• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR SINGKATAN

15. Program Pelatihan Bahasa Jepang

3.3.5 Fasilitas Pelatihan

Aspek input pada komponen fasilitas pelatihan akan difokuskan pada penilaian mengenai gedung pelatihan, bahan dan peralatan pelatihan. Pertama, gedung pelatihan sebagai fasilitas pelatihan. Saat ini PPKD Jakarta Timur memiliki enam buah gedung pelatihan untuk lima belas kejuruan. Gedung pelatihan teknik, untuk kejuruan teknik komputer, teknik elektro, teknik pendingin, teknologi mekanik; gedung pelatihan otomotif, diperuntukan untuk kejuruan otomotif roda uda dan otomotif roda empat; gedung untuk pelatihan kejuruan tata boga, tata busana, bahasa inggris, bahasa jepang, tata graha, operator komputer, desain grafis; gedung LAS; gedung untuk kejuruan tata rias terpisah berada di dalam gedung untuk pemberkasan; dan aula yang digunakan saat penyampaian materi umum.

Kondisi gedung secara keseluruhan cukup memadai untuk pelaksanaan pelatihan, namun beberapa gedung belum mendukung terciptanya iklim pelatihan yang kondusif. Salah satunya ialah gedung pelatihan kejuruan LAS seperti yang disampaikan oleh instruktur kejuruan LAS.

“...untuk gedung disini seperti yang mbak liat sendiri seperti ini, kalo dibilang cukup ya cukup tapi saya si pengennya kalo bisa lebih baik lagi... untuk renovasi gedung agak susah ya, soalnya kita kan disini lembaga pelatihan milik pemerintah, jadi agak lama prosedurnya dan pembangunannya juga pasti butuh waktu yang engga sebentar. Kalo ini direnovasi, nanti pelatihannya dimana, jadi yaa kita syukuri aja deh. Walaupun tetep pengennya si ada perbaikan sedikit. Hehehe”133

Kedua, bahan dan peralatan pelatihan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi pelaksanaan pelatihan berkaitan dinilai melalui ketersediaan peralatan pelatihan, kualitas peralatan pelatihan, dan kesesuaian peralatan pelatihan dengan yang terdapat di lapangan. Secara keseluruhan setiap kejuruan PPKD Jakarta Timur telah dilengkapi dengan dua ruangan untuk teori dan praktek, peralatan pelatihan yang sesuai dengan jumlah peserta pelatihan. Namun, dalam penilaian terdapat poin evaluasi pada kualitas peralatan pelatihan, misalnya yang dalam salah satu ungkapan instruktur tata boga berkaitan dengan material, ukuran peralatan pelatihan atau dengan kata lain kesesuaian dengan peralatan dengan kondisi di lapangan.

“Kalo peralatan sebenernya si disini lengkap ya, dapurnya juga di design kurang lebih mirip sama dapur-dapur di restoran, tapii mungkin dari segi material agak berbeda. Misalnya, gelas ini, kalo di restoran atau dihotel material kacanya lebih ada kilauan kualitasnya lebih bagus, nah kalo disini kita adanya yang biasa. Terus peralatan disini, di restoran atau hotel mungkin dipakenya yang ukuran besar, disini kita adanya yang ukurannya kecil atau besar. Agak berbeda si, tapi yaa syukurin aja ya. Hehehe.... Jadi perbedaan2 gini si pasti ada ya semua jurusan, tapi paling engga, disini kita tunjukin peralatan yang biasa ada di restoran2 atau hotel walaupun seperti miniaturnya, tapi paling engga mereka tau, jadi saat mereka bekerja mereka

133

jadi paham dan menyesuaikannya engga butuh waktu lama dibandingkan dengan mereka yang belum tau dasarnya.”134

Selain material peralatan pelatihan, terdapat beberapa permasalahan berkaitan dengan peralatan pelatihan. Pertama, masih belum terpenuhinya kebutuhan peralatan pelatihan, salah satunya dialami oleh kejuruan Desain Grafis. Kejuruan desain grafis memfokuskan lulusannya untuk bekerja di bidang percetakan, multimedia, dan

advertising (periklanan). Namun saat ini, jurusan tersebut hanya memiliki satu buah

ruangan untuk teori dan praktek. Selain itu, kejuruan Desain Grafis juga mengalami kekurangan kelengkapan peralatan pelatihan, diantaranya printer yang saat ini hanya ada satu buah dam dalam kondisi mengalami kerusakan sehingga tidak dapat digunakan, kurangnya meja untuk meletakan komputer; dan belum tersedianya peralatan percetakan hasil desain peserta.

“Untuk desain grafis kalo boleh jujur dalam peralatan masih kurang bahkan ruangan kita Cuma ada satu, itu untuk teori praktek. Contohnya printer, disini kita Cuma punya satu yang itu (sambil menunjuk ke arah printer) itu untuk semua peserta, makenya gantian, tapi saat ini lagi rusak. Terus sama meja, jadi komputernya si pas tapi mejanya kurang, hehehe. Akhirnya mereka yang punya laptop bawa laptop sendiri kesini. Desain grafis, sebenernya disini kita lebih ngarahinnya ke multimedia, percetakan, advertising atau periklanan. Jadi nanti mereka setelah lulus bisa bekerja dibidang itu, atau membuka usaha sendiri seperti fotocopy, sablon, atau cetak2 gelas. Nah berkaitan sama hal itu, kita disini juga belum difasilitasi dengan peralatan percetakan, jadi kita agak bingung juga. Mungkin karena ini jurusan baru ya, nanti kedepannya mungkin akan diadakan...”135

134 Wawancara dengan Instruktur Tata Boga, Ibu Cila Pada 17 Mei 2017

135

Gambar III.1

Suasana di Kelas Kejuruan Desain Grafis

Sumber : Dokumentasi Peneliti (2017)

Keterangan : Foto di atas diambil saat peserta pelatihan sedang melakukan presentasi tugas kelompok, membuat logo.

Untuk menghadapi peramasalahan tersebut beberapa upaya dilakukan, untuk menutupi kekurangan meja ialah peserta yang memiliki laptop diminta untuk membawa laptop saat pelatihan, sementara hasil desain dilakukan dengan melakukan presentasi desain, biasanya dilakukan secara berkelompok. Namun, harus diakui bahwa ketersediaan peralatan pelatihan tersebut tetap diperlukan agar pelaksanaan pelatihan dapat menghasilkan tenaga kerja yang memiliki kompeten dan mencapai tujuan Kejuruan Desain Grafis.

Permasalahan yang sama juga dialami oleh kejuruan Operator Komputer dimana kurangnya jumlah printer dan peralatan pelatihan yang kurang upgrade, yaitu komputer masih menggunakan versi lama dan kapasitas hardisk. Dalam penuturannya, instruktur pelatihan memaparkan bahwa pada dasarnya peralatan pelatihan sudah lengkap tersedia untuk setiap peserta pelatihan. Tetapi hasil pelatihan

akan lebih maksimal jika peralatan pelatihan diadakan upgrade dan disediakan kapasitas hardisk CPU (Central Processing Unit) yang lebih besar.

“Disini peralatan pelatihan sudak sangat lengkap ya, tersedia untuk semua peserta pelatihan. Ada ruang teori dan praktek lengkap pokoknya... Kalo ditanya harapan si banyak ya, disini komputernya kita masih menggunakan versi lama, jadi yaa pengennya si kalo bisa ada

upgrade peralatan gitu, saya mah engga minta yang muluk-muluk ya. Cuma upgrade

komputer, keyboard sama nambah kapasitas CPU. Hehehehe. Upgrade peralatan pelatihan itu kan juga bisa dibilang penting ya untuk mengoptimalkan hasil pelatihan. Oh sama AC juga kalo bisa, ruangannya panas, apalagi kalo lagi mati lampu, tadi Mbak juga rasain sendiri kan. Harapannya si begitu, yaa kita lihat aja nanti pihak sana responnya gimana. Hehehehe”136 Selanjutnya ialah listrik yang padam mendadak. Listrik merupakan salah satu hal yang penting saat pelatihan karena hampir semua peralatan pelatihan menggunakan listrik sebagai alat operasinya. Sehingga, permasalahan listrik yang suka padam memiliki pengaruh saat praktek pelatihan dan mengganggu proses pembelajaran.

“kalo dari peralatan sebenernya si udah lengkap ya pelatihan disini, tapi kadang listriknya suka mati, paling nyebelin itu kalo mati pas lagi praktek, kadang suka lupa nge-save. Hhhh, bikin kesel deh. Hehehe. Berharapnya si semoga lebih ditingkatin lagi, diperbaiki lagi sarana prasarananya. Apalagi soal listrik tadi, itu soalnya juga mengganggu proses pembelajaran.”

137

Permasalahan lainnya saat proses praktek pelatihan ialah terdapat kerusakan pada mesin atau peralatan pelatihan. Permasalahan tersebut dialami di beberapa kejuruan PPKD Jakarta Timur, diantaranya Tata Busana, Tata Rias, dan Teknik Komputer. Sebagai lembaga pelatihan yang dikelola oleh Pemerintah Daerah, terdapat beberapa prosedur yang harus dilakukan untuk dapat melakukan perbaikan ataupun pengadaan peralatan pelatihan. Selain itu, melakukan rangkaian prosedur,

136 Wawancara dengan Pak Firman, instruktur Operator Komputer pada 18 Mei 2017.

137 Wawancara dengan Peserta Pelatihan Kejuruan Operator Komputer Anggita Dwi K.P. pada 23 Mei 2017.

melakukan perbaikan dan pengadaan peralatan pelatihan membutuhkan waktu cukup lama. Oleh karena itu, agar praktek pelatihan tetap berjalan secara efektif instruktur menerapkan penggurnaan peralatan pelatihan secara bergantian.

“Disini kendala itu ada di praktek, karena sering dipake jadi ada beberapa, kalo engga salah peralatan yang rusak. Kalo untuk perbaikan atau pengadaan peralatan baru itu engga bisa langsung karena kan kita lembaga daerah ya, jadi ada prosedurnya dan itu cukup memakan waktu. Jadi nyiasatinnya ya supaya prakteknya tetap jalan yaa kita gantian jadi menggunakan mesinnya.”138

3.4 Aspek Proses Pelaksanaan Program Kegiatan Pelatihan Kerja di PPKD