• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fasilitas Pelayanan Dalam Modernisasi Perpajakan

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 28-38)

a. Tempat Pelayanan Terpadu (TPT).

Tempat ini merupakan tempat pelayanan perpajakan yang terintegrasi di KPP dengan menggunakan sistem komputer, yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak. Selain itu, juga memudahkan pengawasan terhadap proses pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak.

b. Account Representative.

Account Representative (AR) memiliki tugas untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban Wajib Pajak dan melayani penyelesaian hak Wajib Pajak. AR juga bertugas untuk memberikan semua informasi yang diperlukan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Wajib

35 Pajak secara efektif dan profesional, terutama mengenai Rekening Wajib Pajak (Taxpayers Account) untuk semua jenis pajak, kemajuan proses pemeriksaan dan restitusi, interpretasi dan penegasan atas suatu peraturan (ruling), perubahan data identitas Wajib Pajak, tindakan pemeriksaan dan penagihan pajak, kemajuan proses keberatan dan banding, perubahan peraturan yang berkaitan dengan kewajiban perpajakan wajib pajak. Dengan demikian, AR berfungsi untuk menjembatani antara Wajib Pajak dengan KPP. Setiap AR akan diberikan tanggung jawab untuk memantau wajib pajak dalam areal tertentu. Dengan adanya AR, diharapkan pengawasan dalam perpajakan menjadi lebih efektif.

c. Help Desk.

Help Desk ini merupakan salah satu fasilitas yang diberikan, untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang terkadang dialami oleh masyarakat bila berhubungan dengan suatu kantor pajak termasuk instansi pemerintah. Fasilitas ini biasanya dilokasikan di lobby gedung KPP atau TPT, dengan menempatkan petugas yang dianggap cakap dan berpengetahuan tentang perpajakan. Masyarakat dapat menggunakan fasilitas ini untuk memperoleh segala informasi yang dibutuhkan mengenai perpajakan.

d. Media Informasi Pajak.

Fasilitas ini tidak hanya disediakan di KPP, melainkan juga terdapat di beberapa tempat lain yang strategis. Media Informasi Pajak merupakan suatu media yang berbentuk touch screen, yang disediakan untuk melayani kebutuhan Wajib Pajak atas informasi-informasi mengenai peraturan pajak yang berlaku,

36 seperti misalnya bagaimana cara untuk mengajukan diri sebagai Wajib Pajak.

e. Website.

Dalam era globalisasi ini, dimana penggunaan teknologi sudah semakin marak digunakan, dibuatlah suatu website perpajakan yang dikelola oleh DJP yang memiliki fungsi yang serupa seperti fasilitas yang dijelaskan sebelumnya, yaitu untuk memberikan informasi-informasi mengenai perpajakan dan peraturan perpajakan yang berlaku saat ini.

Beberapa diantara website tersebut yaitu :

1) http://www.pajak.go.id

2) http://www.kanwilpajakbesar.go.id

3) http://www.kanwilpajakkhusus.go.id

f. Complaint Center.

Fasilitas ini merupakan bentuk keterbukaan DJP untuk melakukan perbaikan-perbaikan tugas terutama dalam hal pelayanan terhadap Wajib Pajak. Namun, fasilitas ini tidak melayani keluhan-keluhan mengenai penyimpangan ataupun pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh pegawai, melainkan hanya terbatas pada keluhan atsa segala jenis pelayanan, pemerikasaan, keberatan, dan banding. Pegawai yang melakukan pelanggaran akan ditangani secara khusus oleh unit tersendiri.

37 g. Call Center.

Fungsi utama yang ditangani oleh call center adalah menyangkut pelayanan dan penanganan complaint Wajib Pajak. Adapun keistimewaan dari fasilitas ini adalah :

1) Sentralisasi penerimaan complaint dengan desentralisasi penanganan complaint.

2) Penggunaan toll free number.

3) Dilengkapi dengan complaint management service.

h. E- Registration.

E-Registration merupakan Sistem Pendaftaran Wajib Pajak secara on-line, yaitu sistem pendaftaran dan atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dengan menggunakan suatu sistem yang terhubung langsung secara on-line dengan Direktorat Jenderal Pajak. Tujuan utama sistem ini adalah memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak untuk mendaftar setiap saat dan dimana saja, serta memberikan fasilitas terkini bagi Wajib Pajak untuk mendaftarkan diri secara on-line dengan memanfaatkan teknologi internet.

Sistem ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu sistem yang dipergunakan oleh Wajib Pajak yang berfungsi sebagai sarana pendaftaran Wajib Pajak secara on-line dan sistem yang dipergunakan oleh Petugas Pajak yang berfungsi untuk memproses pendaftaran Wajib Pajak.

38 Dengan adanya aplikasi ini, maka Wajib Pajak dapat menghemat waktu dan tenaga karena dapat melakukan registrasi kapan saja dan dimana saja sepanjang terdapat koneksi internet dimana Wajib Pajak tersebut berada.

i. E-Filing.

E-Filing merupakan suatu cara penyampaian Surat Pemberitahuan yang dilakukan melalui sistem on-line dan real time melalui sebuah perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP) dengan menggunakan internet, yaitu perusahaan ASP yang telah ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai perusahaan yang dapat menyalurkan penyampaian SPT secara elektronik ke DJP. Penggunaan E-Filing dimaksudkan untuk memberikan kelancaran bagi pelayanan kepada wajib pajak dan juga untuk mengurangi kontak antara wajib pajak dengan petugas pajak.

Tujuan dari penggunaan E-Filing ini adalah untuk memberi kemudahan kepada para Wajib Pajak, sehingga Wajib Pajak Pribadi dapat melakukan pelaporan SPT dari rumah atau tempatnya bekerja, sedangkan Wajib Pajak Badan dapat melakukannya dari lokasi kantor atau usahanya. Selain itu, dengan cepat dan mudahnya pelaporan pajak ini berarti juga akan memberikan dukungan kepada Kantor Pajak dalam hal percepatan penerimaan laporan SPT dan perampingan kegiatan administrasi, pendataan (juga akurasi data), distribusi dan pengarsipan laporan SPT.

Langkah-langkah untuk dapat menggunakan aplikasi E-filing yaitu sebagai berikut :

39 1) Mengajukan permohonan Electronic Filer Identification Number (EFIN).

2) Mengajukan permohonan mendapatkan Digital Certificate.

3) Memeriksa status permohonan dan meng-install Digital Certificate.

j. E-SPT.

Elektronik SPT (E-SPT) merupakan suatu aplikasi yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang digunakan untuk mengadministrasikan data SPT yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan SPT. E-SPT dapat berbentuk pelaporan SPT melalui perusahaan Pelayanan Jasa Aplikasi (ASP) maupun SPT beserta lampiran-lampiranya dalam bentuk digital dan dilaporkan menggunakan media penyimpanan seperti disket, CD, flashdisk ke KPP dimana Wajib Pajak terdaftar. Dengan adanya E-SPT ini, maka Wajib Pajak cukup melaporkan E-SPT induk saja, sementara lampiran-lampirannya dilaporkan dalam bentuk file-file yang disimpan di media penyimpanan.

Perbedaan antara pelaporan SPT secara manual dengan pelaporan SPT secara E-SPT, yaitu :

1) Cara Pengisian.

Dalam melakukan pengisian SPT secara manual, dilakukan dengan cara memasukkan setiap data secara manual pada formulir SPT, kemudian Wajib Pajak diharuskan untuk dapat melakukan penghitungan jumlah pajak yang terutang. Jika Wajib Pajak tidak mengerti tentang

40 bagaimana melakukan penghitungan jumlah pajak yang terutang, maka dapat menyewa jasa konsultan pajak.

Sedangkan dalam melakukan pengisian SPT secara E-SPT, pengisian dilakukan dengan menggunakan komputer yang telah terpasang sistem aplikasi E-SPT. Sistem ini memiliki kemampuan untuk menghitung jumlah pajak yang terutang berdasarkan data yang telah diinput ke dalam sistem. Dalam melakukan pengisian SPT menggunakan E-SPT ini, hanya dibutuhkan seorang operator entry untuk memasukkan data ke dalam sistem aplikasi E-SPT dan kemudian sistem inilah yang akan menghitung secara otomatis jumlah pajak terutang yang dimiliki oleh Wajib Pajak yang bersangkutan.

2) Cara Pelaporan.

Dalam pelaporan SPT secara manual, Wajib Pajak diharuskan untuk melaporkan induk SPT beserta lampiran-lampiran SPT dalam bentuk hard copy secara langsung ke KPP. Sedangkan dalam pelaporan SPT menggunakan E-SPT, Wajib Pajak hanya perlu melaporkan induk SPT saja, sementara lampiran-lampirannya dilaporkan dalam bentuk soft copy melalui media penyimpanan seperti disket, CD, dan sebagainya.

3) Pengendalian (control).

Dalam pelaporan SPT secara manual, diperlukan pengendalian yang ketat terhadap kinerja aparat pajak. Sedangkan dalam pelaporan

41 SPT secara E-SPT, pengendalian terhadap kinerja aparat pajak lebih rendah, tetapi diperlukan pengendalian terhadap teknologi yang digunakan.

4) Risiko.

Dalam pelaporan SPT secara manual, risiko yang dimiliki lebih tinggi, karena aparat pajak harus merekam ulang SPT yang telah dilaporkan oleh Wajib Pajak sehingga dapat terjadi kemungkinan jumlah SPT yang direkam oleh aparat pajak tidak sama dengan jumlah SPT yang dilaporkan oleh Wajib Pajak. Sedangkan dalam pelaporan SPT secara E-SPT, dapat mengurangi risiko karena aparat pajak tidak perlu lagi melakukan perekaman ulang tetapi langsung memindahkan data SPT Wajib Pajak yang telah disimpan dalam media penyimpanan.

Adanya aplikasi E-SPT ini bertujuan untuk memudahkan Wajib Pajak dalam melakukan pelaporan SPT. Adapun kegunaan lain dari aplikasi E-SPT yaitu:

1) Perekaman data SPT beserta lampiran-lampirannya dan pembetulan atau koreksi.

Sistem aplikasi E-SPT ini dapat digunakan untuk merekam data SPT beserta lampirannya dan dapat melakukan perhitungan-perhitungan secara otomatis pada saat perekaman. Dengan demikian, Wajib Pajak dapat secara langsung melakukan pembetulan ataupu

42 koreksi pada SPT induk maupun lampiran apabila terdapat kesalahan pemasukan data karena sistem ini memiliki fasilitas checking.

2) Pembuatan data digital SPT.

Data SPT dalam bentuk digital dan data digital akan dihasilkan oleh program aplikasi E-SPT, yang merupakan suatu data yang akan dilaporkan kepada KPP dalam bentuk media penyimpanan seperti CD atau flashdisk.

3) Cetak SPT.

Aplikasi ini memiliki fasilitas untuk mencetak SPT induk yang akan dilaporkan ke KPP dimana Wajib Pajak terdaftar.

Sebagaimana layaknya suatu sistem yang mulai digunakan, tentu aplikasi ini memiliki beberapa kelebihan maupun kekurangan, antara lain :

1) Kelebihan E-SPT :

a) Penyampaian E-SPT dilakukan secara aman.

Wajib Pajak hanya perlu membawa SPT induk ke KPP, sementara lampiran-lampirannya tersimpan ke dalam media penyimpanan. Hal ini menyebabkan tidak ada kemungkinan adanya lampiran SPT yang tidak terbawa atau tercecer.

b) Sistem aplikasi E-SPT mengorganisasikan data perpajakan perusahaan dengan baik dan sistematis.

43 Dengan menggunakan aplikasi ini, Wajib Pajak dapat menginput data SPT secara benar dan terorganisasi dengan baik karena sistem ini telah dibuat secara sistematis. Wajib Pajak hanya perlu memasukkan data keuangan dan secara otomatis sistem ini akan dapat menghasilkan data perpajakan yang lebih baik dan sistematis, juga dapat menghitung pajak terutang yang dimiliki oleh Wajib Pajak tersebut.

c) Mempermudah perhitungan pajak.

Operator entry yang akan mengisi SPT hanya perlu untuk menginput data SPT saja, kemudian secara langsung sistem aplikasi E-SPT akan melakukan penghitungan perpajakan secara otomatis.

d) Mempermudah dalam pembuatan laporan perpajakan.

Wajib Pajak tidak perlu lagi membuat laporan dengan lampirn yang bertumpuk-tumpuk, karena sistem ini memiliki kemampuan untuk membuat SPT dalam media penyimpanan (disket/CD) dengan format tertentu sehingga memudahkan Wajib Pajak dalam melaporkan SPT ke KPP. Software yang disediakan untuk pengisian laporan memiliki fasilitas checking yang dapat mengurangi kesalahan. Wajib Pajak juga dapat mengurangi biaya cetak lembar isian SPT karena kesalahan input dapat segera diperbaiki pada saat pengisian data.

44 2) Kekurangan E-SPT, yaitu kurangnya infrastruktur yang tersedia di

lingkungan KPP. Sistem ini membutuhkan infrastruktur yang bersifat fisik, seperti komputer dengan kualifikasi yang lebih tinggi, maupun infrastruktur yang bersifat non fisik, seperti kehandalan sumber daya manusia yang dimiliki.

k. E-Payment atau Sistem Monitoring Pelaporan Pembayaran Pajak (MP3).

Fasilitas lainnya yang memberi kemudahan bagi Wajib Pajak dan juga berfungsi mengurangi kontak langsung antara petugas pajak dengan Wajib Pajak adalah melalui Payment. Melalui sistem pembayaran dengan E-Payment ini, Wajib Pajak selain dapat langsung ke bank persepsi, juga dapat menyetorkan pajak dengan fasilitas phone banking, internet banking, standing instruction, atau ATM.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 28-38)

Dokumen terkait