4.2 Profil Kecamatan Kramat Jati
4.2.9 Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial Lainnya
Fasilitas umum dan fasilitas sosial terdapat di Kecamatan Kramat Jati seperti fasilitas pemerintahan, olahraga, taman, tempat pembuangan sampah, tempat rekreasi, saluran air, flyover, jembatan, underpass, jaringan listrik, halte, angkutan umum, jalur busway, tempat berbelanja (pasar, warung, toko, dan lain-lain), telekomunikasi, ruang serbaguna, dan makam. Secara garis besar, kondisi fasilitas ini baik.
Gambar 4.2.9.1 Fasilitas Umum dan Sosial Lainnya di Kecamatan Kramat Jati
52
Universitas Indonesia
Fasilitas Pemerintahan Halte Busway dan
Jembatan Penyebrangan
53
Universitas Indonesia Bab V
Proses Mobiltias Sosial Vertikal Intragenerasi
Penelitian ini memiliki tujuan utama yaitu untuk mengetahui proses mobilitas sosial vertikal intragenerasi yang dapat terjadi pada warga pendatang di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Selain itu, terdapat tujuan turunan yaitu untuk mengetahui perjalanan karir individu selama masa hidupnya dan mengetahui peran aspek penentu dalam proses mobilitas sosial vertikal intragenerasi pada warga pendatang seperti pendidikan, modal sosial, teknologi, keahlian (skill), okupasi, kebijakan pemerintah, okupasi, dan modal material.
Bab lima ini secara garis besar akan menjelaskan terkait proses mobilitas sosial vertikal intragenerasi vertikal intragenerasi pada warga pendatang di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Pada bab ini akan dibagi menjadi enam sub bagian, yaitu employees, employes ke self employed dan employer, employes ke self
employed, self employed ke employees, employees ke self emplyeed ke employers, dan employees ke self employeed ke employers ke self employed. Enam sub bagian
ini berpedoman pada teori Goldthrope terkait relasi ketenagakerjaan. Goldthrope membagi tiga jenis relasi keternagakerjaan yaitu employees, employers, dan self
employed. Kemudian, penelitian ini melihat indikator-indikator yaitu pekerjaan dan
pendapatan untuk mengetahui warga pendatang mengalami mobilitas sosial vertikal intragenerasi naik, turun, atau tetap. Sebelum masuk bagian pertama di bab lima, penelitian ini juga akan membahas terkait proses warga pendatang melakukan perpindahan dari daerah asal ke Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Warga pendatang di Kecamatan Kramat Jati berasal dari berbagai daerah, namun rata-rata mereka berasal dari Pulau Jawa. Mereka melakukan perpindahan ke Kecamatan Kramat Jati dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian. Mereka berpendapat bahwa Kecamatan Kramat Jati merupakan daerah perdagangan yang memiliki peluang kerja banyak. Selain itu, warga pendatang juga
54
Universitas Indonesia
tidak harus mem`iliki keahlian khusus ataupun pendidikan yang tinggi. Paparan diatas berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan.
“Saya kan tidak punya keahlian dan pendidikan yang tinggi untuk kerja di perkantoran. Kemudian, ada yang bisik-bisik, jadi tukang becak di Jakarta gajinya besar dan hasilnya enak. Ternyata, pada saat menjalani memang benar seperti itu. Pada tahun 1987, pendapatan jadi tukang becak itu Rp.5000/hari. Jadi, sejajar hasilnya sama di Sumatra. Mohon maaf sebelumnya, jika dibandingkan pegawai negeri sipil, masih tinggian tukang becak upahnya.……...”
(Pak Sarwadi, Warga Pendatang di Kecamatan Kramat Jati, Rumah Pak Sarwadi, 7 Maret 2019) Warga pendatang mengalami proses yang berbeda dalam melakukan perpindahan dari daerah asalnya ke Kramat Jati, Jakarta Timur. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti menyimpulkan ada empat tipe proses warga pendatang melakukan perpindahan dari daerah asal ke Kramat Jati. Tipe pertama yaitu warga pendatang melakukan perpindahan langsung dari daerah asalnya ke Kramat Jati, Jakarta Timur. Tipe kedua yakni sebelum ke daerah Kramat Jati, warga pendatang mengalami perpindahan dari daerah asalnya ke daerah lain (diluar daerah Jakarta) dahulu. Tipe ketiga yaitu warga pendatang yang melakukan perpindahan dari daerah asal ke daerah lain yang ada di Jakarta lalu ke Kramat Jati. Kemudian, tipe yang terakhir adalah warga pendatang yang melakukan perpindahan dari daerah asal ke Kramat Jati, lalu kembali ke daerah asalnya dan kembali ke Kramat Jati lagi. Dibawah ini adalah skema tipe proses perpindahan warga pendatang di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur.
Pindah
a. Tipe Perpindahan Pertama Asal
Daerah
Kramat Jati
55
Universitas Indonesia
Pindah Pindah
b. Tipe Perpindahan Kedua
Pindah Pindah
c. Tipe Perpindahan Ketiga
Pindah Pindah Pindah
d. Tipe Perpindahan Keempat
Warga pendatang memiliki alasan masing-masing untuk melakukan perpindahan berdasarkan tipe perpindahan diatas. Pada tipe pertama, warga pendatang memiliki alasan yaitu mendapatkan informasi dari keluarga atau tetangga terdekat terkait potensi dari wilayah Kramat Jati yang dapat memberikan peluang kerja dengan upah yang besar tanpa perlu keterampilan khusus atau pendidikan tinggi. Warga pendatang yang melakukan tipe perpindahan kedua, berpindah ke daerah lain terlebih dahulu karena mendapatkan pekerjaan dengan upah yang besar dan tanpa keterampilan (skill) tertentu. Perusahaan meminjamkan modal berupa uang untuk keluarga yang ditinggalkan, uang transportasi menuju ke lokasi perusahaan, serta tempat tinggal untuk pekerja luar daerah. Namun, mereka
Asal Daerah Daerah Lain (diluar Jakarta) Kramat Jati Asal Daerah Jakarta Kramat Jati Kramat Jati Asal Daerah Kramat Jati Asal Daerah
56
Universitas Indonesia
akhirnya pindah ke Kramat Jati, karena Perusahaan dimana tempat mereka bekerja di tutup. Selain itu, mereka mendapatkan informasi dari tetangga di Kampung halaman dan teman kerjanya bahwa Kramat Jati dapat memberikan peluang kerja dengan upah besar tanpa perlu keterampilan khusus seperti untuk bekerja di Kantoran dan pendidikan tinggi.
Warga pendatang yang melakukan tipe perpindahan ketiga, rata-rata pindah ke daerah Jakarta (diluar Kramat Jati) terlebih dahulu karena melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan sesuai keterampilan (skill), serta perusahaan memberikan upah yang besar dan jaminan tempat tinggal. Tipe ketiga ini memilih selanjutnya untuk pindah ke Kramat Jati karena daerah ini memiliki lokasi yang strategis, cocok untuk tempat tinggal, transportasi mudah, dan dapat menjadi peluang usaha rumahan. Tipe yang terakhir memiliki perbedaan alasan dengan tipe-tipe sebelumya. Tipe terakhir ini melakukan perpindahan berulang kali ke daerah yang sama karena ingin membandingkan pendapatan penjualan di daerah asal dengan di Kramat Jati. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan perpindahan kembali ke daerah Kramat Jati yang lebih memiliki peluang usaha lebih besar dan keuntungan yang cukup banyak.
Pada saat warga pendatang memutuskan melakukan perpindahan terdapat pihak yang melarang mereka, yaitu keluarga. Berdasarkan hasil wawancara, keluarga mereka melarang untuk melakukan perpindahan karena beberapa alasan. Alasan pertama yaitu terdapat kepemilikan lahan (seperti sawah, ladang, peternakan, dan kebun) yang bisa mereka kelola di daerah asalnya. Warga pendatang diberikan kepercayaan untuk menggarap sawah, ladang, perternakan, ataupun kebun keluarga mereka. Keluarga tidak menginginkan warga pendatang untuk merantau, karena masih banyak yang bisa dikelola di Kampung halamannya. Pendapatan yang dihasilkan dari menggarap ataupun mengelola lahan-lahan tersebut juga dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Alasan kedua, keluarga warga pendatang memiliki kecemasan terkait ketidakmampuan mereka untuk bertahan hidup diluar daerahnya. Kecemasan keluarga warga pendatang disini terkait tidak adanya sanak keluarga yang bisa
57
Universitas Indonesia
menjamin kehidupan anak-anak mereka di daerah tujuan mereka pindah. Jaminan kehidupan disini terkait jaminan keselamatan, kesehatan, makan dan minum, tempat tinggal, ataupun pekerjaan. Kecemasan ini berawal dari informasi-informasi yang tersebar bahwa terdapat warga pendatang yang mengalami musibah ataupun kecelakaan di daerah rantauannya. Alasan terakhir yaitu keluarga tidak dapat memberikan modal material (uang) yang cukup untuk bekal hidup didaerah yang mereka tuju. Beberapa warga pendatang berasal dari keluarga yang memiliki kondisi ekonomi lemah. Keluarga mereka rata-rata bekerja sebagai buruh tani yang tidak memiliki lahan. Penghasilan yang rendah dari pekerjaan buruh tani mengakibatkan keluarga mereka melarang warga pendatang untuk melakukan perpindahan ke daerah yang dituju. Menurut keluarga mereka, perlu modal material (uang) yang cukup untuk biaya transportasi dan bekal mereka bertahan hidup di daerah tersebut.
Warga pendatang melakukan beberapa cara untuk meyakinkan keluarganya agar dapat melakukan perpindahan ke daerah tujuan. Cara pertama yang ditempuh yaitu warga pendatang meyakinkan keterampilan (skill) mereka dapat digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang ada di daerah tujuan. Kemudian, mereka memberitahu kepada keluarga mereka terkait peluang usaha dan pekerjaan didaerah tujuan. Cara ketiga, memberikan pengertian bahwa mereka tidak bisa selalu bergantung dengan keluarga. Selanjutnya, warga pendatang mencari modal sendri untuk dapat pindah ke daerah tujuannya. Cara terakhir yaitu meyakinkan keluarga mereka terkait sarana prasarana untuk mengembangkan diri mereka lebih menunjang di daerah tujuan mereka pindah dibandingkan di daerah asal.
Selain pihak-pihak yang melarang warga pendatang untuk melakukan perpindahan, terdapat pihak-pihak yang juga mendukung warga pendatang untuk pindah ke daerah tujuan. Pihak tersebut adalah teman, sanak saudara, dan tetangga mereka yang pernah atau sedang mengadu nasib di daerah tujuan mereka pindah. Berdasarkan hasil wawancara, terdapat beberapa alasan pihak-pihak ini mendukung informan untuk melakukan perpindahan. Alasan pertama yaitu pihak-pihak yang mendukung ini meraih kesuksesan atau memiliki perekonomian yang lebih baik
58
Universitas Indonesia
daripada di daerah asal. Hal ini ditunjukkan dari pakaian yang digunakan, kepemilikan lahan dan tanah di Kampung halaman, dan kepemilikan kendaraan pribadi setelah lmengadu nasib didaerah tujuan. Kedua, pihak-pihak ini menyatakan bahwa upah yang mereka terima lebih besar dibandingkan upah di daerah asal, meskipun mereka tidak mempunyai keahlian (skill) khusus. Pihak-pihak ini menyatakan bahwa upah yang diterimanya bisa 10x lipat dibandingkan upah di daerah asal, misalnya upah menjadi buruh tani di daerah asal adalah Rp.500/hari, namun upahnya menjadi Rp.5.000/hari ketika mereka pindah ke daerah lain dan bekerja menjadi pengangkat kayu.
Alasan ketiga, potensi wilayah didaerah tujuan dapat memberikan peluang usaha lebih besar dibandingkan didaerah asal. Pihak-pihak yang mendukung ini mendirikan usaha di daerah tujuan. Usaha tersebut ternyata memiliki keuntungan yang besar dan lebih laris dibandingkan di daerah asal sehingga mereka mendukung warga pendatang untuk melakukan perpindahan secara geografis. Alasan terakhir yaitu sarana prasarana yang lebih menunjang di daerah tujuan mereka pindah menjadi salah satu alasan pihak-pihak tersebut mendukung informan untuk melakukan perpindahan. Sarana prasarana ini seperti pendidikan dan akses transportasi yang dapat memberikan kemudahan bagi anak-anak mereka kelak jika ingin melakukan mobilitas sosial vertikal.
Pada saat awal melakukan perpindahan, beberapa warga pendatang tidak membawa sanak keluarga mereka. Hal ini karena mereka masih berstatus lajang, keluarga mereka mengolah lahan di daerah asal, atau mereka memilih untuk hidup mandiri. Tahun pertama mereka pindah, rata-rata masih berorientasi bagaimana caranya untuk dapat meningkatkan perekonomian mereka dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Kemudian, mereka juga masih tinggal di rumah kontrakan, rumah saudara, atau rumah orang yang sedaerah. Tahun-tahun berikutnya, mereka bertemu pasangannya di daerah tempat mereka pindah dan memutuskan untuk berkeluarga. Ketika mereka sudah berkeluarga, rata-rata warga pendatang memilih menetap di daerah tujuan mereka pindah. Hal ini karena mereka sudah memiliki rumah, mobil/motor pribadi, atau kepemilikan usaha di daerah tersebut.