungan untuk mengiritasi refleks jalan napas atas, isofluran dianggap sebagai bronkodilator yang baik namun tidak sebaik bronkodilator golongan halotan (Sadikin, 2011).
25
• Serebral
Efek yang ditimbulkaan terhadap sistem saraf pusat sesuai dengan dosis yang diberikan. Isofluran tidak menimbulkan kelainan EEG seperti yang ditimbulkan oleh enfluran. Pada dosis anestesi tidak menimbulkan vasodilatasi dan perubahan mekanisme sirkulasi serebrum, autoregulasi aliran darah otak tetap stabil. Kelebihan lain yang dimiliki oleh isofluran adalah penurunan konsumsi oksigen otak. Sehingga dengan demikian isofluran merupakan obat pilihan untuk anestesi pada kraniotomi, karena tidak berpengaruh pada tekanan intrakranial, mempunyai efek proteksi serebral dan efek metaboliknya yang menguntungkan pada teknik hipotensi kendali (Morgan, 2013).
• Neuromuskular
Isofluran memiliki efek melemaskan otot rangka. Penurunan tonus otot rangka terjadi melalui mekanisme depresi pusat motorik pada serebrum, sehingga dengan demikian berpotensiasi dengan obat pelumpuh otot non depolarisasi.
Walaupun demikian, masih diperlukan obat pelumpuh otot untuk mendapatkan keadaan relaksasi otot yang optimal terutama pada operasi laparatomi (Sadikin, 2011).
• Renal
Pada dosis anestesi, isofluran menurunkan aliran darah ginjal dan laju fitrasi glomerulus sehingga produksi urin berkurang, akan tetapi kondisi ini masih dalam batas normal (Morgan, 2013).
• Hati
Jumlah aliran darah hati (arteri hepatik dan aliran vena portal) berkurang selama anestesi isofluran. Suplai oksigen hati dipertahankan lebih baik dengan isofluran dibandingkan dengan halotan, sehingga fungsi hati biasanya tidak terpengaruh (Morgan, 2013).
26
Tabel 2.4. Efek Anestesi Inhalasi Pada Berbagai Organ (Morgan, 2013)
• Biotransformasi & Toksisitas
Isofluran dimetabolisme menjadi asam trifluoroasetat. Meskipun kadar cairan fluorida serum akan naik, nefrotoksisitas sangat tidak mungkin. Sedasi berkepanjangan (>24 jam pada 0,1-0,6% isofluran) pada pasien sakit kritis menghasilkan peningkatan kadar plasma fluorida (15-50 umol/L) tanpa bukti kerusakan ginjal. Demikian pula, sampai 20-jam MAC isofluran dapat menyebabkan kadar fluorida yang melebihi 50 µmol/L tanpa terdeteksi disfungsi ginjal pasca operasi. Metabolisme oksidatif isofluran yang terbatas juga meminimalkan risiko kemungkinan disfungsi hati yang signifikan. Isofluran hampir seluruhnya dikeluarkan melalui udara ekspirasi, hanya 0,2% dimetabolisme di dalam tubuh (Morgan, 2013).
27
• Kontraindikasi
Tidak ada kontraindikasi yang spesifik pada penggunaan isofluran. Pasien dengan hipovolemia berat mungkin tidak dapat mentolerir efek vasodilatasi. Hal ini dapat memicu malignan hipertermia (Morgan, 2013).
• Interaksi obat
Penggunaan isofluran yang bersamaan dengan epinefrin dapat dengan aman diberikan sampai dengan dosis epinefrin 4,5 mcg/kg (Morgan, 2013).
• Penggunaan Klinik
Sama seperti halotan dan enfluran, isofluran digunakan terutama sebagai komponen hipnotik dalam pemeliharaan anestesi umum. Disamping efek hipnotik, juga mempunyai efek analgetik ringan dan relaksasi ringan. Untuk mengubah cairan isofluran menjadi uap, diperlukan alat penguap (vaporizer) khusus isofluran (Sadikin, 2011).
• Keuntungan dan Kelemahan
Keuntungannya adalah induksi cepat dan lancar, tidak iritatif terhadap mukosa jalan nafas, pemulihannya lebih cepat dari halotan, tidak menimbulkan mual muntah, dan tidak menimbulkan menggigil. Penilaian terhadap pemakaian isofluran saat ini adalah bahwa isofluran tidak menimbulkan gangguan terhadap fungsi kardiovaskuler, tidak mengubah sensitivitas otot jantung terhadap katekolamin, isofluran sangat sedikit mengalami pemecahan dalam tubuh dan tidak menimbulkan efek eksitasi sistem saraf pusat. Kelemahannya dari penggunaan isofluran adalah batas keamanan sempit (mudah terjadi kelebihan dosis), analgesia dan relaksasinya kurang, sehingga harus dikombinasikan dengan obat lain (Morgan, 2011).
2.5. Aminophylline
Aminophylline merupakan bentuk garam dari teofilin. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahan cAMP
28
dan cGMP masing-masing menjadi 5’-AMP dan 5’-GMP. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos termasuk otot polos bronkus. (Wu CC, Lin CS, 2006)
Aminophylline adalah salah satu obat bronkodilator golongan xantin yang memiliki efek mendilatasi bronkus. Aminophylline merupakan senyawa kompleks teofilin dengan etilendiamin, dengan kandungan teofilin anhidrat bervariasi antara 79-86 %. Dalam tubuh Aminophylline terurai menjadi teofilin. Teofilin termasuk obat-obat yang mempunyai lingkup terapi (therapeutic windows) sempit (10-20 mcg/ml). Artinya, jarak antar dosis terapatik dan dosis toksis kecil, sehingga efek toksik akan mudah timbul apabila dosis atau kadarnya melewati ambang toksik. (Farsad dkk, 2017)
Gambar 2.4 Struktur Kimia Aminophylline Sumber : Katzung, BG., 2014
2.5.1 Farmakokinetik
Obat golongan xantin seperti Aminophylline cepat diabsorbsi setelah pemberian oral, rektal ataupun parenteral. Kelarutan Aminophylline lebih besar daripada teofilin, tetapi ternyata derajat absorpsinya tidak banyak berbeda. Setelah pemberian per-oral, obat ini diabsorpsi dengan cepat, sehingga kadang-kadang terjadi lonjakan kadar dalam darah yang menimbulkan gejala efek samping. Pemberian teofilin/Aminophylline bersama dengan
29
katekolamin dan simpatomimetik golongan amina harus hati-hati karena dapat memperkuat terjadinya takiaritmia. Teofilin mengalami metabolisme terutama di hepar dan ± 8 % fraksi obat diekskresikan melalui urin dalam bentuk tetap. Aminophylline dapat mencapai kadar puncak plasma dalam waktu 2 jam, tetapi saat ini ada teofilin lepas lambat yang bisa bertahan dengan interval 8, 12 atau 24 jam. Adanya makanan dalam lambung akan memperlambat kecepatan absorbsi Aminophylline atau golongan xantin lainnya. Pemberian IM dapat menyebabkan nyeri lokal yang sangat lama. Metilxantin dapat menembus plasenta dan masuk ke air susu ibu. Dalam keadaan normal ikatan golongan xantin dengan protein sebesar 60% tetapi pada keadaan sirosis hepatis ikatan protein menurun menjadi 40%. Eliminasi xantin terutama melalui metabolisme hepar. Sebagian besar dieliminasi bersama urin dalam bentuk asam metilurat atau metilxantin, kurang dari 20% Aminophylline ditemukan dalam bentuk utuh dalam urin.(Altan A,2005) (Ekman A,2010)
2.5.2 Farmakodinamik Aminophylline
Aminophylline merupakan bentuk garam dari teofilin. Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahan cAMPdan cGMP masing-masing menjadi 5’-AMP dan 5’-GMP. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos termasuk otot polos bronkus (Katzung, 2014).
Berikut ini akan dipaparkan efek Aminophylline pada berbagai organ:
• Sistem saraf pusat
Aminophylline atau teofilin merupakan sebagai perangsang sistem saraf pusat yang kuat, bila dosis pemberian ditinggikan maka mampu memberikan efek berderbar, gelisah, insomnia, tremor, dan kejang. Tetapi dengan dosis rendah metilxantin seperti Aminophylline dapat merangsang system saraf pusat yang sedang mengalami depresi, misalnya pemberian Aminophylline dosis 2 mg/kgbb dengan cepat akan memulihkan keadaan narkosis pada individu yang mendapat 100 mg